Episode 102 - Cangkang Siput


Bintang Tenggara sedang khusyuk membaca Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian di ruang tengah penginapan perguruan. Kebiasaan membaca jelang tidur tak pernah hilang.

Anak remaja itu sedang menelusuri bagian tentang cangkang siput. Ada banyak jenis cangkang siput dengan berbagai macam kegunaan pula. Ada yang berfungsi untuk meredam suara, memutus jalinan mata hati dengan binatang siluman, mangacau mustika tenaga dalam, menyerap api, meniupkan angin, dan masih banyak lagi….

Setelah diingat-ingat, Bintang Tenggara baru menyadari bahwa saat di Pulau Dua Pongah, cangkang siput yang ia saksikan dalam dua kesempatan berbeda, merupakan cangkang siput yang berbeda pula. Untung saja saat berhadapan dengan Jajaka Merah ia tak menggunakan cangkang siput, karena yang ia miliki bukanlah yang berfungsi meredam suara. Cangkang siput yang kini tersimpan di dalam ruang dimensi mustika retak merupakan yang dapat memutus jalinan mata hati dengan binatang siluman dalam jangka waktu tertentu.

Kebiasaan membaca Bintang Tenggara kini terganggu. Dengan kembalinya kesadaran Super Guru Komodo Nagaradja, kenikmatan membaca mengalami penurunan secara drastis. Untunglah keris Tameng Sari telah dikembalikan ke Perguruan Maha Patih. Bila tidak, mungkin Bintang Tenggara akan dibuat gila oleh dua siluman sempurna yang saling menghujat.

“Hei, Bintang Tenggara…. ikutlah denganku berlatih malam,” bisik Aji Pamungkas.

Bintang Tenggara terperangah. Seperti mau lepas jantungnya mendapati Aji Pamungkas begitu dekat ke telinga. Walaupun demikian, Bintang Tenggara selalu penasaran dengan apa yang didapat Aji Pamungkas dari mengintip orang tidur. Kebetulan sekali, malam ini suasana hatinya sedang terbuka untuk mencoba hal-hal baru.

“Ayo!” jawab Bintang Tenggara cepat.

Walhasil, dua bayangan berkelebat dan mengendap-endap di balik tabir malam. Keduanya melesat cepat tanpa bersuara. Sungguh lincah gerak langkah mereka.

“Bintang Tenggara… mengapa malah aku yang mengikuti arah langkahmu…?” ujar Aji Pamungkas setelah beberapa saat. “Lagipula, arah wisma murid-murid Perguruan Maha Patih adalah ke utara.”

Bintang Tenggara tak menanggapi, dan terus memacu langkah.

“Hei…. mengapa kita menuju Balai Panitia?” sergah Aji Pamungkas dengan suara tertahan.

Penerangan di Balai Panitia menyala benderang, seperti biasa. Beberapa orang murid terlihat hilir-mudik melakukan berbagai hal. Malam semakin larut, namun kesibukan murid-murid Perguruan Maha Patih seolah tak mereda.

Bintang Tenggara sengaja datang untuk menyelidiki gelagat Ketua Panitia Kejuaraan, Maha Guru Segoro Bayu. Inisiatif ini merupakan upaya untuk menjalankan amanah dari Kakak Sangara Santang. Hanya gegara memiliki lencana Pasukan Telik Sandi, ia harus menjalani pekerjaan pengintaian, bahkan dianggap sebagai anggota. Meski, harus diakui dirinya berutang budi pada sejumlah anggota penuh muslihat dari Pasukan Telik Sandi.

“Murid-murid Perguruan Gunung Agung, apakah gerangan yang kalian lakukan di sini?”

Tetiba terdengar suara menyapa pelan. Bintang Tenggara dan Aji Pamungkas terkesiap. Bahkan mata hati Aji Pamungkas yang jangkauannya luas dan terlatih, tak menangkap kehadiran sesiapa pun sebelum suara menegur terdengar.

“Malam sudah larut, mari kuantarkan kalian kembali ke penginapan….”

Kini terlihat seorang lelaki setengah baya melangkah mendekat. Entah mengapa, rambut di tengkuk Bintang Tenggara berdiri tegak.

“Kakak Sesepuh Ke-15, diriku yang mengundang mereka…,” sela suara yang cukup dikenal oleh Bintang Tenggara.

“Oh…? Segoro Bayu… Baiklah bilamana demikian.”

