Episode 107 - Dia...



Remaja berkulit gelap itu sedang memegang lengan seorang gadis. Pucat sudah warna lengan itu. Bila dicermati lebih seksama, maka sesungguhnya hanya lengan saja! Darah menetes deras dari pangkal lengan itu. Tak diragukan, lengan tersebut dicabut paksa dari bahu seseorang!

Di hadapan Hang Jebat tergeletak tak berdaya seorang gadis belia. Wajahnya pucat, mata terbelalak. Sepertinya ia tersedak tak bisa bernapas, sebelum akhirnya menghembuskan napas penghabisan. 

Tempat itu terlihat porak-poranda. Pepohonan tumbang, tanah berlubang. Sepertinya telah terjadi pertarungan yang cukup sengit. Tak jauh, seorang gadis belia lain merangkak, atau lebih tepatnya merayap, menjauh. Lengan kanannya tak terlihat!

“Khikhikhi…” 

Si Raja Angkara Durhaka memperlakukan lengan kutung itu ibarat mainan. Telapak tangan dari lengan itu ia tempelkan ke wajahnya sendiri dalam gerakan membelai. Ia lalu menjilati jari-jemari dari lengan yang sudah tak memiliki daya itu. Di jari manis, tersemat sebuah cincin Batu Biduri Dimensi. 

“Sesungguhnya tubuhmu cocok bagiku… Sayangnya aku tak hendak terlahir kembali sebagai perempuan.” Hang Jebat berhenti sejenak untuk menatap. 

“Lagipula, bentuk tubuhmu itu… terlalu menonjol. Terlalu mudah menarik perhatian….”

Hang Jebat sedang bercengkerama dengan seorang gadis lain. Gadis itu bersandar pada sebatang pohon. Napasnya menderu. Keringat mengalir di sekujur tubuh. Terlihat pula luka di pelipis, serta memar-memar di bahu, lengan dan kakinya. 

Embun Kahyangan tak dapat berbuat banyak menghadapi si Raja Angkara. Pada pagi hari tadi, ia banyak menghabiskan tenaga dalam. Sehingga pertarungan menghadapi pemuda berkulit gelap ini berlangsung berat sebelah. Meski, gadis itu sepenuhnya sadar bahwa dalam keadaan prima sekalipun, ia pastilah kesulitan menghadapi lawan yang berada pada Kasta Perak di hadapan. 

Hang Jebat mengulum jari manis dari lengan yang ia main-mainkan itu. Terlihat ia mengulum jari manis dimana sebentuk cincin Batu Biduri Dimensi tersemat. Menggunakan mulut, ia lepaskan perlahan cincin tersebut. Setelah proses yang sengaja dilambat-lambatkan itu selesai, lengan kutung itu lalu dilempar ke arah gadis yang masih berupaya merayap menjauh. 

“Tameng Sari!” 

Benar. Cincin Biduri Dimensi tersebut memuat keris Tameng Sari sebagai piala bergilir Kejuaraan Antar Perguruan. Sengaja tidak dibawa oleh sang Maha Guru dari Padepokan Kabut atau Embun Kahyangan. Tujuannya agar bilamana mereka disergap, gadis yang mengenakan cincin akan berupaya menghindar, di saat yang lain menahan lawan. Akan tetapi, lawan mereka kali ini sungguh digdaya. Entah bagaimana caranya pula, ia dapat mengetahui dengan akurat keberadaan keris Tameng Sari. 

“Hang Jebat! Sudah lama tak bersua… Mari kita bersama tebas, babat, bacok, potong, cencang, kerat, tetak, tusuk, tikam, iris, toreh, sayat, beset, rajang, caruk, penggal, pancung, kayau!”

“Khikhikhi… Jadi, adalah benar adanya kesadaran Sari menghilang….”

“Kyahahaha… Hang Jebat! Tak kami sangka kau memikirkan Sari. Walaupun ada, ia tetap tak akan meminjamkan anugerahnya kepadamu.” 

