Episode 19 - Setitik Kebenaran



Di dunia ini, ada satu entitas yang memiliki keunikan tersendiri selain Senjata Pusaka, yaitu Benda Magis. Berbeda dengan Senjata Pusaka, Benda Magis tak mempunyai kesadaran. Namun, Benda Magis memiliki fungsi sihir tertentu yang bisa digunakan untuk berbagai tujuan. Ada yang bisa meledakan sebuah gunung, membuat dinding pelindung kuat, berteleportasi, membuat ilusi, dan hal unik lainnya. Benda Magis dinilai bukan dari usia, tetapi fungsi. Semakin berguna fungsi benda magis bagi para ahli, semakin berharga pula untuk dilindungi dengan taruhan nyawa.

Konon, Benda Magis bukanlah eksistensi yang berasal dari dunia ini, tetapi para Dewa lah yang sengaja menurunkannya dari langit. Namun, ada pula yang mengatakan, Benda Magis adalah buatan manusia semasa kerajaan kuno yang mana teknik untuk membuatnya ikut menghilang bersama sejarah. Apapun kebenarannya, Benda Magis tetaplah menjadi harta berharga yang bisa membuat para ahli saling bunuh.


[Aku]

Aku sedang dalam posisi stagnan. Dua kaki menegang untuk menopang tubuh. Keduanya sejajar dengan jarak cukup lebar. Sudah dua jam –lagi-lagi dua jam- aku diam ditempat. Menurut Guru, jika aku terus memfokuskan tenaga dalam ke kaki dan merasakan setiap aliran pada meridian, maka Ilmu Percepatan Diri sudah berada di depan mata. Namun, aku bosan, lelah, dan pegal. 

Coba lihat Paman Key yang setiap hari hanya bermeditasi. Dia tak mengalami tekanan apapun. Kasta Prajuritnya mungkin sudah ada di akhir tahap Platina. Huf, kenapa aku tak disuruh seperti itu saja? Bukankah meditasi lebih cepat membuat orang kuat? Hanya duduk diam menyerap chi kurasa lebih nyaman dibanding latihan fisik.

Paman Key membuka mata. Pandangannya tertuju padaku. “Sudah berapa lama aku terdiam, Kresna?” tanyanya.

“Dua jam,” ujarku cepat.

“Hm, tempat ini memang luar biasa, sebentar lagi kastaku akan naik.”

“Oh...” Aku membalas datar.

“Oh ya, bukankah sebelumnya kamu pernah bertanya kenapa aku mengincar Yen Hwang?”

Paman Key mengangkat topik yang sudah kulupakan. Tadinya aku akan bersikap santai jika yang Paman Key bicarakan hanya tentang peningkatan kekuatannya, tapi ini Hwang. Jelas aku merasa bingung harus bagaimana.

“Aku memang bertanya, sepertinya...” ucapku ragu.

“Nah, jawabannya simpel, aku tidak tahu!”

“Hah? Apa Paman bercanda?”

“Tidak, sungguh. Aku tidak tahu. Bahkan, bosku pun tidak tahu.”

“Lalu, kalau kalian semua tidak tahu alasannya, kenapa mengincar Hwang?” Aku merasa aneh.

“Ya, itu perintah dari pusat. Kalau kau ingin mengetahui kebenarannya, mungkin bos dari bosku yang memiliki jawaban itu.”


***


[Roy]

Masih di tempat yang sama, Markas Pusat Alactrus lama. Sebelum kepindahan besar-besaran, Roy mengumpulkan delapan Eksekutor Bayangan yang sudah cukup membaik. Dia berencana untuk mengadakan pertemuan dengan kliennya. Bukan suatu hal yang spontan, melainkan pertemuan ini adalah tenggat waktu yang mereka janjikan setelah pangeran diculik. Kemungkinan besar, kliennya juga mengetahui bahwa Roy gagal menjalankan pekerjaan. Maka dari itu, pertemuan ini lebih ke arah negosiasi ulang atau kompensasi. Keduanya akan dipilih berdasarkan respon klien.

“Chainild, Barlum, Norden, Shadow! Kalian ikut denganku menemui klien. Sisanya, lakukan persiapan untuk berpindah markas!”

“Baik!” Seluruh Eksekutor Bayangan menanggapi. Selain yang bersangkutan, sisanya menghilang cepat bagai kilat.

“Dengar, seperti yang kalian tahu, ini bukanlah pertemuan damai! Klien kita kemungkinan besar memiliki latar belakang kuat. Jika ini sampai menjadi pertumpahan darah, lakukan sesuai rencana yang telah kuberitahu,” jelas Roy yang sebelumnya telah menyusun rencana matang.

