Episode 18 - Ilmu Percepatan Diri



[Aku]

“492..., 493..., “ Aku banjir keringat. Tanganku serasa akan patah. Setiap kali posisi tangan menekuk, persendian rasanya pegal setengah mati.

“Ayo, masih kurang, aku bahkan bisa melakukan sampai seribu kalau mau!” Paman Key berucap dengan riang. Padahal, dia juga berada pada kondisi sama sepertiku, mengangkat tubuh dengan kedua tangan menopang pada dua tiang sekitar altar. Hanya saja, aku belum melihat wajah lelahnya. “Saudara Kedua, lihat ini!” imbuhnya.

Sialan! Jadi selama ini dia mengalah padaku. Kukira batasan Paman Key hanya pada lima ratus hitungan. Namun, sekarang dia bahkan sudah melebihi enam ratus, ditambah... tangan yang dia gunakan untuk menopang tubuh disisakan yang kanan saja. Ah... sungguh menyebalkan!

Sementara, lihat aku! Saat ini aku masih menegakkan tangan. Ototku sudah lemas, otakku berpikir keras, dan perasaanku berantakan. Jika kutekuk lagi persendian dan menambah jumlah hitungan, apa aku masih kuat? Tidak, aku harus kuat. Ini bukan masalah mampu atau tidak, tapi ini masalah harga diri. Aku yang menerima tantangan, maka aku juga yang harus menyelesaikan.

“494...,” air keringat mengalir dari keningku, lalu turun menuju hidung. Setelah itu, tetesannya sekitar lima butir jatuh ke bawah. “495...,” sendiku serasa ditusuk ratusan jarum secara bersamaan.

“Kau terlihat sangat tersiksa...” Paman Key berucap enteng.

“Paman...,” nafasku naik turun, “lagi pula tubuhku lebih berat lima kali!” kesalku.

“Kau boleh menggunakan tenaga dalam jika mau,” sarannya.

Tenaga dalam? Bukannya aku tidak mau. Hanya saja, Guru melarangku melakukan itu saat melatih otot. Kurasa, mungkin saja jika kukerahkan tenaga dalam menuju tangan, maka persendian ini akan membaik. Dan pastinya, lima ratus hitungan adalah hal mudah. Tunggu dulu! Apa selama ini Paman Key menggunakan tenaga dalam?

“Paman..., jangan-jangan Paman menggunakan tenaga dalam, ya?” Aku menyelidik.

“Tenang saja, aku tidak curang kok. Ini murni kekuatan fisik. Lagi pula, aku juga ingin melatihnya,” terangnya.

“Kalau begitu..., aku juga tidak!” tegasku. Dari pada membuang nafas dan tenaga untuk bicara, lebih baik aku fokus lagi, “496..., 497..., 498...,”

“Ayo, sebentar lagi!” Paman Key memotivasiku.

“499..., 500...,” 

Akhirnya..., akhirnya aku berhasil mencapai lima ratus hitungan. Sungguh, bagaimana perasaan berkecamuk ini kuungkapkan. Ini seperti saat seseorang kehausan setengah mati, lalu tiba-tiba segelas air segar disodorkan padanya. Ya, kurang lebih begitu.

Namun, aku tak bisa merayakan keberhasilan ini dengan suka cita. Seolah seluruh tubuhku sudah bukan lagi milikku, aku hilang keseimbangan dengan kesadaran yang mulai kabur. Hasilnya adalah, tubuhku yang lemas jatuh bebas dari tiang yang cukup tinggi. Ini sungguh gawat! Jika keadaanku normal, terjatuh begini hanya menyebabkan beberapa rasa sakit. Sayangnya, kali ini aku benar-benar hilang kendali, dengan kepala yang akan menghantam lantai batu terlebih dahulu. Setidaknya itulah yang kukira...

Hap! Paman Key cepat melompat dan menangkapku sebelum menyentuh lantai. Aku seperti seorang putri, digendong dengan cara memalukan. “Kau sudah bekerja keras!” ujarnya pelan.

Aku hanya bisa tersenyum kecil sebelum kesadaranku direnggut.

 

***


“Paman, sudah berapa lama aku pingsan?” tanyaku. Tubuhku berbaring di lantai, sementara Paman Key duduk bersila, mungkin dia sedang meditasi ringan.

“Ehm... kira-kira dua jam, mungkin?” Ia terlihat ragu.

“Dua jam? Paman, tahu apa yang lucu?” 

“Apa?”

“Sepertinya dua jam adalah waktu keberuntunganku!” Aku tersenyum ringan.

“Kenapa?”

“Tidak..., hanya saja seringkali aku terbangun setelah pingsan dalam waktu dua jam. Dan juga hal lainnya...”

