Episode 103 - Gerilya


Kuau Kakimerah merapal jalinan rotan untuk membelit dan menarik Canting Emas dan Panglima Segantang yang terlontar keluar dari panggung pertarungan. Siamang Semenanjung turut melompat mengejar. Bintang Tenggara telah melempar lima Segel Penempatan bagi kedua temannya.

“Dari hamparan tujuh padang rumput, aku memanggil angin sebagai kawan… untuk menolak lawan!” Kembali terdengar rapalan jurus penyangga.

“Sret!” Tebasan kesaktian unsur angin datang dari pedang panjang milik gadis murid Persaudaraan Batara Wijaya. Serta-merta jalinan rotan terputus!

“Brak!” Si dagu panjang menghantamkan tinju ke rusuk Siamang Semenanjung. Binatang siluman itu lengah karena hendak menggapai Canting Emas dan Panglima Segantang. Ia pun terlontar tak berdaya.

“Bum!” Tempuling Raja Naga menancap di permukaan tanah di luar panggung.

Tambahan pijakan akan memudahkan Panglima Segantang dan Canting Emas melompat kembali ke atas panggug pertarungan.

“Wush!” Gadis bertubuh bongsor berambut pendek meniupkan angin deras!

Panglima Segantang dan Canting Emas yang baru sempat berpijak di atas Segel Penempatan, terdorong semakin jauh. Keduanya tak sempat menggapai Segel Penempatan berikutnya dan bilah Tempuling Raja Naga yang tertancap.

Bintang Tenggara dan Kuau Kakimerah tak berdaya ketika menyaksikan kedua teman mereka mendarat di tanah di bawah panggung pertarungan. Andai saja Canting Emas dan Panglima Segantang dapat leluasa mengerahkan tenaga dalam, kemungkinan besar kondisi mereka tak akan terlihat sedemikian menyedihkan.

“Buk!” terdengar suara pelan dari sudut lain panggung.

Remaja yang terus-menerus merapal jurus penyangga bagi teman-temannya, tetiba sudah berada jauh di sana. Dengan santai ia menendang ringan tubuh Aji Pamungkas yang tak sadarkan diri keluar dari panggung pertarungan.

Secara sah dan meyakinkan, tiga Murid Perguruan Gunung agung telah tersingkir dari pertarungan!

Si dagu panjang berdiri jumawa. Tatapan matanya arogan. Senyum tipisnya angkuh. Dagunya mendongak congkak! Angin yang bertiup mengibaskan rambut dan pakaiannya dalam gerak lambat. Sungguh, ia terlihat bagai seorang pahlawan yang keluar dari dalam kisah-kisah dongeng kerajaan masa lampau.

Bintang Tenggara menatap si dagu panjang. Terlepas dari pembawaannya yang demikian memuakkan… harus diakui bahwa si dagu panjang adalah seorang pemimpin yang mampu mengerahkan strategi pertarungan beregu dengan mumpuni. Sejak awal, ia dengan mudahnya memainkan bidak-bidak ibarat dalam permainan catur.

Dalam genggamannya, si dagu panjang memiliki bidak bertahan yaitu remaja dengan kesaktian unsur logam, yang mampu mengerahkan perisai besi. Bidak ini mampu meredam gempuran awal Panglima Segantang. Tanpa dinyana, bidak bertahan ini menjadi korban sabetan cakar Harimau Bara. Meskipun demikian, keberadaan bidak ini sesungguhnya memang dapat dikorbankan kapan saja.

Lalu ada gadis berpedang panjang. Fungsi sesungguhnya dari bidak ini adalah juga sebagai peredam serangan. Sejak awal, ia dengan piawai meredam daya dobrak Canting Emas. Kebetulan dimana bidak ini diketahui memiliki binatang siluman Banteng Karapan pun, dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk ‘mengusir’ Harimau Bara.

Lain pula peran gadis bertubuh besar yang berambut pendek. Sekali pandang, siapa pun akan menyangka bahwa ia berperan sebagai pendobrak. Di sinilah kesalahan penilaian yang sengaja diciptakan. Bidak ini sesungguhnya berfungsi sebagai pengalih perhatian. Ia menyerang Bintang Tenggara hanya untuk mengalihkan perhatian saja. Ia menahan Panglima Segantang pun hanya sebagai pengalih perhatian saja.

