Episode 6 - Keping 2: Bibi Roslinda dan Raslene

Selama sisa libur catur wulan pertama kelas enam, Ibu memilih lebih banyak bekerja di rumah agar bisa menemaniku. Ia, seperti juga Ayah, adalah seorang pekerja keras. Ia hampir selalu menghabiskan waktu dari pagi hingga malam hari untuk menulis. Biasanya, ia paling sering menulis di kedai kopi favoritnya di daerah Kelapa Gading. Aku pernah diajak beberapa kali ke sana. Letaknya tak terlampau jauh, hanya sekitar 20 menit dari rumah kami di Rawamangun dengan mengendarai mobil Honda butut Ibu, meskipun lebih sering dua jam akibat perangai mobilnya yang hobi mogok.

Perihal Honda bututnya yang dinamakan James, Ibu punya hiburan tersendiri yang bagiku sangat mengada-ada dan lebih tepat sebagai pembodohan terhadap diri sendiri. Bagi Ibu, James adalah sebuah mobil revolusioner di mana bahan bakarnya tidak sepenuhnya bensin, melainkan mesti ditambah nasi, lauk pauk, dan beberapa botol air mineral ukuran tanggung. Maksudnya, James sering kali berubah menjadi mobil bertenaga dorong. Tetapi, melihat ketenteraman Ibu menghadapi persoalan rutin itu, semakin muncul kekagumanku padanya.

Selain kemandirian, tentu saja kebanggaanku terhadap Ibu adalah karya-karyanya. Beberapa buku karya Ibu pernah kulihat terpajang di etalase toko buku. Aku sering bertanya kepada Ibu perihal apakah ia pernah menulis dongeng tentang petualangan Ayah. Namun, ia selalu menjawab dengan senyum yang tak memberikanku kepuasan apa-apa.

Setiap hari, selama liburan sekolah, usai menyelesaikan pekerjaannya, Ibu selalu bermain denganku. Permainan favorit kami adalah memerankan tokoh-tokoh dongeng yang ia tulis. Pun siang ini, Ibu baru menyelesaikan satu lagi dongeng tentang Lalumba. Aku dimintanya memerankan Daffi, seorang anak yang berhasil mengusir Lalumba. Aku menerima peran itu dengan senang hati. Tetapi, ketika Ibu mengajukan diri memerankan Lalumba, aku menolaknya secara tegas.

Akhirnya, kami memaksa Bibi Roslinda yang berperan sebagai Lalumba. Secara fisik, Bibi Roslinda memang cocok memerankan penyihir itu. Hidungnya mirip milik Lalumba, meskipun tak ada totol serupa jerawat. Senyumnya pun lebar dengan deret gigi kusam. Meskipun sama joroknya, aku berpikir deretan itu tak sekuning milik Lalumba.

Sekitar empat tahun lalu, saat pertama kali Bibi Roslinda datang dari kampung halamannya, aku mati-matian meminta Ibu tak mempekerjakannya. Aku mencurigai Bibi Roslina adalah Lalumba yang tengah menyamar. Namun, Ibu malah memarahiku dan memintaku menghilangkan pikiran semacam itu.

Saat itu, selama berminggu-minggu, aku hidup dalam ketakutan. Setiap pulang sekolah, dan rumah hanya diisi Bibi Roslinda, aku langsung masuk kamar. Di atas kasurku, aku berusaha menghapal dongeng dengan cara membacakannya lantang agar Lalumba yang menyamar itu pergi membatalkan niat jahatnya.

Celakanya, suatu hari di bulan Maret, Ibu harus pergi bekerja selama beberapa hari dan tak pulang. Aku merengek meminta ikut, namun ia melarang lantaran aku mesti sekolah. Apalagi, Nenek yang biasanya menginap di rumah kami ketika Ibu tak ada juga sedang berada di rumah Bukde Jelita di Semarang.

