Episode 3 - Bagian Pertama (2)

Ganesha berjalan di kawasan Plumpang. Di seberang langkahnya, di bawah jalan layang, empat remaja peniris bensin tengah menggilir sebatang rokok. Sesekali, tawa mereka yang lepas menyela deru mesin penghalus aspal.

Ia telah menempel hampir lima puluh lembar poster. Sebenarnya, ia tak terlampau yakin kerumunan posternya bakal terbaca oleh Raslene. Karena tak lama, pasti poster-poster iklan atau debu pembangunan jalan akan menimpa seluruhnya. Ia tahu semata, betapa sia-sia upayanya. Namun, cuma upaya sia-sia inilah yang belum ia lakukan untuk menemukan atau ditemukan perempuan itu.

Gagasan menempel poster sebenarnya selalu menuai protes atau cemooh dari Rozak. Bagi Rozak, itu tindakan konyol dari seorang putus asa dan kehilangan akal. Namun, lain Rozak, lain Ganesha. Menempel poster, bagi Ganesha, adalah kesadaran bahwa ia tak pernah kehilangan harapan.

Sejak kepergian Raslene untuk kedua kali dari hidupnya sekitar tujuh tahun silam, ia kehilangan kabar perempuan itu. Nomor ponselnya tak bisa dihubungi, dan alamatnya Ganesha tak pernah tahu. Raslene, seperti yang ia sepenuhnya pahami, selalu menyimpan rapat kehidupan pribadinya, dan Ganesha tak pernah menggugat pilihan-pilihan perempuan itu. Hal itulah yang membuat mereka terjebak dalam hubungan yang sulit dijelaskan. Setidaknya, bagi Ganesha sendiri.

Ia berhenti sebentar di hadapan poster yang sempat ditempelnya setengah jam lalu. Dipandangnya selembar kertas berdesain mirip poster pencarian orang hilang itu. Terdapat tulisan ‘DICARI’ berhuruf kapital tepat di atas foto Raslene. Pikir Ganesha, pasti banyak orang lewat yang bakal berhenti sejenak sebab terpikat oleh wajah di poster tersebut. Meskipun tak bisa dibilang sangat cantik, ada sesuatu di wajah Raslene yang sanggup membuat orang betah memandangnya. Wajah Raslene adalah bingkai dari kebetulan-kebetulan yang menakjubkan. Matanya yang mungil bersudut tajam terasa pas dibingkai bentuk alisnya yang sebenarnya agak aneh. Hidung mungilnya membuat rahang segitiganya tak tampak terlalu maskulin. Sementara giginya yang berukuran cukup besar dan tak rapi membuat senyum di bibirnya yang tak istimewa jadi berkesan. Kira-kira, itulah pendapat Ganesha.

Di bawah foto Raslene, Ganesha mencantumkan nomor ponselnya. Paling tidak, pikir Ganesha, jika ia tak juga menemukan Raslene, ia berharap perempuan itu yang menemukannya. Menderingkan ponselnya dan mengucapkan ‘halo’ dari tempat yang ia tak peduli di mana.

**

Di jalan yang sepi dari lalu lalang kendaraan, wajah Ganesha mendongak ke arah kepala lampu jalan. Tubuhnya kuyup keringat setelah jalan kaki sejauh sekitar empat kilometer dari tempatnya menempel poster.

“Selamat malam Tuan Albert,” ucapnya kepada salah satu lampu jalan. “Aku cuma mau memberi kabar bahwa aku belum menemukan Raslene, Tuan. Harap Tuan memakluminya.”

Kemudian, ia berjalan ke arah lampu jalan kedua. “Hai, Anaconda, aku harap kamu bisa sedikit bersabar. Semoga janjiku padamu untuk segera membawa Raslene ke sini bisa segera aku lunaskan.”

