Episode 109 - Durkarsa


“BUM! BUM! BUM!” 

Ledakan-ledakan keras terjadi beruntun. Kesunyian petang hari di tengah lautan serta-merta direngut habis. 

“GRARSH!”

Sebuah pulau seukuran dua atau tiga ekor Paus Surai Naga terlihat mengemuka di tengah lautan. Bentuknya bundar melingkar. Layaknya sebuah pulau, tumbuh berbagai pepohonan dan semak belukar di permukaannya. Anehnya, pulau tersebut bergerak cepat, sangat cepat!

Di depan pulau, bergerak lebih cepat lagi adalah sebuah perahu ramping dengan tiga tiang layar. Warna layangnya biru tua. Kecepatan perahu layar tersebut membelah lautan sungguh tak dapat dicerna akal. Saat ini, perahu tersebut berada di perairan wilayah selatan, di antara Pulau Belantara Pusat dan Pulau Logam Utara. 

“Srash!” 

Tetiba sesuatu melesat ke atas geladak perahu dari dalam lautan di salah satu sisi. Ukuran tubuhnya mirip seorang remaja. Rambutnya ikal panjang, dan berwarna keemasan layaknya rambut jagung. Ia mengenakan sebuah gaun berwarna putih. Pada sisi bagian bawah gaun itu, terlihat sirip ekor besar mirip dengan sirip ekor lumba-lumba. Itu adalah sirip ekor lumba-lumba air tawar, atau pesut!

“Step!”

Gadis itu mendarat ringan di atas geladak perahu. Meski melompat dari air, sekujur tubuhnya tak terlihat basah. Terpaan angin mengangkat dan mengibaskan gaun panjang yang ia kenakan. Sirip ekor pesut yang tadi, telah berubah menjadi sepasang kaki putih jenjang yang tak beralas. 

“Binatang siluman… sejenis ikan pari raksasa… Tingkat menengah Kasta Perak!” ujar gadis yang berperawakan jelita tersebut. Ia sedang mengacu kepada pulau yang mengejar mereka.

“Tap” 

Tanpa menoleh, tangan kanan Atje Pesut lalu menangkap sebuah gumpalan yang dilemparkan ke arahnya. Ia segera mengamati gumpalan itu… Raut wajahnya terlihat kusut. 

“Celana dalammu terlalu sempit…,” gerutu Atje Pesut sambil membuka gumpalan kain berwarna putih. 

“Bokongmu terlalu lebar!” balas Keumala Hayath. “Lagipula… mengapa kau tak pernah membawa celana dalam cadangan!? Kau harusnya tahu kita kemungkinan besar akan bertempur!” 

“Belaian angin membawa ketenangan…,” gumam Atje Pesut sambil berupaya mengenakan celana dalam pinjaman. 

“Hahaha… Pulau itu menambah kecepatan,” gelak Ammandar Wewang dari atas anjungan perahu Pinisi Penakluk Samudera. 

“BUM! BUM! BUM!” 

Ledakan demi ledakan kembali terdengar dari buritan perahu. Di sana, terlihat Zilaz Parare berdiri memanggul di bahu sebuah rentaka besar yang terbuat dari logam berwarna biru tua. 

“BUM! BUM! BUM!” 

Dayung Penakluk Samudera sedang berubah bentuk menyerupai tabung seukuran paha orang dewasa. Dayung Penakluk Samudera dalam bentuk meriam kecil itu menghembuskan peluru-peluru bulat sebesar buah semangka, yang bersinar cemerlang ibarat matahari-matahari kecil. 

“Tiada pengaruh! Pulau itu ibarat kapal selam. Timbul dan tenggelam menghindar dari serangan!” seru Zilaz Parare. “Seperti ada yang mengendalikan….”

“Memang ada penunggangnya!” balas Nuku Tidore yang sedang duduk bersila di dalam kabin seolah dalam semedi. 

“Tambah kecepatan!” Ammandar Wewang lalu melompat ke sisi atas anjungan perahu. 

“Brak!”

Seluruh lambung Pinisi Penakluk Samudera bergetar keras. Ammandar Wewang belum sempat menambah kecepatan perahu ketika ikan pari sebesar pulau kecil menyeruak dari dalam lautan. Akibatnya, kini lambung ramping perahu Pinisi Penakluk Samudera terangkat dan tersangkut di atas permukaan pulau. 

