Episode 110 - Mengambil Tugas



Dengan kembalinya Super Guru Komodo Nagaradja, Bintang Tenggara kini telah berada pada Kasta Perunggu Tingkat 6. Sang Super Guru menaikkan tingkatan kasta mustika tenaga dalam muridnya tanpa diminta. Ia beralasan bahwa di dalam Kejuaraan Antar Perguruan, muridnya itu terlalu lemah. Bahkan, ia menganggap kekalahan Perguruan Gunung Agung disebabkan ketidakbecusan dari muridnya itu. 

Hari-hari di Perguruan Gunung Agung, dengan demikian, berjalan seperti biasa. Bintang Tenggara dan keempat temannya kembali berlatih seperti sedia kala. Akan tetapi, tidak satu pun dari mereka menjalani hari dengan tenang. Kemana pun mereka pergi, pasti ada saja pandangan mata yang mengawasi, bahkan menghampiri untuk sekadar berkenalan. Hampir setiap satu warga Perguruan Gunung Agung sudah mengenal para pahlawan perguruan mereka. 

Sebulan yang lalu, di saat kelima perwakilan Perguruan Gunung Agung kembali dari Kejuaraan Antar Perguruan dan tiba di Pulau Dewa, sambutan berlangsung meriah. Kelimanya bahkan diarak menaiki kereta kuda sampai ke Balairung Utama Perguruan Gunung Agung. Di sana, telah menanti sejumlah Sesepuh dan Maha Guru yang sebagian besarnya belum pernah Bintang Tenggara kenali. Di antara mereka, Maha Guru Keempat membusungkan dada paling depan, dan dagu Maha Guru Kesatu mendongak tinggi. 

Upacara penyambutan hari itu berlangsung panjang, dan berlanjut di hari kedua. Karena mempersembahkan gelar peringkat kedua kepada Perguruan Gunung Agung, para tetua perguruan memutuskan untuk memberi hadiah yang setimpal. Jadi selain hadiah keping-keping emas dan perak dari Perguruan Maha Patih, kelima anak remaja tersebut juga akan mendapat hadiah tambahan. Telah diputuskan bahwa mereka berlima berhak memasuki Lantai Perak brankas Perguruan Gunung Agung. 

Meski disebut sebagai brankas, mereka dibawa ke sebuah pura berlantai tiga. Penjagan di pura itu demikian ketat. Selain ahli-ahli digdaya yang bersiaga, Bintang Tenggara menyaksikan berbagai formasi segel yang rumit adanya. Lantai kedua di pura inilah yang disebut sebagai Lantai Perak. Sesuai namanya, lantai tersebut memuat berbagai perlengkapan untuk menopang keahlian, mulai dari ramuan sakti sampai dengan perisai dan senjata, yang kesemuanya dikategorikan pada Kasta Perak. 

“Kalian boleh mengambil apa saja dari dalam brankas Lantai Perak ini,” ujar seorang sesepuh yang bertugas sebagai Juru Kunci. “Syaratnya… hanya boleh satu dan tak dapat ditukar.” 

Hampir seluruh bagian lantai tersebut terdiri dari rak-rak besar dan kecil. Bahkan, ada rak yang menjulang tinggi sampai ke langit-langit ruangan. Selain itu, ada pula kamar-kamar khusus yang memuat benda-benda khusus pula. Secara umum, lantai tersebut terbagi dalam beberapa kategori. 

Kelima pahlawan Perguruan Gunung Agung lalu berpencar ke bagian-bagian tertentu yang menarik minat mereka. 

Kuau Kakimerah segera melangkah ke bagian ramuan. Tak berapa lama, ia kembali membawa sebuah gulungan naskah yang memuat tata cara meramu suatu ramuan khusus. 

Panglima Segantang menelusurike wilayah persenjataan. Kedua matanya terbelalak, ketika menyaksikan berbagai senjata yang dipajang. Baru kali ini dalam hidupnya menyaksikan demikian banyak senjata yang berada pada Kasta Perak di bawah satu atap. 

“Kau ambilah parang itu,” ujar Bintang Tenggara sambil menunjuk ke arah sebilah parang besar dan mengkilap. “Sebagai senjata Kasta Perak, ia memiliki kesaktian unsur api.”

