Episode 105 - Domba Gimbal



Hari kesembilan Kejuaraan Antar Perguruan. Atau dengan kata lain, hari terakhir. Dua perguruan kuda hitam, Perguruan Gunung Agung dan Padepokan Kabut, bertemu dalam pertarungan utama. 

Pada pertarungan pembuka, Pergurungan Gunung Agung menumbangkan Perguruan Nusantara dengan serangan cepat. Perguruan besar yang berasal dari ibukota Negeri Dua Samudera itu terlalu meremehkan lawan. Walhasil, mereka dibuat tak bisa berkata-kata saat satu persatu anggota regu dihantam brutal. 

Pertarungan kedua bagi Perguruan Gunung Agung adalah menghadapi Sanggar Sarana Sakti dari Tanah Pasundan. Perguruan yang dikenal dengan kedigdayaan dalam menggunakan senjata-senjata sakti menguji Perguruan Gunung Agung melalui pertarungan satu lawan satu. Panglima Segantang, Kuau Kakimerah dan Aji Pamungkas mempertontonkan wujud dari jurus kesaktian masing-masing. Seantero gelanggang kejuaraan dibuat terpana ketika Perguruan Gunung Agung kembali menumbangkan perguruan unggulan. 

Di hari kelima, hadirin dan para perguruan peserta kejuaran sudah tak lagi memandang Perguruan Gunung Agung sebelah mata. Adalah Perguruan Ayam Jantan dari Kota Daeng di selatan Pulau Logam Utara, menjadi lawan ketiga. Kedua murid perguruan sepakat untuk mengirimkan seorang saja wakil dalam pertarungan. Masing-masing mengundi wakil dari perguruan lawan. Walhasil, Bintang Tenggara berhadapan dengan Saweri Gading. Berbekal jurus-jurus yang unik dan sebilah Senjata Pusaka Baginda, Saweri Gading mendesak Bintang Tenggara. 

Atas anjuran luar biasa nan maha digdaya serta mandraguna dari Super Guru Komodo Nagaradja, Bintang Tenggara mengambil keris Tameng Sari, yang notabene adalah piala kejuaraan itu sendiri. Keadaan sempat memanas karena campur tangan seorang ahli digdaya bersumbu pendek. Seorang ahli digdaya lain, yang diketahui sebagai anggota Pasukan Telik Sandi, pun menengahi. Pada akhirnya, Perguruan Gunung Agung berhasil mengungguli Perguruan Ayam Jantan. 

Pertarungan keempat, teranyar, adalah takluknya Persaudaraan Batara Wijaya kepada Perguruan Gunung Agung. Meski perguruan tersebut mengirimkan ahli-ahli yang digdaya dan menguasai strategi pertarungan beregu, sikap tinggi hati adalah yang menjadi penyebab kekalahan mereka. Andai saja perwakilan Persaudaraan Batara Wijaya tetap konsisten pada pakem strategi beregu, dan karena menang jumlah, dipastikan bahwa peluang Persaudaraan Batara Wijaya meraih kemenangan sangatlah besar. 

Bilamana Perguruan Gunung Agung tampil memesona. Beda pula halnya dengan Padepokan Kabut. Perguruan yang keseluruhan wakilnya terdiri dari gadis-gadis remaja, tidak tampil menonjol karena kebetulan lawan-lawan mereka bukanlah perguruan-perguruan unggulan. 

Meskipun demikian, pandangan seluruh hadirin serta-merta berubah ketika Padepokan Kabut menumbangkan Perguruan Maha Patih. Siapa nyana, tuan rumah sekaligus unggulan pertama tak bisa berbuat apa-apa di balik kabut tebal berwarna ungu! 

Pagi ini, panggung pertarungan sudah kembali seperti sedia kala. Tak terlihat sama sekali kerusakan yang disebabkan oleh pertarungan kala Perguruan Gunung Agung berhadapan dengan Persaudaraan Batara Wijaya. 

Lima orang gadis belia dengan perawakan sangat dingin berdiri di atas panggung. Wajah setiap satu dari mereka sungguh ayu. Bentuk tubuh mereka berlekuk kemayu. Mungkin inilah alasan sebenarnya para hadirin tak memerhatikan pertarungan Padepokan Kabut… mereka terlalu sibuk memerhatikan gadis-gadis belia itu. 

