Episode 5 - Keping 1: Lalumba

Waktu usiaku belum genap tujuh tahun, yang kutakuti hanya Lalumba. Ia penyihir jahat yang suka mengubah anak-anak menjadi dewasa. Maksudku, dewasa secara harfiah.

Kata Ibu, hampir setiap malam Lalumba terbang mengitari langit dengan sapu terbang hitamnya yang super cepat. Dan, tentu saja, tanpa alasan yang masuk akal, ia bisa memilih masuk ke kamarku di antara jutaan kamar anak-anak di dunia.

Meskipun Ibu telah memberikanku perbekalan yang cukup untuk menghadapi penyihir itu, aku tetap saja punya ketakutan. Aku sering membayangkan mata Lalumba yang merah menatapku dengan kejam. Juga hidungnya yang mirip paruh burung dengan totol bekas jerawat. Tetapi, di antara seluruh bagian wajahnya yang menyeramkan, aku paling takut pada bibirnya. Bibir Lalumba hitam dan lebarnya berujung pada rahang tirusnya. Bibir itu selalu tampak terbuka dan memperlihatkan deret gigi tajam berwarna kuning kusam. Namun, lebih dari kengerian itu, tentu saja yang paling berbahaya adalah mantera yang diucapkannya. Sebab dengan mantera itu, sim sala bim, Lalumba bisa mengubahku menjadi dewasa.

Tetapi, di antara puluhan ribu anak yang tinggal di Jakarta Timur, tentu saja aku yang paling beruntung. Di antara kami, cuma akulah anak Asmira Sastrawijaya. Mereka bisa punya ibu yang sanggup memindahkan seluruh isi toko mainan ke kamarnya, atau ibu yang pandai bernyanyi seperti milik Lula, atau ibu yang bisa mengubah para guru lelaki di sekolah menjadi ramah seperti milik Frans. Tetapi, tentu saja tak satu pun setangguh ibuku dalam soal menghadapi Lalumba.

Cuma ibuku yang punya banyak dongeng untuk mengusir Lalumba. Sebab, kata Ibu, penyihir jahat itu datang untuk meminta anak-anak membacakan dongeng untuknya. Dan, jika ia tidak mendapatkannya, maka ia tak segan menyihir anak-anak menjadi dewasa.

Sebetulnya, aku tak bisa sepenuhnya menyalahkan Lalumba atas segala kejahatan dan teror yang dilakukannya. Toh, kata Ibu, kejahatan tidak serta merta ada. Ia hadir sebab kejahatan-kejahatan lain atau alasan-alasan yang kadang tak masuk akal. Begitu pun yang terjadi pada Lalumba.

Lalumba adalah anak dari pasangan penyihir baik yang memilih meninggalkan Negeri Para Penyihir untuk hidup sebagai orang biasa. Mereka tinggal di sebuah desa yang damai di kaki bukit, bernama Desa Lestari. Ibunya, Laluna, gemar mendongeng. Sementara ayahnya, Dumbalitos, bekerja sebagai petani tomat.

Hampir setiap hari, Lalumba yang masih berusia lima tahun dan ibunya turut menemani Dumbalitos di ladang tomat. Mereka selalu makan siang bersama di dalam gubuk yang berada di tepi ladang, sambil menikmati cahaya matahari dan angin sejuk. Di sana, sambil mengunyah tomat segar yang dipetik ayahnya, Lalumba selalu antusias mendengarkan dongeng yang dibacakan ibunya. Ia mencintai seluruh dongeng ibunya, seperti ia mencintai kehidupan masa kecilnya, tomat ayahnya, dan diakui atau tidak, ‘hidung tomat’ ayahnya.

Hidup Lalumba berlimpah kebahagiaan, sampai suatu hari, wabah mengguncang kedamaian desanya.

