Episode 101 - Gulungan naskah


(Sangat dianjurkan untuk memutar lagu berikut di saat mulai membaca bagian pertama dari episode ini. Silakan klik di sini)*


Lingsir wengi, sliramu tumeking sirno

Ojo tangi nggonmu guling

Awas jo ngetoro

Aku lagi bang wingo wingo

Jin setan kang tak utusi

Dadyo sebarang

Wojo lelayu… sebet *


Jelang malam, dirimu akan sirna

Janganlah bangun dari peraduanmu

Awas jangan menampakkan diri

Aku sedang marah besar

Jin dan setan yang kuperintah

Menjadi perantara

Untuk mencabut… nyawamu


Malam sedang larut. Cahaya bulan dan bintang enggan menyapa bumi. Semilir angin mengantar sepi malam menusuk kalbu. Dalam gulita, indera pendengaran dapat berfungsi dengan maksimal.

“Lagu apakah gerangan itu?”

Tubuh yang tergeletak itu menjawab tidak. Tatapan matanya nanar, seperti orang yang hilang akal. Pakaiannya sudah tak beraturan, bahkan setengah tubuhnya telanjang. Meski, sekujur kulit yang terbuka memaparkan luka-luka yang mengenaskan serta kotor dibalut debu dan tanah.

Napas Dahlia Tembang berhembus satu-satu, seolah menunggu saat yang tepat untuk serta-merta luruh. Terbersit dalam batinnya, bahwa berhenti bernapas mungkin bukanlah pilihan yang buruk. Akan tetapi, menghentikan napasnya sendiri pun… ia tak kuasa.

Gadis remaja itu sudah pasrah menjemput kematian. Ia tak lagi meratap atau memohon ampun. Demikian, ia kembali melantunkan kidung. Suaranya serak, nadanya menyanyat jiwa… Bait-bait lagu itu mirip sebagai sebuah peringatan… Akan tetapi, ketika pendengarnya terbuai, maka terasa seolah jiwa telah melayang karena terpisah dari raga.

“Mengapa sulit bagimu menjawab pertanyaan sederhana?” ujar Kum Kecho yang tak tidur, dan sejenak sempat terbuai alunan lagu.

Dahlia Tembang berhenti menyinden… “Kidung Lingsir Wengi,” ucapnya lirih.

“Tentang apakah kidung itu…?”

“Kau… tak akan mengerti…,” keluh Dahlia Tembang.

“Sebutkan siapa sesungguhnya Raja Angkara….” Kum Kecho mengalihkan pembicaraan.

“Mengapa kau tak membunuhku…?”

“Sebutkan siapa sesungguhnya Raja Angkara itu, dan aku akan melepaskanmu?” tambah Kum Kecho.

“Aku banyak menyaksikan orang-orang sepertimu… Kau tak menghargai nyawa makhluk hidup... Tidak. Bukan… Kau lebih dari itu… Kau menafikan keberadaan makhluk selain dirimu. Kau berpikiran bahwa dunia berputar karena keberadaanmu. Bahkan, kau merasa kaulah sumbu dunia… Sedangkan, kau sendiri….”

“Heh… apa yang kau ketahui tentang aku…? ” potong Kum Kecho memandang rendah lawan bicaranya.

“… kau mengejar tujuan semu,” sambung rintihan Dahlia Tembang.

“Heh… apakah kau mengangap aku seperti seekor semut hanyut, bergantung pada sepotong rumput yang diayun-ayunkan gelombang…?” **

“Akhirilah nyawaku… saat ini juga…,” pinta Dahlia Tembang.

“Tidurlah… esok pun belum saatnya kematianmu.”

Dahlia Tembang terdiam sejenak. Entah apa yang ia renungkan. Kidung Lingsir Wengi berlanjut. Lantunan suaranya semakin sendu, ibarat sembilu yang mengiris-iris ngilu.

Lingsir wengi, sliramu tumeking sirno

Ojo tangi nggonmu guling

Awas jo ngetoro

Aku lagi bang wingo wingo

Jin setan kang tak utusi

Dadyo sebarang

Wojo lelayu… sebet


===


“Hm…? Anjana, kau telah kembali.”

