Episode 20 - Kenaikan Tahap (1)


Jika seseorang menggunakan Ilmu Percepatan Diri, apa perbedaannya dalam berlari dan menghindar? Kata Guru, itu terdapat pada tolakan awal. Menghindar dengan Percepatan Diri akan menggenjot tenaga dalam pada satu tarikan nafas, lalu saat menolak seseorang akan terlihat berpindah sangat cepat. Sedangkan, jika berlari, genjotan tenaga dalam akan dibuat teratur agar tidak terkuras di awal, karena berlari membutuhkan gerak lanjutan yang terus menerus. Kesampingkan masalah itu, berita bagus saat ini adalah, aku sudah menguasai Ilmu Percepatan Diri. 

Tentu saja, latihan belum selesai, selanjutnya adalah mempelajari Teknik Langkah Khusus, Tumpuan Langkah Naga. Pada dasarnya, Tumpuan Langkah Naga hanyalah versi lebih cepat dan lebih kuat dari Ilmu Percepatan Diri. Ini berlaku hampir pada seluruh teknik langkah lain. Namun, menurut Guru, dibanding teknik langkah lain, Tumpuan Langkah Naga mengedepankan stamina. Jika ada adu lari mengelilingi benua, maka Tumpuan Langkah Naga akan menjadi juara. Bukan karena paling cepat, tetapi karena lebih tahan lama. Prinsipnya adalah, meminimalkan pembuangan tenaga dalam, untuk memaksimalkan ketahanan. Kendati demikian, masalah kecepatan, Tumpuan Langkah Naga (kata Guru) mampu bersaing dengan teknik langkah lainnya.

Guru juga mengajariku sedikit hal tentang meridian di kaki. Katanya, di kaki ada beberapa meridian yang biasa dialiri chi untuk menerapkan teknik langkah. Namun, dari ‘beberapa’ itu, tak semuanya akan berguna seratus persen. Karena, ada sebagian yang hanya menyumbang kurang dari tiga puluh persen tenaga dalam, sebelum sisanya dikembalikan meuju Dan Tian. Ini merupakan pemborosan. Kenapa? Karena, dari sisa tujuh puluh persen yang kembali, akan terbuang sebagian kecilnya sebagai energi bebas untuk transportasi chi. Mungkin yang akan kembali ke Dan Tian sekitar 65% hingga 68%. Alhasil, 2%-5% energi akan terbuang sia-sia.

Solusi untuk mengatasi ini adalah, membuat meridian yang hanya bisa menyumbang 30% itu, bertambah kuat hingga bisa menyumbang 60% atau bahkan sampai 100% tenaga dalam yang dialirkan. Nah, inilah kesempatan yang kutunggu-tunggu, meditasi. Yap, aku sangat suka ini, hanya duduk, mengatur penapasan, menyerap chi, dan tahu-tahu, bertambah kuat. Hahahah. 

“Bodoh! Apanya yang hanya duduk dan tahu-tahu bertambah kuat?” Guru menegurku. Ini semua karena aku menyepelekan meditasi.

“Tapi, bukankah begitu? Buktinya, Paman Key cepat kuat.”

“Bodoh!” Guru marah lagi, “dengar, meditasi itu bukan hanya tentang mengatur nafas. Juga, bukan hanya tentang menyerap chi. Tapi, meditasi berguna untuk memperoleh pemahaman akan suatu hal. Dan dalam kasus ini, kau harus memperoleh pemahaman tentang cara memperkuat meridian di kakimu!”

“Tapi, Paman Key?” Aku masih berusaha membenarkan perkataanku.

“Bodoh! Kau pikir Penjahat Key tidak melakukan pemahaman apapun? Dia punya cara sendiri dalam memahami ilmu yang dipelajarinya. Dengar, bayangkan dirimu adalah sebuah cangkir kecil. Lalu, setiap detik cangkir tersebut akan terisi air setetes demi setetes. Suatu saat, tetesan air sudah menjadi genangan air di dalam cangkir dan akan tumpah. Di sini, apa yang akan dilakukan si cangkir agar bisa menampung air lebih banyak?”

“Menumpahkan air di dalamnya?” jawabku ragu.

“Bodoh! Kalau begitu prosesnya akan kembali dari awal.”

“Lalu, bagaimana, Guru?”

“Jawabannya adalah, si cangkir kecil harus berubah menjadi sebuah gelas,” terang Guru.

“Cangkir berubah menjadi gelas? Bagaimana itu mungkin terjadi?”

“Tentu saja karena cangkir adalah benda mati, maka tidak mungkin baginya berubah sendiri. Namun, dirimu adalah manusia, makhluk hidup. Jadi, kau bisa berubah sendiri. Pertanyaannya, bagaimana caramu berubah?” Guru kembali bertanya.

