Episode 20 - Ksatria


Bagas mendapatkan masalah baru di musim, semester, dan suasana yang baru itu.

Itu adalah Erina yang datang ke rumahnya untuk menerima sebuah pertolongan yang ditawarkan oleh Risak. Alasan kenapa dia bisa sampai ke situ adalah, Afita tak lagi bisa memberikan tempat baginya untuk menumpang.

Dan tak ada lagi seseorang yang mengenalnya yang bisa memberikan pertolongan. Namun, Risak dengan mudahnya menyeret dia ke rumah untuk memberikan sebuah tempat.

Bagas juga tak bisa menolak atau keberatan dengan keinginan Risak karena suatu alasan yang tak bisa dijelaskan sekarang.

Karena itulah, setelah membereskan ruangan lama yang tak terpakai, dia menyuruh Erina untuk tidur di kamarnya. Sedangkan dia berada di ruangan sebelah.

Duduk bersandar di pinggiran balkon, disinari oleh rembulan malam saat dia mencoba membaca buku. Waktu itu musim panas, jadi rembulan bersinar terang layaknya penerangan malam.

Membaca buku sudah menjadi kebiasaan untuk mengantarkannya ke alam mimpi. Namun, untuk tertidur cepat dan pulas tidak semudah itu. Karena dia memiliki gangguan tidur sejak kecil, jadi terbangun sampai tengah malam bukanlah apa-apa.

Karena itu, membaca buku bisa menjadi alternatif untuk menenangkan pikirannya. Meskipun gangguan kecil saja bisa membuatnya bangun. Seperti yang dilakukan oleh seseorang yang menumpang di rumahnya kali itu.

Langkah kakinya terdengar kurang jelas, namun dia masih bisa menyadari keberadaannya. Dia mendekat dengan frekuensi suara yang sangat rendah. Sepertinya dia juga tak mengendap-endap untuk mendekati Bagas, tetapi perasaan apa yang bisa membuatnya setenang itu saat mendekati seseorang yang bisa saja menemukan dirinya melakukan hal seperti itu.

Erina terus mendekat padanya, sampai dia sekarang berada tepat di samping. Bagas merasakan kalau dia sedang memandanginya dengan sangat tenang sekarang. Tak ada perasaan kalau dia akan melakukan hal buruk sedikitpun.

Namun, hal itu tetap membuat penasaran dan sedikit waspada. Jadi, Bagas sedikit membuka mata yang dibalut oleh kacamata. Sedikit saja, dan dia telah mendapat pemandangan di mana Erina menunduk merasakan kepedihan yang mendalam.

Bagas mengetahui hal itu karena dia juga sedang berada dalam kondisi yang sama sekarang—perasaan pedih di saat kehilangan seseorang yang disayangi. Hanya saja, dia sama sekali tak pernah mengatakannya kepada orang lain. Mungkin saja seseorang yang sedang berada di sebelahnya ini merasakan hal yang sama.

Apa yang membuatmu merasakan kepedihan yang mendalam seperti itu?

Pertanyaan itu membuat Bagas menjadi semakin penasaran akan alasan Erina untuk mendekati dirinya. Karena itu, dia akan melanjutkan akting tidurnya untuk beberapa saat.

Dan dalam kurun waktu yang dekat itu, Erina telah menjadi sangat dekat dengannya. Sangat dekat sampai mereka bisa saja bertubrukan muka kalau Bagas mengangkat kepalanya.

Dia ingin sebenarnya untuk menghentikan perilaku Erina yang sama sekali tak bisa terbaca itu. Namun, rasa penasaran membuatnya menekan keinginan untuk membuka mata.

Erina masih dalam posisi yang sama, berada sangat dekat dengannya. Bahkan dalam jarak sedekat itu, Erina bisa saja mencuri ciuman darinya. 

Tetapi dia tak melakukannya, dia menarik wajahnya kembali, duduk seperti posisi yang sebelumnya. Dan dia mulai meneteskan air mata. 

Dalam posisi seperti itu, Erina takkan tahu kalau Bagas sedang memandanginya sekarang. Dari apa yang terlihat, air mata Erina benar-benar melambangkan kesedihan. 

Hanya saja, apa alasan Erina untuk menuangkan kesedihan itu?

Hal itu membuatnya menjadi bingung, karena apa yang dia lihat sekarang bukanlah sebuah kebohongan. Melainkan kenyataan yang sangat pahit.


***


Erina bisa saja mendapatkan kesempatan untuk mencuri sebuah ciuman dari Bagas, dan menjadikanya kenangan terindah jika saja mereka tak ditakdirkan untuk bersama.

