Episode 4 - Keempat

Aku sempat meminta kepada orang tuaku untuk memindahkanku ke klinik lain. Ke klinik yang tidak mungkin disambangi Ollyne dan berpikir ia akan membagikan cupcake ke klinik tersebut. Tapi mereka tidak mendengarkanku dan aku juga sudah berkata pada Ollyne untuk bertemu dipertemuan selanjutnya dan ia akan membawakan cupcake untukku. Apa Marvin dapat cupcake? Atau mungkin Ollyne membuat cupcake bersama Marvin. Mereka main colek-colekkan gula ke bibir satu sama lain dan Ollyne tertawa nakal dan Marvin memegang pinggang Ollnye sehinga mata mereka sangat dekat seperti ada daya magnet dan mereka saling berujar satu sama lain tentang Cupcake Pembawa Kebahagiaan yang akan dibagikan kepada para penghuni klinik Hemodialisa dan Marvin akan melakukan trik-trik basket dalam membuat kue dan itu terlihat seksi di mata Ollyne dan Ollyne semakin bangga serta mencintai Marvin. Aku mulai mempertimbangkan menjadi BDB. Tapi buru-buru aku hilangkan pertimbangan itu.

 “Robin. Robin. Robin!” ibuku terdengar memekik dan kudapati diriku melamun di kursi penumpang.

 “Uh, maaf. Aku ngantuk.” Alasan terhebatku saat melamun.

 “Ini masih jam setengah dua belas. Kenapa kau buru-buru sekali? Dan bagaimana dengan diaremu?” tanya ibuku atas permintaan pemajuan jam cuci darah dari jam 2 siang menjadi jam 11 pada hari Jumat ini. Aku bolos sekolah dengan alasan diare yang kuyakini penyakit yang cukup tren di kalangan remaja.

 “Sudah baikan kurasa.”

 “Oke. Hari ini aku mendapat pasien baru dan kurasa aku akan sedikit telat. Hanya sedikit. Aku tidak memperkirakan kalau kau meminta pengajuan jam seperti ini.”

 “Oh tidak apa-apa. Aku bisa menunggu bersama kakek Elren, Kabir, Sani, dan lain-lain.”

 “Panggil mereka paman.”

 “Oke.”

 Tanpa seragam. Aku bersyukur karena hari ini aku cuci darah tanpa seragam. Aku mengenakan polo merah polos dibalut sweater hitam dan celana jins longgar warna biru. Aku berupaya tidak memakai gel rambut tapi akhirnya kupakai juga yang akhirnya membentuk jambul universal disertai wangi menyengat. Seperti biasa Lauren menyambutku dan aku melihat personil tetap KKC hari Jumat berkumpul yang artinya mereka semua juga memajukan jadwal.

 “Robin. Katakan padaku kalau kalian janjian?” tanya Lauren.

 “Tidak, kami tidak janjian.”

 “Astaga. Semua juga bilang begitu!” dan entah kenapa Lauren merasa kesal karena ia merasa dikerjai karena kami yang tiba-tiba datang lebih awal dari biasanya. Aku mendengarkan suatu obrolan yang melibatkan Sani, Kabir, dan kakek Elren. Orang Anti-Sosial dan nenek Gia sedang tidur. Khusus untuk nenek Gia aku tidak terlalu yakin.

 “Hai,” sapaku. Seperti yang telah diajarkan ibuku tentang bentuk kesopanan dalam upaya bergabung dalam sebuah perkumpulan.

 “Oh, hai, Robin!” Kabir menoleh ke arahku dan ia semakin terlihat seperti keturunan terakhir Brontosaurus dengan rambutnya yang terlihat sedikit acak-acakan serta keriting. Ia memakai celana bokser.

 “Ini bukan tempatnya anak muda,” kata Sani yang sedang disuapi makanan oleh istrinya yang setia.

 “Yeah. Anak-anak remaja akan nongkrong di kafe dan mengupdate status ‘T.G.I.F’. tapi aku rasa itu kuno dan ketinggalan zaman,” kataku dan berbaring di atas sofa jumbo. Lauren datang dan mulai melaksanakan prosedur seperti biasa.

 “Halo cucuku!” seru kakek Elren dalam aksen meledek dan aku sedikit tidak paham dengan maksudnya tapi Sani dan Kabir tertawa terbahak-bahak. Ini bukan tawa-tak-tulus. Mereka benar-benar tergelitik.

 “Mm, halo, kakek,” kataku ragu-ragu berupaya tersenyum tapi entah apa yang dihasilkan bibirku ini.

