Episode 4 - Bagian Pertama (3)

Malam memberat. Suara jangkrik menciptakan komposisi sunyi. Bayangan Miranti memadati benak Rozak. Kesedihan mengarus pada lekuk pipinya. Ia tak mengerti, mengapa cinta dan rasa bencinya justru membuat hatinya semakin cidera. Miranti pergi atas alasan takdir yang tak bisa ia ubah, impoten. Namun, selain itu, beberapa kali perempuan itu mengeluh soal kondisinya yang miskin. Rozak menyadari bahwa hampir seluruh mimpi buruk perkawinan ada pada dirinya. Ia impoten, mandul, miskin, dan tak pernah tertarik menjadi kaya.

**

Siang belum matang. Ganesha hendak membeli sarapan di warung Mak Jamilah, sementara Rozak masih dibuai mimpi di dalam Combi. Langkahnya terhenti ketika di dekat roda pagar ditemukannya sebuah amplop.

Ia mengabaikan perut keroncongannya, dan memutuskan kembali ke teras rumah. Ia duduk di kursi teras. Mendapati nama Raslene berada di sudut kanan amplop, ia segera merobek benda itu dan membaca isinya.

Dear Ganesha,

Saat kamu membaca surat ini, aku tengah menunggumu datang menyelamatkanku. Saat ini, aku tengah berada di pedalaman hutan Afrika, setelah menempuh perjalanan udara berminggu-minggu mengendarai payung ajaibku. Kamu masih ingat dengan payung ajaibku yang bisa terbang, kan? Tadinya, aku hendak menjemputmu lebih dulu, namun payungku sudah mulai tua dan payah, sehingga kupikir tak aman apabila harus menerbangkan dua orang. Dan benar firasatku, sundal itu mati saat kami baru beberapa hari sampai di sini, sehingga aku tak bisa pulang.

Sejujurnya, aku bahagia di sini. Aku memberi makan singa-singa dengan bekal yang kubawa dari Indonesia, dan menamai salah satunya dengan namamu. Lalu, seekor gajah tua pemarah menghampiriku dan meminta diberi nama juga. Akhirnya, aku memberinya nama Lion King, dan sejak saat itu dia terus-menerus belajar mengaum.

Hidup di sini sangat menyenangkan, Nesh. Aku bisa melakukan apa yang aku suka. Kadang, aku bergelantungan seperti Tarzan, bergosip dengan sekelompok monyet, juga melompat di atas punggung buaya seperti seekor kancil. Seandainya kamu ada di sini, kita akan jadi Tarzan dan Jane. Kamu Jane, dan aku Tarzan.

Mungkin, kamu bertanya bagaimana surat ini sampai kepadamu?

Aku mengirimkannya lewat seorang tukang pos hutan bernama Paman Kikuk. Seorang tukang pos yang entah digaji oleh siapa. Barangkali, langsung oleh Tuhan, tetapi aku tak bertanya. Sebab yang terpenting bagiku, surat ini sampai kepadamu. Tapi, yang kudengar dari gosip sekelompok rusa betina, Paman Kikuk memang pengantar surat khusus di kawasan hutan ini, dan datang setiap tiga tahun sekali.

Paman Kikuk bertubuh buncit dan berjanggut. Mirip Santa Claus, hanya saja ia bukan pemeluk agama yang taat. Tadinya, aku berniat ikut dengannya ke Jakarta karena alasan yang akan kujelaskan lebih jauh di surat ini. Namun, rupanya pesawat kertas Paman Kikuk hanya bisa dikendarai satu orang. Dulu, kata Paman Kikuk, ketika dia dan pesawatnya masih sama muda, pesawat itu bisa ditumpangi lebih sepuluh orang. Namun, sekarang pesawat itu sudah sakit-sakitan, dan ini kali terakhirnya bekerja bersama Paman Kikuk sebelum memilih pensiun. Aku harap, apa yang dikatakan para rusa penggosip dan paman Kikuk benar, dan surat ini sampai di tanganmu.

Seperti yang kukatakan di awal, aku menunggu kamu menyelamatkanku, Nesh. Dan, semoga saja tak perlu bertahun-tahun untuk surat ini sampai padamu.