“Khikhikhi… Aku menyukai penampilan bilah kalian yang kini mirip lidah ular. Lebih cocok bagiku.”

“Kyahahaha… Tapi, kami merindu Sari.” 

“Gadis montok… bersyukurlah engkau bahwa lehermu akan dipenggal oleh keris yang digdaya….”

Embun Kahyangan hanya menatap. Ia siap mengerahkan sisa-sisa tenaga dalam demi membuka gerbang dimensi menggunakan Bentuk Keempat dari jurus Panca Kabut Mahameru. 

“Sungguh kebetulan pula, aku dapat membawa Selendang Batik Kahyangan sebagai cendera mata….” 

“Ayo!” Tameng sungguh bersemangat. 

“Khikhikhi…” 

“Kyahahaha…”

“Khikhikhi…” 

“Kyahahaha…”

“Tameng… bolehkah aku yang tertawa paling akhir…?”

“Baiklah…”

“Khikhikhi…” 

“Kyahahaha…”

“Khikhikhi…” 

“Kyahahaha…”

“Tameng….” Hang Jebat bersungut. 

Pencak Laksamana Laut, Gerakan Pertama: Tuah Sakti Hamba Negeri!

“Trak!” 

Tebasan keris Tameng Sari yang mengincar leher Embun Kahyangan, tetiba tertahan oleh sebilah galah panjang berwarna putih bersih. Pada permukaannya, terlihat ukiran ruas-ruas tulang mirip jalinan tulang belakang. Aura yang ia pancarkan sungguh perkasa… Tempuling Raja Naga!

Seketika ia menyadari bahwa kemungkinan pelaku yang membangkitkan si Raja Angkara Durhaka bukanlah Maha Guru Segoro Bayu, Bintang Tenggara segera menyusul rombongan Padepokan Kabut. Akan tetapi, ia hanya menyusul seorang diri. Tak ada waktu baginya menjelaskan kekhawatiran kepada Adipati Jurus Pamungkas, yang kemungkinan besar tak akan percaya. Pun, tak sempat ia mengabari Sesepuh Ketujuh dan yang lainnya. 

“Cih! Bedebah!” maki Hang Jebat. “Kau lagi!” 

“Brak!” 

Menggunakan hanya tangan kanan, Hang Jebat menebaskan bilah besar keris Tameng Sari sejajar dada. 

Bintang Tenggara segera menahan dengan bilah Tempuling Raja Naga. Tubuh anak remaja tersebut terdorong keras. Pada akhirnya, ia menancapkan tempuling ke tanah untuk menghentikan tenaga dorongan yang demikian digdaya. Seluruh tubuhnya bergetar deras. 

“Hop!” Bintang Tenggara tak membuang-buang waktu untuk segera melenting-lenting tinggi di udara. Beberapa Segel Penempatan telah tersedia di saat ia mencari momentum paling tepat untuk menikamkan Tempuling Raja Naga!

Pencak Laksamana Laut, Gerakan Pertama: Tuah Sakti Hamba Negeri!

“Brak!”

Tikaman tajam tempuling dihadapi dengan sabetan pesat keris. Akan tetapi, kali ini keduanya sama-sama terpental! 

“Bedebah!” umpat Hang Jebat segera setelah mendarat. “Dari siapa kau pelajari Pencak Laksamana Laut!?”

Tepat sekali! Di saat menikamkan Tempuling Raja Naga, Bintang Tenggara tak hanya menambah bobot tempuling… Di saat menikamkan tempuling tadi, ia juga mengerahkan Bentuk Pertama dari Pencak Laksamana Laut!

Berkat tenaga yang berlipat ganda, Bintang Tenggara berhasil mendorong Hang Jebat menjauh dari Embun Kahyangan. Persetan dengan derita yang bahkan mulai ia rasakan saat ini. Menyelamatkan Embun Kahyangan adalah prioritas utama!