Namun, dia tak mengambilnya. Sangat berat hati itu untuk melakukan sesuatu yang tak harus dilakukan. Bisa saja, kalau mereka tak bersama nantinya, kenangan itu akan menjadi sebuah ingatan paling menyakitkan dalam hidupnya.

Dan dia takkan bisa menahan satu lagi perasaan yang memberatkan hidupnya. Karena itu, dia kembali ke posisi yang sebelumnya. Meskipun rasa menyesal karena tak mengambil kesempatan barusan sangat menyakiti dirinya, dia harus bisa menerimanya. Menerima takdir yang mungkin saja takkan mengijinkan mereka untuk bersama.

Mengetahui hal itu, Erina tak lagi bisa memendam perasaan sedih. Dia mengeluarkan semuanya di depan seseorang yang dia cintai. Tanpa alasan yang pasti, dia menangisi apa yang tak dapat ia miliki.

Seperti seorang anak kecil, bahkan sangat persis.

Dia tak bisa menahannya lagi, dia harus mengeluarkannya sekarang. Kalau tidak, dia pasti takkan bisa menahan ledakan emosi yang telah dia tahan selama hampir 10 tahun lamanya.

Tetesan air mata bagai air mancur yang diatur sedang telah membasahi tangan Erina. Bahkan rok yang dia pakai sekarang telah menjadi saksi betapa menyakitkan perasaan yang sedang dia pendam sekarang.

Seperti berada di bawah air terjun, dia merasa tubuhnya sedang dikeroyok oleh air yang sangat amat banyak dan hal itu terasa sangat menyakitkan. 

Sampai ada seseorang yang mengurangi pengaturan air mancur tersebut.

Kepalanya seperti telah ditempelkan kain hangat. Namun, bukan kain yang sedang menempel di kepalanya. Melainkan sebuah tangan yang sore tadi juga menyentuhnya.

Sangat hangat, dan juga lembut, bahkan bisa membuat kesedihan Erina menjadi berkurang. Tak terpikirkan tangan yang besar itu memiliki perasaan yang sangat baik. Sentuhan itu tak berhenti di situ saja, dia mulai melingkari leher Erina, dan mulai menyentuh bagian belakang kepala.

Lalu, sebuah tarikan menarik tubuh Erina, membuat wajahnya berada di dada lebar seseorang.

“Apa kau pikir... kesedihan akan berkurang jika kau menahannya saja?”

Suara lembut masuk ke dalam telinga Erina. Mencapai di titik di mana dia tak bisa tak mendengarkan perkataan barusan. Perkataan itu sangat membuat Erina tersentuh dari hatinya yang paling dalam.

Perkataan yang dia pikir tak satupun seseorang akan mengatakan padanya.

Tetapi, seseorang yang seharusnya dia tolong, dan dia yang seharusnya menjadi pertolongan baginya, menjadi seseorang yang menolongnya untuk keluar dari lingkaran derita.

“Aku takkan tahu, sampai kapanpun takkan tahu apa yang kau inginkan, apa yang kau pikirkan, tapi setidaknya aku tahu satu hal, aku tahu apa yang sedang kau rasakan.”

Erina hampir mencapai batas di mana dia tak bisa lagi menahan ledakan emosi yang telah dipendamnya. Namun, dia tak bisa mengeluarkannya sekarang, karena seseorang yang akan menolongnya masih memiliki perkataan untuk dikatakan.

“Dan aku juga tahu satu hal, kepedihan—semua kesedihanmu itu berasal dariku. Tapi, aku sama sekali tak bisa mengingat, ataupun mengetahui apapun tentang apa yang sudah kulakukan terhadapmu. Perlakuan seperti apa yang kulakukan dulu sehingga membuatmu menjadi sangat kesepian seperti ini.”

Bagas sedikit menyentuhkan bibirnya ke rambut keemasan Erina. 

“Jadi, kalau kau tak mengatakannya padaku, sampai kapanpun aku takkan mengerti penyebabnya.”

Hanya untuk sesaat, Bagas menenangkan Erina dengan sebuah kecupan di atas kepala. Hal itu menjadi seperti sebuah pemicu bagi Erina, yang mana sedang menahan kepedihan yang sangat mendalam, membuatnya meledak karena tak lagi bisa tertahankan.

Bagaikan air mancur yang diatur sangat deras. 

Hal seperti itulah yang terjadi pada Erina sekarang. Dia mengeluarkan semuanya di dada seseorang yang dia cintai. Dada seseorang yang telah menyebabkan kepedihan yang begitu dalam yang dia rasakan.

“Aku hanyalah lelaki bodoh, yang mengabaikan semua yang telah kumiliki, karena sebuah alasan yang membuatku tak bisa berhenti mengingat dan takkan bisa melupakannya.”

Erina tahu maksud dari perkataan Bagas barusan. Kepedihan yang saat itu juga dia rasakan, dan pastinya, kesedihan itu terlihat melebihi kesedihan yang dirasakan Erina sekarang.

