Episode 19 - Akhir: Tragedi yang Mengubah Hidup


19 Januari 2014

Kali ini tidak! Taki tidak akan membiarkan Midori bersikap seperti maniak Kappa yang kerasukan. Tangannya menyambar tubuh sang kakak. Ia mati-matian menghalangi kakaknya menuju sumber suara.

“Nggak, Midori! Kamu nggak bakal nemuin kappa di sana!”

“Apa-apaan kamu, Taki?! Sudah terlalu jauh buat menyerah. Uang dan popularitas lagi menunggu kita di depan sana.” Midori mencoba berontak.

“Bagaimana kalau itu arwah hutan? Seperti yang kau, TIDAK! Itu kita! Kita udah diperingati oleh hutan ini.”

“Meski hantu sekali pun, aku nggak bakalan menyesal.” Midori memelotot. “HIDUP DAN MATIKU HANYA UNTUK KAPPA!”

BRAK!

Taki ambruk ke tanah tatkala Midori menyepak kakinya agak keras. Habislah sudah harapan untuk menyelamatkan Sang kakak. Imbauan dari Pak Hayashi, kisah tragis yang diceritakan nenek wanita pemilik kedai sayur, semuanya jelas-jelas memberi isyarat bahwa mereka telah merosot ke dalam lubang jebakan. Jebakan yang sama sekali tak kuasa dihindari di bawah kekuasaan nafsu.

“Stop, Midori!” Taki mencengkeram kerikil dan tanah dalam alunan genderang kutukan. “HUSH! PERGILAH, KAPPA! KAPPA YANG ADA DI DEPAN SANA! JIKA ITU EMANG KAMU, MAKA PERGILAH!!!”

“Taki bodoh!” Midori sontak waswas karena takut kehilangan kappa-nya. “Berhenti berteriak kayak orang gila, Taki! Kamu benar-benar merepotkan!”

“Pulanglah, Midori. Aku mohon padamu.”

“TIDAK!” Lagi-lagi tatapan Midori berubah kosong. Dia tak sabar menggubris celoteh Taki satu per satu, hingga badannya memutar ke sumber kuakkan kodok besar dan mulai melangkahkan kaki lebih cepat.

“Mi-Midori?”

Taki berusaha bangkit sekuat tenaga. Lututnya yang terkikir akibat membentur batu bukanlah penghambat yang berarti. Dia terus memaksakan diri hingga ransel besarnya jatuh ke tanah, dan kakinya beringsut ke depan.

“Aku bakal menyelamatkanmu, Midori. Bertahanlah sebentar lagi.”

5 Januari 2014

Midori meninggalkan jejak di tanah lunak hutan. Sosok di depan sana hampir diraihnya. Hanya saja, tiba-tiba penglihatan lelaki kurus itu memburuk. Jarak pandangnya jadi terbatas, sehingga kesulitan menemukan target.

“Sialan!” Midori menyumpah.

Dalam kemelut yang kian menjadi-jadi, langkah Midori tetap bersaing dengan makhluk pendek yang lari terbirit-birit di depannya. Sementara itu, Taki akhirnya hanya bisa duduk di tepi sungai karena jaraknya sudah terpaut jauh dengan sang kakak. Anak itu memegangi lututnya yang nyeri.

“Apa itu benar-benar kappa?” Dia bergumam. “Aku nggak bisa membayangkan jika Midori berhasil membuktikan keaslian makhluk itu ke seluruh warga desa.”

“DAPAT!” Midori berteriak kegirangan tatkala tubuhnya terbang ke arah target.

BRAK!

Dia terpelanting ke tanah, gagal memegangi sasarannya. Si kappa kembali melaju cepat ke depan. Di sisi lain, Midori yang terkapar bergegas bangkit lalu melanjutkan pengejaran. Sungguh, ia yakin kalau yang berlari di depan adalah seekor kappa. Bagaimana tidak? Sehabis memegang tangannya, Midori merasakan lendir licin.

“Pasti lendir kappa,” ujarnya menyipitkan mata.

Tanah lunak berganti ke rerimbunan pohon. Si kappa melompat dan lenyap di antara semak-semak. Namun, Midori bersikeras meringkus targetnya yang amat penting. Tanpa ragu sedikit pun ditembusnya sulur yang menggelantung tinggi lalu kakinya menginjak ranting serta dedaunan berduri yang tegak di hadapan.

“Keluar kamu, Kappa!”

Lengan Midori bergerak ke semak belukar di sekitarnya. Satu per satu gumpalan semak ia periksa tetapi si kappa tak kunjung ditemukan.

“Kappa! Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu!” Midori berhenti sejenak. Suara binatang hutan seketika mengalun-alun. “Aku bukan musuh. Kita adalah teman!”