Pada suatu malam, terdengar teriakan menggelegar dari rumah Pak Toni. Hampir seluruh penduduk, termasuk Dumbalitos dan Laluna, segera menghampiri rumah lelaki bersenyum ramah tersebut. Mereka mendapati pria paruh baya itu tengah terbaring lemas. Matanya merah, bibirnya kelabu, dan kulitnya kuning. Salah satu penduduk yang kebetulan tabib, terheran karena tak pernah mendapati penyakit serupa itu. Esoknya, kabar meninggalnya Pak Toni terdengar hingga ke seluruh penjuru desa.

Celakanya, kabar duka itu juga terdengar hingga ke Negeri Para Penyihir. Zumbalinga, seorang penyihir pria yang jatuh cinta pada Laluna pun memanfaatkan keadaan dan menyusun siasat jahat. Lebih dari rasa sakit ditolak cintanya, Zumbalinga tak habis-habis mengutuk pilihan Laluna pada Dumbalitos. Untuk ukuran standar lelaki menarik di Negeri Para Penyihir, bisa dikatakan Dumbalitos termasuk golongan di bawah rata-rata. Sedangkan Zumbalinga selalu jadi yang paling laris di musim kawin Negeri Para Penyihir. Tetapi, sial bagi penyihir itu, cintanya pada Laluna menjebaknya menjadi perjaka di tengah ribuan kesempatan kawin. Dan, kenyataan itu tak elak mempecundanginya.

Dengan sapu terbangnya, Zumbalinga pergi ke Desa Lestari dan menyamar sebagai seorang pedagang yang datang untuk berbisnis sayur dan buah-buahan. Ia memilih tinggal di sana dengan menyewa rumah milik penduduk setempat.

Selama beberapa minggu, wabah terus menewaskan penduduk Desa Lestari, dan perlahan Zumbalinga mulai menyebarluaskan fitnah bahwa wabah itu adalah perbuatan penyihir jahat yang tengah menyamar, yakni Dumbalitos dan Laluna. Mulanya, penduduk mengabaikan perkataan Zumbalinga. Lagi pula, sepasang suami istri itu dikenal ramah dan baik hati. Namun, ketika kepanikan akibat wabah semakin menjadi-jadi, hasutan Zumbalinga pun mulai mendapat perhatian.

Rapat rutin mulai diselenggarakan setiap malam oleh sekelompok penduduk yang terhasut Zumbalinga. Mulanya, mereka hendak langsung mengusir keluarga kecil Dumbalitos. Tetapi, rencana itu ditolak Zumbalinga. Menurutnya, yang terpenting di awal adalah memperbesar anggota kelompok. Alhasil, mereka pun semakin giat menghasut penduduk lainnya.

Sebenarnya, Zumbalinga punya ketakutan terhadap kesaktian Dumbalitos. Ia tahu semata, dirinya akan mudah dikalahkan si Hidung Tomat. Meskipun, ia juga tahu Dumbalitos cuma akan menggunakan kesaktiannya apabila terdesak. Sementara Laluna, perempuan yang dicintainya sepenuh dendam itu, cuma punya satu kesaktian; mempercepat usia seseorang—mengubah anak-anak menjadi dewasa. Sihir Laluna sebenarnya hanyalah kesaktian dasar yang mesti dimiliki setiap penyihir yang hendak menikah. Di Negeri Para Penyihir, anak-anak yang lahir harus langsung diubah menjadi dewasa. Di negeri itu, tak ada istilah berkeluarga. Perkawinan hanya untuk menjaga populasi penyihir. Dan, ketika mereka berhasil menghasilkan keturunan, maka mereka harus hidup masing-masing.

Anak-anak penyihir yang diubah menjadi dewasa, biasanya akan langsung berkelana dan memperdalam ilmu sihir mereka. Sebab takdir penyihir adalah memperoleh kesaktian setinggi mungkin dan menghasilkan keturunan. Disebabkan alasan itulah Laluna dan Dumbalitos memutuskan melarikan diri dari Negeri Para Penyihir. Mereka saling mencintai dan tak ingin Lalumba kehilangan keindahan masa kanak-kanak yang tak pernah mereka dapatkan.