 “Kalian sudah menjalin sebuah hubungan darah? Aku baru tahu, kenapa kau tidak pernah bilang kepada kami, Robin?” tanya Kabir yang semakin membuatku bertanya-tanya.

 “Aku kakekmu kan, Robin? Kau baru mengangkat derajatku dari panggilan ‘Kakek Elren’ menjadi ‘Kakekku’. Kau sayang pada kakek, kan?” kakek Elren semakin aneh dan aku semakin bingung.

 “Apa yang kalian bicarakan?” tanyaku, mengkerutkan dahi.

 “Oh. Setelah mengakuiku sebagai kakekmu sekarang kau tidak menganggapku lagi? Kau seperti jalang egois. Ehm—siapa yah namanya. Sebentar. Ollyne. Oh-iya. Ollyne! Dia bilang ‘Robin cucu yang sangat mulia. Dia mau menemani anda sampai saat ini. Untuk itu aku akan memberikan cupcake spesial ini.’” kata kakek Elren dan seketika jantungku memompa darah lebih cepat.

 “Dan untungnya kakek Elren pernah menjadi aktor drama!” timpal Kabir.

 “Yeah. Aku berimprovisasi. Aku bilang ‘Robin pemuda yang baik. Dia selalu mementingkan akal budi ketimbang apapun dan ia selalu menghitung berkat yang ia dapat setiap harinya dan ia cucuku yang paling kusayang’. Dan kau tahu, Robin? Setelah itu aku nyaris tertawa selama 3 jam dan itu mampu membunuhku.” Kakek Elren memperjelas situasi dua hari yang lalu. Di hari aku bertemu dengan Ollyne di tempat menyebalkan ini dan membuat janji akan bertemu lagi malam ini.

 “Maaf. Uh, aku menyesal,” kataku, berusaha membuat tekanan nada anak kucing yang kelaparan.

 “Tidak. Aku tidak masalah menjadi kakekmu. Aku pintar berimprovisasi. Pertanyaan-pertanyaan umum dari gadis itu masih terbilang mudah dan kuakui kau cukup pintar.” Kakek Elren memujiku dengan ucapan ‘pintar’ meskipun belum jelas pintar dalam konteks apa.

 “Jangan anggap ini masalah Robin. Pada waktu sekolah aku pernah suka pada cewek dan aku terkena penyakit kulit yang cukup menjijikkan dan penyakit kulit itu menjalar seperti virus menuju lengan sampai cewek yang kusukai itu melihatnya dan bertanya ‘kenapa tanganmu?’ dan aku berbohong dengan mengatakan ‘aku dipukuli orang tua-ku’ dan sejak saat itu kami semakin dekat karena ia merasa iba padaku. Dan kebohongan-kebohongan semacam itu tidak merugikan siapapun,” kata Sani yang bergabung pada topik dan sepertinya ia berupaya menghiburku meski aku tidak terhibur dan tidak menemukan titik terang dari ceritanya.

 “Robin. Tidak akan ada kebahagiaan yang bisa kau petik dari situasi buruk yang kau buat sendiri. Kejujuran hitam dan kebohongan putih tidak menyelamatkanmu dari ketidak-berdayaanmu dalam mencari kebahagiaan yang kau idam-idamkan.” Tiba-tiba kakek Elren berubah serius—perubahan emosi secara drastis. terlihat dari pancaran matanya yang lurus, kumis serta bewok putih yang bergeming, dan posisi duduk yang tegak—yang jarang ia lakukan sebenarnya karena faktor umur.

 “Kakek, jangan terlalu serius. Robin adalah kapten bajak laut yang sedang terombang-ambing di tengah lautan.” Kabir mencoba menyelamatkanku tapi aku berkata:

 “Maaf. Maaf karena aku telah berbohong,” kataku dan meringkuk ke arah yang tidak ada orang. Aku tidak berani menatap ke arah kakek Elren. Aku merasa ada tatapan dari Sani yang berada di depanku dan tatapan dari Kabir dari sebelah kiriku. Tapi aku tidak merasa tatapan mereka bisa menyelamatkanku dari perasaan campur aduk ini. Dan aku terus memikirkan kata-kata kakek Elren yang terkesan tidak emosi. Aku membuat situasi buruk.

