Episode 23 - Pendapat Baru


Kelas X TKJ tahun pertama.

Seseorang sedang memasuki ruangan yang seketika terasa hening.

Memancarkan aura menyeramkan yang belum apa-apa telah membuat seisi kelas menjadi sedikit ketakutan.

“Loh, pak Elang?”

“Yo!”

Di depan ujung bagian kiri kelas, membelakangi jendela yang terbuka, seorang professor muda sedang duduk di situ. Rian maju sampai ke depan kelas, menghadap ke arah Elang.

“Apa yang bapak lakukan di sini?”

“Yah, hanya menemui calon-calon jenius penerus aja. Tidak apa, jangan hiraukan aku. Lakukan saja apa yang akan kau lakukan.”

Rian mengerti kalau Elang sedang mengawasinya dalam memberikan materi pada adik-adik kelasnya, meskipun begitu, dia tak yakin apakah proses pengajaran yang dia berikan akan terlihat baik di mata Elang.

“Baiklah teman-teman, mari kita lanjutkan materi yang belum selesai sebelumnya!”

Dia bergantian menghadap ke belakang kelas. Mata seluruh penghuni kelas tertuju tepat ke arahnya. Hal itu memang terlihat bagus, tetapi tetap saja, di mata mereka Rian adalah sosok yang tak boleh dihiraukan hanya karena urusan kecil.

Karena itu, mereka bahkan tak jarang berkedip saat melihat Rian berada di depan mereka.

“Baiklah, kalau begitu...”

“Maaf, tapi bisakah minta waktumu sebentar, Rian.”

“Hm..”

Rian datang ke Elang setelah menaruh barang bawaannya ke atas meja.

“Hei, apa yang sebenarnya terjadi di sini?”

Elang mengatakan itu setelah menarik Rian ke dalam dekapan satu tangannya. Mereka berbicara seperti ada yang harus dirahasiakan. Sontak, hal itu membuat terkejut seisi kelas, kalau dua orang itu bisa sangat akrab seperti yang mereka lihat.

“Apa kita harus berbicara seperti ini?”

“Sudahlah, jawab saja pertanyaanku. Kenapa suasananya menjadi sesuram ini?”

“Aku juga tidak tahu...”

Saat itu Rian mencoba melepaskan dekapan Elang padanya. Elang melepaskan dan mereka berbicara dengan Elang yang duduk di kursi, sedangkan Rian berdiri menghadap padanya.

“Apa maksudmu tidak tahu? Kau yang bertanggung jawab dengan hal ini bukan.”

“Ya, memang sih. Tapi entah kenapa, setiap anak kelas satu yang baru mengenal atau melihatku, merasa kalau aku akan menerkam mereka.”

“Hmm, memang sih. Tapi aku juga begitu saat pertama kali bertemu denganmu. Wajah menyeramkan yang mengintimidasi siapapun yang berada di dalam pandanganmu.”

“-Woi.”

“Dan juga, pergerakanmu yang tak terbaca itu membuat orang lain yang baru pertama kali melihatmu menjadi siaga di tempat.”

“-Ha?!”

“Pernah pula aku memintamu untuk melakukan sesuatu, dan kau malah seperti akan membentakku karena telah membuatmu melakukan sesuatu yang merepotkan.”

“-Benarkah?”

“Tapi setelah mengenalmu cukup lama, aku berpikir kau tak seseram itu. Itu hanya karena kesan pertama dan aku belum mengenalmu lebih dalam.”

“Kalau gitu jangan disimpan juga dong perasaan yang gak mengenakkan itu.”

“Haha, tidak apa-apa juga bukan. Lagipula itu seperti baru pertama kalinya aku melihat seorang gorilla yang bersahabat.”

“-Apa yang kau katakan?”

“Tapi tetap saja, kau tak bisa membiarkan hal itu terus berlanjut seperti sebelum-sebelumnya.”

“Jadi apa yang seharusnya aku lakukan, aku sama sekali tak mengerti dan tak bisa mengetahui apa yang kurang dari diriku.”

“Kalau begitu, untuk pertama, mendekatlah sedikit.”

“Untuk apa?”

“Sudahlah, mendekat saja.”

“-Ah!!”