Sangat jarang penyihir yang ditakdirkan patah hati, kecuali Zumbalinga. Maka, itulah yang menyebabkan dendamnya subur. Namun, menyadari kesaktian Dumbalitos lebih daripada dirinya, Zumbalinga hanya bisa merawat dendamnya dan menghimpun lebih banyak penduduk ke dalam lingkaran hasutan. Di samping itu, ia berharap wabah menyerang Dumbalitos dan menewaskannya. Ia tahu belaka, satu-satunya yang tak bisa dikalahkan penyihir adalah takdir.

Takdir pun memenangkan penyihir jahat itu. Dumbalitos terserang wabah dan meninggal pada Minggu pagi di kebun tomatnya. Kondisi itu dimanfaatkan oleh Zumbalinga dengan mengarang fitnah baru; Laluna sengaja membunuh suaminya karena ia berselingkuh dengan seorang penyihir lain. Hasilnya, anggota kelompok Zumbalinga pun semakin banyak.

Seminggu kemudian, saat duka Laluna dan Lalumba belum kering akibat kehilangan Dumbalitos, sejumlah besar orang menghampiri rumah kecil mereka. Menyadari suara riuh di luar, Laluna mengintip lewat jendela. Ia terkejut melihat sekelompok orang yang sebagian dikenalnya dengan baik datang dengan raut wajah berbeda. Wajah mereka yang ramah berubah marah. Dan, di antara sekumpulan wajah itu, ia melihat wajah Zumbalinga yang ketampanannya hanya bisa dikalahkan oleh kelicikannya.

Insting Laluna pun segera mengambil alih tubuhnya. Ia tergerak membangunkan Lalumba dan menggendongnya berlari lewat pintu belakang. Satu-satunya benda yang ia bawa adalah sapu terbang hitam peninggalan Dumbalitos, meskipun ia tahu sapu itu hanya bisa menerbangkan satu orang. Paling tidak, pikirnya, jika keadaan mendesak, ia bisa menyelamatkan Lalumba.

Setelah Lalumba tersadar dari kantuknya, Laluna meminta anaknya berlari tanpa digendong agar mereka bisa menambah kecepatan. Lalumba hanya menuruti permintaan ibunya. Sambil digenggam Laluna, ia berusaha menyeimbangkan kecepatan mereka.

Mereka berlari menembus ladang tomat milik Dumbalitos, menuju hutan. Lalumba yang berlari dengan pertanyaan di benaknya, berulang kali tersandung, sehingga membuat mereka semakin dekat tersusul. Akhirnya, tak terlampau jauh dari muka hutan, Laluna memutuskan mereka harus bersembuyi di balik pohon besar, sebab terus berlari adalah keputusan berbahaya.

Dari tempat persembunyian, Laluna bisa mendengar langkah-langkah yang kian dekat. Dari suara-suara percakapan dan makian yang terdengar, ia bisa menangkap bahaya mengancam mereka. Lalu, ia meminta Lalumba mengapit sapu terbang di kedua kakinya dan memejamkan mata. Lalumba yang tak mengerti hanya menuruti permintaan ibunya.

“Pegangan yang erat,” kata Laluna, sambil membantu mengatur letak jari-jari Lalumba dalam posisi mencengkeram tubuh sapu, “ dan jangan buka matamu.”

Lalu, Laluna berbisik kepada sapu terbangnya untuk mengantar anaknya ke Negeri Para Penyihir—satu-satunya tempat yang, ia sadari, paling aman bagi penyihir. Saat sapu melesat ke langit, Laluna mengucapkan dengan lirih selamat tinggal. Dan, di tengah kesedihannya yang hangat mengarus, ia mengucapkan mantera untuk mengubah Lalumba menjadi dewasa. Sebab dengan cara itulah Lalumba bisa aman pulang ke Negeri Para Penyihir.

Lalumba membuka mata ketika sapu terbangnya mendarat tepat di Air Mancur Kecing Iblis yang berada di jantung kota Negeri Para Penyihir. Menyadari tenggorokannya kering, ia segera minum dari kolam air mancur. Ia sedikit menahan mual karena membayangkan air yang diteguknya sepenuh haus adalah air seni Iblis.

