Episode 108 - Kembali…



“Jadi, siapakah dia…? Jubah Hitam Kelam menyamarkan aura dan sedikit mengubah penampilan….”

“Kyahaha…”

“Tameng…?” 

“Takdir memanglah sesuatu yang unik…”

Kum Kecho menatap lawan yang terlihat seperti orang kebingungan. Dalam hati ia sepenuhnya menyadari bahwa sedang terjadi komunikasi menggunakan jalinan mata hati antara Hang Jebat dengan keris Tameng Sari. Dan… bukan tak mungkin kesadaran keris Tameng Sari menyadari tentang jati dirinya… 

“Tameng Sari!” seru Kum Kecho menyela Hang Jebat dan Tameng yang sedang bercengkerama dalam jalinan mata hati. Walau tak bisa mengetahui perbincangan mereka, sesuatu harus dilakukan. 

“Sepertinya aku harus membuka paksa Jubah Hitam Kelam itu untuk memastikan jati dirimu…,” gelak Hang Jebat penasaran. 

“Sebaiknya biarkan saja mereka pergi....” Tak seperti biasa, Tameng kali ini terdengar kurang bersemangat di saat hendak bertarung. 

“Siapakah dia sampai harus kulepas?” pancing Hang Jebat. 

“…” Tak terdengar jawaban dari Tameng. 

“Swush!” Hang Jebat merapal jurus silat Pencak Laksamana Laut… dan kesaktian unsur asap segera terlihat menyelimuti bilah Tameng Sari. 

Capung Terbang Layang!

“Berpencar!” seru Kum Kecho. 

Anak remaja dengan kantung mata berwarna hitam itu segera mengangkat tubuh Dahlia Tembang. Gadis itu masih terguncang. Ia tak percaya bahwa Raja Angkara Durhaka hendak mengambil nyawanya. Padahal, sudah cukup besar pengabdian dirinya. Bahkan, tubuh yang sedang Hang Jebat rasuk saat ini, tak lain adalah tubuh kekasih hatinya. Remaja berkulit gelap itu merupakan seorang Murid Tauladan di Perguruan Maha Patih, anak didik langsung dari Sesepuh Ke-15, dengan masa depan yang sepantasnya akan sangat cerah. 

Setelah menyingkirkan Dahlia Tembang, Kum Kecho segera melesat cepat. Ia berlari sekuat tenaga ke arah timur. Di lain sisi, Melati Dara juga melesat pergi. Namun, gadis tersebut bergerak ke arah selatan. 

Hang Jebat memburu tanpa ragu. Saat ini telah menjadi prioritas utama dirinya adalah memuaskan rasa ingin tahu. Bila Tameng tak hendak membuka jati diri anak remaja itu, maka tak bisa dipaksa. Dengan demikian, ia harus membuktikan sendiri kecurigaan yang tersirat di dalam benaknya. 

Pencak Laksamana Laut, Gerakan Kedua: Esa Hilang Dua Terbilang! 

Bila gerakan pertama Pencak Laksamana Laut melipatgandakan kekuatan, maka gerakan kedua adalah melipatgandakan kecepatan. Kecepatan seorang ahli Kasta Perak saja sudah berada di atas ahli Kasta Perunggu. Kini, kecepatan Hang Jebat ditopang oleh jurus yang digdaya. Langkah lari Kum Kecho yang biasa-biasa saja segera tersusul. 

Seribu Nyamuk Buru Tempur!

Serangan nyamuk-nyamuk hanya sedikit menghambat gerak langkah Hang Jebat. Puluhan ekor nyamuk yang berukuran sekepal tangan orang dewasa dengan mudahnya ditebas oleh keris Tameng Sari. 

 “Bum! Bum! Bum!” Trio Kutu Gegana Ledak!

Di antara nyamuk-nyamuk yang beterbangan, terselip ketiga ekor kutu yang selalu berbahagia di saat hendak meledakkan diri. Padahal, dengan meledakkan diri, kutu-kutu itu berarti menghembuskan napas terakhir. 

