Episode 24 - Mencari Cara Baru



Jam setengah delapan pagi.

Erina dan Bagas telah bersiap untuk pergi, tetapi ada satu masalah yang harus mereka hadapi lebih dulu sebelum bersiap untuk keluar rumah.

“Pergilah duluan, dan kalau ada yang bertanya padamu tentang apa yang kau lakukan, katakan saja ‘sehabis jalan pagi’. Jangan berlama-lama jika ingin berkomunikasi dengan orang-orang, hal itu nantinya malah akan membawamu pada pertanyaan ‘di mana kau tinggal sekarang?’”

Erina mendapat perintah seperti itu sebelum pergi ke luar. Di saat Bagas masih berada di dalam, dia sudah berada di luar rumah. Mengingat-ingat tentang perkataan Bagas sebelumnya.

Dia memakai sendal kali ini, bukan sepatu yang dia pakai sewaktu pertama kali datang. Sendal itu adalah sendal yang terbuat dari papan. Cukup tebal dan berat, Erina sedikit tak terbiasa saat memakai sendal seperti itu. Tetapi orang-orang di desa mengatakan kalau sendal seperti itu akan menjagamu dari tetap sehat dan terhindar dari penyakit.

Erina tak mengetahui bagian mana yang bisa membuatnya tetap sehat dan terhindar dari penyakit. Namun, karena orang-orang di desa masih menganut kepercayaan orang dulu—masa-masa penjajahan—dia memakainya hanya dengan alasan untuk menghormati apa yang orang-orang desa katakan.

Dia telah berada di jalan desa. Tak jarang juga dia bertemu dengan penduduk yang ingin bekerja atau sekedar berjalan-jalan seperti yang dilakukan dua orang lansia.

“Pagi, neng gelis.”

“Selamat pagi, kakek dan nenek. Sedang jalan pagi ya?”

“Ya, begitulah. Eneng sendiri?”

“Aku juga sedang jalan pagi. Oh iya, bagaimana dengan keadaan kakek?”

Seorang suami-istri yang telah lanjut usia. Di saat pria tua yang berada di kursi roda tengah mengalami penyakit lumpuh, istrinya mendorongnya di belakang. Membawanya jalan-jalan ke sekeliling desa.

Melihat hal itu, membuat Erina menjadi terharu. Mengetahui betapa besar cinta seorang istri kepada suaminya, meskipun mereka tak lagi seharmonis sewaktu mereka berdua masih sama-sama sehat.

“Kakek baik-baik aja kok. Ini juga kakek yang minta.”

Erina sedikit bingung dengan perkataan nenek itu. Mengatakan kalau ‘ini juga kakek yang minta’ membuatnya tak mengerti apa yang sedang nenek itu katakan. Namun, setelah mencerna perkataan itu lebih lanjut, Erina mengerti kalau apa yang sedang mereka lakukan sekarang adalah keinginan dari si kakek.

“Begitu ya, baguslah. Oh iya, apa nenek perlu bantuan untuk mendorong kursi roda kakek?”

Erina menawarkan bantuan kepada si nenek. Namun, saat nenek akan menjawab tawaran Erina, seseorang datang menyela pembicaraan mereka.

“Apa yang kau lakukan?!”

Itu adalah Bagas yang datang dengan pakaian sekolahnya.

“Bagas!”

“Walah, Kang Bagas, ada apa kok buru-buru begitu?”

Erina terkejut dengan kedatangan Bagas yang tiba-tiba, dan si nenek menanyakan tentang alasan Bagas yang terlihat sedang terburu-buru mengejar sesuatu.

“Maaf, Nek Rohaya. Tapi aku harus membawanya pergi secepatnya.”

“Oh, gitu ya, ya sudah gak apa-apa.”

“E-eh, Bagas tunggu!”

Bagas menarik Erina setelah mendapatkan persetujuan dari si nenek. Karena suatu alasan, dia menarik tangan Erina saat dia kembali berjalan. Membuat Erina sedikit terkejut karena perilakunya.

“Ya ampun, dasar anak-anak muda jaman sekarang. Terburu-buru sekali dalam menjalani hubungan. Gak seperti kita dulu yang mau pacaran aja susah, ya kan Kek.”


Bagas terus menarik tangan Erina, meskipun dia tak bermaksud menyeret Erina sewaktu berjalan, tetapi tetap saja hal itu menyusahkan Erina dalam berjalan. Karena perbedaan tinggi badan mereka membuat langkah kaki yang kecil dan juga besar membuat salah satunya kesusahan.