Ganesha menyapa kembali dua lampu jalan, lalu berdiri di hadapan salah satunya. Di bawah lampu jalan ke empat, Lisa, ia menyadari betapa Raslene selalu pandai menciptakan hal-hal yang mudah diabaikan menjadi berharga. Raslene, berhasil meyakinkan seorang Ganesha bahwa menyapa dan memberi nama pada empat lampu jalan adalah hal yang normal dan menyenangkan. Keanehan-keanehan semacam itulah yang membuat Ganesha sulit melupakan Raslene. Perempuan itu telah menciptakan dunia kecil di mana Ganesha bisa nyaman tinggal tanpa terbebani logika orang dewasanya. Ganesha mencintai Raslene, seperti ia mencintai bocah dalam dirinya.

Seperti lampu jalan, Raslene bertubuh ramping menjulang. Ia termasuk tinggi untuk ukuran rata-rata perempuan Indonesia. Isi kepalanya pun selalu terang, meski terdapat warna murung di sana.

**

Langit dan Kali Plumpang sama kelamnya. Ganesha bangkit dari duduknya. Kopinya tandas, tetapi kesedihannya belum. Setelah menyerahkan sejumlah uang kepada Mak Jamilah, pemilik warung, ia pulang ke rumah.

Rumah yang ditinggali Ganesha dan Rozak adalah bekas bengkel mobil tua yang diwariskan almarhum Bang Jali. Atas nama Tuhan yang mereka imani meskipun jarang mereka sembah, mereka bersyukur atas kebaikan hati Bang Jali. Bertahun-tahun lalu, pria paruh baya kesepian itu mewariskan mereka tempat tinggal.

Almarhum Bang Jali tak punya siapa-siapa. Dulu, sebelum kehadiran dua penyair miskin, ia hanya bisa mencurahkan isi hatinya kepada mobil-mobil rongsoknya. Bininya minggat, setelah sebuah bengkel besar yang dibangun di jalan raya mengalihkan hampir seluruh pelanggannya. Lalu, empat hari sebelum kematian akibat serangan jantung, ia yang tak bisa baca-tulis menyempatkan diri ke warnet dan meminta operator yang bekerja di sana untuk menulis surat wasiat. Akhirnya, bengkel dan seluruh isinya, mobil rongsok, serta deposit uang lima ratus ribu di warung Mak Jamilah pun diwariskan untuk dua penyair yang sudah dianggapnya anak sendiri.

Sepanjang tempuh langkah kakinya, Ganesha menjumpai sekumpulan bocah yang saling berkejaran sambil sesekali memecahkan tawa. Di tepi kanan, empat remaja tengah duduk melingkari plastik berisi minuman oplosan. Meskipun nyamuk-nyamuk menyerbu secara ganas, losion anti nyamuk yang tergeletak di dekat plastik minuman itu tak juga mereka oles, melainkan disimpan untuk diaduk bersama kopi instan kemasan gelas. Ramuan itu, biasanya dipakai buat berjaga kalau minuman oplosan yang ada tak cukup membuat mereka mabuk.

 Bau minuman sama santer dengan amis kali. Ganesha menyisi Jalan Haji Rohmat yang berdampingan dengan kali Plumpang. Jalan Haji Rohmat berseberangan dengan Pasar Ular, dan di ujung lainnya bersisian dengan depot BBM milik Pertamina. Bisa dikatakan, tak ada rumah mewah berdiri di sini. Kebanyakan dibangun seadanya dengan dinding kayu. Mungkin, rumah peninggalan Bang Jali yang punya halaman sebagai bengkel dan berdinding bata bisa dikatakan cukup istimewa.

Deretan rumah di jalan yang hanya cukup dilalui dua mobil city car itu dijeda beberapa gang sempit. Di dalam gang sempit terdapat rumah-rumah kecil yang kebanyakan semi permanen dan saling berhadap. Di dalam gang sempit terdapat juga gang yang lebih sempit dan berliku-liku bagai labirin kemiskinan.

Banyak rumah yang serupa bedeng tukang saat membangun rumah orang kaya. Jika terjadi kebakaran, maka api bisa dengan mudah melahap seluruh rumah yang ada di kawasan ini. Dalam pikiran Ganesha, jika negara pengin menggusur kawasan ini karena entah alasan apa, api adalah solusi cepat, mudah, dan murah. Kadang, Ganesha bergidik membayangkan hal itu.