Ganesha yang baik, sekitar satu minggu lalu, seeokor baboon raksasa bernama Kunggo melamarku. Dia baboon ganas yang menguasai sebagian besar hutan setelah berhasil menumpas sejumlah singa jantan. Tubuhnya sebesar patung Pancoran, dengan pahatan otot hampir di seluruh bagiannya. Gigi-ginya yang besar dan runcing seolah mampu dengan mudahnya mencabik dagingku.

Dia jatuh cinta setengah mati padaku. Katanya, jika aku mau menjadi istrinya, aku akan diberi mahar seluruh buah yang ada di hutan ini. Selain itu, dia juga berjanji akan menceraikan seluruh istri-istrinya.

Dia hewan ganas dan tukang kawin. Konon, sebelum jatuh cinta padaku, dia pernah melamar seekor semut betina. Aku mengetahui perangai buruknya dari Wanda, istri terakhirnya, seekor lipan. Lebih jauh Wanda menceritakan, semut betina bernama Lily itu berhasil membuat Kunggo menerima penolakannya.

Lily mengajukan satu tantangan yang tak bisa diselesaikan Kunggo; masuk ke lubang kecil tempatnya tinggal tanpa harus merusaknya. Sebelum mengakui dirinya tak sanggup, baboon dungu itu sempat berusaha menjawab tantangan Lily. Dia sempat melakukan diet mati-matian. Dan, tentu saja hal itu hanya membuatnya kurus kering dan hampir mati.

Dia terkapar di tanah, dan semua hewan bersembunyi di balik pohon-pohon yang melingkari tubuh sekaratnya. Semua hewan terlihat bahagia ketika itu. Apalagi sekelompok burung pemakan bangkai. Namun, saat maut hanya tinggal sejengkal dari Kunggo, dia menolak mati dan memutuskan merangkak ke arah sebuah pohon. Kemudian, dia berusaha memanjatnya, hingga sampai di atas memakan dengan rakus hampir seluruh buah di sana. Lalu, berangsur-angsur kondisinya pulih.

Kunggo menyerah. Mengetahui itu, Lily menjadi mahluk hutan yang paling berbahagia. Sementara hampir seluruh penghuni lainnya merasa kecewa, karena artinya mereka terpaksa melanjutkan hidup dalam tirani Kunggo.

Jadi, menurut Wanda, jika aku ingin menolak lamaran Kunggo, aku mesti memberi tantangan yang tak bisa baboon itu lakukan. Namun, belum sempat aku berpikir matang, Kunggo dan anak buahnya muncul tiba-tiba di hadapan kami, meminta kepastianku. Melihat seringainya yang mengerikan, tanpa berpikir panjang, aku menantangnya untuk bisa menulis sebuah novel.

Mulanya, Kunggo bertanya apa itu novel. Kemudian, aku menjelaskan panjang lebar yang dimaksud novel kepadanya. Kunggo sempat jengkel karena tak juga bisa menerjemahkan apa maksud permintaanku. Namun, salah satu anak buahnya, baboon bernama Bomber yang kepintarannya mengalahkan Rozak, membantuku menjelaskan kepada bosnya. Akhirnya, setelah tiga jam yang melelahkan, Kunggo memahami secara sederhana bahwa novel adalah sebuah buku cerita. Yang ada di pikiranku waktu itu adalah; mustahil dia dapat membuat sebuah buku cerita sementara dia tak bisa membaca dan menulis. Dan, saat kata menyerah sudah di ujung lidahnya, Bomber menceritakan apa yang pernah dilihatnya waktu berkelana di hutan ini.

Bomber bercerita bahwa dia pernah melihat seorang manusia mengajarkan anak-anak suku pedalaman membaca dan menulis. Kata Bomber kepada Kunggo, manusia itu pasti bisa membantu Kunggo melaksanakan tantanganku. Namun, untuk sampai ke sana diperlukan waktu berbulan-bulan melewati hutan larangan yang penuh bahaya. Mendengar ‘hutan larangan’, Kunggo sedikit gentar. Namun, tekad dan cintanya padaku sama kerasnya. Hingga akhirnya, dia memutuskan pergi ke sana untuk berguru pada manusia itu. Dugaanku, manusia yang dikatakan Bomber adalah seorang guru relawan yang ditempatkan di pedalaman hutan.

