Episode 111 - Babi


“Cembul Manik Astagina…?” gumam Bintang Tenggara. 

Spontan ia menoleh ke gunung besar yang menjadi latar belakang dari Istana Utama Kerajaan Parang Batu. Gunung Dewi Anjani. Banyak ceritera seputar sang dewi, yang katanya dikutuk akibat melanggar larangan orang tua agar tak membuka tutup Cembul Manik Astagina. 

Samar, Bintang Tenggara masih merasakan formasi segel jauh di dalam gunung itu. Perasaan ini masih sama adanya dengan saat pertama kali menyaksikan gunung tersebut. 

“Hasil penelusuranku menunjukkan bahwa ada sesuatu hubungan antara gunung itu dengan Sang Maha Patih…,” ujar Lombok Cakranegara menemani Bintang Tenggara menatap gunung. 

“Mungkinkah Kakak Lombok dapat menguraikan sedikit latar belakang ceritera… agar lebih meudah dimengerti…?” sahut Bintang Tenggara. 

“Akan kujelaskan di lain kesempatan. Sekarang, segera kalian daki gunung itu!” perintah Lombok Cakranegara sambil menunjuk ke arah Gunung Dewi Anjani. 

“Hah!?” Bintang Tenggara terpana. 

“Hm…? Bukankah kalian telah menerima penugasan yang kukirimkan kepada Perguruan Gunung Agung?” Lombok Cakranegara seolah penasaran. 

“Kakek Gerbang… kumohon membukakan gerbang dimensi untuk kembali menuju Pulau Dewa…,” pinta Bintang Tenggara kepada sang kakek penjaga gerbang dimensi. Ia bersiap kembali ke perguruan. Anak remaja itu tak hendak dipermainkan oleh Lombok Cakranegara. 

“Haha… Aku hanya berkelakar. Kemarilah… Mari kita beristirahat terlebih dahulu di kediamanku.” 

Meski mengundang ke kediamannya, Lombok Cakranegara baru kembali lagi ketika malam telah tiba. Bintang Tenggara sedang membaca kitab baru yang ia ambil dari brankas perguruan. Panglima Segantang masih belum kembali dari latihan petang. Si bongsor itu masih merasa bahwa ia akan bersua Komodo Nagaradja, sehingga merasa perlu tampil dalam kondisi prima. 

“Adik Bintang Tenggara…. Hasil penelusuranku mengisyaratkan bahwa di pusat Gunung Dewi Anjani tersimpan harta pusaka. Dan harta pusaka itu tak lain adalah senjata yang digunakan Sang Maha Patih saat Perang Jagat….” Tiba-tiba nada bicara dan raut wajah Lombok Cakranegara terlihat serius. Bintang Tenggara tambah curiga. 

“Bukankah Sang Maha Patih mengerahkan Pedang Patah…?” sela Panglima Segantang dengan tubuh bercucuran peluh. Ia baru saja kembali dari gelanggang berlatih.

“Maksudmu keris Tameng Sari?” ujar Lombok Cakranegara. 

“Keris Tameng Sari…?”

“Panglima… Pedang Patah yang kita saksikan di Perguruan Maha Patih, dan sempat aku gunakan dalam pertarungan… adalah keris Tameng Sari milik Laksamana Hang Tuah.” 

“Laksamana Hang Tuah…?” Panglima Segantang masih terlihat kebingungan. Akan tetapi, ia merasa bahwa nama tersebut tidaklah asing di telinganya.  

“Oh… sebelum aku lupa… Dari mana kau pelajari Pencak Laksamana Laut?” 

“Pencak Laksamana Laut kupelajari dari dalam mimpi,” jawab Panglima Segantang ringan, sambil duduk bersila. 

“Mimpi…?” 

“Benar… Ketika masih kecil, aku bermimpi tentang jurus tersebut….”

Bintang Tenggara setengah berharap mendapat jawaban bahwa Laksamana Hang Tuah adalh kerabat yang datang dan menurunkan langsung Pencak Laksamana Laut kepada Panglima Segantang. Sebagaimana yang ia ketahui berdasarkan status keris Tameng Sari, tokoh tersebut memanglah masih hidup. Akan tetapi, ia tak menyangka bahwa jawaban Panglima Segantang adalah sangat sederhana. Bintang Tenggara sedikit sangsi.... 

