Episode 112 - Permata Pringgondani (1)



“Bersiaplah wahai pendengar yang budiman... Aku akan memulai dogeng tentang seorang putra mahkota….” 

“Kancil… Hanya ada aku di sini, dan kita perlu bersiaga…,” ungkap seorang lelaki dewasa dengan wajah cemas. Kumis dan jambang yang lebat tak terurus, tak mampu menyembunyikan kekhawatiran yang mencuat dari dalam dirinya. 

“Tapi… aku sudah mempersiapkan ceritera ini sejak sedari lama….” 

“Kesempatan yang terbuka tak akan berlangsung panjang… Kita perlu terus-menerus waspada.”

“Tapi… tapi sudah hampir sebulan kita bersiaga di tempat ini…,” sanggah Si Kancil. “Namun mengapa belum juga ada petanda…?” 

“Syarat dan ketentuan di setiap pulau berbeda-beda. Di Pulau Logam Utara ini, ia hanya terbuka dalam selang waktu beberapa detik....” Lelaki dewasa itu terlihat lelah. Meski demikian, sinar matanya mengungkapkan bahwa dirinya tak akan lalai menjalankan tugas yang selama ini ia emban. 

“Apakah kau yakin kita berada di tempat yang benar…?”

“Tak diragukan lagi… di sini adalah tempat kemunculannya….” 

“Mungkinkan kita telah melewatkan keberadaannya…?” 

“Tidak mungkin… Aku telah memperhitungkan dengan matang.”

“Balaputera!” sergah Si Kancil. “Itu!”

“Cepat!” 

Sebuah titik kecil berwarna hitam tetiba mencuat tak berapa jauh dari tempat Balaputera dan Si Kancil berdiri menanti. Titik kecil tersebut kemudian menciptakan retakan halus. Sungguh pelik. Pada ruang kosong di hadapan mereka, terlihat seolah terdapat lapisan kaca yang meretak perlahan dan halus. Padahal, tak ada apa-apa sama sekali. Dengan kata lain, yang retak dan kini mulai merekah itu adalah… udara!

Balaputera segera menggerakkan kedua belah tangan dan jemarinya seperti sedang hendak merapal jurus. Sebuah formasi segel lalu samar mencuat dan berpendar. Bentuknya bundar, ukurannya seperti bila kedua belah lengan orang dewasa disatukan untuk membentuk lingkaran. 

Balaputera melemparkan formasi segel yang telah ia susun ke arah retakan di udara!

“Tirai Putih!” seru Si Kancil. 

Pupil di kedua bola mata binatang siluman Kasta Perak itu tetiba berubah menjadi berwarna putih. Warna putih kemudian menjalar cepat ke sekujur tubuhnya. Bukan cahaya, tapi warna putih. Seputih kapas. 

Si Kancil lalu melompat cepat ke arah retakan yang sedang terjadi di udara, yang berada sekitar dua meter dari atas permukaan tanah. Binatang siluman itu juga menerkam ke arah formasi segel yang disusun oleh Balaputera. Ia menjadi penghubung antara formasi segel dan retakan di udara. 

Tak lama, di depan Si Kancil terbuka sebuah terowongan selayaknya gerbang dimensi. Gerbang dimensi ini sangatlah berbeda dengan yang biasanya. Bila umumnya gerbang dimensi merupakan terowongan gelap berwarna hitam dengan sedikit kilatan listrik di beberapa bagian, maka sisi dalam gerbang dimensi yang dibuka oleh binatang siluman tersebut adalah berwarna putih!

Menyaksikan gerbang dimensi telah terbuka, Balaputera segera melompat masuk. Entah ke mana gerbang dimensi berwarna putih itu akan membawa dirinya… Yang pasti, raut wajah lelaki dewasa tersebut telah berubah dari cemas menjadi penuh konsentrasi. 


===


Pagi ini hembusan angin menenteramkan. Matahari pun menyapa ramah. Ombak-ombak di lautan bergerak beriringan, tak ada satu pun di antara mereka yang hendak mendahului. Aroma laut sungguh teduh. 

