Episode 21 - Kenaikan Tahap (2)


Tenang,... tenang Shiang Kresna. Ingat, ingat apa yang Guru bilang, ‘pemahaman’. Apa saja yang kupelajari saat Pernapasan Yin-Yang? Ah, iya, kesesimbangan dan batasan. Tenangkan pikiran. Jangan pikirkan rasa sakit yang menimpamu. Atur penapasan agar seimbang. Beri batasan untuk energi panas dan dingin agar mengalir pada tempatnya. Atur mereka, jangan biarkan salah satu mendominasi. Jika masih berontak, tukar posisinya. Ayo, ayo, aku pasti bisa!

Aku masih mengambil posisi meditasi. Paman Key tepat di depanku, mengamati, berdoa, dan cemas. Satu hari terlewati begitu saja. Bisa kubilang, penyiksaanku berkurang sedikit. Ini adalah faktor sugesti, jika tak kuhiraukan kesakitan itu, maka pikiranku masih jernih untuk selalu mengatur pernapasan.

Di mata Paman Key, mungkin dia menganggapku masih tersiksa, karena raut wajah dan kerutan dahi tak bisa kuredam. Namun, dalam batinku, siksaan ini kian sirna. Yang mulai muncul adalah rasa nyaman dalam tubuh.

Dua hari terlewati, aku merasakan suatu perubahan dalam Dan Tian. Perlahan, baik energi Yin atau Yang, tersedot dalam Dan Tian tersebut, berputar-putar, dan mengembangkan Dan Tian. Jadi, dalam benakku, inilah yang disebut ‘cangkir berubah menjadi gelas’. Sesaat sesudah Dan Tian-ku melebar, lonjakan energi mengalir ke seluruh meridianku seolah banjir bandang. Hanya saja, banjir itu bisa kuatasi dengan pengaturan energi yang sudah kumengerti sehingga tak ada meridianku yang rusak.

“Huaahh!” Aku berteriak kencang.

“Kresna, kau sudah membaik?” Paman Key cepat bertanya.

Melihat wajah cemasnya, baik hati maupun wajahku hanya bisa tersimpul riang. “Paman, terimakasih telah menjagaku selama ini!” ujarku tulus.

“Eh,...” Paman Key menggaruk kepala, “kita kan saudara, tidak perlu sungkan.” Ini mungkin hanya perkiraan, tapi menurutku Paman Key merasa malu.

“Baiklah, jika di masa mendatang Paman menemui masalah, aku akan menjadi orang peratama yang maju.” Aku tersenyum lebar, memperlihatkan gigi yang sudah lama tak kugosok ini.

Namun, entah kenapa, respon Paman Key agak aneh. Dia termenung cukup lama sebelum akhirnya membalas singkat, “tentu.”

Awalnya, aku ingin bertanya mengapa responnya demikian, tetapi aku teringat pesan Guru untuk segera memberitahunya jika pengendalian energiku sudah berhasil. “Kalau begitu, aku akan membangunkan Guru, Paman.”

Ia hanya terseyum ringan tanpa membalas lebih jauh. Ini meninggalkan sedikit ganjalan hati, tapi itu urusan nanti. 


***


“Guru, Guru, Guru, bangun!” Aku menggoyang-goyangkan salah satu jarinya. Memegang sisik naga tidak senyaman mengelus hewan berbulu, rasanya kasar, juga licin. Kasar karena rongga antar sisik membuat sensasi demikian. Licin karena sisiknya memang mirip ular, hanya saja lebih tebal.

“Sudah selesai?” Guru berucap dengan tiba-tiba membuka mata besarnya. Sebenarnya suasana ini cukup mencekam, karena lubang yang Guru tempati hampir tidak memebiarkan cahaya dari kristal hijau masuk. Alhasil, dalam kegelapan ini yang bersinar terang hanyalah matanya. Untung saja, aku sudah kenal, mau diancam pun mentalku sudah kebal. Tidak mengenal, maka tidak sayang, bukankah begitu hukumnya?

“Iya, Guru. Aku mengikuti apa yang Guru ajarkan, ‘pemahaman’,” terangku mantap.

“Bagus, keluarlah dulu, aku akan bangun!” perintahnya.

Aku pun keluar, menunggu Guru untuk beranjak dari posisi tidurnya. Sementara, pandanganku sempat menyelidik Paman Key, ternyata dia sudah bermeditasi lagi di tiang dekat altar. Dasar maniak meditasi! Dasar penggila kekuatan! Ingin rasanya kulontarkan kalimat hujatan tersebut.

Guru keluar, kepala beserta lehernya terlihat dahulu, sebelum diikuti badan dan ekor. “Kresna, mendekatlah!”

Aku mendekat tanpa sanggahan apapun. Namun, lagi-lagi adegan ini, kepala Guru terlalu dekat padaku. Nafasnya yang bau terpaksa kuhirup. Tahan diriku, ini adalah salah satu cobaan yang harus kau terima. Jangan lancang! Jangan lancang!

