Episode 104 - Anggota Regu



“Padepokan Kabut mengalahkan Perguruan Maha Patih!” ujar suara menggelegar menetas keheningan di gelanggang kejuaraan.

Belasan ribu penonton sontak berdiri. Gemuruh reaksi ketidakpercayaan memenuhi seantero gelanggang kejuaraan. Tak satu pun di antara belasan ribu hadirin menyangka bahwa perwakilan dari Padepokan Kabut dengan mudahnya dapat mengalahkan perwakilan perguruan unggulan pertama.

 “TIDAK MUNGKIN!” 

“Apa yang terjadi di balik kabut ungu itu!?”

“Juara bertahan sekaligus tuan rumah tumbang!” 

Selang beberapa saat, gelombang komentar dari para penonton tak juga surut. Meski demikian, kabut berwarna ungu di atas kabut sudah mulai tersibak. Sejak hari pertama sampai hari ketujuh, tak banyak ahli yang dapat mengamati apa sesungguhnya yang terjadi di atas panggung pertarungan ketika Padepokan Kabut bertarung. 

Awalnya, para penonton tak terlalu menghiraukan pertarungan Padepokan Kabut karena lawan mereka hanyalah perguruan-perguruan yang tak terlalu diunggulkan. Perhatian lebih banyak disita oleh Perguruan Gunung Agung yang berkali-kali berhadapan dengan lawan-lawan tangguh. 

Beberapa saat sebelumnya, seusai Perguruan Gunung Agung memenangkan pertarungan menghadapi Persaudaraan Batara Wijaya, Padepokan Kabut berhadapan dengan Perguruan Maha Patih. Sepuluh remaja telah berdiri di atas panggung. Perkenalan diri dari murid-murid perwakilan Perguruan Maha Patih, kontan dijawab dengan kabut berwarna ungu yang tetiba turun di seantero panggung pertarungan. 

Bintang Tenggara sempat memerhatikan dengan seksama ketika seorang gadis berjubah ungu, merapal jurus. Siapa lagi bila bukan Embun Kahyangan yang mengenakan jubah pemberiannya. Betapa senang hati Bintang Tenggara bahwa gadis yang pernah menyelamatkan jiwanya itu masih mengenakan jubah tersebut. 

Akan tetapi, ada yang aneh di mata Bintang Tenggara. Kabut ungu yang turun terlihat memiliki ketebalan yang lebih pekat dan jangkauan yang lebih luas. Pada pertemuan mereka sebelumnya, Embun Kahyangan tidaklah setangguh itu! 

“Kelima gadis itu mengerahkan kesaktian unsur kabut secara bersamaan…,” gerutu Komodo Nagaradja. 

“Ooo….” 

“Namun, dambaan hatimu itulah yang mengatur aliran dan fungsi kabut. Sepertinya ia telah berhasil membuka satu lagi kemampuan Selendang Batik Kahyangan.” 

Bintang Tenggara tak mengetahui ‘fungsi’ kabut apa yang tersibak. Yang jelas ia ketahui adalah jurus Panca Kabut Mahameru milik Embun Kahyangan memiliki kemampuan menutup pandangan mata dan pantauan mata hati, memerangkap dalam ilusi, serta mengunci gerakan lawan. Namun, yang benar-benar nyata adalah pertarungan di atas panggung berlangsung teramat cepat.

Murid-murid Perguruan Maha Patih yang kesemuanya berada pada Kasta Perunggu Tingkat 9, atau hanya selangkah lagi dari Kasta Perak, satu per satu dipaksa terlontar keluar dari atas panggung. Di saat kebingungan di tengah kabut, mereka mendapat serangan bertubi-tubi. Tak satu pun dari mereka terlihat siap menghadapi Padepokan Kabut. Sungguh pelik. 


===


Dua orang perempuan tiba di sebuah kota pelabuhan. Kesibukan di jalanan kota mencermintan betapa besar dan pentingnya kota ini. Ratusan ahli dan masyarakat terlihat sibuk beraktifitas. Berdasarkan wilayahnya yang luas, serta sebaran penduduknya yang padat, sangat mudah menyimpulkan bahwa kota ini merupakan kota terbesar kedua di Negeri Dua Samudera. 

Jauh sebelum Perang Jagat berlangsung, di saat ukurannya belum sebesar sekarang, kota ini pernah menghadapi gempuran dari kaum siluman. Akan tetapi, asal serangan tersebut bukanlah datang dari siluman-siluman yang menetap di Negeri Dua Samudera. Tak tanggung-tanggung, kota ini diterjang oleh kekuatan sebuah kerajaan siluman digdaya jauh di utara… dari Benua Atas!