Seorang perempuan dewasa terbang melayang ringan di atas lautan. Ia baru tiba di pesisir utara Pulau Jumawa Selatan. Di lihat dari arah terbangnya, kemungkinan ia baru saja menempuh perjalanan jauh dari arah utara, yaitu dari Pulau Belantara Pusat. 

Ujung alas kaki perempuan itu menyapa ringan butir-butir kristal putih yang menghias sekujur pantai. Saking ringannya pendaratan itu, tak sebutir pasir pun yang tersibak. Walaupun demikian, proses mendarat yang baru terjadi itu seolah alami adanya. 

Ia menatap ke arah barat. Cukup lama. Sepertinya, perempuan itu sedang menimbang-nimbang tujuan kunjungan berikutnya. Sepertinya pula, tujuan tersebut jatuh kepada wilayah barat Pulau Jumawa Selatan. Kemungkinan besar ia hendak menuju ke Tanah Pasundan. 

“Sudah lama sekali aku tak menyempatkan waktu untuk singgah ke sana…,” gumamnya kepada diri sendiri. 

Ia mulai menapak ringan. Dari raut wajahnya, tak ada kesan tergesa-gesa. Perempuan itu hendak menikmati setiap langkah kaki yang ia ambil. 

Selang beberapa hari, perempuan tersebut tiba di sebuah dataran dengan hamparan reruntuhan bata merah. Ia melangkah perlahan ke arah puing-puing gerbang. Kedua matanya, kemudian, menatap sebuah pintu gerbang logam nan besar, yang tergeletak tak berdaya. Bentuk pintu itu cekung adanya. Sang pintu pernah menjadi saksi bisu kekuatan digdaya kaum siluman yang menghantamnya. 

Tatap mata perempuan itu berhenti pada sebuah corak matahari besar bersudut delapan yang terletak persis di tengah pintu gerbang. Corak matahari yang sama, namun berukuran lebih kecil, juga terlihat dari sebuah medali keemasan. Medali tersebut berfungsi sebagai kepala pada sabuk yang ia kenakan di bagian pinggang. 

“Sastra Wulan….” Mayang Tenggara kembali bergumam pada diri sendiri. Tatap matanya muram, seolah mengisahkan ceritera duka dan lara yang di masa lalu pernah mendera. Tak terbayang betapa pahit kenangan yang kini berkutat di dalam benaknya. 

Mayang Tenggara masih menatap ke arah pintu gerbang logam itu. Tak lama, ia mengerahkan mata hati, dan perlahan mengangkat lempengan logam besar yang tergeletak itu. Walau pintu gerbang itu terlihat teramat berat, baginya sangatlah mudah untuk mengangkat dan meletakkannya bersandar pada sisa-sisa bingkai gerbang. Kini, daun pintu gerbang yang bentuknya telah rusak itu… seolah kembali berdiri tegar. 

Mayang Tenggara baru hendak memutar langkah ketika mata hatinya merasakan dua titik mustika tenaga dalam Kasta Perunggu, jauh di dalam reruntuhan ibukota lama Negeri Dua Samudera itu. Mungkinkah sedang ada beberapa penjelajah yang hendak mencari sedikit peruntungan di ibukota lama ini?

Mayang Tenggara tak menghiraukan penjelajah, atau bahkan pencuri sekali pun. Tak ada yang berharga di ibukota lama ini selain kenangan. Tak mungkin mereka menemukan apa-apa lagi yang bernilai jual, terkecuali….

Mayang Tenggara segera menghentikan arah pemikiran di dalam benaknya. Setelah menghela napas panjang, ia melangkah meninggalkan wilayah ibukota lama. Tak ada guna baginya melangkah ke dalam sana. Untuk apa mengenang sesuatu yang tak akan pernah kembali? Cukup ambil pelajarannya saja. Pelajaran yang diresapi jauh lebih berguna daripada menghabiskan waktu hidup di masa lalu. 

Tak lama berselang, langkah kaki Mayang Tenggara membawa dirinya tiba ke sebuah desa kecil yang terbengkalai. Kedua mata perempuan itu menyapu pandang. Ia mendapati tulang-belulang puluhan manusia. Anehnya, tengkorak tubuh manusia yang tersisa, masih utuh adanya. Sepertinya tak ada perlawanan saat mereka menghembuskan napas terakhir. 

