Episode 16 - Tempat Baru



Bagaimana ini? apa yang harus kulakukan? Lebih tepatnya, apa yang harus ku katakan?

Semua pertanyaan itu menyerang kepala Erina dalam sekejap. 

Setelah kemunculan Bagas yang tak diketahui membuatnya sangat terkejut. 

Dan yang lebih membuatnya takut adalah, Bagas yang terus memandangi Risak dengan ekspresi datar. Pandangannya sama sekali tak tertarik bahkan untuk melirik Erina sekalipun.

Mungkin saja dia tak menyukai pemandangan di mana Erina bisa duduk di rumahnya beserta dengan keluarganya. Atau yang lebih parah lagi, dia mungkin saja tak menyukai kehadiran Erina yang kali ini bahkan sama sekali tak terencana seperti sebelumnya.

Risak tak merespon tatapan Bagas, dan bahkan Refa juga tak tahu apa yang harus dilakukan di saat seperti itu.

“Bagas... ini...”

Perkataannya tak selesai karena Bagas sudah terlanjur berbalik dan menuju ke tangga lantai dua.

Erina hendak mengejar, namun Risak menghentikannya.

“Neng Erina, sebaiknya jangan.”

“Tapi...”

“Dia baru saja terbangun. Dan mungkin saja kamu takkan suka dengan sikap yang akan dia berikan kalau kamu mengganggunya sekarang.”

Erina kembali duduk setelah mendapat peringatan keras dari Risak. 

Meskipun, dia masih ingin mengejar Bagas dan menjelaskan segalanya. Dia harus menahannya untuk sekarang. Lagipula dia juga sudah mendapat ijin dari si pemilik rumah ini untuk tinggal. 

Selama itu...

Erina tersadar akan sesuatu. Sesuatu yang sangat penting yang dia lupa beberapa saat yang lalu.

“Ada apa?”

Erina memandang ke arah Risak dengan ekspresi penasaran.

“Oh iya, kalau boleh tahu, hubungan kak Risak dengan Bagas seperti apa, ya?”

Risak tak menjawab dan hanya tersenyum simpul pada Erina. 

Erina tak mengetahui arti di balik senyuman itu, dan juga dia tak mendapat jawaban yang membuatnya semakin penasaran.

“Neng Refa, apa kamu sudah menyiapkannya?”

“Sudah, dan semuanya ada di kamar sekarang.”

“Kalau begitu aku akan memeriksanya lebih dulu. Kalian di sini saja, dan neng Erina, anggaplah rumah ini seperti rumah kamu sendiri.”

Risak pergi dan masuk ke dalam satu kamar di ruang tengah. Di ruang makan masih tersisa dua orang.

“Apa kakak gak lapar? Mungkin aku bisa membuatkan sesuatu?”

“Jangan terlalu repot, lagipula sekarang aku belum terlalu lapar untuk makan.”

“Bagaimana kalau cemilan?”

“Kalau itu, baiklah.”

Refa membuka lemari yang terpasang di dinding dan mengambil sebuah toples makanan. Di dalam toples terdapat jenis makanan yang berbentuk bulat dan ditaburi biji wijen. Erina tahu makanan itu adalah onde-onde.

“Bagaimana kalau ini?”

“Tidak masalah.”

“Apa kakak sudah pernah mencobanya?”

“Ya, sekali, sewaktu di festival kemarin.”

Refa kembali duduk setelah mengambil toples dan satu piring kaca yang berukuran kecil. Onde-onde dituangkan ke piring dan mereka mulai menikmati makanan sambil mengobrol.

“Jadi, kakak akan tinggal di sini mulai dari sekarang, ‘kan?”

“Ya, kalau kalian tak keberatan.”

“Tentu saja tidak. Kami akan menerima seorang seperti kakak yang bisa membuat suasana lebih hidup kok.”

“Maksudnya...”

“Maksudnya, kakak adalah seorang yang asik untuk menjadi teman bicara.”

“B-begitu ya, terima kasih.”

Erina sedikit merasa malu dengan sanjungan Refa tentangnya. 

Mereka terus mengobrol sambil memakan makanan dan meminum minuman.

“Oh iya, tentang hubungan kalian...”

“Hum’, tentang itu, umurku sekarang menginjak 12 tahun. Dan ibu mengandung di umur 18 tahun.”

“Mm, begitu ya, yang berarti umur kak Risak sekarang adalah 30. Umurnya sudah lebih tua 7 tahun dariku. Tapi..”

“Apa umur kakak sekarang 23?”

