Episode 18 - Pencarian yang Melelahkan



Mereka pergi, meninggalkan si Hayashi tua dengan wajah merengut. Terlihat beberapa tetangga mengintip dari balik jendela mereka, bertanya-tanya apakah dua kakak-beradik ini sungguh bisa membuktikan kebenaran Kappa. 

Untuk saat ini, orang-orang itu sepakat mendakwa Midori dan Taki sebagai anak yatim piatu yang senang membual.

“Aku juga sepemikiran,” ujar Taki. Wajahnya diliputi kecemasan.

“Soal apa?” ketus Midori.

“Kalau gagal mendapatkan fotonya, pasti kita bakal dikira tukang bohong.”

“Diamlah, Bodoh!” Midori, si lelaki tolol itu, nekat merangkam kerah baju sang adik. “Kita bukan tukang bohong! Masih banyak waktu untuk mendapatkan satu foto.”

Taki bungkam. Matanya berkaca-kaca termakan kaget. Baru kali ini, sungguh, saat sang kakak kelewat emosi dan tega meneriakinya seperti orang gila. Padahal, tidak pernah ada kejadian semacam ini sebelumnya.

“Maafkan aku.” Midori spontan melonggarkan cengkeramannya. “Aku cuma sedang panik,” tambahnya.

Geligi Taki menggertak pelan.

“Ayo ke Ishikawa.” Ia menyahut lirih.

 Jalan menuju Ishikawa tidaklah semudah menyebut namanya. Selain musti melewati jalanan desa yang berpuluh-puluh meter panjangnya, juga terdapat jalur setapak di sekitar lereng gunung yang harus dilintasi. 

Apalagi, mereka berdua hanya berjalan kaki sambil memikul ransel besar. Lengkaplah sudah segala haling-rintang yang mendera.

Di perempatan jalan, sekitar dua puluh meter lagi dari lereng Ishikawa, mata Taki tak sengaja bertemu dengan sebuah kedai sayuran milik wanita tua. Anaknya kabur dari rumah tiga tahun yang lalu.

“Ah! Itu dia.” seru Midori antusias.

Keduanya langsung berlari kecil mendekati kedai tersebut. Tampak barang dagangan tertata rapi di rak besar yang ditaruh di depan pintu. Tatkala Midori sampai di beranda, datanglah sang pemilik kedai sembari membopong sekeranjang lobak. 

Wanita ini tingginya cuma seperut Midori dengan rambut putih digelung. Wajah ramahnya penuh kerutan, sampai-sampai mata itu hanya tinggal segaris. 

Mengenakan sweter biru bergaris, dia menyunggingkan senyum hangat pada dua pengunjung yang mampir.

“Tolong mentimunnya dua,” kata Midori.

“Baiklah,” sahut si nenek. Suaranya lembut, seperti manula kebanyakan.

“Kamu mau memakainya untuk mengumpan Kappa?” Taki berhasil membaca niatan sang kakak.

“Tentu saja. Menurut legenda, mereka suka dengan mentimun.”

“Kalian mau ke Ishikawa, ya?” Midori lagi-lagi dikejutkan oleh gelagat si nenek.

“Benar. Kami mau mencari Kappa.”

“Kappa?” ulang wanita tua itu. Dahinya agak berkerut. “Dulu, anakku Hiroshi, katanya pernah bertemu satu ekor di delta Ryuzagi. Tapi itu sudah lima tahun yang lalu.”

“Benarkah?” Midori langsung gelagapan. Ia terlalu senang untuk mencerna perkataan si nenek yang jelas-jelas mengisyaratkan bahwa mungkin saja si Kappa sudah tidak ada lagi.

“Ya, begitulah. Beberapa tahun sebelumnya, suamiku juga pernah bertemu segerombolan Kappa saat sedang berburu di hutan.”

Kaki Midori seketika gentar. Keringat semangat setetes demi setetes membaluri tubuhnya. Lelaki itu kini punya fondasi yang kuat untuk terus melanjutkan pencarian.

“Sudah kuduga! Pasti yang kulihat waktu itu Kappa sungguhan!” ujarnya sumringah.

“Kalau aku boleh tahu, mengapa kalian ingin menemui Kappa?” Si nenek memberanikan diri bertanya.

“I-itu … kami mau membuktikan kepada masyarakat kalau Kappa bukanlah mitos belaka. Mereka harus tahu, dan aku tidak akan dianggap sebagai pembuat sensasi lagi.”

“Niatmu sangat baik, Anak muda. Akan tetapi, biar kuberi tahu kau. Kappa yang nyata ini sangatlah berbeda dari dongeng-dongeng tentangnya. Mereka mengandung kutukan. Kutukan yang sangat jahat.”

“A-apa maksud Anda?” Midori menatap lawan bicaranya lekat-lekat.