 Sekitar 1 jam berlalu dan situasi buruk yang kuciptakan tidak juga membaik. Lauren membagikan roti ke seluruh orang yang ada di ruangan dan aku pura-pura tidur jadi Lauren meletakkannya di meja kecil yang tersedia. Dan aku mulai lelah pura-pura tidur tapi tidak berani bangun dan bersikap seolah-olah semua baik-baik saja. Aku berbohong soal kakek Elren dan aku pikir itu menyakitinya entah kenapa.

 “Aku pernah mempunyai boneka Brontosaurus yang kunamai Bruno saat masih kecil. Aku sangat menyayangi Bruno sampai-sampai kalau ada Jin yang akan memberimu 3 permintaan, aku ingin menjadi Bruno yang lain agar dia tidak kesepian. Tapi waktu berlalu begitu cepat dan aku mulai melupakan siapa itu Bruno dan aku hanya mengingat ras-nya yaitu Brontosaurus. Aku melupakannya karena aku memasukan Bruno ke dalam lemari pakaian untuk waktu yang cukup lama karena harus melaksanakan ujian, dan aku mulai bingung apa hubungan antara ujian dengan Boneka dan kenapa laki-laki sepertiku mempunyai Boneka?!” Kabir membuat lelucon tentang dirinya sendiri dan meski tidak terlalu banyak tawa yang terdengar, aku mendengar tawa kecil dari kakek Elren yang terdengar menyeramkan dan tawa Sani yang memekik. Aku masih pura-pura tidur.

 3 jam berlalu dan aku lelah dengan posisi meringkuk tak bergerak sama sekali dengan mata terpejam. Aku menyerah dan membuka mata dan membuat pergerakan yang memancing Kabir bertanya:

 “Kau sudah bangun, Robin?”

 “Hm..” kataku, berupaya membuat tenggorokanku kering dan terdengar seperti baru bangun tidur.

 “Baiklah. Karena semuanya sudah bangun, aku akan membagikan sebuah lelucon,” umum kakek Elren yang tidak seseram saat mengatakan tentang bagaimana-aku-menciptakan-situasi-buruk. Dan kakek Elren mengulangi lelucon tentang Superman dan semuanya tertawa termasuk aku meskipun jenis tawaku palsu.

 Sekitar jam empat sore semuanya nyaris sudah selesai sedangkan aku tersisa satu jam lagi. Mereka lebih awal ketimbang aku yang sudah minta pemajuan jadwal. Dan aku memikirkan Ollyne yang akan datang sekitar jam 7 malam, membawa sekeranjang kue dan tidak menemukan satupun pasien di dalam sini. Itu akan menyakiti hatinya.

 Satu per satu keluar dari klinik dan berpamitan pada semua penghuni termasuk orang anti-sosial di pojok. Sampai yang terakhir tersisa di dalam klinik adalah kakek Elren. Situasi semakin mencekam karena kami hanya berdua. Dua makhluk yang lahir di era yang berbeda.

 “Apa tidak lelah pura-pura tidur selama tiga jam?” tanya kakek Elren dan itu membuatku terkesiap. Dia semakin terlihat seperti peramal karena bisa mendugaku seperti itu dan tepat.

 “Eh, tidak. Aku benar-benar mengantuk dan mencoba tidur.”

 “Dengan posisi meringkuk yang membuat tulang pinggul pegal begitu tanpa bergerak sedikitpun?”

 “Mm, yeah.”

 “Kau menghindari sesuatu. Tapi kekuatanmu tidak sanggup. Maksudku, sekuat apapun kau mencoba menghindar, kau akan tetap tertembak. Ngomong-ngomong aku tidak keberatan menjadi kakek siapa saja.”

 “…” aku tidak bisa bicara apa-apa.

 “Aku tidak akan mengacaukan situasi. Aku menyayangimu, Robin.” Dan itu membuat ada sesuatu yang cair di mataku. Aku ingin menangis tapi kutahan. Suara kakek Elren begitu renta dan tulus. Lauren membalut tangan kakek Elren dengan perban dan menimbrung. “Anak muda yang sedang jatuh cinta memang manis. Aku rindu masa-masa itu.” Dan kakek Elren tertawa dan aku berusaha tertawa.

 Setelah kakek Elren memakai mantel yang melingkupi seluruh badannya dan memakai topi koboi ia mendekatiku dan berkata “Mengakulah.” Dan itu singkat sekaligus menusuk sekaligus mengerikan sekaligus membuatku berpikir TIDAK-AKAN! Sekaligus itu adalah pemecahan masalah paling sederhana dalam kasus ini. Mengaku adalah kebenaran yang alami tanpa mempermasalahkan baik atau buruk. Tapi skenario tentang kakek Elren adalah kakekku tidak bisa diubah lagi karena itu bagian terpentingnya.

