Episode 15 - 12 Eksekutor Bayangan vs Shiang Li



“Saudaraku, kalau kau bersih keras ingin membuang nyawamu, maka para pengawal pribadiku siap mengabulkannya!”

Dua belas pengawal pribadi Roy. Mereka dijuluki Eksekutor Bayangan. Sepuluh orang adalah petarung kasta Paladin. Dua orang sisanya adalah penyihir kasta Wizard. Bukan hanya itu, masing-masing dari mereka menggenggam Senjata Pusaka yang telah meresap ke dalam jiwa. Enam orang menggunakan pedang. Dua orang memiliki kapak, yang satu kapak tunggal besar, lainnya kapak kembar kecil. Satu orang mengenakan cakar tangan. Satu lagi menggunakan sarung tangan besi dengan tiga duri tajam di ruas jari. Sementara untuk dua orang penyihir, yang satu memiliki rantai hijau tajam yang melilit perut dan kedua tangan. Sementara, penyihir terakhir memiliki kendi sebesar perut yang ia gendong miring.

“Aku serahkan pada kalian!” Roy berjalan menjauh menuju singgasananya untuk menonton pertunjukan.

“Ketua Besar, serahkan pada kami! Kami tak akan mengecewakanmu!” Salah satu dari mereka menjawab. Ia adalah sosok yang dianggap pemimpin Eksekutor Bayangan, Norden Archid. Ia juga salah satu dari enam pendekar pedang dalam kelompok itu.

“Orang bodoh, kalau kau sayang nyawa, sebaiknya menyerah saja!” Pemegang cakar tangan, Claudio, mencela.

“Hahaha, walau pun kami satu kasta lebih rendah darimu, jangan kira kau bisa mengalahkan kami!” Pemegang kapak besar, Max Gordon, mengimbuhi.

“Sepertinya kau bahkan tidak mempunyai Senjata Pusaka? Hahaha, orang bodoh yang cari mati.” Penyihir pengendali rantai, Chainild, juga meremehkan Shiang Li.

“Saudara Chainild, bagaimana pun lawan kita adalah kasta Pahlawan.” Penyihir pembawa kendi, Barlum, mengingatkan.

“Ya, benar, lebih baik kita tidak meremehkan!” Norden menengahi.

“Omong kosong! Kita sudah pernah membunuh dua kasta Pahlawan sebelumnya.” Zartos, orang nomor dua dari enam ahli pedang dalam Eksekutor Bayangan mencibir.

Di bawah tekanan besar dan kekalahan jumlah, Shiang Li masih terlihat beringas. Matanya menunjukkan hawa membunuh yang luar biasa. “Bocah,...” Shiang Li menegur pangeran budak, “sebaiknya kau cari tempat aman!”

Bahkan, walau pangeran budak bukanlah anaknya, Shiang Li masih cukup peka terhadap anak kecil. Pangeran budak yang sudah bergidik ngeri menerima saran itu. Ia mengingat gadis seumurannya yang sempat naik tangga. Tanpa pikir panjang, dengan langkah sempoyongan, ia kabur dari tempat ini yang nantinya akan menjadi medan perang.

“Ketua Besar, apa perlu kita urus bocah itu?” Norden bertanya ragu.

“Tak usah!” Roy membalas santai.

Merasa anak kecil itu sudah aman, Shiang Li segera membuka serangan, “Sayatan Pertama: Angin Tajam!”

Syuuuss! Syuuus! Syuuus!

Hanya dengan membuka sedikit pedangnya, belasan sayatan angin cepat menerjang para Eksekutor Bayangan. Saking cepatnya, bahkan tindakan menghindar tidak mungkin dilakukan. Pilihan terakhir adalah bertahan menggunakan dinding aura. 