Langkah pengejaran Hang Jebat sedikit melambat. Ledakan yang disebabkan oleh ketiga kutu memang tak berdampak pada tubuhnya yang kebal karena anugerah Tameng, namun suara ledakan membuat kepalanya pening. 

“Bum! Bum! Bum!” Lagi dan lagi, kutu demi kutu meledakkan diri. 

Kum Kecho memiliki cukup banyak Kartu Satwa yang menampung ketiga ekor kutu. Sungguh Melati Dara sangat peka akan keperluan si Tuan Guru, sehingga membawakan sejumlah kartu satwa sebagai upaya jaga-jaga. Bahkan, kesediaan Melati Dara kembali ke wilayah Partai Iblis bersama Anjana tempo hari, tak lain adalah untuk mengambilkan Kartu Satwa milik sang majikan. 

“Bangsat!” Kepala Hang Jebat pening bukan kepalang. Ia merasuk tubuh yang kurang sesuai, kemudian saat ini merapal Pencak Laksamana Laut.... Kombinasi kedua hal tersebut sungguh membebani dirinya. 

“Swush!” Hang Jebat menebaskan keris Tameng Sari ke arah depan. 

Bersamaan dengan tebasan tersebut, tiga gumpal asap gelap berwujud ikan sembilang, yang berukuran layaknya seekor sapi dewasa, menyebar dan melesat deras. Ketiganya segera mengincar Kum Kecho!

“Bum!” Ketiga gumpalan asap berwujud ikan sembilang menghantam kubah kepik. 

Anehnya, kubah kepik tersebut terlihat bersinar. Kum Kecho mengimbuhkan unsur kesaktian cahaya ke arah kepik miliknya. Dengan demikian, unsur asap tak dapat menyerap ke tubuh kepik, sehingga kelebihan unsur tersebut menjadi tak berpengaruh terhadap sang kepik itu. Bahkan, Kum Kecho memanfaatkan tenaga dorongan yang diterima kepik untuk semakin memperlebar jarak dengan si pengejar. 

Hang Jebat menggeretakkan gigi. Ia menyadari usahanya dalam menyerang sia-sia belaka. Kesaktian unsur asap serta-merta lemah terhadap kesaktian unsur cahaya. Bahkan, lawan dengan piawai memanfaatkan tenaga hantaman untuk memisah jarak semakin lebar. Hang Jebat segera menyadari bahwa lawannya itu cukup berpengalaman dalam urusan melarikan diri. 

Pada akhirnya Hang Jebat hanya fokus mengejar. Toh, dengan kecepatannya, tak akan membutuhkan waktu lama untuk menyusul lawan. Kendatipun demikian, nyamuk-nyamuk tetap mengganggu gerak langkahnya, serta ledakan-ledakan kutu membuat kepalanya semakin pening. Jadi, kecepatan Hang Jebat dalam pengejaran tetap terhambat. 

Kum Kecho sesekali menoleh ke belakang. Ia memastikan bahwa lawan masih terpisah dalam jarak yang aman. Perlahan namun pasti, jarak yang aman tersebut semakin memendek. Untunglah, langkah larinya masih konsisten tanpa halangan berarti. Andai saja ia tak memerintahkan capung untuk membawa Dahlia Tembang, maka dirinya pasti sudah dapat melepaskan diri dengan mudah. 

“Hya!” Hang Jebat melompat cepat ketika merasa dalam jarak yang ideal untuk menyerang. 

“Bum!” Lagi-lagi tebasan keris Tameng Sari diredam oleh Kepik Cegah Tahan yang diimbuh kesaktian unsur cahaya. Sebagaimana sebelumnya, Kum Kecho kembali memanfaatkan kekuatan hantaman untuk melesat jauh ke depan. 

“Swush!” Hang Jebat terus menebaskan keris Tameng Sari ke arah depan. 

Kembali terlihat tiga gumpalan asap mengejar cepat. Akan tetapi, kali ini asap tidak bergerak lurus ke depan, melainkan merangsek ke atas, lalu menukik deras ke bawah! 

“Bum!” Kum Kecho kembali menahan dengan binatang siluman kepik. 