“Diriku terpaksa bergegas kembali karena Ambariningsih cedera berat akibat menyerang kelompok Kekuatan Ketiga yang membantai Ambarawa.”

“Bagaimana mungkin kau sampai melakukan kesalahan yang sedemikian…?”

“Diriku lengah….”

“Bagaimana dengan penelusuran yang kalian lakukan?”

“Kakak Lintang Tenggara…” Anjana sejenak terlihat ragu. “Sepertinya Kekuatan Ketiga telah berhasil membangkitkan salah satu dari Lima Raja Angkara?”

“Siapakah gerangan?” Lintang Tenggara meletakkan sebuah buku yang sedang ia baca di atas meja.

“Diriku belum pasti…?”

“Ciri-cirinya?” terlihat Lintang Tenggara semakin tertarik.

“Seorang remaja berkulit gelap. Sepertinya tubuh seseorang yang dirasuk…”

“Dirasuk? Bagaimana dengan kemampuannya?”

“Kemungkinan besar kesaktian unsur asap. Aku mengendus bau kemenyan yang demikian pekat.”

“Oh…? Mungkinkah Hang Jebat?” ujar Lintang Tenggara.

“Hang Jebat? Bukankan Si Raja Angkara Durhaka itu berasal dari Pulau Barisan Barat?”

“Benar, Hang Jebat berasal dari wilayah barat laut Negeri Dua Samudera.”

“Bagaimana mungkin ada yang membangkitkannya di Pulau Jumawa Selatan?”

“Bagi Kekuatan Ketiga… tak peduli dari mana asal Raja Angkara yang dapat mereka bangkitkan… Yang terpenting adalah tambahan kekuatan tempur.”

“Hm….”

“Lho? Bagaimanakah kiranya kau melepaskan diri dari tokoh digdaya seperti Hang Jebat?” lanjut Lintang Tenggara sungguh penasaran.

“Saat ini ia hanya berada pada Kasta Perak Tingkat 1. Diriku berasumsi ia hendak mencari tubuh yang lebih sesuai di Kota Ahli.”

“Kota Ahli? Mungkinkah ia juga mengincar keris Tameng Sari?” gumam Lintang Tenggara.

“Tameng Sari?”

“Akan kujelaskan di lain waktu…,” jawab Lintang Tenggara cepat. “Bagaimana dengan Kum Kecho?”

“Remaja bengal itu menyusul Raja Angkara ke Kota Ahli. Sepertinya ada sesuatu yang merenggut perhatiannya…. Melati Dara pun menyusul segera setelah kembali bersamaku.”

“Oh… benarkah demikian? Apakah gerangan yang demikian menarik perhatian Kum Kecho yang selama ini apatis…?” Lintang Tenggara menggosok-gosok dagu.

“Apakah perlu diselidiki lebih jauh?” Anjana sama penasarannya perihal perubahan sikap Kum Kecho.

“Tak perlu.”

“Kakak Lintang, sebelum diriku lupa… Bagaimana dengan gulungan naskah yang dicuri oleh Panggalih Rantau beberapa waktu lalu?”

“Janganlah khawatir. Gulungan naskah itu hanyalah berisikan secarik kertas lusuh yang tak sengaja kutemukan. Isinya hanyalah bait-bait yang kemungkinan besar sebuah ‘ramalan’ tak penting.”

“Oh…?”

“Saat itu, aku sengaja menyebar isu bahwa gulungan naskah tersebut mengandung daftar nama anggota Partai Iblis. Tujuanku tak lain adalah untuk mengendus dan memancing keluar Pasukan Telik Sandi di wilayah tenggara….”

Anjana menanggapi dengan anggukan dagu. Sungguh kakak seperguruannya itu penuh dengan muslihat. Titisan Ganesha yang memanfaatkan ilmu pengetahuan dengan cara yang berbeda…

“Kau beristirahatlah terlebih dahulu. Aku akan melapor kepada Gubernur Pulau Lima Dendam perihal kemungkinan munculnya Hang Jebat.”

“Baik.”

“Setelah itu, ada tugas lain yang hendak kuberikan. Kali ini terkait dengan Pulau Dua Pongah.”


 ===


“Sahabat Bintang! Bagaimana rasanya menebaskan Pedang Patah!?” hardik seorang anak remaja bertubuh bongsor.