Melihat kenekatan Kunggo, aku sedikit takut. Akhirnya, aku berbohong bahwa aku sebenarnya telah memiliki kekasih; seorang penulis novel bernama Ganesha. Dia marah dan mencekik leherku dengan tangan besarnya. Aku memukuli tangannya, namun dia bergeming. Barangkali, waktu itu, ajalku hanya tersisa beberapa hela napas lagi. Sampai akhirnya, Wanda berhasil meyakinkan Kunggo untuk melepas cengkeraman tangannya.

Kunggo memaksaku menjadi istrinya lagi, dan aku bersikeras menolak. Namun, saat dia hampir mencekik leherku kembali, aku mengatakan hal ini: aku akan memilihmu jika novel yang kamu tulis lebih bagus daripada yang berhasil ditulis kekasihku. Kita akan meminta seluruh penghuni hutan untuk memberikan penilaian; mana yang lebih bagus antara novel yang kamu tulis dan yang ditulis kekasihku. Dia—kekasihku—sedang dalam perjalanan ke sini untuk menjemputku.

Dasar jantan gengsian, dia menerima saja tantangan itu, dan segera pergi bersama Bomber. Dia tidak menyadari, bahwa dia pasti akan kalah.

Jadi, aku meminta sungguh-sungguh bantuanmu, Nesh. Tuliskan sebuah novel untukku, dan datanglah ke tempat ini. Untuk melakukan yang kedua, kamu harus menemui seseorang bernama Aurora di Hotel Biru yang berada di Cirebon. Aku meninggalkan sebuah payung ajaibku yang lain di sana. Saat bertemu Aurora, kamu harus bacakan mantera ini:

Simbatuke simbatuke lalamutasoitalua manahatimulajanimus adabra adibiri mutilomatukasuumaraus.

Nasibku berada di tanganmu, Nesh. Aku harap, kamu masih tetap seorang yang selalu memercayaiku.

Salam kangen,

Raslene

NB: Pastikan kamu datang membawa novel karanganm karena kalau tidak segalanya akan sia-sia.

Ganesha berlari, berusaha menemukan Raslene. Ia membangunkan sekelompok remaja yang tepar di tanggul kali akibat mabuk, dan bertanya apakah mereka melihat seorang perempuan cantik, tinggi, berkulit putih, mungkin berambut panjang lewat tadi pagi. “Kuntilanak, Bang?” tanya salah satunya. Dan, saat Ganesha mengalihkan pertanyaan kepada satu yang terlihat paling sadar, remaja itu malah menjawab sama ngawurnya. “Bang, terakhir kali gua liat perempuan cantik di sini, ya, waktu Haji Mahmud kampanye caleg. Namanya Nina Geboi. Goyangannya bikin kerusuhan dan perceraian rumah tangga. Nggak akan ada cewek cantik yang mau dan bakal ditakdirkan hidup di lingkungan kita, Bang. Bahkan di mimpi basah pemuda mabuk macam kami ini,” kata bocah bermulut ketus itu.

Ganesha meninggalkan para pemuda menuju warung Mak Jamilah. Ia bertanya hal yang sama kepada wanita paruh baya itu. “Nesh, ente ngigo, ye?” tanya Mak Jamilah. Dan, saat ia menjelaskan sedikit tentang ciri fisik Raslene, Mak Jamilah malah semakin menyudutkannya. “Tong, gue kasih tahu ke elu, ye. Gue ini udah punya pengalaman banyak jadi orang miskin. Dan, setau gue, kalo orang kaya kebanyakan mati karena sakit jantung, orang miskin kayak kite mati karena kebanyakan ngayal. Nih, gue kasih gratis kopi bakal lu cuci muka.”

Tak ada kalimat yang bisa menyadarkan orang dari mabuk cinta. Ganesha terus bertanya kepada siapa saja yang ditemuinya. Namun, cuma lelucon yang diterimanya sebagai jawaban. Setelah putus asa, ia kembali ke rumah.

Ketika sampai di dekat pagar, ia melihat seorang bocah tengah asyik bermain pesawat kertas. Ia segera menghampiri bocah itu dan bertanya dari mana dia mendapatkan pesawat itu. Dengan sedikit ketakutan, bocah itu meminta maaf karena berpikir telah mencuri pesawat kertas milik Ganesha yang tergeletak di dekat pagar tadi pagi. Ganesha menenangkan bocah itu, kemudian masuk ke rumah, dan akhirnya kembali dengan sebuah pesawat kertas baru. Setelah berhasil tukar-menukar, si Bocah meminta Ganesha berjanji tak akan mengadukan kejadian ini kepada orang tuanya.