“Baik, Ketua Besar!” Norden menyahuti.

Kemudian, Roy mengangkat tangannya sejajar dada. Terlihat sebuah cincin perak melingkar telunjuk. Cincin itu secara mengejutkan bersinar. Tak berhenti di sini, sinar tadi seolah membuat celah dalam udara bagai distorsi. Celah kian melebar dan melebar, hingga akhirnya sesuatu seperti pusaran terbuka.

“Ayo!” Roy menyeru untuk segera masuk pusaran dimensi. Bukan hanya itu, ia juga segera memakai sebuah topeng rubah putih yang sudah disiapkan.

Empat orang sisanya tanggap dan mengikuti Roy masuk dalam pusaran dimensi –juga memakai topeng mereka sendiri. Sesampainya di orang terakhir, pusaran tertutup secara tiba-tiba. Empat manusia tadi seolah ditelan kehampaan.

Beberapa menit kemudian...

Pusaran dimensi kembali terbuka. Kali ini terjadi di sebuah area perkotaan. Namun, jelaslah bukan kota normal. Seluruh manusia yang datang ke sini memiliki niat ‘jahat’ tertentu. Kota Bawah Tanah, itulah namanya. Terletak di area perbatasan antara Bizantum dan utara Yuan (lebih tepat barat laut). Alasan disebut kota Bawah Tanah karena area ini cekung ke bawah dan benar-benar tertutup oleh perbukitan batu yang meruncing seperti jarum. Bukit-bukit tersebut saling tusuk sehingga membentuk atap yang menghalangi sinar mentari. Cukup sulit untuk membedakan waktu siang dan malam. Namun yang pasti, entah siang atau malam, kota ini selalu ramai dengan berbagai kegiatan ilegal yang melanggar hukum.

Baik Yuan atau Bizantum, tak ada yang berani menyentuhkan kekuasaan mereka sampai sini. Kota ini layaknya negara kecil yang mampu menggulingkan negara besar jika berani macam-macam. Tidak, mungkin itu terlalu berlebih. Yang jelas, Yuan dan Bizantum juga memerlukan kota Bawah Tanah untuk menjalankan permaian politik mereka masing-masing. Tergantung situasi yang datang, Kota Bawah Tanah bisa menguntungkan atau merugikan. Perjudian politik adalah hal umum jika melibatkan kota ini. 

Ada pula satu keunikan lain, yaitu semua orang yang datang ke sini akan menyamar dengan menggunakan topeng. Tradisi ini seolah sudah menjadi keharusan karena orang-orang yang datang terdiri dari berbagai latar belakang. Penjahat kelas kakap, makelar informasi, mata-mata negara, pembunuh bayaran, pedagang pasar gelap, pejabat korup, dan lainnya berkumpul dan membaur untuk melakukan kepentingan masing-masing. Logikanya sederhana, jika identitas terungkap di sini, kehidupan seseorang akan menjadi neraka untuk ke depannya.

Roy dan empat bawahannya terlihat cukup mencolok. Secara umum, portal dimensi bisa dimunculkan oleh dua sebab. Sihir teleportasi dari penyihir kasta Magus ke atas, atau Benda Magis yang memiliki fungsi tersebut. Namun, tindakan Roy bukanlah yang pertama kali dilakukan di sini. Hanya saja, sangat jarang orang berani terang-terangan melakukan teleportasi seperti itu kecuali ia memiliki latar belakang kuat atau ia adalah ahli hebat dengan kasta tinggi. Ya, dua kategori itu cukup melekat pada diri Roy. Apalagi, di tempat ini julukan Roy adalah Rubah Pelacak Misteri. Dipanggil demikian karena topeng rubahnya dengan mata sipit yang seolah bisa melihat rahasia paling kelam dan gelap.

Mereka semua datang ke sebuah bangunan. Terlihat mirip warung minum gaya barat atau disebut bar. Pintu dibuka. Namun, Roy bersikap seolah datang seorang diri. Selisih waktu antara mereka untuk masuk cukup lama. Setelah semua masuk, tanpa di suruh, keempat bawahan Roy berpencar ke berbagai sudut dan berbincang dengan beberapa orang. Sementara itu, Roy duduk di sebuah meja kosong yang mana ada empat buah kursi di sekelilingnya. Posisi dia tepat menjadi sentral bangunan ini.

Seorang pelayan dengan topeng polos mendekat dan berkata, “Tuan ingin memesan apa?”

“Anggur seratus tahun, sajikan daengan empat buah gelas.” Roy cepat membalas.

