Episode 16 - Keputusan Seorang Ayah



 Hakikat pembunuh bayaran: 

 Pembunuh bayaran adalah orang yang memantau 

 Pembunuh bayaran adalah orang yang menemukan

 Pembunuh bayaran adalah orang yang menerka

 Pembunuh bayaran adalah orang yang membaur

 Pembunuh bayaran terburuk adalah orang melankolis

 Pembunuh bayaran terbaik adalah orang munafik

 Untuk menjadi yang terburuk, jadilah manusia

 Untuk menjadi yang terbaik, bersikaplah seolah manusia

 

***


Roy mendeklarasikan bahwa Shiang Li adalah Kaisar Angin Biru. Para Eksekutor Bayangan tak kuasa menahan rasa penasaran. Apakah benar orang yang dulu sempat menggemparkan daratan itu masih hidup? Mereka mencoba menerka sendiri. Jika dipikir dari perkataan Roy, Shiang Li memang ahli memainkan pedang. Pergerakannya seperti tarian yang berhembus dengan angin. Tajam, ringan, dan cepat. Apalagi, aura chi Shiang Li berwarna kebiruan. Terlalu aneh disebut kebetulan.

Tentu, satu-satunya orang yang bisa membenarkan adalah sang tersangka, Shiang Li. Namun, jelas bagi Shiang Li tak ada gunanya menjawab. Jika Roy tahu kebenarannya lalu apa? Anaknya tak bisa hidup lagi. Amarah dan rasa dendam tak terpenuhi. Shiang Li pun hanya diam membisu dan bersiap untuk ronde kedua dalam pertarungan.

Wuussshhh!

Walau tenaga dalamnya kurang dari setengah, setidaknya ia masih memiliki jurus andalan yang bahkan bisa membunuh seluruh orang di sini. Itu adalah kekuatan penuh dari teknik Perwujudan Chi-nya, yaitu membuat seribu pedang dan mengendalikannya secara bersamaan. Jurus ini dikenal sebagai Seribu Pedang Ilusi. Sayangnya, terdapat pertaruhan di sini. Batas aman minimal untuk mewujudkan seribu pedang secara langsung adalah jika tenaga dalam Shiang Li sekitar enam puluh persen tersisa dalam Dan Tian. Jika kurang dari itu, ada dua kemungkinan. Perwujudan pedang akan kurang dari seribu atau kematian karena kehabisan tenaga.

“Saudara Li Shiang, tidak perlu terburu-buru!” Roy tak gentar padahal pedang Shiang Li sudah berjumlah lebih dari dua ratus. Walau Shiang Li tak mengakui apapun, tetapi deduksi Roy sebagai pembunuh bayaran hampir selalu tepat. Makanya, dia mengambil kesimpulan sepihak bahwa orang di depannya memang Li Shiang, Kaisar Angin Biru.

“KALAU INGIN BICARA, KATAKAN DI NERAKA!” Shiang Li mengacungkan pedangnya ke arah depan. Gerakan kecil itu bisa membuat 500 pedang chi yang sudah terbentuk mengikuti arahan. Namun, akhirnya adegan intimidasi ini dirusak.

“Dengar, kau sudah terkena racunku!” ujar Roy. Sementara Chainild yang merasa berjasa atas tugas ini terkekeh ringan, tapi ia tak berani menginterupsi dialog Roy.

Shiang Li baru sadar ada keanehan dalam tubuhnya. Aliran tenaga dalam tiba-tiba tak teratur. Ia mengingat kejadian sebelumnya, ya, saat itu rantai hijau menyerang secara bertubi-tubi. Setelah menemukan kemungkinan bahwa perkataan Roy masuk akal, ia melihat punggung tangan kirinya.

