Episode 17 - Mitos yang Ingin Dibuktikan


19 Januari 2014.

Langit Tokyo bergemuruh. Kumulonimbus berarak ke tengah, menggumpal dan mulai menitihkan air. Kendati demikian, jumlah manusia yang berlalu lalang masih tak kuasa dihitung dengan jari. Jalan-jalan penuh sesak, trotoar diisi para pejalan kaki, lengkap dengan payung mereka yang berwarna-warni.

Bukan sesuatu yang megah, dan justru menjadi pemandangan biasa, tatkala sebuah gunung tampak menjulang di antara gedung-gedung pencakar langit. Tertutup kabut, gunung yang disebut Ishikawa ini benar-benar sarat akan kesan mistis. 

“Sudah kubilang kalau usaha kita bakal sia-sia.” Taki, yang saat itu umurnya baru menginjak empat belas tahun agak mengomel.

“Ekspedisi kesembilan belas. Ini pencarian kita semenjak awal bulan Januari.” Seorang lelaki berambut pirang menoleh. Ia mengenakan jaket tebal dari kulit sintetis. “Hampir sebulan penuh, tahu! Kita nggak boleh menyerah.”

“Memangnya Kappa itu benar-benar ada?” Dahi Taki mengernyit. Sekali lagi, dia meragukan keputusannya yang diambil tanggal dua Januari silam.

“Ada, aku serius.” Si lelaki menyibak sulur pepohonan. Butir-butir air membasahi sepatunya yang lembap.

Mengarungi gunung di tengah awan kelabu bukanlah perkara mudah. Butuh keuletan serta keahlian dalam membaca situasi. Namun, ada beberapa orang yang kelewat penasaran sampai nekat mempertaruhkan nasib.

“Di sini dingin banget, Midori.” Taki memagut tubuhnya sendiri, meski sudah ada jaket yang membalut.

“Tenanglah! Kalau kamu terus-terusan mengeluh, kita nggak bakalan menemukan Kappa.” Midori, si lelaki berambut pirang tampak menyipitkan mata. Agaknya kabut tengah menghadang di muka sana. “Siapkan senter, Taki.” Dia menjulurkan tangan ke belakang.

Lekas saja, dengan raut yang sebenarnya setengah hati, Taki merogoh ranselnya dan mengambil sebuah senter kecil. Sejenak, dia mendengus lalu menyerahkan senternya kepada Midori.

“Sedikit lagi. Delta sungainya ada di depan sana,” ujar Midori antusias.

“Terserah.”

Gelegar guntur berseling kemilau kilat sesekali menyapa. Mulut Taki mulai menderu uap panas, pori-porinya menganga kedinginan. Akan tetapi, Midori tampak masih sama antusiasnya dengan beberapa saat lalu. Lelaki berhidung mancung itu justru kian bergerilya di antara semak belukar.

“Itu dia!” Midori berseru tatkala tubuhnya menembus sesemakan.

Tanpa membalas kata, Taki berlari menghampiri. Memanglah sebelumnya ia mendengar gemercik air dan suara arus deras. Sialnya, kabut yang membayang membuat pengelihatannya terhambat.

Sesaat menembus semak-semak itu, senyum puas akhirnya terlukis di wajah Taki. Tidak rugi dia repot-repot menginjak lumpur kecokelatan dan kulitnya yang berdarah terkena duri tanaman. Paling tidak, dengan terbentangnya sungai berair jernih, mereka dapat mengistirahatkan tubuh. 

Midori yang kelewat senang langsung mengambil kamera dari ransel Taki dan mengabdikan beberapa foto. Mereka sesekali beradu pandang seraya tersenyum kegirangan. Tidak lama kemudian, Taki sepakat dengan tubuhnya untuk duduk sebentar. Wajah pemuda itu sedikit pucat.

“Nggak banyak yang datang ke sini, tahu.” Midori menoleh padanya.

“Karena medannya yang terjal?” Taki menerka.

“Bukan. Karena mereka semua pemalas,” tukasnya seraya membidik gambar sungguh-sungguh. “Dan, orang-orang terlalu membanggakan teknologi mereka. Padahal, hidup saja masih bertumpu pada alam.”

“Jadi, kamu merasa kalau kita adalah oranng istimewa?” Taki tersenyum lagi.

“Nggak, kok. Kita ini orang yang tahu terima kasih.” 

 Obrolan terputus sampai di situ. Midori terlena akan aktivitas potret-memotretnya, sedangkan Taki masih asyik melemaskan tubuh. Di tengah-tengah keasyikan mereka, tiba-tiba kuakan kodok sayup terdengar. Suara yang satu ini terkesan berbeda, nyaring lagi bergema.