Rian mendekat, namun dengan seketika, Elang menyentil dahi dan membuatnya sedikit terpental. Sontak hal itu membuat terkejut Rian, tak hanya Rian saja, tetapi seisi kelas juga terkejut dengan perlakuan Elang terhadap seseorang yang menyeramkan seperti Rian.

“Apa yang kau lakukan!?”

Rian membentak Elang karena perlakuan yang dia berikan barusan tentu mengejutkan dan membuatnya sakit di dahi.

“Nah, untuk pertama. Jangan terlalu membuat rapat kedua alismu. Itu adalah kebiasaan terbesar yang harus kau hilangkan pertama kali.”

Elang bermaksud untuk menghilangkan kebiasaan lama Rian yang membuatnya menjadi sosok yang ditakuti hanya dengan sekali pandang.

“Benarkan, teman-teman?! Apa yang membuat senior kalian ini menyeramkan adalah alisnya?!”

Elang bertanya pada seluruh isi kelas.

Seluruh penghuni kelas menjadi bingung—menoleh ke sana-ke mari—berharap ada seseorang yang berani menjawab pertanyaan Elang.

“I-itu...”

Seseorang menjawab pertanyaan Elang.

Seorang murid laki-laki yang juga berkaca-mata seperti Rian. Hanya saja, perawakan dari anak itu terlihat lebih bersahabat dari seniornya.

Sontak, hal itu mengejutkan seisi kelas dan membuatnya menjadi pusat perhatian. Sejenak, dia menghentikan ucapannya karena hal itu.

“Tidak apa-apa, lanjutkan saja. Tidak akan ada yang memakanmu hanya karena menjawab sebuah pertanyaan.”

“Baik. A-anu pak, saya pikir bukan hanya alis bang Rian saja yang membuatnya menyeramkan.”

“-Tuh, lihatkan.”

Elang dengan cepat merespon jawaban si anak murid laki-laki berkacamata. Lalu dia berniat untuk membuat murid laki-laki yang sedikit ketakutan saat menjawab itu mengungkapkan lebih banyak pendapatnya tentang Rian.

“Jadi, apa lagi menurutmu yang membuatnya menjadi sosok yang menyeramkan.”

“Saya rasa, hal lain yang membuat bang Rian menjadi seram adalah, cara memandangnya dengan orang lain.”

“Benar juga tuh. Dilihat dari mana pun, caranya melihat orang lain seperti melihat seorang musuh yang berniat untuk mengambil pisangnya.”

Elang lagi-lagi mecoba menyamakan kedudukan Rian dengan suatu sosok binatang yang memiliki tubuh yang besar, beserta dengan matanya yang mengintimidasi siapapun yang ada di pandangannya.

“-Apa maksudmu aku adalah gorila?”

Meskipun dia tak mengkhawatirkan pendapat seseorang yang telah disinggung, tetap saja membuatnya bertanya-tanya apakah hal itu benar. Kalau di mata gurunya ini dia adalah sosok yang dapat disamakan dengan gorila.

“Jadi, apa ada pendapat lain tentang kakak kelas kalian yang satu ini?!”

Elang bertanya lagi kepada penghuni kelas, mengenai pendapat mereka tentang Rian.

Satu orang menunjuk tangan. Seorang murid perempuan.

“Silahkan.”

Elang memersilahkan murid perempuan cantik itu, yang tentu saja dengan perasaan takutnya untuk berbicara.

“Cara bicara kak Rian juga, seperti.. nganu.”

“Nganu, hmm, maksudmu seperti ‘jangan coba-coba ambil pisangku-“

“-Woi!”

“Begitu?”

Murid perempuan itu seperti tak tahu bagaimana harus mengatakan apa yang ingin dia katakan, dan di situ Elang mencoba untuk membantunya. Lagi-lagi Elang menyamakan Rian dengan sosok hewan yang cukup buas.

“Permisi~!”

“...silahkan!”

Seseorang memanggil dari luar. Elang memersilahkan seseorang yang berniat masuk ke kelas itu.

Pintu terbuka. Memerlihatkan seorang guru lelaki, seumuran seperti Dion, hanya saja, perawakan guru itu sedikit lebih luwes, yang membuatnya terlihat seseorang yang bisa bersantai di mana saja. 

“Pak Rudi!”

Rian menyebut nama dari guru yang masuk.