“Dengan pemahaman?”

“Tepat! Pemahaman bisa berasal dari luar, dan dari dalam. Pemahaman dari luar berarti kau mengamati suatu hal, lalu mengenalinya sebagai suatu informasi. Sedangkan, pemahaman dari dalam, berarti kau harus mengerti diri sendiri, apa kekurangan dan kelebihan dirimu. Dan dalam hal ini, kau harus mengatasi kekurangan meridian di kaki. Mengerti?”

Jadi begitu, kenapa aku telat mengetahuinya? Bahkan saat melakukan Pernapasan Yin-Yang, aku berpikir keras dan mencoba berbagai cara. Dan aku melakukan itu karena aku paham tentang konsep yin yang. Dari situlah aku memperoleh pemahaman tentang Pernapasan Yin-Yang.

“Mengerti, Guru!” balasku mantap.

 

***


Aku sudah mengonsumsi Anggur Jiwa, lalu bermeditasi hampir seminggu. Selama waktu ini, aku berpikir, bukan, memahami, bukan juga, bereksperimen. Ah, yang jelas aku berusaha menguatkan daerah meridian kaki. Layaknya melatih otot, aku berusaha memfokuskan aliran chi ke jaringan meridian yang lemah saja. Semakin sering kualiri, aku merasa daerah itu semakin kuat. Namun, hal sulitnya adalah mengatur kuantitas tenaga dalam yang berjalan. Jika tak mengaturnya, bisa saja lonjakan chi pada titik tertentu justru akan merusak. Hasilnya, kemungkinan aku bisa lumpuh.

Kurang lebih, aku sudah bisa mengalirkan chi 60% ke meridian tersebut. Namun, itu tidak cukup. Sebelum seratus persen, maka Tumpuan Langkah Naga tak akan menampakkan sisi pembedanya dari teknik langkah lain, yaitu daya tahan. Semakin banyak aliran energi yang bisa kuatur, semakin cepat juga diriku nanti.

Namun, lupakan sejenak apa yang kupaparkan. Sekarang, entah kenapa aku merasa aneh. Tubuhku, semakin lama memanas. Lalu, selang berapa saat mendingin. Awalnya, kupikir itu adalah tahapan latihan Tumpuan Langkah Naga. Namun, entah sejak kapan, rasa panas dan dingin itu kian menjadi-jadi. Satu jam berselang, rasa panas seperti saat menyentuh Kolam Pemurnian Naga. Satu jam lagi, rasa dingin seperti berada di puncak pegunungan. Dua jam berselang, rasa panas berubah selayaknya api kecil. Rasa dingin seperti saat menyentuh salju. Empat jam berselang, aku sudah tidak tahan, panas ini tak normal lagi, tubuhku seperti dibakar. Sedangkan untuk rasa dingin, tubuhku seperti dibekukan dalam danau es.

“Guru,...!” Posisi meditasiku hancur. Aku berguling ke sana ke mari. “Tolong, Guru!”

“Kresna, kau kenapa?” Ternyata, bukan Guru yang menyahut dahulu, tetapi Paman Key.

“Paman, tubuhku seperti dibakar dan dibekukan secara bersamaan!” jelasku setengah teriak.

“Tuan Naga, dia kenapa?”

“Hmmm...” Guru hanya bergumam.

“Guru, tolong!” Aku berteriak.

“Tenang, Kresna. Itu tandanya kau akan naik ke tahap Perak,” tandasnya.

“Guru, tapi ini sakit sekali!”

“Jangan manja! Coba atur Pernapasan Yin-Yang sebaik mungkin!” bentak Guru.

“Guru, tolong, aku tidak kuat!” Aku memelas.

“Tuan Naga, kenapa hanya akan naik tahap, tapi dia tersiksa seperti ini?” Paman Key meminta kejelasan.

“Penjahat Key, kau pikir teknik yang kuajarkan tidak berisiko? Semakin kuat tekniknya, semakin berbahaya dalam mempelajarinya.”

“Tapi, Tuan Naga, tidakkah Anda bisa melakukan sesuatu?”

“Tentu saja. Tapi, itu tak akan menjadi pelajaran berharga baginya.”

Di tengah argumen mereka, aku masih menggeliat kesakitan. Sudah kucoba atur pernapasan, tapi yang terjadi adalah rasa panas dan dingin semakin hebat. Jika kutarik nafas, bara api seolah ditanam dalam paruku. Jika kuhembuskan nafas, ribuan jarum es seolah menusuk-nusuk tiada henti.

