Episode 22 - Murid-murid Baru


Seorang murid perempuan memasuki pokok pembahasan dengan sangat tiba-tiba. Euis sudah memersiapkan jawaban terhadap respon murid-murid yang sama—sangat penasaran terhadap alasan Euis.

“Apa ya, kira-kira..?”

Euis lagi-lagi melakukan sikap menggoda, namun kali ini tak ditujukan terhadap seorang saja. Tetapi juga ditujukan kepada seluruh penghuni kelas.

Di saat murid yang menjadi pokok pembicaraan menjadi senang sekaligus tegang, murid-murid lainnya menduga-duga terhadap alasan apa Euis bisa mengetahui nama teman sekelas mereka yang bahkan belum pernah berkelan dengannya.

“Apa kakak nge-stalk Bobi?!”

Seorang murid perempuan lain mengemukakan pendapatnya. Maksud dari murid perempuan itu adalah, Euis mencari tahu terlebih dahulu tentang Bobi, bahkan ketika mereka belum pernah sama sekali berkenalan sekalipun.

Namun, Euis sedikit tidak mengerti tentang maksud dari adik kelasnya itu, tetapi ketika dia telah mencari tahu tentang arti dari “stalk” dan menggabungkan dengan ekspresi menduga para adik kelasnya, akhirnya dia mengetahui maksud dari perkataan murid perempuan tersebut.

“Mm, iya, begitulah.”

Jawaban yang diduga-duga pun membuat suasana kelas menjadi sedikit ricuh, sedangkan seorang murid yang menjadi pokok pembicaraan menjadi lebih tegang daripada sebelumnya. 

Murid-murid lain pun mulai memberikan selamat kepada Bobi.

Namun, tidak pada murid laki-laki yang melakukan pengakuan kepada Euis. Dia mengangkat tangannya untuk meminta perhatian kepada Euis, dengan maksud untuk bertanya kepadanya.

“Ya, ada apa, Tito?”

Euis bertanya sekaligus memanggil murid laki-laki itu dengan namanya—kali ini.

Murid-murid lainnya menjadi terdiam, dan fokus mereka menjadi beralih dari Bobi kepada Tito.

“Untuk apa kakak mencari tahu tentang data diri kami?”

“Ya, tentu saja aku melakukannya untuk mengenali kalian.”

Pernyataan itu membuat suasana menjadi hening seketika.

“Maksudnya apa, Kak?”

Seorang murid perempuan yang lainnya bertanya dengan muka penuh perasaan penasaran.

“Mm, sepertinya ada sedikit kesalahpahaman di sini.”

Euis lagi-lagi mulai menggoda adik-adik kelasnya.

“Sebelum bertemu dengan kalian, aku bermaksud untuk mengenali kalian lebih dahulu lewat data diri yang disediakan oleh sekolah. Aku melakukannya agar di waktu seperti ini, aku tak kesusahan dalam berkomunikasi dengan kalian. Karena saat ini adalah masa orientasi, meskipun seharusnya berkenalan dilakukan di waktu ini, tapi, yah anggap saja aku dan kalian sudah saling mengenal satu sama lain. Atau kita lakukan saja sesi perkenalan sebelum masuk ke pokok pembahasan selanjutnya.”

Penghuni kelas menjadi bingung akibat perilaku Euis yang sangat tiba-tiba tersebut. Namun, ada seseorang yang berusaha untuk mengembalikan suasananya.

“Boleh mengungkapkan pendapat, Kak?”

“Silahkan, Bobi.”

“Saat ini kami memang sudah dikenal oleh kakak, dan tentunya kami sudah mengenal siapa kakak sebenarnya. Tapi, aku, atau mungkin kami semua masih belum mengenal satu sama lain, jadi boleh sesi perkenalannya dilakukan sebelum pokok pembahasan selanjutnya dilakukan.”

Euis membuat senyum menduga terhadap respon Bobi terhadap perilakunya yang hampir tak bisa terbaca itu.

“Baiklah, seperti yang dikatakan oleh Bobi, kita lakukan saja sesi perkenalannya. Tapi sebelum itu, sesi perkenalannya dilakukan di kursi masing-masing atau kita undang saja yang ingin mengenalkan dirinya ke depan kelas?”