“Halo semua!”

Guru lelaki itu—Rudi menyapa penghuni kelas yang memfokuskan pandangan mereka padanya.

Dia berjalan menuju Rian dan Elang.

“Ada apa, Bang?”

“Tidak ada, hanya ingin melihat calon-calon genius tkj aja.”

Elang menanyakan alasan Rudi masuk ke kelas. Dan alasan yang dia sebutkan, hampir sama dengan alasan yang dikatakan Elang.

“Gak mungkin, pasti bapak bakal buat ulah lagi kan?”

Rian dengan sekejap mengetahui maksud dari kedatangan Rudi, Rudi yang menjadi pokok pembicaraan pun memasukkan perkataan yang cukup jahat dari Rian.

“Eehh, jangan jahat gitu dong, Ian. Lagipula yang akan mengajar mereka nantinya kan bapak, jadi bapak pengen lihat kemampuan mereka sebelum mulai mengajarkan pelajaran neraka versi bapak.”

Itu adalah sebuah ancaman tidak langsung yang baru saja dideklarasikan. Sontak membuat penghuni kelas berpikir apa maksud dari perkataan Rudi.

“Tuh kan, baru aja masuk beberapa menit, udah buat ulah aja. Mendingan bapak keliling-keliling gak jelas daripada gangguin.”

“Ihh, kamu ini, jahat banget sih. Aku terluka tahu karena perkataan jahatmu itu.”

Rudi melakukan perilaku yang berlebihan untuk membalas perkataan Rian yang dikatakan dengan nada yang cukup kejam.

“Sudah-sudah, bang Rudi, lebih baik mojok aja di sini, dan biarkan calon presiden kita mengajarkan materi pada anak-anak.”

“-Calon presiden?!”

“Wah, ide bagus tuh. Oh iya, aku juga pengen lihat Rian yang memiliki alis yang rapat, mata setajam gorila, dan gaya bicara yang seperti ‘jangan coba-coba untuk mengambil bagianku’”

“-Woi, ngajak berantem ya?”

“Jadi, begitulah, dua guru jurusan kalian sudah ada di sini untuk mengawasi, jadi jangan terlalu takut dengannya!”

Elang mengajak Rudi untuk berada di dalam kelas saat Rian mengajarkan materi pada adik-adik kelasnya. Namun, di dalam kalimat yang diucapkan Rudi seperti ada kata-kata yang telah disinggung sebelumnya.

Meskipun hal itu hanya disetujui oleh satu belah pihak, Elang meminta Rian beserta adik-adik kelasnya meneruskan apa yang belum sempat mereka lakukan sebelumnya.

Rudi bersama Elang di sisi bagian kiri depan kelas, Rian maju ke depan. Menghadap ke arah adik-adik kelasnya yang kelihatan sudah tak terlalu tegang.

“Maaf karena ada sedikit gangguan tadi.”

Rian berkata seperti itu sambil menyindir ke arah dua guru yang berada di sisi kanannya.

Adik-adik kelasnya tak lagi kelihatan takut dengannya, karena guru yang akan membimbing mereka nantinya kelihatan sangat akrab, dan bahkan mereka telah membuktikan tanpa langsung kalau Rian tak seseram dan tak semenakutkan yang mereka kira.

“Kalau begitu, kita lanjutkan tentang sistem penjadwalan roster versi terbaru yang telah memiliki perangkat lunak sendiri. Seperti yang kalian dengar sebelumnya, perangkat lunak ini diciptakan oleh proffesor muda yang tak perlu ditanyakan lagi keusilannya.”

“-Apa aku seusil itu?”

“Untuk penjelasannya...”

Rian menghidupkan sebuah alat penampil gambar—proyektor—yang telah tersambung ke gawai yang dia pegang lewat jaringan nirkabel.

Di depan papan tulis hitam, terlihat penampakan dari layar gawai yang dipegang Rian.

Di dalamnya berisi tabel dan baris yang menjadikan sebuah daftar. Daftar itu adalah jadwal piket yang akan diadakan minggu depan. Di dalam daftar itu terlihat jam pelajaran, mata pelajaran, teori pelajaran, hari, beserta tempat dan guru yang mengajar.