Tak diperlukan penyelidikan mendalam untuk menyimpulkan bahwa desa tersebut mendapat serangan dari binatang siluman. Meski sudah sangat jarang terjadi, namun bukan tak mungkin bagi kawanan binatang siluman mengamuk dan menyerang pemukiman penduduk. 

Tetiba pandangan mata Mayang Tenggara terhenti. Jika ditilik secara seksama, musibah yang menimpa penduduk desa ini terjadi sekitar sebulan yang lalu. Namun, yang lebih menarik perhatiannya, adalah sepihan tulang-belulang kecil yang berserakan di antara tulang-belulang penduduk. Ada seorang ahli yang…

“Meledakkan diri…?” Mayang Tenggara bergumam penasaran. 

Mengapa seorang ahli meledakkan diri saat berhadapan dengan sekawanan binatang siluman? Meledakkan diri seringkali menjadi upaya terakhir bilamana di dalam pertarungan hidup mati antara sesama ahli, salah satunya sudah tak lagi memiliki kemungkinan untuk mengungguli lawan dan terpojok. Karena merasa tak ada lagi peluang meraih kemenangan, maka pilihan yang dapat ditempuh adalah meledakkan diri dan berharap lawan akan menderita cedera cukup fatal. 

Selain itu, satu lagi alasan meledakkan diri adalah bilamana seorang ahli disandera. Daripada nantinya disiksa, maka lebih baik menempuh jalan kematian. 

Ada yang aneh…, batin Mayang Tenggara. Apa yang menjadi penyebab seorang ahli sampai meledakkan diri, sedangkan penduduk desa sama sekali tak terlihat berupaya melakukan perwalanan? Binatang siluman seperti apakah gerangan yang membantai mereka…?

Mayang Tenggara memutuskan untuk memeriksa salah satu tulang-belulang yang tergeletak utuh. Sepertinya darah dan daging mereka dikuras habis, sehingga hanya menyisakan tulang, rambut, serta kulit yang kini sudah mengering. 

“Hah!” Pupil mata Mayang Tengggara tetiba membesar. “Serangga… binatang siluman nyamuk…?”

Perempuan itu segera menatap ke arah ibukota lama. Tanpa pikir panjang, ia melesat terbang ke udara. Tetiba saja, terdapat dorongan dari dalam dirinya untuk bergegas menyelidiki. 


“Hya!” 

Melati Dara melompat sambil menyibak enam penjuru jalinan rambut. Jalinan rambut memanjang dan bergerak luwes. Ada yang diarahkan untuk menyerang, menambah kecepatan gerak, serta ada pula yang dipersiapkan untuk bertahan. 

“Jreng….” 

Dahlia Tembang memetik dawai sampe atau sape, yang tergantung menyilang di depan dada.* Sampe adalah alat musik jenis petik yang berasal dari wilayah timur Pulau Belantara Pusat. Bentuk sampe pada umumnya menyerupai perahu mungil. Ada juga yang menggambarkan bentuknya seperti dayung yang kurang proporsional, dengan bilah panjang dan gagang pendek. 

Corak khas Pulau Belantara Pusat terasa kental dari alat musik itu. Ukiran-ukiran menggambarkan jalinan akar, burung enggang, dan taring-taring binatang. Sungguh corak-corak yang menjadi perlambang keagungan dan kebijaksanaan orang dayak. 

Walaupun terdapat banyak alat musik petik yang tersebar di Negeri Dua Samudera, sampe memiliki perbedaan yang cukup kentara. Secara umum, dalam memainkan alat musik jenis petik, penggunanya memakai satu tangan saja untuk memetik senar, sedangkan tangan lainnya difungsikan untuk mengatur nada pada senar yang terdapat pada gagang. Akan tetapi, berbeda dengan sampe, dimana jari-jemari di kedua belah tangan harus piawai dalam memetik dawai di saat yang bersamaan. 