 Setelah timer yang ditunjukkan mesin dialyzer sudah tinggal hitungan detik, Lauren sudah menyiapkan perangkat suntikan lainnya untuk melepaskan perangkat lain yang tersambung di lenganku. Dan dikesempatan ini aku berpikir tentang Ollyne yang berada di ruang UKS bersama seseorang bernama Marvin. Aku tidak terlalu kenal anak-anak kelas 12 tapi yang bisa kupastikan mereka lebih BDB. Menjadi tim reguler Basket menurutku keren ketimbang mengikuti ekstrakulikuler melukis. Aku mengikuti ekstrakulikuler melukis karena itu ekstrakulikuler yang tidak memakai tenaga lebih. Duduk, tenang, dan damai. Tapi aku tidak aktif mengikutinya lagi karena gambar terbagus yang kulukis adalah gunung dan matahari.

 “Sudah selesai,” kata Lauren dan menyarankanku untuk menimbang berat badan. Jadi aku melakukannya dan ia mengurus sesuatu yang tidak pernah kuketahui apa itu.

 Aku duduk di bangku tamu dan melihat jam yang menunjukkan pukul lima lewat empat puluh lima. Lauren pamit untuk menemui pacarnya yang berada di ruko sebelah karena pacarnya alergi klinik. Dan karena ia tahu kalau ibuku akan telat menjemput ia memintaku untuk menjaga klinik ini sebentar. Dan aku meragukan konsep ‘menjaga’, karena aku rasa tidak akan ada maling yang akan berpikiran untuk mencungkil pintu klinik Hemodialisa dan berharap akan menemukan kotak perhiasan atau uang tunai atau semacamnya. Mereka hanya akan melihat mesin Dialyzer yang berat dan tempat tidur serta sofa jumbo yang juga berat.

 Entah kenapa aku mulai berharap Ollyne tidak datang sebab aku mulai memikirkan kata-kata Billy tentang ‘Mereka berciuman’ dan setiap kali aku mengingat itu setiap kali juga aku ingin memecahkan sesuatu meski pada akhirnya aku tidak berani memecahkan apapun. Ollyne bukan orang yang seperti itu, maksudku, apakah Ollyne juga orang yang seperti itu? Maksudku, aku ingin menanyakannya tapi itu terdengar sangat vulgar. Dan kalau aku menanyakan tentang ‘apa yang kau lakukan di ruang UKS?’ itu jenis pertanyaan yang menyebalkan bagi orang yang setidaknya baru mengobrol beberapa menit. Apalagi itu pertanyaan menjebak. Pertanyaan yang akan membawamu pada jawaban yang tidak kau harapkan pada pertanyaan awal. Aku harus mencoret rencana tentang Bertanya.

 Hari mulai gelap dan aku melihat langit yang agak kemerahan. 3 menit setelah memandangi langit kemerahan aku melihat pintu terbuka dengan perlahan sehingga bunyi nyaring yang ditimbulkan semakin menyiksa. Aku melihat paras Ollyne dari belakang dan seperti biasa ia akan mengecek setiap sudut ruangan dan ia menengok ke belakang, melihatku duduk santai sambil berupaya tidak terlihat begitu ‘sakit’:

 “Hei, kemana Lauren?” tanyanya yang jelas sudah mengenal Lauren.

 “Dia sedang makan malam.” Ollyne mengecek ke dalam dan melihat ruangan yang kosong melompong. Dia keluar dengan tatapan kebingungan.

 “Kemana yang lain?”

 “Mereka sudah selesai karena semuanya memajukan jadwal mereka.”

 “Dan apa yang kau lakukan sendirian?”

 “Menjaga klinik.” Dan Ollyne tertawa kecil menggemaskan. Ia duduk di sebelahku lagi.

 “Aku sudah bilang pada ibuku kalau tidak perlu membuat ulang coklat cairnya karena itu akan memperlambat waktu dan lihat hasilnya, aku benar-benar terlambat,” kata Ollyne dan aku sungguh bersyukur karena ibunya ingin membuat ulang coklat karena jika saja ia lebih cepat hadir di sini ia akan melihatku tergelepar.

 “Berapa banyak yang kau bawa?” tanyaku.

 “Delapan jar.”

 “Wow. Itu banyak,” kataku.

 “Tidak. Biasanya aku membawa lima belas. Tapi kan hari Jumat tidak banyak pasien,” ujarnya dan aku merasa bodoh dengan jawaban ‘itu banyak.’