Akan tetapi, karena hantaman datang dari arah atas, kini gerakan Kum Kecho terkunci di tempat! Kesempatan ini segera dimanfaatkan oleh Hang Jebat untuk merangsek maju. 

“Sret!” Tetiba enam jalinan rambut menghantam tubuh Hang Jebat bertubi-tubi! 

Hang Jebat yang sedang melompat kesulitan menghindar. Meski jalinan rambut tersebut sama sekali tak mencederai tubuhnya, ia terdorong ke samping. Kesempatan yang tercipta untuk menyergap Kum Kecho pun menghilang begitu saja. 

“Dayang Kuntum, Bentuk Pertama: Cupak Tertegak, Suri Terkembang!” 

Sejak awal, Melati Dara bergerak memutar dan menyusul sang Tuan Guru. Karena Hang Jebat terlalu terlena dalam pengejaran, ia tak menyadari bahwa gadis berpakaian kulit ketat itu membayang-bayangi di balik gelapnya malam. Gerakan Melati Dara yang unik, yaitu menebar jalinan rambut ke pepohonan untuk kemudian menarik dirinya, membuat ia dapat bergerak cepat di antara pepohonan. 

“Bangsat!” Hardik Hang Jebat kesal. Ia hanya melihat bayangan hitam berkelebat, yang kembali menghilang di balik pepohonan. 

Pengejaran berlanjut. Hang Jebat menyadari bahwa ia tak akan bisa berlama-lama lagi merapal bentuk kedua Pencak Laksamana Laut. Beban yang harus diemban tubuhnya terlalu berat. 

“Bum! Bum!” Hantaman asap kembali datang dari atas. Kum Kecho bertahan, sekaligus tertahan di tempat.

“Bum!” Melati Dara terpental tak berdaya! 

Dari tiga jalinan asap yang dihasilkan oleh tebasan anugerah kedua keris Tameng Sari, dua diarahkan kepada Kum Kecho, sedangkan yang ketiga menunggu kehadiran Melati Dara. Gadis tersebut tak memperkirakan bahwa lawan telah menantikan kehadirannya. 

Kum Kecho segera mendatangi Melati Dara yang terjatuh tak jauh dari dirinya. Gadis tersebut sempat membungkus diri dengan jalinan rambut. Akan tetapi, asap menyelip di antara jalinan rambut dan menyerap ke kulit tubuhnya. Segera Kum Kecho mengerahkan kesaktian unsur cahaya untuk membersihkan tubuh budaknya itu dari asap-asap yang tersisa. Melati Dara tak sadarkan diri. 

“Khikhikhi… Bila kau melarikan diri, maka temanmu akan meregang nyawa,” ancam Hang Jebat sambil melangkah santai. 

Ia tak lagi mengerahkan Pencak Laksamana Laut… Keris Tameng Sari pun kembali disimpan ke dalam cincin Batu Biduri Dimensi. Jelas bahwa Hang Jebat tak ingin tubuhnya terus terbebani karena mengerahkan senjata nan digdaya itu. 

Kum Kecho menatap dalam diam. Ia menggeretakkan gigi. Jika betul-betul terpaksa, maka ia sendiri yang akan mencabut nyawa Melati Dara. Daripada dirinya tertangkap, ia rela mengorbankan seorang budak saat ini juga. 

Hang Jebat terpisah tak lebih dari sepuluh langkah dengan buruannya. Sungguh ia sangat penasaran atas jati diri anak remaja yang mengenakan Jubah Hitam Kelam itu. Rasa penasaran semakin menjalar di saat Tameng seolah mengenal anak remaja itu. Walau, bisa saja Tameng berpura-pura tahu, atau bahkan berbohong. Tameng adalah Tameng… tak bisa sepenuhnya dipercaya. 

“Sebutkan jati dirimu, maka aku akan membunuhmu dengan cepat!” 