“Tidak.” Panglima Segantang menggelengkan kepala. “Parang Hitam sudah sehati denganku. Tak mungkin aku menggantikannya,” jawab Panglima Segantang tegas. 

Walhasil, Panglima Segantang kembali dengan membawa sepasang sepatu yang memiliki kesaktian unsur angin. Pilihan yang cukup baik, pikir Bintang Tenggara. Panglima Segantang sadar betul bahwa kecepatan larinya… tak bisa dibanggakan. 

“Kalung apakah gerangan itu?” tanya Bintang Tenggara saat mendapati Canting Emas kembali dengan membawa seutas kalung. 

“Untaian Jiwa Suci… Kalung ini kemungkinan besar bisa menjaga kesadaranku saat mengerahkan wujud padma api,” jawab Canting Emas ringan. 

Bintang Tenggara mengangguk cepat. Alasan mengapa Canting Emas merupakan satu-satunya anggota regu yang tak mengerahkan wujud kesaktian unsur api saat kejuaraan, adalah karena gadis tersebut selalu kehilangan kesadaran saat melepaskan jurus Ksatria Agni, Bentuk Ketiga: Saptajihwa. Jadi, bilamana Canting Emas melepas padma api, maka ia tak akan mengenal lawan maupun kawan. 

“Hahaha….” Aji Pamungkas terlihat puas. Ia sedang mengenakan sepasang kacamata yang berwarna gelap. Seutas tali kulit tersemat di sisi kiri dan kanan bingkai kacamata itu, yang kemudian melingkari ke belakang kepalanya. 

Apakah kaca mata tembus pandang…? batin Bintang Tenggara. 

“Apa gunanya kacamata itu?” sergah Canting Emas. “Tak ada alat yang bisa membuatmu melihat tembus pandang.” 

“Saat ini memang belum kutemukan… akan tetapi, bukan berarti tak ada,” jawab Aji Pamungkas ringan. “Sedangkan kacamata gelap ini… Bila kukenakan, selain membuat penampilanku menjadi lebih tampan… aku pun bisa melirik ke kiri dan kanan tanpa diketahui sesiapa pun.” 

“Sama sekali tak berguna!” 

Kelimanya melangkah meninggalkan brangkas perguruan. Bintang Tenggara menenteng sebuah kitab tebal yang di bagian depannya tertulis judul ‘Bunga Rampai Racun dan Penawarnya’.  

...


“Tempuling Raja Naga!”

“Prang!” 

Selembar besi lebar namun pipih melayang tinggi di udara sebelum akhirnya tertancap di kejauhan. Panglima Segantang segera berlari mengejar lembaran besi tersebut. Di lengan kanannya, Parang Hitam terlihat… patah! 

Bintang Tenggara mendarat ringan, ia baru saja menikamkan Tempuling Raja Naga yang ditahan oleh Panglima Segantang dengan bilah Parang Hitam. Sebagaimana diketahui, saat ini Tempuling Raja Naga adalah senjata pusaka Kasta Perak, sedangkan Parang Patah… Parang Hitam, maksudnya, adalah senjata Kasta Perunggu sahaja. 

“Sudah kukatakan untuk memilih parang baru yang dengan Kasta Perak saat kita berada di dalam brankas perguruan,” seru Bintang Tenggara yang tak punya hati nurani. 

Panglima Segantang menoleh cepat ke arah sahabatnya itu. Tangannya yang masih memegang patahan Parang Hitam gemetar. Raut wajahnya kusut. Alisnya mengerucut. Kedua matanya berkaca-kaca. 

“Nanti kutemani kau membeli parang baru,” ujar Bintang Tenggara acuh tak acuh. 

Panglima Segantang memalingkan wajah. Lalu, tanpa kata-kata, ia segera berlari meninggalkan tempat berlatih yang terletak di hutan milik Maha Guru Keempat di Kota Tugu. Bintang Tenggara hanya melongo menyaksikan kepergian Panglima Segantang. Dalam hati ia berpikir gampang, dengan kepingan emas dan perak yang diperoleh dari dua kejuaraan yang telah diikuti, maka bukan tak mungkin untuk membeli senjata pusaka Kasta Perak. 

Sepekan hampir berlalu sejak kejadian Parang Hitam berubah menjadi Parang Patah. Bintang Tenggara sedang mematangkan jurus kesaktian unsur petir di bawah panduan Maha Guru Keempat. 