Sekarang tak diragukan lagi bahwa pulau itu merupakan seekor binatang siluman ikan pari yang berada pada Kasta Perak tingkat menengah. 

Lima Sekawan Penakluk Samudera melompat turun dari atas perahu. Mereka siaga. Berdiri paling depan adalah Keumala Hayath yang menggenggam pedang pendek di tangan kanan dan perisai di lengan kiri. Dayung Penakluk Samudera telah berubah bentuk. 

Berdiri berjajar di belakang Keumala Hayath adalah Nuku Tidore di kiri, Atje Pesut di tengah, serta Zilaz Parare di kanan. Paling belakang, Amandar Wewang tertawa senang. Formasi mereka mirip belah ketupat. 

“Kalian… mengganggu… waktu istirahatku…,” terdengar suara berbisik dari pulau itu. Suara itu memberi kesan teramat sangat tua dan renta. 

“Siapakah gerangan engkau…!?” hardik Keumala Hayath sebagai jawaban. Meski, ia terlihat sangat waspada. 

“Kasta tak dapat dicerna… Lemah… Parasit….” bisik Atje Pesut. 

“Oh…? Berdarah setengah siluman…,” bisikan suara menyapa Atje Pesut.

“Blub!” 

Tetiba muncul buih-buih kecil berwarna biru kem membungkus tubuh Atje Pesut. Buih-buih kecil itu persis seperti buih-buih yang tercipta ketika ombak pasang laut menghantam karang. Akan tetapi, banyak sekali dan tak segera menetas ketika disapa udara. 

Atje Pesut merasakan tubuhnya tak dapat bergerak sama sekali. Jalinan buih-buih itu menempel lengket antara satu sama lain. Jalinan buih-buih juga terasa kental menempel pada tubuh. Dirinya yang sudah terbungkus buih-buih sampai ke leher, tak berdaya ketika diangkat melayang di udara. 

Menyaksikan teman mereka terkunci dan dibawa melayang, keempat orang temannya tak bereaksi sama sekali. Sebaliknya, mereka hanya diam. Meskipun demikian, mereka tetap waspada menebar mata hati ke sekeliling. 

“Kau bisa menjadi kudapanku hari ini….” 

Tetiba dari permukaan pulau muncul gelembung besar yang transparan. Di dalamnya, terlihat sesosok tubuh manusia yang mengemuka perlahan. Sosok tersebut mengenakan pakaian dengan nuansa hijau kebiruan, yang sudah sangat lusuh. 

Adalah seorang perempuan yang bertubuh mungil. Bukan karena kerdil, melainkan karena tubuh tersebut dipaksa membungkuk layu karena usia. Kedua matanya tertutup kelopak mata yang tebal dan berat. Dari rambut yang acak-acakan, terlihat wajah yang demikian keriput. Saking banyaknya keriput di wajah tersebut, sampai-sampai tak terlihat lagi perawakan layaknya manusia. 

Buih-buih yang mengerubungi tubuh Atje Pesut, membawa gadis tersebut melayang semakin dekat ke arah sosok yang baru saja mucul. Sosok itu lalu mengangkat kedua lengan dan membuka telapak tangannya, seolah hendak menyambut apa yang sempat ia sebut sebagai kudapan…

Ke-Lima Sekawan Penakluk Samudera terpana. Betapa terkejutnya mereka ketika menyaksikan kedua lengan milik sosok di hadapan mereka. Untuk lebih tepatnya, kedua telapak tangan. Telapak tangan di kedua lengan perempuan tersebut adalah sama adanya. Jadi, bahkan setelah diperhatikan dengan lebih seksama, ada dua telapak tangan kanan di kedua lengan, bahkan di lengan kiri! Walau, sedikit perbedaan terletak pada telapak tangan di lengan kiri yang berwarna lebih muda. Sungguh abnormal!

“Hya!” Keumala Hayath membuka serangan! Ia menebaskan pedang pendek ke gelembung udara yang melindungi sosok perempuan tua keriput yang bertubuh bungkuk dan bertelapak tangan aneh itu. 

“Blub!” 

