Episode 15 - Musim Baru


“Eh...?!”

Dia menatap bingung setelah mendengar perkataan yang didengar dari Afita.

“Tapi tak masalah, Dion akan tidur di ruang tengah dan kamu bisa tidur bersama kami.”

“Tu-tu-tunggu dulu, aku tak bisa melakukan hal seperti itu.”

Di depan rumah kontrakan yang mana berkumpul sebuah keluarga, Erina terbingung karena keadaannya tak seperti yang dia pikirkan.

Seorang pria yang menjadi suami dari Afita dan ayah dari Adi telah kembali pulang dari pekerjaannya yang memakan waktu yang cukup lama. Pria bermarga Hasibuan dan merupakan saudara kandung dari Rian.

“Tidak apa-apa, lagipula kamu juga tak begitu lama tinggal di sini bukan?”

Pria itu—Dion—mengatakan hal itu seperti tanpa masalah kalau Erina tinggal sedangkan keluarga mereka telah berkumpul setelah berpisah untuk sekian lama.

“T-tapi-tapi...”

 “Mm, bagaimana kalau begini, kita rundingkan saja dengan Ani agar para perempuan berkumpul dengan perempuan dan laki-laki berkumpul dengan laki-laki, bagaimana?”

“Hmm, itu ide yang cukup bagus. Oke, aku akan panggil mereka berdua ke mari.”

Erina tak bisa menghentikan pemikiran dari Afita dan Dion. Dan mereka malah akan melibatkan Ani dan Elang karena masalahnya.

“Tunggu dulu!!”

Dia berteriak.

Suami istri—kecuali seorang bayi kecil yang sibuk di gendongan ibunya—itu terhenti. Melihat ke arah Erina dengan bingung.

“Ada apa? Apa kamu tak suka dengan rencana itu?”

“Yah, bukan itu maksudku. Tapi kalau mau melibatkan mereka, aku rasanya... maaf!!”

Erina berlari—kabur karena tak bisa berpikir lagi akan bagaimana jadinya. Sedangkan, sebuah keluarga yang hendak menolongnya menjadi bingung karena tingkahnya.

Dia berlari ke luar kompleks. Menemukan satu tempat duduk di taman dan beristirahat di situ.

Hal barusan terjadi begitu cepat dan dia tak berhenti khawatir memikirkan tentang bagaimana sekarang jadinya. 

Dia menghela nafas karena kejadian barusan. Tak terpikirkan kalau suami dari Afita yang melakukan pekerjaan ke luar kota akan pulang tepat di saat dia datang kembali ke desa.

“Apa yang harus ku lakukan sekarang? Tanpa uang. Tanpa pakaian ganti. Tanpa siapapun yang bisa menolong. Eh, tunggu, bukannya mereka tadi baru saja akan menolongku. Tapi kalau aku sampai melibatkan Elang dalam masalah ini, maka aku...”

Dia depresi. Mengacak-acak rambutnya dan menundukkan kepalanya.

“Walah, bukannya ini...”

Sebuah suara mengejutkannya. Dia menengadah setelah mendengar suara barusan.

Seorang wanita. Muda. Memakai pakaian kebaya. Menyatu dengan warna hitam beserta kain jarik keemasan yang dia pakai. 

Rambutnya di sanggul. Tubuhnya tak lebih kecil dari Erina. Namun, terdapat satu perbedaan besar antara dirinya dengan wanita itu, dua buah gunung yang berada di dalam pakaian kelihatannya lebih besar dari milik Erina.

Wajahnya sangat cantik, bahkan Erina sampai dibuat melongo beberapa saat karena memandang kecantikannya. Selain itu, ada satu hal yang menjadi keunikannya. Warna coklat yang berkombinasi dengan warna biru sebagai warna di kedua matanya.

Dengan kata lain, heterochromia.

Hal yang cukup menakjubkan untuk dilihat.

“Mm-?”

“Eh..!”

Erina kembali sadar setelah dikejutkan oleh rasa penasaran wanita itu.

“E-eh, m-maaf, tidak ada apa-apa. Selain itu, anda ini siapa ya, apa kita sudah saling kenal? Atau anda saja yang sudah mengenal saya?”

“Ufufu, kamu jangan terlalu formal begitu. Lagipula umur kita tak terlalu jauh berbeda. Hmm, kalau begitu mari berkenalan, namaku adalah Risak Aksara. Kalau kamu?”

“Namaku... perkenalkan, namaku adalah Eruin Leina Lesmana.”

Erina membuat perkenalan yang sama dengan yang dilakukan dengan Bagas waktu itu. 

Hanya saja perbedaannya sekarang, dia hanya menaruh tangan kanan di dada dan sedikit menundukkan kepala.