 “Sesuai janjiku. Aku membawakan untukmu.” kemudian Ollyne merogohkan tangan ke dalam keranjang dan memberiku sebuah toples beling yang diikat pita di sekitar penutupnya dan menampilkan 2 cupcake yang saling menumpuk dengan krim yang menyelimuti dan kelihatannya sangat menggugah meski aku bukan juri koki yang menilai presentasi dari sebuah makanan.

 “Kelihatannya enak,” kataku dan Ollyne menyuruhku makan sekarang juga sebelum kenikmatannya mencair. Aku tidak tahu apa arti dari Kenikmatan Mencair.

 Aku membukanya dan terlihat beberapa chocochips yang membentuk sebuah wajah senyum dengan dilatar belakangi krim yang berwarna putih susu dan wanginya mampu membuatmu lupa bau klinik. Aku mengambil sendok plastik mungil dan mencongkel krim beserta kuenya yang selembut kapas. Aku berancang-ancang memakannya dan Ollyne memperhatikan setiap gerak-gerikku dalam mengais cupcake dalam jar ini. Aku melahapnya dalam suapan kecil sendok mungil.

 “Enak,” kataku. komentar biasa, pasaran, serta terkesan bohong karena tidak ingin menyakiti hati teman yang telah membawakanmu.

 “Hanya itu?” tanya Ollyne, ia terlihat tidak setuju, diperjelas dengan kerutan di dahinya yang licin.

 “Mm, krimnya manis seperti es krim dan kuenya lembut dan coklatnya cair di dalam mulut,” kataku berupaya menghilangkan kerutan di dahi Ollyne.

 “Mm, baiklah. Padahal aku mengharapkan komentar semacam ‘rasanya begitu fantastis sehingga mampu membuatku lupa kalau bumi itu bulat dan malam itu gelap’. Tapi tidak masalah.” Lalu Ollyne mengempaskan punggungnya ke belakang.

 “Baiklah. Rasanya begitu fantastis bahkan menyerupai pahala yang tidak dapat dicerna dan sanggup membuatku untuk menulis kue ini sebagai salah satu berkat yang kuterima.” Dan kami tertawa. Dan aku membatin wow aku tertawa bersama Ollyne.

 “Kau menulis setiap berkat yang kau dapat setiap harinya?” tanya Ollyne dan itu mengejutkan karena itu benar. Maksudku akhir-akhir ini benar.

 “Mm, yeah. Darimana kau tahu?” Kataku, mengangkat alis dan berlagak keren.

 “Kakekmu.” Dan aku berupaya tidak berteriak Astaga.

 “Benar.”

 “Itu keren. Maksudku, aku juga mau menulis setiap berkat yang kudapat. Tapi aku tidak menemukan apa-apa saat memikirkan ‘berkat apa yang kudapat hari ini?’”

 “Sebenarnya aku juga tidak pernah berpikir dan menghitung satu persatu seperti menghitung daftar belanja. Aku hanya melihat kertas kosong dan bertanya ‘kenapa aku masih hidup hari ini?’ dan berkat itu muncul dengan sendirinya.”

 “Itu keren!” seru Ollyne dan ia antusias dengan pembahasan ini—terlihat dari cara duduknya. Aku melahap lagi kue dari sendok mungil.

 “Tidak, tidak. Billy dan Akash menganggapnya culun.”

 “Tidak, itu tidak culun! Maksudku, memang tidak banyak yang melakukan apa yang kau lakukan. Tapi itu cukup keren untuk ukuran anak kelas 2 SMA. Tidak banyak cowok yang mau repot-repot memikirkan kenapa mereka masih hidup hari itu dan itu terdengar menyedihkan bukan?”

 “Mm, aku tidak menganggap mereka menyedihkan hanya saja aku merasa—seperti—tidak seperti mereka.”

 “Memangnya kenapa kau ingin menjadi seperti mereka?” tanya Ollyne dan aku mulai terjebak dalam pernyataanku sendiri. Pembicaraan ini rumit dan aku ingin mengakhirinya dengan pembicaraan lain.

 “Tidak, maksudku tidak ingin benar-benar menjadi seperti mereka. Hanya semacam ungkapan. Ungkapan yang membuatmu ingin menjadi orang lain karena orang itu mempunyai apa yang tidak kau punya.”