“Srek!” 

Tetiba sebuah layar ilusi mengemuka di hadapan Bintang Tenggara. Layar yang sama juga tampil di hadapan Hang Jebat. Sungguh pelik. Bintang Tenggara, Komodo Nagaradja, dan Hang Jebat pun memerhatikan dengan seksama. Hanya mereka yang dapat melihat layar tersebut.

[Tameng Sari (Sari menghilang)]

[Hang Jebat : Aktif]

[Bintang Tenggara: Tidak Aktif]

[Hang Tuah : Tidak Aktif]

“HAH!” Hang Jebat dan Komodo Nagaradja terkejut bukan kepalang!

“Tameng sedeng! Benarkah Kakak Tuah masih hidup!?” sergah Komodo Nagaradja. 

“Tameng… jangan berkelakar!” hardik Hang Jebat. 

“Kyahahaha… Status kami tak pernah berbohong. Siapa pun yang telah kami akui, selama masih bernyawa, akan selamanya tercatat.” 

Hang Jebat membatin. Raut wajahnya terlihat demikian kusut. 

“Komodo Nagaradja… aku tak punya waktu luang untuk bermain-main. Kita sudah memiliki kesepakatan bahwa tak akan saling mengganggu. Aku tak berupaya mengambil tubuh muridmu… dan kau tak mencampuri urusanku!” 

“Kesepakatan antara kau dan aku masih berlaku… Tapi, tak ada kesepakatan antara kau dan muridku. Aku tak bisa melarang kehendak muridku menyelamatnya dambaan hatinya.”

Bintang Tenggara menggenggam Tempuling Raja Naga! Ia bersiap untuk kembali bertukar serangan. Meski, ada yang aneh dari gaya bertarung si Raja Angkara Durhaka itu. 

“Hmph!” Hang Jebat menyibak… kembangan silat! 

Di saat yang sama, di sepanjang bilah keris Tameng Sari yang berwarna keemasan, kini terlihat gumpalan-gumpalan asap hitam. 

“Muridku, kau tak akan menang,” bisik Komodo Nagaradja menggunakan jalinan mata hati. “Anugerah kedua dari Tameng, adalah keris tersebut dapat menyatu dengan unsur kesaktian penggunanya.”

Tentu saja Komodo Nagaradja tidak keliru. Anugerah pertama Tameng adalah kekebalan tubuh setara Kasta Emas. Lalu, pada anugerah kedua, Tameng memperkuat unsur kesaktian penggunanya. Bila Dayung Penakluk Samudera memiliki unsur kesaktian air dan Selendang Batik Kahyangan berunsur kabut, maka keris Tameng Sari dapat menyesuaikan diri. Sebagai pengingat, keris Tameng Sari bukanlah salah satu dari Tujuh Senjata Pusaka Baginda.

“Pergilah dengan membawa Tameng Sari!” ujar Bintang Tenggara penuh percaya diri. Menyaksikan kondisi Embun Kahyangan, sangat berisiko bila memaksakan pertarungan melawan Hang Jebat. 

“Khikhikhi… Kau sungguh bernyali.”

“Kau tak bisa berlama-lama merapal Pencak Laksamana Laut!” hardik Bintang Tenggara cepat. 

Telah ia saksikan dalam dua kesempatan dimana Hang Jebat menyerang… lawan tersebut hanya mengerahkan jurus milik Laksamana Hang Tuah bilamana menebas. Dalam keadaan siaga, Hang Jebat tidak merapal jurus. Sebagaimana diperkirakan, Hang Jebat yang merasuk tubuh yang kurang pantas, pastilah merasakan beban berat karena mengerahkan jurus nan digdaya tersebut. Demikian, hasil analisa sementara Bintang Tenggara. 

“Apakah kau sedang mengerahkan salah satu dari Taktik Tempur ala siluman sempurna keparat itu…?” Nada suara Hang Jebat meremehkan. 

