Episode 6 - Sapu Tangan dan Rencana ke Dusun Kedaton Kidul

Ketika tengah duduk untuk melegakan paru-paruku yang letih bekerja, kulihat Agam—lelaki berwajah cukup memikat itu—berbincang dengan seorang perempuan berhijab hijau muda. Barangkali, perempuan itu seusiaku, 26 tahun atau tak terlalu jauh. Entah apa yang mereka bicarakan. Yang jelas, mata perempuan itu sendu dan saat bicara bibirnya bergetar.

Tak lama, perempuan berhijab hijau muda itu pergi. Lalu, Agam menghampiriku dengan wajah digurat gelisah, memintaku mengikutinya. Entah ke mana.

Di lorong yang membariskan pintu-pintu kamar, aku bersulit upaya membuntuti langkah kaki jenjangnya yang terburu-buru, seolah dikejar waktu. Entah apa yang terjadi, aku tak mencoba bertanya. Hanya kubiarkan napas dan gerak kakiku yang mulai payah, saling memburu pasrah.

Kami masuk ke dalam sebuah ruangan dengan deretan ranjang berjumlah delapan. Udara tidak hambar, sebab bau obat terhirup kuat. Sedangkan kemurungan berhamburan di antara rintih sakit korban dan raung pilu keluarganya.

Kami menuju ranjang paling ujung yang tirainya terbuka, tepat di dekat jendela yang menangkap sedikit cahaya.

Seorang pria tua terbaring lemah di ranjang, di antara orang-orang yang berdiri mengelilinginya dalam posisi membentuk tapal kuda. Salah satunya, perempuan berhijab hijau muda yang sebelumnya berbincang dengan Agam. Dari matanya yang berlingkar kelabu, dan bibirnya yang seolah bergincu campuran warna merah darah dan pucat-ungu, aku menduga ada luka di paru-paru pria paruh baya itu. Kulirik papan nama yang terkait di rangka ranjang warna telur bebek bernoda karat, tertulis nama Sutrisno Bambang Ahdiyat.

Rupanya, dari yang kutangkap dari perbincangan orang-orang, aku mengetahui kalau perempuan itu ialah anak Pak Bambang.

Tak lama berselang, seorang pria berseragam rumah sakit datang, lalu meminta kami untuk mengucapkan doa menurut kepercayaan dan keyakinan yang kami anut. Orang-orang khusyuk tertunduk, sementara dalam hati aku menjadi sibuk bertanya: Tuhan, mengapa?

Setelah orang-orang mengusapkan “amin” ke wajahnya, Pak Bambang terbatuk panjang, membuat sapu tangan yang dengan gemetar digenggam anaknya terperciki noda merah. Lalu, ia membenarkan letak kepalanya di bantal untuk mencari posisi ternyaman.

Ia memejamkan matanya, seperti ingin memejamkan juga cuaca buruk di paru-parunya. Kemudian, saat ia terlihat dalam pejam yang pulas, kami menarik diri dengan langkah sunyi bergegas, agar ia dan para korban di ruangan ini dapat beristirahat tanpa terganggu.

**

Aku kembali memunguti sampah, sementara batuk panjang Pak Bambang masih terdengar nyaring di ingatanku. Ketika belum sempat aku meraih botol Aqua yang ringsek di sudut tembok—di bawah papan himbauan berhenti merokok—Agam kembali menghampiriku. Memintaku mengikutinya sekali lagi.

Kami melewati lorong yang sama dengan langkah yang menjadi semakin tak seimbang, sebab kakiku gemetar dan pikiranku terus menduga-duga. Entahlah, pikiran buruk tak henti memadati otakku.

Ternyata benar. Kami memasuki ruang yang sama. Dari mulut kamar, sambil mencoba membenarkan kaki mogokku, kulihat orang-orang dengan wajah sekelam mendung memagari Pak Bambang. Kuhampiri kerumunan itu. Dan, ketika jarakku hanya sedepa dari Pak Bambang, di sela rapat baris tangis kudengar desis, “Bapak ... yang tenang di sana, ya ....”

Batuk yang panjang menuntaskan rasa sakit dan usia Pak Bambang. Sementara orang-orang melafalkan doa, tangis anaknya melapangkan haru. Ketika mengusap lembut rambut bapaknya, sapu tangan perempuan itu terjatuh. Belum sempat aku memungutnya, Agam sudah lebih dulu membungkuk. Dibukanya satu lipatan, dan diberikannya kepada perempuan itu.

Tapi, aku yang paling tahu, selebar apa pun sapu tangan dibentang, tak akan mampu menampung dan melipat kesedihan seorang anak yang kehilangan bapaknya.

**

Hari gelap. Aku, Adi, dan Baskara memutuskan untuk pulang. Sedangkan Agam dan Mas Sukri masih sibuk mengurusi pemakaman Pak Bambang, sehingga kami tak sempat berpamitan. Melewati parkiran sepeda motor saat malam, tenda-tenda darurat terlihat semakin redup dengan nyala lampu separuh hidup.

“Mi, kita ke rumahku dulu untuk membicarakan soal tawaran Mas Sukri, piye?” tanya Adi, sambil berusaha mengurai lilitan tali helmnya di spion.

