Episode 18 - Kondisi Baru



Elang telah kembali pulang.

Erina mendapati kepercayaan diri setelah berbicara dengan adiknya.

Dan saat dia hendak naik ke lantai dua, Bagas turun dan menatapnya. Momen yang sesaat itu mengejutkan Erina.

“Ikut aku untuk mengambil beberapa barang.”

Bagas kembali berjalan di saat berbicara tentang mengambil alat-alat kebersihan dan Erina diperintah untuk membantunya.

Seperti biasa, sikapnya sangat cuek dan bahkan dia tak menatap Erina sewaktu berbicara. Meskipun Erina tak berharap banyak, tetapi tetap saja itu hal yang termasuk tidak sopan untuk dilakukan. Terutama ketika kau berbicara dengan seseorang yang lebih tua.

Erina segera mengikuti Bagas ke belakang. Tepatnya mereka menuju ke ruang pertama di dalam kamar mandi. Di sudut ruangan, terdapat alat-alat kebersihan. 

Bagas mengambil semua yang dibutuhkan dan membiarkan Erina memegang semuanya. Lalu dia mengambil satu buah ember guna untuk mengisinya dengan air dan dijadikan untuk mengepel lantai dan mengelap beberapa hal.

Mereka telah siap dengan semua alatnya dan pergi ke lantai dua—sebelum itu, Bagas mengambil alat yang dirasa susah untuk dibawa Erina seorang.

Mereka menuju ke ruangan yang hendak dibersihkan. Menaruh semua alat di pinggir dan sebelum mulai membersihkan, mereka menyingkirkan beberapa hal yang dianggap membuat ruangan terasa menyesakkan.

Setelah hal itu dilakukan, mereka baru mulai membersihkan semuanya. Debu yang menyangkut di tempat-tempat yang cukup tinggi di bersihkan. Lalu setelah jatuh ke permukaan lantai semuanya dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam plastik pembuangan.

Sempat terjadi satu hal yang cukup mengejutkan. Saat Erina melihat ke dalam kolong bawah kasur untuk menemukan hal yang dianggap sampah. Dia dikejutkan dengan kedatangan serangga pembawa bencana, kecoa. 

Dia tak menduga kedatangan serangga itu dan melompat karena saking terkejutnya. Dan saat mendarat, menemukan dirinya berada di atas tubuh seseorang adalah hal yang paling mengejutkan selanjutnya.

Posisinya menyamping saat berada di atas tubuh seorang itu. Hal seperti ini memang pernah terjadi, hanya saja kali ini seorang yang menjadi bantalan menyiapkan dirinya agar tak membentur lantai dan menggunakan kedua siku untuk menahan.

Wajah mereka bertemu. Erina tak mengetahui tepatnya, tetapi, pasti wajahnya sedang sangat merah sekarang. Sedangkan, seseorang yang menjadi bantalannya, menatap dengan datar seolah dia juga tak peduli dengan yang terjadi barusan.

“M-maaf!”

Erina menyingkir setelah meminta maaf. 

Bagas bangkit dan mengambil alat pengumpul sampah. Mencari kecoa yang barusan datang, memukulnya, mengangkatnya dan membuangnya ke luar, seperti tanpa ada masalah sama sekali saat dia melakukannya.

Lalu, dia berjalan menuju ke arah Erina. Erina menjadi sangat canggung karena hal barusan, namun, Bagas tak menegurnya dan hanya menyuruh menunggunya di kamar. Sedangkan dia pergi ke bawah, sepertinya untuk mengambil sesuatu.

Erina menunggu seperti yang diperintahkan. Dia menunggu dengan mempertajam indera untuk menghindari kontak dengan serangga lagi. Hanya saja, dia melakukan itu dengan ekspresi ketakutan di wajahnya.

Dan saat Bagas telah kembali, dia membawa sebuah semprotan yang merupakan racun serangga. Menyemprotkannya ke tempat-tempat yang dirasa merupakan tempat bersembunyi bagi para serangga terutama kecoa. 

Setelah melakukan itu, dia menyuruh Erina untuk berada di luar balkon sambil membawa ember dan lap untuk membersihkan jendela balkon luar yang terbuat dari kaca tembus pandang. Sedangkan Bagas masih di dalam, mengerjakan pekerjaan yang tersisa.


Erina masih berada di luar dan telah selesai mengerjakan pekerjaannya. Dan pada saat itu, dia melihat seekor kecoa merangkak keluar dari persembunyiaannya. Dia terkejut dan sedikit berteriak. Namun, seorang yang berada di dalam dengan tenangnya menyerok kecoa itu dan menaruhnya ke dalam plastik pembuangan.

Tak hanya satu kecoa yang keluar, tetapi dua, tiga dan lebih banyak lagi. Erina merasa jijik dengan meraka di saat Bagas dengan santainya malah memanen kecoa-kecoa itu.