Setelah berjalan cukup jauh, Bagas akhirnya berhenti. Berbalik dan menghadap Erina. Dia memperlihatkan wajah ‘dengarkan aku baik-baik’ sebelum bicara pada Erina.

“Jangan ke sekolah. Tetaplah bersama kak Ani. Aku akan menjemputmu.”

Tiga kalimat singkat yang sangat jelas maksudnya.

Setelah mengatakan tiga kalimat itu, Bagas beranjak pergi meninggalkan Erina. Di sisi lain, perasaan Erina seperti dicampur aduk setelah kejadian barusan. Berpikir apakah Bagas marah karena dia melanggar perkataanya, atau dia hanya tak peduli dan ingin Erina untuk benar-benar menuruti perkataannya kali ini?

Dia menjadi bingung dengan dua kemungkinan itu. 

Namun, saat dia mencoba untuk berpikir kembali tentang kemungkinannya, kompleks kontrakan sudah ada di depannya. Mengetahui kalau sebelumnya, saat dia dibawa—diseret Bagas, sebenarnya dia langsung menarik Erina untuk pergi ke tujuannya.

Bagas sepertinya juga tak ingin untuk Erina membuang-buang waktu dengan hal-hal lain yang sebenarnya tak perlu dia lakukan. Karena itu dia membawa langsung Erina ke tempat tujuannya.

Memikirkan hal itu, perasaan Erina sedikit lega karena sebenarnya Bagas tak terlalu marah dan dia hanya ingin Erina untuk langsung menyelesaikan apa yang menjadi tujuannya.

Erina masuk ke komplek rumah kontrakan, menuju ke sebuah pasang rumah yang menjadi milik rumah keluarga yang menjadi tempat tinggal sebelumnya.

Dia telah sampai di depan rumah Ani, tetapi pintu depan tertutup. Jadi dia pergi ke teras samping rumah. Pintu itu terbuka, dan di depan pintu menunggu seorang bayi yang berada di kereta dorong. 

Bayi tampan itu tergirang saat mengetahui kalau Erina datang berkunjung. 

“Selamat pagi, Adi kecil.”

Erina masuk ke rumah dan menghampiri si bayi tampan. Teras samping rumah terhubung dengan dapur dan kamar mandi, dan di kamar mandi terdapat suara percikan air yang pasti seseorang sedang mencuci pakaian.

Tetapi saat mengetahui kalau rumahnya kedatangan tamu, suara percikan air terhenti dan pemilik rumah menghampiri tamu yang berkunjung ke rumahnya.

“Erina!”

“Pagi, Ani. Sepertinya kamu sedang sibuk sekarang, ya?”

“Ya, begitulah. Apa kamu datang berkunjung untuk menunggu Bagas pulang.”

“Emm, soalnya dia melarangku untuk mengikutinya ke sekolah.”

Erina sekarang tengah berada di hadapan si bayi tampan yang masih sangat senang dengan kunjungannya ke rumah. Saat mengatakan kalau dia dilarang untuk mengikuti Bagas sampai ke sekolah, membuat perasaannya sedikit pupus karena dia tak dapat untuk bersama dengannya.

Melihat hal itu, Ani selaku adik ipar sekaligus kakak dari perbedaan umur menjadi simpatik. Karena dia juga mengetahui alasan Erina begitu bersikeras untuk terus bersama Bagas.

“Yah, mau bagaimana lagi. Lagipula hari ini juga hari pertama sekolah. Dia pasti punya kesibukan sendiri untuk dilakukan.”

“Iya juga ya, jadi, kamu selesaikan saja dulu pekerjaanmu. Aku akan di sini menjaga Adi di saat ibunya menjaga anak-anak di sekolah.”

“Baiklah, jangan sungkan untuk menggunakan apapun yang ada di dapur. Asalkan kamu gak mengacaukannya sih.”

“M-maaf.”

Teringat kembali saat Erina mencoba untuk melakukan sesuatu dengan peralatan dapur, tetapi karena kekikukannya dalam melakukan pekerjaan rumah, membuatnya mendapat pekerjaan lain yang harus dibereskan daripada membereskan satu masalah tanpa masalah lain.


Di saat Erina menjaga, sekaligus bermain dengan si bayi tampan, Ani kembali melakukan pekerjaan rumah. Mencuci pakaian. Menyapu dan mengepel lantai. 

Dan saat pekerjaan rumah selesai dibereskan, Ani datang pada Erina dengan membawa beberapa toples kue dan secangkir minuman untuk masing-masing dari mereka.

