Episode 19 - Suasana Baru



Sore hari menyongsong.

Sinar kejinggaan mentari memerlihatkan keindahannya.

Pada saat itu juga, dua orang yang melakukan pekerjaan rumah untuk membereskan sebuah kamar telah selesai. 

Waktu itu mereka juga sudah mendapatkan makanan penjanggal sebelum makan malam. Sebelum itu, mereka harus mandi karena sejak pagi mereka terus bekerja dan mengeluarkan cukup banyak keringat. Mengakibatkan bau badan menyerang dan sangat tak sedap untuk dicium. 

Hal itulah yang akan dilakukan Erina sekarang. Sepanjang hidupnya, dia sama sekali tak pernah melakukan pekerjaan yang cukup berat seperti itu sebelumnya. Membuatnya kesusahan tentang apa yang harus dilakukan dengan ini dan itu sewaktu bekerja.

Dia berada di dalam kamar mandi setelah memersiapkan pakaian ganti. Sedangkan, Bagas berada di belakang rumah untuk memersiapkan alat pemanas air. 

Dia masuk ke dalam. Kamar mandi itu cukup luas, ukurannya sekitar 4x5 m. Kloset yang digunakan model jongkok. Dan bak mandinya berukuran besar yang bisa digunakan untuk berendam.

Dia selesai mandi dan telah berganti pakaian. Pakaian yang dia pakai sekarang adalah pakaian yang dipinjamkan oleh Refa—baju lengan panjang dan rok serta celana ringan. Ukurannya memang cukup besar bagi Erina, tetapi dia menggulung bagian yang molor untuk membuatnya pas—terutama di bagian lengan.

Dia sedang berada di depan kaca sekarang. Mengeringkan rambut yang baru saja dibilas dan menyisirnya.

“Apa kau sudah selesai?”

Bagas bertanya dari luar pintu. Erina bergegas dan membukakan pintu untuknya.

“Y-ya, aku sudah selesai.”

“Kalau begitu, keluarlah.”

Erina sedikit terkejut dengan perkataan itu, namun ketika dia mengingat kalau ingin untuk mengganti pakaian kau harus ke ruang pertama, dia segera keluar dan membiarkan Bagas masuk untuk bergantian.

Terdengar pintu dikunci dari dalam. Lalu, Erina tersadar sesuatu kalau sebelumnya dia tak mengunci pintu kamar mandi dari dalam. Membuatnya merasakan malu yang terlambat.

Saat menyembunyikan wajahnya dari entah apa, dia merasakan angin silir masuk lewat pintu dapur. Suasana sore hari masih terasa karena matahari masih tampak dari ufuk barat. Hanya tinggal beberapa waktu lagi baginya untuk berganti piket dengan rembulan.

Erina keluar karena mendapati godaan kenikmatan dari suasana sore hari. Memakai sendal luar rumah yang kebesaran baginya, lalu berjalan ke belakang. Dari situ dia mendapat pemandangan di mana ladang padi seluas mata memandang.

Waktu itu adalah masuknya musim baru, jadinya padi yang tumbuh masihlah kecil dan belum bisa banyak bergerak ketika diterpa oleh angin. Membuat semilir angin yang berputar-putar di udara menerpa hal tinggi apa saja yang berdiri tegak.

Erina merasakan angin yang menerpa itu dan membuat rambut yang baru saja dia rapikan beterbangan. Dia menahan angin dengan satu tangan, meskipun hal itu tak terlalu membawa perbedaan yang besar.

Horizon di ufuk timur sudah mulai terlihat gelap. Barisan bukit yang berada di arah yang sama mulai memerlihatkan keindahannya. Erina baru pertama kali melihat sesuatu seperti itu, membuatnya sangat menikmati pemandangannya.

Di bagian belakang rumah, terdapat sebuah gudang yang cukup besar ukurannya. Lalu terdapat satu pohon jati yang juga besar ukurannya, namun tak terlalu tinggi. Melainkan, pohon untuk membentuk lengkungan ke bagian bawah ladang. 

Ketika Erina kembali melangkah ke depan, dia menemukan kalau dataran di ladang berada sedikit ke bawah. Daratan yang dia injak sekitar berada lima meter di bawah.

Dia memandang kembali ke arah pohon jati yang gemuk dan memiliki banyak daun yang bisa menjadi atap di bagian bawah. Di salah satu batang juga terdapat sebuah ayunan yang terbuat dari ban mobil.

Lalu, ketika dia kembali menatap ke depan, sebuah pemandangan menakjubkan terlihat. Itu adalah bukit yang dijadikan sebagai latar tempat sekolah di bangun. Hal yang membuatnya menakjubkan adalah, suasana yang berada di sekitar wilayah sekolah.

Sangat hijau, indah dan bervariasi. 

Kata-kata itulah yang dapat mewakili ketakjuban Erina saat melihat pemandangan sekolah dari jauh. 