Tebasan pedang Kemala Hayath terpantulkan! Di saat yang sama, Zilaz Parare melemparkan sebuah bola api, Nuku Tidore menarik tubuh Atje Pesut dan Ammandar Wewang meniupkan angin deras! 

Gelembung udara yang di dalamnya terdapat perempuan tua renta terbungkus api yang terus membesar karena nutrisi dari angin. Tak berapa lama, api mereda. Api menyibak gelembung yang kelihatannya sama sekali tak terpengaruh oleh serangan kombinasi yang baru saja dilancarkan. 

“Srek!” 

Jemari tangan, disusul lengan kanan, Atje Pesut menerobos keluar dari buih-buih yang melingkupi tubuhnya. Keumala Hayath segera melompat ke belakang sambil melempar pedang dan perisai pendek ke arah lengan yang baru saja menyeruak. Senjata pusaka tersebut serta-merta berubah bentuk dan kini bersarang di pergelangan tangan Atje Pesut. Dengan sedikit gerakan, Dayung Penakluk Samudera menjadi baling-baling yang berputar deras memangkas buih-buih di tubuh Atje Pesut. 

Setelah terbebas, Atje Pesut kini berdiri paling depan. Di kiri dan kanannya, terpisah jarak beberapa langkah, adalah Nuku Tidore dan Zilaz Parare. Sementara itu, Keumala Hayath dan Ammandar Wewang berdiri berdampingan beberapa langkah di belakang. Kesemuanya mengitari Atje Pesut, namun terkesan menjaga jarak aman. Formasi bertarung yang berbeda lagi! 

“Hehe… Dayung Penakluk Samudera…,” bisik perempuan itu terdengar takjub. 

Atje Pesut sangat penasaran dengan sosok di hadapan. Namun, ia tak hendak mengulang pertanyaan yang sama seperti yang sebelumnya diajukan Keumala Hayath. Sepertinya, menanyakan jati diri lawan tak ada gunanya. 

“Sepertinya dua mata tua ini benar-benar tak dapat diandalkan lagi….” Suara berbisik terdengar kecewa. 

“Apakah Nenek adalah Raja Angkara Durkarsa…?”* ujar Atje Pesut tanpa berbasa-basi. 

Pengamatan gadis belia tersebut akan peringkat kasta yang tak dapat dicerna, kondisi yang lemah, hidup bagai parasit… lalu kesaktian unsur buih, menjadi petunjuk-petunjuk yang mulai tersusun. Terlebih, dengan keterampilan khusus sebagai peramal, Atje Pesut sudah mendapat bayangan bahkan sebelum mereka bertolak. Secara umum, semua petunjuk tersebut mengarah pada satu kesimpulan itu.

“Oh…?” perempuan yang masih berada di dalam gelembung itu terdengar penasaran. 

“Diriku merasa tersanjung… Setelah sekian lama, benarkah masih ada yang mengingat keberadaanku…?” 

“Hmph!”

Atje Pesut menghentakkan napas. Di saat yang sama, gadis yang tak mengenakan alas kaki tersebut melompat maju. Sebagai ahli Kasta Perunggu Tingkat 8, kecepatan lompatan Atje Pesut sungguh di luar nalar. Hampir seketika itu juga ia menempuh jarak sekitar delapan langkah, hanya dalam satu kedipan mata. Baling-baling Dayung Penakluk Samudera tidak lagi berputar di pergelangan tangan, melainkan menari di jemari tangan kanan, berputar deras dan luwes. 

“Cresh” 

Baling-baling tajam, yang ukurannya sepanjang setengah lengan, menyanyat-nyayat gelembung yang melindungi perempuan tua itu. Atje Pesut memutar tubuhnya dan memainkan jemari. Baling-baling telah berpindah ke jemari lengan kiri. Sungguh gerakan yang gemulai sekaligus mematikan. 

Meski demikian, bagian gelembung yang tersayat terus-menerus memulihkan diri. Atje Pesut mengitar ke samping, lagi-lagi ia memindahkan baling-baling dari tangan yang satu ke tangan yang lain. Perlahan sayatan membuka celah yang semakin lama semakin melebar. Sedangkan, kecepatan pemulihan gelembung tak dapat mengikuti sayatan baling-baling Dayung Penakluk Samudera. 