Canting Emas memasang wajah loya.* Ia pernah melihat Embun Kahyangan sepintas saat pertarungan menghadapi Guru Muda Anjana di ruang dimensi berlatih Perguruan Gunung Agung. Kini ada empat gadis lain. Meski anggota tubuh tertentu anggota lain tidaklah semenantang Embun Kahyangan, ia tetap muak. Muak kepada satu, muak kepada kelimanya. Pokoknya muak!

Empat orang gadis berdiri membentuk setengah lingkaran. Di belakang mereka, berdiri di tengah, adalah seorang gadis yang mengenakan jubah berwarna ungu. Jika beruntung, maka belahan dada selembut embun yang turun dari kahyangan akan menyibak gemulai, memanjakan mata sesiapa pun yang beruntung itu.

Di samping Canting Emas, Aji Pamungkas berkeringat deras. Ia sedang mengerahkan kemampuan mata hati dan mata siluman miliknya sampai ke ambang batas yang demikian tinggi, yang belum pernah ia capai sebelumnya. Bahkan, sebentar lagi mungkin Aji Pamungkas akan berhasil melewati ambang batas tersebut, dengan catatan kepalanya tak meledak terlebih dahulu. 

“Aji Pamungkas… kau terlihat kurang sehat,” tegur Panglima Segantang khawatir. 

“Tak pernah ada sejarah dimana mata hati dapat melihat menembus pakaian…,” cibir Canting Emas yang mengetahui niat lucah Aji Pamungkas. 

Bintang Tenggara menatap tajam ke arah Embun Kahyangan. Tatapan matanya di balas dengan tatapan sayu gadis tersebut. Sepertinya gadis itu sama sekali tak tertarik untuk beramah-tamah.

“Bersiaplah…,” ujar Bintang Tenggara kembali dari lamunan sejenak. Penting baginya untuk mengingatkan teman-teman agar tak meremehkan lawan. Jangan sampai mereka justru mengulang kesalahan-kesalahan perguruan yang telah mereka tumbangkan. 

“Pertarungan dimulai!” seru wasit di sisi bawah panggung pertarungan. 

“Swush!” Kabut berwarna ungu tetiba turun memenuhi seluruh wilayah panggung pertarungan. Telah diketahui bahwa jalinan kabut tersebut dirapal bersamaan oleh kelima gadis, dan dikendalikan seorang diri oleh Embun Kahyangan. 

Panca Kabut Mahameru, Bentuk Pertama: Kabut Ranu Kumbolo!

Seketika itu juga, kelima murid Perguruan Gunung Agung tak dapat melihat apa pun kecuali warna ungu. Di saat yang sama, mengerahkan pantauan mata hati pun tak bisa mengamati apa-apa. Meski demikian, berbeda dengan Aji Pamungkas… Samar-samar, ia masih dapat merasakan keberadaan musuh. 

“Gema Bumi, Bentuk Pertama: Kuat Akar Karena Tanah!” seru Panglima Segantang.

“Wahai Datuk Mambang Tanah, kumohon inayat akan kesuburan… Rotan Bunian: Tambat! Bebat! Rambat!” gumam Kuau Kakimerah.

Bintang Tenggara lebih percaya pada Panglima Segantang dan Kuau Kakimerah. Keduanya diminta untuk merasakan keberadaan musuh melalui tanah di permukaan panggung, serta jalinan rotan yang tumbuh. 

“Dua di kiri!” sergah Panglima Segantang. 

“Dua di kanan!” teriak Kuau Kakimerah. 

“Satu di atas!” ujar Aji Pamungkas melakukan kesalahan, karena Embun Kahyangan sama sekali tak bergerak. 

“Merapat dan merunduk!” ujar Bintang Tenggara sambil mengeluarkan Tempuling Raja Naga. 

Panglima Segantang segera mundur dan berjongkok. Begitu pula yang lainnya, mereka merapat dan mengelilingi Bintang Tenggara, yang berdiri di tengah. Bintang Tenggara lalu meringankan Tempuling Raja Naga dan memutar senjata pusaka tersebut di atas kepala sehingga mirip baling-baling. Dengan cara ini, meski tak dapat mendeteksi keberadaan lawan secara akurat, setidaknya lawan tak bisa menyerang dengan leluasa. 

