Episode 17 - Situasi Baru



“Kenapa bisa ada di kamu? Maksudku, memangnya Refa ke mana?”

“Eh, bukannya kakak sudah diberitahu kalau dia akan pergi ke kota sekarang, untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang SMP.”

“Eh-?“

 Setelah mendapatkan pemberitahuan yang mengejutkan, Erina tak bisa melakukan apapun selain berdiri kaku dengan segala perasaan yang bercampur aduk.

“Kak, kak Erina!”

Rini tampak khawatir dengan keadaan Erina saat itu. Dia terdiam. Mematung. Dan kulitnya sesaat terlihat pucat.

“E-eh, maaf, apa ya?”

“Loh?”

“Eh?”

Mereka berdua tampak bingung dan sepertinya juga tak tahu apa yang harus dilakukan dengan situasi sekarang.

“Tunggu sebentar.”

Rini melewati Erina yang masih dalam keadaan sebelumnya—terbingung dengan situasi yang baru saja terjadi. Tanpa tahu apa maksud dari perkataan Rini tentang Refa yang seharusnya sudah memberitahunya tentang pergi ke kota.

Rini masuk ke dalam rumah, tanpa memakai sandal dalam rumah dan langsung masuk juga tanpa permisi.

Dia berjalan menuju lantai dua, tetapi sebelum itu dia meletakkan belanjaannya di meja ruang tamu, kemudian naik ke lantai dua. Menemukan dua pintu dan mengarah ke pintu yang berada di sisi kiri.

“Bagas, apa kau di dalam?”

Rini mengetuk pintu kamar. Dari dalam terdengar suara gemerisik yang pasti berasal dari Bagas. 

Pintu terbuka. Sosok seorang yang kacau—baru saja terbangun—berjalan keluar. 

“Hei!”

Dia tak memerdulikan Rini yang baru saja memanggilnya. Berjalan menuju lantai satu dan duduk di kursi ruang tamu. 

Erina sudah masuk ke dalam dan melihat Bagas yang baru saja bangun menutupi sebagian wajahnya dengan satu tangan—merasa pusing.

“Hei, apa kau baik-baik saja?”

Rini tampak mengkhawatirkan kondisi Bagas yang kelihatan tak baik itu. Entahlah apa yang menjadi masalahnya, tetapi sepertinya dia juga tak kelihatan sakit meskipun kulitnya memang terlihat pucat.

“Apa kau sudah mengetahui keadaan saat ini?”

Rini menanyai dengan perlahan—setelah duduk—agar Bagas tak terlalu terbebani pikirannya. Apalagi seseorang yang baru saja bangun dari tidurnya cenderung memiliki emosi yang tak terkendali.

Bagas tak menjawab. Dia masih dalam keadaan yang sama. Erina tak berani mendekat dan hanya berdiri di depan pintu—tanpa masuk ke dalam.

Melihat ke arah Bagas yang sedang dalam kondisi seperti itu, membuat Erina merasa sedikit takut karena kejadian yang sangat tak terduga itu menimpa dirinya. Apalagi kedatangan yang benar-benar tak terencana itu tentu saja membuat kecanggungan di antara mereka semakin besar.

“Em.”

Bagas menjawab pelan dan singkat setelah kondisinya lebih baik.

“Jadi, apa yang akan kau lakukan terhadap situasi ini, sekarang?”

Bagas tak menjawab dan sesaat membuat nyaman pikirannya dengan menghirup udara, membuangnya dengan perlahan, lalu akan beranjak pergi.

“Aku tak masalah, selama tak ada situasi yang bisa membuatku terlalu kerepotan.”

Dia mengatakan itu dengan melirik ke arah Erina. Erina terkejut karena sesaat Bagas memancarkan perasaan peduli, meskipun sikapnya sama sekali tak memperlihatkan hal itu.

Dia pergi ke kamar mandi, kelihatannya untuk mencuci muka dan merapikan diri.

Setelah berbicara dengan Bagas, Rini datang kepada Erina untuk mengklarifikasi bagaimana pendapatnya tentang masalah yang menimpanya sekarang.

“Jadi, kak Erina, bagaimana?”

“Ya.”

Erina benar-benar kelihatan tak berdaya sekarang. Buktinya dia benar-benar tak merespon pertanyaan Rini dengan benar—kebingungan.

“Mungkin ini hal yang sangat mengejutkan bagi kakak, jadi, apa kakak akan tetap menginap di rumah ini, berdua saja dengan Bagas?”

“Oh, eh... maaf, tapi bisakah berikan aku ketenangan sejenak.”