“Suamiku, setelah pertemuannya dengan gerombolan Kappa, dia jadi sangat berambisi untuk menjalin pertemanan dengan mereka. Setiap hari, pria bodoh itu selalu pergi ke hutan, berteriak-teriak tak karuan, berharap Kappa-kappa itu datang lagi. Namun, tidak. Warga desa justru menganggapnya gila, dan dua hari setelahnya, suamiku ditemukan meninggal di delta Ryuzagi. Orang-orang beranggapan dia sengaja menenggelamkan diri di sungai, tetapi aku yakin, itu semua pasti ulah Kappa.” Kala bercerita, Midori tahu bahwa si nenek mengisahkan sebuah kenyataan.

“Lalu bagamana dengan Hiroshi? Anak Anda?” Taki tiba-tiba menyahut.

“Kisah anakku tidak jauh berbeda. Karena ambisinya untuk mencari para Kappa, Hiroshi jadi melupakan sekolah dan kehidupannya. Dan, pada akhirnya ….” Wanita tua itu menghela napas. “Aku terpaksa bersikap keras, berusaha sebisa mungkin membuatnya tidak betah tinggal di desa ini. Akhirnya, tepat tiga tahun lalu Hiroshi kabur meninggalkan rumah bersama pacarnya. Aku tentu sedih, tetapi setidaknya nasib Hiroshi tidak seburuk ayahnya.”

Taki dan sang kaki saling menatap. Mereka tak pernah tahu kalau Kappa merupakan makhluk beringas yang mengandung kutukan. Terlebih Taki, niatnya untuk membantu Midori seketika padam.

“Ta-tapi … adakah cara untuk menemui mereka dengan damai?” Midori berusaha tetap melanjutkan penjalanannya.

“Aku bukan pawang Kappa. Aku hanya menceritakan kisah hidupku yang buruk.”

Lelaki berambut cepak itu mendengus lesu. Sesaat si nenek menyerahkan kantung mentimun mereka, Midori segera membayarnya dan beranjak dari kedai tersebut. Jakun Taki naik-turun ketika memikirkan nasib mereka setelah ini. 

“Kamu masih mau mencari mereka?” Dia mengerling pada Midori.

“Aku tahu ini sangat berbahaya. Akan tetapi, nggak pernah ada yang namanya kesempatan kedua. Jika menyerah sekarang, mungkin kita bakal selamanya miskin.” Midori kembali mengarang kisah. “Lagi pula, aku sudah pernah melihatnya dan nggak ada apa pun yang terjadi padaku.”

“Kamu dengar cerita nenek itu?” Taki tiba-tiba berhenti. “Dia bilang, saat pertemuan pertama kau bakal jadi sangat ambisius untuk menemukan mereka. Lalu, ketika kalian bertemu lagi, maka Kappa-kappa itu bakal membunuhmu dengan kutukan mereka.”

Andai Taki tahu cerita yang sebenarnya. Andai anak itu tahu kalau kakaknya ini berada di ambang karir, sudah pasti ia akan mengerti betapa terdesaknya Midori. Mati di tangan para Kappa atau dipecat oleh atasan, Midori benar-benar tak habis pikir.

Sebelumnya ia kelewat menderita, tatkala kedua orangtua mereka bunuh diri karena beban ekonomi. Memang, waktu itu Taki masih terlalu muda untuk mengerti. Akan tetapi, Midori tidak! Ia melihat sejelas-sejelasnya bagaimana sang ibu menusuk dada ayahnya lalu memutuskan gantung diri.

Semenjak kematian orangtuanya, hak asuh Midori pindah ke tangan sang nenek. Di desa kecil inilah nenek mereka hidup dan bekerja serabutan demi menghidupi cucu-cucunya. 

Sungguh, seakan kesialan tak pernah jengah menghampiri hidup mereka, beberapa tahun lalu Sang nenek akhirnya meninggal karena sakit-sakitan. Itu artinya, Midori harus bertahan hidup sendiri sekaligus menanggung kebutuhan Sang adik, Taki.

“Kita harus mencari delta Ryuzagi.” Midori berjalan mendahului Taki.

“Tu-tunggu! Kamu nggak serius, kan? Kappa itu berbahaya!” Taki cepat-cepat menyusul kakaknya. “Buat apa makan makanan enak kalau nyawa kita jadi taruhan?”

“Diamlah, Taki! Ini bukan hanya persoalan makanan enak. INI SOAL MENGUBAH HIDUP!”

“APANYA YANG MENGUBAH HIDUP?!” Taki tak mau kalah nyaring.

“Sekarang katakan padaku, Taki! Bisakah kamu pikirkan cara lain untuk membuat hidup kita lebih baik?” Tatapan Midori menusuk.