Kedua anak remaja yang tertangkap basah mau tak mau melangkah mengikuti Ketua Panitia Kejuaraan. Bintang Tenggara siaga, sangat waspada.

“Apa yang kalian lakukan di malam selarut ini?” ujar Segoro Bayu.

“Kami hendak berlatih,” tanggap Aji Pamungkas.

Bintang Tenggara tak hendak beramah-tamah dengan Maha Guru itu. Beliau memang telah meminta maaf karena menghantamkan tenaga dalam saat di atas panggung, tapi dosanya masih bertumpuk.

“Bagi Kasta Perunggu, sangatlah tak baik bila berlatih terlalu larut. Lagipula, bukankah esok kalian akan menjalani pertarungan?”

“Terima kasih atas panduan Maha Guru yang demikian berharga. Kami hanyalah dua murid Kasta Perunggu tanpa daya. Tiada niat berkeliaran dan melakukan tindakan tercela. Kami tak akan mengulangi kesalahan serupa.”

Sepertinya Aji Pamungkas sudah sangat terbiasa, sehingga cukup tenang untuk berkelit bilamana tertangkap basah. Bahkan, kata-katanya itu berima dan seperti hapalan saja. Memang tak salah mengajak tokoh tersebut.

Bintang Tenggara pun telah menyadari bahwa Aji Pamungkas memang berlatih malam dalam artian yang sesungguhnya. Ia berlatih mata hati dengan melakukan dua hal sekaligus. Latihan tersebut, terdiri dari: pertama, memfokuskan mata hati pada satu titik saat mengintip; serta kedua, di saat yang sama menebar mata hati seperti radar untuk mendeteksi kehadiran ahli yang melakukan ronda malam supaya tak tertangkap. Sungguh tiada tara.

Sambil menghitung langkah, Bintang Tenggara memantau sekeliling. Tidak diragukan lagi. Langkah kaki Maha Guru Segoro Bayu membawa mereka…. kembali ke penginapan Perguruan Gunung Agung.


===


Subuh hari, Bintang Tenggara bangkit dari tempat tidur. Ia memang sudah terbiasa bangun pagi-pagi sekali. Tubuhnya pun terasa sudah sepenuhnya sembuh. Sungguh mujarab ramuan pemberian Sesepuh Ketujuh.

Suara gaduh terdengar di pekarangan belakang. Panglima Segantang dan Canting Emas terlihat sedang melakukan pemanasan. Pemanasan adalah istilah mereka saja, karena untuk lebih tepatnya, mereka sedang berlatih tarung. Setiap pagi.

“Sahabat Bintang! Mari kita bersama-sama mengerahkan Pencak Laksamana Laut dan berlatih tarung?” seru Panglima Segantang dengan raut penuh semangat.

“TIDAK SUDI!” Bintang Tenggara segera melangkah ke pekarangan samping.

Gundha terlihat sedang berupaya mengangkat sebonglah batu besar hanya menggunakan mata hati. Meski tak jadi mewakili Perguruan Gunung Agung, ia tekun memanfaatkan waktu menjalani latihan di bawah bimbingan Sesepuh Ketujuh. Hubungannya dengan Bintang Tenggara sangat baik. Tentu saja karena kepribadian Gundha yang rendah hati. Terlebih, Bintang Tenggara merupakan penyelamat jiwanya.

Di bale-bale pekarangan samping, Kuau Kakimerah dan Sesepuh Ketujuh sedang duduk diam dalam tapa.

Tak terlihat batang hidung Aji Pamungkas. Yah… ia memang selalu bangun paling siang karena terbiasa tidur larut. Diketahui, sesampai di penginapan dan sepeninggalan Maha Guru Segoro Bayu semalam, si cabul itu tetap melanjutkan ‘latihan’ malam….

Sambutan riuh-rendah terdengar ketika Perguruan Gunung Agung memasuki gelanggang kejuaraan. Tak bisa disanggah, di hari ketujuh Kejuaraan, perguruan kuda hitam ini sudah mulai menjadi favorit para penonton.