“Apa yang kau lakukan terhadap Panglima Segantang!?” seru Canting Emas, yang diikuti Kuau Kakimerah, di saat Bintang Tenggara hendak meninggalkan kediaman Maha Guru Keenam. 

“Parang Hitam tak sengaja patah saat kutikam…,” jawab Bintang Tenggara ringan. 

“Lalu, mengapa ia mengurung diri di Graha Utama milikinya?” 

Awalnya, Bintang Tenggara dan Aji Pamungkas menumpang di Graha Utama milik Panglima Segantang. Akan tetapi, sejak menjadi perwakilan Perguruan Gunung Agung di Kejuaraan Antar Perguruan, keduanya turut diangkat sebagai Murid Tauladan. Oleh karena itu, Bintang Tenggara dan Aji Pamungkas kini mendiami Graha Utama milik masing-masing. 

“Mengurung diri…?” Bintang Tenggara melangkah hendak kembali ke kediamannya. “Mungkin ia tak enak badan. Jangan terlalu dipikirkan, Panglima Segantang kebal penyakit… Sebentar lagi mungkin ia sembuh.”

“Semalam ia hanya tidur-tiduran menatap bilah patah Parang Hitam,” sela Aji Pamungkas yang tak diketahui datang dari mana. 

Bintang Tenggara menatap Aji Pamungkas. Ia menyipitkan mata… 

“Ada apa dengan raut mukamu!?” sergah Aji Pamungkas membalas tatapan Bintang Tenggara. “Aku tak mengintip Panglima Segantang! Apakah kau sudah gila!? Semalam aku berkunjung karena hendak meminjam sepatu unsur angin miliknya.”

“Sudahlah… Jangan terlalu dipikirkan.” Bintang Tenggara melengos pergi. 

“Pagi ini ia menolak latih tarung bersamaku,” ujar Canting Emas. 

Bintang Tenggara menghentikan langkah. Ini adalah berita baru. Bahkan, mungkin bisa menjadi sebuah rekor di Negeri Dua Samudera. Panglima Segantang menolak latih tarung!? Bintang Tenggara mulai penasaran. 

“Apakah kau sudah meminta maaf karena mematahkan Parang Hitam?” ujar Kuau Kakimerah yang sedari tadi diam mengamati. 

“Tak perlu meminta maaf. Kejadian tersebut adalah kecelakaan. Aku sudah menawarkan diri untuk menemani mencari parang baru,” jawab Bintang Tenggara tenang. 

“Grab!” 

Canting Emas segera menyengkeram lengan Bintang Tenggara. Ia sudah mendapat gambaran akan apa yang sesungguhnya telah terjadi. Panglima Segantang sangat menyayangi Parang Hitam. Bahkan, ia tak hendak berpisah dengan parang tersebut walau tersedia parang lain yang lebih tangguh. 

Kemudian, parang kesayangan tersebut berubah menjadi Parang Patah gegara si hati beku Bintang Tenggara. Sekadar permintaan maaf adalah lumrah adanya. Akan tetapi, tidak bagi Bintang Tenggara. Anak remaja tersebut terbiasa berpikir logis tanpa emosi, tanpa perasaan…. 

Canting Emas menyeret Bintang Tenggara. Aji Pamungkas dan Kuau Kakimerah mengekor di belakang. Mereka menuju kediaman Panglima Segantang. 

“Spada… spada…,” bisik Aji Pamungkas di depan Graha Utama milik Panglima Segantang. 

“Panglima Segantang!” teriak Canting Emas. 

Pintu depan Graha Utama tersibak perlahan. Dari arah dalam yang terlihat gelap nan kelam, sesosok tubuh besar melangkah gontai. Pundaknya terlihat lemah sekali. Kedua lengannya lemas menjuntai ke depan. Raut wajahnya kusut. Pakaian tidur yang ia kenakan pun acak-acakan. 

“Mayat hidup!” Aji Pamungkas melompat ke arah Canting Emas.

“Canting Emas… aku tak bisa berlatih tarung hari ini…,” gumam Panglima Segantang loyo. 

“Sepertinya ia benar-benar sakit…,” gumam Bintang Tenggara. 

“Ada yang hendak Bintang Tenggara sampaikan padamu….” 