“Benar!” Bintang Tenggara menjawab jujur. 

“Hei! Kau baru saja mengakui gurumu sebagai ‘keparat’!” hardik Komodo Nagaradja tak senang. 

“Khikhikhi… Karena tujuanku di kota ini sudah tercapai, aku memang tak perlu berurusan dengan kalian.” 

“Hei… apakah kita tak akan melanjutkan pertarungan…?” Tameng terdengar kecewa. 


===


“Apakah gerangan yang terjadi!?” Sesepuh Ke-15, Kertawarma, bergegas melangkah masuk ke dalam Balai Pengobatan di Perguruan Maha Patih. 

Bersamaan dengan kehadiran Sesepuh Kertawarma, Maha Guru Keempat dari Padepokan Kabut juga tiba. Bersama dengan dua murid lain, mereka telah sampai di wilayah luar Padepokan Kabut menggunakan gerbang dimensi. Akan tetapi, setelah menyadari bahwa ada keanehan pada gerbang dimensi yang membawa mereka, keduanya segera memutuskan kembali ke Perguruan Maha Patih. 

Malangnya, Padepokan Kabut tak memiliki gerbang dimensi, karena memang membatasi pengunjung ke perguruan tersebut. Keduanya terpaksa melesat terbang dari wilayah timur ke wilayah tengah Pulau Jumawa Selatan. Bukanlah jarak tempuh yang pendek. Malam hari baru keduanya tiba.

“Rombongan Padepokan Kabut disergap oleh seorang Raja Angkara!” sergah Bintang Tenggara di depan Maha Guru Segoro Bayu dan Sesepuh Ketujuh yang turut membantu perawatan murid-murid Padepokan Kabut. 

Dari tiga murid yang tertinggal, seorang telah meregang nyawa. Seorang lagi kehilangan lengan dan tak sadarkan diri. Meski, lengan yang putus bila belum membusuk dan bila mendapat perawatan yang tepat, bukan tak mungkin dapat kembali seperti sedia kala. Embun Kahyangan menderita luka luar, tentu kecantikannya tak berkurang barang sedikit pun. 

“Benarkah demikian?” Perempuan dewasa yang diketahui sebagai Maha Guru Keempat dari Padepokan Kabut bertanya kepada Embun Kahyangan. 

“Segera setelah Yang Terhormat Maha Guru melangkah masuk ke dalam gerbang dimensi, seseorang meledakkan prasasti. Setelah itu, ia mengalahkan kami bertiga, dan mengambil Pedang Patah. Ia dapat mengerahkan senjata itu,” lapor Embun Kahyangan cepat. 

“Ia adalah Raja Angkara!” ulang Bintang Tenggara. 

“Raja Angkara! Dari tadi tadi kau menyebut-nyebut Raja Angkara! Apa buktinya ahli yang menyergap murid-murid Padepokan Kabut ini adalah Raja Angkara!?” sergah Sesepuh Kertawarma. 

“Ia dapat mengerahkan…” 

“Mengerahkan Pedang Patah, maksudmu!?” potong Sesepuh Kertawarma. “Kau pun dapat mengerahkan Pedang Patah… dan tak ada seseorang pun yang mengetahui bagaimana kau dapat mengerahkan pedang itu. Mengapa aku lebih curiga kepadamu!?” 

“Tapi…”

“Apa buktinya kalian berhadapan dengan Raja Angkara!?” Kembali Sesepuh Kertawarma memotong Bintang Tenggara. “Bahkan aku tak yakin dapat menyelamatkan diri bila berhadapan dengan Raja Angkara!” 

Seluruh ahli di dalam Balai Pengobatan saling pandang. Semua yang disampaikan Sesepuh Kertawarma benar adanya. Apa penyebab Bintang Tenggara dapat mengerahkan Pedang Patang? Bagaimana mungkin anak-anak remaja tersebut dapat melepaskan diri bila benar-benar berhadapan dengan salah satu dari Lima Raja Angkara…? 