 “Ungkapan manusia itu ibarat belanga rusak yang kita tabuh untuk mengiringi beruang menari, sementara kita ingin membuat kasihan bintang-bintang,” ujar Ollyne dengan nada yang menyenangkan, kurasa. Meski aku tidak menangkap maksud dari apa yang ia ucapkan. Dia sungguh intelektual dalam hal itu.

 “Maksudnya?” tanyaku akhirnya, tidak peduli terlihat bodoh atau apa.

 “Gustave Flaubert. Itu kata-katanya.”

 “Siapa?”

 “Entahlah. Aku hanya membaca kata-kata itu dari buku yang kubaca—Travelling to Infinity. Buku biografi tentang kehidupan Stephen Hawking, penemu radiasi Hawking, lubang hitam, serta menyatakan hal-hal dalam kosmologi yang menentang Tuhan karena konsep tentang Tuhan akan mengacaukan perhitungannya tentang terbentangnya Alam Semesta ini. Tapi buku ini dilihat dari sudut pandang istrinya—atau mantan istrinya, Jane Hawking. Gadis Inggris cantik yang mempelajari sastra Spanyol dan puisi-puisi indah lainnya.”

 “Aku pernah mendengar tentang Stephen. Dan kurasa dia cukup hebat untuk ukuran orang yang tidak percaya Tuhan,” kataku, berupaya tidak menjadi orang gua yang tidak tahu sejarah dunia atau tokoh-tokoh lain.

 “Apa kau suka membaca?” tanya Ollyne dan aku mengangguk sambil menyuap suapan terakhir cupcake.

 “Aku akan meminjamkanmu. Mm, hari Senin aku akan membawakannya untukmu. Aku harap kau suka karena aku juga suka. Dan mungkin ini bisa menjadi langkah awal kita dalam bersosialisasi di dalam kelas, kan?” Dan aku tidak bisa menyembunyikan perasaan gembiraku—bukan soal buku tapi soal bagaimana cara ia mengatakan ‘aku harap kau suka karena aku juga suka’.

 “Oh, tentu!” seruku.

 “Dan kalau bisa tolong bantu aku memecahkan apa maksud dari kata-kata Gustave Flaubert.” Dan ia tersenyum kecil sampai aku menyadari betapa cantiknya Ollyne malam ini. dia memakai sweater warna merah maron dan rambutnya dikuncir dan terlihat sekelebat rambut-rambut tipis mengisi ruang sisi kanan sehingga kelihatan seperti perhiasan dan ia mengenakan jins.

 “Dengan senang hati.” Kataku dan kembali memuji tentang cupcake-nya. Dan Ollyne melihat jam tangan yang tersembunyi di balik sweaternya dan aku tidak menyukai gerak-gerik itu. Itu gerak-gerik yang menandakan seseorang akan pergi dan benar saja setelah melihat jam, Ollyne berkata “Uh, aku harus pergi.”

 “Kemana?” tanyaku akhirnya. Memberanikan diri dan bertingkah seperti orang menyebalkan yang selalu ingin tahu kegiatan orang lain.

 “Mm, Semacam makan malam.” Dan itu terdengar aneh karena ia menambahkan kata ‘semacam’ di depannya.

 “Oh, oke. Cupcake-nya ‘Luar Biasa’,” kataku.

 “Uh, kau terdengar tak tulus. Tapi, aku tidak bisa makan malam dengan membawa keranjang seperti ini.” dan itu terdengar sejenis permintaan di telingaku. Jadi aku menjadi cowok yang lebih pengertian.

 “Titipkan saja padaku. Maksudku, aku akan membagikannya pada pasien yang lain besok,”

 “Apa ini merepotkanmu?”

 “Tentu saja tidak.” Ollyne memberikan keranjang itu dan berkata sambil tersenyum amat tulus. “Terima kasih.”

 Setelah itu Ollyne berpamitan sambil bertingkah kalau ia telat maka alien akan melakukan invasi ke bumi dan menghancurkan segalanya. Aku meletakkan keranjang berisi 7 toples berisi cupcake di sampingku dan tidak berniat untuk menjadi rakus dan menghabiskan semuanya. Kuenya memang enak tapi jika dimakan sendiri itu bukan rencana bagus.

 Tidak lama Lauren kembali dengan wajah kegirangan dan 2 menit kemudian mama sudah sampai diparkiran dan membunyikan klakson jadi aku berpamitan pada Lauren dan tidak lupa memberikannya 1 cupcake jar. Aku masuk ke mobil dan mama bertanya bagaimana hariku dan kubilang hariku baik seperti biasanya—dan itu terdengar seperti kebohongan putih atau kejujuran hitam.