Episode 17 - Persaudaraan




Shiang Li, Ge Yan, dan Han Bing berlari dengan Percepatan Diri. Tekad mereka sudah bulat, kembali ke Yuan. Kendati sebenarnya Shiang Li dihinggapi sesal luar biasa, dia tetap teguh. Kini mereka sudah seperempat perjalanan. Sesekali saat tenaga dalam terkuras, mereka beristirahat untuk meditasi sejenak. Terkadang, Han Bing juga berinisiatif mencari buah-buahan –mereka mengambil jalur tanpa pemukiman- dan ia bagikan kepada kedua orang tersebut. Namun, selama perjalanan, tak ada dari Han Bing dan Ge Yan yang berani mengungkit masalah dengan Alactrus. Sekalipun ada percakapan, itu tentang pengambilan jalur tercepat atau teraman. Di luar itu, Han Bing dan Ge Yan hanya berbincang tanpa melibatkan Shiang Li. Tidak, ada satu percakapan yang pernah mereka bicarakan selain topik jalur, yaitu keadaan tangan Shiang Li. Namun, perbincangan berakhir singkat dengan kata-kata ‘tida apa-apa’ dari yang bersangkutan.

Ketika berlari, Shiang Li selalu di depan. Walau yang mereka pakai adalah teknik langkah dasar lanjutan, tetapi kekuatan kasta Pahlawan tetap membuatnya lebih cepat. Saat ini, Ge Yan hendak menyampaikan sesuatu, ia lantas menambah genjotan tenaga dalam untuk menyamai kecepatan Shiang Li. “Tuan Shiang, sebaiknya kita mengambil jalur memutar.” 

Ge Yan sejajar dengan Shiang Li, tapi matanya tak menoleh. Merasa respon jawaban terlalu lama, ia melirik, “Tuan Shiang, Anda... menangis?” 

Mata Shiang Li merah. Butiran kecil dari air mata terdapat di sudut kecil. Namun, setelah sadar dari lamunan, ia mengusap dengan tangan kanan –satu-satunya tangan yang ada- dan membalas, “apa maksudmu? Ini hanya debu,” ujarnya, kembali dingin seperti biasa.

Sejujurnya, dalam hati, Shiang Li merasa seperti sampah. Anak pertamanya mati –ya, karena ia tak yakin seorang bocah yang tidak menguasai beladiri atau sihir mampu betahan berminggu-minggu di dalam Hutan Kabut- tetapi ia biarkan pembunuh atau setidaknya orang yang bertanggung jawab hidup. Sungguh, baginya ini adalah penghinaan tiada tara. Dia bahkan merasa lebih rendah dari pada binatang melata. Sebesit pemikiran untuk mencari jasad anak pertamanya sempat muncul, hanya saja pemikiran itu dikalahkan pemikiran lain, yakni untuk melindungi anak keduanya, seorang gadis berumur enam tahun.

Seandainya Roy Delsembey adalah orang munafik yang tidak bisa menepati janji, maka pilihan Shiang Li hanya satu, membuat anak gadisnya cukup kuat mempertahankan diri dari ancaman. Tak ingin ia mengikuti kesalahan terdahulu, dikendalikan ego untuk tidak mengajari kedua anaknya bela diri. Sekarang, dari pada meratapi yang sudah tiada, lebih baik mengembangkan yang masih hidup.


***


Tiga hari setelah markas pusat Alactrus porak poranda, Roy menyuruh seluruh anggota untuk bersiap-siap memindahkan markas. Beberapa pesan juga dikirim kepada enam belas cabang lain bahwa markas pusat akan berpindah. Ngomong-ngomong soal cabang, Roy memaafkan kesalahan cabang yang dipimpin Gal, kemudian ia angkat Lein sebagai ketua baru. Namun, masalah dengan klien tentunya akan rumit, maka dari itu besok ia secara pribadi akan menemui klien tersebut.