“Ini...” tiba-tiba Guru bergumam aneh.


 ***


[Shenlong]

Shenlong, naga itu, dia kembali melihat aliran energi di dalam tubuh Kresna dengan mata naganya. Awalnya, dia hanya ingin tahu apakah cara Kresna menstabilkan energi sudah baik. Namun, kali ini pikirannya dibuat terdiam. Ia sungguh tak menyangka, ada perubahan aneh yang terjadi di dalam Dan Tian muridnya. Sebuah cahaya, atau lebih tepatnya sesuatu seperti kristal yang memancarkan cahaya tertanam di dalam.

Sejauh pengetahuannya, hanya ahli kasta tinggi yang bisa memadatkan energi untuk dijadikan kristal. Umumnya, perlakuan tersebut ditujukan untuk menanamkan energi secara besar-besaran ke tubuh orang lain. Berbeda dengan menyalurkan chi secara langsung, penanaman kristal dapat membuat orang yang menerimanya menyerap atau lebih tepat disebut mengekstrak sedikit demi sedikit energi kristal untuk dijadikan miliknya. Hal ini bisa menghindari meledaknya Dan Tian karena asupan energi terlalu besar. Pengekstrakan bisa menyesuaikan kemampuan penerima.

Namun, hal yang paling aneh adalah, pengubahan energi menjadi kristal harus dilakukan secara sadar dan dengan kemauan ahli tersebut. Terlepas dari kasta Kresna yang rendah, bagaimana mungkin Dan Tian-nya bisa secara alami membentuk kristal? Lalu, walau pun Kresna sadar dan mau mengubah energi menjadi kristal, dari mana ia mendapatkan pengetahuan tentang ilmu itu. Shenlong bahkan tak pernah menyinggung masalah ini selama pelatihan.

Ia bingung, tak tahu harus bicara atau bertanya. Jika ia bertanya, sudah pasti dirinya tak akan sudi melakukan itu pada bocah yang masih seumur jagung. Jika dia menjelaskan kondisi muridnya, kemungkinan besar Kresna tidak akan paham, karena dirinya pun masih menerka situasi. Berpikir, berpikir, Shenlong masih berpikir. Dengan banyak pengetahuan dan pengalaman hidup, seharusnya tak lama lagi sebuah penjelasan bisa ditemukan.

Hewan Iblis! Ya, benar. Ada satu makhluk di dunia ini yang sejak lahir dan secara tidak sadar sudah memiliki kristal energi alami dalam Dan Tian, yaitu Hewan Iblis. Namun, bagaimana mengaitkan masalah ini? Kresna adalah manusia, tak mungkin tubuhnya memiliki fungsi yang sama dengan Hewan Iblis. Sejauh pengamatan Shenlong, baik meridian, titik akupuntur, dan organ tubuh dia, semuanya normal milik manusia. Hanya Dan Tian-nya saja yang mengalami evolusi aneh.

Ah, benar juga. Sifat dan bakat seorang anak, pastilah warisan dari orang tuanya. Ditambah, bukankah ayahnya adalah ahli bela diri yang menyembunyikan identitas? Shenlong pun akhirnya terbangun dari lamunan.

“Guru... Guru...” suara Kresna menyahuti Shenlong yang termenung.

“Apa?” tanyanya tegas, tak ingin terlihat kebingungan.

“Ah, tidak. Apa Guru melihat hal aneh dalam tubuhku?” 

“Bocah ini, ternyata dia cukup pintar untuk mengetahui tingkahku,” Shenlong bergumam dalam hati. “Kresna, apa pendapatmu tentang kedua orang tuamu?”Shenlong akhirnya menyelidik.

“Orang tuaku? Kenapa tiba-tiba bertanya?” Kresna terheran dengan polos.

“Sudah, jawab saja!” paksanya.

“Ehm...” ia terlihat membayangkan sesuatu, “kalau ayah, dia pendiam, tapi jika menyangkut pekerjaan, dia akan selalu menyelesaikan semua masalah dengan lancar. Setelah kematian ibu, ayah jarang tersenyum. Dia juga selalu memberitahuku suatu hal dengan penjelasan orang dewasa, bukan membuat penjelasan sederhana untuk seorang anak kecil. Mungkin, secara umum ayah orang yang metodis dan tidak pandang buluh.”

“Kalau ibumu?” Shenlong tidak menemukan hal yang terlalu aneh dari penjelasan Kresna tentang ayahnya, selain identitas sebagai ahli bela diri.

“Ibu, ehm... Guru, sebenarnya ingatanku tentang ibu agak samar,” terangnya.

“Sudah, katakan saja apa yang kau ingat!” lanjutnya.