Erina masuk dan duduk di kursi. Dia menaruh kedua tangannya di muka. Menahan segala tekanan yang dia dapat pagi itu. 

Mendapati sendirian setelah bangun tidur. Pemilik rumah pergi keluar desa beserta dengan anaknya dan meninggalkannya sendirian di rumah seseorang yang menjadi alasan dia berada di desa.

Hal yang cukup sulit untuk diterima bagi seseorang yang baru saja bangun tidur.

“Permisi!”

Sebuah suara memanggil. Berasal dari seorang manusia berpenampilan vampir yang datang dari pintu depan.

“Elang!”

Erina tiba-tiba bangkit dan menuju sisi Elang.

“E-eh, ada apa?!”

Erina mendekat dan menekan kedua bahu Elang. Wajahnya kelihatan sangat khawatir dan hampir membuat Elang ketakutan.

“Bagaimana ini?”

Erina mengatakan itu dengan nada yang tak berdaya. Begitu pula ekspresinya yang membuat seseorang yang menatapnya takkan memberikan bantuan kepadanya.

“Hei-hei, untuk sekarang tenanglah dulu. Aku akan mencoba mengatasinya.”

Elang mengambil kedua tangan Erina dan mengembalikan ke tempat asalnya.

Dia masuk ke dalam setelah menaruh tas yang dia bawa saat itu.

Erina mencoba bertahan dari segala kebingungannya dan beranjak mengejar Elang.

Dia berada di dapur dan menemui Bagas. 

Erina masih merasa takut dan hanya melihat dari ruang tengah. Mereka berdua berada di depan dapur—Bagas sedang meminum air putih dan Elang kelihatan mencoba berbicara dengannya.

Tak banyak yang bisa di dengar dari pembicaraan mereka. 

Namun, intinya adalah bagaimana Bagas menyikapi keadaan yang baru saja mereka temui sekarang.

Bagas kelihatan masih sama seperti sebelumnya—tak keberatan jika Erina masih ingin menginap. Tetapi, Elang tampak sedikit khawatir dengan keadaannya. Bukan karena Bagas akan melakukan sesuatu padanya, malahan tentang Erina mendapat sedikit gangguan dengan tidurnya dan Elang mencoba membujuk Bagas agar mereka bisa tidur berdekatan.

Bagas tak menjawab dan hanya berjalan menuju ruang tengah. Melewati Erina tanpa melirik sedikitpun. Erina menyingkir untuk memberikan ruang bagi Bagas untuk lewat. Lalu dia kembali melihat ke belakang dan Elang tampak mendekat padanya.

“Jadi, bagaimana?!”

Erina benar-benar mengkhawatirkan keadaan itu dan bertanya dengan wajah risau.

“Tenang saja. Dia masih bersedia untuk mengijinkanmu tinggal di sini kok. Tapi ingat, jangan coba-coba untuk membuatnya terlalu kerepotan. Karena kau juga sudah tahu bagaimana sikapnya, bukan?”

Erina tak menjawab—bukan karena dia tak berdaya, sebaliknya, dia mengerti tentang hal itu dan memilih untuk hanya memikirkannya.

Elang tak lagi melihat kekhawatiran berlebihan di wajah kakaknya dan berjalan menuju lantai dua—mengikuti Bagas.

“Mau ke mana?”

“Ke lantai dua, ada hal yang harus dilakukan sebelum membiarkanmu tidur malam ini!”

Erina juga mengikuti mereka ke lantai dua. Setelah sampai, dia melihat ke pintu sebelah kiri. Di situ dia mendapat pemandangan kamar yang kelihatan sangat rapi dengan satu buah tempat tidur, satu rak buku yang telah penuh, dan satu meja belajar dengan satu unit komputer di atasnya. 

Kamar tidur itu tak terlalu besar dan kecil. Ukurannya sedang dan desainnya kelihatan sederhana. Jendela yang mengarah ke selatan ada di atas kasur. Kasur yang mana kepala berada di sisi barat sedangkan kaki berada si sisi timur.

“Pegang bagian sana.”

Erina mendengar suara dari belakang. Itu adalah ruangan yang berbeda dengan kamar tidur Bagas. Lebih kelihatan seperti gudang. Namun, terdapat satu buah tempat tidur di situ. Di kelilingi oleh banyak kardus dan juga satu buah sofa di sebelahnya. 

Di sisi barat terdapat balkon yang terbuka, dan pada saat itu angin menghembus ke dalam.

Elang dan Bagas kelihatan sedang menyibakkan sebuah penutup—berupa plastik—besar yang melindungi kasur besar—muat untuk dua orang. Saat penutup telah disibakkan, terlihat sebuah kasur yang sepertinya telah lama tidak terpakai.