“Di dalam satu hari, terdapat lima mata pelajaran yang akan diadakan dan itu dibagi menjadi lima waktu yang mana setiap pelajaran diberikan waktu satu jam pengajaran. Setiap jam pelajaran berakhir, takkan ada yang namanya jam istirahat.”

Mendengar hal itu, sontak membuat penghuni kelas menjadi terkejut.

“Yang ada hanyalah 10 menit interval waktu untuk memersiapkan jam pelajaran selanjutnya. Tapi di sini, kalian bebas memilih apakah kalian akan mengikuti pelajaran atau tidak. Kalian jangan khawatir akan terkena hukuman atau tidak, karena itu adalah salah satu keistimewaan dari sekolah ini.”

“Bang, bang?!”

Sebuah suara datang dari sisi sebelah kanan, Rian melihatnya dengan wajah meremehkan, namun dia tetap meladeni apa keinginan gurunya itu.

“Ada apa, Pak Rudi?”

“Saya mau bertanya, apakah murid di sana boleh bertanya?”

Rian melihat ke arah yang ditunjuk Rudi. Itu adalah seorang murid perempuan yang kelihatan resah di tempat duduknya.

“Ada apa, jangan sungkan kalau mau bertanya sesuatu?”

“Itu kak, anu, bagaimana dengan jam pelajaran untuk anak kelas satu, dua dan tiga. Apa tak dibedakan?”

“Hmm, aku baru saja ingin memberitahu tentang yang satu itu, tapi baguslah kalau kamu bertanya lebih dahulu.Tentang yang satu itu, tentu saja telah dibedakan, tapi di pelajaran umum, seluruh murid akan dipersatukan dan belajar bersama-sama di aula utama setiap bangunan.”

Rian menjelaskan apa yang menjadi pertanyaan adik kelasnya. Namun, sepertinya pertanyaan datang lagi di saat seorang murid laki-laki memberanikan diri untuk mengangkat tangan.

“Apa kamu juga punya pertanyaan?”

“Ya, itu, apa aula yang dimaksudkan itu, aula yang berada di sisi depan bangunan ini, yang seperti ruang kelas kuliah itu, Kak?”

“Ya, benar. Itu adalah ruangan yang dijadikan tempat belajar bagi setiap angkatan.”

Rian menjawab setiap pertanyaan. Tetapi setiap kali dia menjelaskan, adik-adik kelasnya seperti mendapat sedikit ketidakjelasan yang mereka tidak mengerti. Meskipun pertanyaan datang satu demi satu, Rian terlihat sama sekali tidak kesulitan dalam menjawab. Malahan, dia seperti menikmati saat adik-adiknya mulai terbiasa berkomunikasi langsung dengannya.

“Tapi, gedung di sekolah hanya ada tiga. Apa aula di gedung tiga juga digunakan?”

“Tentu saja, selain tempat itu dijadikan aula utama, itu juga digunakan bagi anak-anak kelas tiga yang proses belajarnya telah berada pada tingkat yang berbeda.”

“Mengajar hampir seluruh murid satu angkatan, apa tidak memberati para guru?!”

“Kurasa tidak, buktinya dua guru kita di sini kelihatan sehat dan menikmati pekerjaan mereka. Meskipun tubuh mereka tidak terlihat seperti menikmati pekerjaan mereka sih?”

“-Apa dia mengejek kita kurus?”

“-Sepertinya begitu, Bang.”

Rian terus menjawab pertanyaan adik-adiknya satu persatu. Dan saat itu pula, suasana ceria mulai terlihat saat dua pihak—pengajar dan yang diajar—terus berkomunikasi tanpa memiliki kecanggungan atau kegugupan sedikitpun.

“Kalau soal itu, sistem pengajaran telah terbaharui berkat seorang proffesor muda usil yang ada di depan kalian.”

“-Lagi!?”

“Dia telah mengembangkan sistem proyektor yang bisa mencakup seluruh aula. Perekam vidio diletakkan di depan guru yang mengajar, lalu vidio itu diteruskan ke proyektor dan membuatnya menjadi mudah bagi anak-anak murid untuk melihat guru yang sedang mengajar meski jarak mereka sedikit jauh. Untuk lebih jelasnya, kalian akan mengetahuinya setelah berada di semester genap tahun depan, atau kalian bisa langsung bertanya kepada penciptanya.”