Betapa terkejutnya Shiang Li menyadari racun telah meresap cepat. Namun, ia buru-buru menahan penyebaran dengan tenaga dalam. Hal ini memperlambat aliran racun yang kini berada hampir menuju lengan atas. Merasa khawatir racun menyebar ke pembuluh darah besar di ketiak, tanpa pikir panjang, tanpa rasa sesal, dan tanpa rasa takut, Shiang Li memotong tangannya sebatas siku.

Slaassshhh! Darah segar muncrat keluar. Namun, pedarahan ini tak akan dibiarkan begitu saja. Shiang Li menotok nadi utama di lengan atas untuk memampatkan darah. Sementara pendarahan berhenti, potongan tangan yang tergeletak kian membiru dan membiru hingga akhirnya hitam total dan membusuk bagai bangkai.

Melihat kegilaan Shiang Li, bahkan Roy pun sedikit terkejut, tapi ia menjaga sikap elegan. “Saudara Li Shiang, sebenarnya aku akan memberi penawarnya jika kau bersedia pergi. Namun, kau terlau impulsif.”

“Hentikan omong kosongmu! Kalau berani segera maju!” Hardik Shiang Li.

“Bajingan! Memangnya kenapa kalau kau Kaisar Angin Biru? Sekarang dirimu hanya orang cacat bertangan satu!” Chainild yang merasa usahanya meracuni sia-sia menjadi tak sabar. Namun, bukannya mendapat dukungan, Chainild justru dimarahi.

“DIAM!” bentak Roy. 

Sontak, wajah Chainild berkedut. Ia tak tahu bahwa Roy benar-benar ingin berdamai. Yang ada dalam benaknya adalah, jika Roy membantu ditambah beberapa kombinasi serangannya bersama Barlum, maka menghadapi Shiang Li bukanlah masalah.

Tak acuh, Roy menyambung kata, “Saudara Li Shiang, pikirkan ini dengan logis. Bahkan jika kau menghabisi kami, anakmu tak akan kembali.”

“Kalau anakku tak kembali, akan kubuat kalian semua tak bisa bereinkarnasi!”

“Hahahahha...,” gelak tawa Roy meninggi. Ia seolah menemukan sisi humor dari amarah Shiang Li. “Li Shiang, Li Shiang, dari pada membuat kami tak bereinkarnasi, lebih baik pikirkan nasibmu sendiri!”

“Jadi, kau mulai turun tangan? Majulah!” Shiang Li mengira bahwa Roy akan terpancing dan ia akan mencoba bertarung satu lawan satu. Setidaknya kondisi tersebut lebih menguntungkan. Jika Shiang Li bisa menangani halangan terbesar, melawan sisa kasta Paladin adalah hal mudah. Ia yakin akan keuntungan itu karena potensi Senjata Pusakanya belum keluar sepenuhnya. Namun jika penghalang terbesar disisakan terakhir, dirinya tak yakin akan kemenangan.

Sayangnya, drama berlanjut...

“Li Shiang, bukan itu yang aku maksud. Kau tahu, berapa lusin orang yang ingin membunuhmu di dunia ini? Bahkan jika aku mati, berbagai ahli dari segala penjuru negeri akan mengincarmu!” Roy menekankan poin penting.

“Mereka diurus nanti, kau diurus sekarang!” Shiang Li kembali membuat pedang chi. Chainild, Barlum, Shadow, dan Norden -yang setengah berlutut- bersiap akan serangan. Sementara, Roy masih menunjukkan senyum elegan seolah tanpa masalah.

“Bagaimana dengan anakmu?” Ucapan Kecil dari Roy entah kenapa menghentikan sikap impulsif Shiang Li. Tak ada yang mengerti, apa yang salah atau apa yang benar pada ucapan Roy untuk saat ini. Kenapa, kenapa sebuah kalimat sederhana itu bisa melemahkan tekad menggebu-gebu dan rasa haus darah Shiang Li.