“A-aku nggak tahu.”

“Ya! Kamu nggak tahu, nggak pernah mau tahu! Kamu pikir buat apa aku repot-repot mempertaruhkan nyawa di gunung Ishikawa? Itu untukmu! Aku ingin kamu hidup lebih layak dari kakakmu ini.”

“Kalau begitu aku nggak mau hidup lebih layak darimu! Aku ingin hidup seperti ini saja.” Bola mata Taki berkaca-kaca. “Berhentilah, Midori!”

Midori sontak terdiam. Adiknya berusaha menyelamatkan nyawanya, tetapi ia justru bersikap masa bodoh. 

Ketika nyaris menyetujui usul untuk pulang ke rumah, pikiran-pikiran buruk mengenai hidup kembali menghampiri kepala Midori. Alhasil, dia jadi tak karuan lagi.

“Aku nggak bisa pulang. Jika kamu nggak mau membantu, maka kita akan berpisah di sini.”

“Kamu keras kepala sekali!” Taki menggeram, tetapi kemudian tubuhnya melunglai. “Kelihatannya kita memang ditakdirkan mati bersama. Baiklah, Midori. Aku akan ikut denganmu.”

Si kakak cuma melongo seraya memikirkan perubahan sikap adiknya yang tiba-tiba.


~~Para Pengendali Mimpi~~


Pohon-pohon rimbun Ishikawa menjulang tinggi, sebagiannya menutupi sinar matahari. Gunung itu gelap dan lembap, terlebih ada banyak serangga hutan yang berseliweran. Mungkin saja, Sang Kappa tengah menunggu orang-orang bodoh yang nekat mencari mereka. Hingga saat itu tiba, maka Midori dan Taki adalah korban yang paling menarik.

“Kita sudah memasuki hutan Ishikawa,” ujar Midori. “Ayo cari aliran sungai Ryuzagi.”

“Di sini sangat sepi. Kalau terkena masalah, mungkin takkan ada yang mendengar teriakan kita.” Taki memandangi keadaan di sekitarnya. Hanya ada kerik serangga hutan sebagai kebisingan utama.

“Jangan berpikir yang tidak-tidak.”

Kedua orang tersebut terus menelusuri hutan, menyingkap sulur-sulur tanaman yang menghadang, menembus sesemakan yang serasa ingin menelan kaki-kaki mereka. 

Hari yang semakin terik disambut oleh suara perut Taki. Dia kelaparan. Namun, Midori masih fokus pada pencarian. 

“Sampai kapan kita di sini?” ujar Taki.

“Petang baru kita pulang.” Midori menyahut tanpa menoleh sedikit pun.

“Aku sudah kelaparan.” Taki mendengus pasrah.

“Bertahanlah sebentar saja. Kita hampir sampai.”

Sungguh kalimat Midori jadi kenyataan! Ketika menyibak tanaman berdaun tinggi di hadapannya, tampaklah aliran sungai Ryuzagi yang dicari-carinya selama ini. Wajah lelaki itu langsung sumringah. Dia begitu antusias melihat airnya yang jernih.

“Kita semakin dekat dengan Kappa, Taki,” katanya.

Taki yang menghampiri tampak biasa-biasa saja. Maklum, anak itu kurang mengerti dengan keindahan alam atau sejenisnya. Ia cuma ingin keroncongan di perutnya lekas berhenti.

ZRASH!

Sekelebat bayangan melaju cepat, membuat Midori dan adiknya gelagapan. Mereka sempat terdiam, tetapi langsung menyusul karena berasumsi bayangan tersebut milik Kappa. Midori menghalau arus sungai, ia melupakan sepatunya yang kuyup akan air. Sementara itu, Taki kepayahan mengikuti sang kakak, terutama di saat-saat kritis seperti ini.

“Ayo, Taki!” 

“Tunggu sebentar!”

Bunyi langkah cepat masih terdengar di depan sana. Midori sudah kehilangan akal sehat. Dia mempercepat pengejaran, sedangkan Taki terjebak di derasnya arus sungai.

“Midori! Midori! Tunggu aku!!!”

Sudah terlambat! Midori bergerak seperti dirasuki setan. Ia terus menyeringai, membayangkan bagaimana nasibnya setelah foto Kappa yang asli dapat dibuktikan. 

Saat dirinya berhasil mencapai tanah, lelaki itu langsung tancap gas, lebih cepat daripada sebelumnya. Bahkan, kini ia dapat menyaksikan jejak-jejak aneh terbentuk di sepanjang tanah lunak tepi sungai.

“Aku bakal mendapatkamu, Kappa!” Tangan-tangan itu—di saat masih berlari—bergerak menyiapkan kamera untuk mengambil foto. 

“AKU BAKAL MENANG!”