“Ya, begitulah. Elang lebih muda satu tahun dariku, sedangkan istrinya lebih tua dua tahun darinya.”

“Jadi, itu berarti bang Elang memanggil kak Ani dengan nama panggilan dan memanggil kakak dengan sebutan kakak. Tapi bagaimana kakak memanggil kak Ani?”

“Karena hubungan yang cukup rumit itu, aku dan Ani sepakat untuk memanggil dengan sebutan nama panggilan masing-masing.”

Mereka terus mengobrol, walaupun Erina melupakan hal yang membuatnya sedikit terkejut sewaktu membicarakan tentang umur sebelumnya. Tetapi Refa terus menekan untuk membicarakan hal lain selain yang mereka bicarakan sebelumnya.

“Oh iya, apa kakak akan lama di sini?”

“Ya, sebenarnya aku sekarang sedang kabur dari rumah. Karena itu aku tak diberi bekal apapun dan seperti dicampakkan.”

Erina merasa sedikit malu di saat dia menceritakan tentang hal yang sebenarnya. Kalau sekarang dia kabur dari rumah, dan karena itulah dia sedang kesulitan sekarang.

“Kalau begitu bagus!”

Refa tiba-tiba menjadi bersemangat. Erina terkejut saat Refa dengan cepat mendekat kepadanya.

“E-eh, apa hal itu benar-benar bagus seperti yang kamu katakan...?”

“Oh, maaf. Padahal kakak sedang dalam kesusahan, tapi aku malah seperti itu.”

Refa kembali ke posisi duduknya yang semula. Menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal dan meminta maaf.

“Kalau begitu, kakak sekarang juga tak memiliki baju ganti bukan?”

“Ya, begitulah. Di waktu sebelumnya, saat aku menumpang di rumah kak Afita, aku dipinjamkan pakaian olehnya, kalau tidak dari Ani. Tapi untuk sekarang...”

“Hum’, bagaimana dengan ukuran dan model bajuku yang ku pakai sekarang. Apa cocok? Mungkin aku bisa meminjamkan beberapa.”

“Ya, selama tidak terlalu kekecilan dan sempit. Aku rasa tidak masalah.”

Refa menawarkan pakaian yang dia pakai sekarang. Kaus lengan pendek, dan juga celana pendek yang hanya sepaha. Tetapi, ketika melihat ke arah bawah, Erina sedikit ragu apa dia memiliki kepercayaan diri untuk memakai celana sekecil itu.

Namun, yang lebih membuatnya bingung, apa dia benar-benar bisa memakai pakaian yang bisa memerlihatkan sebagian tubuhnya ke muka umum.

“Oh, apa kakak tidak suka dengan pakaian yang memiliki model seperti ini?”

Meskipun di bagian dada, Refa lebih tidak diuntungkan di bandingkan Erina. Tetap saja hal itu termasuk hal yang memalukan untuk dilakukan seorang wanita yang juga masih seorang gadis yang bahkan sangat jarang memaparkan sebagian kulitnya di muka umum.

“Tidak! Bukan bermaksud untuk menolak, hanya saja aku sama sekali tak pernah memakai pakaian yang memaparkan sebagian tubuhku seperti itu, jadinya...”

“Hum’, kalau begitu aku tak bisa memaksakannya. Tapi, aku hanya memiliki beberapa yang cukup untuk menutupi lutut untuk celana. Apa tidak apa-apa, mungkin saja kakak akan mengenakannya sebanyak dua kali dalam seminggu?”

“Tidak apa-apa kok.”

“Oke, aku akan menyiapkannya nanti.”

Mereka selesai mendiskusikan tentang pakaian yang akan dipinjamkan pada Erina. Dan di saat sebuah suara memanggil mereka, mereka bangkit dan segera menuju ke sumber suara.

Itu adalah Risak yang berada di depan rumah yang membawa sebuah koper bersamanya. 

“Kak Risak, mau pergi ke mana?”

Erina bertanya karena dia pikir Risak tinggal bersama mereka di rumah itu.

“Maaf, sebenarnya aku pulang untuk mengambil beberapa hal. Tapi tidak apa-apa kan, lagipula mas Bagas ada di rumah.”

Saat itu sebuah mobil sedan hitam datang dan berhenti di depan halaman. Mobil itulah yang akan membawa Risak pergi.

“Begitu ya, baiklah. Terima kasih karena telah membiarkan aku menumpang di rumah ini.”

“Tidak masalah. Neng Refa.”

Risak memanggil Refa, Refa mendekat, mencium tangan Risak sebelum membiarkannya pergi.

