Episode 5 - Jogjakarta

Tak ada derajat pada bencana. Saat mendaratkan kaki di Jogjakarta, aku harus menyerahkan sepenuh diriku untuk membantu para korban. Dari dalam laju mobil, fragmen-fragmen kehancuran Jogjakarta melintas perlahan. Betapa memilukan melihat kota yang dicintai banyak orang ini, kini murung dan butuh pelukan.

Dari data sementara yang dilansir Kementerian Sosial semalam, di Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, sekitar 5.199 orang meninggal, 7.519 orang luka berat, 3.180 orang luka ringan, serta puluhan ribu bangunan rusak—parah dan ringan.

Aku pergi ke Jogjakarta bersama Mas Sukri—ketua tim relawan gempa Jogjakarta—dari ACT. Ia telah bergabung dengan ACT sejak tahun 2001, saat konflik Sampit; bencana yang lahir dari manusia. Sebagai lulusan psikologi, ia lebih banyak mengurusi trauma healing pasca bencana. Meski kenyataannya, ketika di lokasi, tentunya setiap relawan harus fleksibel dalam melakukan pelbagai hal: memasak, mengangkat barang, menghibur korban, dan lain-lain.

Beberapa relawan ACT yang sejak enam pekan lalu mengurus pengungsi di Merapi, kata Mas Sukri, sudah menyebar ke beberapa wilayah di Jogjakarta. Gempa sungguh mengejutkan. Ketika semua mata tertuju pada Merapi, tanpa aba-aba, di kedalaman yang cukup dangkal—menurut temanku, sekitar 17,1 kilometer di bawah permukaan laut—terjadi pergeseran sesar opak. Justru karena dangkal, dampak kerusakannya menjadi cukup parah.

“Gam, sedih sekali aku melihat kondisi Joga begini,” kata Mas Sukri, pandangannya menembus gelap kaca mobil.

“Sangat, Mas Sukri ...”

“Kabarnya, yang terkena dampak gempa paling parah adalah Bantul dan Parangtritis. Nah, kemungkinan habis dari rumah sakit kita langsung berangkat ke Dusun Kedaton Kidul, di Bantul. Di sana kita sudah bangun tempat pengungsian, Gam.”

“Siap, Mas Sukri.”

Kemudian, kami sibuk dengan kemurungan masing-masing. Di luar laju mobil, kondisi masih begitu memilukan. Tak hanya bangunan tua dan rapuh, bahkan beberapa bangunan modern dan kokoh pun ikut roboh.

“Eh, Gam. Sudah dapat kabar dari Gapi, belum?”

“Nah, lupa aku kasih kabar sama Mas Sukri. Gapi nggak bisa ikut, karena masih sibuk membantu persiapan pernikahan sepupunya. Dan katanya, sekalian mau mengurusi persiapan pernikahannya juga.”

“Waduh! Kalah kamu sama playboy kelas cere itu, heran aku, Gam! Padahal, kalau diperhatikan kamu jelas menang di tampang.”

“Wah, jadi Mas Sukri suka memerhatikanku, nih? Mesti siaga satu aku!”

“Asem! Aku merhatiin kamu, karena banyak relawan perempuan yang suka nanya: Mas Sukri, relawan yang tinggi ganteng itu siapa? Nah, aku penasaran dong, apa iya kamu ganteng? Lha, youwis, aku jadi perhatiin kamu dan ... asem! Ternyata kamu memang ngganteng, lho, Gam,” kata Mas Sukri, sambil jari-jari telunjuknya genit menyolek daguku. Membuatku harus tangkas menangkis tingkah menjengkelkannya.

“Terus, kapan kamu nikah, Gam?”

“Kan sudah pernah kubilang, aku cuma mau menikah dengan Keumala.”

“Gam, dengan bersikap seperti itu kamu hanya mengganggu ketenangan Keumala di sana,” suara Mas Sukri sedikit memberat, sementara aku tak bisa meraba jawaban yang tepat.

**

Apa yang terlihat di rumah sakit, sungguh membuat dadaku ngilu. Tenda-tenda darurat didirikan, pasien dirawat dengan peralatan medis yang seadanya. Kutarik napas panjang, kemudian kulangkahkan kaki ke dalam rumah sakit.

Lorong yang diapit tembok dengan noda coklat karat dipenuhi perban dan kapas yang berserakan. Sesekali, pada beberapa kali ayunan langkah, kutemukan darah mengering di putih-pucat lantai yang kehilangan kilapnya. Aku berdiri limbung, sementara suara roda ranjang giat menggesek dadaku, dan sirine ambulan membentak-bentak jantungku.