Namun, Bagas hanya terlihat sedang menyembunyikan kepedihannya yang paling dalam. Tanpa ingin seseorang untuk menolongnya.

Tetapi tetap saja, hati Erina tak sekuat dan tak bisa lagi menahan kepedihan itu. 

Dia mencoba memeluk Bagas.

Namun, dia masih tak memiliki keberanian untuk melakukannya dan hanya berpegangan pada baju Bagas. 

Berpegangan karena dia takut untuk jatuh lebih dalam ke jurang penderitaannya. 

Malam itu menjadi malam di mana Erina menuangkan semua kesedihan yang telah dia tahan selama kurang lebih 10 tahun lamanya.

Dia bahkan telah lupa kalau dia telah tertidur.

Sinar mentari masuk melewati celah-celah ruangan. Pintu balkon yang saat itu hanya tertutup oleh horden transparan tak bisa menghalangi masuknya cahaya. Membuat Erina tak nyaman dengan sinarnya.

Namun, tidurnya harus selesai saat seseorang mencoba membangunkannya—memegangi bahu dan mengguncang-guncangnya. Hal itu membuat Erina tak nyaman dan sedikit membuka kelopak mata.

Di situ muncul sosok yang telah mengurangi kepedihan yang telah dia tahan. 

Bersinar cahaya mentari, diterpa oleh angin semilir yang masuk, bagaikan seorang ksatria yang menariknya dari lubang penderitaan.

“Bangunlah.”

Suara maskulin itu membangunkan Erina dari tidur.

“Hari ini hari pertama sekolah. Aku harus pergi.”

Erina mencoba untuk mengangkat tubuh lewat tangannya. Berusaha sekuat mungkin karena dia telah lelah—lelah karena telah begadang.

Tubuhnya sedikit kaku, dan dia mengulat untuk mengembalikan kinerja semua otot-ototnya. Sampai dia tersadar satu hal, dada yang terbilang cukup besar dan menonjol, menjadi daya tarik yang takkan terlewat untuk dinikmati oleh mata yang mencari nafsu.

Namun, tidak pada ksatria yang telah membangunkannya dalam tidur, ksatria itu dengan gagahnya berdiri membelakanginya. Angin semilir membuat sosok itu semakin gagah dibuatnya.

“Cepatlah.”

Tanpa basa-basi, ksatria itu—Bagas menyuruh Erina untuk cepat dan pergi meninggalkannya.

Sebelum itu, dia telah teringat satu hal; apa yang sudah terjadi tadi malam?

Memikirkannya, membuat perasaan gugup menyerang jika saja dia akan bertatapan dengan Bagas lagi. Apalagi hubungan mereka yang tak jelas, apakah teman? Apakah keluarga? Apakah hanya seseorang yang menumpang dan memberikan tumpangan? Membuat perasaan canggung akan selalu menyerang jika Erina tak bisa memertahankan pertahanannya.

Akan tetapi, pertahanannya telah hancur lebur akibat kejadian tadi malam. 

“Cepatlah. Apa yang kau tunggu?”

Suara itu membuat lamunan Erina melebur. Dia melihat kalau Bagas sedang memandangi dan juga menunggunya. Menyadari hal itu, dia langsung bangkit dari kasur dan berjalan mengikuti Bagas.

Dari belakang, terlihat punggung dari sosok seseorang yang telah menolongnya. Di waktu sebelumnya, punggung itu terlihat jauh dari Erina. Namun, entah bagaimana, sekarang punggung itu tampak dekat, dan semakin dekat.

Sampai di dapur, di atas meja makan telah tersedia sarapan pagi. Itu adalah nasi goreng yang kelihatan sangat lezat.

“Pergilah ke kamar mandi lebih dulu.”

Bagas, kali ini kelihatan lebih mengarah ke meminta Erina untuk melakukan apa yang dia katakan daripada menyuruh ataupun memerintah.

Erina langsung pergi ke kamar mandi, ruang pertama untuk membenahi diri. Wajahnya kelihatan kusut karena apa yang telah terjadi padanya tadi malam. Bekas-bekas air mata yang terjatuh masih terlihat jelas.

Akan tetapi, bekas-bekas itu terlihat sudah tersapu. Meskipun Erina tak mengingat dia mengusap-usap air matanya sewaktu menangis tadi malam. 

Tak perlu memikirkan hal itu sekarang, apa yang harus dia lakukan adalah cepat membenahi diri dan datang untuk sarapan. 

Sebuah senyuman terbentuk saat sekali lagi dia memandangi dirinya di depan kaca. Tentu saja dia melakukannya, karena hari itu, dia telah membuat sebuah kemajuan.