“Begitukah?” Paman Key tampak tak acuh, “ngomong-ngomong, seharusnya kau memanggilku ‘Saudara Pertama’, kan?” dia berlaih ke topik lain.

“Lah..., bukannya aku sudah menyelesaikan tantangannya?” Aku kebingungan.

“Bisa kau ingat apa yang kukatakan saat memberimu tantangan?” tanyanya.

“Ehm... kata Paman, kalau aku bisa mengangkat tubuh melebihi lima ratus...” pikiranku terhenti sejenak, “AHHH..., sialan!” Aku mengingat kesalahan fatal.

“Nah, akhirnya kau ingat,” senyumnya terlihat riang, tapi memuakkan, “kau hanya hampir menyelesaikan tantangan. Kurang satu hitungan lagi sebelum melebihi lima ratus,” jelasnya.

“Paman...,” suaraku lemah, “bukankah itu terlalu kejam. Lagi pula ini cuma satu lo, satu!” Aku memaksanya agar menerima jerih payahku.

“Satu atau seribu tak ada bedanya. Apa ternyata Shiang Kresna adalah lelaki yang tak menepati janji?” Ia mengejekku dengan nada tertentu.

Terpaksa, dengan segala sesal yang menghinggapi, aku harus menepati kata-kataku. Kalau tidak, maka mulut ini hanyalah sampah yang berbicara. “Baiklah... Saudara Pertama...,” kataku sungkan.

Plaaak! Sebuah tepukan ringan –tidak, sebenarnya cukup sakit- mengenai jidatku. “Hahaha, bodoh! Aku hanya bercanda. Mau kau memanggilku Paman Key, Saudara Pertama, Saudara Key, atau bahkan Penjahat Key seperti yang Tuan Naga biasa ucapkan, kita tetaplah sudah menjadi saudara di bawah sumpah.”

“Jadi...” mataku mengiba, meminta penjelasan lebih lanjut.

Paman Key hanya mengangguk ringan untuk merespon, “ehm...”

“Baiklah, kalau begitu aku tetap akan memanggil Paman dengan sebutan Paman Key. Dan Paman memanggilku dengan nama langsung saja, Kresna. Bagaimana?”

“Bukan masalah! Hahaha...”

“Hahahah....”

Akhirnya, setelah polemik panjang yang terjadi. Dua lelaki konyol berbeda usia yang terkurung dalam gua hanya bisa membuat kesimpulan dengan gelak tawa mereka.

“BERISIK!”

Ternyata tidak diakhiri tawa mereka, tapi amarah seekor naga.


***


Aku memulihkan tenaga seharian penuh. Tanganku masih terasa kebas. Jika kugerakkan sedikit saja, rasa ngilu akan menjalar pada otot, tulang, dan sendi. Guru berkata, saat aku sudah pulih total, sihir Pemberatan Raga akan dihilangkan dariku. Tentu, aku antusias mendengarnya, ini berarti latihan ototku sudah selesai dan akan masuk bagian selanjutnya dari Tumpuan Langkah Naga. Aku pun bermeditasi dan mencoba mengalirkan energi ke seluruh tubuh, terutama kedua tangan agar cepat pulih. 

Waktu yang dinanti pun datang. Tanganku sudah tidak terasa sakit. 

“Bersiaplah Kresna, saat pengaruh sihir Pemberatan Raga menghilang, kau akan merasakan sensasi luar biasa ringan,” tutur Guru.

Tentu saja, dalam pikiranku, sudah kuduga kemungkinan itu. Aku membayangkan sebebas apa tubuhku saat kekangan menghilang. Mungkin, ini seperti orang kelaparan yang diberi makanan lezat setumpuk gunung. Ya, mirip seperti itu.

Guru menggerakkan jarinya. Kemudian, butiran-butiran energi seolah terlepas dari dalam diriku. Ini tampak seperti air yang menguap ke udara. Namun, bukan hanya energi saja yang terlepas, tetapi beban yang mengekangku. Berangsur-angsur aku merasakan seperti tubuhku hanyalah bulu, tidak, sekarang lebih ringan lagi, mungkin debu atau bahkan udara itu sendiri.

“Guru, aku merasa sangat ringan,” ujarku.

“Tentu saja! Sekarang coba kau melompat dan lari keliling area ini!” peritahnya.

“Baik!” Aku menekuk sendi lutut, mengambil ancang-ancang untuk melompat, kemudian...

Hap! Tinggi... tinggi sekali. Padahal aku hanya menggunakan sedikit tenaga fisik, tapi lompatanku bahkan membuat diri ini sejajar dengan kepala Guru. Hap! Hap! Aku terus melompat sampai merasa puas. “Guru, ini enak sekali!” seruku dengan nada riang khas bocah.