“Awas, dua di antara mereka mengeluarkan senjata jarak jauh…,” terdengar suara malas di jalinan mata hati Bintang Tenggara. 

Kemampuan jurus lawan telah diketahui berfungsi untuk membutakan pandangan mata dan menutup pantauan mata hati, namun bukan jalinan mata hati. Tentu Bintang Tenggara tetap leluasa mendengar celoteh sang Super Guru. Dan kesadaran sang Super Guru ini merupakan jurus rahasia dalam menghadapi lawan kali ini. Sehebat apa pun kemampuan Bentuk Pertama dari jurus Panca Kabut Mahameru, tentu tak dapat membatasi kemampuan ahli pada tinggatan yang jauh lebih tinggi. 

“Belati pendek dari kiri, dan bandhil dari kanan….” Nada Komodo Nagaradja semakin malas. “Hei… aku gurumu, bukan ajudan dalam pertarungan….” 

“Terima kasih, Super Guru.”

“Panglima, kanan!” 

“Kuau, kiri!”

Sesuai aba-aba dari Bintang Tenggara, Panglima Segantang memasang tembok tanah dan Kuau Kakimerah menumbuhkan jalinan rotan. Kedua senjata jarak jauh milik murid Padepokan Kabut tak dapat melewati pertahanan yang dibangun! 

“Aji! Kiri dan kanan!” ujar Bintang Tenggara sambil menghentikan putaran Tempuling Raja Naga. 

“Panah Asmara, Bentuk Kedua: Cinta Segitiga!”

Aji Pamungkas yang samar-samar dapat merasakan keberadaan lawan melesatkan tiga anak panah secara berturut-turut ke kiri, kemudian ke kanan. Setelah itu, ia kembali merunduk. 

“Hei! Kau terlalu dekat!” sergah Canting Emas yang merasakan tubuh Aji Pamungkas menempel ke tubuhnya. 

“Ca-Em… sungguh aku tak bisa melihat…,” Aji Pamungkas berupaya sebaik mungkin meraih kesempitan di dalam kesempatan. 

Bintang Tenggara kembali berdiri memutar Tempuling Raja Naga. Sepertinya, tembakan panah angin Aji Pamungkas tadi dapat dihindari. Akan tetapi, fungsi tembakan anak panah untuk menjaga jarak antara kedua kubu rupanya membuahkan hasil. 

Serangan senada dari Padepokan Kabut kembali terulang beberapa kali. Di bawah komando Bintang Tenggara, Perguruan Gunung Agung hanya bertahan di dalam kabut. Sesekali mereka membalas menggunakan panah-panah angin Aji Pamungkas. Namun, upaya serangan balik tersebut belum juga dapat mengenai lawan. 

Bintang Tenggara tetiba merasakan bahwa kabut ungu mulai tersibak. Mungkinkah pertahanan yang mereka bangun cukup kokoh sehingga memaksa murid-murid Padepokan Kabut menarik jurus mereka? 

“Apa yang terjadi!?

“Padepokan Kabut membatalkan jurus mereka!”

“Perguruan Gunung Agung masih bertahan!” 

Para penonton di tribun masih seperti biasa. Begitu mendapat kesempatan, langsung saja mereka melancarkan komentar-komentar atas kelangsungan pertarungan. Miriplah dengan ahli baca sekalian. Akan tetapi, kali ini pandangan mereka benar adanya. Padepokan Kabut membatalkan jurus kombinasi dan Perguruan Gunung Agung masih bertahan tanpa kehilangan satu anggota pun.

Kedua mata sayu Embun Kahyangan menatap Bintang Tenggara. Ia tahu betul bahwa anak remaja tersebut mengetahui jurus-jurus kesaktian unsur kabut miliknya. Mereka pernah bertarung berpasangan menghadapi lawan yang jauh lebih kuat. Serasi pula gaya mereka bertarung kala itu. 

Panca Kabut Mahameru, Bentuk Kedua: Kabut Oro-oro Ombo!

Jalinan kabut kembali turun. Akan tetapi, kali ini tak melingkupi tebal di seluruh wilayah pertarungan. Jalinan kabut membungkus satu-persatu murid Perguruan Gunung Agung. Bintang Tenggara segera merasakan dirinya mengantuk. 

“Serang!” seru Bintang Tenggara cepat. 