Kemudian, remaja lelaki dengan jurus-jurus penyangga. Bidak ini bertujuan memperkuat tiga bidak lain. Sebagaimana diketahui, tugasnya adalah mempertajam pukulan, mempercepat langkah, atau melindungi kawan. Sebagai bidak pendukung, ia hanya menunggu aba-aba.

Jika keempat anggota berfungsi sebagai bidak pertahanan, peredam, pengalih perhatian dan pendukung, lalu siapakah sesungguhnya penyerang dalam regu Persaudaraan Batara Wijaya?

Benar, satu-satunya penyerang utama tak lain adalah sang patih, yaitu remaja berdagu panjang itu. Ia sengaja memerintahkan gadis bertubuh besar berambut pendek untuk menahan Bintang Tenggara. Dengan demikian, seolah-olah meninggalkan celah dalam pertahanan. Langkah ini diambil untuk memancing lawan yang menurut sang patih merupakan ancaman terbesar… Aji Pamungkas! Mengatasi ancaman tersebut, si dagu panjang sebagai penyerang turun tangan membungkam!

Bagi remaja berdagu panjang, menghadapi Bintang Tenggara satu lawan satu hanyalah pengalihan perhatian sahaja. Serangan sesungguhnya adalah tatkala melempar cangkang siput ke arah Panglima Segantang dan Canting Emas. Tindakan itu pun diambil setelah membuat lengah lawan dalam rangkaian pertukaran serangan. Bahkan, melumpuhkan Siamang Semenanjung setelahnya pun masuk dalam skema serangan. Sebagai bonus, Bintang Tenggara kehilangan Tempuling Raja Naga!

Serangan-serangan susulan ketika cangkang siput sudah berada pada tempatnya, memiliki tingkat keberhasilan 99%, bila tidak 100%. Bila dicermati lebih dalam, strategi membuka serangan dengan Tinju Super Sakti imitasi saat berhadapan dengan Perguruan Budi Daya pun memiliki alur yang serupa dengan strategi hari ini. Saat itu, si dagu panjang membuka serangan, kemudian serangan-serangan susulan yang menyelesaikan pertarungan.

Dengan demikian, berbekal kemampuan memimpin dan mengatur strategi, remaja berdagu panjang berhak bersikap sombong. Aturan tak tertulis di dalam dunia keahlian menyebutkan bahwa… barang siapa yang memiliki kemampuan, bolehlah membanggakan diri dan tentunya menginjak-injak martabat ahli lain. Jikalau tak setuju, silakan hadapi dalam pertarungan. Sederhana, bukan?

Seberkas kekaguman merasuk ke dalam diri Bintang Tenggara. Strategi bertempur dalam regu berbeda dengan Taktik Tempur versi Komodo Nagaradja. Strategi mewajibkan pemahaman mendalam akan kelebihan dan kelemahan kawan, memperkirakan kemampuan lawan, sekaligus mengelola arah pertarungan. Taktik adalah cara paling sangkul dan mangkus dalam mencapai tujuan. Menyaksikan si dagu panjang, Bintang Tenggara mulai memahami bahwa: ‘strategi’ ampuh terdiri dari rangkaian ‘taktik’ jitu.

“Apa yang kau pikirkan…?” cibir Komodo Nagaradja. “Kau hendak berguru padanya…?”

Kuau Kakimerah segera menghampiri Bintang Tenggara. Mereka kini berdiri tegar di tengah panggung pertarungan. Keadaan berbalik, kini kedua perwakilan Perguruan Gunung Agung yang kalah jumlah. Tidak hanya itu, keempat lawan di hadapan berada pada tingkatan kasta yang jelas lebih tinggi.

“Panggil kami cepat… dan bersama kita tebas, babat, bacok, potong, cencang, kerat, tetak, tusuk, tikam, iris, toreh, sayat, beset, rajang, caruk, penggal, pancung, kayau!”

Bintang Tenggara mulai merasa resah. Kesadaran Tameng masih bisa menjalin hubungan mata hati walau tak berada dalam genggaman. Apakah dirinya telah resmi menjadi pemilik Tameng Sari? Mungkinkah keris itu benar-benar bisa dipanggil?