Kum Kecho berdiri menatap Hang Jebat. Sepertinya, sudah tak ada pilihan lain. Saat ini, ia bukanlah lawan yang sebanding dengan Hang Jebat. Walaupun ia dapat bertarung menggunakan jurus bauran, maka pertarungan tersebut hanyalah untuk mengulur-ulur waktu saja. Pada akhirnya, kemungkinan besar dirinya akan dikalahkan oleh lawan yang memiliki Tameng Sari. 

Andai saja Melati Dara dalam keadaan sadar, maka Kum Kecho bersedia bertarung untuk mengulur waktu supaya budaknya itu dapat melarikan diri. Secara garis besar pun, sesungguhnya Kum Kecho menyadari bahwa Hang Jebat tak bisa berlama-lama bertarung. Pastilah ada hambatan dalam tubuh yang sekarang ia gunakan, batin Kum Kecho. 

Akan tetapi, kali ini tak ada pilihan lain… Melati Dara tak sadarkan diri, sehingga harus mati di tangannya sendiri… Setelah itu, barulah ia akan kembali melarikan diri. Kum Kecho sudah memantapkan diri. Jemarinya siap menebas urat leher Melati Dara… 

Lingsir wengi, sliramu tumeking sirno… Jelang malam, dirimu akan sirna…” 

Tetiba terdengar lantunan sendu, ibarat sembilu yang mengiris-iris ngilu…. Kum Kecho menoleh ke atas, ia menyaksikan Kecapung Terbang Layang mengawang di udara. Di atas pundak binatang siluman itu, Dahlia Tembang menatap lirih ke arah Hang Jebat. Tatapan matanya bukanlah menyiratkan kepedihan… Tatapan itu mengisyaratkan cinta kasih… 

“Kesaktian unsur bunyi…” gumam Kum Kecho sambil menengadah. 

“Arghhh…” Tetiba Hang Jebat merintih nyeri. Kedua tangannya menjambak rambut sendiri. Tubuhnya pun jatuh tergolek di saat ia meronta-ronta menahan pening yang demikian merayang di dalam benaknya… 

“Dah… lia… Tem… bang…,” terdengar suara merintih dari mulut Hang Jebat. Akan tetapi, suara yang keluar bukanlah suara yang biasa terdengar dari diri Hang Jebat. Sepertinya, ada kesadaran lain yang memberontak hendak menyeruak… 

“Rela… kan… lah… aku….” Suara itu kini meratap pilu. 

Di udara, Dahlia Tembang masih melantunkan Kidung Lingsir Wengi. Air mata mulai mengalir di kedua pipinya. Ia sepenuhnya menyadari bahwa kesadaran kekasih hatinya tak akan bertahan lama lagi. Menyaksikan tubuh yang telah dirasuk itu, sungguh ia merasa pilu. 

“Per… gi… lah… bersama… nya…” Rintihan itu kembali terdengar. Di saat yang sama, tangan kanan remaja bertubuh gelap menunjuk ke arah… Kum Kecho.   

Kum Kecho segera tersadar dari keheranannya. Tak sulit baginya untuk menyimpulkan bahwa suara itu datang dari kesadaran pemilik tubuh yang dirasuk oleh Hang Jebat. Kesaktian unsur bunyi Dahlia Tembang pastilah membangkitkan kesadaran tersebut… Akan tetapi, keadaan ini tak akan berlangsung lama lagi! 

Segera Kum Kecho meraih dan memanggul tubuh Melati Dara. Ia pun langsung melangkah cepat. Sebentar lagi kesadaran Hang Jebat akan kembali, dan akan sangat berbahaya!

“Ikuti aku!” seru Kum Kecho ke atas, ke arah Dahlia Tembang. 

“Hrargh!” Hang Jebat kembali meraih kendali atas kesadaran tubuh yang ia rasuk. 

“Cih!” 

Hang Jebat berdecak bukan ke arah menghilangnya Kum Kecho. Akan tetapi, ke arah belakang. Ia merasakan kehadiran kaki tangannya, Sesepuh Kertawarma, di kejauhan dan sebentar lagi tiba bersama dengan ahli-ahli Kasta Emas lain. Tujuan Kertawarma adalah membuktikan bahwa sesungguhnya tak ada yang namanya Raja Angkara. 