Bintang Tenggara menatap Sesepuh Kertawarma dalam diam. Samar-samar ia merasa pernah berhadapan dengan sosok itu. Bukan, bukan di saat ia dan Aji Pamungkas dipergoki mengintip Balai Panitia. Bahkan sebelum kejadian itu….

“Sudahlah… Tak ada gunanya mendengarkan kata-kata bocah ini lebih lanjut…,” tutup Sesepuh Kertawarma. 

“Segoro Bayu, ayo segera kita susul siapa pun itu yang berani mencuri Pedang Patah. Maha Guru Keempat dari Padepokan Kabut, silakan kalau Anda hendak mengejar bersama kami.” 

Dengan demikian, Sesepuh Kertawarma memutar tubuh. Sebuah senyum tipis menghias sudut bibirnya. Dalam hati, segala persiapan dan daya upaya selama ini akhirnya membuahkan hasil. 

Tak seorang pun di antara mereka yang hadir mengetahui bahwa sesungguhnya Sesepuh Kertawarmalah lelaki yang memimpin upacara kebangkitan si Raja Angkara, beberapa waktu lalu di ruang bawah tanah dekat ibukota lama Sastra Wulan. Ia pun mengorbankan salah seorang anak didiknya, remaja bertubuh gelap itu. Sebagai upaya jaga-jaga, ia juga menyiapkan Wirabraja, teman Poniman. Wirabraja yang sangat berbakat sengaja hanya ditempatkan sebagai murid Purwa agar tak terlalu menyolok bila tiba waktunya dikorbankan. Meski, rencana menyiapkan tubuh yang ia susun tak membuahkan hasil sesuai harapan. Tubuh anak didiknya kurang sesuai, sementara tubuh Wirabraja sama sekali tidak cocok. 

Tanpa diketahui Perguruan Maha Patih, ia juga mencuci otak beberapa murid untuk menjadi kaki-tangan si Raja Angkara Durhaka. Ia bahkan sempat ‘mengantarkan’ Bintang Tenggara bertemu dengan Hang Jebat. Bahkan, menghantamkan tenaga dalam di saat Bintang Tenggara terlihat akan melarikan diri. Namun, entah mengapa Hang Jebat tak dapat merasuk Bintang Tenggara. Sedangkan, saat itu dirinya terpaksa menyingkir akibat kedatangan Maha Guru Sangara Santang. 

Muslihat yang Sesepuh Kertawarma susun memang telah dipersiapkan matang. Di saat pemilihan Ketua Panitia Kejuaraan Antar Perguruan tahun ini, ia mencalonkan dan memperjuangkan agar Maha Guru Segoro Bayu terpilih. Ia pula yang menghasut Maha Guru Segoro Bayu setelah menjadi Ketua Panitia agar menjadikan Pedang Patah sebagai piala bergilir. Sebuah terobosan, ujarnya saat itu kepada Maha Guru Segoro Bayu. Dengan cara ini, secara tak langsung ia dapat dengan mudah mengeluarkan Pedang Patah dari brankas Perguruan Maha Patih. Tentu saja, Sesepuh Kertawarma telah mengetahui sejak lama bahwa Pedang Patah adalah keris Tameng Sari.

Sesepuh Kertawarma tersenyum pada diri sendiri ketika meninjau kembali rencana yang telah berjalan. Sebagai pendamping murid Perguruan Maha Patih, ia bahkan memastikan agar perwakilan perguruan akan kalah dalam kejuaraan. Dengan demikian, keris Tameng Sari dengan sendirinya akan dibawa keluar dari Kota Ahli. 

Kini saatnya berupaya mengecoh ahli-ahli lain agar tak mengendus bahwa Hang Jebat si Raja Angkara Durhaka telah kembali dan membawa Tameng Sari, pikirnya dalam hati. 


===


“Tuan Guru… ada apakah gerangan?”