Untuk sisi Eksekutor Bayangan, lebih dari setengahnya mengalami luka dalam serius. Namun, mereka sudah dirawat oleh Roy dan sedang bermeditasi entah di mana. Ya, walau Roy ahli racun, bukan berarti ia tak mengetahui ilmu pengobatan. Mempelajari dua sisi berlawanan dan memfokuskan pada salah satunya adalah keharusan bagi seorang ahli yang ingin barada pada puncak dunia.

Sekarang, orang yang mengawal Roy di balik bayang tinggal Chainild, Shadow, dan Barlum. Namun, Chainild sejak tiga hari lalu tak kuasa menahan rasa penasaran. Ia pun memutuskan untuk menghadap Roy dan menanyakan sesuatu.

Set! Sosok Chainild datang dan setengah berlutut di depan Roy yang tengah bersama Yalda. Lagi-lagi, gadis itu menyalin dan menyalin bab-bab dalam sebuah buku. Bukan hanya mereka, kali ini, seorang anak lelaki yang tadinya kumuh, telah disulap menjadi anak bersih yang diam mengipasi Yalda dengan pasrah. Sepertinya Roy juga ingin membesarkannya, walau statusnya tetap budak.

“Chainild, tidakkah kau lihat aku sedang serius?” Roy bertanya dengan elegan. Dirinya tak menatap Chainild dan masih fokus saja pada Yalda.

“Maafkan saya Ketua Besar, tapi saya masih penasaran pada satu hal. Bolehkah saya menanyakannya?” Chainild sopan bertutur.

“Maksudmu soal racun alami Senjata Pusakamu?” Roy menerka. Ia tahu pasti Chainild akan penasaran tentang ini. Mana mungkin ada pengguna Senjata Pusaka yang tidak mengetahui kemampuan senjatanya sendiri tetapi bahkan orang lain seolah lebih tahu.

“Ya, Ketua Besar. Apa yang Anda katakan kepada Kaisar Angin Biru adalah benar?”

“Tentu aku mengarangnya.” Roy menjawab enteng, dan lagi, ia tak melirik Chainild.

“Mengarangnya? Kalau begitu penawar yang Anda berikan padanya...” Chainild sedikit khawatir. Jika semua yang Roy katakan adalah karangan, jangan-jangan penawar yang ia minum juga palsu.

“Itu asli, tenang saja. Seperti yang kau tahu sendiri, racun alami di rantaimu akan membuat orang lain merasakan sensasi terbakar tanpa akhir sampai ia mati. Namun, karena Li Shiang memotong tangannya dengan cepat, baik racunmu atau racunku tak ada yang berdampak serius.”

“Hah, syukurlah.” Chainild berkata spontan.

“Syukurlah?” Roy kali ini menatap Chainild dan mengubah nada suaranya.

“Ti-tidak. Bukan itu maksud saya, Ketua Besar. Bukan berarti saya bersyukur karena Li Shiang tidak mati. Yang saya khawatirkan adalah...” ucapnya terbata-bata.

“Sudah, aku tahu maksudmu. Sebagai hadiah karena kerjamu bagus, akan kubuatkan racun khusus yang bisa rantaimu serap dan membuatnya memiliki kemampuan permanen dari racun itu.”

Sungguh tidak disangka. Roy yang dikira akan menghardik Chainild karena kurang ajar ternyata malah menghadiahinya kekuatan baru. Senjata Pusaka Chainild memang dikenal bisa menyerap berbagai racun dan menjadikannya kemampuan sendiri, namanya adalah Rantai Racun Hasrat. Namun, semua racun yang diserap memiliki batas waktu untuk menggunakan efeknya. Saat waktu habis, efek pun menghilang dan hanya menyisakan satu racun alami di dalam rantai. Semakin kuat racun, semakin lama efeknya bertahan. Maka dari itu, kali ini Chainild sangat bersuka cita. Sekuat apa racun yang nantinya akan Roy buat hingga dapat mengubah efeknya menjadi kemampuan permanen Rantai Racun Hasrat?

“Ketua Besar, saya sungguh berterima kasih. Kalau boleh tahu, racun apa yang nantinya akan dibuat?” Chainild hanyut dalam rasa gembira dan penasaran.