Sejujurnya, ada beberapa bagian wajah Lalumba yang dimiliki Bukde Jelita. Itu menyebabkanku, kadang-kadang, merasa Nenek melakukan kesalahan besar pada nama anaknya tersebut. Entah wajah Bukde Jelita itu diwariskan dari siapa, sebab Nenek dan kakekku punya wajah yang berseberangan dengan Lalumba. Pun halnya Ibu. Hidung dan bibir mereka mungil, dan keduanya membuat mata bulat-besar mereka tampak mendominasi. Begitu pun wajah Ibu, yang akhirnya terwaris padaku. Satu-satunya kesamaan kami dengan Bukde Jelita adalah rahang tirus-tegas kami.

Ketika rengekanku pecah jadi tangisan, suara Ibu malah terdengar lebih tegas. “Ganesha, dengar Ibu. Kamu harus sekolah, dan kalau kamu takut tidur sendirian, Ibu akan minta Bibi Roslinda tidur di kamarmu. Mengerti?” Mendengar itu, tangisku pun meledak. Tetapi, aku tak kuasa melontarkan alasanku menangis, sebab entah sihir sialan macam apa yang mempengaruhi Ibu karena ia pasti bakal membela Bibi Roslinda.

Akhirnya, aku memberanikan diri berbisik untuk menjelaskan kecurigaanku perihal Bibi Roslinda ke sekian kalinya. Tetapi, Ibu tetap saja mengabaikanku. Esoknya, ia tetap pergi usai mengantarku ke sekolah.

Aku tak menyukai sekolah. Bagiku, tempat itu terasa membosankan, sehingga aku lebih senang berada di rumah. Tetapi, sejak kehadiran Bibi Roslinda, aku mulai menyukai waktu yang bergerak lambat di sekolah. Aku baru sadar, rasa bosan jauh lebih bisa dinikmati daripada rasa takut.

Sialnya, pikiranku yang sibuk justru seolah mempercepat laju jarum jam. Dering bel pulang sekolah membentak jantungku. Setelah keluar kelas, aku berusaha mencari alasan agar teman-temanku mau bermain lebih lama di sekolah.

Bagiku, itu sedikit konyol, karena tentu saja mereka bakal mengabaikan ajakanku. Agak aneh memang, setelah sekian tahun absen dari kehidupan sosial kelas, tiba-tiba saja aku bertingkah seolah hei-aku-sahabat-kalian-ingin-bermain-sebelum-kelulusan-sekolah-memisahkan-kebersamaan-kita-yang-mesra-dan-menyenangkan.

Sebenarnya, tanpa perlu kuduga-duga, hasilnya sudah jelas; mereka mecampakkanku.

Aku pulang dengan tungkai gemetar ke rumah. Sampai di rumah, dengan langkah mengendap aku berusaha menyelidiki apa yang dilakukan Bibi Roslinda. Hati kecilku berharap penyihir itu pergi lantaran menyadari usahanya untuk mengubahku menjadi dewasa bakal sia-sia. Aku adalah Ganesha, aku bukan anak biasa. Aku anak Asmira Sastrawijaya, dan aku mewarisi seluruh kemampuan bercerita ibuku. Meskipun sesungguhnya, ketakutan ini juga diwarisi ibuku yang punya gagasan brilian bercerita tentang Lalumba. Karena seharusnya, dengan satu kalimat “Jangan pernah menjadi dewasa sebelum waktunya” pun sama intinya dengan berpuluh halaman dongeng tentang Lalumba yang membuatku jadi pecundang.

Aku melepas sepatuku. Menyimpul kedua talinya dan mengalungkannya di leherku. Aku merasa sedikit aman karena kaki telanjangku tak akan menciptakan suara decit. Sambil sedikit membungkuk, aku mengendap ke arah jendela. Di tembok yang menonjol di samping jendela, aku menempelkan punggungku dan menarik napas dalam. Lalu, aku memberanikan mataku mengintip ke dalam rumah.

Rumahku yang tidak terlampau luas memungkinkanku melihat keseluruhan ruang dari jendela. Dari tempatku mengintip, yang tampak hanya kekosongan. Namun, aku merasa itu kekosongan yang berbeda dari biasanya. Kekosongan itu kini seolah dipenuhi aura jahat. Dan, saat mataku sibuk menyelidik, tiba-tiba terasa tepukan di punggungku.

Aku menoleh dan mendapati wajah Bibi Roslinda di hadapanku. Terkesiap, aku pontang-panting melarikan diri sembari berteriak. Bibi Roslinda memanggilku, tetapi teriakan dan lariku malah jadi semakin kencang.

