Episode 21 - Semester Baru



Hari pertama sekolah.

Hari di mana seluruh warga sekolah berkumpul di aula utama yang terletak di gedung ke tiga untuk melakukan upacara pembukaan. 

Ruangan besar yang dapat menampung 2500 orang. Kursi berjumlah hampir 1200 dijejerkan di tengah ruangan, jejeran itu adalah kursi bagi para murid. Duduk menyamping diagonal di ujung depan—sebelah panggung, berjejer kursi para guru dan jajaran staff. 

Di atas panggung, terdapat satu podium yang digunakan untuk berpidato. 

Dan yang berada di atas podium itu sekarang adalah kepala sekolah. Berdiri untuk memberikan kata sambutan bagi murid-murid baru yang tempat duduknya dikhususkan berada di tengah jajaran kursi para murid.

Di belakang podium, terdapat tiga buah kursi yang dikhususkan untuk kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan seorang profesor muda yang diaku-akui mirip seperti sosok vampir. Duduk seorang wanita muda yang usianya tak jauh dari Elang di sisi kanan kursi kepala sekolah.

Lalu, di sebelas sisi ketiga kursi tersebut, dijejerkan lima kursi yang diisi oleh 4 orang siswa. Satu buah kursi kosong yang tak diisi disebabkan oleh seorang yang memiliki hak istimewa untuk duduk di kursi tersebut tak datang.

Pidato kepala sekolah saat itu telah mencapai puncaknya, yang mana pidatonya terfokus kepada keamanan dan juga ketenangan murid dalam menuntut ilmu.

Kepala sekolah telah selesai berpidato dan kembali duduk di kursinya. 

Suasana saat itu benar-benar tak bisa dikatakan tertib. Hanya saja ada suatu hal lain yang membuat pandangan para murid tak terlepas dari sosok kepala sekolah. 

Selanjutnya, seorang moderator yang duduk di kursi pojok panggung berdiri di tempat dan menyebutkan satu buah adegan yang akan mencapai akhir acara. Itu adalah kata sambutan bagi seorang kakak kelas untuk adik mereka yang baru saja bergabung tahun ini.

Perwakilan diwakili oleh salah satu yang duduk di lima kursi istimewa. Tanpa ada yang memerintah atau meminta, salah satu dari mereka berdiri dan berjalan ke depan podium. 

“Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua.”

Para murid baru yang mungkin saja tak tahan karena terkejut akibat suasana yang diciptakan kepala sekolah menjadi lebih tenang karena seseorang yang berdiri di podium tersebut dapat menenangkan hati mereka.

Pidato yang akan diucapkan tersebut ditujukan untuk para anak baru.

“Perkenalkan, nama saya adalah Euis Nur Hasanah. Saya adalah salah satu dari 5 murid yang mendapati gelar Para Pangeran dan Putri di sekolah. Di sini saya akan memberikan pidato, nasihat, dan amanat terkhususnya bagi adik-adik yang baru saja masuk ke Sekolah Menengah Kejuruan Bidang Karya Bersahadja.”

===

“Ada apa, Maya?”

Di dalam ruangan yang dikhususkan untuk Para Pangeran dan Putri.

Di salah satu meja kerja yang diisi oleh tiga orang gadis. Terdapat Euis yang sedang bekerja, mengisi banyak dokumen yang dibantu oleh dua orang ajudan yang telah ia pilih. 

Saat sedang bekerja, Euis telah beberapa kali dilirik oleh adik kelas yang telah resmi bekerja sebagai kaki tangannya. Adik kelas yang baru saja mendengar pidato yang telah dia bawakan pagi itu.

“Maaf, saya hanya masih merasa kagum setelah mendengar pidato Putri Euis tadi.”

“Tentu saja. Memangnya kau pikir kenapa kita bisa duduk di sini, sementara di barisan lain hanya diisi oleh para makhluk menjijikkan.”

Seorang yang menjawab pertanyaan adik kelas itu adalah, siswi kelas dua yang satu jurusan dengan Euis. Memakai kacamata dan memiliki ciri khas, yaitu ekspresi menantang siapapun yang mengajak dan diajaknya bicara.

“Sudah-sudah, jangan terlalu berlebihan seperti itu, Tri. Maya, terima kasih atas sanjungannya. Memang, kalau dibandingkan dengan yang lain, aku ini sedikit berbeda. Yah, walaupun hanya dalam sekali pandang, kamu bisa menemukan perbedaan yang sangat mencolok dariku dengan yang lainnya sih.”

Euis menyinggung tentang sesuatu hal, yang menyangkut tentang kedudukannya sebagai seorang putri. Di mana gelar itu sangat sulit didapatkan, di saat para murid laki-laki lebih mendominasi kedudukan tersebut. 