Sesuai rencana yang telah disusun, Hang Jebat seharusnya segera meninggalkan wilayah Kota Ahli sesudah mendapatkan Tameng Sari. Bahkan, seharusnya ia pergi jauh dari Pulau Jumawa Selatan. Peringkat keahliannya saat ini terlalu rendah untuk dapat berbuat sesuka hati. Kini, ia malah terbuai dalam pengejaran, sehingga masih berada di dekat Kota Ahli. 

Hang Jebat hanya bisa menggerutu karena tak bisa melanjutkan perburuan. Rasa penasarannya tak dapat terpenuhi. Di saat yang sama, tangannya meraih sebuah cangkang siput. Segera ia lemparkan cangkang siput itu… dan sebuah gerbang dimensi pun berpendar. Tanpa pikir panjang lagi, ia pun melompat ke dalam lorong hitam tersebut. 

Tak lama berselang, Hang Jebat melompat keluar dari dalam gerbang dimensi. Malam sama gelapnya, dengan sedikit berkas cahaya bulan purnama. Di hadapan, ia menyaksikan beberapa titik-titik cahaya….

Hm? Dimanakah ini? Mungkinkah si Kertawarma tak menentukan lokasi tujuan gerbang dimensi tadi? batin Hang Jebat. Ia mengamati sekeliling, sebelum akhirnya memutuskan untuk menuju ke arah titik-titik cahaya di kejauhan. 

Hang Jebat tertegun mengamati sebuah pemandangan di hadapan. Mulutnya menganga lebar sampai seolah menyentuh dada. Ia sedang memerhatikan dengan seksama seorang anak remaja yang juga berkulit tubuh gelap. Anak remaja tersebut sedang membersihkan tubuh seekor binatang siluman Banteng Karapan. Sebuah celurit tersemat di sisi belakang pinggangnya. 

Keterpanaan Hang Jebat segera berubah menjadi sebuah senyum teramat puas…  

“Khikhikhi… Keberuntungan masih berpihak padaku… Sepertinya gerbang dimensi tadi membawaku ke wilayah Pulau Garam,” senyum Hang Jebat semakin lebar. 

“Tak kusangka akan berpapasan dengan keturunan…. Joko Tole. Tubuh anak remaja itu… sangatlah sempurna!”*


===


Semalaman Kum Kecho berlari sambil memanggul tubuh Melati Dara. Anehnya, Hang Jebat tidak mengejar. Meski demikian, ia terus memacu langkah ke arah timur. Mengikuti dari udara, adalah Dahlia Tembang yang menunggangi binatang siluman capung. Wajah gadis tersebut masih terlihat sendu. 

Kum Kecho tak menyadari bahwa si Raja Angkara Durhaka telah menghilang ke dalam gerbang dimensi. Ia juga tak menyadari bahwa di tempat dimana mereka terakhir berhadapan dengan Hang Jebat, sejumlah ahli Kasta Emas memeriksa cangkang siput yang berfungsi sebagai gerbang dimensi sementara. Pada akhirnya, para ahli digdaya tersebut memutar langkah. Mereka telah memastikan bahwa siapa pun itu pencuri Pedang Patah, telah kabur memanfaatkan cangkang siput yang diketahui baru saja digunakan. Diperlukan ahli dengan keterampilan khusus segel untuk menyelidiki dan memperkirakan tujuan dari gerbang dimensi yang kini sudah tertutup. 

Matahari baru saja terbit. Ia membiaskan cahaya yang demikian gemilang. Kum Kecho terdiam membatu. Di hadapannya, puing-puing bata merah bergelimang di dekat sebuah gapura yang dulunya megah, berserakan tak menentu. Terpaan berkas mentari pagi seolah membangkitkan sebuah tamadun yang telah lama mati.

“Tuan… ijinkan aku… mengabdi padamu….” Sapaan Dahlia Tembang memecah lamunan Kum Kecho. 

Gadis tersebut telah mendarat di samping Kum Kecho. Pesan terakhir dari kesadaran kekasihnya adalah untuk mengikuti anak remaja berjubah hitam itu. Mungkinkah kesadaran sang kekasih sempat menyaksikan Kum Kecho menyelamatkan dirinya…? 

