Episode 4 - Ingatan yang Terbit di Jakarta (2)



Pikiranku masih soal Keumala dan keluarganya, sehingga selama di tempat pengungsian, aku lebih sibuk mencari mereka di antara kemurungan yang berhamburan. Aku harus menemukan Keumala. Harus. Karena tanpanya, aku kehilangan nyali menghadapi kehidupan. Tapi, pencarianku selama beberapa hari hanya menemukan sia-sia. Lalu, pada saat aku mengitari tempat pengungsian, tiba-tiba ada suara mengejutkanku.

“Cari siapa, Bung?”

Rupanya, suara tersebut berasal dari seorang lelaki berbadan tegap dan berkulit gelap. “Oh, maaf. Aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Gapi Ishak, Bung,” kata lelaki bernama Gapi Ishak itu, sambil mengulurkan lengan besarnya yang terpahat otot, berjalur urat.

“Agam Rangkheum,” jawabku, sambil menjawab ulur tangannya.

“Dari Aceh juga rupanya, Gam?” tebaknya, menyadari namaku adalah nama Aceh.

Aku hanya menjawab dengan diam.

“Eh, kupanggil Agam saja boleh, Bung?”

“Silakan,” jawabku singkat.

“Aku perhatikan Bung Agam sepertinya terlihat sedang mencari orang di tempat pengungsian ini. Siapa kalau aku boleh tahu, Gam?”

“Kekasih saya dan keluarganya. Kalau keluarga saya, kebetulan sudah lama pindah ke Jakarta dan Bogor. Kamu sendiri, adakah keluarga yang hilang?”

“Abu dan dua adikku, Gam. Sama seperti kamu, berhari-hari aku mencari mereka di tempat-tempat pengungsian, tapi sia-sia. Sampai akhirnya, mata para korban menghentikan pencarianku. Mata mereka seolah menertibkan rusuh hatiku, seolah meyakinkanku bahwa mereka adalah keluargaku juga. Lalu, aku mulai mencari keluargaku di dalam keikhlasan, dan aku menemukan mereka tersenyum bahagia di sana.”

Aku kehilangan kata-kata mendengar ucapannya. Hanya bisa kulihat matanya mengambang, dan bibirnya bergetar.

“Cari terus, Gam. Karena tanpa ikhtiar, kamu akan hidup dalam penyesalan.”

Lalu, sesuatu menggerakkan lenganku untuk membuka pelukan. Kubiarkan lelaki tegap ini takluk oleh kesedihannya di dalam erat pelukanku. Dalam lubang gelap di hatiku, sesuatu yang lebih hangat dari air mata menetes-netes. Entah mencoba penuh mengisi, atau lebih dalam menggali.


**


Sampai di Jakarta, aku mendapatkan surat pemecatan dari perusahaan, sebab aku tidak hadir berminggu-minggu tanpa kabar. Dan untuk mengisi kekosongan waktu, aku memilih menjadi relawan aktif, sekaligus menulis pengalamanku ketika terjun menjadi relawan di Aceh.

Menjadi penulis, adalah mimpi masa kecilku. Namun, ketika kenyataan memberikan kebutuhan hidup, aku mesti memenuhinya dengan berkerja. Bekerja sambil mengesampingkan mimpi-mimpiku. Begitulah kenyataannya: lebih banyak orang yang bekerja untuk menghasilkan uang, daripada untuk mewujudkan mimpi.

Persoalan keuangan pun membayangiku. Aku harus menemukan cara untuk memutar sisa tabunganku agar bisa memenuhi kebutuhan hidup tanpa terikat jam kerja.

Akhirnya, aku, sahabatku Arga, dan Gapi—yang kebetulan memilih pindah ke Jakarta—bersepakat untuk membuka usaha kedai kopi. Tanpa alasan filosofis, kami memilih nama Kedai Kopi Aceh, sebab tercetus tiba-tiba dari mulut Gapi.

Kedai Kopi Aceh kami buka di rumah Arga karena tabungan kami tidak cukup untuk menyewa tempat. Meski terletak di dalam kompleks perumahan di Cipinang, Jakarta Timur, rumah Arga cukup layak untuk diubah menjadi kedai kopi. Lahan parkir tersedia, teras lebar, serta bagian atap yang terbuka bisa dimanfaatkan menampung pengunjung.