Kondisi dari kecoa-kecoa itu adalah tak berdaya. Pasti hal itu terjadi karena akibat dari semprotan racun barusan. Membuat mereka keluar dari tempat persembunyian dan terkapar setelah kabur dari area penuh udara beracun.

Bagas telah selesai memanen semua kecoa yang ada di ruangan. Mungkin tak ada lagi atau hanya tinggal satu atau dua yang masih tersisa. Hal itu juga tak terlalu menjadi ancaman karena mereka takkan keluar kalau situasinya seperti itu.

Bagas mengikat plastik yang mana berisi penuh dengan kecoa. 

Pintu kaca teras dibuka. Erina masih kelihatan ketakutan karena kejadian barusan. Bertanya apakah sudah selesai dan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.

Hari itu sudah mulai siang. Dan yang paling aneh adalah, mereka bahkan belum sarapan tetapi sudah bekerja sekeras itu.

“Kita akan sarapan dulu.”

Dan begitulah, mereka menghentikan pekerjaan sejenak dan pergi ke dapur.

“J-jadi, sarapan kita hari ini apa?”

Erina mencoba mencairkan suasana dingin dengan mencoba menjadi akrab. Meskipun dikatakan sarapan, tetapi waktu itu sudah siang, tetapi mereka masih belum sarapan, mungkin karena itulah Bagas menyebutnya begitu.

Ketika mereka sudah sampai di dapur, Erina bertanya seperti itu, tetapi Bagas tak menjawab dan hanya mengangkat plastik yang penuh dengan kecoa. Erina terkejut dengan perilaku Bagas yang satu itu.

Dia hendak menampik pernyataan tidak langsung Bagas, namun dihentikan oleh perilaku mendadak dari lelaki yang akan memasak sarapan pagi itu. Dia mengayunkan plastik penuh kecoa dan membuangnya tepat ke keranjang sampah.

Erina tahu dia hanya akan mengganggu dan memutuskan untuk menunggu sambil duduk di kursi.

Bagas memulai pekerjaannya. 

Satu ikat sayuran hijau dedaunan yang ada di keranjang belanjaan yang diantarkan Rini pagi itu diambil. Dibuka dan dituangkan ke baskom berukuran sedang. Bagas mencuci sayuran hijau—yang Erina tahu itu adalah kangkung—sebelum dimasak. 

Anehnya, Bagas tak bertanya dan tanpa ingin tahu masakan apa yang akan mereka makan. Erina juga tak memiliki hak untuk protes tentang masakan apa yang akan mereka makan. Dia hanya berharap kalau Bagas bisa memasak sayur kangkung seenak yang pernah dia coba sewaktu bersama dengan Afita.

Bagas mengambil wajan dan menaruhnya di atas kompor. Menuangkan minyak dan memanaskannya. Lalu bumbu yang telah diracik dan dihaluskan dimasukkan ke dalam wajan. 

Kangkung tumis telah selesai dimasak.

Tak hanya itu, Bagas lalu mengambil satu lembar tempe yang ada di plastik belanjaan. Membelahnya menjadi dua bagian dan menggorengnya.

Beberapa saat kemudian, sarapan terlambat mereka dimulai.

Semua hal, Bagas yang telah memersiapkannya. Sebelumnya, Erina memang menawarkan bantuan. Namun, Bagas tak menjawab Erina dan hanya meneruskan pekerjaannya. Membuat Erina bingung, apakah diam Bagas adalah iya atau dia tak peduli dengan keberadaan Erina.

Meskipun begitu, piring dan segala peralatan makan disiapkan untuk dua orang.

Erina mengambil piring miliknya. Hanya itu saja. Sedangkan, Bagas baru saja duduk dan mulai mengambil nasi. Erina melakukan hal yang sama setelah Bagas. 

Tumis kangkung yang ditaruh di dalam mangkuk masih kelihatan panas.

Semua hal yang dilakukan oleh Bagas pertama, Erina melakukan setelahnya.

Cicipan pertama telah meresap di lidah Erina. Rasanya memang tak sebaik buatan Afita. Namun terdapat keunikan tersendiri dari buatan Bagas tersebut. Seperti terdapat rasa tersembunyi yang terkandung di dalamnya.

Erina menjadi ketagihan, meskipun begitu dia tak memakan makanannya dengan rakus. Sebaliknya, dia malah menikmatinya dengan anggun sampai tanpa sadar dia sudah menghabiskan seluruh makanan. Sampai setelah suapan terakhir tertelan, dia terceguk.

Semua makanan di meja telah habis tak tersisa. 

Dia terkejut melihat mangkuk yang sebelumnya penuh dengan tumis kangkung sekarang tinggal menyisakan hanya beberapa ml kuah dan beberapa rempah di dalamnya. 

