Episode 8 - Memperbaiki kemampuan

Rabu, 3 Mei 2051.

Lima menit sebelum jam delapan malam, NOEL login ke Historia, nama dunia dalam virtual reality berjudul Another World. Tujuan Noel bersama Tempest adalah Moment Room, tempat latihan sejuta umat para explorer. Merupakan ruangan kubus megalitik merah gelap yang tak memiliki apa-apa, kecuali satu jalan masuk tak berpintu. Hanya ada cahaya biru yang menghalangi penglihatan orang-orang luar akan isi di dalamnya. Letaknya sekitar dua kilometer ke arah timur dari dimensional monumen.

Dari tempat login, terlihat sebuah kawah hitam kering dan gelap karena langit malam. Di sanalah lubang pertama, atau lubang permukaan dalam zona eksplorasi pit seven. Tempat login saat ini adalah akibat dia mati saat melakukan eksplorasi ke dalam dan memutuskan untuk logout tanpa menunggu hidup kembali. Sebuah keputusan yang wajar, karena lama matinya adalah enam jam. langsung saja, dia berteleportasi dengan crysport terdekat. 

Setibanya ditempat tujuan, teman mainnya telah berada di sana dan duduk di atas sebuah kursi kayu lebar. Akan tetapi, matanya terfokus ke arah seorang wanita bertubuh mungil yang sedang berkumpul. Tampaknya, merupakan sebuah yang sedang mendiskusikan sesuatu. 

“Oi,” ujar NOEL setelah menepuk pundak dari belakangnya.

Mendengarnya, caster dari party NOEL berdiri lalu berbalik dengan cepat. 

“Semua salahmu karena log out!” 

Eh? Tiba-tiba saja Tempest berbicara kasar. Tak terima, NOEL menyanggahnya.

“Apaan? Sekali mati di sana itu waktu hidupnya enam jam, oi.”

“Gak akan mati kalo kamu gak maju duluan.”

“Kalau aku gak maju, pasti kita langsung habis dikeroyok mereka.”

“T-tapi, gara-gara kamu, aku malah kena ceramah kasarnya Adel, oi.”

“Lah…”

Percekcokan mereka berdua menarik perhatian orang sekitar.

“Ke sana, yuk,” ujar salah satu orang asing.

NOEL dan Tempest telah dikelilingi oleh sejumlah orang asing. Banyaknya suara bisik-bisik sekitar, membuat mereka berdua tersadar. Sudah terlambat, posisi mereka sekarang sama seperti artis yang sedang syuting. Hanya saja, mereka bukan sekelompok fans.

Tempest memutar badan, dan satu per satu, menatap mereka yang telah menciptakan barisan lingkaran manusia. Dengan tongkat diangkat tinggi-tinggi, dia berseru keras.

“Apa liat-liat?”

Suara sang Caster seolah menantang semuanya sekaligus. Melihat wajah tak bersahabatnya, kerumunan memutuskan untuk membubarkan diri. Lagipula, dialog mereka sudah terhenti. Itu pikiran sebagian besar dari orang-orang asing itu.

NOEL sangat bersyukur karena Tempest mampu membubarkan mereka dengan cepat. Sensasi tidak nyaman menyelimuti tubuhnya tadi.

Sayangnya…

“Tem, kenapa kamu semarah itu?

“Kita bukanlah tontonan buat mereka.”

Yang dikatakan Tempest memang ada benarnya, kecuali satu. “Tapi, semua kerumunan ini bermula dari keluhan dan suara kerasmu,” keluh NOEL.

“Tapi …”

“Ah sudahlah … semakin banyak tapimu adalah pertanda kamu sedang mencari pembenaran diri.”

“Maksudnya? Gak ngerti.” Tempest mengatakannya sambil menggaruk-garuk kepala.

“Anyway, nih kapan masuknya, coba?”

Tempest yang wajahnya masam sejak tadi, memperlihatkan ekspresi terkejut. Kemudian tersenyum kecil.

“Maaf ya, tadi emosian.”

Masih dibalas juga? NOEL tak mengacuhkan temannya itu. Dia bergegas memasuki ruang tak berpintu itu. Tempest mengerti dan mengikuti di belakangnya. NOEL yang duluan mencapai pintu itu, dihadapkan tulisan “Solo atau party?” NOEL menekan tulisan party dengan telunjuknya. Sebelum masuk terlebih dahulu dia mengecek penglihatannya pada sisi kiri atas.  

Ruangan dalam Moment room adalah … simulator. Saat pertama kali masuk, kondisi default ruangan itu berwarna hitam, ditemani oleh cahaya hijau redup angka biner1. Menu yang ditampilkan dalam simulator menyesuaikan dengan map record dan bestiary2 para explorer. Dengan kata lain, simulator takkan pernah menciptakan tempat yang tak pernah dikunjungi oleh para explorer. 

Simulasi yang diciptakan bukan keseluruhan sebuah zona eksplorasi. Hanya ada zona 50x50x50 di tempat itu.

Mengira NOEL sedang kesal, Tempest yang sejak tadi dibelakangnya, memutuskan untuk berbicara duluan.

“Oi, jadi, kita bakal latihan bodo-bodo lagi?”

Maksudnya adalah latihan asal-asalan tanpa monster dan contoh tempat.

“Kagak.”

“Berarti, training zone-nya adalah pit seven?”