Di atas panggung pertarungan, tak terlihat lagi keris Tameng Sari yang disalahkenali sebagai Pedang Patah. Menurut informasi dari Super Guru, kepribadian Tameng adalah brutal dan senang bertempur… Sebaliknya, kepribadian Sari mirip seorang gadis yang lemah lembut dan penuh perhatian. Bintang Tenggara sungguh curiga akan niat sebenarnya sang Super Guru saat memberi saran untuk membangunkan keris Tameng Sari…

Keris Tameng Sari kini terlihat melayang rendah di atas sebuah kotak di tribun kehormatan. Empat ahli digdaya dari Perguruan Maha Patih berjaga-jaga. Besar tubuh, dan sangar pula wajah para penjaga-penjaga itu. Sekali hantam, mungkin Bintang Tenggara akan jatuh terjungkal tak sadarkan diri.

“Dambalah kami… Panggillah kami… dan bersama kita tebas, babat, bacok, potong, cencang, kerat, tetak, tusuk, tikam, iris, toreh, sayat, beset, rajang, caruk, penggal, pancung, kayau!”

Bintang Tenggara bergidik ketika mendengar bisikan melalui jalinan mata hati. Walau terpisah jarak puluhan langkah, dirinya masih terhubung dengan keris Tameng Sari, atau lebih tepatnya, dengan kesadaran Tameng.

Tidak… aku tak hendak menderita lagi karena mengerahkan jurus persilatan Pencak Laksamana Laut, rintih Bintang Tenggara dalam hati. Gerakan Pertama: Tuah Sakti Hamba Negeri yang dapat menggandakan kekuatan saja sudah sedemikian menyiksa. Bagaimana pula nanti dengan Gerakan Ketiga!?

Bintang Tenggara bersama teman-temannya melangkah menuju tenda perguruan. Hanya ada empat tenda yang mewakili setiap perguruan yang tersisa. Jadi, akan ada dua pertarungan. Persaudaraan Batara Wijaya akan berhadapan dengan Perguruan Gunung Agung. Sedangkan Perguruan Maha Patih, akan berhadapan dengan… Padepokan Kabut. Belum diketahui urutan perguruan mana yang akan tampil dalam pertarungan hari ini.

Perguruan Gunung Agung dipastikan masuk ke dalam posisi empat besar.

Sesepuh Ketujuh melangkah tenang, seperti biasa menyembunyikan perasaannya. Beliau telah memberi arahan pagi-pagi tadi, dan tak berharap banyak dalam pertaruhan berikut ini. Para tetua di Pulau Dewa pun tak hendak memaksakan. Pencapaian Perguruan Gunung Agung tahun ini sudah lebih dari cukup.

“Berusahalah sekuat tenaga,” ujar Sesepuh Ketujuh, tak kuasa menahan senyum. “Tapi, janganlah memaksakan diri, apalagi menyebabkan cedera permanen. Perjalanan kalian di dunia keahlian masih teramat panjang.”

Kelima murid Perguruan Gunung Agung mengangguk. Mereka menangkap makna dari kata-kata Sesepuh Ketujuh, bahwa tak perlulah mengambil risiko yang dapat mencederai diri sendiri. Salah satu risiko tersebut adalah bilamana mengerahkan wujud dari jurus kesaktian ketika masih berada pada Kasta Perunggu.

Kendati demikian, Bintang Tenggara sulit menebak jalan pikiran rekan-rekannya sendiri. Motivasi Panglima Segantang dan Canting Emas serupa adanya, karena keduanya hendak membuktikan diri sebagai yang terbaik. Tujuan Kuau Kakimerah adalah keping-keping emas, perak dan perunggu. Aji Pamungkas ingin mengharumkan nama, agar supaya dapat mendekati gadis-gadis dengan mengumbar gelar juara. Bintang Tenggara memiliki motivasi paling aneh dari semua. Ia kelepasan bicara kepada Adipati Jurus Pamungkas, pada suatu hari di Perguruan Gunung Agung.

“Perguruan Gunung Agung berhadapan dengan… Persaudaraan Batara Wijaya!”

Di atas panggung pertarungan, telah menanti lima murid Persaudaraan Batara Wijaya. Mereka berdiri berjajar. Terlihat di posisi paling tengah si dagu panjang sedang menyilangkan tangan di depan dada dan… mengangkat dagu.

“Salam kenal dari Pulau Dewa,” ujar Canting Emas ringan.

“Lambat sekali gerak langkah kalian…,” dengus si dagu panjang. Tatap matanya berhenti pada Bintang Tenggara. Kedua matanya menyipit. Muak sekali kelihatannya dia.