Adalah raja di antara siluman sempurna yang menabuh genderang perang. Sang raja, yang dikenal dengan nama Kublai, mengutus pasukan yang berisikan sejumlah siluman sempurna bersama dengan ribuan binatang siluman. Kawanan siluman itu sanggup meluluh-lantakkan siapa dan apa saja yang berani menghadang mereka. 

Menyadari bahwa serangan tersebut berisiko membuka pintu masuk ke wilayah Negeri Dua Samudera dana membawa bencana yang jauh lebih besar, Batara Wijaya sebagai Raja Pertama di Negeri Dua Samudera, tak tinggal diam. Sang raja kemudian mengirim armada pasukan ahli yang tak kalah tangguh untuk membela kota. 

Singkat kata, pertempuran sengit berlangsung dalam jangka waktu yang panjang. Pasukan Negeri Dua Samudera bersama dengan ahli setempat bahu-membahu. Bersama-sama mereka bertempur dengan gagah berani (sura) dalam menghadapi bahaya (baya) yang mengancam. 

Pertarungan pada akhirnya dimenangkan oleh pihak Negeri Dua Samudera. Tak hendak menghadapi ancaman serupa, Batara Wijaya lalu mendirikan sebuah keraton dan menugaskan Adipati Jayengrono untuk memimpin di wilayah kota tersebut. 

Dalam laut boleh diajuk, dalam hati siapa tahu. Lama-kelamaan, Adipati Jayengrono yang cerdik dan ulung berhasil membawa wilayah kekuasaan yang dipercayakan kepadanya menjadi semakin kuat dan mandiri. Pertumbuhan tersebut kemudian dirasa mengancam kedaulatan Negeri Dua Samudera. 

Maka dari itu, diutuslah Sawunggaling untuk menumpas Jayengrono. Pertarungan antara dua ahli digdaya tak terhindarkan. Kedua ahli tingkat tinggi itu tak ada yang hendak mengalah, sehingga pertarungan berlangsung sengit. Selama tujuh hari dan tujuh malam, mereka bertarung tiada henti. Pertarungan menjadi semakin dahsyat karena keduanya menguasai jurus manusia siluman.* 

Sebagaimana diketahui, jurus manusia siluman mampu mengasimilasi manusia dengan binatang siluman. Ketika jurus dikerahkan, seorang manusia mempertahankan kesadarannya, sambil memperoleh kekuatan dan kecepatan, serta naluri binatang siluman. Bentuk tubuh turut membaur menjadi setengah manusia dan setengah binatang siluman. Manusia bisa memiliki cakar, taring, bahkan sayap binatang siluman. 

Selain itu, asimilasi manusia dan binatang siluman juga menyatukan mustika penampungan tenaga dalam di ulu hati, sehingga menjadi lebih besar. Dengan kata lain, tenaga dalam yang dapat ditampung di dalam mustika yang terasimilasi menjadi lebih banyak. Ahli tersebut, dengan demikian, dapat mengerahkan kekuatan tiada banding. Kendati, saat ini jurus yang digdaya tersebut diketahui telah punah. 

Jayengrono berasilimasi dengan binatang siluman sejenis buaya (baya). Sedangkan lawannya Sawunggaling dapat berasimilasi dengan binatang siluman sejenis ikan hiu (sura). Tragisnya, kedua ahli digdaya tersebut bersama-sama menghembuskan napas terakhir di dalam pertarungan hidup-mati. 

Dua orang perempuan adalah seorang gadis belia dan seorang perempuan dewasa. Keduanya menelusuri jalan-jalan padat nan sibuk di tengah kota yang sesuai sejarahnya dikenal dengan Kota Baya-Sura. Langkah mereka ringan. 

“Guru, apakah yang hendak kita lakukan di Pulau Jumawa Selatan?” si gadis belia bertanya penasaran. 

“Muridku Lamalera… Ada seseorang yang perlu kutemui di kota ini… dan ada yang perlu engkau lakukan di tempat tujuan kita nanti,” jawab sang guru memendam misteri. 

Tak lama setelah Bintang Tenggara meninggalkan Pulau Paus, sekira empat atau lima bulan lalu, Lamalera tetiba membuka mustika tenaga dalam di ulu hatinya. Menyadari akan hal tersebut, serta potensi yang ditunjukkan Lamalera, seorang guru lalu mengangkat anak gadis tersebut sebagai murid. Keahlian Lamalera pun tumbuh sangat pesat. Bagaimana tidak, ia menjadi anak didik dari seorang ahli yang digdaya. 