Ganesha kembali ke teras dan melemparkan tubuh lelahnya ke kursi. Ia meletakkan pesawat kertas bertuliskan ‘Paman Kikuk’ di bagian sayapnya itu di atas meja. Sekali lagi, Raslene menciptakan perang antara logika dan hatinya. Logikanya mengatakan, ini hanya permainan Raslene belaka. Sedangkan, hatinya—yang kadang ia sadari selalu menyulitkan hidupnya—bertanya, bagaimana mungkin ia masih ragu memercayai Raslene, sementara perempuan yang dicintainya itu, barangkali, benar-benar terancam di hutan nun jauh. Bodoh, kata Ganesha kepada hatinya.

Akhirnya, seperti yang pernah puluhan kali terjadi, ia memenangkan hatinya. Ia mulai berpikir untuk menulis sebuah novel. Paling tidak, jika pun ini cuma permainan yang diciptakan Raslene, maka ia memilih mengikuti cara mainnya. Menulis novel dan pergi ke Cirebon. Sebab itulah satu-satunya cara untuk bertemu perempuan itu.

Mungkin nanti, ia akan menemukan Raslene tengah hidup di kota itu sebagai nelayan, atau petani, atau tour guide, atau menjadi apa pun yang terbersit tiba-tiba di pikiran perempuan itu.

Ganesha bangkit dari benaknya yang sibuk, mandi, dan setelah itu membongkar rak bukunya. Ia mengambil beberapa buku, dan membawanya ke warnet Sukamiskin yang berada di Jalan Haji Rohmat.

Di warnet penuh anak sekolah madol itu, ia mencoba menulis kalimat pertama novelnya.

Setengah jam menguap begitu saja. Tak satu paragraf pun berhasil memulai novelnya. Sudah lebih setahun ia meninggalkan kegemaran membacanya. Selama kurun waktu itu, ia hanya mengisinya dengan membaca tak lebih 10 puisinya sendiri dari satu metromini ke metromini lain. Sementara untuk menulis novel, ia mesti mengisi kepalanya dengan banyak buku. Itu hukum mutlak.

Ganesha terus berusaha menemukan kata pertama, sementara bising suara permainan perang yang disemburkan speaker komputer warnet membuat kepalanya hendak meledak. Sesekali ia keluar, merokok untuk mendapatkan inspirasi, namun ia cuma bisa kembali duduk tanpa satu kata pun. Ia umpama pistol tanpa peluru; dingin dan merasa tak berguna.

“Brengsek,” makinya pada diri sendiri, setelah melihat angka tagihan warnetnya sudah mencapai dua puluh lima ribu.

**

“Dari mana saja kamu, Bung?” tanya Rozak, kepada Ganesha yang terlihat jengkel dan putus asa. Ganesha hanya melengos ke dapur. Ia menyeduh secangkir kopi, lalu kembali ke teras dan duduk di sana.

“Dari mana, Nesh?” Rozak mengulangi pertanyaannya yang belum terjawab.

“Dari warnet, Bung.”

Melihat raut Ganesha, Rozak menduga sahabatnya itu habis mencari akun media sosial milik Raslene. “Sabar, Nesh.” Rozak menepuk bahu Ganesha. “Jauh lebih baik kamu nggak menemukan akunnya, daripada bernasib sepertiku.” Rozak kembali mengingat betapa sakit hatinya kali pertama menemukan Miranti di Facebook.

“Aku mencoba menulis lagi, Zak.”

“Woow! Berarti kita bakal punya amunisi baru buat perang melawan kelaparan!” Rozak menduga Ganesha menulis puisi.

“Novel, Bung.”

“Woooow!” Rozak menepuk bahu Ganesha. “Berarti kantor kita mesti pindah ke bus antar daerah. Priuk-Senen nggak akan cukup buat membaca sebuah novel, Bung. Kita cari yang jurusan Semarang,” gurau Rozak.

“Brengsek.”

Kemurungan Ganesha membuat Rozak terpaksa menelan gurauannya.