“Kuyakin bukanlah mimpi… melainkan jalinan mata hati…,” sela Komodo Nagaradja malas. 

Tentunya. Bintang Tenggara juga berpikiran sama. Ia mempelajari Tinju Super Sakti melalui jalinan mata hati dari sang Super Guru. Jadi, bukan tak mungkin hal yang sama terjadi kepada Panglima Segantang. Mungkin, karena masih kecil, saat itu Panglima Segantang belum mengerti tentang jalinan mata hati, sehingga merasa bahwa ia sedang bermimpi. Mungkin. 

“Apakah seperti di saat engkau mempelajari Bentuk Kedua dari jurus Gema Bumi…?”

“Benar,” jawab Panglima Segantang cepat. 

“Senjata digdaya nan perkasa lagi memesona milik Sang Maha Patih adalah sebilah parang besar!” sela Lombok Cakranegara mengambil alih topik pembicaraan, sambil membesar-besarkan cerita. 

“Benarkah…?” Perhatian Panglima Segantang teralihkan dengan cepat sekali. Ia mulai terlihat bersemangat. 

“Benar. Karena kau meminta nasehatku atas permasalahan kalian, jadi kusarankan esok pagi-pagi kalian segera bertolak ke Gunung Dewi Anjani,” ujar Lombok Cakranegara kepada Bintang Tenggara. 

Bintang Tenggara menimbang-nimbang. Memang betul dirinya yang menghubungi dan meminta pertolongan Lombok Cakranegara perihal Panglima Segantang. Kendatipun demikian, hal tersebut bukanlah berarti bahwa ia akan dengan senang hati mengantarkan diri untuk masuk ke dalam jerat muslihat. Dan, saat ini terlihat terang-benderang upaya Lombok Cakranegara mengarahkan mereka untuk mendaki gunung. Entah apa yang ada di gunung tinggi itu nanti…. 

“Sahabat Bintang! Mari kita bersiap. Esok pagi-pagi kita bertolak mencari parang sakti milik Sang Maha Patih!” 

Masuk perangkap, keluh Bintang Tenggara dalam hati. Ia baru tersadar bahwa pancingan ‘senjata digdaya nan perkasa lagi memesona milik Sang Maha Patih’ pastilah menarik perhatian Panglima Segantang. Sangat mudah. Mengapa tak terpikir olehnya untuk memanfaatkan cara ini dalam menenangkan hati Panglima Segantang…?

“Akan tetapi, kita menantikan Super Guru,” bisik Bintang Tenggara tak hendak menyerah kalah dengan mudah. 

Panglima Segantang terdiam. Wajahnya kembali kusut. 

“Apakah ada seseorang yang kalian nantikan? Siapa pun itu, aku akan menyampaikan bahwa kalian sedang pergi sejenak. Aku pun dapat menyiapkan tempat menginap.” 

“Sahabat Bintang!” Wajah Panglima Segantang kembali cerah. 

“Apa hubungan antara Cembul Manik Astagina dengan senjata sang Maha Patih?”

“Kau tak akan mengetahui jikalau tak mendaki gunung itu…,” Lombok Cakranegara menyibak senyum.

“Hmph….” 

Tak mudah bagi Bintang Tenggara berhadapan dengan Lombok Cakranegara. Lawan tersebut terlalu berpengalaman. Ia memahami betul sifat dan kehendak Panglima Segantang. Ibarat kata pepatah, Bintang Tenggara bak menjaring angin… melakukan perlawanan yang sia-sia belaka. Bahkan, kini Lombok Cakranegara menggelitik rasa ingin tahu dirinya dengan iming-iming Cembul Manik Astagina. 

Walhasil… pagi-pagi sekali Bintang Tenggara dan Panglima Segantang telah siap menjelajah gunung. Keduanya menerima perbekalan dalam bentuk cincin Batu Dimensi Biduri yang diberikan oleh seorang pelayan. Perbekalan itu cukup untuk bertahan hidup selama sepekan. 

Tak terlihat batang hidung Lombok Cakranegara. Setelah tujuannya tercapai, sosok mencurigakan itu bahkan tidak hadir melepas kepergian kedua anak remaja tersebut. Cih!