“Ibu, yang aku tahu, dia sering sakit-sakitan. Badannya lemah, dan hampir setiap hari ia berbaring di tempat tidur. Kecuali saat makan, dia menyempatkan diri bergabung. Begitu kurasa,” ujarnya ragu.

“Itu saja? Tak ada yang lain?” Shenlong tidak puas.

“Lah, katanya yang aku ingat, cuma itu saja. Lagi pula ibuku sudah tiada, bukankah seharusnya Guru tidak mengungkit masalah itu?” Kresna berkata datar. Sebenarnya ia juga tak terlalu memikirkan tentang Shenlong membahas topik sensitif, karena ingatan ia samar, tak tahu kasih sayang mana dari ibunya yang bisa membuat air mata menitik jika mengingat kejadian masa lalu.

Walau Shenlong tahu topik ini agak keras untuk seorang bocah, tapi informasi yang dibutuhkannya belum muncul. “Baiklah, begini saja, selama ibumu masih hidup, apa ada sesuatu yang aneh menimpanya atau menimpamu?”

“Sesuatu yang aneh? Hm, apa ya? Sepertinya tidak ada Guru.” Kresna tak mencoba menerka lagi memorinya, karena dia pikir untuk apa membahas masalah itu.

“Coba ingat dengan benar!” Shenlong kembali memaksa.

“Lagi pula, apa gunanya Guru mengetahui masa lalu ibuku?” tanyanya yang sudah bosan.

“Sudah! Lakukan saja perintahku!”

“Baik, baik,” Kresna berucap pasrah.

Ia menyelam dalam lautan memori. Mencari informasi dan ingatan sekecil apapun tentang ibunya. Kalau tak salah, dibanding wanita lain, ibunya terlihat cantik walau wajahnya lesu. Dan juga, dibanding ayahnya, mungkin umur ibunya lebih muda lima sampai delapan tahun karena ia tampak selalu awet muda. Sepertinya itu bisa disebut keanehan, tetapi, dia masih terus mencari hal lainnya.

“Oh, iya, Guru. Entah ini bisa disebut keanehan atau tidak, pokoknya, kalau tidak salah, beberapa hari sebelum ibu meninggal, baik aku atau adik kecilku, terkena demam tinggi di waktu yang sama. Dan demam tersebut sembuh di hari yang sama dengan hari kematian ibu,” jelasnya.

Demam, Shenlong akhirnya menemukan cukup informasi. Salah satu efek pemindahan kristal energi ke tubuh seseorang yang belum siap menerimanya adalah demam. Tergantung situasi, orang yang terkena demam bisa saja meninggal. Namun, beberapa kasus juga membuktikan orang yang berhasil selamat dari masa kritis itu. Sayangnya, masih ada yang mengganjal. Saat ditanam, kristal energi seharusnya tidak akan menghilang sebelum diserap penuh oleh penerima. Namun, saat Shenlong pertama kali melihat tubuh Kresna dengan matanya, tak didapati jejak kristal tersebut. Ini adalah kasus baru yang pertama kali Shenlong temui selama seribu tahun hidupnya.

Terlebih, yang terjadi pada kristal energi di dalam tubuh Kresna bukanlah pengikisan perlahan, justru pertumbuhan yang sedikit demi sedikit terjadi. Tiap waktu, sejumlah kecil energi diserap ke dalam kristal tersebut sehingga membuat volumenya membesar, tapi sangat kecil sekali sehingga sulit diamati. Fenomena ini jelaslah mirip dengan apa yang terjadi di dalam tubuh Hewan Iblis. Hanya saja, sekali lagi, bagaimana mungkin manusia menirunya?

Lalu, suatu pemikiran ekstrim terlintas dalam benak Shenlong. “Kresna, ini pertanyaan terakhirku, apa ibumu tampak tidak pernah menua?”

“Tidak pernah menua? Hm, mungkin bukan begitu. Aku memang tidak tahu umur ibu berapa, tapi kupikir dibanding ayah, umur mereka berjarak lima sampai delapan tahun. Jadi, ya, ibu memang selalu terlihat awet muda,” tandasnya.

“Hahahahahah!” Shenlong tertawa keras setelah akhirnya ia menemukan kesimpulan tepat.

“Guru, kenapa tiba-tiba tertawa?” Kresna jelas kebingungan.

“Tidak, tidak apa-apa. Aku cuma menemukan monster kecil yang perlu diajari dengan keras! Selamat telah menjadi Pendekar tahap Perak, hahahaha!” imbuhnya, kembali dengan tawa.

Kresna menelan ludah. Ia merasa selanjutnya akan diperlakukan lebih kejam dalam latihan. “Guru, jangan membuatku takut begitu...”

Rasa khawatirnya hanya dibalas dengan senyum naga yang lebar.



Kolom penulis:

Ya, ini pasti updatenya gak tengah malam. Maaf maaf... hehehe...