“Walah, seperti yang dikatakan. Kamu merupakan seorang bangsawan asli, bukan begitu?”

“Eh, yah, tapi kalau dikatakan, posisiku ini sedikit rumit. Ibuku memang adalah seorang bangsawan asli dari Inggris. Tapi ayahku merupakan seorang yang berasal dari suku jawa dan adalah seorang pedagang kaya yang leluhurnya telah berdagang ke eropa sejak dulu. Dan karena beberapa hal, terjadilah perjodohan yang dilakukan untuk mempererat hubungan antar dua keluarga.”

“Hmm, jadi kamu juga tak bisa dikatakan dengan bangsawan asli, ya? tapi yah, siapa yang peduli. Lagipula sikapmu itu sudah menunjukkan kalau kamu seperti seorang bangsawan.”

Erina seperti mendapat tamparan di pipi. Hal itu seperti baru pertama kalinya dia dengar. Membuatnya terbengong sekali lagi karena perkataan wanita yang baru saja dia kenal.

“Jadi, boleh aku mendengarkan masalahmu?”

Saat itu mereka telah duduk bersama di kursi. Dan sekali lagi Erina dibuat terkejut karena wanita itu—Risak—sudah tahu kalau dia sedang berada dalam masalah tanpa dia memberitahukannya.

“Eh, tapi aku tak ingin membuat orang lain repot karena masalahku!”

“Tapi kalau kamu tak merepotkan orang lain, hidupmu takkan sama saja seperti air.”

Erina baru mengerti kalau dia takkan bisa hidup tanpa merepotkan orang lain setelah mendengar kalimat barusan.

Risak mencoba untuk meyakinkannya tentang; manusia takkan bisa hidup tanpa merepotkan orang lain.

“Kamu hanya akan mengikuti ke mana arus akan membawamu. Apa kamu seseorang yang seperti itu?”

“Eh-!”

Risak memiringkan kepalanya. 

Erina tersentak karena saking terkejutnya setelah mendengar kalimat barusan.

“T-tidak, bukan seperti itu. Hanya saja...”

“Baiklah, kalau begitu, ayo ikut saja ke rumahku. Bagaimana...?”

“Eh-!”

Lagi-lagi wanita ini memberi sebuah kejutan bagi Erina. Dia tak hanya mengetahui masalah yang dia hadapi sekarang, tetapi dia juga memiliki sebuah pemecah masalah bagi dirinya meskipun dia belum menceritakan masalahnya.

“Ta-tapi, untuk apa?!”

“Tentu saja untuk memberikanmu sebuah tempat.”

Dan begitulah, pada akhirnya Erina tak bisa menolak pertolongan dari seorang wanita yang baru saja dia kenal. Meskipun Erina tak bisa menganggap kalau wanita itu akan melakukan sesuatu yang buruk padanya.

Namun, Erina mendapati sebuah perasaan aneh saat berhadapan langsung dengannya. Seperti dia tak bisa menolak apapun yang dikatakan. 

“Kita sampai.”

Setelah berjalan cukup jauh, mereka sampai di depan sebuah rumah yang cukup besar.

Teras yang cukup lebar dan memiliki satu set meja dan kursi. Pintu gerbang yang tak terlalu memisahkan rumah dengan dunia luar. Dan juga memiliki dua lantai.

Mereka melepas sepatu dan sendal. Menaruhnya di rak dan mengambil yang digunakan untuk dipakai di dalam rumah.

“Permisi~!”

Risak mengetuk pintu dan berperilaku seperti orang asing. Erina sempat bingung karena telah menganggap rumah ini adalah miliknya.

Pintu terbuka. Seorang gadis muncul dari balik pintu. 

Cantik. Memiliki tinggi sekitar 170cm. Rambutnya dipotong pendek dan hanya mencapai lehernya saja. Memakai pakaian rumah yang sederhana.

“Ibu!”

Erina ikut terkejut saat gadis itu memanggil Risak dengan sebutan ibu.

“Aku pulang.”

Gadis itu mencium tangan ibunya seperti mereka telah lama berpisah. Pelukan yang dilakukan juga memerlihatkan kerinduan yang dalam dari si gadis.

“Kenapa ibu tak bilang-bilang kalau mau pulang?”

“Eh, mm, surprise~!”

Risak membuat candaan seolah dia juga tak memikirkan hal barusan.

“Ibu, ini!”

“Oh iya, kita juga punya tamu.”

Risak menyinggung tentang keberadaan Erina.

Gadis itu memandangnya karena dia juga belum menyadari kehadiran Erina barusan. Erina tersenyum padanya. Namun, gadis itu malah kelihatan bingung, bukannya terkejut, hal itu seperti kedatangan Erina tak direncanakan sebelumnya.