“Kau pikir apa? Tentu saja racun dengan efek seperti yang kubilang kepada Li Shiang.”

 Bagaimana untuk menjelaskan ini? Rezeki nomplok? Ya, apapun itu, yang jelas Chainild seperti berada di atas awan. Menurut penjelasan Roy sebelumnya, racun itu akan bisa masuk ke dalam tubuh seorang ahli tanpa mereka sadari bahkan untuk kasta Mage dan Sage sekalipun. Walau efek racun tidak langsung kentara dan butuh waktu menahun, tetapi lawannya akan mati dengan pasti. Sungguh, kalau bukan anugerah, tak ada kata lain yang sanggup menggambarkan ini.


***


 [Aku]

Ini adalah waktu santai yang sesekali kudapatkan. Saat waktu seperti ini berlangsung, itu berarti Guru sedang tidur. Tidur Guru umumnya memakan waktu tiga hari, tapi Guru pernah bilang, “aku bisa tidur sampai enam tahun jika mau!” Setelah kutelusuri, itu adalah Hibernasi Naga. Saat kutanya lebih jauh karena rasa penasaran, Guru tak banyak menjawab. Dia bilang, belum saatnya aku tahu. Memang benar sih, bahkan untuk menguasai Tumpuan Langkah Naga, mungkin aku belum setengah jalan.

Sekarang, aku dan Paman Key layaknya memiliki hubungan darah. Sesekali kami bercanda dan bertukar cerita. Terkadang aku merasa miris, ternyata dulu Paman Key adalah seorang budak. Kemudian, suatu waktu komplotan Alactrus datang dan membelinya. Pemimpin mereka bilang, “Bocah! Di dunia ini, yang kuat akan selalu memakan yang lemah. Kalau kau tidak mau menjadi makanan anjing, ambil pisau itu dan bunuh seseorang untukku!”

Itu adalah misi pertama Paman Key dalam dunia pembunuh bayaran. Targetnya adalah seorang ahli kasta Pendekar biasa. Namun, tabiat pendekar ini cukup hina. Setiap hari ia bolak-balik masuk rumah bordil hanya untuk mabuk dan bermain wanita. Sayangya, dalam hal wanita, ia selalu memilih yang sama. Wanita itu merasa muak, terutama karena wajah pendekar ini tidak tampan, tetapi karena pelanggannya selalu membayar di muka, ia tak bisa berbuat banyak. Hingga akhirnya, ia mencapai titik jenuh dan memutuskan untuk menyewa jasa Alactrus dalam melenyapkan sampah itu. Hadirlah Paman Key sebagai wakil dari Alactrus.

Singkat kata, Paman Key dalam umur empat belas tahun, ia membunuh ahli kasta Pendekar. Sebuah prestasi? Tentu saja bukan. Jika pendekar itu tak mabuk arak dan tak lengah, Paman Key sama sekali bukanlah tandingannya. Namun, inilah kehebatan pembunuh sejati, mereka mengabaikan penghalang kasta karena mereka hanya mengincar kelengahan target, bukan kebanggaan sebuah pertarungan.

“Paman Key...” ujarku pelan. Kami sedang berbaring memandang langit-langit batu.

“Apa?” Paman Key menjawab cepat.

“Begini, sebenarnya aku tidak ingin mengungkit luka lama, aku tidak tahu apakah Paman Key akan tersinggung jika aku bicara...”

“Tenang, bicaralah!”

Aku pun memantapkan diri. “Kenapa Paman Key mengincar Hwang?” Wajahku cepat menoleh melihat reaksinya. Namun, Paman Key terdiam. Apa aku telah salah menanyakan hal ini?

Kemudian, setelah hening cukup lama, Paman Key berbicara, “Kresna, apa kau membenciku?”

Deg! Pertanyaan yang menantang. Bagaimana aku harus menjawab pertanyaan sensitif ini? Aku tak tahu apakah harus bicara jujur atau tidak, karena ke depannya mungkin akan mempengaruhi hubungan kami. Ah... sial, aku menyesal karena mengungkit luka lama. Padahal jika tak kutanyakan, kami takkan terjebak dalam dilema.