Bintang Tenggara masih terbaring di tempat tidur. Sekujur tubuhnya terasa ngilu. Dampak samping dari Pencak Laksamana Laut sedang hinggap di setiap otot dan sendi tubuh. Ingin rasanya ia meringkuk tidur seharian. Toh, tak ada pertarungan di hari ini.

“Itu bukanlah Pedang Patah,” jawab Bintang Tenggara ringan.

“Hm…? Jadi, apakah gerangan pedang itu?” lanjut Panglima Segantang.

“Darimana kau pelajari Pencak Laksaman Laut,” tanya Bintang Tenggara masih meringkuk di tempat tidur.

“Brak!” pintu kamar tetiba didobrak.

“Bangunlah!” sergah Canting Emas. “Bila kau bermalas-malasan, maka tubuhmu akan lambat pulih.”

Bintang Tenggara segera dapat menangkap maksud dan tujuan kedatangan Panglima Segantang dan Canting Emas. Seperginya mereka, Bintang Tenggara segera bergegas untuk menghindar dari latihan. Dalam hati ia mengeluh, hanya dirinya seorang yang turun bertarung di hari sebelumnya… Itu sudah setara, bahkan lebih dari latihan berjam-jam dalam bentuk apa pun.

Saat itu, Bintang Tenggara berhasil membawa Perguruan Gunung Agung memenangkan pertarungan melawan Perguruan Ayam Jantan. Ia mengalahkan Saweri Gading yang terpaksa mendarat di atas tanah di bawah panggung pertarungan.

Akan tetapi, dampak samping dari mengerahkan Gerakan Pertama jurus Pencak Laksamana Laut untuk kali pertama lebih parah dari dugaan. Tubuhnya tak hanya linu dan ngilu… tubuhnya pun meriang. Penderitaan yang ia rasakan bagai ditusuk ribuan jarum tajam di sekujur tubuh secara perlahan dan berkala. Hanya setelah Sesepuh Ketujuh memberikan sejenis ramuan, barulah ia dapat tertidur pulas.

Segera setelah kemenangan itu, Sesepuh Ketujuh terbang ke panggung pertarungan dan mengambil keris Tameng Sari. Perempuan setengah baya itu lalu mengembalikan ‘Pedang Patah’ tersebut kepada Ketua Panitia, Maha Guru Segoro Bayu.

Saat mengembalikan keris, Sesepuh Ketujuh tak meminta maaf… Sebaliknya, beliau malah meminta penjelasan atas tindakan Maha Guru Segoro Bayu yang menghentakkan tenaga dalam ke arah seorang murid Perguruan Gunung Agung. Berkat kehadiran Adipati Jurus Pamungkas yang suka menyampuri urusan orang lain, suasana di gelanggang pertarungan sempat memanas. Adalah Maha Guru Kesatu Sangara Santang dari Sanggar Sarana Sakti yang menengahi, sehingga tak sempat terjadi keributan. Pada akhirnya, di depan belasan ribu hadirin, Maha Guru Segoro Bayu yang meminta maaf kepada Sesepuh Ketujuh karena gegabah dan terbawa emosi.

Dari pertarungan itu, Bintang Tenggara menyadari bahwa ada dua syarat untuk menghunus keris Tameng Sari. Pertama, memiliki jurus Pencak Laksamana Laut, atau setidaknya pemahaman dasar akan jurus milik Laksamana Hang Tuah itu. Keris Tameng Sari akan mengetahui tentang hal ini begitu seorang ahli menggenggam gagangnya.

Syarat kedua, adalah mengetahui nama asli sang keris. Tentunya, nama asli keris tersebut bukanlah Pedang Patah.

Sebagai tambahan, tak bisa dipungkiri bahwa anugerah kekebalan raga setara Kasta Emas yang diberikan oleh Tameng sangatlah digdaya. Tameng menyebutkannya sebagai ‘anugerah pertama’. Apakah ada yang kedua? Ketiga? Bagaimana pula dengan Sari? Apakah gerangan anugerah bilamana Tameng Sari utuh adanya?

Meski demikian, ada dua alasan pula yang menyebabkan Bintang Tenggara tak hendak lagi menggunus keris raksasa itu. Pertama, tentu karena dampak samping setelah penggunaan Pencak Laksamana Laut semalam. Sungguh beruntung ia sempat menempa raga di Pulau Dua Pongah… itu pun masih belum cukup.

