Episode 106 - Dicegat



Nama Wedhus Gembel akrab terdengar bagi warga di sekitar gunung berapi. Wedhus Gembel yang dimaksud ini bukanlah kambing atau domba berbulu lebat nan gimbal, melainkan julukan untuk awan panas bergulung-gulung yang acap menyertai letusan gunung berapi.

Awan panas terdiri dari dua bagian. Pertama, bagian fragmen batuan dalam berbagai ukuran, termasuk yang seukuran debu; dan kedua, gumpalan gas bersuhu 200-700 derajat celsius.

Kedua unsur ini bercampur mengalir secara turbulen dengan kecepatan lebih dari 80 kilometer per jam, bahkan sempat mencapai kecepatan 200 km per jam saat turun dari punggung gunung. Abu vulkanik tersebar dari awan panas yang terbang dan terendapkan menurut besar dan arah angin.

Jarak luncur awan panas umumnya bergantung kepada volume dan formasinya, dan bergerak mengikuti alur topografi dan lembah sungai. Volume lebih besar akan menjangkau area yang lebih jauh akibat pengaruh momentum dan efek lain. Tak heran apabila pada letusan besar, awan panas bisa menjangkau hingga 15 kilometer. Awan panas letusan biasanya bisa mengalir sejauh lebih dari 8 kilometer dari puncak.

Selain volume, jauhnya jarak luncur awan panas juga dipengaruhi oleh temperatur yang lebih tinggi, kandungan gas lebih banyak, dan memiliki kecepatan awal lateral pada saat jatuh. Dengan kondisi lebih banyak gas dan temperatur tinggi, Wedhus Gembel dipastikan merusak apa saja yang ditemuinya. Jadi, siapa pun yang berada di sekitar gunug berapi selayaknya tidak ingin bertemu dengan ‘binatang’ satu ini.*

Para ahli digdaya yang sudah cukup berpengalaman, tentu saja memahami gejala alam tersebut. Maka dari itu, seorang Maha Guru, seorang Adipati dan seorang Sesepuh serta-merta bertindak! 

“TAMENG SARI!” teriak Bintang Tenggara menggunakan jalinan mata hati. 

“Kami dataaangg…,” terdengar jawaban dari keris Tameng (tanpa) Sari, langsung ke jalinan mata hati Bintang Tenggara. Di saat yang bersamaan, keris milik Laksamana Hang Tuah itu melesat cepat meninggalkan tribun kehormatan, dimana terdapat empat orang ahli yang bersiaga mengelilinginya. 

Sebagaimana diketahui, anugerah dari Tameng adalah kekebalan raga setara Kasta Emas. Dengan kata lain, kabut Wedhus Gembel yang dikerahkan oleh seorang ahli pada Kasta Perunggu, tidaklah akan berarti apa-apa di hadapan anugerah kekebalan Tameng yang sedemikian digdaya. 

"Panca Kabut Mahameru, Bentuk Kelima: Kabut Wedhus Gembel menukik menyeruduk, mengambil wujud domba gimbal. Kini hanya beberapa meter saja dari atas kepala Bintang Tenggara. Sedangkan Tameng, melesat jauh lebih cepat. 

Bintang Tenggara merentangkan tangan kanannya, bersiap menangkap keris Tameng Sari. Ia pun siaga merapal Pencak Laksamana Laut, Gerakan Pertama: Tuah Sakti Hamba Negeri. Jurus yang diketahui melipatgandakan kekuatan tubuh ini merupakan prasyarat utama dalam menghunuskan keris Tameng Sari. 

“Panca Kabut Mahameru, Bentuk Keempat: Kabut Archapada…,” bisik Embun Kahyangan perlahan. 

Seledang Batik Kahyangan yang ia kenakan menyibak pelan. Tetiba, terlihat sesuatu yang berpendar di antara tubuh Bintang Tenggara dan… Tameng Sari. Ini adalah jurus kesaktian unsur kabut yang menciptakan gerbang dimensi!