“Bodoh! Mau sampai kapan kau melompat? Sekarang, berlarilah!” geramnya.

Hap! Aku pun mendarat dan hendak melakukan perintah Guru. Tubuhku condong ke depan mengambil ancang-ancang. Namun sebelum itu, “Paman Key!” seruku pada sosok Paman Key yang bermeditasi ringan di atas tiang. Biasanya, saat waktu pelajaranku dimulai, Paman Key hanya akan memerhatikanku dari jauh tanpa berani mengganggu Guru. Dia tampak mengalami trauma atau sejenisnya.

Paman Key membuka mata. Setidaknya, karena dia tidak berada dalam kondisi meditasi terisolasi, kelima indranya masih bisa merasakan keadaan sekitar. “Ada apa?” teriaknya dari jauh. 

“Bagaimana kalau kita lomba lari?” balasku.

Paman Key terdiam. Dia tampak mengkhawatirkan respon Guru jika salah menjawab. “Hm... Kresna-...” omongannya terpotong.

“Penjahat Key!” seru Guru. “Dari pada kau berkeliaran seperti hama, lebih baik kau jadi teman muridku berlatih!” tegasnya.

Paman Key agak terkejut. Ia tak menyangka Guru akan berkata demikian. Ia pun berdiri di atas tiang. “Kalau itu yang Tuan Naga inginkan, maka saya akan menuruti,” tuturnya sopan.

Hap! Dari atas tiang, Paman Key melompat jauh. Luar biasanya, lompatan ini bahkan lebih indah dari pada saat pertama kali kulihat dahulu. Terlebih, kali ini dia hanya membutuhkan satu entakkan kaki untuk mencapai tempatku berada. Apa berkat latihannya secara individu Paman Key juga bertambah kuat? Ah... padahal niatku ingin mengalahkannya dalam lomba lari. Tadi aku sungguh percaya diri dengan tubuhku yang ringan. Sekarang, begitu melihat lompatan menakjubkan itu, kepercayaan diriku kembali menciut.

“Baiklah, Kresna, ayo kita mulai!” ujarnya.

“...” Aku tak membalas dan hanya menunjukkan muka masam.

Hap! Usap, usap, usap, Paman Key tiba-tiba mengusap rambutku dan membuatnya jadi berantakan. Tidak juga sih, karena kepang rambutku sudah terlepas, pada dasarnya aku hanyalah bocah dengan rambut melebihi bahu yang berantakan. Usapan Paman Key hanya membuatnya sedikit lebih kusut. “Kenapa tiba-tiba cemberut? Bukannya kau yang memintaku lomba lari?”

Ah... aku mencoba sebisa mungkin menyingkirkan tangan Paman. Walau sebenarnya dalam hatiku, tindakannya ini sedikit membuatku gembira, tapi fakta bahwa kepercayaan diriku menghilang mengubahnya menjadi tindakan menyebalkan. “Paman, hentikan!” pintaku.

Ia pun menghentikan itu. Jika Guru tidak memerhatikan, mungkin ia akan permainkanku sedikit lebih lama. “Baiklah, kalau Paman sudah siap, kita mulai saja!” Aku berucap tak acuh.

“Oke!” balasnya singkat.

“Tunggu dulu!” Guru menyela, “kalau begitu, biar aku yang menjadi penengah!” tuturnya.

Guru..., Guru, Guru, kenapa malah menjadikan ini kompetisi sungguhan, sih? Sudahlah, siapa peduli? Lari, ya, lari saja.

Kami berdua pun mengambil ancang-ancang. Badan kami condong ke depan. Karena tak ada dari kami yang kidal, tumpuan belakang adalah kaki kiri, sementara tumpuan depan adalah kaki kanan yang merupakan kaki terkuat kami. Nantinya, kaki kanan akan berguna sebagai tolakan pertama saat lari.

“Bersedia..., siap..., MULAI!” Guru menyeru.

Wuusshh! Tolakanku menandai dimulainya perlombaan. Kali ini, karena aku merasa harus bersungguh-sungguh, tenaga yang kukerahkan hampir seratus persen. Siapa sangka, hanya dengan satu tolakan, aku melesat bagaikan panah. Meski demikian, Paman Key juga melakukan hal yang hampir serupa denganku. Walau tolakan pertamanya tak sejauh diriku, tetapi saat sudah dalam posisi berlari, dia berangsur-angsur menyusulku.