Dia tersadar tengah dipandangi oleh seseorang. Dia sedikit takut untuk menatap balik. Tetapi hal yang lebih mengejutkannya adalah, nasi yang sebelumnya juga penuh di mangkuk, sekarang telah habis dan hanya menyisakan beberapa butir.

Bila diperkirakan, maka makanan yang telah terkunyah dan masuk ke dalam perut Erina sama dengan dua porsi makan. Dia melakukannya karena beberapa sebab. Seperti dia belum sarapan meskipun jam hampir menunjuk ke arah 11. Dan juga masakan yang enak membuatnya sangat menikmati sarapan itu.

Ingin rasanya meminta maaf. Namun, Bagas kelihatan tak memermasalahkan hal itu dan menjulurkan satu tangan ke Erina.

Erina menjadi takut karena tindakan itu. Meskipun hal yang dilakukan Bagas bukanlah untuk menyakiti ataupun berbuat sesuatu kepada Erina.

“Berikan itu.”

Melainkan dia sedang meminta piring kosong yang ada di depannya.

Erina tersadar dan segera memberikan piring serta sendoknya. Bagas mulai membersihkan peralatan makan yang baru saja mereka gunakan.

“B-bagas, apa aku, boleh membantu?”

Bagas tak menjawab dan terus melakukan pekerjaannya. Erina hampir mendapatkan rasa putus asa dalam mendapat perhatian Bagas, dan pada saat itu dia mengingat perkataan Risak sebelum dia pergi.

Hal itu membuat semangatnya bangkit dan dia memulai serangan yang cukup mengejutkan.

“H-hei, biarkan aku membantumu, oke!”

Erina berdiri—bangkit dan bergegas menuju ke sisi Bagas. Saat itu dia menjadi terlalu tegang, dan pada saat dia sampai di mana Bagas akan mencuci piring, dia sedikit menubruk Bagas.

Bagas menatap dengan pandangan penuh tanda tanya; kenapa dia harus melakukan hal itu?

Sedangkan, Erina tak menatap balik karena tak berani menghadapi tatapan itu.

“I-ituloh, aku kan menumpang di sini. Dan aku tak ingin terlalu merepotkan, jadi, biarkan aku membantumu, ya!”

Sikap Erina menjadi takut sekaligus gugup. Dia tak melihat ke samping, tetapi dia tahu kalau tatapan Bagas masih tertuju padanya.

“Apa kau bisa melakukannya?”

Bagas merespon dan Erina langsung menatapnya. Tatapan Bagas masih sama seperti sebelumnya, bertanya tidak langsung terhadap perilaku Erina.

“M-melakukan...?”

“Mencuci piring. Apa kau bisa melakukannya?”

Dia mendapat perasaan campur aduk saat itu, membuatnya tak sadar sudah memegang piring kotor yang akan dicuci.

“E-eh, y-ya, itu...”

Saat itu juga, Erina mengingat kembali ketika dia mencoba membantu Afita untuk mencuci piring. Piring yang dia bawa terjatuh, pecah, berhamburan menjadi kaca-kaca yang membahayakan. Hal itu memang patut dimaafkan karena dalam sejarah hidup, Erina sama sekali tak pernah melakukan pekerjaan rumah.

Bahkan di waktu sebelumnya juga, dia mengelap kaca jendela dengan sangat kakunya. Bahkan dia juga tak memeras lap yang digunakan dan membiarkannya basah begitu saja untuk digunakan.

“Menyingkirlah kalau kau tak bisa.”

Dan seperti perasaannya, Erina mendapat peringatan dari Bagas karena dia tak bisa melakukannya.

“T-tapi..!”

Dia mencoba sekali lagi dengan menghadapi Bagas secara langsung.

“Tapi, aku tetap ingin membantu.”

Meskipun pada akhirnya dia tak berhasil bertatapan selama lebih dari lima detik dengan Bagas. 

Dia merasa ingin menyerah dengan perasaan itu. Namun, sebuah cahaya datang untuk menuntunnya kembali melangkah.

“Apa kau sudah pernah melihat orang lain melakukannya?”

“...”

Erina kembali mengarahkan wajahnya pada Bagas. 

“Jika sudah, itu berarti kau sudah mengerti cara dasar melakukannya. Kalau belum, menyingkirlah dan lihat lebih dulu sebelum kau membuatnya lebih merepotkan.”

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Erina mendapat perhatian dari Bagas.

Dia lalu menyingkir seperti yang dikatakan, dan mulai memerhatikan bagaimana cara Bagas bekerja.

Hal itu mungkin tak bisa Erina kuasai dalam waktu singkat. Namun, jika saja dia terus memerhatikan dan mulai mencoba. Mungkin, suatu hari nanti Erina mulai bisa membantu Bagas dengan pekerjaannya.