“Bilamana berada seratus meter dari Tameng, maka kau bisa memanggil keris itu.” Komodo Nagaradja berujar seolah mampu membaca pikiran muridnya. “Cukup menggunakan mata hati, maka ia akan terbang ke dalam genggamanmu. Lagipula, dengan perlindungan Tameng, cangkang siput apa pun itu, tak akan berpengaruh pada mustika tenaga dalam dan dirimu.”

Bintang Tenggara berpikir keras. Ia tak hendak menghunuskan keris Tameng Sari lagi. Meski demikian digdaya, dampak samping dari Pencak Laksamana Laut terlalu menyiksa diri. Di lain sisi, mengerahkan Bentuk Ketiga dari Asana Vajra pun sungguh berisiko. Bukan tak mungkin si dagu panjang yang pernah menyaksikan jurus tersebut, telah siap mengantisipasi. Keadaan semakin sulit karena Tempuling Raja Naga kini tertancap di luar panggung pertarungan.

Sudut mata Bintang Tenggara melirik ke satu pojok di bawah panggung, Harimau Bara sedang menyantap lahap penganan Banteng Karapan. Harimau tersebut memang kurang bermanfaat bila sudah berhadapan dengan makanan. Pandangan matanya pun mendapati raut kusut Panglima Segantang dan Canting Emas yang telah tersingkir.

“Aku beri kesempatan selama sepuluh detik kepada kalian untuk memutuskan turun dari panggung ini,” seru si dagu panjang. Sungguh mulia hatinya.

“Kuau Kakimerah…,” bisik Bintang Tenggara. “Kumohon melingkupi seluruh permukaan panggung dengan jalinan rotan.”

“Tapi… Tapi, cangkang siput itu…,” Kuau Kakimerah terlihat sangat ragu. Tambahan lagi, ia sepenuhnya menyadari bahwa keberadaan lawan berpedang panjang dengan dukungan kesaktian unsur angin, membuat dirinya tak bisa mengerahkan wujud sayap rajawali. Jalinan rotan akan ditebas habis. 

“Jangan pikirkan cangkang siput... bersiagalah di sudut panggung.”

Kebetulan, pada malam sebelumnya Bintang Tenggara telah menelusuri Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian. Meski memiliki kemampuan yang unik, cangkang-cangkang siput hanya dapat berfungsi dalam jangka waktu tertentu yang biasanya tak lama. Selain itu, sebagai besar cangkang siput hanya bisa untuk sekali pakai.

Kuau Kakimerah mengangguk. Ia pun melesat ke sudut terjauh panggung. Tanpa pikir panjang, ia segera menenggak sebotol ramuan dan merapal jurus.

“Wahai Datuk Mambang Tanah, kumohon inayat akan kesuburan… Rotan Bunian: Tambat! Bebat! Rambat!”

Ketiga jurus kesaktian unsur kayu segera beraksi. Seketika itu juga jalinan rotan tumbuh tak terkendali di semerata permukaan panggung. Rotan-rotan tersebut berupaya membelit apa pun yang berada di permukaan panggung.

“Dari liang tujuh gunung, aku memanggil api sebagai kawan… untuk memberangus lawan!” Remaja lelaki yang berdiri di samping si dagu panjang lagi-lagi merapal jurus penyangga.

Gadis berpedang panjang segera menebaskan pedang yang dilingkupi kesaktian unsur api dan gadis bongsor berambut pendek meniupkan kobaran api dari mulutnya. Tak perlu waktu lama bagi api membakar jalinan rotan yang tumbuh merambat. Walhasil, asap tebal mulai melingkupi wilayah panggung.

“Hentikan! Goblok!” seru si dagu panjang.

“Dari dasar tujuh danau, aku memanggil air sebagai kawan… untuk menenggelamkan lawan!”

Terlambat! Sisik Raja Naga telah terpasang di kedua lengan dan kaki. Berbekal kesaktian unsur petir dari Cincin Gundala, Bintang Tenggara melesat cepat tak beraturan ke arah gadis berpedang panjang. Gadis tersebut segera siaga menangkis cakar petir.

Silek Linsang Halimun, Bentuk Ketiga: Kata Berjawab, Gayung Bersambut!

“Buk!” Tiga pukulan tinju beruntun, yang seolah merupakan satu pukulan, mendarat telak di ulu hati… remaja perapal jurus penyangga!

Di detik-detik akhir, Bintang Tenggara mengubah serangan menyakar, menjadi pukulan tinju beruntun… dan melakukan teleportasi jarak dekat untuk mengubah sasaran. Sebuah tendangan sapuan yang menyusul kemudian melemparkan tubuh lawan keluar dari panggung pertarungan.