Dalam pikiran Shiang Li, kini terbesit beberapa kemungkinan untuk memaknai perkataan Roy. Ia tak tahu harus memilih yang mana, yang ia tahu, tidak, yang batinnya inginkan adalah agar Roy tak membahas ini lebih jauh. Hingga akhirnya, ia mencoba memastikan, yaitu dengan cara yang sama: Tak menjawab apapun dan seolah tekad bertarungnya telah kembali. Dengan tatapan bengis yang kali ini bukan murni dari rasa dendam, Shiang Li mencoba membuat Roy mengalihkan topik.

“Bajingan! Kubunuh kau! Sayatan Pertama: Angin—“

“Seorang adik...!” 

Cetas! Lagi-lagi. Kali ini bahkan sebuah frasa bisa menghentikan sikap menyerang Shiang Li.

“Bajingan! Kau bilang apa?”

Terjebak! Shiang Li benar-benar sudah masuk perangkap pikiran Roy.

“Kurang jelas? Bagaimana kalu begini. Li Shiang, Kaisar Angin Biru, anggota terakhir dari Sekte Angin Dewa, orang yang terkenal dengan kebengisannya, orang yang hidup hanya untuk membalas dendam, ternyata mempunyai... dua orang anak?”

Bertubu-tubi pukulan kata-kata menghantam benak Shiang Li. Ia tak pernah menyangka bahwa Roy akan bisa menerka sejauh itu. Roy seolah bisa melihat ke dalam masa lalunya, masa lalu yang selama ini ingin ia tutupi dari kedua anaknya, masa lalu yang mengubahnya sebagai monster haus darah, masa lalu yang merenggut nyawa orang-orang terkasihnya, serta masa lalu yang bisa membawa petaka di kemudian hari.

“Kau...” Shiang Li hanya bisa memberi respon kecil. Ini adalah campuran rasa khawatir, marah, serta bingung.

“Tenang, saudaraku. Aku ingin mengajukan penawaran!”

“Apa isinya?!” suara Shiang Li sedikit keras.

“Jika kau bersedia pergi dari sini dengan damai, maka aku tak akan menyebar kabar bahwa kau masih hidup. Setidaknya selama sepuluh tahun!” ujar Roy.

Ini memang tawaran baik. Namun, walau Shiang Li tengah terpojok, ia masih bisa merasa ancaman masa depan yang akan datang. Maka, ia berkata lain, “BAGAIMANA KALAU KALIAN MATI SAJA!”

“Hahaha... mau bertaruh? Jika kau mati, bagaimana nasib anak kecilmu? Jika seluruh dunia tahu bahwa Kaisar Angin Biru meninggalkan keturunan, apa yang akan menantinya di masa depan? Bisa kau bayangkan saudaraku?”

“SIALAN....!” Shiang Li berteriak lantang. Ia tak mengarahkan amarah itu pada siapapun, melainkan diri sendiri. Ia kutuk kelemahannya karena tak berdaya. Jika saja ia mengambil pertaruhan, belum tentu juga Roy bisa dikalahkan. Terlebih, walau Roy beserta anggotanya dibunuh di sini, tak menjamin bahwa infomasi tentang keberadaannya akan terkunci rapat.

Di sisi lain, bagi Roy Delsembey, ia sangat yakin bahwa Shiang Li akan mundur. Kendati dengan keunggulan di atas kertas, Roy tetap tak ingin pertarungan berlangsung lebih lama. Jika seorang Kaisar Angin Biru yang terkenal tak memberi ampun sampai mengabaikan kondisi hidup-matinya sendiri dan bertarung hingga titik darah penghabisan, maka Alactrus pasti akan mengalami beberapa kerugian besar. Terlebih, apa gunanya membunuh Shiang Li sekarang? Seandainya ini adalah belasan tahun lalu, maka Roy mungkin tak akan membiarkan Shiang Li lolos. Kepalanya bisa berharga ratusa ribu emas. Banyak sekali ahli yang ingin menghabisinya untuk balas dendam. Namun, untuk sekarang, seandainya Roy memenggal dan menunjukkan kepala Shiang Li pada orang-orang, apakah akan ada yang percaya? Cara satu-satunya untuk menaikkan harga Shiang Li adalah menyebar rumor terlebih dahulu tentang keberadaannya. Setelah dunia gempar, setelah banyak ahli yang kembali memburunya, dan setelah berbagai kematian terjadi, di situlah Roy akan jadi pihak yang tertawa paling akhir.