Tidak, aku tidak boleh kalah. Kukerahkan semua perasaan ini untuk mempercepat langkah. Ternyata berhasil, aku bisa merasakan diri ini berlari semakin cepat. Saat sudah sampai altar, kami mengambil jalur memutar –karena sudah mentok. Aku melirik ke belakang, dan ternyata Paman Key berada jauh dari pandangan. Aneh, bukankah seharusnya Paman Key bisa lebih cepat? Saat dia melompat dari tiang, bahkan hanya butuh satu entakan kaki. Walau ketika diudara kecepatan terbangnya tak terlalu memukau, tetapi seharusnya dia tak selambat ini juga kan? Kalau begitu, apa aku yang terlalu berlebihan menilai kemampuannya? Atau... dia sengaja mengalah? Seandainya benar, aku sungguh merasa diremehkan.

Sudahlah, lebih baik aku memenangkan perlombaan ini secepatnya. Altar sudah kuputari. Selanjutnya tinggal berlari lurus menuju tempat kami memulai. Guru pun sudah terlihat dengan senyum khas naganya. Sepertinya dia sedang memujiku, entahlah.

Kemudian, di saat aku mengira kemenangan sudah dalam genggaman, sesosok angin melesat cepat dari belakang dan menyalipku begitu mudah. Tidak, itu bukan angin, itu Paman Key. Bagaimana bisa? Bukankah jarak kami cukup jauh? Sekarang dia bahkan lebih cepat berkali-kali lipat dari pada aku. Lalu, seperti yang diduga, Paman Key sudah sampai di garis akhir.

“Huh... huh... huh...,” aku mengatur irama nafas. Sementara, Guru dan Paman Key hanya memerhatikanku yang kelelahan.

“Penjahat Key, menurutmu bagaimana kemampuan Kresna?” tanya Guru.

“Dengan segala hormat, murid Anda benar-benar hebat. Saya sangat kagum dengan kecepatan larinya.”

Tunggu, apa-apaan penghinaan ini? Bukankah aku kalah telak? Kenapa Paman Key bersikap memuji?

“Hahahah, seperti yang kuduga. Bocah ini lumayan, untuk seorang kasta Pendekar tahap Perunggu bisa membuat kewalahan kasta Prajurit tahap Platina, itu sangat lumayan.” Guru memuji.

“Guru, Paman, aku tidak tahu sebenarnya kalian itu memuji atau menghina? Maksudku, jelas-jelas aku kalah dalam perlombaan. Apanya yang bisa dibanggakan?” Aku terheran-heran.

“Kresna, tentu saja kau akan kalah melawan orang yang satu kasta lebih tinggi darimu,” ujar Guru, “tetapi apa kau tahu kenapa kau bisa kalah?” tanyanya.

“Ya, karena aku lebih lemah?” jawabku ragu.

“Betul, tapi tidak sepenuhnya anggapan itu benar.”

“Maksud Guru?”

“Itu karena, Penjahat Key telah menguasai Teknik Langkah Dasar Lanjutan, Ilmu Percepatan Diri,” jelas Guru.

“Maksud Guru, ilmu yang nanti akan aku pelajari setelah Ilmu Meringankan Tubuh?” tanyaku.

“Benar! Kalau tadi hanya masalah berlari dengan kekuatan fisik, Penjahat Key jelas lebih inferior darimu. Namun, saat dia sudah menggunakan Percepatan Diri, tak ada kesempatan bagimu untuk menang.”

“Jadi, alasan Paman Key bisa menyalipku padahal jarak kami cukup jauh adalah karena Ilmu Percepatan Diri?” Aku kembali meminta keterangan.

“Ya, seperti itulah kira-kira.” Guru menjawab enteng.

Karena jawaban akhir Guru kurang meyakinkan, aku melirik Paman Key. Ternyata, dia hanya mengiyakan kesimpulan Guru dengan anggukan lemah. Ah... jadi seperti itu, aku bukannya kalah karena lebih lemah, tapi karena aku belum memelajari apa yang Paman Key ketahui.



Kolom Penulis:

Bagi yang kurang paham tentang latihan Tumpuan Langkah Naga, coba baca penjelasan berikut.

Jadi, Tumpuan Langkah Naga adalah salah satu dari sekian banyak Teknik Langkah. Contoh teknik langkah lain adalah milik ayahnya Kresna, Langkah Komet Biru. Nah... setiap ahli yang ingin memiliki teknik langkah hebat, minimal harus melalui 3 tahap ini:

1. Menguasai Ilmu Meringankan Tubuh (Disebut juga Ilmu Langkah Dasar)

2. Menguasai Ilmu Percepatan Diri (Disebut juga Ilmu Langkah Dasar Lanjutan)

3. Memelajari ilmu langkah tertentu, seperti Tumpuan Langkah Naga atau Langkah Komet Biru (Disebut juga Ilmu Langkah Khusus)


Catatan: 

-Ilustrator yang saya kontak telah membuat kemajuan mengenai cover novelnya (Progress 30%)

-Bagi yang belum melihat pengumuman mengenai perubahan kasta Penyihir, silakan kunjungi episode 8, 9, atau 15.