“Paman Key,...” aku masih ragu, “dulu... dulu aku mungkin sangat membencimu. Namun, setelah aku mengenal Paman Key lebih dalam, setelah semua cerita yang saling kita bagi bersama, sekarang aku merasa ingin berteman dengan Paman.”

 Hening kembali terjadi. Namun tak berlangsung lama. Kulihat wajah Paman Key mulai berkerut, giginya mulai terlihat, dan tawanya mulai terdengar. “Hahahah... Kresna, aku hanyalah seorang bajingan! Apa kau mau mengotori hidupmu dengan menjadi teman orang penuh dosa sepertiku?”

Ini... ini sungguh di luar dugaan. Kukira Paman Key akan marah atau setidaknya menampakkan ekspresi kecewa. Namun tak kusangka, ia malah meresponku dengan tawa riang. 

Aku pun ikut terbawa suasana dan tersenyum tipis sebelum kujawab pertanyaan itu, “Paman Key, bahkan jika dosamu seluas lautan atau seberat gunung, asalkan Paman mau berubah, aku tak keberatan menjadi teman Paman. Bahkan, mungkin saudara Paman.”

“Saudara?” Paman Key terkejut, tetapi masih dalam takaran wajar, “benar juga, bukankah tradisi orang Yuan dalam mengangkat saudara adalah dengan minum arak. Bagaimana kalau kita minum juga Kresna?”

“Paman, aku masih kecil. Lagi pula tidak ada arak di sini.”

“Tidak ada arak, air kolam pun jadi. Paham maksudku?”

Ah... jadi maksudnya kita mengganti arak dengan air dalam Kolam Pemurnian Naga. Untung saja Guru sedang tidur, kalau tidak, mungkin dia akan membentak kami.

Kami berjalan ke tempat yang dimaksud. Kemudian memosisikan diri setengah berlutut. 

“Saya, Key, dengan langit sebagai saksi, mulai saat ini akan menganggap Shiang Kresna sebagai saudara sendiri! Jika di kemudian hari dia mengalami kesulitan, maka saya akan membantunya sekuat tenaga. Jika saya masih hidup dan bisa keluar dari sini, maka saya akan menjalani kehidupan dengan berbuat kebajikan.” Paman Key mengangkat dan menghadapkan telapak tangan kanannya ke depan. Ia mengucapkan sumpah tanda persaudaraan juga sumpah untuk perubahannya. Sepertinya, karena dulu ia pernah tinggal di Yuan, tradisi ini sudah diketahuinya sampai akar. Kemudian, ia meraup air dari Kolam Pemurnian Naga, tetapi sebelum meminumnya, Paman Key menggigit bibir dan membuat darah yang mengalir diludahkan ke dalam air. 

“Kresna, minta darahmu sedikit!” Paman Key, dia benar-benar serius dalam hal ini. Aku tahu maksudnya, ini seolah nantinya darah kami akan bercampur dan membuat kesan bahwa dalam diri kami mengalir darah yang sama. 

Tentu, momen baik ini tak mungkin kuhancurkan. Segera, walau awalnya aku risih untuk melukai diri, aku meniru cara Paman Key mengambil darah. Kuludahkan darah itu untuk bercampur dengan raupan air di tangan Paman Key.

“Gulp!” Paman Key menenggak sedikit airnya dan kini bersisa setengah. Kemudian, ia sodorkan sisa air mendekati mulutku.

“Hm...” Aku bergumam pelan. Ya, aku tahu maksudnya harus meminum sisa air. Namun, perasaan setengah jijik pada kudapan bekas minum orang ditambah disajikan langsung dari tangan orang membuatku terdiam sejenak.

“Kenapa? Minumlah...” Paman Key setengah bingung. Dari pada membuatnya berpikir bahwa ucapanku tentang menganggapnya sebagai saudara hanyalah omong kosong, lebih baik kurelakan bibir ini berbagi air minum dari bekas mulut dan tangan orang lain.