Panglima Segantang langsung merangsek maju disusul Canting Emas. Dua orang lawan segera menahan gerak langkah mereka. Akan tetapi, tak ada panah kendali yang menyusul langkah maju Panglima Segantang, dan tak ada pula jalinan rotan yang berupaya menjerat langkah ketika Canting Emas mendobrak. 

Bintang Tenggara menoleh ke belakang. Aji Pamungkas dan Kuau Kakimerah tergolek tidur. Raut wajah Kuau Kakimerah begitu ria sekaligus jumawa, sepertinya halusinasi bergelimang keping-keping emas berhasil menjebaknya. Lain pula dengan raut wajah Aji Pamungkas yang meringkuk meliuk-liuk. Air liur mengalir deras dari sudut bibirnya, terdengar pula ia mendesah. Entah halusinasi apa yang menjebak Aji Pamungkas sampai sedemikian meresahkan tampangnya saat tertidur…. 

Halusinasi tak berhasil menjebak Panglima Segantang dan Canting Emas yang bersemangat menggebu-gebu hendak bertarung. Kesadaran mereka saat sudah bertarung memang tak mudah diganggu. Sedangkan Bintang Tenggara, ia memiliki kesadaran Super Guru Komodo Nagaradja yang mengoceh tanpa henti sehingga membuat dirinya tak bisa tertidur. Jangankan berhadapan dengan jurus sakti lawan, dalam kondisi dirinya butuh istirahat malam saja, bila sang Super Guru lagi hendak bercengkerama, maka sulit sekali terlelap. 

“Srek!” Bintang Tenggara melangkah maju untuk mendukung kedua temannya di depan…. Namun, ia terpaksa kembali mundur karena Aji Pamungkas dan Kuau Kakimerah tergolek tak berdaya. Terlihat betul lawan akan memutar dan menyingkirkan keduanya bilamana ditinggal pergi. 

“Sret!” Panglima Segantang dan Canting Emas merangsek mundur. 

Sekujur lengan dan kaki Panglima Segantang bergelimang darah. Diketahui bahwa murid-murid Padepokan Kabut adalah pembunuh bayangan. Mereka tak bertarung hadap-hadapan, namun mencari celah kosong untuk menyarangkan serangan. Berkat naluri bertarung yang tajam, Panglima Segantang berhasil menghindari serangan-serangan yang dapat berakibat fatal. Luka-luka di lengan dan kaki hanyalah goresan semata. 

Canting Emas lebih beruntung. Zirah Rakshasa melindungi tubuhnya dari tusukan dan tikaman vital. Meski, menghadapi lawan yang lincah berkelit, ia kehilangan daya dobrak yang selama ini menjadi andalan. 

Panca Kabut Mahameru, Bentuk Ketiga: Kabut Kalimati!

Di saat menarik diri, tetiba Panglima Segantang dan Canting Emas merasakan kabut yang mengelilingi tubuh mereka seolah mengeras. Sulit sekali bagi keduanya hendak bergerak. Bahkan dengan kekuatannya, Panglima Segantang tak bisa berbuat banyak, apalagi Canting Emas yang mengandalkan kelincahan. Terkunci di tempat!

Keadaan ini merupakan skenario terburuk dalam perhitungan Bintang Tenggara. Ia tak menyangka bahwa semudah itu kesadaran Kuau Kakimerah dan Aji Pamungkas akan terjebak dalam halusinasi. Sedangkan kabut yang mengunci gerakan memang akan sangat menyulitkan. Berbekal pengalaman bertarung bersama Embun Kahyangan, kabut pengunci gerakan tersebut tak bisa berlama-lama mengunci lawan. Akan tetapi, seharunya hanya satu jurus yang dapat aktif pada satu kesempatan, bagaimana mungkin kabut halusinasi dan kabut pengunci gerak bisa aktif di saat yang sama!? Mungkinkah karena dirapal bersama-sama…?

“Srek!” Bintang Tenggara melangkah cepat tak beraturan. Jalinan listrik terlihat di kedua kaki dan jemarinya. Dua jurus kesaktian unsur petir dirapal secara bersamaan!

Bila pertahanan tak bisa berbuat banyak, maka ia memutuskan untuk menyerang. Sasarannya? Siapa lagi kalau bukan pengendali kabut yang sedari awal berdiam di belakang sana. 

Dua orang lawan segera mencegat Bintang Tenggara. Berbekal kecepatan unsur petir, ia berkelit dengan mudah… dan semakin dekat dengan lawan. 