Secarik kertas lusuh terbentang di hadapan Bintang Tenggara. Tergambar sebuah peta yang memuat wilayah Gunung Dewi Anjani. Sepertinya kertas ini tak akan banyak membantu. Rencana Bintang Tenggara hanyalah memeriksa lokasi formasi segel yang terkesan demikian digdaya. Setelah itu, ada atau tiada parang yang digadang-gadangkan sebagai senjata milik Sang Maha Patih, ia akan menapak turun. Kemudian, ia akan membeli parang Kasta Perak untuk Panglima Segantang yang nantinya diserahkan oleh Super Guru Komodo Nagaradja. Demikian rencananya. 

Ada dua jalur mendaki Gunung Dewi Anjani. Bintang Tenggara dan Panglima Segantang memilih jalur yang lebih ramah. Mereka menapak melewati pemukiman penduduk. Sawah dan ladang terbentang di sekeliling mereka. Pemandangan yang tersaji demikian damai. 

Beberapa jam kemudian, dua anak remaja tersebut melangkah membelah padang rumput. Jelang petang, mereka telah tiba di dekat sebuah danau yang dikelilingi rimbun pepohonan. Menurut peta, lokasi ini adalah tempat terbaik bagi mereka beristirahat. Karena malam segera tiba, esok pagi barulah mereka akan melanjutkan perjalanan. 

“Apakah kau benar-benar hendak mendaki gunung ini…?” Komodo Nagaradja akhirnya angkat bicara tentang kegiatan penjelajahan muridnya. 

“Benarkah ada parang milik Sang Maha Patih di gunung ini…?” Bintang Tenggara balik bertanya. 

Komodo Nagaradja terdiam cukup lama, sebelum akhirnya menjawab… “Tidak. Kau sebaiknya turun saja….”

Meski demikian, Bintang Tenggara sempat menangkap keraguan dari nada suara Komodo Nagaradja. Ada sesuatu yang sengaja hendak disembunyikan oleh sang Super Guru…. 

“Roaarrr….”

Bintang Tenggara segera berdiri. Ia melesat menuju sumber suara yang bergemuruh itu. Di hadapan, ia menyaksikan Panglima Segantang sedang berhadap-hadapan dengan sesosok bayangan hitam besar. Sepasang taring besar terlihat mencuat ke atas. Tubuhnya sedikit lebih pendek dari Banteng Karapan, akan tetapi lebih gempal. Napasnya menderu. 

“Babi Taring Hutan…,” gumam Bintang Tenggara terpana. Saat di Pulau Bunga, Komodo Nagaradja sangat mewanti-wanti agar tak mengganggu binatang siluman Kasta Perak yang bersifat agresif itu. 

“Hrarg!” 

Panglima Segantang mengerahkan Bentuk Ketiga dari Pencak Laksamana Laut. Saat itu juga, kekuatan dan kecepatan tubuhnya berlipat ganda. Sepertinya ia hendak bertarung satu lawan satu menghadapi babi itu. Bintang Tenggara hanya menyaksikan. Tak di mana-mana, bahkan di tengah hutan, Panglima Segantang masih suka mencari perkara, yang ujung-ujungnya terlibat dalam adu kekuatan.

Panglima Segantang dan Babi Taring Hutan saling menyeruduk. Tubuh bongsor Panglima Segantang terlihat kecil bila dibandingkan dengan sang babi. Keduanya lalu terlibat dalam pertarungan sengit dorong-mendorong. Kedua taring besar yang terletak di atas mulut sang babi, digenggam erat. Akan tetapi, Panglima Segantang tak cukup kuat untuk membanting babi ke samping. Pertarungan terlihat imbang. 

“Brak!” 

Panglima Segantang terpental beberapa langkah ke belakang. Sedangkan si babi hanya mundur selangkah. Dalam hal kekuatan, jelas binatang siluman Babi Taring Hutan yang berada pada Kasta Perak lebih kuat adanya. Meskipun demikian, Panglima Segantang jelas memiliki teknik bertarung yang mampu mengungguli lawannya. 

Si babi terlihat ragu karena lawan yang baru saja ia hadapi, cukup kuat dalam bertahan. Setelah saling bertatapan mata selama beberapa saat, si babi bertubuh besar itu memutuskan untuk berjingkat pergi. Bintang Tenggara hanya menggeleng-gelengkan kepala ketika menyaksikan betapa gagah pembawaan Panglima Segantang saat menguyah kemenangan. 