Usai suara teriakan yang menggelegar, keadaan ruang menghening. Walau sebagian besar orang masih bisa sekadar bicara, tetapi dialog yang terjadi adalah antara Racun Kabut Hitam dan Kaisar Angin Biru, tak ada seorang pun yang lebih superior atau sebatas menyamai level mereka.

Tiba-tiba, Roy angkat bicara, “jadi, apakah tawaranku diterima?”

“Apa kau bisa memegang janjimu selama sepuluh tahun itu?” Shiang Li melunak.

“Saudaraku, apalagi yang masih kau ragukan? Aku sudah membunuh orang yang bertanggung jawab atas penculikan anakmu, kau juga sudah membuat sebagian besar pengawalku sekarat, tadi juga aku sempat ingin memberi penawar racun.” Roy merogoh pakaian dan mengambil botol yang sepertinya penawar racun. Ia seolah ingin menunjukkan bahwa dirinya benar-benar tulus, “lihat?” Ia tunjukkan botol itu dari jauh.

“Hanya dengan itu tak bisa menjamin!”

“Huh, baiklah, akan kuberi tahu sesuatu. Racun yang kau terima sebenarnya ada dua jenis. Yang satu berasal dariku, yang kedua adalah racun alami Senjata Pusaka miliknya!” Roy menunjuk Chainild. “Racunku akan membuat benda mati melebur dan makhluk hidup membusuk. Namun racun rantai ini, akan mengendap dalam darahmu bertahun-tahun. Saat itu mulai menunjukkan reaksi, seluruh pembuluh darahmu akan mengeras, darahmu seolah kental tak mengalir dan lama kelamaan kau hanya akan mati membengkak. Namun, botol ini adalah penawarnya,” tutur Roy.

“Benarkah?” Lupakan Shiang Li akan percaya penjelasan Roy, bahkan Chainild sendiri terkejut dalam benaknya. 

“Omong Kosong! Aku sudah menghentikan racunnya sebelum menyebar!”

“Racun dari Senjata Pusaka ini tak bisa dideteksi bahkan dengan tenaga dalam kasta Mage atau Sage. Kecuali, kau benar-benar menjadi ahli racun sepertiku. Sebelum kau tersadar dirimu diracuni, racun tadi sudah masuk dengan cepat lewat pembuluh darahmu. Dan sekarang pasti mengendap entah di mana.”

“Sialan!”

“Tunggu, bukankah sudah kubilang ini penawarnya!” Botol tadi kembali disorot.

“Bagaimana kalau itu justru racun?”

“Huh, kau ini terlalu waspada. Chainild!” Roy melempar botol itu, Chainild menangkap cepat. “Lukai dirimu dengan rantai dan minum penawar itu!” tegas Roy.

“Hah, apa Ketua Besar sudah gila?” Chainild menggunjing dalam hati. Wajahnya khawatir. Keringat sedikit keluar. Bagaimana kalau dia mati? Chainild memang mengetahui kalau rantainya memiliki racun alami. Namun, efeknya tidak seperti yang dijelaskan Roy. Yang ia tahu, saat seseorang terluka oleh rantainya, maka dalam beberapa menit rasa terbakar hebat tak berujung akan merasuki luka tersebut. Dan di sini, bahkan Shiang Li telah memotong tangannya sendiri. Apa Chainild harus melakukan hal gila itu juga?

“Ketua Besar, kuharap Anda sedang bercanda...” Chainild terkekeh ringan.