Kemudian, dia mendengar sebuah suara air yang terguyur. Itu berasal dari satu jendela lewat belakang rumah. Erina dibuat penasaran dan pergi ke jendela itu.

Jendela baru saja dibuka oleh seseorang, dan saat kabut telah terurai di udara, terlihat satu sosok yang dia tahu baru saja bergantian mandi dengannya.

Rambutnya dikeringkan dengan handuk. Terpampang tubuh yang lumayan atletis untuk ukuran lelaki yang jarang terlihat berolahraga seperti Bagas. 

Bagas telah selesai mengeringkan rambutnya, meskipun terkesan acak-acakan, Erina sempat dibuat terkesima dengan penampilannya yang saat itu. Namun, dia juga tak sadar kalau seseorang yang sedang dia pandang juga sedang memandanginya.

Erina menjadi gugup seketika saat dia ketahuan sedang melakukan perilaku yang termasuk mengintip itu. Dia buru-buru membalik tubuhnya dan mengucapkan permintaan maaf dengan keras.

“M-maafkan aku!!”

Tak ada jawaban.

Erina juga tahu hal itu, dan dia merasa pasti Bagas akan sedikit tak menyukainya sekarang.

Tentu saja, sesuatu hal seperti mengintip seseorang yang sedang mandi juga termasuk pelecehan. 

Erina tahu kalau wajahnya sekarang telah berubah merah. Bahkan angin sore yang menerpa tak bisa meredam perasaan malu yang sangat itu. 

Angin kencang terus menerpa, bahkan kali ini membuat rambutnya beterbangan tak karuan. Dia menjadi depresi akibat hal itu. Membuatnya bergegas masuk ke dalam, mencari kaca dan juga sisir untuk merapikan rambutnya kembali.

Namun, ketika dia hendak membuka pintu kamar mandi ruang pertama, pintunya terkunci. Hal itu semakin membuatnya kesal di saat rambut yang menjadi daya tarik paling berkesan bagi perempuan terlihat kacau.

Saat dia mencoba semakin keras, suara kunci terbuka terdengar. Lalu dalam momen sesaat, dia hampir terjatuh ke depan. Namun bukannya jatuh, dia malah sedang berada di pelukan seseorang sekarang.

Dalam sekejap, dia telah mengingat kalau sebenarnya masih ada seseorang di dalam kamar mandi sebelum dia mencoba membuka pintu. Hal itulah yang menjadi penyebab pintu kamar mandi masih terkunci.

Tetapi, dia terlambat untuk menyadari hal itu, dan seseorang yang berada di kamar mandi telah melihatnya dengan wajah datar yang sama sekali tak bisa ditebak.

“M-maaf, kupikir tadi kamu sudah keluar!. Dan, i-itu...”

Dia dengan cepat menarik tubuhnya dan mengucapkan permintaan maaf dengan sangat gugup.

Bagas telah selesai berpakaian. Penampilannya terlihat lebih menarik saat dia tampak lebih segar. Namun, Erina tak memiliki waktu untuk menyadari hal itu, apalagi di saat sebuah tangan akan menyentuhnya.

Tangan yang berukuran cukup untuk menekan seluruh bagian kepalanya. Kemudian, tangan itu menarik Erina masuk ke dalam lewat kepala, saat tangan itu terlepas dari kepalanya, dia telah berada di depan cermin.

Bagas tak lagi terlihat di dalam ruangan. Erina sangat gugup dalam menanggapi kejadian barusan. Dia lalu berpikir apakah Bagas marah? Ataukah dia juga seperti sebelumnya—tak peduli.

Erina sama sekali tak bisa menebak perasaan di balik ekspresi datar Bagas. 

Namun, sesaat dia bisa merasakan kehangatan yang datang dari tangan yang menyentuh kepalanya barusan. Dia menyentuh titik itu dan merasakan kembali kehangatannya.

Erina menjadi lebih tenang dengan mengetahui hal barusan. Kalau sebenarnya Bagas bukanlah seseorang yang kasar, dia bahkan sama sekali tak terlihat seperti seseorang yang akan membenci orang lain karena suatu hal sepele.


Malam hari telah tiba.

Erina sekarang berada di kamar yang diijinkan untuk dia pakai oleh pemiliknya. Kamar Bagas.

Dia duduk di pinggir kasur, berpikir apakah ini tidak apa-apa?

Namun, saat Erina ingin mengulang pertanyaan yang sama, perasaan dia tak boleh melakukan hal itu menyerang. Entah dari mana datangnya, bahkan sekarang dia masih merasakan perasaan yang sama.

Dia sangat gugup, apalagi dia sekarang berada di kamar seorang laki-laki. Meskipun pemiliknya tak berada di kamar yang sama, tetap saja membuat hati seorang gadis menjadi gundah bulana.