“Siapa kau?”

“Hah?!” Midori terkesiap. “Kamukah itu?”

“Siapa kau?”

“Na-namaku Midori. Aku datang mencarimu.”

“Apa tujuanmu?”

“A-anu ....”

“Apa tujuanmu?”

Midori bungkam. Ia tentu tak bisa secara gamblang memberi alasan. Bisa saja si kappa akan tancap gas bilamana tahu bahwa ada orang yang tengah mengincar dirinya. Memang, Midori tidak berniat melukai atau menyentuh sekali pun. Dia hanya butuh foto yang meyakinkan. Akan tetapi, rasanya bicara jujur di saat seperti ini bukanlah pilihan yang tepat.

Napas lelaki itu menderu, uap panas menjalari wajahnya. Penglihatan Midori agak membaik, tetapi kondisi fisiknya tidak sebaik beberapa jam lalu. Barangkali karena aksi kejar-kejaran tadi. Keringat menggenang di pelipis dan sekeliling matanya, Midori benar-benar kelelahan.

“Pergilah!” Si kappa mendesis sesudah mengucapkan peringatan.

“Tidak! A-aku ... a-aku ingin bicara jujur.”

“Aku menunggu.”

“Aku seorang wartawan lokal. Baru-baru ini percetakan tempatku bekerja mulai kehilangan peminat. Alhasil, kami terancam bangkrut dan mati-matian memutar otak agar bisa kembali bangkit. Atasanku meminta diriku untuk mencarikannya berita dahsyat. Berita yang bilamana dipublikasikan akan menuai kegemparan sepelosok desa.” Mata Midori berbinar tatkala mengingat kejadian pelik yang menimpanya.

Sesaat menghela napas panjang, lelaki itu kembali bercerita: “Seminggu lalu aku ingat betul pernah melihatmu di aliran sungai Ryuzagi, tepatnya ketika aku memotret pemandangan hutan. Aku terkejut, tetapi masih sanggup untuk pulang ke rumah dan menuliskan artikel mengenai kappa si siluman air. Awalnya kukira ide cemerlangku ini akan berbuah manis. Sayangnya, para warga menyambut penuh kontra kemudian mengadakan demo besar-besaran sehingga aku harus membuktikan keaslian artikel tersebut.”

“Aku terkutuk.” Si kappa mendesis lagi. “Jangan mencariku atau kau akan tertular kutukan.”

“Nggak bisa! Hidupku bergantung pada kemurahan hatimu. Sekarang, kumohon perlihatkan dirimu dan biarkan aku mengambil satu foto saja. Aku nggak punya banyak pilihan.”

“Pergilah!”

 Semak di sebelah kiri Midori bergemeresik, sebuah tanda nyata bahwa si kappa ada di sana, berusaha kabur. Dengan sigap, lelaki itu mengejarnya semakin jauh ke dalam hutan. Mungkin kappa yang satu ini berlari menggunakan keempat anggota geraknya. Sebab, dari sesemakan yang tingginya cuma selutut, Midori tak bisa melihat wujud atau kepalanya saja.

Di lain sisi, Taki berjalan gontai mengikuti jejak keributan yang disebabkan sang kakak. Ia tak tahu persis ke mana mereka pergi dengan jejak yang berseliweran di tanah. Akan tetapi, arah sepatu serta jejak aneh ini menjurus ke jantung hutan, tempat lembap yang ditumbuhi pepohonan tinggi.

“Astaga! Midori dalam bahaya.” Perlahan-lahan, kaki Taki mulai mengatur kecepatan secara bertahap.

SYUT!

“HAH!” Pemuda tersebut tercekat tatkala sebuah kerikil mengenai pelipisnya.

Dari balik bayang-bayang hutan, tampak sesosok bayangan setinggi satu setengah meter. Ia mengenakan jubah dilengkapi siluet topi fedora. Kala Taki berusaha menemukan wajahnya, dia lekas sadar bahwa pria tersebut bukan manusia lagi.

“Mereka sudah menasihatiku, tapi aku terlalu bodoh untuk mengerti.” Kalimat barusan menggema di dalam kepala Taki. “Kau masih bisa berputar arah, sedangkan aku tidak.”

“Aku mesti menyelamatkan kakakku! Dia ada di jantung hutan!”

“Awalnya aku juga dibuat seperti ini, dipancing dan dibodohi untuk terus mengejar kesia-siaan. Anak dan istriku pun rela kutinggalkan demi mereka, kumpulan makhluk ajaib.”

“K-kamu adalah suami dari nenek penjaga kedai sayur? Kamu beneran mati karena ulah para kappa?” Suara Taki bergetar.

“Kini aku bukanlah siapa-siapa lagi. Cukup sebagai pelajaran bagi para manusia yang kelewat bodoh mencari iblis terkutuk.”