Aku pun memantapkan tekad dan bersumpah, “saya, Shiang Kresna, mulai sekarang, dengan langit sebagai saksi, akan menganggap Paman Key sebagai saudara sendiri. Jika di kemudian hari dia mengalami kesulitan, maka akan saya bantu sekuat tenaga. Jika saya berhasil mempelajari Teknik Bela Diri Naga dan keluar dari sini, maka akan saya gunakan kekuatan ini untuk mengubah dunia ke arah yang lebih baik.”

Ah,... aku terbawa suasana. Namun, inilah kesungguhan hatiku. Tak akan sewenang-wenang dalam menggunakan kekuatan.

“Gulp!” Aku segera meminum sisa air. Seperti dugaan, rasa air ini agak asin karena darah, dan karena tangan paman key, juga karena bekas mulutnya. Kehangatan, kemurnian, serta kejernihannya seolah pudar. Jika bukan karena hal mendesak seperti persaudaraan, aku tak akan mau lagi mencicipi air tidak layak minum ini.

“Nah, sekarang kita sudah resmi sebagai saudara. Karena aku lebih tua, posisi kakak pertama atau saudara pertama atau saudara besar adalah milikku. Sedangkan kau posisi adik kedua atau saudara kedua atau saudara kecil. Bagaimana? Setuju?” jelas Paman Key. 

“Persamaannya tidak perlu disebut semua kali...” imbuhku dalam batin.

“Aku setuju dengan status tersebut, tapi aku tetap ingin memanggil Paman dengan sebutan Paman Key. Setuju?” balasku, meminta banding.

“Heh..? Kalau begitu apa gunanya ritual pengangkatan persaudaraan ini?” Paman Key terkejut, mukanya sedikit lucu.

“Paman,” aku berdiri dan menepuk bahu Paman Key yang masih berlutut, “status dan sebutan tidak terlalu penting, yang paling penting adalah niat hati. Bukan begitu?”

Entah kenapa, saat aku berkata demikian, Paman Key terdiam sesaat dan melihatku dengan terkagum-kagum, mirip seperti saat aku memandang Guru waktu itu. Namun, pandangan kagum tak lama berlangsung, Paman Key segera menghancurkannya dengan gelak tawa, “hahaha... orang dewasa apa aku ini? Diajari anak kecil masalah ketulusan hati?” Paman Key mengejek diri sendiri.

“Kresna, tidak, saudara kedua, aku setuju dengan syaratmu itu, asalkan, kau bisa mengangkat tubuh dengan tangan lebih dari lima ratus hitungan. Bagaimana?” Paman Key menantang.

Jujur, aku lebih suka orang lain memanggilku dengan nama secara langsung. Walaupun diganti dengan gelar atau ditambah honorifik tertentu, aku tak ingin menghilangkan kesan bahwa ‘namaku Shiang Kresna’. Seandainya ini adalah sebuah forum penting pejabat tinggi, tidak masalah namaku digantikan gelar atau sesuatu. Namun, jika ini masalah kedekatan, kekeluargaan, dan persaudaraan, kutegaskan lagi, ‘namaku Shiang Kresna’.

Karena alasan itu, tentu aku langsung menyetujui tantangan yang diajukan. Memang tubuhku lebih berat lima kali lipat, dan rekorku mengangkat tubuh dengan tangan tidak lebih dari 212 hitungan. Namun, biar kuberitahu, tekadku saat ini bahkan sepuluh kali lebih berat dari tubuhku.

“Tentu, akan kuterima tantangan itu!” Senyum kecil bocah yang bertekad kembali menghiasi seringai di bibir.

Oh, ya, ngomong-ngomong, aku malah belum menerima jawaban dari pertanyaanku, kan? Sudahlah, siapa mau mengungkit luka lama antar saudara.



Kolom Penulis:

“Pembaca yang baik adalah yang selalu komen, like, dan subscribe.” – Herp.

*Plaaak! “Ini bukan Youtube kampret!” 


Bonus: Ilustrator yang ane kontrak akhirnya sedang mengerjakan cover :v

Progress: 2%