Setelah mendapati tungkaiku kukuh dan mampu berjalan fasih, aku memasuki badan lorong, menuju ruang tunggu. Segera aku melebarkan mulut plastik, menimbunkan sampah-sampah medis dan non medis pada lambungnya.

Seorang lelaki relawan—aku menduga relawan sebab terlihat lincah dan sehat—tengah bolak-balik; memungut sampah di badan lorong, dan membuangnya ke tempat sampah di mulut lorong. Melihat kesulitannya, aku tergerak menghampirinya untuk menawarkan bantuan.

“Mas, ini aku bawa kantung plastik, silakan dipakai saja,” kataku, sambil menyerahkan setumpuk lipatan plastik besar.

“Matur suwun, Mas,” lelaki itu mengambil satu lipatan plastik, kemudian diletakkannya di lantai, “nama saya Adi,” kata lelaki itu, sambil mengulurkan tangannya.

“Agam, Mas Adi. Mas Adi dari Jogja?” tanyaku, seraya menjawab ulur tangannya.

“Aku dari Jogja, Mas Agam. Kebetulan karena kondisiku sehat dan selamat, jadi bisa sekalian bantu sedulur-sedulurku,” jawabnya, sambil membenarkan posisi kacamatanya, “Mas Agam sendiri?”

 “Aku dari Jakarta. Kebetulan baru sampai hari ini bersama teman-teman relawan lain.”

“Wah, sebagai orang Jogja, aku patut mengucapkan banyak terima kasih, Mas.”

“Nggak, Mas. Aku cuma membantu sesuai kemampuanku saja. Lagi pula, aku punya banyak kenangan hangat di Jogja.”

“Eh, Mas Agam, sebentar,” ia menengok ke arah belakang, seperti berusaha mencari sesuatu, “aku panggilkan temanku dulu, ya.”

Ia berlari kecil menghampiri seorang perempuan dan seorang lelaki yang tengah sibuk membagikan nasi bungkus kepada keluarga korban, kemudian mereka menghampiriku.

 “Mas, ini kenalkan temanku Laksmi dan Baskara,” kata Adi, menunjuk satu per satu temannya.

“Bas, Mas. Dari Relawan Muda Peduli Jogja,” kata lelaki bernama Bas, nadanya tegas.

“Agam, Mas Baskara.”

“Hai, Mas Agam, aku Laksmi,” kata perempuan bernama Laksmi, seraya melambaikan tangan kanannya, mirip gerak bandul jam tua.

“Mas Agam dari Jakarta,” sorot mata Baskara tajam, seperti hendak mengulitiku, “maksudnya dari NGO?”

“Betul, Mas Baskara, dari Aksi Cepat Tanggap.”

“Oh ...,” jawab Baskara. Entah mengapa, aku merasa ‘oh’ itu menyembunyikan maksud lain.

“Mas Agam, terima kasih lho, sudah mau repot datang ke Jogja,” kata Laksmi, mencoba ramah dan mencairkan suasana.

“Sama-sama, Mbak Laksmi, aku cuma bisa bantu semampunya saja.”

“Jangan pakai ‘mbak’, Mas Agam. Cukup Laksmi saja.”

“Lho, aku saja dipanggil ‘mas’,” kataku, “panggil Agam saja, Laksmi.”

“Iya, nggak usah pakai ‘mbak’ atau ‘mas’, lah. Biar cepat akrab,” kata Adi, menimpali percakapan kami.

Berjeda beberapa menit, Mas Sukri menghampiri kami dan turut berbincang. Ia menjelaskan tentang Integrated Community Shelter (ICS) yang didirikan oleh ACT di Dusun Kedaton Kidul, Bantul. Dusun tersebut mengalami kerusakan cukup parah. Hampir semua rumah rata dengan tanah, sehingga penambahan relawan menjadi kebutuhan. Ia menawarkan Adi dan teman-temannya untuk membantu di sana jika berkenan, dan Adi mengatakan akan memberikan kabar secepatnya. Sementara Adi dan Laksmi antusias, Baskara sibuk menekan tombol ponselnya. Entahlah. Yang aku tahu, sinyal tidak ada.

Di akhir perbincangan, Mas Sukri dan Adi bertukar nomor ponsel, kemudian kami kembali menyebar untuk bekerja: memunguti sampah, membeli dan membagikan nasi bungkus, membantu petugas rumah sakit, atau apa pun yang bisa kami lakukan tanpa mesti ditunda.