Sedangkan alasan kedua, benaknya tak tahan mendengarkan pertengkaran Komodo Nagaradja dan Tameng. Entah bagaimana, mereka bertiga terhubung oleh jalinan mata hati. Ahli yang bermental lemah, mungkin bisa dibikin gila oleh perseteruan dua siluman sempurna itu.

Selain itu, Bintang Tenggara juga menyadari bahwa sepertinya para ahli digdaya seperti Adipati Jurus Pamungkas dan Kakak Sangara Santang, mengetahui bahwa Pedang Patah adalah sebilah keris…. Gelagat mereka pun mencurigakan.

“Aji Pamungkas, antarkan aku ke penginapan dimana ayahandamu menetap.” ujar Bintang Tenggara di ruang tengah penginapan Perguruan Gunung Agung.

“Ada urusan apa?” hardik lawan bicaranya. “Cih! Jangan berani-beraninya kau mendekati kakak-kakak perempuanku! Aku tak sudi!”

“Aku hendak mengucapkan terima kasih kepada ayahandamu… dan menyampaikan sesuatu.”

Sudah sangat jelas Bintang Tenggara hendak menjalankan rencana mengadu kepada Adipati Jurus Pamungkas perihal tindakan-tindakan busuk Maha Guru Segoro Bayu. Tokoh tersebut kemungkinan besar yang membangkitkan Hang Jebat si Raja Angkara Durhaka.

Setelah tawar-menawar dengan Aji Pamungkas, akhirnya Bintang Tenggara memperoleh informasi akan penginapan yang ditempati keluarga Pamungkas. Ia pun segera meninggalkan penginapan tempat bernaung Perguruan Gunung Agung, hendak pergi menuju wilayah pusat Kota Ahli.

“Brak!” terdengar sebuah suara keras dari dalam salah satu penginapan perguruan yang dilalui Bintang Tenggara. Apakah Canting Emas mengikuti? batinnya risau.

“Dasar Murid Purwa goblok!”

Bintang Tenggara spontan melongok. Kedua matanya menangkap seorang remaja yang sedang menginjak kepala remaja perempuan yang sedang bersujud di atas tanah. Remaja perempuan itu berambut pendek seleher dan bertubuh besar, namun terlihat ia sedang meratap. Tiga remaja lain lagi berdiri diam mengitari mereka.

“Kau satu-satunya yang terkena hantaman murid Perguruan Budi Daya… Dasar peranakan siluman… memalukan!”

“Sungguh diriku lengah…,” rintih gadis yang mukanya masih menempel di tanah dan kepalanya diinjak-injak. “Kumohon… maafkanlah….”

Kedua mata Bintang Tenggara lalu bertatapan dengan remaja yang menginjak kepala anggota regunya sendiri. Tidak diragukan lagi, itu adalah remaja berdagu panjang. Remaja lelaki dari Persaudaraan Batara Wijaya tersebut diketahui ‘menguasai’ Tinju Super Sakti.

Remaja berdagu panjang tetiba menyadari keberadaan Bintang Tenggara yang mengintip. Ia melotot. Anak remaja yang dipelototi tak tahu harus bereaksi seperti apa… apakah tersenyum santun, menertawakan jurus palsu, atau marah karena sedang terjadi perisakan…?

“Aku tak tahu mengapa para tetua di Persaudaraan Batara Wijaya bersedia menerimamu sebagai murid! Mungkinkah karena rasa iba terhadap anak yatim piatu…?”

Remaja berdagu panjang lalu menendang kepala gadis yang tadinya berada di bawah telapak kaki.

“Dalam pertarungan melawan perguruan lemah berikutnya, kau harus membungkam bocah ingusan yang lancang mengambil dan menghunuskan Pedang Patah milik junjungan kita Sang Maha Patih!”

Bintang Tenggara menyadari bahwa remaja berdagu panjang sengaja bersuara cukup keras agar dirinya mendengar. Benar juga, murid Persaudaraan Batara Wijaya tersebut pastilah mengincar keris yang mereka kira sebagai Pedang Patah milik Sang Maha Patih. Akan tetapi, lebih lancang lagi si dagu panjang yang memalsukan jurus milik Super Guru, batin Bintang Tenggara.