Setelah bersalaman, Refa mundur dan Risak masuk ke dalam mobil. Ada satu hal yang cukup mengejutkan saat itu, sopir mobil yang masih terbilang cukup muda keluar dan membukakan pintu untuk Risak.

“Oh iya, neng Erina, aku ingin berpesan sesuatu padamu kalau ingin tinggal di keluarga ini.”

“Apa itu?”

“Menjadi penyerang boleh saja. Tetapi jangan menjadi terlalu ganas. Karena kamu akan dianggap sebagai wanita yang nakal, dan kamu akan mulai dibenci karena itu.”

Risak memberikan beberapa kalimat pada Erina. Namun, Erina benar-benar tak mengerti apa yang dimaksudkan.

“Kalau begitu, baik-baiklah di rumah, ya!”

Mobil yang membawa Risak mulai berjalan pergi.

“Selamat jalan!”

“Berhati-hatilah di jalan!”

Mereka mengucapkan ucapan selamat jalan—dimulai dari Erina lalu Refa—sambil melambai-lambaikan tangan yang sudah mulai kehilangan sosoknya dari pandangan mereka.

Lalu, Erina teringat satu hal. Kalau ada seseorang yang tak hadir untuk memberikan ucapan selamat jalan pada Risak. 

“Refa?”

“Ya?”

“Bagaimana dengan Bagas, apa dia...”

“Dia juga melakukannya kok, tapi dari atas sih.”

Refa menyinggung tentang kamar yang berada di lantai dua. Kalau tidak salah, Bagas tadi naik ke lantai dua dan mungkin di situ adalah kamarnya.

“Begitu ya.”

“Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang? Mengobrol sampai besok atau melakukan sesuatu hal yang lain?”

“Mm, oh iya, aku harus memberitahukan ke kak Afita dan yang lainnya, kalau aku sudah punya tempat baru untuk menumpang sekarang.”

“Hum’, mau pergi sekarang?”

Dan begitulah, mereka pergi ke komplek kontrakan untuk memberitahu keluarga Afita dan Elang kalau Erina sudah memiliki tempat untuk ditumpangi.

Meskipun begitu, Afita tetap menyayangkan kalau dia tak lagi tinggal di rumahnya.

“Yah, tapi kan aku tetap tak bisa tinggal dengan kalian lagi karena bang Dion sudah kembali dari pekerjaannya.”

“Hahaha, maaf ya, sepertinya aku pulang di waktu yang tidak tepat!”

Dion berkata kalau itu adalah salahnya. Tentu saja Erina tak setuju dengan persepsi Dion.

“Tunggu, kenapa abang menyalahkan diri sendiri begitu. Justru aku yang seharusnya disalahkan karena telah merepotkan kak Afita waktu dulu, dan bahkan kalian juga mau mengorbankan diri untuk memberikanku tumpangan.”

“Tidak-tidak, moto di keluarga Hasibuan adalah, “Jangan sungkan untuk menolong, maka suatu hari nanti pertolonganmu pasti akan terbalaskan” jadi, jangan terlalu menyalahkan diri hanya karena kamu merepotkan orang lain.”

“Bukannya kamu yang baru saja menyalahkan diri.”

Erina menampik perkataan Dion, Dion juga melakukan hal yang sama. Namun, Afita menengahi percekcokan yang mungkin akan terjadi hanya karena mereka menyalahkan diri sendiri.

“Neng Erina?”

“Ya.”

“Bagaimana dengan pakaianmu?”

“Oh, kalau itu aku sudah dipinjamkan beberapa oleh Refa.”

Erina menyinggung tentang seseorang yang saat itu bermain dengan Adi. 

“Tapi tetap saja, beberapa saja takkan cukup untuk menyukupi kebutuhan pakaian kak Erina.”

Refa berhenti sejenak bermain dengan Adi dan mengatakan hal itu.

Afita mengerti dengan keadaannya dan berbalik untuk berbicara kembali dengan Erina.

“Bagaimana kalau kamu membawa beberapa pakaianku juga?”

“Eh, tapi...”

“Sudahlah, jangan terlalu kaku begitu. Bukannya kamu sedang kesusahan sekarang, dan apa salahnya untuk membiarkan kami membantu.”

Afita mencoba menawarkan pakaian untuk Erina. Namun, dia merasa sudah terlalu merepotkan. Dan saat itu adalah tugas dari Dion untuk meyakinkan Erina bahwa dia tak seperti itu.

“Baiklah, aku akan menerimanya. Suatu hari nanti, aku pasti akan membalas kebaikan kalian semua.”