“Apa sudah selesai?”

“Ya, dan sekarang adalah waktunya untuk bersantai sejenak.”

“Sejenak?”

“Ya, itu karena setelah ini aku harus ke rumah ibu.”

“Datang ke pabrik batik ya.”

“Um, kamu juga harus ikut.”

“E-eh, tapi kenapa?”

“Memangnya kamu punya tempat kunjungan lain selain ke tempatku. Atau kamu akan pergi ke sekolah untuk menemui Bagas?”

Erina menjadi sedikit kikuk saat Ani menanyakan tentang alasan kenapa Erina menanyakan kenapa saat dia mengajaknya pergi ke suatu tempat. Dan saat Ani menyinggung tentang keberadaan seseorang yang sangat ia untuk bersamanya sekarang, seseorang yang ditanyai pun memerlihatkan wajah menolak namun dia sangat ingin melakukannya.

“Sebelumnya kamu pasti sudah mendapatkan peringatan darinya bukan.”

“P-peringatan? Peringatan tentang apa ya?”

Erina menjadi lebih gugup daripada sebelumnya. Membuatnya sangat bisa diketahui kalau dia sangat ingin pergi menemui Bagas sekarang.

“Huhh, lebih baik kamu tak melakukannya tahu. Meskipun ini baru sebentar, tapi setelah melihat seluruh sikapnya itu, bukannya kamu sudah mengetahui kalau dia sangat tidak menyukai ketidakpatuhan.”

Erina menjadi tersentak karena pernyataan yang dikatakan Ani adalah benar. Bahwa Bagas sangat tidak menyukai kalau dia tak mematuhi apa yang dia katakan.

Misalnya saja kejadian yang baru saja terjadi. Saat Erina tak mematuhi perkataan Bagas untuk langsung pergi ke rumah Ani tanpa melakukan basa-basi dengan penduduk desa. Mengingat hal itu saja membuatnya kembali merasakan takut karena kebimbangan untuk memikirkan apakah Bagas marah atau tidak peduli dengan perilakunya.

“Benarkan?”

Erina hanya menganggukkan kepala kepada pertanyaan Ani.

“Kalau begitu lebih baik kamu mematuhinya. Karena berurusan dengan seseorang seperti itu, hal yang harus perlu kamu ketahui adalah tentang bagaimana kesabaranmu menghadapi sikapnya. Tak hanya itu, tapi keberanian juga harus kamu perlihatkan karena seseorang seperti Bagas sangat membenci basa-basi saat berurusan dengan sesuatu. Dia ingin kalau permasalahan yang dia hadapi itu lancar sampai akhir atau berhenti sebelum memulai.”

Saat itu Erina seperti mendapat sebuah petunjuk yang akan menuntunnya kepada keberhasilan. Meskipun dia juga sudah mengetahui maksud yang dikatakan Ani sebelum dia memberitahukannya, hal yang Erina masih belum miliki sekarang adalah keberanian.

Keberanian untuk mengatakan secara langsung apa yang menjadi alasannya untuk mencintai Bagas selama 10 tahun ini.

“Tapi, apa dia akan menerimanya, kalau aku mengatakannya secara langsung?”

“Entahlah, itu juga tergantung tentang alasanmu untuk terus bersamanya. Misalnya saja, ibu serigala akan mengorbankan nyawanya untuk mendapatkan makanan demi anak-anaknya. Tetapi saat nyawanya benar-benar menjadi korban saat dia telah mendapatkan makanan, anak-anaknya takkan memakan apa yang telah dia dapat dan lebih memilih untuk bersama mayat ibunya.” 

Saat si bayi tampan berada dipangkuannya, Erina menunjukkan ekspresi meratap yang membuat bayi itu tak ingin kalau dia menunjukkan wajah seperti itu di depannya.

“Tapi, aku pikir jika kamu tak mengecewakannya, dia juga takkan mengecewakanmu seperti perjuangan si ibu serigala.”

Erina menunjukkan ekspresi tegar saat mengetahui kalau apa yang dia tunjukkan di depan seorang bayi yang mengkhawatirkannya adalah tindakan bodoh dari seorang yang hanya bisa berharap tanpa melakukan apa yang harus dia lakukan.

“Terima kasih, karenamu aku menjadi lebih baik dalam menghadapi perasaan ini.”

“Lakukanlah karena kamu ingin melakukannya. Kami akan selalu berada di belakangmu untuk menopang keberhasilanmu.”