Murid-murid Perguruan Gunung Agung kembali menyusun formasi. Seperti biasa, formasi masih menyerupai anak panah. Panglima Segantang berdiri paling depan. Selangkah di belakang, Canting Emas di sisi kiri dan Bintang Tenggara di sisi kanan. Selangkah lagi di belakang adalah Kuau Kakimerah. Paling belakang, Aji Pamungkas.

Sebagaimana halnya Perguruan Maha Patih, seluruh wakil dari Persaudaraan Batara Wijaya berada pada Kasta Perunggu Tingkat 9. Hanya kedua perguruan besar itu yang mampu menghasilkan demikian banyak ahli perkasa di bawah usia 17 tahun. Tak diragukan lagi, mereka adalah murid-murid yang sangat berbakat, bahkan Putra dan Putri Perguruan. Sepasang remaja di sisi kiri dan kanan si dagu panjang melangkah maju.

Bintang Tenggara menatap seorang gadis remaja bertubuh besar dan berambut pendek. Dia adalah gadis yang sama dengan yang tempo hari diinjak-injak oleh remaja berdagu panjang. Gadis itu menatap balik ke arah Bintang Tenggara. Wajahnya tetiba terlihat geram.

“Pertarungan dimulai!”

“Hyah!” Panglima Segantang membuka serangan!

“Swush!” Sebilah anak panah tetiba meluncur deras dari balik tubuh Panglima Segantang. Aji Pamungkas baru saja melepaskan jurus Panah Asmara, Bentuk Ketiga: Cinta Bertepuk Sebelah Tangan!

“Brak!” Sebuah perisai besar yang terbuat dari besi membentengi tebasan Parang Hitam milik Panglima Segantang. Salah seorang remaja yang berdiri di samping si dagu panjang memiliki kesaktian unsur logam!

“Krak!” Si dagu panjang dengan mudahnya menangkap anak panah kendali milik Aji Pamungkas. Kemudian, ia patahkan anak panah dalam genggaman hanya dengan menggunakan ibu jarinya!

Panglima Segantang segera menarik diri. Gebrakan pembuka Perguruan Gunung Agung tak membuahkan hasil…

“Siamang Semenanjung!” teriak Kuau Kakimerah mengibaskan Kartu Satwa.

“Harimau Bara!” gumam Bintang Tenggara.

“Hyah!” Panglima Segantang yang melompat mundur, tetiba kembali melecut cepat ke depan!

Dengan kehadiran dua binatang siluman, formasi serangan Perguruan Gunung Agung semakin melebar. Kini mereka memiliki tambahan serangan dari sayap. Bintang Tenggara didampingi Harimau Bara, sedangkan Canting Emas bersama Siamang Semenanjung. Atau setidaknya, demikian perkiraan lawan…

“Roargh!” Harimau Bara menerkam menyusul Panglima Segantang dan mengayunkan cakar berkelebat api bersamaan dengan tebasan Parang Hitam!

Menyaksikan formasi yang berubah-ubah -- dari formasi menusuk, menjadi formasi serangan sayap, lalu kembali ke formasi menusuk -- murid-murid Perguruan Batara Wijaya sempat gelagapan. Pada akhirnya, seorang murid di kiri dan kanan si dagu panjang berupaya menahan Harimau Bara dan Panglima Segantang.

“Brak!” Di saat yang sama, Canting Emas berhadapan satu lawan satu dengan seorang gadis yang tak kalah lincah. Sebilah pedang panjang di kedua tangannya menahan gempuran Kandik Agni.

“Srek!” Gadis bertubuh besar dan berambut pendek di hadapan, menerkam Bintang Tenggara! Siamang Semenanjung kemudian menjulurkan lengan panjangnya menahan lawan.

“Crash!” Jalinan-jalinan rotan Kuau Kaimerah yang menjalar, serta hendak menjerat kaki lawan-lawan di depan… tetiba terbakar!

“Swush!” Aji Pamungkas telah bergerak gesit memutar ke sisi kanan lawan sambil melepaskan panah kendali. Ia berada di posisi sudut mati Persaudaraan Batara Wijaya.

“Buk!” Sebuah hantaman menghantam telak di ulu hati Aji Pamungkas! Si dagu panjang rupanya telah membaca gerakan Aji Pamungkas sehingga mampu mengantisipasi dengan akurat. Padahal, serangan tersebut seharusnya datang dari sudut mati pertahanan mereka. Sebuah tinju lalu menyusul ke arah Aji Pamungkas yang terpental…

“Zzztt….” Bintang Tenggara berkelit dari lawan di depan dan segera menyambar dengan cakar-cakar bermuatan listrik. Si dagu panjang pun segera menarik diri dan kembali ke tengah formasi.