Hal itu dapat juga ditandai dengan meja kerja lain di ruangan itu, yang berjumlah lima yang mana posisi tempat duduk yang sedang diduduki oleh Euis sekarang, lebih—seluruhnya diduduki oleh para murid laki-laki.

“Dan juga, Maya, kamu adalah rekan kerjaku sekarang. Jadi jangan sungkan untuk memanggilku kakak atau apapun asalkan panggilan itu bukan panggilan formal seperti sebelumnya.”

“T-tapi...”

“Itu benar, putri, putri adalah putri yang berbeda daripada putri yang lainnya!”

Gadis berkacamata dalam kelompok—Tri—segera menyambung perkataan si adik kelas—Maya—karena dia juga merasa ada yang salah terhadap sikap Euis dalam menyikapi hal yang bersangkutan dengan penyebutan gelarnya.

“Kamu berlebihan, Tri. Aku adalah aku, putri hanyalah gelar yang diberikan karena prestasiku selama ini. Lagipula, pengorbanan yang kulakukan tak sebegitu besarnya, sampai-sampai aku harus dipanggil dengan panggilan Putri Euis atau Putri Gelis.”

“Tapi, tolong mengertilah, putri. Putri itu bagaikan bunga mawar di balik duri-duri yang menyebalkan. Lagipula...”

“Baiklah, saya mengerti.”

Maya kelihatan telah mengerti tentang apa yang dimaksudkan, di saat Tri terus mencoba meyakinkan, betapa berharganya penyebutan nama yang ada pada Euis. 

“Apa yang telah kau mengerti?!”

Tri tampak membuat wajah penasaran sekaligus mengancam secara tidak langsung saat dia berbalik dari Euis ke Maya.

“Kalau begitu, bolehkah saya memanggil Putri dengan sebutan Eneng atau Neng Euis mulai dari sekarang.”

“-Jangan hiraukan aku, woi!”

“Boleh, silahkan saja.”

Maya terus berbicara saat Tri terus menyiramkan aura mengancam padanya. Euis juga tampaknya tak terlalu ingin memermasalahkan tentang penyebutan namanya.

“Putri!!”

“Baiklah kalau begitu, neng Euis.”

Tri tampak memberontak, di sisi lain Maya kelihatan bahagia dengan didapatkannya penyebutan yang bersahabat dengan Euis.

“Baiklah, pekerjaan kita sudah selesai. Sekarang adalah saatnya aku untuk pergi ke kelas satu. Maya, apa kamu tidak mau ikut?”

“Tidak, lagipula masih banyak hal yang perlu kupelajari untuk bisa menggantikan eneng tahun depan.”

“Kamu kelihatan sangat optimis dengan hal itu ya, baiklah, akurlah dengan Tri, ya.”

Euis pergi meninggalkan dua orang yang kelihatan tidak akur dan sama sekali tidak cocok untuk duduk bekerja di satu meja.

Hal itu dapat diketahui secara langsung saat salah satunya menatap dengan mengatakan “aku akan membunuhmu” dan salah satunya lagi membalas dengan “aku akan membunuhmu duluan”. 

Tak hanya itu saja, mereka kelihatan mengeluarkan aura yang sangat menyeramkan saat salah satunya dengan terang-terangan memandangi dengan ekspresi menantang. Sedangkan satunya lagi, kelihatan lebih santai, namun di balik senyumannya yang manis, terdapat suatu hal tersembunyi yang sama sekali tak bagus untuk dikatakan.

Perilaku mereka berdua benar-benar membuat orang-orang di dalam ruangan terganggu. Bahkan untuk salah satu meja yang dipimpin oleh satu-satunya laki-laki berkacamata bermuka seram.

“Bagaimana kau bisa memilih saat mengetahui sifat satu sama lain dari mereka itu sangat tidak cocok untuk dipersatukan, Euis.”

---

Gedung kedua lantai pertama.

Di dalam lorong terdapat murid-murid anak kelas satu yang masih ada di luar untuk melakukan sesuatu dengan ruang kelas mereka. 

Ketika sosok yang cantik jelita, serta kepribadian yang terlihat maskulin melewati mereka, fokus terhadap pekerjaan yang dilakukan sedikit terganggu. Dan tergantikan saat sosok itu lewat.

Memakai pakaian yang dikhususkan kepadanya yang berbeda dengan murid perempuan biasanya. Hampir seperti blazer, namun pakaian itu di rancang sendiri oleh si pemakai. Sehingga benar-benar kelihatan seperti pakaian sekolah murid laki-laki. 

Sosok itu berhenti di sebuah kelas yang memiliki papan nama ‘Kelas X Akuntansi’. 


Sesaat sewaktu sosok itu melewati kelas, lewat jendela tembus pandang para anak murid di dalam mulai meributkan siapa yang datang tersebut.


Pintu kelas terbuka. 