“Guru, tolong, aku tidak mau mati!” pintaku.

“Kresna, bukannya aku sudah bilang, ‘selama aku ada di sampingmu, kematian adalah mustahil!’” balas Guru. “Jangan manja! Cobalah untuk terus mengatur Pernapasan Yin-Yang!”

Percuma! Sepertinya Guru benar-benar berpikir aku bisa mengatasi masalah ini sendiri. Padahal, dalam hatiku, itu justru yang mustahil. Sumpah, aku belum pernah tersiksa sampai seperti ini. Dalam hidupku, mungkin kecelakaan paling parah yang kualami adalah saat dikejar kelompok Paman Key. Namun, itu masih sepuluh kali lebih baik dari pada siksaan sekarang. Bagaimana bisa untuk bernapas saja, diriku seperti berada di tepi jurang neraka api dan es. 

Dalam keputusasaan ini, tiba-tiba Paman Key datang menolongku. “Kresna, coba kau ambil posisi bersila!” Wajahnya terlihat was-was.

“Paman...” suaraku lemah, mataku berair. Jika aku menangis kencang, kemungkinan besar rasa panas dingin semakin parah. Maka dari itu kutahan tangisan sebaik mungkin.

Aku pun melakukan saran Paman Key. Sudah tak ada waktu untuk berpikir. Yang kuinginkan adalah terbebas dari siksaan secepat mungkin. 

“Penjahat Key, mau apa kau?” 

“Tuan Naga, entah Anda mau membunuhku atau menyiksaku, yang jelas aku tak bisa membiarkan saudara sumpahku tersiksa seperti ini,” tegas Paman.

Setelah berkata cukup lancang pada Guru, Paman Key segera mengalirkan energi ke tangannya sendiri. Lalu, dengan menepuk punggungku, energi itu di salurkan ke dalam tubuh.

“Ahh...!” Aku berteriak. Bisa kurasakan lonjakan tenaga dalam dari belakang. Lalu tubuhku menyerap energi itu dan dialirkan lewat meridian. Namun...

“PAMAN, HENTIKAN! SAKIT!” teriakku lantang.

Paman Key terkejut dan segera menutup aliran energi tersebut. “Kresna, apa tambah sakit?”

“Iya...”

“Tuan Naga, kenapa bisa begini?” tanyanya.

“Penjahat Key, kau selalu bertindak tanpa pikir panjang, ya?” Guru berkomentar.

“Tuan Naga, apa saya melakukan kesalahan?”

“Tentu saja! Dalam tubuh anak ini, ada dua aliran energi berbeda sifat yang saling mengamuk dan ingin mendominasi satu sama lain. Lalu, tiba-tiba energi asing dari luar masuk. Kau pikir apa yang akan terjadi, hah? Kekacauan aliran energi.”

“Tuan Naga, saya mohon selamatkan Kresna. Saya tidak tahu kelakuan saya malah akan memperparah situsi. Jika Anda ingin nyawa saya, maka ambillah, tapi selamatkan dia!” Paman Key bersujud dan mengemis.

Walau aku tersiksa, tapi masih bisa kutangkap apa yang terjadi di sini. Aku tak menyangka Paman Key sudah menganggapku seberharga itu sampai ia berani menukar nyawanya dengan kesembuhanku. Kalau begini, setidaknya hatiku cukup lega untuk mengetahui Paman Key adalah orang yang setia dan kompeten.

“Hah? Apa boleh buat.” Guru melunak. Ia tampak cukup luluh dengan ketulusan Paman Key.

Kali ini, giliran jari besar Guru yang menyentuhku. Tidak seperti Paman Key yang cukup lama mengatur energi terlebih dahulu, Guru dengan satu sentuhan saja bisa membuat tubuhku membaik, atau lebih tepatnya kembali pada keadaan sebelum disentuh Paman Key.

“Kresna, apa kau baik-baik saja?” selidik Paman.

“Masih panas dan dingin,” ujarku cepat.

“Yang aku lakukan hanya mengeluarkan energi asing dari tubuhmu, Kresna. Masalah menstabilkannya, lakukan sendiri. Setidaknya, bantuanku hanya itu.” Guru berucap tegas.

“Terimakasih, Tuan Naga!” Paman Key kembali bersujud.

“Beritahu aku kalau kau sudah selesai mengatur aliran energi dalam tubuhmu.” Itu adalah kalimat terakhir Guru sebelum dirinya masuk ke dalam lubang dan mungkin akan tidur.


Kolom penulis:

Kalau pas hari rilis gak tengah malam, berarti saya agak telat kirim naskah. Tapi Insya Allah bakal konsisten kok nulisnya. Amin! :3