Ganesha masuk ke Jalan Haji Rohmat melalui jalan sempit menurun yang berbatasan dengan depot BBM Pertamina. Itu bagian jalan tergelap, sehingga tak jarang, jika warga yang dituakan lengah, sekelompok remaja memilih mabuk atau berjudi kartu remi di sana. Kadang ngemper di dekat tanggul seperti yang Ganesha lihat sekarang, kadang di pos sederhana yang dibuat warga untuk ronda. Namun, kegiatan ronda sudah lama dihentikan. Agaknya warga menyadari bahwa kegiatan itu tak berguna. Toh, tak pernah ada maling, atau lebih tepat tak pernah ada rumah yang layak dimalingi di sini.

Jarang terjadi tindak kriminal di Jalan Haji Rohmat, meskipun banyak orang mengasosiasikan Tanjung Priok dengan kejahatan. Beberapa kali memang pernah terjadi keributan, tetapi itu cuma sesering panggung dangdut mampir. Meskipun, tak semua panggung berujung seperti itu. Satu-satunya yang meresahkan di sini adalah remaja yang jika mabuk suka berteriak dan bernyanyi kencang-kencang. Tetapi, jelas itu bukan tindak kejahatan meskipun kadang menganggu ketertiban tidur beberapa orang. Ganesha tahu, para pemuda itu ingin mabuk semata karena ingin lebih rileks menghadapi hidup mereka yang menyediakan sedikit pilihan. Cita-cita mereka kabur, dan mereka tak punya waktu untuk mengejarnya sebab mesti menyambung hidup. Senapas demi senapas, sereceh demi sereceh, seperti juga Ganesha dan Rozak.

Setelah berjalan sekitar dua ratus meter, Ganesha segera masuk ke halaman rumahnya. Ia langsung menghampiri Rozak yang tengah berbaring di dalam VW Combi tua berwarna biru telur asin yang tampak pudar dan bernoda karat. Keduanya terlihat sama rongsok dan menyedihkan.

Hampir setiap hari Rozak menghabiskan malamnya di dalam Combi. Ia selalu mengingat apa yang pernah terjadi antara ia dan Miranti, sewaktu mereka masih terikat pernikahan dan hampir selalu menghabiskan malam di dalam Combi. Ia mengingat semuanya dengan jelas, sejelas ia mengingat adegan bercinta di dalam mobil antara Rose dan Jack di film Titanic. Meskipun jelas, tak sepenuhnya sama sebab Jack tak impoten. Dan dalam pikiran positif Rozak yang jarang muncul, impotensi justru yang membuat puisi-puisinya lebih bernyawa. Setidaknya, begitu kata Bang Jali yang bernasib sama dengannya. Meskipun Rozak lebih percaya bahwa orang-orang impoten memang ditakdirkan bertemu untuk saling menghibur.

Melihat Ganesha hendak masuk ke dalam Combi, Rozak segera menghapus sisa tangis di matanya. Dirogohnya saku dan dilemparkannya sebungkus rokok kepada Ganesha untuk mengalihkan perhatian sahabatnya itu dari mata sembabnya.

“Thanks, Zak,” jawab Ganesha.

Ganesha membakar sebatang rokok, mengembuskannya.

“Thanks juga buat jasnya, Nesh,” jawab Rozak. “Tapi sejujurnya aku nggak terlalu setuju dengan gagasanmu membuang uang.”

Sebenarnya, menghadiahkan jas mampir dalam benak Ganesha saat di Pasar Senen sebab ia pernah melihat Rozak berkali-kali melihat foto Miranti dan suami barunya yang mengenakan setelan jas. Agaknya, Ganesha menyimpulkan sendiri apa yang dilihatnya dengan anggapan bahwa Rozak menginginkan jas, seperti lelaki tersebut mengangankan Miranti kembali.

“Ya, Tuhan, Zak. Kalau membeli jas membuang uang. Berarti yang kita lakukan sekarang adalah membakar uang.”

“Tolol.” Rozak tersenyum kecut. “Paling nggak membakar uang jelas lebih menyenangkan daripada membuangnya.”