Para siswa di dalam merasa telah kedatangan seorang bidadari karena auranya yang begitu kuat saat memasuki ruangan. Membuat mereka terpaku pada sosok yang muncul di depan mereka.

“Selamat pagi adik-adik.”

Sosok itu menyapa. 

Respon yang diberikan agak sedikit terlambat dari yang diperkirakan.

“Apa kalian masih belum terbiasa dengan suasana sekolah?”

Penghuni kelas yang masih terpana akan kecantikan sosok yang ada di depan mereka mulai merespon dengan sedikit gugup.

Namun, ada satu siswa yang mengejutkan semuanya akibat perilakunya yang tiba-tiba menggeser kursinya sewaktu berdiri. Seorang murid laki-laki. Menatap kuat kearah Euis.

“Ada apa?”

“I-itu, anu, kak, I love you!!”

Murid laki-laki itu membuat gebrakan perasaan di saat hari pertamanya sekolah.

Hal itu spontan membuat suasana kelas menjadi ricuh.

Namun, respon dari seseorang yang baru saja mendapat pengakuan tak terganggu sama sekali, dia malah memberikan senyuman serta permintaan maaf yang menenangkan.

“Maaf, tapi kita masih dalam proses pembelajaran sekarang.”

Murid laki-laki itu mendapat penolakan yang halus, tetapi dia seperti tak ingin menyerah terhadap perasaannya.

“T-tapi, apa aku bisa mengulanginya lagi nanti?!!”

“Sehabis ini aku akan melakukan beberapa pekerjaan. Dan juga, aku belum ingin memikirkan tentang untuk memiliki suatu hubungan istimewa dengan seseorang.”

Lagi-lagi murid itu mendapat penolakan yang halus.

Kejadian itu sontak membuat teman-teman sekelasnya ribut tentang untuk membuatnya berhenti melakukan pengakuan kepada seseorang seperti Euis. 

“Jadi, bisakah kita mulai materi pagi ini?”

Setelah murid laki-laki tadi sedikit lebih tenang, Euis memulai kembali tujuannya datang ke kelas itu.

“Kak?”

“Ya, ada apa?”

“Bukannya kakak juga seorang siswa di sini, kenapa kakak yang akan mengajar kami?”

Euis mendapat sebuah pertanyaan yang memang patut ditanyakan kepada sikapnya saat itu.

Dia memberikan senyum tulus, karena telah berani menebak sekaligus bertanya langsung tentang tujuan Euis.

Murid laki-laki yang bertanya itupun secara tidak sadar mengeluarkan sontakan akibat diberikan sebuah hadiah tidak langsung.

“Pertanyaan yang bagus, Bobi. Pertama-tama, izinkan aku untuk memerkenalkan diri sekali lagi. Namaku adalah Euis Nur Hasanah. Tahun ini aku berada di kelas 12 di jurusan yang sama dengan kalian. Dan tujuanku ke sini adalah, untuk memberitahukan tentang suatu sistem terbaru yang telah diterapkan di sekolah.”

Euis pertama-tama melakukan perkenalan, lalu melanjutkan tentang mengatakan tujuannya. Namun, ketika dia akan melanjutkan, murid laki-laki yang bertanya tadi menyela dan bertanya lagi padanya.

“Kak, bagaimana kakak mengetauhi namaku? Padahal kita sama sekali tak pernah bertemu sebelumnya. Kalaupun iya, mungkin kita hanya berpapasan sekali di desa.”

“Ya, untuk itu aku memiliki alasan tersendiri untuk melakukannya.”

Euis mengatakan itu dengan sedikit menggoda—menaruh satu jarinya di bibir—kepada murid laki-laki yang bernama Bobi. 

“Apa jangan-jangan...!”

Seorang murid perempuan memasuki pokok pembahasan dengan sangat tiba-tiba. Euis sudah memersiapkan jawaban terhadap respon murid-murid yang sama—sangat penasaran terhadap alasan Euis.


Catatan:

Hai guys, masih menikmati kisah romantis sekaligus keseharian dari berbagai karakter di Heterochrome kan? Masih kan? Masihlah ????. Oh iya, author (udah pantas belum ya) kali ini mau memberitahukan kalau Heterochrome sekarang sudah ada Fanpage nya. 

"Gunanya buat apa, mas?"

Yah... buat rame aja menurut author ????

Haha, enggak cuma itu aja kok, mungkin kalau banyak yang like dan tahu kalau fanpage itu ada, author bakal bikin bermacam-macam post, seperti ilust dari berbagai tokoh yang belum ada di web. Seperti ilustrasi dari "Risak Aksara" yang sedang dalam pengerjaan (author nulis catatan kaki ini hari minggu).

Dan masih banyak lagi yang tentu aja berkaitan dengan "Heterochrome"

Jadi, mari berkunjung dan ramaikan fanpage kita (siapa?).