“Wuih, debunya!”

Elang menutup hidung dan mulutnya saat debu yang mengumpul di atas penutup mengepul dan berserakan di udara.

“Jadi, apa kak Eruin akan tidur di sini?”

“Enggak.”

“Kalau gitu kita harus.. eh, apa tadi yang kau katakan?”

Awalnya Elang kelihatan sudah menduga kalau Erina akan tidur di situ. Tetapi jawaban Bagas yang tak sesuai dengan persepsi mengejutkannya.

“Dia takkan tidur di sini.”

“Jadi, untuk apa kita akan membersihkan tempat ini?”

“Apa kau menginginkan seorang perempuan yang penakut, tidur di ruangan yang telah lama tak terpakai yang kemungkinan akan ada banyak hal yang bisa menakutinya. Seperti kecoa misalnya.”

Bagas memerlihatkan kepeduliannya. Namun, seperti biasa sikapnya yang dingin tak memberikan respon yang baik kepada yang lain. Dan saat dia menyinggung tentang sebuah serangga yang bisa saja bersarang di suatu tempat di ruangan, Elang menjadi bergidik sesaat, membayangkan betapa menyeramkannya pemandangan jika hal yang dikatakan Bagas benar.

“Mm, iya juga sih. Kalau gitu kenapa tidak kita mulai saja bersih-bersihnya. Oh iya, kak Eruin-”

Perkataan Elang terhenti saat dia mendapat pesan lewat telepon genggamnya. Elang menerima telepon barusan dan berbicara pada penelepon sebentar.

“Maaf, Ani sudah memanggilku. Jadi, aku tak bisa membantu kalian.”

“Tak masalah. Pergilah.”

Elang mendapatkan perasaan jutek dari muridnya. Namun, dia hanya sedikit tertawa dengan itu dan mulai berjalan keluar.

“Kalau begitu, tolong jaga kakak seperti kau menjaga saudarimu sendiri ya, Bagas. Oh iya, kak Eruin, bisa bicara sebentar di bawah.”

Dengan itu mereka turun ke bawah. Membicarakan sesuatu yang dianggap perlu sebelum meninggalkan Erina yang akan benar-benar tinggal berdua saja dengan Bagas. 

Di ruang tamu, Rini tampak masih menunggu karena pintu depan terbuka sedangkan si pemilik berada di lantai dua. Dia berdiri dan mencoba untuk berbicara dengan dua orang dewasa yang telah turun ke bawah, namun, keinginannya terhenti di saat mereka mulai berbicara serius.

“...”

“Aku mengerti perasaanmu.”

Erina tampak ingin berbicara sesuatu, tetapi dia menghentikannya. Elang mengerti hal itu tanpa Erina memberitahukannya secara jelas.

“Tapi ingatlah, waktu yang kakak punya juga tidak banyak. Dan saat itu, mungkin kau akan kehilangan kesempatan ini.”

“Aku mengerti. Tapi, aku merasa kalau yang seperti ini terlalu cepat.”

“Tidak terlalu cepat bila di bandingkan dengan perjodohan yang akan dilakukan sebentar lagi. Jadi, bagaimana menurutmu, apa kau akan melanjutkannya, atau aku bisa saja menelepon sopir untuk membawamu pulang.”

Rini mendapat perasaan tak enak di saat dua orang dewasa di depannya sedang membicarakan masalah yang menyangkut kepentingan keluarga.

“A-anu, maaf mengganggu. Tapi sepertinya aku tak dibutuhkan lagi di sini, jadi...”

“Ya, terima kasih, Rini. Oh iya, untuk sekarang. Bisakah kamu merahasiakan hal ini dari orang-orang di desa. Aku takut, akan ada desas-desus tak mengenakkan bila hal ini sampai tersebar luas.”

“Baik, aku mengerti. Kalau begitu, pak Elang, kak Erina, aku permisi.”

Rini mempermisikan diri untuk segera pulang. 

Dan setelah itu, mereka kembali berbicara serius tentang hal yang dibicarakan sebelumnya.

“Jadi, bagaimana?”

Elang kelihatan mengulang pertanyaan yang sama pada Erina yang masih terlihat bingung. Namun, dalam dirinya dia ingin bertekad kalau ini adalah saatnya. Jadi, dia tak memiliki waktu untuk ragu sekarang. Karena apa yang menjadi tujuannya, sedang ada di depan matanya sekarang.

“Aku akan melakukannya. Mau ini berhasil atau tidak. Jika pun tidak berhasil, setidaknya aku tak lagi memiliki penyesalan karena telah memendam seluruh perasaan ini.”