Tetiba langkah kaki mereka berhenti. Keduanya sudah berada di perbatasan Kota. Di hadapan mereka, terbentang megah gerbang sebuah perguruan.

“Itu adalah gerbang masuk menuju perguruan terbesar di kota ini… Perguruan Anantawikramottunggadewa,” ujar sang guru cepat. 

“Perguruan…?” Lamalera terlihat ragu. 

“Perguruan Anantawikramottunggadewa,” ulang sang guru. 

“Perguruan Anantawikramottunggadewa…,” ucap Lamalera cepat. Sungguh ia memiliki daya ingat yang baik. Tidak seperti para ahli baca…

Sambil melangkah, sang guru menjelaskan tentang latar belakang perguruan tersebut. Pendirinya adalah seorang raja besar di masa lampau, dimana kekuasannya sampai ke Pulau Dewa. Bahkan, diketahui bahwa memang ada hubungan kekerabatan antara Perguruan Anantawikramottunggadewa di Kota Baya-Sura dengan Perguruan Gunung Agung di Pulau Dewa. 

Akan tetapi, perguruan yang juga disegani di seluruh Pulau Jumawa Selatan ini sangatlah tertutup. Bahkan, pada petingginya tak pernah menggubris undangan untuk mengikuti Kejuaraan Antar Perguruan. Tak ada yang mengetahui apa alasan di balik sikap yang sedemikian.

Jika perguruan ini turut serta dalam Kejuaraan Antar Perguruan, maka dipastikan bahwa mereka berada di tataran yang sejajar dengan perguruan-perguruan digdaya yang ada. 

“Siapakah gerangan Puan dan Nona ahli sekalian?” ujar suara menegur. 

Seorang remaja lelaki yang sedang berjaga terlihat waspada. Dua orang perempuan, satu muda dan satunya lagi dewasa, telah berdiri tepat di gerbang perguruan. 

“Panggil Pimpinan Perguruan Anantawikramottunggadewa. Katakan ada kawan lama yang datang berkunjung,” ujar perempuan dewasa, guru dari Lamalera, dengan nada datar. 

Sejumlah penjaga lain tiba-tiba waspada. Belasan jumlah mereka. Satu di antara mereka ialah seorang pemuda yang berada pada Kasta Perak. Ia mengetahui bahwa si gadis belia berada pada Kasta Perunggu Tingkat 6. Akan tetapi, ia tak bisa menelaah tingkatan keahlian perempuan dewasa yang pembawaannya begitu angkuh, sekaligus tenang. 

Remaja Kasta Perak membatin. Hanya ada dua kemungkinan, yaitu perempuan tersebut hanya orang biasa yang lemah, atau… keahliannya demikian tinggi sampai tak dapat dicerna oleh mata hati ahli Kasta Perak. Ia tak hendak gegabah.

“Apakah kalian tak bisa mendengar…?” cibir Lamalera dari balik tubuh gurunya.  

“Mohon maaf… ada keperluan apakah sehingga Puan Ahli hendak menemui Pimpinan Perguruan?” ujar remaja tersebut sopan, bahkan dirinya tak pernah bersua dengan Pimpinan Perguruan. Terlalu lebar jurang pemisah di antara mereka. 

“Kami tak perlu memberi alasan…,” tanggap Lamalera mewakili gurunya. 

“Ijinkan kami menyampaikan ke dalam. Mohon kiranya Puan dan Nona menunggu di Balai Tamu. Rekan kami akan mengantarkan….”

“Tidaklah perlu,” jawab perempuan dewasa itu. 

“Hmph!” Tetiba terdengar suara orang mendengus. 

Akan tetapi, dengusan tersebut terdengar menggelegar. Seluruh petugas penjaga gerbang tetiba jatuh terjerembab. Lamalera yang berdiri tepat di belakang gurunya tak terpengaruh, meski ia turut merasakan tekanan yang demikian berat

Sang guru sedikit menengadah. Ia menyipitkan mata… Lamalera ikut menengadah. Kedua matanya menangkap satu titik kecil jauh di angkasa.

“Kau turun ke sini… atau aku yang menyusul ke sana!” tetiba perempuan dewasa itu berujar. Nada suaranya mengancam. 

“Hmph!” Suara mendengus kembali bergelegar. Sepertinya, siapa pun di atas sana tak sudi disuruh-suruh. 

“Swush!” Guru Lamalera berkelebat cepat. Bahkan, ia seolah menghilang. Hanya terpaan angin sepoi-sepoi nan dingin yang tersisa dan dapat dirasakan oleh seluruh ahli di pintu gerbang perguruan. 