“Tidak.” Singkat, tapi mematikan. Balasan Roy seolah tak memerhatikan aspek hidup dan mati. Namun, justru karena sikap tenang Roy yang elegan, Chainild malah tidak berani berkata lagi. Ia pun melukai tangannya dan meminum penawar.

“Gulk..gulk...gulk!”

“Cukup!” Roy berseru, “jangan kau habiskan semuanya!”

Tugas selesai. Namun, benar kata Roy, Chainild sepertinya baik-baik saja. Tak ada masalah pada tenaga dalamnya. Entahlah dengan pengendapan dalam darah, yang jelas kini ia lega. Botol dengan sisa penawar pun dilempar ke arah Shiang Li.

Hap! Shiang Li menangkapnya.

“Jadi, saudaraku. Jika aku ingin membunuhmu sekarang, untuk apa repot-repot memberimu penawar?”

Shiang Li masih ragu. Namun, setelah semua pertunjukkan, setelah semua bujuk rayu, dan setelah semua tekanan, tak ada pilihan baginya selain memercayai perkataan Roy. Gulp! Ia meminum sisa cairan penawar racun.

“Kau...” Shiang Li menunjuk Roy dengan pedang, “sepuluh tahun dari sekarang, jika kurang dari itu maka orang yang kucari dan kubunuh pertama adalah dirimu!”

“Aku akan menepati janji!” Roy tersenyum licik.

Perang berakhir, tidak, mungkin bisa dikatakan gencatan senjata sementara. Shiang Li berjalan ke salah satu sudut ruangan hendak mengambil sarung pedang. Ia melewati Norden yang berlutut dan lima ahli pedang yang terkapar. Sekarang, Shiang Li bahkan tak menganggap mereka sebagai ancaman. Selain karena gencatan senjata, itu juga karena kondisi. Seandainya salah satu saja dari mereka berani ceroboh dan menyerang, maka di situlah tempat mereka dikubur.

“Tuan Shiang!” Sebuah suara terdengar dari pintu masuk yang sudah hancur. Itu adalah Ge Yan dan Han Bing. Mereka datang terlambat dengan sedikit luka dangkal pada tubuh. Sepertinya ada lawan cukup tangguh di luar sana.

Semua orang melirik sumber suara. Sikap santai yang sempat terjadi, berubah lagi menjadi waspada. Benar memang, saat kedua orang itu menyelidik setiap sudut, yang terpampang adalah kekacauan besar. Bukan itu yang terpenting, tetapi Shiang Li, dia kehilangan tangan kirinya. Sontak, Ge Yan dan Han Bing naik darah dan siap bertempur. Mereka memanggil Senjata Pusaka dari dalam jiwa.

“HENTIKAN!” bentak Shiang Li.

“Tuan Shiang, kenapa?” Ge Yan terheran. Bukankah seharusnya Shiang Li datang untuk membantai?

“Kubilang, HENTIKAN!” Kedua kalinya dibentak, mereka melunak. Memang, tugas mereka adalah mengawal Shiang Li. Jika ia kehilangan niat untuk bertarung, maka tak ada gunanya juga mereka melawan musuh yang bahkan bukan benar-benar musuh.

“Kita pulang!” imbuhnya.



Kolom penulis:

Kan dari 12 Eksekutor Bayangan masih ada beberapa yang belum bernama. Ane mau minta saran nama gaya Romawi atau Inggris zaman kerajaan yang enak didengar.


>6 Ahli Pedang (Norden Archid, Zartos Devos, A, B, C, D)

>Duo Kapak (Max Gordon, E)

>Duo Penyihir (Chainild, Barlum)

>Duo Petarung Jarak Dekat (Claudio, Shadow)

Nah, tulis di komentar saran nama yang ada huruf alfabet...

Misal: A: Ucok, B: Sule, C: Parto, D: Komeng, E:Tukul 

Note: namanya laki-laki semua ya ?