“Dua orang ahli baru saja melesat di atas kita. Mereka terbang dari arah timur menuju Kota Ahli.”

Kum Kecho tentu tak menyadari bahwa kedua ahli tersebut adalah Sesepuh Kertawarma dan Maha Guru Keenam yang bergegas kembali ke Kota Ahli dari wilayah Gunung Kahyangan Narada, lokasi Padepokan Kabut

“Esok subuh kita akan melanjutkan perjalanan menuju ke Kota Ahli dan tiba pada pagi hari. Sebaiknya saat ini kita berehat,” ajak Melati Dara sambil merebahkan tubuh. Padahal, ia tahu betul bahwa lawan bicaranya tak pernah tidur.

Tak jauh dari mereka, Dahlia Tembang menatap langit malam. Sebuah bulan purnama terlihat menggantung indah. Sinarnya rembulan membias di raut wajah gadis itu. Wajahnya memerah, petanda tak lagi pucat. Tubuhnya pun sudah tak lemah lagi. Gadis itu sudah bisa berjalan sendiri. Saat ini, ia mengenakan jubah hitam milik Melati Dara. 

“Hah!” Tetiba Kum Kecho terkesiap. Sejumlah nyamuk yang ia tebar mengelilingi posisi mereka berada… mati ditebas!

“Khikhikhi….”

Kum Kecho siaga. Melati Dara waspada. Dahlia Tembang lara.

“Tak kusangka dan tak kuduga, kita kembali bersua....”

“Yang Kelam…,” gumam Dahlia Tembang. 

“Heh…? Murid Kertawarma… bukankah kau kuperintahkan memburu anak itu…?” ujar Hang Jebat ke arah Dahlia Tembang. “Mengapa kau malah menuntun mereka kembali padaku…?”

“Yang Kelam… mereka menyanderaku…?”

“Dalam situasi seperti itu, bukankah seharusnya kau menuntaskan nyawamu sendiri…?”

“Diriku tak bisa….” Gumam Dahlia Tembang. Sulit baginya menjelaskan bahwa akibat belatung yang dipaksakan ke dalam mulut, ia tak bisa leluasa mengerahkan tenaga dalam. 

“Kurasa kalian semua telah mengetahui siapa aku… Tak ada alasan bagiku membiarkan kalian bernapas lebih lama lagi!” 

“Hyah!” Hang Jebat merangsek maju. Ia langsung mengincar… Dahlia Tembang! 

“Bum!” 

Kesaktian unsur asap diredam oleh Kepik Cegah Tahan. Di saat yang sama, Melati Dara melompat dan melancarkan serangan. Jalinan rambut yang bergerak cepat dan lincah, serta nyamuk-nyamuk yang mengincar membabi buta, mempersempit ruang gerak Hang Jebat. 

“Sepertinya kalian tak mudah menyerah…,” ujar Hang Jebat ketika dipaksa mundur. 

“Tameng Sari!” panggil Hang Jebat sambil mengirimkan jalinan mata hati ke cincin Batu Biduri Dimensi hasil jarahan. 

“Tameng Sari…?” bisik Kum Kecho kepada diri sendiri. “Hang Jebat….” 

Seketika menyaksikan kehadiran Tameng Sari, yang bentuknya sedikit berbeda dari biasaya, ia sepenuhnya yakin bahwa lawan di hadapan adalah Hang Jebat. Meski demikian, raut wajah Kum Kecho berubah drastis. Bila awalnya ia bersemangat hendak mencari tahu jati diri si Raja Angkara tersebut, kini ia malah terlihat seperti… tak tertarik. 

“Eh…? Dia…,” gumam Tameng sesaat menyaksikan Kum Kecho. 

“Dia…? Siapakah dia?” Hang Jebat sangat ingin tahu.

“Apakah mata hatimu sudah tumpul…?”

“Ia mengenakan Jubah Hitam Kelam…,” keluh Hang Jebat sebal. 

“Dia….”