Mendengar keributan yang ada, beberapa tetanggaku keluar rumah. Salah satu dari mereka menghentikan lariku. Lalu, aku menjelaskan bahwa ada Lalumba, penyihir jahat, di rumahku. Tetanggaku, Pak Lim, menyangka aku melihat hantu. Kemudian, bersama beberapa tetangga lain, ia hendak mengantarku pulang ke rumah. Aku menolak. Aku meminta izin untuk berada di rumah salah satu mereka saja. Sialnya, tepat saat mereka hampir meluluskan permohonanku, Bibi Roslinda menghampiri kami.

Tangisku meledak. Dengan suara tak jelas aku berteriak bahwa wanita itu Lalumba. Dengan wajah panik Bibi Roslinda menjelaskan bahwa dirinya adalah pekerja di rumahku yang baru bekerja beberapa hari. Ketika aku ditanya Pak Lim, aku tak bisa membantah apa yang dikatakan Bibi Roslinda.

Akhirnya, Bibi Roslinda meminta izin meminjam telepon rumah Pak Lim untuk menelepon Ibu. Setelah berbicara dengan Ibu, Pak Lim berusaha membuatku percaya Bibi Roslinda bukan Lalumba.

Dengan berat hati, aku pulang bersama Bibi Roslinda. Sepanjang hari, aku terus menyelidiki gerak-geriknya. Ia mungkin bukan Lalumba, pikirku, mencoba menenangkan diri. Tetapi, aku tetap tak bisa menghilangkan ketakutanku yang kembali muncul ketika ia menggenggam sapu di halaman. Waktu Ibu pulang esok harinya, ia memarahiku dan menjelaskan dengan tegas bahwa Bibi Roslinda bukan Lalumba.

“Bu,” bisikku, “lihat. Aku masih curiga Bibi Roslinda benar Lalumba,” kataku, sambil mengingat kejadian empat tahun silam.

“Nesh ...” Ibu menggeleng. “Ingat, jangan mulai lagi.” Lalu, Ibu melanjutkan dongengnya, sementara Bibi Roslinda bergerak mengitari rumah dengan sapu diapit tungkainya. Melihat tingkah Bibi Roslinda, tawaku pecah dan ketakutanku pada Lalumba semakin berkurang. Mungkin, seperti Bibi Roslinda, Lalumba tak semenakutkan yang kubayangkan.

Sebetulnya, yang menakutkan dari Bibi Roslinda adalah kegilaannya pada eksperimen memasak. Entah dapat gagasan dari mana, ia suka sekali mencampur bahan-bahan yang tak perlu pada masakannya. Misalnya, pada suatu hari, ia mencampur pengembang roti pada seekor ayam potongnya dengan alasan kreativitas, kecerdasan, efisiensi, dan niat mulia agar seekor ayam itu membesar dan membuat Ibu bisa berhemat di tengah kondisi sulit. Pada lain kesempatan, ia menyiram air berkarbonasi pada tumis kangkungnya setelah melihat seorang tetangga kami membersihkan toilet dengan air tersebut. Alasan eksperimen yang kedua adalah ia ingin membunuh bakteri atau kuman pada kangkung sehingga kesehatanku terjaga.

Sialnya, di antara kami bertiga, eksperimen itu cuma gagal pada lidah dan perutku. Sedangkan pada perut, lidah, serta pikiran Ibu, seolah Bibi Roslinda adalah ilmuan dapur yang super jenius. Agaknya, dalam pikiran Ibu, jika membuat lidah dan perutku tersiksa tidak termasuk tindakan dosa, dan Bibi Roslinda bisa masuk surga, maka ia akan dipilih khusus oleh Tuhan sebagai sebagai koki surga. “Barangkali, seperti inilah rasa masakan di surga,” kata Ibu, suatu hari, sehingga membuat aku mulai membayangkan betapa indahnya neraka.

Lebih dari selera Ibu yang aneh, ia memang sudah menganggap Bibi Roslinda sebagai keluarga. Aku pun demikian. Meskipun, pada waktu-waktu makan, aku bertanya-tanya apakah keluarga saling menyayangi dengan cara saling meracuni.