Di sebuah sudut dalam bangunan, tepatnya di lantai dua dari empat lantai yang ada, tiga orang pria bertopeng melihat ke bawah. “Itu benar dia? Si kurang ajar pengacau rencanaku?” tanya seorang yang seolah menjadi pemimpin mereka.

“Tidak salah lagi Tuan, dia orangnya,” ungkap yang lain.

“Baik, kita temui dia dan ingat rencananya!”

Pelayan sudah menyiapkan anggur dan menuju ke meja Roy. Ia taruh empat buah gelas kaca dan mengisinya dengan anggur satu persatu. Cairan ungu kian memenuhi semua gelas, sebelum kemudian pergolakan kecil terjadi.

Hap! Ternyata tiga orang baru saja melompat kasar dari atas. Bukannya mereka tak mampu mempergunakan Ilmu Meringankan Tubuh, tetapi kesengajaan untuk menunjukkan niat tidak bersahabat membuat lompatan mereka mengguncang tanah. Hal ini mengalihkan sejenak seluruh pandangan. Namun, tidak selayaknya dunia luar, perseteruan yang terjadi di Kota Bawah Tanah hanya akan menjadi tontonan sementara. Alasannya sederhana, mereka tidak ingin terlibat masalah orang lain. Saat sumber keributan diketahui, mayoritas orang akan kembali pada urusan masing-masing. Begitu pula pelayan tadi, jika di dunia luar, pelayan seperti ini pasti akan bertingkah konyol dan langsung berlindung di belakang layar. Namun kenyataannya, dia meninggalkan para pelanggan dengan enteng tanpa rasa khawatir sedikit pun.

“Wah, para tamuku sudah datang.” Roy tersenyum tipis dalam topengnya sembari mengangkat salah satu gelas yang telah terisi. “Silakan, nikmati anggurnya!”

Pemimpin mereka belum menanggapi, kemudian ia seret kursi di depannya dengan kasar sebelum akhirnya duduk di situ. Dua orang lainnya mengikuti. 

Tlak! Ia ambil gelas yang masih bersisa dan meminum sedikit anggur dengan menggeser topengnya sehingga memperlihatkan mulut. “Kupikir kau tahu kesalahan organisasimu?” tandasnya.

“Hm, tentu saja.” Roy membalas enteng.

Braaak! Gebrakan pada sebuah meja terdengar. Seperti tadi, anggur bergolak dan perhatian sekeliling teralihkan, tetapi tak berlangsung lama. “Kalau begitu, kau juga tahu apa yang akan kulakukan padamu sekarang?” tanyanya dengan nada sinis.

Bukannya takut, Roy justru menyodorkan sebuah bungkusan kecil. “Ini uang muka Anda, saya kembalikan.”

“Kau...!” Dia naik darah, tak disangka tanggung jawab Roy hanya sekadar mengembalikan uang muka. Itu sangat-sangat kurang dari harapannya. Karena kegagalan ini, rencana jangka panjangnya hancur total. Ia pun tampak akan melakukan pembantaian sekarang juga.

Utungnya, Roy kembali membuka mulut untuk meredakan amarah, “tahan Tuan! Saya akan memberi Anda dua pilihan. Pertama, izinkan saya melakukan kembali pekerjaan tersebut. Akan saya pastikan keberhasilan seratus persen. Atau yang kedua..., kita akan saling membantai di sini!”

Ternyata, bukan penahan amarah yang Roy katakan, tapi penyulut api. “Hahaha...,” pelanggan itu tertawa, “kau pikir posisimu sekarang bisa mengancamku? Lakukan!” perintahnya.

Segera, dua orang lain di sampingya memanggil Senjata Pusaka dan memunculkan aura bertarung. Yang satu pengguna trisula, lainnya pengguna pedang tipis. Pengguna trisula ada di sekitar kasta Pahlawan, sedangkan pengguna pedang tipis ada di sekitar kasta Paladin. Mereka mengacungkan senjata itu tepat di depan Roy.

“Ada kata terakhir?” Pengguna trisula menyalak.

Roy masih bersikap elegan, dia malah kembali meneguk anggur di tangannya. “Seperti kata saya tadi, pilihan kedua adalah kita saling membantai!”

Tlik! Jentikan jari Roy mengubah situasi. Dengan serentak, hampir seluruh manusia di sini mempersiapkan senjata mereka. Dari lantai satu sampai lantai empat bar, berisi tatapan membunuh dan haus darah. Ini semua adalah rencana yang sudah dipersiapkan Roy. Keempat Eksekutor Bayangan yang berpencar mengomandoi banyak orang untuk melakukan tindakan jika tanda diberikan. Dari pada sang klien, setidaknya koneksi Roy di dalam Kota Bawah Tanah cukup banyak. Termasuk bar yang mereka singgahi. Walau tak semua pengunjung ada dalam koneksinya, mayoritas ada di pihaknya. Yang tidak dalam kubu tertentu maka akan bersikap netral. 

