Episode 3 - Ingatan yang Terbit di Jakarta (1)

Pagi ini, saat hampir seluruh stasiun televisi menyiarkan berita dengan narasi menyayat, degup jantungku terasa intens. Sesekali, aku melirik ponsel dan membalas pesan singkat atau surel dari teman-teman relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT); NGO yang sering kali memfasilitasiku terjun sebagai relawan.

Gempa tektonik 5,9 skala richter merontokkan rumah-rumah penduduk, bangunan-bangunan modern, serta membuat retakan di jalan-jalan. Di televisi, sendu wajah Jogjakarta menyederai hatiku. Kota puitis yang akrab memeluk pendatang itu, mengabarkan debar dan gelisah ke jantung dan pikiranku.

Hari ini, aku belum bisa menuntaskan gelisah. Keberangkatanku ke Jogjakarta baru direncanakan tiga hari ke depan. Ini berarti tiga hari yang menyiksa. Aku hanya bisa berpuas diri dengan doa, sambil berharap percepatan jadwal keberangkatan.

Pada saat bencana datang, terasa ngilu lain meninju ulu hatiku. Keumala, masa lalu yang berjaga di negeri gerbang samudera, seperti menatapku dengan matanya yang gelap-dalam. Dan, rambutnya yang berkibar menyebar wangi mawar, seolah terhidu napasku. Bisa pula kudengar suaranya, mengucapan selamat tinggal; lirih dan pedih.

Gadis cantik itu, yang jenaka dan bersenyum lebih terang daripada matahari yang pernah dan akan terbit, menguras kembali air mataku. Tak peduli asinnya berkurang, tak peduli waktu telah membentang jarak cukup panjang.

Seperti biasa, aku memikirkan kembali hal yang muskil; seandainya tak terlambat kurenggut ia dari penantian panjangnya di Aceh; seandainya aku tak sibuk dengan urusan kemapanan. Tapi, ‘seandainya’ untuk waktu yang lewat bukan lagi muskil, melainkan mustahil.

Perempuan itu telah hanyut dan tak ditemukan. Ditelan laut, lalu menjadi awan, lalu menjadi hujan yang setia menggigilkan ingatanku.

Ia suka sekali hujan. Ketika aku pulang ke Aceh, dan kebetulan hujan, ia selalu memaksaku untuk bersamanya sehujan di bawah payung. Ejeuen, Gam—masih jelas terdengar bisikannya—selalu mampu membangkitkan jiwa kanak-kanak kita. Aku menjawab dengan anggukan sekenanya. Lalu, ditutupnya payung, sebab payung terasa sempit dan hujan begitu lega. Dibiarkannya kami teduh beratap hujan.

Ia juga menyukai laut, apalagi ketika malam dengan bintang bertabur mempercantik kelam. Di Pantai Ulee yang berpagar bukit, kami duduk di trotoar yang menghadap ke arah laut. Menuntaskan secangkir kopi, sambil menyusun harapan yang lebih panjang daripada garis pantai kota itu. Aku tak menduga, hari itu adalah kali terakhir kami bertemu.

“Gam, aku mau kamu simpan ini ...”

Keumala menyerahkan kotak beludru merah.

“Apa ini, La?”

“Harmonikaku, Gam.”

“Kamu tahu, aku nggak bisa main harmonika. Untuk apa, La? Lagi pula, ini harmonika kesayanganmu, kan?”

Ia menyimpan suara, sementara laut dengan gerak santun menciptakan komposisi sunyi. Sesekali, ia membenarkan letak hijabnya yang dimainkan jari-jari angin. Sejak diberlakukan Undang-Undang Otonomi Khusus di Aceh, qanun-qanun yang mengatur tentang cara bersikap, berpakaian, bahkan beribadah dan syiar mulai diberlakukan.

Ruang geraknya menjadi semakin sempit, dan kebebasannya telah tercuri. Hukum cambuk dipertontonkan, jam malam diberlakukan. Dalam situasi tersebut, ironi tumbuh semakin subur; polisi syariah—yang gemar mengintai dengan wajah garang—terlibat kasus pemerkosaan; hijab dikenakan demi alasan keamanan melintasi jalan.

Aku tahu betul, Keumala sangat mencintai rambutnya yang indah. Tapi, lebih daripada itu, ia mencintai kebebasannya sebagai perempuan dan manusia.

 “Gam ... simpan saja dan sesekali mainkan untukku. Insya Allah aku dapat mendengarnya.”

Tersirat kepedihan dari ucapannya. Mungkin, di tengah keterbatasan geraknya, bermain harmonika dalam pertunjukan musik adalah keinginan yang terlampau mewah.

**

Masih terlalu pagi untuk mata terbuka sempurna. Seperti biasa, aku menyeduh secangkir Aceh gayo untuk mengawali hari. Ketika kunyalakan televisi, terlihat fragmen-fragmen kehancuran tanah kelahiranku. Gempa berkekuatan besar, menghancurkan Aceh.