“Sampah haruslah ditangani oleh tukang sampah!” sambung remaja berdagu panjang lebih lantang lagi.

Bintang Tenggara melengos pergi.

Tak lama, langkah kaki Bintang Tenggara melintas di sebuah penginapan yang dijaga ketat oleh murid-murid perempuan Perguruan Maha Patih. Tak diragukan lagi, ini adalah penginapan Padepokan Kabut. Telah diketahui bahwa perguruan khusus perempuan ini terus lolos menyingkirkan lawan-lawannya.

Apakah Kakak Embun Kahyangan tak ingin bersua…? keluh Bintang Tenggara dalam hati. Ia pun kembali menghitung setiap langkah kaki, meninggalkan wilayah penginapan perguruan peserta kejuaraan.

“Kakak Poniman… ponimu terlihat berbeda hari ini,” ujar Bintang Tenggara setiba di gerbang besar Perguruan Maha Patih.

“Adik Bintang Tenggara… Poniku tak akan pernah sama lagi….”

“Bolehkah aku meninggalkan Perguruan Maha Patih barang sejenak? Aku hendak mengunjungi seseorang di pusat kota.”

“Pergilah…,” ujar Poniman yang seperti biasa berjaga di pintu gerbang.

“Oh ya… seorang lagi murid Perguruan Maha Patih menghilang. Kau mengenalnya… ia pernah pergi bersama kita menelusuri hutan di balik tembok barat.”

“Hm…?” Mungkinkah maksudnya murid yang tempo hari bersama-sama dicegat Hang Jebat? Sepertinya saat itu remaja tersebut sempat menyapa lawan di depan… Mungkinkah ia juga kaki tangan? Ataukah korban? Harus segera bertemu dengan Adipati Jurus Pamungkas, pikir Bintang Tenggara.

“Keluarga Adipati Jurus Pamungkas sedang berplesir ke pantai,” jawab seorang pelayan salah satu penginapan mewah di Kota Ahli.

Hari jelang siang. Bintang Tenggara kembali dengan memendam harapan kosong. Segera ia melangkah menuju Pustaka Utama milik Perguruan Maha Patih. Setidaknya, seharian ini dapat membaca, sekaligus menghindar dari menu latihan bersama Panglima Segantang dan Canting Emas. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.

….


“Bebal!”

“…”

“Apa gunanya aku terlahir kembali bila tak memiliki tubuh yang cocok untuk mengembalikan kekuatan seperti sedia kala!?

“Itu….”

“Apa gunanya menyiapkan tubuh cadangan bila jauh lebih buruk!?”

“Tapi...”

“Apa gunanya bila aku tak bisa membawa Tameng Sari!?

“Rencananya…”

“Aargh!”

Terlihat beberapa tubuh tergeletak tak bernyawa. Setelah melampiaskan kekesalannya, Hang Jebat melangkah keluar dari sebuah balai di sudut lain Perguruan Maha Patih. Tak satu pun dari beberapa orang yang bersimpuh di hadapan Hang Jebat mencegah kepergiannya.



Catatan:

*) Kidung Lingsir Wengi di dalam episode ini merupakan versi dari film layar lebar berjudul ‘Kuntilanak’ tahun 2006, yang disutradarai Rizal Mantovani. Tembang ini sesungguhnya mengisahkan tentang… cinta.

**) “Seperti seekor semut hanyut bergantung pada sepotong rumput yang diayun-ayunkan gelombang.” -- Tan Malaka dalam Madilog (1943)

Tan Malaka adalah orang pertama yang menulis konsep Republik Indonesia dalam sebuah buku berjudul Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) pada tahun 1925. Buku inilah yang kemudian dibaca oleh Ir. Soekarno dan menjadi salah satu inspirasi bagi kaum muda yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia di masa perjuangan. Karena pergelutan politik, Tan Malaka diusir dari Indonesia, hidup dalam penyamaran dan persembunyian, serta berpindah-pindah negara. Akhirnya, beliau mati ditembak oleh tentara Republik yang ia dirikan. Muhammad Yamin menjuluki Tan Malaka sebagai ‘Bapak Republik Indonesia’.