Erina masih tersenyum karena dia tak mau masuk ke dalam situasi yang canggung. Tetapi, dia juga tak bisa menahan tatapan penasaran dari si gadis.

“Ayo, sebaiknya kalian berkenalan lebih dulu.”

Gadis itu kembali ke dunia nyata setelah Risak menyadarkannya.

“Maaf, aku sepertinya sudah membuat kakak takut ya!”

“T-tidak juga kok. Aku hanya terkejut kalau kamu sepertinya belum mengenalku.”

“Hmm, apa itu berarti kakak ini cuma numpang exist dengan datang ke desa ini?”

“E-eh, bukan seperti itu! Hanya saja, setiap kali aku bertemu dengan seseorang yang baru di desa, mereka pasti sudah lebih dulu mengenalku sebelum aku mengenalkan diri pada mereka.”

“Ya, itu tentu saja. Sangat jarang seorang dari kota datang ke desa. Hal yang serupa juga pernah terjadi kok.”

“Apa yang kamu maksud itu Elang?”

“Ya, begitulah. Oh iya, namaku Refa Fatmawati.”

“Namaku... Eruin Leina Lesmana.”

Erina sempat terhenti untuk memperkenalkan dirinya seperti biasa di saat si gadis yang bernama Refa mengulurkan tangannya. Dia hendak berjabat tangan ke Erina. Erina kemudian membalas jabat tangannya lalu menyebut nama panjangnya.

“Sudah berkenalannya, ayo masuk.”

Risak mengajak Erina untuk masuk ke rumahnya. Rumahnya...

Yap, itu adalah rumah Risak dan Erina menyesal karena telah meragukannya. 

Di dalam ada ruang tamu yang besar ukurannya. Memiliki satu set meja dan kursi yang juga memiliki ukuran yang besar. Terdapat pula beberapa furnitur yang memperindah dekorasinya.

Dan sewaktu dia melewati sebuah kursi tamu yang ukurannya besar dan panjang—muat untuk tiga orang—dia melihat ada seseorang tertidur di situ. Seorang lelaki. Tubuhnya besar dan Erina yakin kalau mereka pasti seumuran. Setidaknya lelaki itu pasti adalah kakak dari Refa.

Namun, ada satu hal yang mengganggu Erina. Itu adalah wajah yang tertutup oleh buku dan tangannya yang menggantung sedang memegang sebuah kacamata baca. Satu lagi adalah warna rambut dari si lelaki yang tertidur. Erina tak salah mengira kalau warna itu adalah merah, dan merah itu lebih gelap dari merah biasa.

“Jadi...”

Akan tetapi, dia belum sempat memikirkan wajah siapa yang tersembunyi di balik buku itu karena dikejutkan oleh Refa.

“Eh, apa ya?”

“Mm, sepertinya dia masih tertidur dengan keributan barusan. Oh iya, kak Erina, lebih baik menjauh agar tak mengganggunya. Dia akan menjadi sangat menyeramkan kalau kamu mengganggu ketenangannya.”

Erina mendapat peringatan. Dan peringatan itu adalah nyata karena Refa mengatakannya dengan ekspresi sungguh-sungguh.

“Ayo.”

Mereka kembali berjalan, masuk lebih dalam ke rumah.

Erina sampai di ruang tengah. Ruang tengah dijadikan sebagai ruang keluarga. Terdapat satu set meja dan kursi yang di desain lebih santai daripada kursi dan meja di ruang tamu. Ada juga satu set tv beserta satu buah permainan vidio yang terpasang di meja khusus.

Ruang keluarga itu juga terhubung dengan empat tempat. Salah satunya adalah tangga menuju lantai dua. Dua pintu yang merupakan pintu kamar tidur. Dan terakhir adalah menuju dapur.

Tempat yang mereka tuju adalah dapur yang bergabung dengan ruang makan. Entah kenapa mereka lebih memilih untuk berada di dapur daripada di ruang tengah. Erina juga tak bisa melakukan sesuatu dengan itu, karena dia sedang berada dalam pertolongan sekarang.

Sesampainya di dapur. Erina mendapati pemandangan yang cukup mengejutkan. Rumah itu memang besar, tetapi dapur itu kelihatan lebih sederhana di banding ruangan yang dia lihat sebelumnya.

Di tengah ruangan ada satu set meja makan. Di sebelahnya ada dapur dengan semua peralatan memasak. Di situ juga terpasang lemari yang berada di atas dinding. Dapur juga memiliki tempat yang bisa terhubung ke tempat lain. Di sisi timur ada kamar mandi. Dan sisi barat ada pintu yang menuju luar rumah.

Pintu yang menuju luar rumah terbuka. Di luar terlihat rumah yang dimiliki oleh tetangga.