“Hm…?”

“Ayo… cepat minta maaf!” bisik Canting Emas. 

“Panglima Segantang,” buka Bintang Tenggara. “Sebagaimana kita ketahui, Parang Hitam adalah senjata Kasta Perunggu, sedangkan Tempuling Raja Naga adalah senjata pusaka Kasta Perak.” 

“Hei!” Canting Emas gelagapan. 

“Jadi, adalah wajar adanya bila Parang Hitam akan bernasib sedemikian bila berhadapan dengan Tempuling Raja Naga. Bahkan, Parang Hitam dapat bertahan sampai selama ini, merupakan sebuah mukjizat adanya.” 

“Plak!” Canting Emas menepuk jidat… Aji Pamungkas. 

 … 


Setelah melalui pertarungan batin yang teramat sangat berat, Bintang Tenggara akhirnya berhasil… meminta maaf kepada Panglima Segantang. Walau, jauh di dalam lubuk hati, ia tak merasa melakukan kesalahan apa-apa. 

Kedua anak remaja tersebut kini berada di gerai penempa terdekat. Mereka berharap Parang Patah dapat segera kembali menjadi Parah Hitam. Seorang kakek tua di hadapan mereka sedang memeriksa Parah Hitam yang bilahnya berada dalam keadaan patah dua. 

“Percuma…,” gumam kakek tua dengan keterampilan khusus sebagai penempa itu. 

“Hm…?” Tatap mata penuh harap Bintang Tenggara dan Panglima Segantang seketika berubah lesu. 

“Bahkan bila kusambung parang ini… ia tak akan bertahan lama sebelum kembali patah. Kondisinya sudah termakan usia. Meski sepuhan logam berwarna hitam di sisi luar cenderung masih baik, namun bilah besi di balik sepuhan sudah termakan karat.” 

Kedua anak remaja tersebut mengunjungi sejumlah penempa lain dan mendapat jawaban yang serupa. Sempat terpikir di benak Bintang Tenggara untuk memaksakan saja penyambungan Parang Hitam agar supaya Panglima Segantang kembali normal. Akan tetapi, ia urungkan niat tersebut, karena bila kembali patah maka kejadian ini akan kembali terulang. 

Panglima Segantang terlihat loyo. Bintang Tenggara tak tahu lagi harus berbuat apa…. Anak remaja bertubuh bongsor itu masih enggan membeli parang baru. 

“Rekan Pasukan Telik Sandi, Bintang Tenggara memohon untuk menyampaikan pesan darurat kepada Kakak Lombok Cakranegara,” ujar anak remaja itu menggunakan jalinan mata hati kepada sebuah lencana dalam genggaman. 

“Pesannya adalah… Parang Hitam patah. Panglima Segantang berubah menjadi mayat hidup.” 

Di wilayah ini, Lombok Cakranegara adalah satu-satu sosok yang cukup mengenal Panglima Segantang. Oleh karena itu, Bintang Tenggara berusaha merajut harap dengan mengabari sosok yang penuh muslihat tersebut. 

“Bawa ia ke Kerajaan Parang Batu. Kunjungi Balai Bakti. Aku menanti.” Terdengar jawaban singkat oleh suara yang diketahui milik Lombok Cakranegara, pada keesokan harinya. 

Raut wajah Bintang Tenggara berubah senang, lalu kembali kecut. Walaupun jarak Kerajaan Parang Batu tak jauh, bukan perkara mudah bagi mereka meminta ijin untuk meninggalkan Perguruan Maha Patih. Apalagi, setelah kejadian di Pulau Garam tempo hari, proses perijinan meninggalkan perguruan dibuat semakin ketat. 

Oh… Apa kabar Arya Pamekasan di Pulau Garam? batin Bintang Tenggara mengingat remaja berkulit gelap, yang biasanya menyematkan celurit di balik pinggang. 

Tunggu… kalau tak salah, pesan dari dari Kakak Lombok Cakranegara berbunyi… ‘Bawa ia ke Kerajaan Parang Batu. Kunjungi Balai Bakti. Aku menanti.’ 

“Kunjungi Balai Bakti…?” gumam Bintang Tenggara.