“Brrtt….” 

Gempa bumi…? Pikir Bintang Tenggara dalam hati. Akan tetapi, ia segera berubah pikiran ketika merasakan guncangan di atas tanah semakin keras. Dalam gelap, mata hatinya menangkap kehadiran titik-titik mustika tenaga dalam bergerak cepat ke arah mereka. Belum sempat berpikir terlalu jauh, matanya lalu menyaksikan segerombolan… babi! 

Belasan jumlah mereka. Gerombolan Babi Taring Hutan tersebut menyeruduk laju. Taring-taring yang mencuat tinggi dihunuskan ke depan. Tak perlu menganalisa terlalu dalam untuk menyimpulkan, bahwa seekor Babi Taring Hutan yang berhadapan dengan Panglima Segantang tadi masih belum puas. Kini, ia memanggil gerombolannya untuk menyerang bersama!

“Lari!” teriak Bintang Tenggara ke arah Panglima Segantang yang terlihat hendak berhadapan dengan babi-babi itu. 

Kedua anak remaja tersebut mau tak mau berlari menghindar. Akan tetapi, gerombolan belasan babi tak kalah gesit. Meski kaki-kaki mereka pendek dan gempal, gerakan mengejar mereka cukup gesit. 

“Panjat pohon itu!” 

Dengan cepat, Bintang Tenggara yang disusul Panglima Segantang pun memanjat ke atas sebuah pohon cemara yang tinggi menjulang. 

“Brak!” 

Gerombolan babi menyeruduk pohon tanpa ragu. Dengan kecepatan lari dan kekuatan tubuh yang tiada banding, batang pohon cemara bukanlah lawan yang seimbang bagi segerombolan babi. Pohon cemara tersebut serta-merta tumbang!

Bintang Tenggara melempar beberapa Segel Penempatan. Dirinya dan Panglima Segantang berpijak untuk kemudian melompat menjauh dari pohon yang sedang tumbang. Kini mereka berlari di padang rumput yang luas. Tak ada tempat bersembunyi!

Kecepatan lari gerombolan Babi Taring Hutan berimbang dengan kecepatan lari Bintang Tenggara yang tak mengerahkan jurus kesaktian unsur petir. Bila mengerahkan Bentuk Pertama jurus Asana Vajra, maka Bintang Tenggara yakin dapat dengan mudah mengecoh gerombolan babi. 

Beruntung Panglima Segantang mengenakan sepatu unsur angin Kasta Perak yang ia ambil dari brankas di Perguruan Gunung Agung. Kecepatan larinya si tubuh bongsor itu menjadi sedikit lebih kencang dari kecepatan normal Bintang Tenggara. 

Tetiba langkah kaki-kaki pendek gerombolan babi menjadi lebar. Babi-babi itu berlari seolah berjingkat. Aneh, bahkan lucu gerakan mereka. Namun, kecepatan mereka menjadi bertambah secara signifikan… dan tampang mereka semakin beringas. 

“Mengapa tadi kau berkelahi dengan babi itu!?” teriak Bintang Tenggara ke arah si biang kerok. 

“Sahabat Bintang… babi itu tadi menatapku dengan pandangan yang kurang sopan…,” jawab Panglima Segantang dalam pelarian. 

“Kurang sopan!?” 

Apa maksudnya kurang sopan!? batin Bintang Tenggara. Bagaimana caranya seseorang bisa mengetahui ekspresi kurang sopan seekor babi!? Tunggu… apakah seekor babi pernah tersenyum ramah!? Bintang Tenggara segera mengenyampingkan pikiran-pikiran tentang raut wajah babi. Ia bahkan tak kuasa menyuarakan kekesalannya kepada Panglima Segantang. Ia kini lebih khawatir karena padang rumput ini… seperti tak berujung!

Malam semakin larut. Kedua anak remaja itu terus berlari. Di belakang mereka, belasan ekor babi yang berlari berjingkat perlahan menyusul. Jarak antara dua anak remaja dan segerombolan babi hanya terpisah belasan langkah. 

“Panglima! Sambut!” seru Bintang Tenggara. “Tahan mereka selagi aku bersiap!” 