Embun Kahyangan melompat mundur. Di saat yang bersamaan, Panglima Segantang dan Canting Emas kembali dapat bergerak. 

“Crak!” dua orang gadis yang tadi berupaya mencegat Bintang Tenggara tetiba kaku di tempat. Bintang Tenggara sempat meninggalkan Segel Petir saat melewati mereka. 

“Bum! Bum!” Dengan mudahnya Panglima Segantang dan Canting Emas menghantam mereka keluar dari Panggung! 

“Brak!” Dua orang gadis dari Padepokan Kabut menendang Aji Pamungkas dan Kuau Kakimerah yang tergolek tak berdaya di belakang. 

Bintang Tenggara masih mengejar Embun Kahyangan. Beberapa Segel Penempatan telah bersiap sedia ketika ia melenting-lenting di udara. Tempuling Raja Naga telah siaga di kedua tangan, siap menikam tajam!

Di saat Bintang Tenggara bersiap menikam, tubuhnya tetiba kaku di tempat! Embun Kahyangan mengunci gerakannya dan kini berbalik menyerang. Sebuah kerambit telah siap dihunuskan di tangan kiri. 

Panglima Segantang dan Canting Emas terlihat sibuk berhadapan dengan dua lawan di belakang. Oleh karena itu, walaupun menyadari gerakan Bintang Tenggara sedang terkunci, mereka tak akan sempat membantu….

“Hyah!” Bintang Tenggara mengalirkan tenaga dalam ke seluruh penjuru tubuh dan segera meledakkan keluar tenaga dalam tersebut. Benar, ini adalah anjuran Lintang Tenggara kepada Anjana dan Kum Kecho saat gerakan mereka terkunci. Tentu saja Bintang Tenggara menyadari cara ini untuk melepaskan diri. Akan tetapi, sengaja ia kerahkan ketika Embun Kahyangan sudah dekat adanya. 

“Bum!” Tikaman Tempuling Raja Naga menghantam permukaan panggung. 

Embun Kahyangan berkelit dan merangsek mundur. Kerambit yang kecil bukanlah senjata yang sepadan dengan Tempuling Raja Naga. Bintang Tenggara kembali mundur ke arah Panglima Segantang dan Canting Emas. Mereka dikelilingi oleh tiga murid dari Padepokan Kabut. 

Tiga lawan tiga. Bintang Tenggara cukup optimis. Panglima Segantang dan Canting Emas memiliki kemampuan untuk bertarung dalam jangka waktu lama. Apalagi, Bintang Tenggara memiliki pengetahuan memadai tentang jurus Panca Kabut Mahameru. Oleh karena itu, dengan sedikit kesabaran, bukan tak mungkin bagi mereka menaklukkan Padepokan Kabut. Kelanjutan dari pertarungan ini adalah perseteruan daya tahan, simpul Bintang Tenggara dalam hati. 

“WOW!” 

“Liar buasa!”

“Ijinkan aku bertarung menggantikan Perguruan Gunung Agung!” 

Tetiba hadirin sontak berdiri dan bersorak tak tentu arah. Baik lelaki maupun perempuan, tua dan muda, terkesima akan pemandangan yang saat ini tengah terjadi di atas panggung. 

Bintang Tenggara menyaksikan Embun Kahyangan membuka pelan jubah berwarna ungu pemberiannya. Perlahan tersibak lekuk leher yang mulus dan ramping. Saking mulusnya, seolah terlihat denyut nadi yang berdetak seirama dengan jantung mereka yang menatapnya.  

Sepasang payudara yang sisi atasnya setengah menyembul segera mengajak bermain sesiapa pun di hadapan. Kemben bermotif batik, berwarna ungu nan tipis, sama sekali tak berdaya menahan kehendak si lembut… menyapa setiap pandangan mata dengan guncangan gemulai. Ramah sekali sepertinya sepasang payudara itu. 

Oh, ingin rasanya bertegur sapa, dan mengenal lebih dekat dengan si kembar nan ramah. Jikalau diperkenankan, bolehlah kiranya barang sekali dua kali membelai halus dengan ujung jemari. 