Kuraih ponsel, kemudian kucoba menghubungi Keumala. Berkali-kali, namun alpa jawaban. Bayangan Keumala, Bentara, dan Abu Ariga mengisi penuh pikiranku, menumpahkan air mataku.

Ponselku nyaring berdering. Ternyata, di seberang adalah Abu. Suaranya terisak menanyakan kabar Keumala. Dengan menahan isak, aku mencoba meyakinkan Abu dan Ibu, serta diriku sendiri, bahwa Keumala sekeluarga akan selamat dari bencana.

Kutanyakan pula kondisi kerabat kami yang masih tinggal di Aceh, namun mereka juga belum mendapatkan kabar. Lalu, Ibu menawariku untuk berkumpul bersama mereka di Bogor. Tapi, dengan halus kutolak, takut menambah nyeri di dada mereka mengingat kondisi emosiku yang masih rawan.

Kumatikan televisi, dan kugunakan kembali ponselku untuk meraih kabar baik. Tapi rupanya, di sana, sinyal ikut ditelan bencana. Aku hanya bisa menangis sekerasnya, berdoa sebanyaknya, atau sekaligus melakukan keduanya.

Setelah emosiku reda, aku kembali menyalakan televisi. Betapa hancurnya perasaanku melihat kelam gelombang laut meringkus cerah kota. Kupukuli dinding, kubanting ponsel, dan kukutuki diriku sendiri. Begitu cerobohnya aku, sehingga terlambat menjemput kekasihku. Betinaku yang cantik, yang sabar menanti di gerbang samudera, kini hilang tanpa berjejak setapak kabar.

**

Selama seminggu yang penuh amarah dan kecewa, aku memilih tidak keluar rumah kontrakan. Aku membenci kehidupan, karena kehidupan tak lagi memiliki Keumala. Aku membenci kerja, karena segala yang kuupayakan untuknya dengan bekerja telah jadi sia-sia. Sampai akhirnya, saat arus transportasi dibuka dan tawaran menjadi relawan kubaca, kuputuskan untuk berangkat ke tanah kelahiranku.

Sampai di Aceh, kakiku yang tak sanggup tegak menopang berat kesedihan, berlutut. Inilah yang tersisa dari amuk bencana yang menggerus 800 kilometer garis pantai: bangunan-bangunan ambruk mengubur penduduk, kapal-kapal bersandar di tengah jalan, serta udara bau anyir lumpur dan busuk mayat. Betapa hancur, betapa menyayat. Sementara aku, harus mencari bagian-bagian penting dari diriku di tengah ketidakpastian dan kehancuran.

Aksi Cepat Tanggap menempatkanku di tempat pengungsian, di Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam. Di sini, relawan dari berbagai pihak (asing maupun lokal), penduduk setempat, serta tentara bergenggaman tangan, niat, dan ketulusan untuk membantu para korban. Beberapa tentara—aku menduga Australia dari loreng seragamnya—tengah membagikan air mineral di galon-galon kecil kepada warga yang panjang mengantre, dipanggang matahari.

Di bawah tenda besar yang tersusun dari bambu-bambu panjang yang menopang kain hitam tembus pandang, beberapa tentara Indonesia membagikan ratusan tumpuk karung beras kepada warga yang mengular hingga ke luar tenda. Seorang bapak tua—pundaknya memanggul beras dan jiwanya memanggul duka—menyeret langkah dengan wajah murung. Mungkin, baginya, di depan hanyalah sehampar jalan tanpa harapan.

Sejujurnya, bagiku, itu adalah pemandangan ganjil. Ketika tentara Indonesia—orang kami mengenalnya sebagai ABRI atau pa’i—terlihat luwes berbaur dan diterima oleh penduduk setempat. Aceh, daerah dengan sejarah luka yang dalam akibat ketamakan penguasa, sudah paham betul bagaimana peluru begitu murahnya dihamburkan untuk merayakan kematian. GAM dan ABRI, adalah peperangan brutal antara keinginan merdeka dan kepatuhan perintah. Perang yang pecah itu, serpihannya sungguh jauh lebih dalam melukai kami.

Kebencian terhadap pa’i, mengiringi pertumbuhan usiaku—dan sebagian besar kami. Masih kuingat, bagaimana pada 3 Mei 1999, di Kecamatan Dewantara, di simpang KKA, peluru dimuntahkan ke tubuh kerumunan warga yang tengah menuntut dipenuhinya kesepakatan, bahwa TNI tidak akan datang lagi ke Desa Cot Murong. Puluhan nyawa melayang, ratusan luka-luka, dan belasan di antara korban meninggal adalah anak-anak. Hari itu, betapa pilu menyaksikan harga nyawa seolah lebih murah daripada harga peluru.

Maka, melihat pa’i dan warga Aceh luwes berbaur, aku yakin betul kejahatan dan kekejaman terhadap manusia, hanya bisa ditaklukan oleh cinta terhadap manusia.