“Ya.”

“Lawan Kobold?”

“Ya.”

“Kamu … beneran kesal, toh?”

Jika harus jujur. NOEL tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Kenapa dia harus bertindak seperti itu?

“Kalau kamu ma—”

“TIDAK!” Langsung saja NOEL membalikkan badan ke arah Tempest. “Mungkin, aku hanya belum terbiasa dengan dialog tak masuk akal semacam tadi,” ujarnya sambil menggosok-gosok kedua telapak tangan.

“Beneran, gak ngerti aku.”

“Emm … se-semacam pembicaraan kita waktu pas didengar orang tadi.”

“Terus?”

“Aku … sebenarnya ga merasa nyaman saat dilihatin orang tadi.”

“Lah?” Sisi kiri mulut Tempest menunjukkan ekspresi senyum. “Cuma artis gila sensasi saja yang gak bakalan merasa malu.”

Gitu, toh? Bahkan bagi Isal, jadi tontonan orang banyak juga membuatnya malu. Hati Noel mengangguk tanda mengerti.

“Sekarang, kapan kita latihan?” tanya Tempest.

“Ah … maaf maaf.”

Sebagai party leader, NOEL memutuskan jenis latihan yang akan mereka tempuh. Namun …

“Bentar. Kita latihan bodo-bodo dulu.”

“Ooooh, kamu kepikiran skill baru?” tanya Tempest.

“Iya.” Sambil mengangguk. “Aku ada inspirasi soal satu gerakan.”

Tempest mundur beberapa langkah, memberikan ruang bagi NOEL yang telah memegang pedangnya untuk melakukan skill craft. Menu ini hanya tersedia dalam Moment room. Setelah menekan menu skill craft pada menu, motion scanner, atau fase perekam gerak dimulai. Ratusan angka nol dan satu di sekitar NOEL berkumpul sebagai alas kaki. Jumlah sebanyak itu tak mempengaruhi banyaknya blangan biner yang masih mengapung di udara. Cahaya hijau menjadi kedap-kedip di hadapan NOEL

Memulai proses rekaman. Suara itu berdengung di telinga mereka, khususnya pada telinga milik si crafter. Mula-mula, NOEL memposisikan pedangnya secara horizontal di sekitar dada, lalu dengan cepat, tubuh tegaknya melakukan satu rotasi cepat searah jarum jam. Posisi pedang menjadi diagonal datar kala dia berputar.

“Save.”

Tiap crafter wajib mengucapkan kata itu ketika mereka selesai melakukan motion recording. Tapi fase pembuatan skill belum selesai sampai situ.

Membuka kembali menunya, NOEL mengecek daftar skillnya dengan mengakses menu skill list. Terlihat tiga baris <> dalam skillnya. Dua telah memiliki nama, sedangkan satu masih membentuk <>. NOEL berniat mengisinya dengan <Area Spin>

“Beneran gitu aja?” Tempest menegurnya tepat sebelum menyentuh virtual keyboard yang baru saja diakses. 

Wajah si Melee berpaling ke arah NOEL

“Memangnya kenapa, sodara?”

“Aku saranin bikin ulang, dah. Mending kuda-kudamu dibuat menunduk, sama seperti pose awal Sword Line.

“He?” Wajah Noel terkejut. “Itu sulit, sodara.”

“Bukannya skill pasifmu akan membantu?”

“Gerak cepat? Aku baru menguasai refleks cepat ke samping.”

“Hmm…” Ujung telunjuk Tempest bolak-balik menggosok dagunya. “Posisi satu kakimu, coba dibuat lurus dan satunya menekuk.”

“… Sepertinya bisa. Kucoba dulu.”

Skill yang belum diberi nama tadi dibiarkan terlebih dahulu. Kembali lagi ke siklus awal, NOEL dengan mengakses skill craft. Kali ini, dia melakukan sesuai yang disarankan oleh Tempest; Kaki karinya melebar ke samping dan kaki kanannya sedikit menekuk.

Sekuat mungkin, telapak kaki NOEL menciptakan tolakan, dibantu dengan hentakan kanan ke arah kiri yang menjadi sumbu. Putarannya lebih… bukan… sangat cepat dibandingkan tadi. NOEL bahkan terkejut.

S-Save … Save!” ujarnya.

“Kok, kaget? Itu tubuhmu, loh,” ujarnya setelah tertawa.

NOEL berusaha menenangkan diri. Tak ada detak jantung dalam tubuh itu. Namun, dia tampak meremas dada kirinya.

“Itu… mungkin akibat efek pasif tipe explorermu. Sepertinya, gerak cepat diakibatkan oleh hentakan telapak kaki, bukan gerakan kaki secara utuh.”

Yang itu tak perlu dijelaskan lagi. NOEL sangat mengerti itu dengan tubuhnya!

“Jadi, gimana? Mau pakai yang itu?”

“Keduanya saja lah. Yang tadi, rasanya efektif untuk melawan kobold.”

Setelah memutuskan, NOEL kembali melihat nama daftar skillnya. Yang pertama tetap diberi nama <Area Spin>. Sedang yang kedua …

“Mungkin bagusan <Show Down>,” pikir NOEL dalam hati.



Catatan kaki:

1. Bagian dasar dari ilmu coding meliputi angka nol dan Satu.

2. Ensiklopedia. Istilah yang popular dalam game RPG.