Bintang Tenggara memacu langkah menuju Balai Bakti terdekat. Sebagaimana diketahui, Balai Bakti merupakan tempat dimana tugas-tugas perguruan dapat diperoleh. Menyelesaikan tugas di Balai Bakti berarti seorang murid akan meraih poin dari perguruan, yang tentunya dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan. 

Kedua mata Bintang Tenggara menyisir sebuah papan pengumuman besar yang dipenuhi tempelan berbagai lembaran tugas. Ia berhenti pada sebuah tugas yang baru saja ditempel pagi tadi.

[Tugas: Mencari barang hilang

Sumber: Kepala Pengawal Istana Utama, Kerajaan Parang Batu

Lokasi: Kerajaan Parang Batu, Pulau Batu. 

Imbalan: 2 poin]

Bintang Tenggara mengeleng-gelengkan kepala tanda takjub. Sampai sedemikian cermatkah perencanaan anggota Pasukan Telik Sandi bernama Lombok Cakranegara? Di saat menjawab pesan menggunakan Lencana Pasukan Telik Sandi, sosok mencurigakan penuh muslihat itu bahkan telah menyiapkan cara agar mereka dapat meninggalkan perguruan. Sulit dipercaya… Namun, mengapa pelit sekali imbalannya?

“Panglima Segantang… Tahukah kau bahwa Super Guruku, idolamu, Komodo Nagaradja, akan bertandang ke Kerajaan Parang Batu…?” pancing Bintang Tenggara.

“Bocah tengik! Mengapa kau jual ketenaranku…?” sahut Komodo Nagaradja. Meski, dari nada bicaranya tersirat kebanggaan. 

“Benarkah!?” sergah Panglima Segantang. Sinar kehidupan kembali menyala di kedua matanya. “Kita harus bergegas bertolak… Aku hendak bertemu sekaligus menyampaikan langsung rasa terima kasihku atas jurus kesaktin Gema Bumi!”

“Bersiaplah….” 

“Hendak kemanakah kalian…?” Canting Emas berdiri bersandar, sambil menyilangkan lengan di depan dada. Gadis itu berada di dekat gerbang dimensi menuju Monumen Genta. 

“Menyembuhkan dia…,” tunjuk Bintang Tenggara menggunakan bola mata ke arah Panglima Segantang. 

Di saat yang sama, Bintang Tenggara memperlihatkan secarik surat jalan. Surat jalan diperoleh dengan menukarkan lembar pengumuman tugas ke meja pendaftaran di dalam Balai Bakti. Meski, petugas Balai Bakti sempat tak percaya bahwa tugas yang hanya bernilai dua poin saja, harus dikerjakan oleh dua Murid Tauladan Perguruan Gunung Agung. 

“Lakukan apa yang harus kau lakukan…,” ujar Canting Emas membuka jalan. 

Setiba di Monumen Genta, Bintang Tenggara dan Panglima Segantang melangkah menuju lokasi gerbang dimensi yang lain. Gerbang dimensi tersebut akan membawa mereka langsung ke Kerajaan Parang Batu. Biaya perjalanan mahal yang harus ditebus bukanlah hambatan berarti bagi orang kaya seperti Bintang Tenggara.

Kedua anak remaja itu melompat keluar dari dalam gerbang dimensi, dan tiba di taman dalam sebuah istana. Sebentuk lambang kerajaan berbentuk seperti perisai, dengan ukiran sebuah gunung berapi yang sedang meletus, membuktikan bahwa mereka tiba di tempat yang benar.

“Selamat siang Tetamu Kerajaan,” Kakek Gerbang menegur ramah. Satu lagi bukti hidup bahwa mereka tak tersimpang arah. 

Bagi Kakek Gerbang, kedua anak remaja tersebut cukup ia kenal. Keduanya sempat rutin berlatih di gelanggang istana Kerajaan Parang Batu. Bintang Tenggara, bahkan pernah membawa Istana Utama memenangkan salah satu latih tarung antar keempat istana. Dan secara resmi, Bintang Tenggara adalah warga terhormat di Kerajaan Parang Batu. Ada sebuah lencana yang dapat membuktikan kenyataan tersebut. 

“Apakah kalian pernah mendengar tentang Cembul Manik Astagina...?” Tetiba suara Lombok Cakranegara menegur penuh misteri. 


Catatan:

*) Cembul Manik Astagina adalah judul Episode 37 dan sempat di singgung dalam Episode 40.