Nada yang disampaikan oleh sampe di tangan Dahlia Tembang seolah dapat mengutarakan perasaan. Perasaan Dahlia Tembang saat ini adalah semangat bertahan. Dalam hal kesaktian, gelombang getaran bunyi yang dihasilkan alat musik tersebut, menciptakan semacam tirai yang tak kasat mata dan mengelilingi tubuh dalam radius satu meter. Walhasil, tak satu pun jalinan rambut Melati Dara berhasil menembus pertahanan gelombang getaran bunyi tersebut. 

“Adik Dahlia… mengapakah di dalam setiap latih tarung, engkau hanya bertahan…?” ujar Melati Dara. 

Dahlia Tembang hanya terdiam. Dalam mengerahkan kesaktian unsur bunyi, dirinya memang hanya mampu bertahan. Kedua orang tuanya memang berasal dari Pulau Belantara Pusat, akan tetapi dirinya lahir dan tumbuh di Pulau Jumawa Selatan. Oleh karena itu, pemahaman gadis tersebut atas alat musik warisan yang sedang ia kerahkan pun sangatlah terbatas. Atas alasan itu pulalah, ia hampir tak pernah mengeluarkan ‘senjata’ tersebut. 

“Tap!” 

Tetiba seorang perempuan dewasa mendarat ringan di dekat kedua gadis remaja yang sedang berlatih tarung tersebut. Melati Dara dan Dahlia Tembang terkejut bukan kepalang. Mata hati keduanya sama sekali tak merasakan kehadiran orang lain, sampai perempuan tersebut mendarat. Anehnya lagi, kedua gadis tak dapat merasakan tingkatan keahlian perempuan nan cantik yang berdiri di hadapan mereka. 

“Siapakah engkau!?” hardik Melati Dara. 

Mayang Tenggara hanya menatap ringan. Ia sedang membaca situasi di seputar reruntuhan istana ibukota lama Sastra Wulan. Sebuah gubuk mungil jelas terlihat baru didirikan. Siapa pun pembuat gubuk itu, pastilah cukup terampil. 

“Puan Ahli Yang Terhormat… mohon maafkan kelancangan tutur kata kakakku…,” sapa Dahlia Tembang santun. Ia lalu menundukkan wajah. 

Dahlia Tembang , walau bergelar adik, jauh lebih dewasa dari Melati Dara. Ia cukup waspada untuk tak menyinggung perasaan ahli di hadapan. Menyaksikan seorang ahli yang peringkat keahliannya tak bisa mereka cerna, namun memiliki kemampuan terbang, pastilah seseorang yang digdaya. 

Melati Dara melotot ke arah lawan bicara mereka. Namun, ia sadar untuk tidak bertingkah gegabah. Di hadapan seorang ahli digdaya, tersalah kata sedikit saja dapat menyebabkan mereka kehilangan nyawa di saat itu juga. 

“Kalian bukanlah saudara kandung,” ujar Mayang Tenggara santai. 

“Kami adalah saudara satu tuan,” jawab Dahlia Tembang tanpa mengangkat wajah. 

“Siapa… dan dimana tuan kalian…?”

“Tuan kami adalah…,” Dahlia Tembang terlihat ragu. Salah berujar maka mereka bisa saja kehilangan nyawa. 

“Tuan kami hanyalah seorang saudagar kecil. Saat ini, ia sedang berbelanja perbekalan di kota. Kami berjanji untuk bertemu kembali di tempat ini,” sela Melati Dara. Tentu ia tak hendak membocorkan informasi seputar tuan mereka. 

“Kalian berbohong…,” ucap Mayang Tenggara sambil menarik napas. Mudah sekali baginya membaca gelagat kedua gadis belia itu. 

“Hya!” Melati Dara merangsek cepat menyerang lawan. Meski kemungkinan besar perempuan itu bukan lawan yang sepadan bagi mereka, namun ia tak hendak menyerah tanpa perlawanan. 

Mayang Tenggara bahkan tak tertarik untuk bergerak. Ia hanya menunjuk ringan ke hadapan. 

“Jreng….” Dahlia Tembang memasang tirai pelindung gelombang getaran bunyi untuk membentengi tubuh Melati Dara. 