“Lebih baik maju ke depan saja, karena akan susah untuk melihat seluruh kelas dari sudut pandang di kursi masing-masing!”

“Terima kasih, Rinka. Kalau begitu, dimulai dari Bobi lalu ke Loli, ya.”

Seorang murid perempuan dengan respon cepat menjawab dan mengemukakan pendapatnya. Euis menyetujui hal itu dan memanggil murid dari sisi depan bagian kiri lalu menyambung ke sisi sebelahnya.

Murid-murid yang maju memerkenalkan diri dengan menyebutkan nama, tanggal lahir, dan tak jarang juga ada yang mengatakan tentang alasan, zodiak, ataupun sesuatu hal yang dianggapnya menarik untuk diberitahu kepada teman-teman sekelas.

Dan ketika murid ke-34 telah maju ke depan, hitungan jumlah siswa kelas X Akuntansi telah habis. Meskipun, jumlah laki-laki di kelas lebih sedikit daripada perempuannya, Euis merasa itu sudah cukup bagus untuk angkatan tahun ini.

“Terima kasih atas perkenalan dirinya, Riko. Baiklah, karena kita semua telah memerkenalkan diri masing-masing, pastinya kalian sudah mengenali teman-teman sekelas kalian bukan. Yah, meskipun masih ada beberapa yang belum benar-benar mengenali temannya, tapi jangan khawatir, kalian memiliki waktu 3 atau 4 tahun untuk mengenal dengan baik. Jadi, mari kita lanjutkan tentang materi yang akan kakak beritahukan kepada kalian tentang suatu sistem yang diterapkan oleh sekolah.”

Saat Euis ingin melanjutkan, dia lebih dahulu membuka sebuah tas yang di dalamnya terdapat sebuah gawai yang ukurannya cukup besar. Dia menghidupkan gawai itu dan membuka suatu aplikasi yang menjadi materi pembelajaran kali itu.

“Ini adalah Sistem Penjadwalan Roster yang terbaru. Jika kalian dulunya pernah mendengar tentang sistem penjadwalan roster yang menggunakan kertas untuk diterapkan, tapi untuk tahun ini telah berbeda.”

Dia membuka suatu aplikasi yang ada di dalam gawai. Menggunakannya seolah itu adalah bagian dari tubuhnya.

“Baiklah, sebelumnya, apa kalian sudah mengetahui tentang sistem penjadwalan roster yang ada di sekolah?!”

Euis bertanya kepada seluruh kelas, jawaban yang diberikan ada yang mengerti, ada yang kurang, dan ada pula yang sama sekali tak mengerti dari maksud sistem penjadwalan roster yang diterapkan oleh sekolah.

“Oke, karena sepertinya satu buah kertas saja takkan membuat kalian mengerti, di sini kakak akan menjelaskan kembali sistem penjadwalan roster yang diterapkan oleh sekolah.”

Euis menaruh gawai di atas meja dan berjalan ke depan papan tulis. Dia lalu mengambil spidol dan menuliskan beberapa mata pelajaran.

“Sistem pelajaran yang ada di sekolah dibagi menjadi dua, yaitu pelajaran umum dan jurusan.”

Dia mengambil satu buah rol sepanjang satu meter dan mulai menjelaskan sambil sesekali memeragakan apa yang dia jelaskan di papan tulis.

“Dua pelajaran itu memiliki jamnya masing-masing. Namun, roster tak dibuat sekali dalam satu semester atau satu tahun seperti yang kalian ketahui ada di SMP atau SMA pada umumnya. Dengan kata lain, jadwal roster pelajaran bisa saja berubah-ubah seiring berjalannya waktu, bisa saja sekali dalam seminggu, atau sekali dalam sebulan. Dan hal itu diberitahukan lewat selebaran kertas yang akan dibagikan ke masing-masing ruangan atau dipajang di Majalah Dinding. 

Karena kalian mengetahui kalau, SMK Bidang Karya Bersahadjah, atau disingkat SMK BIAR SAH ini tak menggunakan kurikulum yang telah disediakan oleh pemerintah. Karena itu, kepala sekolah berusaha semaksimal mungkin untuk menerapkan kurikulum yang dikembangkan sendiri oleh yayasan yang akan membuat anak-anak menjadi nyaman untuk belajar di sekolah.”