Rozak berpikir sebentar. “Hei, Nesh, kenapa?”

“Punya simpanan uang seratus ribu, Bung?” Ganesha yang belum berani menceritakan tentang surat dari Raslene mengingat tagihan warnetnya yang belum dibayar. Ganesha menceritakan kepada Rozak perihal hutangnya di warnet.

“Ah, aku kira soal apa. Ternyata cuma soal bayar warnet.” Rozak tersenyum lega. Ia mengambil dompet di saku belakang jinsnya, mengambil selembar seratus ribu, dan menggenggamkannya di tangan sahabatnya. “Nggak usah pinjam. Tapi janji padaku selesaikan novelmu.

Ganesha bergeming.

“Sudah berapa halaman, Tuan Novelis?”

“Belum satu paragraf pun.”

“Nggak masalah, Nesh. Yang terpenting kamu sudah mulai.”

Ganesha mengambil rokok di meja dan membakarnya. Setelah embusan pertama, ia menyesap kopi untuk mengapus rasa pahit yang tertinggal di mulutnya.

“Tapi aku masih penasaran, setan macam apa yang bisa membuatmu menulis novel? Sementara raja setan macam aku pun bertahun-tahun gagal meyakinkanmu tentang bakatmu bercerita.”

“Tapi aku bahkan belum tahu mau menulis apa, Bung!”

Rozak membakar rokok. “Kalau aku boleh saran. Tulis kisahmu bersama jalang bernama Raslene, karena menurutku kisah itu jauh lebih konyol daripada sepasang manusia yang memilih mati karena cinta.”

**

Ganesha menyusuri kalimat demi kalimat yang ditulis Raslene untuknya di atas kasur kapuknya. Usai melipat surat itu dan meletakkannya di bawah bantal, ia memikirkan kembali yang dikatakan Rozak. Ia bertanya kepada dirinya sendiri, layakkah kisah yang penuh ketololannya itu ia tulis? Layakkah seorang perempuan yang pergi dari hidupnya berkali-kali diperjuangkan? Ia tak bisa menjawabnya.

**

Selama beberapa hari ini, Ganesha menghabiskan waktunya dengan menulis. Ia menyusun kembali kepingan-kepingan kenangannya. Ia sepenuhnya sadar bahwa yang ingin dilupakan, bukan berarti tak layak dicatat. Pun sebaliknya.

Ganesha telah menentukan gagasan yang ingin ia sampaikan lewat novelnya. Ia memilih gagasan yang bisa diperdebatkan, atau yang diistilahkannya sebagai kebenaran filosofis. Novel, bagi Ganesha, adalah upayanya membela gagasan lewat narasi. Jadi, apabila gagasan tersebut tak punya celah buat didebat, maka tak ada yang patut dibela atau dinarasikan. Kemudian, Ganesha mulai membuat tabel karakter. Ia tak kesulitan melakukan itu, sebab cuma perlu mengingat lebih detail orang-orang di masa silamnya. Detail itu ia perlukan karena setiap orang unik dan khas. Dan, tentu saja kedua hal tersebut mempengaruhi keputusan-keputusan tokoh yang akan menggerakkan arah cerita.

Kemudian, ia menyusun ingatannya ke dalam satu tubuh kerangka karangan. Ia menentukan jumlah bab dan memecahnya menjadi bagian-bagian kecil.

Setelah itu, Ganesha mulai menulis. Ia membiarkan keran kata-katanya terbuka selebar mungkin. Yang terpenting, bagi Ganesha, bab pertama novelnya lebih dulu memiliki tubuh cerita. Lalu, ketika ia merasa telah buntu menulis, ia membaca kembali tulisannya. Sambil membaca, ia mulai memperbaiki kata-kata yang salah ketik serta memangkas kalimat yang kurang efektif. Ia juga menambal logika yang bolong, serta menghilangkan logika yang tidak perlu. Selain itu, ia beberapa kali menambahkan detail dan penjelasan agar ceritanya lebih mudah dipahami. Meskipun novel ini hanya akan dibaca segelintir orang, tetapi Ganesha mencoba tetap serius mengerjakannya. Ia sadar, tak akan ada penyunting naskah, maka ia harus berjuang sendiri untuk mengerjakan ini sebaik-baiknya.