Tetiba gelembung menggandakan diri. Satu lagi gelembung yang tercipta segera melesat ke arah Atje Pesut! Di saat yang sama, terlihat baling-baling di jemari Atje Pesut memanjang. Bukanlah bilah logam biru tua yang memanjang, karena warna tambahan bilah baling-baling berwarna biru muda. Sesungguhnya, unsur kesaktian air yang melekat pada Dayung Penakluk Samuderalah yang menambah panjang baling-baling!

Mungkin, keadaan inilah yang menjadi alasan mengapa formasi bertempur Lima Sekawan Penakluk Samudera ketika Atje Pesut memimpin, terkesan berpencar. Mereka menjaga jarak aman dari Atje Pesut yang di saat mengerahkan Dayung Penakluk Samudera, dapat mencederai lawan menggunakan baling-baling air. 

“Srash!” 

Baling-baling air yang berputar deras menyayat gelembung baru. Akan tetapi, seketika balon tersebut meletup, buih-buih biru kekuningan kecil-kecil segera meluap tak terbendung. Buih-buih itu menyebar perlahan dan tak berhenti-henti. Jika dibiarkan terlalu lama, mungkin buih-buih dapat menyelimuti seantero pulau!

“Mundur!” seru Nuku Tidore. 

“Jangan sampai terbungkus buih-buih itu!” sergah Keumala Hayath.

Ammandar Wewang memutar pinggang ke arah kanan. Lengan kirinya menyilang di depan dada. Entah sejak kapan, namun lengan kanannya yang berada di belakang tubuh… telah menggenggam erat Dayung Penakluk Samudera dalam bentuk dayung besar! 

“Hrargh!” 

Gelombang air bergemuruh bersamaan dengan tebasan dayung. Tidak hanya sampai di situ, remaja bertubuh gempal itu juga mengerahkan kesaktian unsur angin miliknya. Walhasil, sebuah badai angin laut seolah segera datang dan menyelimuti pulau kecil itu. Jangankan buih-buih yang tadinya hendak menyelimuti sekujur pulau, bahkan pepohonan dan semak belukar yang tumbuh di permukaan banyak yang tersapu. 

Meskipun demikian, gelembung yang melingkupi tubuh si perempuan tua seolah tak terpengaruh. Gelembung tersebut menempel erat di permukaan pulau. Raut wajah nenek-nenek itu pun tidak berubah. Ia hanya menatap kelima remaja yang mundur teratur. Sepertinya mereka hendak kembali ke atas perahu. 

Perlahan perempuan tua itu mengibaskan lengan sebelah kiri, yang terlihat seperti lengan kanan, karena telapak tangan di lengan kiri tersebut adalah telapak tangan kanan. Seketika itu juga gelembung demi gelembung muncul dari permukaan tanah. Jumlahnya mencapai belasan. Gelembung-gelembung tersebut sama seperti yang tadi dipecahkan Atje Pesut. Satu letusan gelembung saja sudah memuntahkan sekian banyak buih. Kini, dengan belasan gelembung yang mengemuka, bukan tak mungkin akan segera menyelimuti sekujur pulau!

Gelembung-gelembung tersebut terus membesar… Beberapa di antara gelembung telah mencapai ukuran maksimal. Satu persatu gelembung tersebut pecah dan memuntahkan buih-buih kental dan lengket!

“Cepat naik!” Seru Zilaz Parare. 

Zilaz Parare telah bersiaga di buritan perahu. Ia berdiri sambil menengadahkan kedua telapak tangan setinggi rusuk. Empat bola api bercahaya kuning keemasan mencuat dari kedua telapak tangannya. Bentuknya tak begitu besar, hanya seukuran batok kelapa. Hari yang sudah beranjak petang kembali mendapat pencahayaan yang terang-benderang. 

Lima Sekawan Penakluk Samudera yang lain melompat naik ke atas geladak perahu pinisi. Ammandar Wewang segera melompat ke sisi atas anjungan perahu. Bersaman dengan ledakan bola api Zilaz Parare, ia menghembuskan angin kencang dari mulutnya ke arah jalinan layar perahu. 