Tidak berhenti sampai di situ. Jubah berwarna ungu perlahan memperkenalkan sang pinggul. Berbeda dengan payudara yang ramah, pinggul bersifat genit. Ia melenggok ke kiri dan kanan ketika empunya melangkah pelan. Bulat bentuk sisi belakang pinggul, lentik pula pembawaannya. Pinggul genit itu seolah memanggil setiap satu yang menatapnya… seolah hendak memberikan kecupan lembut di pipi. 

Di bawah pinggul, kini giliran paha mulus dengan rambut-rambut halus seakan menggelitik. Gerak paha tersebut mencerminkan kesabaran. Keduanya tak hendak terburu-buru. Mari berkenalan dulu, barulah boleh dikau menyentuhku dengan alunan lembut. Ingat, kumohon janganlah berlaku kasar… Demikianlah ungkap sepasang paha mulus itu, bilamana ia dapat berujar. 

Segenap penonton masih tercengang adanya. Kegaduhan mulai terdengar. Beberapa pemuda tanggung siap melompat ke arah panggung. Yang telah ‘berdiri’ enggan kembali duduk… 

Aji Pamungkas sudah kembali naik ke atas panggung pertarungan. 

“Hei! Apa yang kau lakukan!? Kau hendak Perguruan Gunung Agung gugur karena pelanggaran!?” hardik Canting Emas. Segera ia melempar pecahan lantai panggung guna mengusir Aji Pamungkas yang sedang diseret seorang panitia. 

Ketiga murid Perguruan Gunung Agung dikepung dari tiga penjuru. Ketiga gadis belia pengepung mereka membentuk segetiga. Bintang Tenggara menyadari bahwa dengan terpaparnya Selendang Batik Kahyangan, maka Embun Kahyangan sudah berniat bertarung sepenuh hati. 

“Panca Kabut Mahameru, Bentuk Kelima: Kabut Wedhus Gembel!” gumam Embun Kahyangan ringan. 

Tetiba terlihat kabut tipis berwarna ungu bercampur kelabu mengepul belasan meter di atas panggung. Sama-samar terlihat wujud seperti seekor kambing yang berbulu lebat dan gimbal, atau domba. Berbeda dari kabut-kabut sebelumnya yang turun perlahan, kecepatan turun kabut kali ini sangatlah cepat sekali. Domba berbulu gimbal terlihat menukik deras mengunuskan tanduk yang melingkar ke dalam!

Bintang Tenggara segera merasakan ancaman yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Mata hatinya menangkap aura yang sangat panas sekali. Dalam hati ia bertanya-tanya, seperti inikah bentuk kelima dari jurus Panca Kabut Mahameru…?

“Wujud kesaktian itu…,” gumam Ketua Panitia Mahaguru Segoro Bayu. “Segera turun dari panggung!” teriaknya cepat sambil melesat cepat ke arah panggung pertarungan. 

“Turun sekarang!” Adipati Jurus Pamungkas yang menguasai kesaktian unsur angin, bergerak cepat dari tribun kehormatan. 

Sebagai ahli kasta tinggi, keduanya segera menyadari bahwa wujud jurus kesaktian yang turun itu bukanlah lagi kabut air, melainkan… gumpalan gas panas yang beracun!

“Swush!” Teleportasi jarak dekat! Sesepuh Ketujuh telah berada di sudut panggung pertarungan. Menggunakan jalinan mata hati, serta-merta ia menarik paksa Panglima Segantang dan Canting Emas yang terlihat sedang bersiap-siap. 

Bintang Tenggara tertinggal di tengah panggung pertarungan. Jaraknya yang masih terpisah beberapa langkah dari Panglima Segantang dan Canting Emas, membuat ia berada di luar cakupan tarikan mata hati Sesepuh Ketujuh. Akibat kelamaan menduga-duga, ia terlambat bergerak…

“Heh… Muridku satu-satunya… Kau hanya punya satu pilihan…,” cibir Super Guru Komodo Nagaradja ringan. Sepertinya wujud dari jurus kesaktian yang oleh ahli-ahli digdaya jaman ini dianggap super serius, baginya adalah… biasa-biasa saja. 

Super Guru Komodo Nagaradja benar. Sebentar lagi gas panas dan beracun berwujud domba gimbal segera menyeduruk dari arah atas. Bintang Tenggara tak punya pilihan lain, kecuali…   

“TAMENG SARI!” 



Catatan:

*) loya/lo·ya/ a mual (berasa hendak muntah)