“Bum!” Langit bergelegar dan bumi bergemetar!

Dari bawah, Lamalera menyaksikan dua titik bertabrakan di angkasa. Hentakan tenaga dalam yang dihasilkan dari tabrakan tersebut bahkan terlihat kasat mata, namun sulit untuk dijelaskan. Yang dapat ditangkap mata adalah lingkaran besar yang berpencar dari dua titik tersebut. Bila harus digambarkan dengan kata-kata, maka hentakan tenaga dalam terlihat seperti sebuah cincin putih yang membesar di angkasa. 

Seketika itu juga, terlihat titik-titik hitam lain dari wilayah dalam Perguruan Anantawikramottunggadewa mengudara. Ratusan jumlah mereka. Akan tetapi, tak satu pun dari ratusan ahli tersebut menyusul dan mendekat. Mereka hanya memantau dari jarak yang aman.

Lamalera cemas. Salah satu titik di udara tersebut tak lain adalah gurunya. Banyaknya jumlah ahli yang mengemuka tentu membuat dirinya semakin khawatir. 

“Hmph!” Seorang lelaki setengah baya kembali mendengus. Wajahnya terlihat kusut. 

Lelaki tua tersebut mengenakan jubah berwarna coklat yang mirip dengan jubah kebanyakan pendeta. Tubuhnya sedikit bungkuk, mungkin karena usia yang sudah demikian uzur. Pembawaannya berwibawa. Meski, bila diperhatikan dengan lebih seksama, maka ia sedang berupaya semaksimal mungkin untuk tetap tampil tenang.

“Kudengar kau telah berganti nama…,” ujar perempuan itu ringan. 

Lawan bicaranya tak menanggapi dengan kata-kata. Ia menarik napas panjang, panjang sekali. Anehnya, selama menarik napas, perawakan yang tadinya tua, berangsur-angsur berubah muda. Keribut di wajahnya menghilang. Tubuhnya kembali tegap. Waktu seolah berbalik bagi ahli tersebut. 

Kini, berdiri melayang, seorang lelaki dewasa bertubuh bagas dan memancarkan aura yang perkasa. Satu tarikan napas panjang mengubah penampilan. Aura kekuatannya demikian digdaya. 

“Apakah yang terjadi!? Pimpinan Perguruan hendak mengerahkan seluruh kemampuannya!” 

“Pimpinan Perguruan kembali ke wujud dimana beliau dalam kondisi paling prima!”

“Segera pasang segel pelindung! Jangan sampai pertarungan mereka berdampak ke kota!” 

“Sudah lama sekali Pimpinan Perguruan tak mengerahkan segenap kekuatannya! Siapakah perempuan itu!?”

Disadari bahwa tindakan menarik napas tadi merupakan cara menyerap dan menyuling tenaga alam yang unik. Dengan melakukan hal tersebut, jelas bahwa lelaki tersebut siap bertarung. Bila pertarungan antara dua ahli digdaya berlangsung, maka tak terbayangkan bencana yang dapat menimpa ahli kelas rendah atau masyarakat sekitar. 

“Mayang Tenggara…,” gumam lelaki yang gagah itu. “Kau boleh memanggil aku sebagai… Resi Gentayu!”*

Benar, perempuan dewasa itu tak lain adalah Mayang Tenggara. Ia yang mengangkat Lamalera sebagai murid. Setelah menerima pesan berbentuk formasi segel yang dikirimkan oleh suaminya, Balaputera, dari Pulau Belantara Pusat, Mayang Tenggara membawa Lamalera meninggalkan Pulau Paus. Kini mereka berada di wilayah timur Pulau Jumawa Selatan, di Kota Baya-Sura. 

“Sebagai seorang resi, aku telah meninggalkan dunia persilatan dan kesaktian, dan hendak menenangkan jiwa. Aku bahkan membagi kerajaan yang dulu aku pimpin menjadi dua, agar kedua putraku tidak bersengketa….” 

Mayang Tenggara mendengarkan dalam diam.

“Aku hendak memperbaiki pikiran dan watak yang selama ini selalu dipenuhi dengan kehendak duniawi…,” lanjut Resi Gentayu, sambil melipat satu tangan di belakang pinggang. Kata-katanya bijaksana, pembawaannya berwibawa, dan aura yang ia pancarkan penuh kharisma. 

“Lalu, mengapa pula kau mengubah penampilan kembali ke saat dimana kekuatanmu berada pada keadaan puncak?” Mayang Tenggara tersenyum ringan. 