Usai hausnya tuntas, ketika melihat ke muka kolam, Lalumba terkejut melihat bayangannya di kolam. Ia mendapati sesosok perempuan dewasa melihatnya dengan tatapan bingung, seperti juga tatapannya pada sosok itu. Ia menggosok matanya, namun tak mengubah apa yang ia lihat. Tak puas, ia mengobok air kolam. Namun, sosok yang ia harapkan hilang, cuma buyar sesaat dan kemudian utuh kembali sebagai bayangannya. Lalu, Lalumba menyentuh wajahnya sambil menghadap ke kolam. Ia hendak memastikan apakah yang mengambang di kolam adalah bayangannya. Tetapi, semakin ia mencoba memastikan, semakin ia tak bisa memungkiri kenyataan bahwa ia bukan lagi Lalumba kecil yang bahagia.

Singkatnya, bertahun-tahun di Negeri Para Penyihir, Lalumba hidup dengan merawat dendam. Ia belajar berbagai ilmu sihir dan bersumpah atas nama seluruh masa kecilnya yang dirampas orang-orang, juga kematian kedua orang tuanya, ia akan mengubah seluruh anak-anak Desa Lestari menjadi dewasa. Baginya, itu pembalasan dendam yang memuaskan dibandingkan harus membunuh orang-orang Desa Lestari. Sebab, seperti yang ia rasakan, kematian lebih sanggup melukai yang ditinggalkan dibandingkan yang pergi. Baginya, mereka akan lebih menderita melihat anak-anak mereka menjadi dewasa tiba-tiba. Mulanya, mereka akan tersiksa dengan pertanyaan perihal kutukan apa yang menjangkiti desa mereka. Kemudian, mereka akan mengingat-ingat dengan rasa bersalah dosa apa yang mereka perbuat. Dan, hidup dalam rasa bersalah adalah penderitaan sempurna yang bisa berujung pada kematian. Setidaknya, begitulah keyakinan di benak Lalumba.

Di samping itu, Lalumba memutuskan akan hidup tanpa pernikahan. Maka, untuk mewujudkan niatnya yang kedua, ia menyihir wajahnya menjadi buruk rupa agar tidak ada satu pun penyihir pria menyukainya.

Dendam, seperti kata Ibu, sering kali salah sasaran dan sulit dipuaskan. Setelah menyihir seluruh anak-anak Desa Lestari menjadi dewasa, Lalumba mulai menyihir anak-anak di desa lain. Tetapi, berbulan-bulan melakukan itu, Lalumba diserang perasaan bersalah. Ia mulai menimbang-nimbang kejahatannya. Kata Ibu, kejahatan selalu punya alasan—meskipun tak masuk akal—buat dibenarkan. Maka, Lalumba memberikan aturan main sendiri agar kejahatannya terkesan adil. Ia hanya akan menyihir anak-anak yang tak bisa membacakannya dongeng, sebab ia meyakini mereka tak memiliki kebahagiaan masa kecil. Bagi logika jahatnya, anak-anak yang tak pernah bisa mendongeng, yang artinya mungkin jarang atau tak pernah dibacakan dongeng, atau dalam logika yang lebih jernih tidak menyukai dongeng adalah anak-anak yang tidak bahagia.

Begitulah kisah Lalumba yang kudengar dari Ibu. Maka setidaknya, berkat kehebatan Ibu mendongeng, aku aman dari sihir Lalumba. Pun, jika Lalumba tiba-tiba datang, aku sudah memiliki banyak cerita untuknya. Toh, kamarku tersusun dari dongeng-dongeng Ibu. Ia tahu seluruh kisah benda-benda yang ada di sekitarku. Alfredo, jam bekerku, misalnya, dahulu adalah seorang penggembala yang suka kesiangan dan terlambat bekerja. Pegi, celengan babiku, sebenarnya jelmaan seorang raja yang kebiasaan foya-foyanya cuma bisa dikalahkan oleh kekikirannya. Jadi, setidaknya dengan dua cerita itu, di samping puluhan cerita lainnya, bisa menjadi senjata andalanku jika Lalumba datang.