“Bum!” Tebasan cakar Harimau Bara tak dapat dibendung lawan yang memasang perisai besi. Ia pun terlontar ke luar panggung pertarungan.

“Glek!” Seorang hadirin di barisan depan tribun penonton menelan ludah. Mmungkin ia bukan satu-satunya dari belasan ribu penonton yang terkesima…

Rangkaian gerakan menyerang dan bertahan kedua perguruan terjadi secara cepat dan berkesinambungan. Memang memerlukan waktu untuk menggambarkan dalam kata-kata, tapi percayalah bahwa sesungguhnya berlangsung hanya dalam beberapa kedipan mata saja.

Suasana hening. Baik di atas panggung pertarungan, maupun tribun penonton.

Perwakilan kedua perguruan kini terlihat sama-sama menarik diri. Mereka pun sama-sama kehilangan seorang anggota. Aji Pemungkas yang mencoba mencuri serangan malah terkapar pingsan di sudut panggung. Seorang ahli dengan kesaktian unsur logam dari pihak lawan terjungkal keluar dari atas panggung.

“Cih!” Remaja berdagu panjang mendecakkan lidah.

Kehadiran seekor binatang siluman Kasta Perak berada di luar perhitungan. Siapa akan mengira Perguruan Gunung Agung masih memiliki tambahan amunisi…. Secara teknis, pertarungan menjadi empat lawan empat. Akan tetapi, secara nyata, Perguruan Gunung Agung memiliki enam anggota di atas panggung.

“Kalian sungguh bernyali…,” ujar si dagu panjang dengan nada yang meremehkan, sambil mengacungkan jari telunjuknya. “Tapi… nyali kalian tak cukup bagiku untuk mengerahkan segenap kemampuan, apalagi melancarkan Tinju Super Sakti!”

“Bleh!” Entah apa arti dari reaksi Komodo Nagaradja ini….

Tinju Super Imitasi, maksudnya? batin Bintang Tenggara.

“Keluarkan binatang silumanmu!” sergah si dagu panjang kepada gadis yang menghunus pedang panjang.

“Tapi… Tapi, diriku baru saja membelinya….” Wajah gadis tersebut kusut.

Si dagu panjang menanggapi dengan mata melotot.

“Banteng Karapan…,” ujar remaja perempuan tersebut sambil melambaikan sebuah Kartu Satwa. Seekor Banteng Karapan yang terlihat masih remaja pun melompat keluar dari balik sebuah gerbang dimensi.

Menyaksikan makanan ringan jelang siang, Harimau Bara langsung melompat mengejar. Banteng Karapan malang hanya mampu lari terbirit-birit dan turun dari atas panggung pertarungan.

Sungguh cermat pengamatan si dagu panjang. Ia menyadari bahwa tak seorang pun murid Perguruan Gunung Agung yang memiliki keterampilan khusus sebagai pawang. Dengan kata lain, tak seorang pun mengendalikan harimau itu. Reaksinya Harimau Bara hanyalah didasarkan pada naluri belaka. Oleh karena itu, si dagu panjang memutuskan untuk mengalihkan perhatian sang harimau.

Seantero gelanggang kejuaran kembali memanas. Sorak-sorai hadirin membahana. Tak diduga, sebagian besar hadirin telah membagi diri. Mereka terkotak menjadi dua kubu, yaitu yang mendukung Perguruan Gunung Agung dan yang mendukung Persaudaraan Batara Wijaya.

“Ayo! Titisan Sang Maha Patih, segera habisi lawan!”

“Perguruan Gunung Agung jangan mau kalah!”

“Kerahkan Tinju Super Sakti!”

“Jangan takut… hadapi!”

Teriakan hadirin balas-berbalas. Mereka seolah-olah berada di atas panggung, ikut bertarung, dan tak hendak menyerah kalah. Para ahli di tribun kehormatan menyaksikan dengan seksama. Sebagian hendak melihat bagaimana Perguruan Gunung Agung berkelit, sebagian lagi menunggu jurus digdaya kembali dilancarkan.

“Kalian berdua maju secara bersamaan!” perintah di dagu panjang kepada gadis yang memegang pedang panjang dan gadis bertubuh besar yang berambut pendek.