“Buk!” Kuau Kakimerah menyusul jatuh dari panggung pertarungan.

Si dagu panjang terlihat berdiri di tempat dimana Kuau Kakimerah tadinya berdiam merapal jurus. Dalam keadaan terpaksa, si dagu panjang memutuskan untuk saling bertukar bidak. Kau ambil satu bidakku, dan aku juga menyingkirkan satu bidakmu…. Mungkin demikian makna yang saat ini terpampang di sorot matanya.

Di tengah panggung, jalinan rotan hanya menyisakan serpihan-serpihan akar hangus ketika api akhirnya padam. Bentuk permukaan panggung pertarungan itu benar-benar sudah tak beraturan lagi. Meski, bagi Perguruan Maha Patih, mengerahkan beberapa ahli dengan kesaktian unsur tanah untuk merapikan panggung, adalah semudah membalikkan telapak tangan.

“Cukup baik upayamu,” seru si dagu panjang dari kejauhan. “Kau sedikit lebih baik dari perkiraanku.”

Bintang Tenggara diam mengamati.

“Srek!” Sebuah serangan mengincar tubuh Bintang Tenggara. Bahkan hanya dengan kata-kata, si dagu panjang berupaya mengalihkan perhatian lawan.

Bintang Tenggara mengelak dari gempuran gadis bertubuh besar dengan melangkah ke samping. Tanpa diduga, tetiba gadis tersebut memutar arah. Dari balik tubuhnya, muncul mata pedang yang menikam tajam!

Bintang Tenggara berkelit mundur. Di saat yang bersamaan, ia merasakan ancaman dari arah sisi. Benar saja, remaja berdagu panjang telah tiba dan melontarkan tinju tangan kosong. Bintang Tenggara sudah tak punya ruang gerak lagi!

Silek Linsang Halimun, Bentuk Kedua: Tegang Mengalun, Kendor Berdenting!

Si dagu panjang dipaksa kecewa di saat tinju tangan kanannya hanya menyapa bayangan tubuh Bintang Tenggara. Berbekal rangkaian jurus Silek Linsang Halimun, Bintang Tenggara memang cukup percaya diri bahkan saat dibokong tiga orang lawan.

“Buk!” Tiga hantaman tinju beruntun, telak mendarat di ulu hati gadis berpedang panjang!

Kemungkinan gadis tersebut terlalu terbiasa mendapat dukungan dari jurus-jurus penyangga saat bertarung. Oleh karena itu, terlihat sekali bahwa ia kurang percaya diri dengan kemampuannya sendiri. Bintang Tenggara berhasil merobohkan seorang lagi lawan!

Tukar-menukar serangan ini terjadi demikian ringkas. Seperti biasa, diperlukan waktu untuk menggambarkan dalam kata-kata. Akan tetapi, kejadian sebenarnya berlangsung sangatlah cepat. Hanya dalam beberapa kedip mata saja!

Bintang Tenggara segera menarik diri. Ia menjaga jarak yang cukup untuk segera melepaskan jurus Delapan Penjuru Mata Angin. Mustika tenaga dalam perlu diisi bilamana ada kesempatan.

“Selamat! Kau berhasil membuatku sebal!” hardik si dagu panjang. Kemungkinan, lawan telah melukai harga dirinya. 

Bintang Tenggara menanggapi dalam diam. Ia menyerap tenaga alam dengan tentram.

“Oleh sebab itu…. sebagai hadiah, aku akan menyanjungmu dengan sebuah jurus digdaya!” Si dagu panjang mengepalkan tinju ke arah Bintang Tenggara.

Spontan Bintang Tenggara turut menggengamkan kepalan tinju.

“Kau dapat membunuhnya…,” tegur Komodo Nagaradja ketika merasakan perubahan aliran tenaga dalam muridnya. “Jikalau anak itu berada pada Kasta Perak, tidaklah mengapa….”

Bintang Tenggara memahami maksud sang Super Guru. Bila Tinju Super Sakti menghantam telak ke tubuh sesama ahli Kasta Perunggu, maka hasilnya dapat berakibat fatal. Terlepas dari lawan mengerahkan Tinju Super Imitasi atau tidak, dampaknya akan sama saja.