Waktu usia dua belas tahun, aku baru tahu maksud dari dongeng Lalumba, ketika pada suatu malam, Ibu berkata, “Ganesha, yang menyedihkan dari menjadi anak-anak adalah ketika mereka berpikir untuk menjadi dewasa.” Padahal, secara sadar tidak sadar, dongeng tentang Lalumba yang penuh dendam, intrik, kejahatan, dan vulgar, rasanya justru akan berdampak, 1. Aku akan lebih cepat dewasa, 2. Aku menolak menjadi dewasa sebab kehidupan mereka penuh dendam, intrik, dan kejahatan. Entah untung atau buntung, dongeng Lalumba memberi dampak yang kedua untukku.

Setidaknya, kepalaku bisa mencerna maksud Ibu. Sebab, secara fakta ia sudah dewasa dan tentunya pernah menjadi anak-anak. Maka, jelas ia bisa melakukan perbandingan antara kedua masa tersebut. Jadi, kesimpulan sederhana dari perkataannya adalah masa kanak-kanak jauh lebih menyenangkan daripada masa dewasa. Berangkat dari kesimpulan itulah aku berbeda dari anak-anak seusiaku di sekolah. Ketika mereka, teman-temanku, berusaha secepat mungkin menjadi dewasa, aku justru bertahan menjadi anak-anak. Dan, perbedaan itulah yang menciptakan jurang antara kami. Lebih tepatnya antara Ganesha dan seluruh teman sekelasnya di SD Tunas Negeri. Celakanya, dalam komposisi yang tidak seimbang, maka akulah yang bisa dicap sebagai anak yang tak pandai bergaul—atau kurang pergaulan. Tetapi, jika aku harus menjelaskan secara detail alasanku tidak bergaul, maka aku harus bercerita tentang Lalumba. Dan, melakukan hal itu artinya aku mengakui bahwa aku bukan hanya tak pandai bergaul, melainkan gila. Jadi kupikir, aku lebih suka berpuas diri dengan kondisiku.

Selain Ibu, keberuntungan lain yang aku miliki adalah Ayah. Meskipun aku belum sekali pun bertemu dengannya, aku menyimpan kekaguman padanya. Dari apa yang diceritakan Ibu, aku tahu bahwa Anton Sumatedja, ayahku, adalah seorang yang hebat. Ia seorang pemburu harta karun yang memiliki kuda terbang. Dengan kuda terbangnya, ia menjelajah setiap jengkal dunia dan menemukan harta karun di tempat-tempat tersembunyi. Sebagian dari harta itu digunakan Ibu untuk membelikanku buku-buku dongeng. Sementara sebagian lainnya dibagikan Ayah kepada orang-orang miskin yang ditemuinya di jalan. Tadinya, aku mengira ayahku Robinhood, tetapi aku ingat pahlawan itu tak punya kuda terbang.

Pada ulang tahunku yang kedelapan, aku sempat kecewa pada Ayah. Ia tak datang, dan kupikir ia lupa hari ulang tahunku. Namun ternyata dugaanku salah. Ayah menitipkan beberapa buku dongeng sebagai hadiah ulang tahunku pada Ibu. Kata Ibu, ia sempat datang ke rumah, namun tak bisa lama sebab harus kembali mencari harta karun di Kutub Utara. Aku tak tahu di mana letaknya, tetapi Ibu menerangkan tempat itu jauh sekali. “Ayahmu seorang pekerja keras, Ganesha, kamu harus memakluminya.”

Begitulah kehidupan masa kanak-kanakku. Aku tumbuh dengan cara mendidik anak ala ibuku yang unik, sehingga aku menolak cepat dewasa, atau lebih tepat jika dikatakan sedikit kekanak-kanakan.