“Gawat!” Bintang Tenggara segera tersadar bahwa keris Tameng Sari yang meluncur ke arahnya, akan segera memasuki gerbang dimensi itu dan berpindah tempat!

Terlambat! Tameng Sari telah memasuki gerbang dimensi. Maha Guru Segoro Bayu melirik ke arah Adipati Jurus Pamungkas, lalu segera mengubah arah. Ia melesat ke dalam gerbang dimensi yang dihasilkan oleh jurus kesaktian unsur kabut, untuk segera menyusul ‘Pedang Patah’. Nasib Bintang Tenggara diserahkan sepenuhnya kepada Adipati Jurus Pamungkas. 

Sesungguhnya Maha Guru Segoro Bayu salah perhitungan. Adipati jurus Pamungkas memanglah melesat cepat, namun jaraknya dari tribun kehormatan di sisi utara terlalu jauh! 

Pertolongan dipastikan datang terlambat. Bintang Tenggara hanya terpana. Tubuhnya terpaku karena terkejut oleh taktik yang demikian sederhana, namun sangkul nan mangkus. Perlu diakui, bahwa terlepas dari penampilannya yang menggoda, Embun Kahyangan memang seorang ahli yang jauh lebih berpengalaman, dan pembunuh bayangan yang ulung.  

“Swush!” Di detik-detik akhir, pandangan mata Bintang Tenggara berubah gelap. Tubuhnya terasa ringan… melayang. 

Dalam hati, anak remaja itu bertanya-tanya apakah Adipati Jurus Pamungkas tiba tepat waktu. Bukan… bukan Adipati Jurus Pamungkas… 

Bintang Tenggara mengenal aroma tubuh ini. Aroma menyegarkan khas pengunungan. Ia juga pernah merasakan sensasi yang empuk sekaligus hangat ini. Akan tetapi, kali ini berbeda. Bila saat itu sensasi terasa menghimpit di dada, kali ini sensasi yang sedemikian terasa di… 

Bintang Tenggara memberanikan diri membuka kedua belah mata. Tak sampai setengah jengkal di hadapannya, kedua mata Embun Kahyangan menatap sayu. Akan tetapi, tarikan dan hembusan napas gadis tersebut sedikit berat… Deru napasnya menyapa wajah Bintang Tenggara. Aneh, wajah gadis itu pun memerah. Mungkinkah gegara merapal jurus kesaktian yang memiliki wujud…? 

Bintang Tenggara berupaya bergerak… seketika itu baru ia sadari bahwa telapak tangan kanan yang sedianya terbuka dan bersiap hendak menangkap Tameng Sari, kini sedang meraba sesuatu yang demikian lembut… halus… sekaligus kenyal… 

Benar saja! Telapak tangan Bintang Tenggara sedang berehat dan memikmati kelembutan, kehalusan dan kekenyalan… sebuah gunung yang memesona. Gunung itu pun hanya dilapisi oleh lembaran tipis selendang. Oleh karena itu pila, di antara jemarinya, terasa pula sebulir… sesuatu…. 

“Bruk!” Bintang Tenggara yang terbuai jatuh terjerembab. Baru ia sadari bahwa bersama Embun Kahyangan, dirinya berada di bawah panggung. Segera ia menoleh ke atas panggung. Dua gadis remaja murid Padepokan Kabut hanya yang tersisa di atas sana. Berdiri dengan tenang adanya. 

Jadi, di saat Bentuk Kelima dari Panca Kabut Mahameru sedikit lagi menghantam, Embun Kahyangan telah membatalkan jurus tersebut. Ia pun segera melompat dan menyambar tubuh Bintang Tenggara untuk menghindar dari sisa-sisa kabut gas panas nan beracun. 