“Hyah!” Panglima Segantang dan Canting Emas menjawab dengan lompatan ke hadapan!

“Dari liang tujuh gunung, aku memanggil api sebagai kawan… untuk memberangus lawan!” Sayup-sayup terdengar suara remaja lelaki yang berdiri di samping si dagu panjang, sedang merapal jurus.

“Srash!” tetiba pedang panjang dan tinju kedua gadis dari Persaudaraan Batara Wijaya menyala api!

“Jurus penyangga…,” gumam Kuau Kakimerah.

Perkiraan Kuau Kakimerah benar adanya. Remaja lelaki di samping si dagu panjang mengerahkan jurus penyangga. Artinya, ia mengerahkan kesaktiannya bukan untuk kepentingan diri sendiri, melainkan untuk mendukung kawan. Menggunakan kemampuan ini, kawan yang tak memiliki kesaktian unsur api dapat mengerahkan unsur api yang dipinjamkan, serta tanpa perlu mengorbankan tenaga dalam sendiri.

“Brak!” Panglima Segantang terpukul mundur. Bagaimana pun juga, lawan yang mengerahkan pedang panjang berada pada Kasta Perunggu Tingkat 9 dan ditopang kesaktian unsur api.

“Bum! Bum! Bum!” Hantaman demi hantaman Kandik Agni tak berdampak sama sekali terhadap gadis bongsor berambut pendek.

Panglima Segantang dan Canting Emas terpaksa mundur!

“Wahai Nini Mambang Angin, kumohon inayat akan kecepatan… Ilalang Bunian: Pencar!” gumam Kuau Kakimerah, merapal jurus dari tanah kelahirannya.

Panglima Segantang dan Canting Emas merasakan tubuh mereka menjadi ringan. Gerakan keduanya pun bertambah gesit. Tanpa pikir panjang, keduanya kembali merangsek!

“Zztt….” Di saat yang sama, Bintang Tenggara melecut cepat mengincar lawan yang sedang merapal jurus penyangga.

Tentu saja langkahnya dihadang oleh si dagu panjang. Keduanya segera terlibat dalam pertukaran serangan. Tak perlu waktu lama bagi Bintang Tenggara untuk menyadari bahwa si dagu panjang bukanlah sekedar tong kosong yang berbunyi nyaring. Kecepatan dan kekuatan si dagu panjang itu jelas berada beberapa tingkat di atas dirinya.

Di saat Bintang Tenggara mulai terdesak, si dagu panjang tetiba menarik diri! Tanpa dinyana, si dagu panjang mengeluarkan sesuatu dari dalam cincin Batu Biduri Dimensi dan segera melempar ke arah dimana Panglima Segantang dan Canting Emas sedang terlibat dalam pertarungan ketat!

“Dari altar tujuh lembah suci, aku memohon cahaya perlindungan bagi kawan… atas kekuatan benda sakral!” Terjadi perubahan jurus penyangga, dari kesaktian unsur api menjadi cahaya perlindungan.

Bintang Tenggara tertegun. Kedua matanya menangkap sebuah cangkang siput berukuran besar telah tergeletak di dekat Canting Emas dan Panglima Segantang. Inilah sesuatu yang tadi dilemparkan si dagu panjang.

Terlambat! Kehadiran cangkang siput tersebut serta-merta mengacaukan aliran tenaga dalam dari mustika di ulu hati milik Panglima Segantang dan Canting Emas. Akan tetapi, cangkang siput tak berdampak pada kedua lawan. Jurus penyangga yang dirapal ampuh melindungi mereka.

Panglima Segantang dan Canting Emas terlihat kebingungan. Bahkan, keduanya segera merasa sangat cemas. Karena tak bisa memanfaatkan tenaga dalam dari mustika, bertahan pun sulit sekali. Secepatnya mereka mundur.

“Brak! Trak!”

Hantaman beruntun yang datang dari dua lawan di hadapan melemparkan tubuh Panglima Segantang dan Canting Emas keluar dari panggung pertarungan!


Cuap-cuap:

Seorang kawan protes tentang tokoh Hang Tuah dan Hang Jebat, dengan mengatakan bahwa tokoh tersebut bukan berasal dari nusantara….

Jawab: Hang Tuah bukan dari nusantara berdasarkan sudut pandang mana? Ada banyak versi. Coba baca ini.  

Demikian, tak hendak lebih jauh terlibat dalam polemik. Ceritera fantasi berlanjut.