Saat Euis masih akan melanjutkan, seorang anak murid perempuan mengangkat tangan, bermaksud ingin bertanya.

“Ada apa, Yuli?”

“Anu kak, sekolah kan menerapkan kurikulum yang dibuat sendiri, apa itu gak masalah sama pemerintah? Walaupun kurikulum yang diterapkan di sekolah memang ampuh untuk menciptakan murid pintar, tapi kan ijazah masih tetap pemerintah yang mencetak?”

“Mm, kalau masalah itu sih kakak juga tak terlalu mengerti. Tapi biarkan kakak bercerita sedikit tentang cerita sewaktu kakak dan kakek.. maksudnya kepala sekolah bercerita tentang pengalamannya bekerja di kepemerintahan pendidikan, dan pengalamannya sewaktu akan menjadi kepala sekolah...”

Saat itu, entah bagaimana caranya, visualisasi tentang cerita dari masa lalu kepala sekolah tergambarkan saat Euis bercerita.

Di suatu hari, saat kepala sekolah muda masih bekerja di lembaga pendidikan. Kurikulum terbaru telah tercipta dan akan diterapkan kepada seluruh sekolah di Indonesia.

Namun, terdapat suatu lubang alur yang ada di proposal yang diterima kepada semua anggota. Di situ, kepala sekolah muda mengemukakan pendapatnya kepada seorang sahabat. 

Dia mengatakan kalau kurikulum seperti itu akan sedikit memiliki permasalahan dalam sistem pengajarannya. Akan tetapi, pendapat si kepala sekolah muda tak digubris dan malah dijadikan bahan pembicaraan sekaligus tertawaan kecil saat dia mengatakannya pada orang-orang di lembaga pendidikan.

Hal itu malah membuat kepala sekolah muda kesal dan membuat dia berhenti bekerja di lembaga pendidikan. Kembali ke kampung halaman, dan dari situ dia mulai melakukan riset tentang apa yang telah terjadi pada kurikulum baru yang telah diterapkan saat itu.

Sewaktu dia melihat lubang alur yang dia perkirakan telah mendapat perannya, dia pun tergerak untuk melawan kemajuan tersebut dengan pemikirannya sendiri.

“Lalu dia berusaha sangat keras, bahkan sampai dia memiliki cucu pun, dia masih berusaha untuk melawan kemajuan mundur yang telah terjadi di sistem pembelajaran negara ini. Tentu saja dia takkan berhasil tanpa bantuan sahabatnya yang merupakan pemilik dari yayasan.”

Sangat singkat dan jelas.

Para murid ada yang tersentuh, ada pula yang bertekad untuk benar-benar berusaha keras untuk membalas jasa kepala sekolah.

“Yah, meskipun dia tak mengatakan padaku bagaimana caranya sekolah bisa menghasilkan ijazah sah, tapi para angkatan yang telah tamat juga sangat diharapkan untuk bekerja di perusahaan yang telah bekerja sama dengan sekolah. Karena itu, aku harap kalian berusaha keras untuk membalas jasa kepala sekolah yang juga telah membangun sekolah terbaik ini.”

Ada beberapa yang meneteskan air mata terharu, ada pula yang merasa kalau dirinya telah ada di jalan yang benar karena telah masuk ke sekolah yang diidam-idamkan setiap anak di wilayah tempat tinggal mereka.


Waktu istirahat.

Di dalam ruangan khusus para pangeran dan putri, yang hanya diisi oleh beberapa orang saja, Rian menghampiri Euis yang telah kembali..

“Bagaimana, kelas tahun ini?”

“Mereka semua anak baik kok.”

“Tidak, maksudku, ituloh, apa ada anak laki-laki yang berani masuk ke jurusan yang penuh dengan pelajaran mematikan itu?”

“Yang benar adalah “penuh dengan pelajaran matematika”, kalian ini, kenapa sih menganggap matematika itu sebagai musuh. Padahal tanpa angka, dunia ini takkan ada artinya tahu.”

“Kalau begitu katakan hal itu pada manusia purba yang bisa hidup tanpa angka di zaman dulu. Enggak, yang penting lagi, apa saja yang kau sampaikan pada mereka?”