Panglima Segantang menjulurkan tangan ke atas dan menyambut… Tempuling Raja Naga! Tak ada pilihan lain. Walau Panglima Segantang tak akan dapat memanfatkan kelebihan senjata pusaka itu dalam memanipulasi massa menjadi berat atau ringan, setidaknya si bongsor itu dapat menggunakan tempuling untuk menahan laju babi. Bintang Tenggara memerlukan waktu untuk merapal wujud pohon petir dari jurus kesaktian unsur petir.

Di saat bersiap, Bintang Tenggara menangkap siluet tubuh Panglima Segantang dalam mengerahkan Tempuling Raja Naga. Panglima Segantang menghunuskan tempuling dengan dua tangan setinggi rusuk. Ia menusuk pesat, menyabet tangkas, dan memutar bilah tempuling ke kiri dan kanan. Gerakan kaki dan tangannya sungguh seirama, menyerang dan bertahan dengan lihai.

Walhasil, gerombolan babi tertahan di tempat. Bahkan, beberapa ekor babi terlihat menahan sakit akibat luka tikam dan tebas. Piawai sekali Panglima Segantang. Jauh berbeda dengan Bintang Tenggara yang, saat menggunakan tempuling, hanya mampu menikam, menikam, dan menikam. 

Belakangan, Bintang Tenggara terlalu sibuk berlatih kesaktian unsur petir sampai-sampai terlupa bahwa ia tak memiliki jurus untuk menopang penggunaan Tempuling Raja Naga. Pemikiran bahwa tak ada lagi sosok lamafa, selain Lintang Tenggara dan mungkin Bunda Mayang, secara tak sadar membuat dirinya terjebak dalam anggapan bahwa penggunaan tempuling adalah menikam saja. Padahal, sebenarnya ia dapat mempelajari kemampuan menggunakan tombak untuk mengisi kekurangan yang ada. 

Bintang Tenggara sedikit melamun, sehingga proses merapal bentuk ketiga jurus kesaktian unsur petir sedikit melambat. Di saat itulah ia menyaksikan bayangan hitam berkelebat tinggi….

“Sahabat Bintang!” teriak Panglima Segantang meberi amaran. 

Seekor babi terlihat melenting tinggi dari arah belakang, melampaui gerombolan mereka. Bintang Tenggara terpana. Bagaimana kisahnya seekor babi dengan kaki-kaki pendek dan gempal melompat setinggi lebih dari dua meter di udara!? Babi tersebut kemudian seolah terjun bebas dengan posisi menyeruduk ke arah Bintang Tengara!

Tinju Super Sakti, Gerakan Pertama: Badak!

Gelegar suara memekak telinga membahana, merompak kesunyian malam di tengah padang rumbut. Seekor Babi Taring Hutan yang berada pada Kasta Perak terjungkal dan jatuh terseok. Secara alamiah, badak tentu lebih perkasa daripada babi. Meski, perbedaan kasta memaksa Bintang Tenggara terdorong beberapa langkah ke belakang. Darah mengalir tipis di sudut bibinya. 

Dalam keadaan terjepit, Bintang Tenggara terpaksa mengubah jurus. Tidak cukup cepat baginya menuntaskan jurus kesaktian berwujud pohon petir, yang dapat menghasilkan badai petir di atas gerombolan babi. Oleh karena itu, spontan ia merapal jurus lain untuk menghadapi seekor babi, yang tak hanya bisa berlari berjingkat, namun juga melenting tinggi! 

“Pada Kasta Perunggu Tingkat 6, mengapa engkau masih melepaskan lima tinju beruntun…? Mengecewakan….” Terdengar komentar malas menggunakan jalinan mata hati. Sungguh cara yang unik bagi seorang guru dalam memberikan panduan kepada muridnya. 

“Mundur!” sergah Bintang Tenggara ke arah Panglima Segantang, yang terlihat mulai kewalahan.  

Keduanya kembali memacu langkah. Bintang Tenggara perlu mengisi mustika tenaga dalam yang terkuras sebagai persiapan serangan balik. Panglima Segantang memanggul Tempuling Raja Naga dengan raut wajah penuh suka cita. 

Di belakang kedua anak remaja itu, gerombolan babi terus mengejar meski berkurang seekor. Raut wajah babi-babi itu terlihat semakin berang, dan beringas….

Perlahan, Bintang Tenggara mulai dapat mencerna ekspresi di wajah… babi.