“Swush!” Hantaman tak kasat mata menjebol tirai gelombang getaran bunyi, dan mendorong tubuh Melati Dara. Gadis tersebut terpental, lalu menabrak tubuh Dahlia Tembang. Keduanya lalu jatuh berjumpalitan di atas tanah. 

“Kumohon Puan Ahli Yang Terhormat dapat memahami keadaan kami…,” segera setelah terjatuh, Dahlia Tembang bangkit dan menundukkan tubuh. Ia sepenuhnya memahami bahwa perempuan yang baru saja menyerang mereka… tidak menghantam dengan nafsu membunuh. 

Mayang Tenggara hanya menatap dingin. Meski, dalam hati ia menyadari bahwa kedua gadis tersebut rupanya tak hendak menghianati siapa pun itu tuan mereka. Terbersit dalam benaknya kemungkinan si tuan adalah penjelajah reruntuhan. Jika benar, maka sungguh pelik bila dirinya tak merasakan kehadiran mustika tenaga dalam ahli lain di wilayah reruntuhan Sastra Wulan. Mungkinkah mereka menemukan pintu itu…? batin Mayang Tenggara. 

Mayang Tenggara memutar tubuh. Ia melangkah masuk ke dalam sebuah bangunan yang masih terlihat utuh. Dari kokohnya tembok bangunan itu, tak sulit menebak bahwa ianya dulu merupakan bangunan istana lama. Di saat yang sama, sudut mata Mayang Tenggara menangkap perubahan raut wajah kedua gadis, yang tak berani menghentikan langkah dirinya. Tak sulit bagi Mayang Tenggara untuk menyimpulkan bahwa tuan mereka berada di dalam. 

Di dalam bangunan yang teramat luas itu, pada satu sudut, terlihat undakan bertingkat yang mengarah ke sisa-sisa reruntuhan singasana. Tinggi di atas undakan itu, samar terlihat ukiran sebuah matahari besar bersudut delapan yang berada di dalam sebuah lingkaran. Reflek jemari Mayang Tenggara menyentuh medali matahari yang juga bersudut delapan, yang tersemat sebagai kepala sabuk di pinggangnya. 

Raut wajah Mayang Tenggara terlihat kusut. Ia seakan mengenang ingatan masa lalu. Ada ingatan yang indah, ada pula yang buruk. Campur aduk.

Langkah kaki membawa dirinya meniti anak tangga menuju singasana. Segera ia tersadar dari lamunan ketika menyaksikan tanda-tanda bahwa seseorang, belum lama berselang, sempat berdiri di tempat dimana ia berada saat ini. 

Jemari Mayang Tenggara kemudian menyentuh lambang matahari di hadapan. Tak lama, sebuah formasi segel berpendar… Formasi segel tersebut ternyata membuka sebuah gerbang dimensi. Mayang Tenggara terdiam sejenak. Ia menghela napas panjang… sebelum akhirnya melangkah masuk. 

Gerbang dimensi tersebut rupanya merupakan pintu masuk ke dalam sebuah gua rahasia di balik singasana. Cahaya alami dari batu kuarsa berpendar menerangi liang gua. Stalagtit dan stalagmit besar-besar terlihat di semerata penjuru. Ukuran liang gua itu tak kalah luas dengan ruangan singasana sebelumnya. 

Mayang Tenggara memerhatikan sekeliling. Jelas, ini bukanlah kali pertama ia melangkah ke dalam gua ini. Raut wajahnya kembali datar. Ia setengah kecewa karena tak merasakan kehadiran seorang ahli pun di dalam. 

Di salah satu sudut gua, menggantung puluhan kristal-kristal sebesar satu genggaman tangan orang dewasa. Kristal-kristal tersebut bersinar temaram. Namun, bila diperhatikan dengan lebih seksama, maka terdapat bayangan-bayangan yang bergerak-gerak di dalam setiap kristal. 

“Cring!” Salah satu kristal tetiba berpendar!

“Hm…?” Mayang Tenggara menoleh santai. “Permata Pringgondani…,” gumamnya pelan. 


Catatan:

*) Silakan menonton gadis ini memainkan alat musik tradisional ‘sampe’ di https://www.youtube.com/watch?v=VPDfZwuIIjE