Episode 14 - Akhir Festival (Alternative)



Bagas menyela ucapan pria itu yang membuat dua orang di depannya bergidik ketakutan. Bahkan untuk pria itu sekalipun. Yang mengancam Bagas lewat kehidupan Erina.

Namun sepertinya, Bagas tak bergeming sama sekali dan malah melihat pria itu dengan ekspresi sangat muak. Seakan dia ingin muntah; muntahan yang berupa amarah dan kemurkaan.

Tangan pria itu sedikit bergetar ketika ekspresi kemurkaan Bagas di arahkan kepadanya. Membuat Erina semakin merasa takut jika saja pisau itu menggores lehernya.

“Haa, apa kau... akan membunuhnya? Katakan yang jelas!”

Bagas memegangi lehernya saat berkata seperti itu.

Masih dalam keadaan murka, perlahan-lahan dia berjalan ke depan. Memanfaatkan ketakutan pria itu yang memfokuskan pandangan di tangannya.

Sampai dia tepat berada di depan mereka berdua—di depan pria yang ketakutan dengan pemandangan yang dia lihat. 

Mata Bagas memelotot padanya. Untuk beberapa saat, tatapan itu seperti serigala yang haus akan daging. Membuat pria itu bergidik dan tak bisa berbuat apa-apa.

Saat itulah Bagas dengan cepat melancarkan sebuah serangan pencegahan. Melepaskan Erina dari bahaya yang bisa membunuhnya.

Tangan kanannya memegangi tangan kanan pria itu yang memegang pisau. Lalu tangan kirinya membentuk sebuah gunting dengan dua jari dan menusuk mata pria itu dengan kuat.

“Aaaahhh!!”

Pria itu sekarang lengah akibat rasa sakit yang dirasakan.

Bagas dengan cepat melangkah ke samping dan menarik pria itu padanya. 

Pria itu berlutut dan tangan kanannya dipelintir dengan satu tangan oleh Bagas.

“Aaaaahhh!!”

Pisau yang ada di tangannya terjatuh.

Sekarang pria itu tak bersenjata. Dan Bagas bisa puas meluapkan amarahnya.

Pria itu berlutut dengan membelakangi Bagas. 

Memanfaatkan kesempatan, Bagas memelintir sekali lagi tangan pria itu. Dan dengan hanya satu bagian tubuh, tangan kanan dan kaki kanannya. Dia mencoba untuk mematahkan tangan pria itu.

“Aaaaaaaahhhhhhhhhhh!!!”

Rasa sakit yang amat sangat dapat dirasakannya.

Tentu saja, karena perlakuan yang diberikan oleh Bagas sama sekali tak setengah-setengah. Bahkan kalau bisa, dia ingin mencopot tangan pria itu dari letaknya.


***


Erina yang telah selamat dari bahaya pun tak bisa kehilangan rasa takutnya. Itu karena apa—siapa yang dia lihat sekarang? Dia sama sekali bukan seseorang yang Erina kenal.

Pemandangan itu membuatnya ragu kalau Bagas yang sedang dalam keadaan murka adalah ‘benar-benar seorang’ Bagas. Sesuatu yang memang sulit untuk diterima olehnya, namun matanya sama sekali tak berbohong.

Bagas menjadi seseorang yang benar-benar berbeda.

Wajahnya—ekspresinya, bahkan aura yang dia keluarkan sangat berbeda. Sejak awal dia memang sudah tahu Bagas yang dia kenal dulu telah berubah drastis. Namun yang tak dapat dia percaya, bahkan Bagas memiliki sisi gelap yang mengerikan.

Di saat lawannya memekik kesakitan, dia bahkan tak bergeming atau merasa kasihan. Tatapan membunuhnya masih di arahkan pada kepala pria itu. Sama sekali tak memiliki niatan untuk menghentikan perlakuaannya.

“Aaaaaaaaahhhhhhhhh!!!”

Di satu sisi dia ingin menghentikan aksi Bagas, tapi apa yang bisa dia lakukan sekarang. Dia terlalu takut untuk mengeluarkan suaranya. Bahkan untuk menghentikan kakinya yang gemetaran saja sudah sulit.

“Sudah cukup!!”

Teriakan seseorang memecah keheningan.

Dua orang datang dari arah jalan menuju lapangan. Salah satunya adalah seseorang yang mungkin bisa menghentikan konflik itu.

“Bagas, itu sudah cukup!!”

Elang, datang dengan Ani yang mana bergegas ke arah Bagas untuk menghentikannya.

“A-ani.”

Erina dengan lirih mengeluarkan sisa-sisa tenaganya untuk mengarahkan tubuhnya ke arah Ani yang datang padanya. Akibat rasa takut yang tak dapat ditahan, Erina terjatuh dalam pelukan Ani.

Dan dengan erat memeluk tubuh Ani.

“Sudah tidak apa sekarang, Erina. Elang akan mengurus sisanya.”

Di sisi lain, Elang telah menghentikan aksi Bagas, tapi sepertinya kemarahan Bagas tak bisa memudar begitu saja. 