Raut lelaki yang bernama Resi Gentayu terlihat gugup. Tujuan dirinya menunjukkan kehebatan adalah untuk menggertak lawan bicaranya. Meski, ia sepenuhnya menyadari bahwa tindakan ini tak ada gunanya. 

Hening. Keduanya diam seribu bahasa. Angin deras dan dingin bertiup kencang di ketinggian, namun sepertinya sama sekali tak berpengaruh bagi dua tokoh itu. Dari bawah, dua titik hitam sebesar kuku jari sama sekali tak terlihat bergerak….

“Karena kau tak pernah mengerti akan arti dari kata ‘tidak’!” Resi Gentayu tetiba berujar sambil menggeretakkan gigi. Luntur sudah kesan yang tadinya hendak ia bangun.

“Aku bahkan belum mengutarakan maksud kedatanganku…,” tanggap Mayang Tenggara santai. 

“Mayang Tenggara… setelah turun tahta raja, aku membangun perguruan ini dengan jerih payahku sendiri. Kini perguruanku tumbuh besar… Sudah saatnya bagiku berlayar dalam kedamaian. Merengkuh dayung ketenteraman. Membiarkan jiwa dan ragaku diombang-ambingkan ombak sentosa, di tengah lautan keselarasan, menuju pulau keseimbangan….” Sang resi menarik napas dalam.

“Aku hanya hendak menenangkan raga dan jiwa.” Lelaki itu menutup kata-kata mutiara dengan membusungkan dada. Matanya setengah terpejam, senyum tipisnya mencerminkan ketauladanan. 

“Menenangkan raga dan jiwa…?" cibir Mayang Tenggara mengabaikan kata-kata mutiara sang resi dua paragraf sebelumnya. 

“Mengasingkan diri dan hanya berpikir untuk kebahagiaan dan keselamatan dirimu sendiri tanpa menghiraukan orang lain…? Itukah maksudmu dengan menenangkan jiwa?” 

“Apakah gerangan tujuan kedatanganmu?” Resi Gentayu, seorang petapa, tak mau menjawab komentar lawan bicaranya. Ia sadar bahwa dirinya belum terlalu bijak untuk berdebat dengan Mayang Tenggara. Atau mungkin, karena sudah cukup bijaklah ia tak hendak berdebat dengan perempuan itu. 

“Airla…”

“Panggil aku Resi Gentayu,” potong lelaki tersebut.

“Resi Kemayu…”

“Resi GENTAYU!” teriak lelaki itu, tak lagi berkesan gagah. “Mayang Tenggara! Jangan kau uji kesabaranku!” 

“Resi Gentayu… Aku datang hendak menitipkan seorang murid.” 

Resi Gentayu melirik jauh ke bawah, ke arah gerbang perguruan. Ia mendapati seorang gadis remaja dengan raut wajah khawatir. 

“Hanya itu…?” Resi Gentayu mengernyitkan dahi. 

Selama beratus-ratus tahun mengenal Mayang Tenggara, tak mungkin sesederhana ini maksud dan permintaan lawan bicaranya. Jikalau hendak menitipkan murid, cukuplah dengan mengirimkan surat, sehingga tak perlu menimbulkan keresahan. 

Berbekal rekomendasi Mayang Tenggara, sebagai pendiri perguruan, tentunya sang resi dapat menerima anak gadis tersebut tanpa melewati ujian. Anak gadis itu pun dapat langsung segera diangkat menjadi Murid Utama, bahkan Putri Perguruan. Tidak, akan kuangkat ia sebagai anak bilamana perlu, asalkan perempuan ini tak datang berkunjung! batin Resi Gentayu. 

Tak mungkin, pastilah ada hal lain…, keluh sang resi dalam hati. 

“Aku pun hendak…”

“Nah! Sesuai perkiraanku!” sergah Resi Gentayu. 

Mayang Tenggara menatap tajam. Sebulir keringat menetes di pelipis sang resi, senyumnya kaku. 

“Baik, baik… silakan dilanjutkan…,” Resi Gentayu mengibaskan tangan. Tetiba ia terlihat sangat gugup.

“Dengarkanlah dengan seksama.” 

“Baik”

“Aku mengingatkanmu bahwa tugas kita belum selesai.”

“Baik”

“Bila tiba waktunya nanti, aku akan memanggilmu dan anggota regu yang lain.”

“Baik.” 

“Jadi, jangan terlalu terbuai dalam permainan resi, petapa, orang suci… atau apa pun itu.”

“Baik.”




Catatan:

*) Jurus manusia siluman pernah dibahas dalam Episode 36.

**) resi1/re·si/ kl n petapa; orang suci