Sejauh ini Bintang Tenggara baru dua kali menghantamkan Tinju Super Sakti langsung ke tubuh seseorang… pertama, terhadap Anjana yang sedang merapal jurus Raga Baja sehingga memiliki tubuh setara Kasta Perak; sedangkan kedua kalinya terhadap ahli Kasta Perak di Pulau Dua Pongah.

“Pangeran…,” tegur gadis remaja bertubuh besar yang berambut pendek. Sepertinya ia kurang setuju, dan hendak mengingatkan agar tak keluar dari pakem yang biasa mereka lancarkan.

“Diam! Lancang kau mempertanyakan keputusanku!” sergah si dagu panjang. Tak diragukan lagi, harga dirinya terluka. 

Menyadari akan kemungkinan si dagu panjang hendak melancarkan jurus digdaya milik Sang Maha Patih, gemuruh suara hadirin tak terbendung. Sebagian ingin menyaksikan untuk kedua kalinya. Sebagian lagi berharap dapat memperoleh sedikit saja pemahaman akan sebuah jurus digdaya. Apa pun itu, adalah sebuah jaminan bahwa mereka akan menjadi pembawa ceritera seru saat pulang ke perguruan atau kerajaan mereka nanti.

“Hya!” Si dagu panjang merangsek cepat. Lengan kanannya ditekuk ke samping dan kepalan tinjunya menggenggam kencang.

“Tinju Super Sakti, Gerakan Pertama: Badak Menghantam Gunung!” teriak remaja berdagu panjang sekuat kerongkongannya.

Bintang Tenggara masih berdiam di tempat. Ia seperti menimbang-nimbang bagaimana cara mengatasi jurus tersebut. Si dagu panjang sebentar lagi meledakkan serangannya…

“Badak…,” gumam Bintang Tenggara.

Gerakan Pertama dari Tinju Super Sakti ciptaan Komodo Nagaradja memanglah berjuluk ‘Badak’. Badak, saja. Titik. Jadi, bukanlah ‘Badak Menghantam Gunung’.

“Buat apa badak menghantam gunung? Kurang kegiatan? Atau mungkin sudah gila si badak itu…? Bila benar si badak suka menghantam gunung, pantas saja mereka menjadi binatang langka… bahkan teracam punah,” nyinyir Komodo Nagaradja.

“Beledar!” Suara memekakkan telinga terdengar dua kali lebih nyaring… membahana ke seantero gelanggang pertarungan.

Bersamaan dengan itu, tanah di permukaan panggung terlontar ke mana-mana. Debu mengepul tinggi ke udara. Sebuah kawah berukuran sedang tercipta persis di tengah panggung.

Bintang Tenggara baru saja melepaskan Tinju Super Sakti, Gerakan Pertama: Badak. Lima tinju beruntun berkecepatan supersonik, menghasilkan gelombang kejut. Akan tetapi, ia tak mengarahkan langsung ke lawan… Sedikit lagi tinju mereka beradu, Bintang Tenggara mengubah arah tinju dan menghantam lantai panggung!

Meski bukan jurus asli, alias imitasi, apa pun itu jurus sebenarnya milik si dagu panjang, tetap memiliki kekuatan yang cukup besar. Tak mungkin Bintang Tenggara hanya diam dihantam. Pada akhirnya, pilihan jatuh ke tanah permukaan panggung.

Remaja berdagu panjang terlontar ke belakang! Meski gelombang kejut tak menghantam tubuh secara langsung, ia terpapar begitu dekat dengan gelombang hantaman yang demikian mendominasi. Bahkan, ledakan dari jurus yang ia kerahkan serta-merta luruh di hadapan jurus lawan!

Remaja berdagu panjang mendarat di kejauhan, lalu jatuh terjerembab. Darah mengalir dari hidung, telinga dan sudut bibirnya. Seluruh tubuhnya bergetar keras. Baru sekali ini ia dihadapkan pada sesuatu yang demikian digdaya dari sesama ahli Kasta Perunggu.

“Apa yang terjadi…?” rintih si dagu panjang dalam ketakberdayaan.

“Sepertinya murid dari Persaudaraan Batara Wijaya itu terkena hentakan balik jurusnya sendiri!”

“Tinju Super Sakti meledak sebelum sempat dilepaskan! Lihat saja kawah di tengah panggung itu!

“Beruntung sekali Perguruan Gunung Agung!”