“Kalian semua! Jika tak ingin membuat kejadian ini menjadi sebuah masalah yang lebih besar! Kuharap kalian bisa pergi dan melupakan kejadian ini!”

Elang yang berhasil sedikit menenangkan Bagas meneriakkan hal itu kepada seluruh pria yang menyerang Erina. Perlahan-lahan mereka bangkit dan berlari tanpa memedulikan masing-masing. Bahkan untuk pria yang babak belur dihajar oleh Bagas bangkit dengan sendirinya dan mulai pergi menjauh.

Pria yang hampir dipatahkan tangannya tadi juga, bangkit dengan memegang tangannya yang hampir patah dan berjalan menjauh dengan tertatih.

“Baiklah, mereka sudah pergi. Untuk sekarang...”

Elang melihat kepergian kelima orang itu, dan saat sudah memastikan kalau mereka telah menjauh, dia bergantian menatap Bagas.

Wajahnya dipalingkan seakan dia tak ingin ditatap oleh siapapun saat itu. 

Mungkin kemarahan masih membuatnya muak dan dia tak ingin berkomunikasi dengan siapapun.

“Hey!”

Namun panggilan Elang membuatnya berpaling dan sebuah pukulan dilayangkan ke arah wajahnya.

“Elang... apa yang kamu lakukan!!?”

Ani yang masih memeluk Erina terkejut dengan perlakuan Elang. Bahkan untuk Erina sekalipun, tak tahu apa yang sebenarnya dilakukan oleh saudara laki-laki-nya itu dan sedikit melonggarkan pelukannya.

Pukulan yang dilayangkan Elang cukup keras dan membuat Bagas tersungkur ke bawah. 

Bagas yang hanya sesaat menerima efek dari pukulan keras Elang dengan cepat mengarahkan amarahnya yang kembali terpicu pada Elang.

Tetapi yang didapat oleh Bagas dari menatap marah pada Elang adalah ekspresi khawatir. Gelisah serta menyesal. Bagas mengerti apa arti dari tatapan itu; kekhawatiran dari seorang yang telah membuat orang yang disayangi dalam bahaya.

Dan dia memalingkan wajahnya kembali setelah mengatahui hal itu. Tak beberapa lama, dia bangkit dan berniat untuk pergi.

Erina yang masih berada dalam pelukan Ani ingin menghentikan langkah kakinya, tapi dia tak bisa. Dia masih takut dengan sosok Bagas yang baru saja dia lihat dan tak bisa berbuat apa-apa selain ‘hanya ingin’ menghentikan Bagas.

Elang dan Ani juga sepertinya hanya bisa membiarkan Bagas pergi. Karena mereka tahu, mereka juga tak bisa mengatakan apapun di saat seperti ini.

Beberapa saat setelah Bagas pergi dan menghilang dari pandangan mereka, Ani menyadari kalau Erina sudah menjadi sedikit tenang dan menanyai keadaannya.

“Erina, apa kamu baik-baik saja?”

“Em..”

Mereka yang sedang terduduk di tanah perlahan-lahan berdiri. Erina masih merasakan gemetaran saat dia mencoba menggerakkan kakinya.

“Kak Eruin, apa kamu terluka?”

“...tidak, aku baik-baik saja kok.”

Walaupun begitu, dilihat dari mana pun Erina tampak tak baik-baik saja. Karena mentalnya sekarang sedang turun drastis akibat kejadian barusan.

“Sejujurnya, aku sudah mengerti sebagian situasinya, tapi-- “ 

Sesaat sebelum Elang menyelesaikan perkataannya, sebuah tamparan melayang ke pipinya.

“Erina!”

Erina yang sehabis melepaskan pelukan Ani berjalan menuju Elang, dan sebuah tamparan dia berikan kepada saudara laki-laki-nya itu.

Ani yang juga sama terkejutnya dengan Elang yang terkena tamparan, menarik Erina ke belakang dan memegang kedua bahunya. Karena saat itu juga, sebuah perasaan tak suka muncul dari pandangannya kepada Elang—adiknya.

Walaupun dia merasa ingin menangis karena kejadian itu, tetapi dia menguatkan dirinya untuk membalas perlakuan yang sepertinya dia berikan kepada Bagas—penolongnya.

“Maaf, sepertinya aku sudah berlebihan.”

Elang yang menyesal sedikit memalingkan wajahnya saat mengatakan hal itu.

Erina yang hampir pada batasnya merasa ingin jatuh. Tepat sebelum hal itu terjadi Ani membopongnya dan mengajaknya pulang.

“Sudahlah, lebih baik kita pulang lebih dulu dan bicarakan masalah ini nanti.”

---

Di saat mereka sudah sampai di kompleks rumah kontrakan—yang dari bentuknya hanya bisa menampung dua orang dewasa. Dengan hanya satu kamar tidur, satu kamar mandi, sebuah ruang tamu dengan ukuran 5x7 meter, dan juga dapur yang terlihat sederhana. Di desain minimalis karena memang dikhususkan untuk mereka yang ingin tinggal sendiri atau sebuah pasangan muda, seperti Elang dan Ani.