Bukanlah kali pertama Embun Kahyangan memafaatkan tubuhnya menyelamatkan anak remaja itu. Mereka berdua kemudian melayang jatuh dari panggung pertarungan. Langkah Embun Kahyangan ini menyelamatkan Bintang Tenggara, sekaligus memastikan kemenangan Padepokan Kabut. Di atas panggung, sebagaimana telah dipastikan oleh Bintang Tenggara, masih tersisa dua murid perguruan yang diketahui hanya terdiri dari perempuan. 

“Padepokan Kabut mengalahkan Perguruan Gunung Agung!” terdengar pengumaman membahana. Sambutan dari hadirin terdengar bergema. 

Bintang Tenggara masih tak percaya akan apa yang telah terjadi. Ia sedang menatap telapak tangan kanannya. Sensasi lembut, halus… dan kenyal itu belum juga memudar. 

“Apakah dikau hendak menyentuh yang satunya lagi…?” tanya Embun Kahyangan ringan. Meski, wajahnya sedikit memerah. 

“Ti… tidak!” Bintang Tenggara setengah panik. 

“Aku merasakan sesuatu yang selama ini belum pernah kualami…,” ujar Embun Kahyangan polos. “Walau tak sengaja, rasanya cukup menyenangkan….”

Bintang Tenggara terpana. 

“Mungkin di lain waktu… dapat kita lakukan lagi dengan lebih terencana.”  


===


Upacara penyerahan gelar juara berlangsung cepat dan khidmat. Petang itu, Padepokan Kabut, perguruan yang baru pertama kali mengikuti Kejuaraan Antar Perguruan bersiap menerima piala kejuaraan. 

Seantero gelanggang pertarungan tak banyak bersuara. Mereka masih terkagum-kagum akan kedigdayaan jurus kesaktian yang mengambil wujud domba gimbal… serta terpesona pada seorang gadis yang mengenakan kemben tipis bermotif batik dan berwarna ungu. Mungkin, ingatan yang paling membekas dalam benak mereka selama kejuaraan kali ini adalah kemolekan lekuk tubuh Embun Kahyangan….  

Embun Kahyangan, bersama keempat anggota regunya, berdiri di tengah panggung pertarungan. Untungnya ia telah kembali mengenakan jubah berwarna ungu tua. Terlihat juga seorang Maha Guru pendamping dari Padepokan Kabut berdiri di dekat mereka. 

Seorang Maha Sepuh dari Perguruan Maha Patih melayang, kemudian mendarat ringan, tepat di hadapan seluruh perwakilan dari Padepokan Kabut. Ikut melayang di balik tubuh lelaki tua itu, adalah sebilah keris Tameng Sari. 

Jauh di salah satu pojok gelanggang kejuaraan, di sisi bawah tribun kehormatan utara, dua orang lelaki dewasa berangkulan. Lebih tepatnya, Adipati Jurus Pamungkas merehatkan lengannya di atas pundak Maha Guru Segoro Bayu yang tertunduk lesu. 

Sang Adipati berkumis dan beralis tebal itu tersenyum puas. Sebagai Ketua Panitia Kejuaraan, Maha Guru Segoro Bayu justru mengejar piala kejuaraan, di saat ia seharusnya menyelamatkan seorang peserta kejuaraan sedang terancam bahaya. Pengambilan keputusan yang salah itu membuat sang Maha Guru menjadi bulan-bulanan Adipati Jurus Pamungkas. Sebuah tindakan perisakan kini sedang berlangsung. 

“Dalam Kejuaraan Antar Perguruan yang ke-115… Padepokan Kabut dinyatakan secara sah dan meyakinkan… sebagai juara!” terdengar suara pengumuman berkumandang dan ditanggapi oleh sorak-sorai seluruh hadirin yang terlihat riang. 

Maha Sepuh dari Perguruan Maha Patih lalu menyerahkan piala bergilir, Pedang Patah, kepada Embun Kahyangan. 