Kombinasi jurus Mutiara Api dan jurus Amuk Angin Bahorok inilah yang pernah membuat Bintang Tenggara terkesima, sekaligus mengantarkan ke Pulau Dewa. Saat itu, berkat akselerasi ledakan Zilaz Parare dan badai angin Ammandar Wewang, perahu Pinisi Penakluk Samudera melesat cepat. Akan tetapi, kini perahu ramping tersebut sama sekali tak bergerak. Terkunci di tempat! 

Atje Pesut yang berdiri di haluan perahu melongok ke sisi bawah. Jalinan buih telah menempel rapat di lambung perahu, kemudian perlahan merayap ke atas. Ia sudah mengalami langsung kemampuan buih-buih lengket tersebut dalam menjerat, sehingga tak terlalu heran.

Keumala Hayath yang telah bersiaga di dalam anjungan perahu, menghela napas panjang. Ia sudah memperkirakan bahwa kemungkinan besar hal ini akan terjadi. Meski demikian, ia tetap memegang kemudi. Yakin betul ia bahwa mereka akan dapat menggerakkan perahu pinisi yang ramping itu.

 “Trak!”

Nuku Tidore yang kini berada di geladak perahu terlihat sedang memegang tongkat di tangan kanan. Tongkat tersebut berdiri tegak dan terbuat dari logam berwarna biru tua, yang tingginya sebahu. Sungguh aneh bentuk Dayung Penakluk Samudera kali ini….

Bibir Nuku Tidore berkomat-kamit. Dari tongkat di tangan, tiba-tiba bayangan seekor elang melesat keluar dan membesar. Elang tersebut bukanlah elang sungguhan, melainkan elang ilusi yang sekujur tubuhnya berwarna biru tua. Walau, ukuran tubuhnya sedikit lebih ramping daripada Elang Laut Dada Merah, elang bayangan tersebut tetaplah sangat besar adanya. 

Satu elang bayangan… dua elang… tiga… tujuh… sepuluh… Elang-elang bayangan terus melesat keluar keluar dari tongkat di tangan. Tak kurang dari dua puluh jumlah mereka. 

Elang-elang bayangan yang beterbangan lalu mendarat dan mencengkeram erat sisi-sisi perahu Pinisi Penakluk Samudera. Ibarat menerima satu komando, mereka pun mengepakkan sayap. Angin deras menderu di saat perahu perlahan terangkat. 

 “Swush!” 

Perahu Pinisi Penakluk Samudera melepaskan diri dari cengkeraman buih-buih. Ia terbang tinggi mengudara, menjauh dari ikan pari raksasa yang berbentuk sebuah pulau. 

“Apakah benar nenek itu Raja Angkara Durkarsa?” gumam Keumala Hayath. 

“Tak diragukan lagi,” sahut Ammandar Wewang yang naik ke anjungan perahu bersama Nuku Tidore dan Zilaz Parare. 

Keumala Hayath menganggukkan kepala sambil menatap ke arah Atje Pesut yang senantiasa berdiri di haluan perahu. Gadis yang tak mengenakan alas kaki itu terlihat sedang khusyuk membaca arah angin. 

“Menyimak keterangan Atje…,” sambung Keumala Hayath. “Kurasa nenek itu memangsa mustika binatang siluman di lautan hanya untuk bertahan hidup. Sesuatu yang terjadi di saat Perang Jagat, membuat ia hanya bisa menjadi parasit terhadap makhluk lain….”


“Aku terlalu lemah…,” bisik perempuan tua renta itu kepada diri sendiri. Ia tak berdaya mencegah perahu yang kini terlihat terbang menjauh di udara.

“Hm…? Apakah gerangan ini…? Apakah hidungku pun sudah demikian renta…? Mungkinkah angin membawa aroma… asap kemenyan?”

Perempuan tua itu menatap jauh ke arah barat daya. Tak lama, senyum tipis tertangkap di sudut bibir keriput. 

“Hang Jebat!” ia berseru sambil menyibak senyum lebar. 

“Rupanya… sudah tiba waktu dimana aku harus mengembalikan kekuatan seperti sedia kala….” 



Catatan:

*) durkarsa/dur·kar·sa1 a bengis; ganas; 2 n kebengisan; keganasan; maksud jahat