Bagas berada di kamar sebelah, pintu kamar mereka terbuka karena Erina meminta untuk hal itu. Bagas sekali lagi menyetujui permintaannya tanpa berpikir panjang tentang apapun.

Erina mengintip lewat pintu. Dia sekarang ada di balkon luar, sedang membaca buku. Ekspresinya sangat tenang, dan membuat Erina terpana terutama saat rambut ruby kehitamannya tergulai di terpa oleh angin malam.

Erina kembali ke posisinya dan melihat keadaan sekitar. Dia diijinkan untuk melakukan apapun dengan kamar itu, kecuali membuatnya kacau serta menciptakan keributan. Tentu saja dia takkan melakukan hal semacam itu.

Dia menjadi semakin gundah saat jam sudah mulai menunjukkan angka 10 di jarum pendek. 

Di rumah Afita dulu, dia tertidur di jam yang tak setelat itu. Bahkan tak jarang dia tertidur di jam tidur yang sama dengan Adi. Namun, di posisinya sekarang, tidur secepat itu tak mungkin. 

Itu karena dia sedang berada di rumah dan kamar orang lain, dengan hanya seorang laki-laki. Meski dia memang memiliki impian untuk memiliki rumah yang sama bersama dengan laki-laki—pria yang ada di kamar sebelah, tetapi hal semacam itu terasa terlalu cepat baginya.

Sangat terkesan terburu-buru. Dia bahkan sama sekali tak pernah berpikir hal ini akan menjadi seperti sekarang. Risak—si pemilik rumah telah memberinya ijin untuk tinggal, tetapi dia sama sekali tak berpikir untuk ditinggal olehnya.

Dia mencoba untuk melepas bebannya dengan menghirup udara segar dan membuangnya. Lalu berjalan ke arah rak buku sebelum memilih buku yang akan dia baca.

Rak itu dipenuhi dengan banyak jenis buku. Dan, semua itu tertata rapi berdasarkan jenisnya.

Dua baris terdapat jenis buku yang mewakili sejarah, memfokuskan tentang suatu teori fisikiawan, dan juga beberapa majalah tentang penemuan abad ini.

Tiga barisan terakhir fokus pada buku novel. Dan setiap baris mewakili bahasa dari novel yang ada. Dimulai dari bahasa indonesia, inggris, dan yang terakhir adalah jepang.

Satu hal lagi, novel-novel yang bukan berasal dari indonesia murni berbahasa asing. Bahkan dia menemukan satu seri novel yang sangat laris di dunia. 

Erina juga menemukan novel yang berbahasa jepang juga sama—murni berbahasa jepang. Saat itu, dia hanya sedikit bisa mengerti bahasa dari novel jepang yang dia pegang sekarang. 

Namun, dia menyadari satu hal saat memerhatikan bentuk dari rak itu. Terdapat satu sisi yang tak mengarah ke depan, melainkan mengarah ke samping. Di sisi itu terdapat barisan buku komik. Dimulai dari bagian bawah dan atas. 

Beberapa saat kemudian, dia telah mendapatkan buku yang ingin dia baca. Itu adalah seri nover terlaris di dunia, volume pertama. Erina sangat menikmati membaca buku itu sampai dia lupa waktu.

Jam sudah menunjuk ke arah angka 12. Dia menyadari hal itu saat karbondioksida keluar lewat mulutnya dan dia melepaskan genggaman buku untuk menutupi mulutnya.

Dia juga menyadari kalau cahaya rembulan yang masuk lewat balkon masih terlihat. Dia mendapati kalau Bagas masih ada di tempatnya. Sama sekali tak berpindah.

Erina mencoba untuk mendekat tanpa membuat banyak suara. 

Dia telah berada tepat di sosok yang sedang menutup matanya. Posisinya seperti seorang yang sedang beristirahat setelah bekerja seharian, menyandar di sisi balkon, satu lututnya membentuk sudut 90 derajat, satu tangannya juga dinaikkan di atas lutut. Posisi kepalanya menghadap ke atas.

Udara yang menerpa wajah tampan itu sangat menggoda. Erina terus memandanginya. Dan saat dia mengingat semua hal yang sudah dan akan terjadi. Dia menjadi gelisah dan mendapat godaan untuk lebih mendekat ke Bagas.

Erina sama sekali tak memiliki niat untuk melakukan perbuatan buruk, hanya saja, saat memikirkan kalau dia bisa saja tak akan bertemu lagi dengan sosok yang berada di depannya sekarang. Hatinya menjadi sakit.

Jika saja dia memiliki kesempatan untuk membuat kenangan terindah dengan seorang yang dia cintai. Inilah saat yang tepat. 

Erina mendekatkan wajahnya, semakin dekat. Lalu dia mencoba mengarahkan bibirnya ke arah bibir lawan jenisnya itu. Jarak mereka semakin dekat, sampai...