Karena kejadian yang menimpa Erina barusan, mereka bertiga sepakat untuk membiarkan Erina bermalam bersama Ani di kamar dan Elang tidur di ruang tamu. Walaupun biasanya Erina tinggal sementara dengan saudari Ani yang bernama Afita. Namun mereka tak ingin membuat saudari Ani yang memiliki seorang bayi berumur enam bulan dan hanya tinggal berdua dengan bayinya tak ingin mengetahui kejadian itu.


Di ruang tamu yang hanya ada dua orang saudara kandung—di saat seorang istri dan adik ipar sedang pergi ke dapur untuk membuat minuman hangat. Erina dan Elang, tak berkomunikasi sama sekali karena kejadian yang terjadi sesaat yang lalu.

Mereka bahkan tak memiliki niatan untuk menatap satu sama lain, membuat suasana canggung yang hanya bisa mereka hindari dengan menatap dinding atau lantai.

Mereka bahkan terus memertahankan suasana itu sampai Ani datang dengan nampan yang berisi tiga buah gelas dengan teh hangat. Menyajikannya satu persatu ke masing-masing dan juga duduk di sebelah Erina—menengahi dua orang saudara kandung yang sedang dalam konflik itu.

“Baiklah, kupikir sudah saatnya untuk membicarakan masalah ini.”

Ani, yang memiliki usia yang lebih tua dari dua orang kakak beradik itu memulai pembicaraan dengan sikap dewasanya.

“Tapi sebelum itu, aku ingin kalian berdua untuk saling meminta maaf untuk menghilangkan kecanggungan ini.”

Ani yang dengan tegas mengatakan hal itu membuat Elang dan Erina menurutinya.

“Aku minta maaf, padahal Bagas menolongmu. Aku malah memukulnya sekeras itu.”

“Aku juga, maaf karena sudah menamparmu.”

Walaupun mereka sudah saling memaafkan, keadaan masih terlalu dini untuk membuat mereka saling menatap. Dan mereka masih menjaga pandangan akibat kejadian barusan.

“Baiklah. Kalau begitu, Erina, bisa kamu ceritakan kenapa kalian bisa masuk ke dalam masalah seperti itu?”

Erina yang saat itu masih belum sembuh kondisi mentalnya mencoba untuk kuat dan menceritakan segala kejadiannya. Dimulai dari dia yang bertemu dengan Bagas sewaktu mengambil popok. Mereka yang duduk di pinggir lapangan dan melihat perayaan dari situ. Dan terakhir adalah peristiwa yang melibatkan beberapa orang pria yang ingin melecehkan Erina.

“Begitu ya, jadi sewaktu kamu ingin dicelakakan oleh mereka, Bagas datang dan melawan mereka karena tak ada pilihan lain.”

Walaupun sudah diceritakan seluruhnya, perasaan Elang mengatakan kalau ada yang aneh dengan kejadian itu. Namun dia tak ingin mengatakannya dan hanya mendengarkan penjelasan Erina lebih lanjut.

“Mm, seperti itu. Dan sewaktu keadaan semakin gawat, kupikir aku harus lari dan meminta bantuan. Tapi siapa sangka, Bagas bisa melawan mereka semua bahkan tanpa terkena luka sedikitpun.”

Erina yang mengatakan hal itu mencoba untuk kembali mengingat pertarungan antara Bagas dengan lima orang pria yang lebih tua darinya. Namun siapa sangka dia dapat mengalahkan mereka semua tanpa kesulitan.

Dan sewaktu Erina melanjutkan penjelasannya tentang kejadian terakhir yang melibatkan nyawanya. Perasaan tak suka Elang timbul dan membuatnya menahan sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Sudahlah, kuyakin Bagas memiliki alasan tersendiri untuk melakukan hal beresiko seperti itu. Yang lebih penting Erina telah selamat dan mereka mendapat ganjarannya.”

Meskipun masalah selesai tanpa ada masalah yang lain. Perasaan yang melibatkan hubungan dua saudara itu menjadi sedikit rumit, karena di satu sisi sang saudari merasa dia yang salah akibat peristiwa itu. Jika saja dia berhenti untuk mengejar Bagas dan kembali ke perayaan mereka pasti takkan masuk ke dalam masalah seperti itu. Di sisi lain Elang merasa kesal karena Bagas menjadi terlalu keras kepala terhadap dirinya sendiri, dan perasaannya sebagai wali kelas pun melibatkan hal itu pula.

“Baiklah, karena kupikir kita semua lelah karena menjalani hari yang sibuk ini. Ada baiknya kita mulai tidur sekarang. Erina.”

Ani mencoba untuk mengajak Erina pergi ke kamar dan mulai tidur. Sedangkan untuk Elang yang tak bisa ikut dalam tidur di ranjang hanya memegang kepalanya yang sedikit pusing di kursi.

“Elang, cobalah untuk tak tidur terlalu larut.”

“Mm.”