Hadirin di tribun saling berebutan mengutarakan hasil pengamatan mereka. Di tribun kehormatan, sejumlah pembesar memicingkan mata. Pengamatan ahli Kasta Emas tentunya berbeda dengan ahli Kasta Perunggu atau Kasta Perak.

“Betapa beruntungnya kami…,” gumam Sesepuh Ketujuh, dengan suara yang cukup jelas untuk sampai ke telinga para ahli yang ada di sekelilingnya.

Tentu saja ia telah diberitahu oleh Maha Guru Keempat tentang jurus rahasia milik Bintang Tenggara. Oleh karena itu, ia berupaya mengelabui para ahli di sekitarnya agar di kemudian hari tak menelusuri terlalu jauh.

“Pangeran!” teriak seorang gadis yang masih tersisa di atas panggung pertarungan.

Remaja berdagu panjang tak menanggapi. Meski masih sepenuhnya sadar, ia tak lagi dapat melanjutkan pertarungan. Tak hanya kehabisan tenaga dalam, ia bahkan terlihat kehilangan semangat bertarung.

“Hya!” Gadis bertubuh besar yang berambut pendek menyerang Bintang Tenggara!

Pertarungan berlanjut. Kendati belum sempat mengisi mustika tenaga dalam, Bintang Tenggara berkelit dan menangkis serangan yang datang membabi buta.

“Buk!” Tiga hantaman tinju beruntum mendarat telak di ulu hati gadis tersebut. Akan tetapi, lawan tak bergeming. Serangan demi serangan kembali dilancarkan.

“Buk!” Hantaman tinju Bintang Tenggara kembali mendarat telak. Gadis itu menahan perih, tetapi enggan melonggarkan serangan.

“Menyerahlah!” seru Bintang Tengara yang tak sampai hati menyaksikan lawan.

“Seruni Bahadur… tak akan menyerah!”* Keringat membasahi wajah dan tubuh gadis itu. Darah mengalir dari sudut bibirnya. Ulu hatinya terasa perih sekali. Akan tetapi… ia tak peduli.

“Waspadalah… kekuatan siluman gadis itu bisa saja tetiba bangkit.” Komodo Nagaradja tetiba memperingatkan.

Bintang Tenggara mengernyitkan dahi…. Apakah maksud peringatan Super Guru?

“Segera akhiri pertarungan!” sergah Komodo Nagaradja. Jarang sekali sang Super Guru bereaksi seperti ini.

“Zztt…!” Bintang Tenggara bergerak cepat. Lawannya pun merangsek maju!

“Crak!” tubuh gadis yang kini diketahui bernama Seruni Bahadur tetiba kejang. Ia sama sekali tak dapat bergerak karena sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuh.

Lima detik waktu yang diberikan oleh Segel Petir sudah cukup bagi Bintang Tenggara untuk mendorong tubuh besar gadis itu keluar dari panggung pertarungan.

Akan tetapi, Seruni Bahadur benar-benar kehilangan akal… Ia segera melompat kembali ke atas panggung. Sejumlah panitia lalu menyergap gadis yang kini mengamuk di tengah panggung. Pada akhirnya, seorang lelaki tua yang diketahui sebagai tetua pendamping dari Persaudaraan Batara Wijaya turun tangan menenangkan gadis itu.

Remaja berdagu panjang masih tergeletak tak berdaya di atas panggung. Tatapan matanya nanar. Benaknya terus berkutat seputar kekalahan yang seharusnya tak mungkin terjadi. Ia merenung…. bagaimana mungkin strategi pertarungan beregu dipatahkan oleh seorang bocah yang hanya berada pada Kasta Perunggu Tingkat 5?

Kekalahan yang paling menyakitkan bukanlah diakibatkan oleh luka atau rasa sakit di tubuh. Kekalahan yang paling telak bagi seseorang dengan harga diri tinggi seperti si dagu panjang... adalah ketika harga dirinya dihantam lawan. 

Si dagu panjang masih mencari-cari pembenaran atas kekalahannya. Belum juga ia sadari, bahwa upaya Bintang Tenggara dalam memangkas anggota regu satu persatu, mirip dengan strategi… gerilya. 



Catatan:

*) Seruni: bunga krisan, krisantemum.

    bahadur/ba•ha•dur/ kl n 1 pahlawan; satria; 2 a gagah berani