Dekorasi retro kami pilih. Bukan karena alasan ideal, melainkan Arga kebetulan memiliki beberapa vespa tua, satu VW Combie, serta beberapa benda antik dan klasik.

Meski letaknya di dalam kompleks perumahan, dengan strategi promosi, usaha, dan ketekunan selama sekitar enam bulan, Kedai Kopi Aceh berhasil mencukupi kebutuhan kami. Bahkan, kami mulai mempekerjakan beberapa karyawan.

Namun, penghasilan mesti ditingkatkan dan gaji karyawan tidak boleh telat dibayarkan. Maka, pada suatu malam, kami berkumpul di rumah kontrakanku untuk membicarakan strategi serta target Kedai Kopi Aceh. Dalam diskusi, kami lebih banyak menghamburkan gagasan konyol dan gurauan, sehingga dari beberapa jam, kami cuma mendapatkan satu kesimpulan: satu menu baru.

“Gam, itu pasti kotak batu akik seharga ratusan ribu yang lu beli di Jatinegara karena kata penjualnya bisa menaklukan perempuan, ya?” tanya Gapi, sambil menunjuk kotak beludru merah yang terselip di rak buku puisiku.

“Sembarangan lu, Gap! Itu harmonika dari Keumala!”

“Oh, maaf,” jawab Gapi, enteng.

“Eh, gimana kalau kita bikin panggung musik akustik saja?” usul Arga, yang tiba-tiba bangkit dari duduknya. Mungkin, ide itu muncul ketika didengarnya kata harmonika.

“Eureka!” teriak Gapi, dengan tangan menunjuk ke atas.

“Gap! Itu eureka momen gua!” protes Arga.

“Oh, maaf,” jawab Gapi, enteng.

“Gimana kalau, ummm, khusus musik blues?” aku dengan sedikit ragu mengajukan usul.

“Eureka!” teriak Arga, lantang.

“Ga, itu eureka momen gua!” protesku.

“Ya, Gam, nanti lu tagih ke Gapi. Kebetulan dia punya utang eureka momen ke gua!”

Pada awal dimulainya panggung musik akustik, kami punya keraguan atas kemungkinan protes dari lingkungan. Namun kenyataannya, tidak pernah ada pernyataan atau pertanyaan protes dari tetangga Arga. Bahkan, banyak di antara mereka yang menjadi pelanggan setia Kedai Kopi Aceh. Juga sesekali, mereka ikut tampil di panggung kami.

Seiring dengan perjalanan Kedai Kopi Aceh, panggung musik akustik tidak hanya difokuskan untuk blues, sebab pelbagai genre ingin turut serta diapresiasi. Tapi untuk blues—sesuai permintaanku—tetap dikhususkan pada Jumat malam. Biasanya, pada malam itu, aku memilih menulis di ruang kerjaku di Kedai Kopi Aceh.

Blues, suara-suara pedih yang berupaya menggapai kemerdekaan itu, selalu berhasil melengkapi kesunyianku ketika menulis. Pada suatu malam, ketika gemetar senar dan serak harmonika terdengar begitu sendu, aku menyalakan lagi ingatanku tentang Keumala. Lalu, serangkai kata-kata—yang kuamini, tanpa sepenuhnya kuimani sebagai puisi—mengabadikan dirinya lewat gemetar tangan dan perasaanku.


lelaki di balik jendela 


di balik jendela 

ia pandang langit murung 

sambil menduga 

mungkin akan jatuh air mata 

meski ia tak yakin punya 


angin sedingin pisau 

suara radio terdengar parau 

ia menyusun doa  

dalam susunan bahasa yang kacau 


ia tak lagi yakin 

apakah hidup masih membutuhkannya 

di sini 

di tubuh tua sedalam laut 

jauh di sudut 

yang mungkin luput diketuk maut 


ia bercermin lagi 

pada jernih air mata 

dan merasa terlalu tua 

untuk berdoa 

untuk percaya 

untuk pasrah berserah pada 

kematian.