Risak berada di depan dapur untuk menyeduh teh.

“Ayo duduk, Kak.”

Refa menarik satu kursi untuk Erina. Mereka duduk dan mulai mengobrol lagi—melanjutkan pembicaraan sebelumnya.

“Jadi, sebutan Erina berasal dari dua kata ya...?”

“Ya, begitulah. Eruin dan Leina.”

“Tapi, kenapa bisa begitu? Maksudku, siapa yang pertama kali memberi ide untuk menyingkat kedua nama tersebut.”

“Eh...?”

Erina terbingung tentang apa yang harus dia katakan selanjutnya. Bukannya dia tak ingin menjawab, hanya saja dia juga lupa siapa yang pertama kali memiliki ide untuk menyingkat dua kata tersebut.

“Apa ayahmu yang memberi ide itu?”

“Tidak, ayahku memanggilku dengan Eruin seperti halnya Elang. Tapi... maaf, kejadian itu sudah lama sekali dan aku juga lupa siapa yang memberikan ide seperti itu.”

“Jadi maksudnya, kamu melupakan siapa yang memberimu sebutan berharga itu?”

Risak bergabung ke dalam pembicaraan setelah menuangkan teh untuk mereka semua.

Erina terkejut saat Risak mengatakan sesuatu yang juga mungkin adalah kesalahan baginya.

“Itu, tidak. Maksudku kejadiannya juga sudah lama terjadi dan ingatanku samar-samar tentang hal itu. Dan juga, waktu itu aku mendapati beban pikiran yang cukup berat sehingga aku tak memerdulikan apa yang terjadi di sekitarku.”

“Hmm, begitu ya, pasti berat ya rasanya. Kalau begitu, setidaknya ingatkah kamu tentang ciri-ciri anak itu, yang memberikan ide untuk menyingkat dua namamu?”

“Anak...??”

Erina sempat terpikirkan kembali tentang peristiwa yang mengikatkannya dengan panggilan yang dia miliki sekarang. Meskipun dia terkejut bisa mengingat kembali tentang itu, hal yang paling mengejutkan adalah, Risak yang mengetahui tentang satu hal yang mengikatnya dengan masa lalu.

Seorang anak. Anak yang lebih muda darinya. Anak yang memberikan ide untuk menyingkat dua nama darinya untuk menjadi lebih sederhana. Seorang anak yang berasal dari ingatan masa lalunya.

Siapakah dia?

Hal itu menjadi pertanyaan terbesar bagi Erina. 

Namun, hal itu tak membuatnya ingat dan Erina hanya mendapatkan satu petunjuk.

“Matanya...”

“Mata?”

Refa mengulang perkataan tidak jelas Erina.

“Warna matanya. Kalau tidak salah dia memiliki dua warna mata yang berbeda.”

“Heterochromia. Apa sepertiku?”

Risak menyinggung tentang dirinya yang juga memiliki ciri-ciri tentang dua warna mata yang berbeda. Heterochromia.

“Tidak, kalau kak Risak sendiri memiliki dua warna mata yang sama tapi berbeda dari yang lain.”

“...”

Mungkin perkataan Erina sedikit tidak jelas dan membuat dua orang lainnya bingung.

“Tidak, maksudku. Warna mata kak Risak sendiri sudah berbeda. Tapi keduanya memiliki corak yang sama bukan? Nah, anak ini, yang kumaksudkan sekarang, dia memiliki dua corak yang benar-benar berbeda. Kalau tidak salah, warna di bagian kiri itu biru seperti kak Risak. Dan bagian kanannya, mmm, aku tak terlalu ingat sih. Tapi seperti coklat begitu.”

“Kalau kamu menyebutnya coklat sih tidak salah. Tapi yang paling tepat adalah amber, yang berarti kuning sawo.”

“Mm, iya, benar, itu dia. Kuning sawo. Tapi bagaimana kakak tahu...?”

“Kalau begitu sepertinya kamu sudah mendapatkan jawabannya, benar kan, mas Bagas?”

Risak menyinggung tentang seorang yang berada di belakang Erina.

Erina berbalik dan menemukan sosok seorang lelaki yang sangat dia kenali. Merah kehitaman untuk warna rambut. Tubuh yang besar namun kulitnya terlihat sedikit pucat. Dan dua warna mata yang berbeda, kuning sawo di bagian kanan dan biru keabu-abuan di bagian kiri.

Erina terus memandangi sosok yang datang tanpa diketahui bahkan untuk Refa sekalipun.

Namun, arah tujuannya tak tertuju pada Erina yang tentu lebih menarik perhatian. Tetapi lebih kepada Risak yang sedang menikmati teh dengan santainya.