“Hiduplah dengan kebahagiaan yang bisa kamu perlihatkan pada kami, Neng Erina. Maka kami takkan merasa menyesal dengan segala bantuan yang telah kami berikan.”

Afita mencoba meyakinkan kembali kepada Erina. Bahwa apa yang mereka lakukan itu bukanlah semata-mata sebuah bantuan. Tetapi untuk menjadi keyakinan padanya bahwa mereka ingin melihat Erina hidup bahagia seperti yang mereka harapkan suatu hari nanti.

Hari sudah berganti.

Saat itu adalah hari akhir dari libur panjang akhir semester.

Dan anak-anak yang masih sekolah masih bisa untuk menikmati tidur mereka meskipun sudah pagi.

Namun, tidak bagi sebagian, seperti halnya Refa yang saat itu harus melakukan tugas berbelanja sewaktu kabut masih sedikit kelihatan.

Saat itu Erina masih berada di kasur yang ada di kamar Refa. Kasur di kamar hanya ada satu, dan Erina mendapatkan kasur yang bisa tergelar di bawah lantai. Meskipun begitu, kasur itu bisa menahan dingin dari luar dan mempertahankan kehangatan di dalam. 

Karena itulah, Erina masih kelihatan menikmati tidur setelah mendapatkan beban pikiran dari kemarin.

Setelah beberapa saat masih terjaga dari tidurnya, dia terbangun. Rambutnya terlihat acak-acakan dan wajahnya kelihatan lusuh. Dia keluar kamar, berjalan sedikit terhuyung menuju kamar mandi untuk membersihkan wajah.

Di dalam kamar mandi, terdapat dua ruang yang bisa digunakan. Ruang pertama digunakan untuk menaruh pakaian kotor dan mencuci baju, di situ juga terdapat satu buah mesin cuci dan satu kaca lengkap dengan pancuran beserta peralatan-peralatan lainnya..

Di situ Erina merapikan diri setelah terjaga dari tidur yang cukup lama.

Saat itu dia memakai pakaian yang dipinjamkan oleh Refa. Pakaian sederhana yang bisa menutupi hampir seluruh lengan dan kakinya. Meskipun ada satu bagian yang sedikit mengganggunya, yaitu di bagian dada yang sedikit sempit. 

Refa mengatakan kalau itu adalah pakaian yang dia pakai setahun yang lalu. Erina tak menyangka kalau seorang anak berusia 12 tahun lebih muda darinya bisa memiliki postur tubuh setinggi itu.

Setelah merapikan diri, dia berjalan keluar. Dari kemarin dia tak melihat Bagas keluar dari kamarnya. Refa mengatakan kalau hal itu sering terjadi dan dia juga bilang kalau Erina tak boleh mengganggu ketenangan Bagas.

Jadi dia mengurungkan niat untuk melakukannya.

Dia berjalan ke depan, membuka pintu dan menghirup udara segar pagi.

Jam masih mengatakan bahwa cahaya matahari masih bagus untuk kesehatan kulit. Jadi dia berjalan keluar dan membiarkan cahaya mentari membanjiri tubuhnya.

“Loh, kak Erina?”

“Rini, selamat pagi! Ada apa, sepertinya kamu sedang kebingungan dengan sesuatu?”

Rini datang dari entah lewat mana dan Erina sedikit terkejut dengan hal itu. Namun, kedatangannya seperti bertanya-tanya kenapa Erina bisa berada di sini?

“Apa kakak tinggal di rumah Bagas sekarang?”

“Ya, begitulah. Kemarin aku bertemu dengan kak Risak dan dia membiarkan aku menumpang. Apa ada yang salah dengan itu?”

“Kak? Tidak, maksudku, apa bu Risak ada di rumah sekarang?”

Rini kelihatan menjadi khawatir ketika Erina menyinggung tentang keberadaan Risak.

“Tidak, kemarin dia pulang dan saat itu juga dia pergi kembali? Memangnya ada apa?”

“Refa menitipkan ini padaku?”

Rini menunjukkan keranjang yang penuh dengan belanjaan. Erina tahu benda itu terbuat dari kulit bambu dan kegunaannya seperti tas belanja.

“Ini...”

Erina mengambil tas belanja itu dan memerhatikan semua yang ada di dalamnya.

“Kenapa bisa ada di kamu? Maksudku, memangnya Refa ke mana?”

“Eh, bukannya dia seharusnya memberitahu kalau dia akan pergi ke kota sekarang, untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang SMP.”

“Eh-?“