“Boleh, Di. Asal si Baskara mau antar aku ke rumah,” aku melirik Baskara dengan sorot mata mengancam, “mau kan, Bas!?”

“Iya, Nyonya Besar ...,” jawabnya, dengan nada menyimpan keluhan.

Baskara mengeluarkan sepeda motornya yang diapit dua motor besar dengan sedikit kesulitan. Lalu, saat dalam posisi menghadap pintu keluar rumah sakit—sebelum aku naik—diusapnya jok motornya yang tercukur tipis dan klimis. Modus lama lelaki menyedihkan, kalau kata Adi, karena yang membonceng, pasti akan melekat ke tubuh Baskara ketika terjadi pengereman mendadak. Atau sengaja mendadak.

Aku menaiki sepeda motor Baskara. Sepanjang perjalanan, kucoba terus memejamkan mata dari segala kemurungan Jogjakarta yang disempurnakan malam. Selama di perjalanan, tubuhku dan Baskara tetap terjaga dalam jarak. Mungkin jalanan lengang, tapi pikiranku tidak.

**

“Bas, kopi ireng ora pakai lama, ya!” kataku, setengah berteriak, bergurau, sekaligus memerintah.

Saat Baskara menjadi barista di dapur, Adi mondar-mandir dengan sebatang rokok menyala terapit di dua jarinya. Tak lama, Adi melemparkan tubuhnya ke sofa, lalu diembuskannya asap yang membuat ruang tamunya seolah berkabut.

“Mi, gimana kalau kita ikut membantu Mas Sukri di Dusun Kedaton Kidul besok?” tanya Adi, sambil beratraksi memutar rokoknya dengan cekatan, menunjukkan jam terbangnya sebagai seorang perokok.

“Aku setuju banget, Di. Cuma,” aku memelankan suara, seolah kami bersepakat bahwa pendengaran Baskara lebih tajam daripada ngengat, “kamu kan tahu sendiri gimana koncomu ....”

“Iya ... maksudku, kalau kamu setuju, kita obrolin baik-baik dengan Baskara, Mi,” katanya, ikut memelankan suara.

Rupanya, ‘Barista’ andalan kami muncul dari dapur, sambil menggenggam nampan yang membariskan cangkir kopi. Segera saja aroma kopi instan kesukaan kami menggapai ke hidungku. Membuatku sedikit berharap aroma itu dapat menenangkan pikiran skeptis Baskara.

“Nih, Tuan dan Nyonya. Kopi sudah siap menemani percakapan kita,” Baskara meletakkan nampan di meja, “ini buat Adi—Baskara menggeser cangkir yang cacat kupingnya—dan ini buat Laksmi yang gulanya sesendok dan pakai garam sedikit—Baskara menggeser satu cangkir souvenir pernikahan entah siapa—aku tak tertarik membaca namanya.

“Matur suwun ya, Bas,” kataku, dengan keramahan artifisial.

Bas duduk di samping Adi, mengeluarkan sebatang rokok putih dari bungkusnya yang tergeletak di meja, lalu menyalakannya.

“Bas, aku dan Laksmi sudah setuju soal tawaran Mas Sukri untuk membantu di Dusun Kedaton Kidul. Kamu piye?”

“Di,” Baskara mengubah raut wajahnya, “kamu kan tahu. Dan bukannya sering kita obrolin juga soal kegelisahanku tentang praktik-praktik memanfaatkan bencana?”

Hmmm. Aku tahu benar pikiran Baskara. Ia pasti akan mengulangi ketakutannya pada hal yang sama: korupsi dana bantuan. “Tapi, Bas, kita ndak bisa langsung menuding gitu, dong. Lagi pula, kelihatannya Agam dan Mas Sukri orang yang tulus, kok.”

“Mi,” kata Baskara, dengan nada pelan dan menggurui, “cobalah sesekali berpikir rasional, jangan emosional,” kata-katanya menuding ke wajahku.

Memang apa itu rasional? Bukannya—seperti yang dikatakan Arthur Schopenhauer—setiap keputusan manusia adalah kehendak buta dan emosional. Sedangkan untuk menjadi rasional, adalah perkara menyusun daftar alasan saja. Tapi, sungguh, aku sedang malas berdebat dengan pria bernama Baskara.

“Bas,” kata Adi, pelan, “aku tahu kecurigaanmu bukan didasari maksud buruk. Tapi gini, Bas. Jangan sampai kecurigaanmu membatasi hak sedulur kita di Dusun Kedaton Kidul untuk mendapatkan bantuan kita,” Adi mencoba menengahi.

“Tapi, Di ... gimana nasib yang di rumah sakit?” tanya Baskara, mencoba beralasan.

“Tenang, Bas. Tadi siang aku dapat kabar kalau sekitar 200 relawan dari Jogja dan kota lain mau menyebar di rumah sakit,” jawab Adi, yang membuat Baskara semakin kehilangan alasan, “jadi, nggak ada alasan buat kita untuk menolak ajakan Mas Sukri. Atau gini saja, Bas, besok pagi aku yang jemput Laksmi, dan kamu kami tunggu di rumah sakit, ya.”

“Sip, Di ... Lihat besok saja,” nada suara Baskara tak meyakinkan.