“Terima kasih. Kami akan kembali ke Padepokan Kabut hari ini juga,” ujar Maha Guru pendamping dari Padepokan Kabut. 

“Tinggallah sehari lagi,” ujar sang Maha Sepuh. 

“Tidak.” 

“Prestasi kalian sungguh gemilang,” hibur sesepuh ketujuh kepada kelima wakil dari Perguruan Gunung Agung. 

Wajah Panglima Segantang dan Canting Emas terlihat kusut. Sangat kusut. Mereka terpaksa turun dari panggung pertarungan karena tarikan dari jalinan mata hati Sesepuh Ketujuh. Padahal, saat itu Panglima Segantang baru hendak merapal Bentuk Ketiga dari jurus Gema Bumi. Canting Emas pun sama, ia baru hendak mengaktifkan Segel Kala Rau dari Zirah Rakshasa. Keduanya yakin bahwa mereka dapat bertahan di atas panggung. Keduanya jelas tidak puas. 

Aji Pamungkas dan Kuau Kakimerah tertunduk lesu. Keduanya dengan mudah terperangkap dalam jurus halusinasi lawan. Tanpa perlawanan sama sekali. Tak ada yang dapat mereka banggakan dari pertarungan utama Kejuaraan Antar Perguruan. 

“Kukame…,” bisik Aji Pamungkas. “Tadi kita sempat tidur bersama….” 

Kuau Kakimerah melombat ke balik tubuh Sesepuh Ketujuh. 

Wajah Bintang Tenggara terlihat paling kusut. Kedua matanya menatap para perwakilan Padepokan Kabut yang sedang melangkah meninggalkan gelanggang pertarungan. Ada perasaan sangat tak nyaman yang mengganjal di hatinya. Sangat tak nyaman. 

“Yang terhormat Adipati Jurus Pamungkas…,” tegur Bintang Tenggara ke arah lelaki bertubuh besar tersebut. 

“Hm…?”

“Mohon maaf, diriku tak mampu menunaikan janji yang telah kuutarakan di Perguruan Gunung Agung tempo hari,” tukas Bintang Tenggara cepat. 

“Oh, benarkah? Aku tak pernah mengingat akan janji sedemikian. Janganlah kau pikirkan… Aku cukup senang dengan penampilan putraku selama kejuaraan berlangsung. Dan lagi, kini aku memiliki hamba sahaya....” Adipati Jurus Pamungkas menepuk-nepuk keras pundak Maha Guru Segoro Bayu. 

“Ada yang hendak kulaporkan terkait ‘hambamu’ itu….” Bintang Tenggara ikut mengenyek sang Maha Guru yang sedang berwajah lesu itu.

“Hm…Apakah gerangan? Segera katakan agar dapat kuberi hukuman yang setimpal… Hahaha….”

“Beliau membangkitkan salah seorang Raja Angkara dan menyerangku!” 

“Hah!” Maha Guru Segoro Bayu hampir melompat dari tempat duduknya. 

“Pada malam di hari ketiga kejuaraan… ia meminta diriku pergi ke sisi luar tembok barat Perguruan Maha Patih. Di sana, telah menunggu seorang Raja Angkara! Di saat diriku hendak melarikan diri, ia bahkan menghantamkan tenaga dalam!” ujar Bintang Tenggara mengadukan kejadian sesingkat mungkin kepada Adipati Jurus Pamungkas. 

“Apakah kejadian ini berlangsung pada malam setelah Perguruan Gunung Agung mengalahkan Sanggar Sarana Sakti?” Adipati Jurus Pamungkas mencondongkan tubuhnya. 

“Benar!” 

“Hahaha… Kau terlalu banyak mendengarkan dongeng…,” gelak Adipati Jurus Pamungkas sambil bertukar pandang dengan Maha Guru Segoro Bayu. 

“Hei, bocah! Apakah kau sedang mabuk bunga kecubung!?” sergah Maha Guru itu tak senang menerima tuduhan tak beralasan.