Taki seketika bangkit dari posisi disusul Midori yang mengalungkan kameranya di leher. Mereka saling bertatapan, tidak bersuara sama sekali. Kecemasan melanda hati keduanya. Ini bisa jadi pertanda baik, atau mungkin sebaliknya.

“Kappa,” desis Midori.

“Kayaknya ada di sana.” Telunjuk Taki mengarah ke depan, di mana kabut tebal bergerumul.

Seepat kilat Midori bergerak ke sumber suara. Dia tak peduli dengan cerita orang-orang mengenai kutukan Kappa atau Kappa yang senang menyantap manusia. Ini semua demi pekerjaan! Midori setidaknya harus punya pembuktian besar atas beritanya yang tercetak di koran lokal.

1 Januari 2014.

Baru-baru saja, desa yang mereka tinggali digegerkan oleh berita penemuan siluman air bernama Kappa di sungai . Cukup mengejutkan memang, mengingat bahwa Kappa hanyalah mitos dan legenda yang dijadikan kisah pengantar tidur. 

Maka dari itu, sejumlah penduduk desa memprotes hal tersebut dengan mendatangi kantor percetakan Jiyuu dan meminta agar si pembuat berita diberentikan.

“Dia tukang bohong,” kata mereka.

Satu lagi berkata: “Mana mungkin ada Kappa di gunung Ishikawa.”

Dan yang lain menimpali: “Pasti hanya cari-cari sensasi saja.”

Alhasil, Midori mendapat peringatan keras dari sang atasan. Ia terancam dipecat bilamana tak mampu membuktikan keaslian beritanya. Kendati membela diri dengan mengatakan bahwa Senin kemarin dirinya benar-benar bertemu seekor Kappa, Sang atasan tetap saja menyanggah.

Dia berdalih: “Aku punya bisnis yang tidak boleh bangkrut, Midori! Kau telah membuat berita besar dan kau harus punya bukti yang besar pula.”

Dengan bibir bergetar, Midori menyahut: “T-tapi Anda bilang kita harus buat berita yang menghebohkan.

“Aku minta sebuah kehebohan, bukannya ledakan masa!” Sang atasan membentak-bentak.

Dan begitulah alasan ia pulang cepat-cepat, kemudian menemui Sang adik. Bertepatan akhir bulan, Midori diberi waktu sepanjang Januari untuk mendapatkan bukti demi mempertahankan pekerjaannya. Lelaki berumur dua puluh satu tahun itu terpaksa pulang-pergi gunung Ishikawa demi mendapatkan selembar foto Kappa.

Pernah juga, pada suatu hari Sang adik yang keheranan melihat kakaknya pergi ke gunung, bukannya ke kantor memberanikan diri untuk bertanya.

“Kamu lagi cuti?” pemuda berusia empat belas tahun itu menatap penasaran.

“Aku lagi punya proyek besar. Kalau berhasil, kita bisa kaya.” Midori menyahut seraya menyeka peluh dari pelipisnya. “Kita bisa makan-makan enak.”

“Serius?”

“Aku bersumpah.” Gigi Midori menggertak. “Kamu mau ikut?”

“Apa yang harus aku lakukan?” Sang adik memajukan posisi ke beranda.

“Ini sudah tanggal dua Januari. Aku punya waktu sampai tanggal tiga puluh untuk pulang-pergi dari gunung Ishikawa.”

“Apa-apaan itu?” celetuk Sang adik. “Buat apa pergi ke Ishikawa?”

“Kamu tahu? Atasanku melihat penampakan Kappa di sana. Dia yakin kalau aku dapatkan satu foto dan dicetak di koran, maka seluruh penduduk desa bakalan gempar.” Mata Midori berbinar-binar.

“Ta-tapi ….” Wajah Sang adik menunduk. “Kappa itu ‘kan cuma mitos.”

“Di sana memang ada satu ekor! Aku juga pernah melihatnya saat sedang memotret-motret aliran sungai Ryuzagi. Kappa itu setinggi setengah meter, warnanya biru muda! Dan, aku juga lihat paruhnya yang bergerigi.” Lelaki berkulit putih itu semangat menjelaskan.

Sang adik terdiam. Bibirnya menggeliat pelan mengiringi sorot yang terus berputar-putar. Sedang berpikir, barangkali. Sebuah keberuntungan karena Midori tahu betul bahwa adiknya punya rasa penasaran akut dan keaktifan yang patut diacungi jempol. 

Benar saja! Sedetik kemudian, adiknya tersenyum.

“Aku mau ikut! Tapi kamu harus janji, jika kita sudah dapat fotonya, aku ingin makan daging sapi panggang.”