Sementara itu, sang klien kini berpikir keras. Mereka baru tahu ternyata semua adalah jebakan. Walaupun latar belakang mereka di dunia luar sangat kuat, tetapi di sini mereka belum membuat koneksi yang baik. Jika menimbulkan keributan besar di Kota Bawah Tanah, agak sulit untuk keluar dari masalah yang menanti. Selain itu, ada sekitar dua ratus orang yang mereka tantang. Walau hanya sepersepuluh yang memiliki Senjata Pusaka dan walau hanya ada kurang dari sepuluh ahli yang memiliki kasta setara Paladin, tetapi kekuatan jumlah tetap membuat bimbang. Ditambah, mereka tahu bahwa orang di depannya memiliki kasta setara Pahlawan. 

“Kau...!” Jika topeng pelanggan ini dibuka, matanya pasti menyolot tajam.

“Tuan, kita sedang terpojok, sebaiknya jangan memprovokasi!” Pengguna trisula menasihati dengan bijak.

“Jadi, Tuan pelanggan, apa pilihan Anda, satu atau dua?” tekan Roy.

Dia terdiam sejenak. Otaknya terus memikirkan berbagai kemungkinan untuk membalikkan keadaan, tetapi tak ada cara. Sumber daya mereka kurang, informasi juga kurang. Satu-satunya pilihan yang terbesit dalam pikirannya adalah tidak memilih. Ya, tidak memilih karena ia khawatir jika pilihan satu yang diambil, maka justru akan menjadi senjata makan tuan baginya. Sedangkan untuk pilihan dua, kerugian besar pasti akan terjadi dalam waktu singkat. Alhasil, tidak memilih adalah pilihan terbaik.

“Tuan, karena saya juga mengaku salah, maka akan saya beri lagi pilihan ketiga, yaitu kita bersikap seolah tak pernah bertemu. Saya tidak pernah berbicara dengan Tuan, dan Tuan tidak pernah berbicara dengan saya. Bagaimana?”

Roy seolah bisa menebak dilema yang dirasakan kliennya. Namun, dia juga sedikit menyelamatkan diri sendiri. Jika sang klien nekat memilih pilihan satu, tugas itu malah hampir mustahil. Bayangkan saja, sebuah penculikan terjadi di dalam istana, apa mungkin keamanan istana akan terbobol dua kali? Dalam benak Roy, kemungkinan membobol kedua kalinya hanya 50 persen.

Sang klien ini bertambah jengkel karena Roy seolah membaca pikirannya. Jika saja Roy tidak mengenakan topeng, ia pandai menilai ekspresi wajah apakah seseorang menggertak atau berkata benar. Seandainya yang terjadi adalah gertakan, maka otaknya pasti bisa menemukan cara lain yang lebih baik. Hanya saja, di sini perbedaan kualitas deduksi terasa signifikan.

“Tuan, sebaiknya kita pilih yang ketiga,” saran pemegang trisula.

“Hmh,” ia mendengus, “baiklah, mulai sekarang, pertemuan ini kita anggap tak pernah terjadi. Kita tak pernah berinteraksi sedikit pun. Ayo pergi!” jelasnya sembari mengambil bungkusan uang dan hendak keluar dari bar bersama bawahannya. 

Detik saat mereka beranjak terasa melambat karena tatapan ratusan orang mengintai. Juga, sebuah sahutan dari Roy menghentikan langkah, “oh, ya, satu lagi. Apa di antara kalian ada yang mengenal temanku dari Yuan bernama Yen Chao?” tanya Roy masih santai duduk di kursi. Mereka kini saling memunggungi satu sama lain.

Entah kenapa, pertanyaan Roy seolah membuat ketiga orang itu hendak berbuat sesuatu, tetapi pikiran si pemimpin untungnya masih jernih. Ia tahu ada kata pancingan. “Kau pikir ada berapa orang dengan nama Yen Chao di Yuan, hah?”

“Tidak, saya hanya berbasa-basi.” Roy tersenyum dalam topengnya. Ternyata, pancingan itu menghasilkan balasan samar. Pemimpin mereka terlihat cukup mumpuni di mata Roy. Walau ada sikap impulsif, tetapi ia pandai menyembunyikan informasi.

“Kalau begitu, jaga omong kosongmu dan jangan pernah berbicara lagi denganku!” ancamnya mengakhiri pertemuan ini.



Kolom penulis:

Hm, semoga gambar progress cover bisa ditampilkan ceritera.net amin!?Btw, progress 80%.