“Diriku serius!” Bintang Tenggara menatap tajam ke arah Adipati Jurus Pamungkas. 

“Hahaha… Tidaklah mungkin. Jelang malam pada hari ketiga kejuaraan, Segoro Bayu yang sedang gundah mengunjungiku. Di sebuah rumah makan setempat, kami kemudian terlibat dalam permainan macanan* yang sangat sengit.”

“Hah!?” 


===


“Selamat kepada Padepokan Kabut.” 

Tetiba seorang lelaki setengah baya mencegat rombongan yang hendak meninggalkan Kota Ahli. Ia diketahui sebagai pendamping murid-murid dari Perguruan Maha Patih, Sesepuh Ke-15, Kertawarma.

“Apakah kau tak puas atas kekalahan Perguruan Maha Patih.” Maha Guru dari Padepokan Kabut menanggapi. Terlihat ia waspada. 

“Oh… Maha Guru Keenam dari Padepokan Kabut…” Sesepuh Ke-15 memasang raut sedikit kaget. “Sebaliknya… kekalahan memberikan kesempatan agar murid-muridku lebih mawas diri. Aku berterima kasih atas pelajaran yang demikian berharga.” 

Rombongan Padepokan Kabut tidak menanggapi. Mereka melanjutkan langkah menjauh dari Kota Ahli. 

“Perguruan Maha Patih telah menyiapkan gerbang dimensi yang terhubung ke wilayah luar Padepokan Kabut. Mari segera kuantarkan.”

Rombongan Padepokan Kabut berhenti sejenak. Mereka menoleh ke arah sesepuh tersebut. 

“Mari… mari…,” sang sesepuh menyibak senyum ramah. 

“Baiklah…,” tanggap Maha Guru Keenam dari Padepokan Kabut. 

Setelah mendapatkan Pedang Patah, baru setengah dari misi mereka yang terselesaikan. Misi utama mereka adalah membawa Pedang Patah kembali ke perguruan. Menggunakan gerbang dimensi, mereka dapat menghindari ancaman penyergapan selama perjalanan, sekaligus menghemat waktu. 

Rombongan Padepokan Kabut, bersama dengan Sesepuh Ke-15 dari Perguruan Maha Patih, lalu melangkah semakin menjauh dari Kota Ahli. 

“Swush!” Sebuah gerbang dimensi berpendar di atas sebuah prasasti batu. 

“Kalian masuk terlebih dahulu…,” ujar perempuan setengah baya dari Padepokan Kabut sambil menunjuk ke arah dua gadis belia di depan. 

“Aku akan mengantarkan kalian sampai ke tujuan,” ujar Sesepuh Kertawarma yang tetiba ikut melangkah masuk ke dalam gerbang dimensi. 

Maha Guru Keenam merasa ada yang janggal. Ia pun segera menyusul ke dalam gerbang dimensi, meninggalkan Embun Kahyangan bersama dua orang gadis lain. Ia hendak segera memastikan apakah benar gerbang dimensi tersebut terhubung dengan Padepokan Kabut. 

“Duar!” tetiba batu prasasti di bawah gerbang dimensi meledak! 

“Khikhikhi!” tawa nyaring terdengar mengiris-iris kesunyian di petang jelang malam. 

Embun Kahyangan dan kedua temannya segera waspada. Mereka merasakan kehadiran mustika tenaga dalam yang lebih kuat. Tanpa pikir panjang, ketiganya segera melesat ke arah Perguruan Maha Patih. Cukup jauh jarak yang harus ditempuh, karena saat ini mereka berada di luar Kota Ahli.  

“Bum!” Ketiganya terpental di saat asap berbau kemenyan yang berwujud ikan sembilang menghantam! 



Catatan:

*) Disarikan dari arikel Kompas.com 

**) Macanan: sejenis permainan asah otak yang mirip dam-daman.