“Kamu bisa pegang janjiku, Taki.” Midori menimpali senyumnya. “Kita bakal memulai ekspedisi ketiga besok. Sampai saat ini aku belum punya apa-apa sebagai pembuktian.”

Rasa penat yang tiada bosannya menghampiri tubuh Midori membuatnya enggan berlama-lama memandangi foto-foto di kamera. Lelaki itu lebih memilih berbaring di kasur sambil berselimut, dibandingkan membiarkan kepalanya memutar kembali kejadian beberapa hari lalu, tatakala Sang atasan memarahinya.

“Maafkan aku, Taki. Aku sangat butuh bantuan.” Ia mengguman seraya meringkuk dalam balutan selimut volkadot.

Paginya, saat kokok ayam jantan pertama berkumandang, Midori lekas-lekas bangun lalu membereskan perlengkapan ekspedisinya. Orang itu terlalu ambisius sampai-sampai mengabaikan perutnya yang sedari tadi keroncongan. Baru, ketika Taki datang dan menawarkan setengah mangkuk mie, dia akhirnya teringat akan rasa laparnya.

“Perutku sakit,” ujar Taki. “Mie-nya untukmu saja.”

“Bagaimana dengan rencana kita?” Midori menimpali. Wajahnya sedikit kesal.

“Perjalanannya pagi ini?” Dahi Taki mengernyit.

“Tentu saja!”

“Lalu bagaimana dengan sekolahku?”

“Libur beberapa hari takkan masalah. Lagipula, kau tidak akan mencapai mimpimu hanya dengan bersekolah.” Sorot jengkel Midori akhirnya beralih ke mangkuk.

“Baiklah.” Taki menghela napas panjang-panjang. “Aku mau mandi dulu.”

 Jujur saja, Midori tidak benar-benar serius saat mengatakan bahwa sekolah takkan berpengaruh dalam pencapaian mimpi. Dia tahu persis bahwa masalahnya di masa ini berasal dari keteledorannya di masa lalu dengan beranggapan bahwa sekolah bukanlah perkara penting.

Lelaki tamatan SMA itu hanya bisa menikmati hidup sebagai wartawan lokal dengan upah pas-pasan. Lagi, dia juga dihajar dengan kekisruhan berita Kappa yang diprotes besar-besaran.

“Aku sungguh sial,” gerutu Midori. “Dan aku bakal mati kalau pekerjaan itu hilang.”

Sinar pagi menyambut aktivitas penduduk desa. Mereka mulai membersihkan halaman, bercengkerama satu sama lain, juga memulai olahraga ringan. Lari keliling kampung, misalnya. 

Saat itu, Midori dan Taki tengah merampungkan persiapan mereka. Sebuah ransel besar tersandang erat di punggung Taki, sementara Midori—berkemeja biru dan celana panjang—terlihat sibuk memeriksa isi kameranya.

“Semoga hari ini kita beruntung,” ujarnya.

“Memangnya seberapa jelas foto yang mereka inginkan?” tanya Taki.

“Entahlah. Pokoknya foto yang bisa membuat mereka langsung percaya.” 

“Hmm ….”

Sejurus dengan beraraknya kumulus ke timur, kedua kakak-adik itu bergerak menuju gunung Ishikawa, tempat sungai Ryunagi mengalir, tempat sang Kappa berada.

Kala melintasi rumah besar dari mahoni, Taki tiba-tiba berhenti. Dia melihat Pak Hayashi—si kakek botak yang senangnya marah-marah—sedang menyiram tanaman. Pria berumur enam puluh sembilan tahu itu tampak mengerling pada mereka.

“Kuharap kantor percetakan itu segera ditutup,” katanya bersungut-sungut.

“Tidak perlu berdoa yang jelek-jelek.” Midori balas menatap. “Kami juga punya tanggungan untuk dipenuhi.”

“Tapi bukan dari hasil menipu orang.”

“Siapa juga yang menipu!” Midori mendekati kakek bungkuk itu. Mata mereka saling adu. 

“Lalu kau sebut apa membuat berita tentang Kappa yang berparuh kuning itu? Kami tidak suka dengan kebohongan!” Pak Hayashi meninggalkan ceret airnya dan berjalan cepat menghadapi Midori.

Kini mereka bertatap sengit.

“Kuberitahu kau, Anak muda! Desa ini punya lima kuil suci. Aku tidak suka pada orang yang berniat merusak kesucian kuil-kuil itu dengan kebohongan.”

“Dengarkan aku, Pak tua! Aku berani bersumpah kalau Kappa itu benar-benar ada. Camkan ini baik-baik! Di bulan Januari ini, akan kubawakan kau foto Kappa. KAPPA YANG NYATA!”

“Aku akan menunggunya.” Si kakek bungkuk menyipitkan matanya..