Mereka asyik mengisap rokok masing-masing, sementara suara sekumpulan pemuda yang menyanyikan lagu Pesawat Tempurku milik Iwan Fals terdengar di kejauhan.

“Kamu terlihat menikmati betul rokokmu, Nesh.”

“Batang kedua untuk hari ini, Bung.”

Rozak tahu, mencetak poster-poster membuat Ganesha terpaksa harus menyisihkan sebagian besar penghasilannya minggu ini.

“Harusnya, uang yang kamu habiskan untuk mencetak poster-poster konyol itu bisa kamu gunakan untuk membeli beberapa bungkus, Nesh.” Rozak menekan bara yang hampir melahap batang rokoknya. “Zaman makin susah. Orang makin pelit. Harga makin mahal. Beda dengan dulu, Bung. Kita bisa seenaknya membuang uang demi cinta.”

Ganesha terkekeh. “Bung, aku pikir bertemu Raslene bisa menggantikan seluruh penderitaanku apabila harus hidup tanpa rokok dan mendengar cemoohmu.”

“Jangan mempuitiskan ketololanmu, Nesh. Bahkan setua ini kamu nggak bisa membedakan orang yang hilang dan yang minggat.”

Bagi Rozak, perilaku Ganesha tak mencerminkan usianya. Meskipun sama-sama mencitai perempuan yang minggat, tetapi Rozak selalu bertingkah layaknya lelaki berusia 33 tahun. Dan, ia merasa Ganesha yang usianya cuma terpaut hampir satu tahun lebih muda darinya masih bersikap kekanakan.

“Oke, maksudku, belakangan aku berpikir bahwa rokok bisa membunuh,” gurau Ganesha.

“Oh, Nesh.” Rozak mengembuskan asap kreteknya. “Kamu lupa bahwa cinta justru jauh lebih sanggup membunuh?”

Ganesha menggeleng seraya tersenyum.

“Ingat, kamu hampir mati tertabrak bus yang oleng beberapa waktu lalu saat menempel poster?”

“Tapi menurut catatanku, kematian akibat cinta jauh lebih sedikit daripada kematian akibat rokok.”

“Tapi kalau untuk kasusmu, Nesh, kalau boleh kutebak, sepertinya kamu termasuk yang mati karena cinta. Bertingkah konyol karena cinta itu mematikan, Bung. Camkan. Jadi, alangkah lebih baik kamu realistis. Habiskan uangmu untuk hal-hal yang bisa kamu nikmati.” Rozak mengembuskan asap.

“Nyatanya aku masih hidup, Bung.”

“Juga kenyataannya nggak ada kanker di paru-paruku, Nesh.”

“Berarti adil, kan?”

“Adil matamu! Kamu bertingkah konyol karena cinta, dan kamu juga nggak berhenti merokok. Kamu cuma berhenti membelinya. Tapi, kenapa cuma aku yang impoten?”

Ganesha meninju pelan bahu sahabatnya. “Demi Tuhan, Bung, belum tentu karena rokok.”

“Ya, orang bijak,” ucap Rozak, sinis, “aku cuma bercanda. Tapi yang jelas Miranti pergi karena sepertinya cinta nggak pernah cukup membuatnya bertahan dengan lelaki impoten bin mandul.”

“Zak ...” Ganesha mencoba memilah kata-katanya. “Mungkin itu hanya dugaanmu saja. Belum tentu alasannya karena itu.”

“Kamu bicara seperti itu karena belum melihat foto Miranti di Facebook. Betapa bahagianya dia bersama suami dan anak-anak mereka yang lucu.”

“Berpikir positif, Bung! Lagi pula, aku percaya cinta bukan hanya soal menghasilkan keturunan belaka.”

“Ya, Tuhan! Betapa bahagianya aku jika bapakku punya cara berpikir sepertimu. Aku nggak perlu dilahirkan, menjadi tiga puluh tiga tahun dan terjebak percakapan tolol soal cinta bersama lelaki nggak berguna di dalam mobil rongsok hampir setiap malam.”