“Mm, aku datang dan berkenalan dengan mereka, terus, menceritakan tentang perjalanan hidup kakek hingga bisa mendapat pencapaiannya sekarang. Dan setelah ini, aku akan melanjutkan materi yang tak sempat kujelaskan pada mereka.”

“Enak ya, kau cantik, manis, dan kepribadian maskulin itu membuatmu banyak disukai oleh para murid dan tak terkecuali laki-laki maupun perempuan.”

“Eh, memangnya ada apa denganmu, apa murid tahun ini juga menganggapmu sebagai pribadi yang galak.”

“Ya, begitulah, saat aku memanggil nama mereka satu-satu, entah kenapa mereka pasti akan melakukan suatu reaksi aneh.”

“Haha, tentu saja, karena dilihat dari mana pun kamu memang pribadi yang galak.”

“Apa yang kau katakan, aku bukannya galak. Hanya saja perawakan batak memang seperti ini tahu, terutama Hasibuan yang terkesan tegas kepada diri mereka sendiri.”

“Justru itulah “kepribadian galak” yang dimaksud, Rian.”

“Benarkah, tapi bang Dion tak seperti itu. Aku merasa kalau dia adalah pribadi yang akan berteman dengan siapapun, bahkan orang utan sekalipun.”

“Ehehe, ya ampun, tentu saja. Karena bang Dion memiliki kepribadian yang expert, kalau kamu, kamu lebih terkesan bisa menyindir orang lain hanya dengan melihat mereka saja.”

“Eh, beneran!?”

“Tentu saja, tidakkah kamu pernah bercermin dan memandang matamu sendiri?”

“Hmm, sudahlah. Yang lebih penting lagi, apa kau sudah menjelaskan tentang sistem penjadwalan yang baru kepada mereka, eh tunggu, kau bilang kau belum sempat menjelaskannya ya?”

“Ya, begitulah. Karena mereka kelihatan lebih tertarik dengan aku yang sedang bercerita, jadinya aku tunda lebih dahulu.”

“Tapi, bagaimana kalau mereka memintamu bercerita daripada menjelaskan?”

“Memangnya bercerita dengan menjelaskan tidak bisa dilakukan secara bersamaan?”

“Eh...?”

“Ya ampun, itulah kenapa kamu disebut-sebut sebagai manusia terprogram. Kamu terlalu terpaku dengan sistem yang telah disediakan.”

“...”

“Dengarkan, kalau kamu terlalu membuat tegang suasananya, mereka yang mendengarkan penjelasanmu akan sulit mengerti. Atau malah mereka mengerti, tapi sulit bagi mereka untuk menerima suasananya. Karena itu, berusahalah untuk membuat suasananya menjadi sedikit tenang saat kau berkomunikasi dengan mereka.”

Saat itu, Euis menekan kedua pipi Rian dan membuatnya memanyunkan mulut.


Jam istirahat telah berakhir dengan bel yang berbunyi di seluruh sekitaran sekolah.

“Apa kau perlu bantuan?”

“Tidak, aku sudah cukup siap untuk menghadapi mereka, berkatmu tentunya.”

“Benarkah? Kalau begitu cobalah berterima kasih padaku.”

“Oke, makasih.”

“Nah, nah, kalau begitu kamu belum siap namanya.”

“Memangnya apa yang salah.”

“Suasana yang kamu ciptakan sewaktu berkomunikasi kepada orang lain. Dan yang kamu lakukan sekarang, itu lebih terkesan kalau kamu tak berterima kasih sedikitpun.”

“Beneran? Oke, kuulangi lagi, makas--“

“Hop, cukup, kalau kamu paksakan, bukan ucapan terima kasih namanya.”

“Terus, aku harus bagaimana?”

“Cukup rasakan saja alurnya. Maka kamu pasti akan mendapatkan suasana baik yang kamu inginkan. Oke, kita pisah di sini.”

“Ya, terima kasih atas saranmu.”

“Nah, itu kau bisa melakukannya!”

“...okelah, aku akan mencoba untuk sedikit santai kali ini, sampai ketemu nanti.”

“Ya, dan juga, cobalah untuk tak terlalu merapatkan kedua alismu!”

“Ya!”

“Dasar, dia itu, selalu saja bisa diandalkan.”