“Kumohon tolong kakakku! Berikan dia satu kesempatan lagi buat berpikir jernih.”

Arwah pria tersebut perlahan sirna, sebelum akhirnya ia mengangguk dan lenyap tak berbekas. Taki terdiam sejenak, coba mencernakan kejadian yang dialaminya begitu cepat. Meski cukup menyeramkan, setidaknya ia tahu kalau cerita si nenek penjaga kedai sayur bukanlah isapan jempol belaka.

Semoga saja arti dari anggukan tadi sama seperti yang diharapkan Taki. Midori akan keluar dari kegelapan hutan dan menyesali keputusannya sebagai pemburu kappa, Taki berharap demikian.

Menunggu menjadi hal tersulit bagi Taki di kala hatinya terus menafsirkan prasangka-prasangka buruk. Kepalanya sampai pusing mendengar desau angin bercampur kerik serangga hutan. Terlalu lelah, dia akhirnya memutuskan duduk di tanah, menatap sungai yang tiada memberi tanda.

“Oy! Taki!” Seruan itu tiba-tiba saja bergema. Kepala Taki langsung menoleh.

“Midori!”

Midori berlari mendekat, wajahnya tampak kelelahan. Namun, tak ada gurat tertentu di wajahnya yang mengindikasikan bahwa ia berhasil mendapatkan satu foto.

“Kamu baik-baik aja?” Midori menggenggam bahu adiknya.

“Cuman pusing sedikit. Bagaimana denganmu?”

“Kappa itu hilang entah ke mana. Anehnya lagi, ada bayangan hitam yang menabrak tubuhku dan aku tiba-tiba aja teringat sama kamu, Taki. Makanya, aku cepat-cepat kembali.” Midori menyeka butir keringat di dahinya.

“Syukurlah. Sebaiknya kita pulang.”

“Ya, tentu. Kita lanjutkan pencariannya besok.”

Di balik kesengsaraan yang berlarut-larut, Taki akhirnya mendapat keberuntungan. Midori kembali setelah bertingkah seperti orang gila karena mengejar-ngejar Kappa. Meski begitu, dia ternyata masih saja berniat melanjutkan pencarian di lain hari. 

Taki berusaha mencari waktu terbaik agar mereka dapat merundingkan masalah ini. Selain itu, ia akan memberitahu Midori tentang pertemuannya dengan arwah korban kappa. Dia pasti akan segera sadar dan melupakan pencariannya. Namun, untuk sekarang, beristirahat di rumah adalah keputusan terbaik.


~~Para Pengendali Mimpi~~


Sore menjelang, tepat di mana kakak-adik itu sampai di desa. Mereka melintasi jalan yang penuh sesak akan aktivitas penduduk. Beberapa sepeda melintas membawa barang dagangan dan hasil kebun. Tak lupa, mata warga yang duduk-duduk di rumah terkesan menatap sinis kepada mereka berdua.

“Jangan dilihat, Taki.” Midori memutar kepala adinya yang melotot ke arah para penduduk.

Tibalah saat di mana mereka melewati rumah Pak Hayashi. Dan, sungguh kesialan besar karena orang tua itu tengah bersantai di beranda. Tatkala matanya mendapati Taki dan Midori yang berbadan kotor, dia pun langsung berdiri penuh semangat.

“Lihatlah kedua anak payah ini! Mereka bermain seharian di dalam hutan,” katanya setengah berteriak.

Keduanya memutuskan diam seraya berlalu cepat.

“Aku yakin mereka terlalu malu untuk membela diri seperti biasa-biasanya.”

“Kami belum kalah.” Midori akhirnya menyahut.

“Kalian akan selalu kalah. Mencari kappa? Astaga, yang benar saja!” kakek itu terkekeh hebat.

Begitulah perjalanan hari ini berakhir, penuh tawa penghinaan dan noda lumpur di sekujur tubuh. Semburat senja tercetak di langit, Taki hanya bisa berbaring di atas tempat tidur. Midori tengah sibuk di ruang tengah membersihkan kameranya yang agak kotor. 

Tanggal terus berjalan dari hari ke hari, sementara mereka tidak mengalami kemajuan sedikit pun. Apakah pencarian ini telah mencapai tahap stagnan? Atau karena mereka kian dijauhkan dari marabahaya?

Dua persepsi pun tercipta di kepala dua saudara kandung. Mereka berlawanan, tetapi masih satu kawan. Apabila pencarian mengalami jalan buntu, maka Taki-lah yang embusan napasnya paling lega. Namun, apabila gemeresik semak-semak menghantui perjalanan, itulah saat di mana senyum lebar menghias di wajah Midori.

Kappa masih sebuah misteri.