“Apa katamu!?” sontak Melati Dara yang terbaring di rerumputan, terbangun. 

Kum Kecho menatap dalam raut wajah Dahlia Tembang. Gadis yang terbuang. Alangkah malang. Namun, tak terlihat lagi akan keputusasaan menyelimuti dirinya. 

“Ia telah menyelamatkan jiwamu…,” ujar Kum Kecho kepada Melati Dara. “Sambutlah ia sebagai adikmu.” 

“Adik…?” Melati Dara tertegun. Raut wajahnya seketika itu juga berubah. Bibirnya bergetar. Sepintas ia mengingat keluarga yang telah lama tiada. 

“Tuan Guru… menganugerahi aku seorang adik…?” Melati Dara tak dapat menyembunyikan kebahagiannya. 

“Adik Dahlia Tembang… Kemarilah… Maafkanlah kakakmu ini yang tempo hari telah berlaku kasar.” 

Dahlia Tembang memejamkan mata. Ia sadar betul bahwa ada yang tak kena dengan kondisi kejiwaan Melati Dara. Akan tetapi, ia menyadari bahwa Kum Kecho telah menerima keberadaan dirinya. Dahlia Tembang menganggukkan kepala pelan. 

Kum Kecho tetiba berjalan masuk ke dalam gapura. Ia melangkahi sebuah pintu besar yang terbuat dari logam dengan berbagai ukiran. Sejenak ia berhenti, hanya untuk menginjak ukiran utama yang berbentuk lingkaran berisi matahari bersudut delapan, sebelum meneruskan langkah. 

Kum Kecho melewati puing-puing tembok bata merah dan akar belukar pepohonan yang berhasil merampas hasil kerja terampil manusia. Ia lalu menapaki persimpangan jalan, menuju sebuah gerbang dalam, lalu sebuah halaman luas. Di sisi kanan dan kiri halaman, terlihat pula puing-puing berbagai macam bangunan suci. 

Kum Kecho tidak berhenti. Melati Dara dan Dahlia Tembang terus mengekori. Mereka menapak jajaran teras-teras berundak, yang dulunya merupakan bangunan-bangunan tempat tinggal para abdi dalam, dimana akar pepohonan dan semak belukar telah mengubah bentuk asalnya.

Kum Kecho terus melangkah. Ia melewati puing-puing sebuah Balairung Agung. Lebih jauh ke dalam, terlihat puing-puing kompleks istana. Dari setiap langkah Kum Kecho, tak terbersit sedikit pun keraguan akan arah tujuan.

“Kalian tunggulah di sini…,” ucap Kum Kecho kepada Melati Dara dan Dahlia Tembang. “Bangunlah tempat tinggal sementara bilamana perlu.”

Kum Kecho lalu terus melangkah ke dalam ruangan yang di satu sudutnya terlihat sisa-sisa reruntuhan singasana. Walau wajahnya terlihat sangat tak senang, jelas kentara bahwa ia hapal betul setiap sudut di ibukota lama Negeri Dua Samudera… Sastra Wulan. 



Catatan:

*) Kisah Adipati Joko Tole dibahas dalam Episode 62 dan Episode 63. 

Babak Ketiga dari Buku 1 – Perunggu, akhirnya rampung sudah. Babak ini dimulai dan ditutup di Sastra Wulan. 

Pengarang akan mengambil waktu untuk beristihat selama sepekan, sambil mengumpulkan materi dan memeriksa ulang alur ceritera keseluruhan. Legenda Lamafa akan kembali pada Senin, 11 September 2017. 

Silakan bagi para ahli baca sekalian memanfaatkan kesempatan yang tersedia untuk kembali membaca ulang kisah Legenda Lamafa ini. Hahaha… Kiranya agar supaya tak melewati pentunjuk-petunjuk kecil yang telah disajikan sepanjang Babak Pertama, Kedua dan Ketiga. 

Untuk kesekian kalinya, terima kasih sudah bersedia mengikuti.  

Tabik.