Saat seorang adik kelas bertanya padanya tentang tidak sulitkah melihat guru yang sedang mengajar dari jarak yang sedikit jauh, dia menjelaskan tentang sistem yang telah diperbaharui dengan kedatangan Elang ke sekolah.

“Sepertinya sudah tidak ada masalah lagi di sini?”

“Benar, mereka sudah mulai terbiasa dengan perawakan Rian yang terlihat seram di luar.”

“Haha, kupikir dia tak terlalu terlihat seseram itu. Hanya saja, kemiripannya dengan salah satu hewan terbuas abad ini yang membuatnya terlihat menyeramkan.”

“-Aku mendengar kalian!.”

Elang menyadari kalau suasananya telah lebih baik dari sebelumnya. Rudi juga setuju dengan hal itu, dan saat Elang membicarakan tentang penyebab dari ‘kenapa Rian bisa terlihat seram?’, Rian mendengarkan dan dia menyela saat dia masih menjelaskan sesuatu pada adik-adiknya.

“Kalau begitu, aku permisi dulu. Ada hal yang harus kulakukan lagi soalnya?”

“Persoalan ini dan itu?”

“Ya, ini dan itu.”

Elang bangkit dari kursinya, berniat untuk meninggalkan kelas yang telah membaik suasananya.

“Apa bapak mau pergi?”

“Ya, begitulah. Soalnya banyak pekerjaan yang kutinggalkan demi kelas ini.”

“Katakan saja kalau kau kabur dari tanggung jawabmu.”

Elang berjalan menuju ke depan kelas, memberikan alasan yang membuat Rian mengetahui motif dari kedatangannya ke kelas.

“Jadi, begitulah anak-anak! Maaf tidak bisa menjaga kalian sedikit lebih lama lagi!”

“-Menjaga?”

“Kalau ada banyak hal yang kalian ingin tanyakan, jangan sungkan untuk mengatakannya! Lagipula senior kalian hanya seram di luarnya saja.”

Elang menepuk bahu kiri Rian—saat dia berada di sisi kanan—dan membuat mereka terlihat akrab. Namun, Rian sepertinya tak menyukai cara Elang menjadi akrab dengannya, membuatnya menepis tangan Elang dan sedikit bergeser.

“Kalau begitu pergilah dan terima kasih atas bantuannya.”

“Kau jahat sekali, adik ipar dari kakak ipar, tapi ya sudahlah. Baik-baiklah anak-anak.”

Rian mencoba mengusir Elang, dan saat itu juga Elang berusaha menjadi akrab dengan caranya.

Saat dia telah berada di depan pintu dan akan keluar kelas, seluruh anak-anak murid kelas X hampir serentak mengucapkan terima kasih padanya.

Membalas itu, Elang melambaikan tangan tanpa berbalik.

“Dasar, sok keren. Pak Rudi, bapak masih di sini ternyata...?”

“Ckckck, sepertinya keberadaanku di sini mengganggu ya.”

“Ya, begitulah. Jadi bapak silahkan pergi karena bapak pasti juga punya banyak pekerjaan yang harus dilakukan bukan?”

Rian berniat untuk mengusir gurunya dengan cara yang halus. Namun, gurunya membuat sebuah akting yang tak dapat dibilang bagus atau keren yang hanya ingin dia lakukan.

Mendekat ke Rian, menepuk bahunya dan menyibakkan rambut yang sebenarnya terbilang cepak.

“Kalau begitu, bapak pergi bertugas lebih dulu. Lakukan yang terbaik untuk adik-adikmu, Rian.”

Benar-benar akting yang buruk, tetapi jika dilihat dari sisi pandang lain, perilaku dari salah satu guru yang mengajar pelajaran jurusan itu cukup lucu untuk dilihat.

“Pak Rudi, orangnya cukup lucu ya kak.”

Seperti seorang murid laki-laki kelas X yang menganggap kalau gurunya itu berperilaku yang bisa membuat orang lain tertawa karenanya.

“Ya, begitulah mereka, tapi terkadang aku tak bisa menebak, apakah mereka sedang bercanda atau serius di saat-saat tertentu.”



Catatan kaki:

Silakan bila ingin mampir ke page Heterochrome sebagaimana disebutkan pada episode lalu https://www.facebook.com/authorkoplak/