Sayatan angin menghantam dinding aura mereka, sebagian diredam, sebagian dipentalkan. Angin yang terpental menerjang benda lain secara membabi buta. Lantai, atap, tembok, meja, rak, dan perabotan lain terbelah rapi. Sementara, angin yang diredam tak semata-mata musnah, kekuatan sayatan itu mampu membuat hampir seluruh Eksekutor Bayangan luka dalam ringan.

Setelah serangan pembuka mereda, “CLAUDIO!” Norden memberi isyarat.

Claudio paham dan menggunakan teknik langkahnya mendekati Shiang Li. Walau tak secepat Langkah Komet Biru, tapi bagi rata-rata kasta Paladin, kecepatan Claudio tak bisa dianggap remeh. Dia sudah berada di depan Shiang Li. Instingnya mengatakan bahwa, tidak boleh pedang di tangan orang ini tercabut sepenuhnya. 

Syaaat! Satu cakaran mengarah ke posisi kepala, namun Shiang Li mengelak cepat. Claudio tak berhenti, ia berpindah ke titik buta Shiang Li dan kali ini mencoba mengincar punggung. Syaat! Satu serangan lain diluncurkan, namun hanya menyentuh udara. Ternyata, Shiang Li juga mengikuti permaian kecepatan. Tanpa sadar, Claudio yang kini dibokong. Shiang Li mencoba mengeluarkan lagi Sayatan Pertama: Angin Tajam. Posisi sudah bagus, pernapasan sudah diatur, hanya tinggal mengarahkan sedikit tenaga dalam ke tangan. Bisa dipastikan, jika serangannya berhasil dalam jarak sedekat ini, Claudio akan langsung tewas. 

Sayangnya, ini pertarungan dua belas lawan satu. Sebuah kapak kecil tengah meluncur cepat mengincar Shiang Li. Claudio ternyata hanya pura-pura lengah agar Shiang Li terjebak. Shiang Li merasa keadaan memburuk, ia membatalkan jurus Angin Tajam dan berfokus pada Langkah Komet Biru. Sekali lagi, serangan yang mengincarnya hanya menyentuh udara. Atau itulah yang dikira, tetapi sebenarnya pipi kanan Shiang Li sedikit tergores.

Di saat Shiang Li sudah berpindah posisi pada daerah aman, ternyata Max Gordon sudah memperkirakan tempat ia akan berpijak. Max Gordon sedang melompat menggenggam kapak besar di udara dan hendak melepas jurus dahsyat. Shiang Li mati langkah, dan berpikir untuk bertahan. Sedikit bilah pedang Shiang Li yang terbuka akan segera bertemu dangan kapak sebesar meja makan.

“Hantaman Halilintar Kuning!” seru Max Gordon. Seluruh kapaknya diselimuti aura cahaya petir.

Duuummm! Adu tenaga dalam pun terjadi. Jika situasi keduanya normal, maka Max Gordon pasti kalah. Namun, kali ini Shiang Li bertahan tanpa menggunakan satu jurus pun. Ia hanya meningkatkan aura tenaga dalamnya dan menahan hantaman kapak dengan pedang. Sementara Max Gordon menyerang menggunakan jurus mematikan. Setidaknya serangan ini cukup membuat Shiang Li kewalahan.

Jedaaar! Petir dari kapak terus menyambar. Seluruh ruangan bercahaya. Lantai yang dipijaki Shiang Li retak hebat. Shiang Li pun terlihat semakin berlutut. Apalagi, enam orang ahli pedang sudah merangsang maju dan hendak menghabisi Shiang Li yang sedang terdiam. Merasa tertekan, Shiang Li meledakkan dua puluh persen tenaga dalamnya keluar tubuh. Duuumm! Hal ini membuat Max Gordon terpental. Enam ahli pedang pun terhenti sejenak melindungi diri dari lonjakan energi kasta Pahlawan.

“Hyaaaaah!” Shiang Li berteriak keras. Rambutnya terlihat mengambang karena lonjakan kekuatan. Dia juga memanfaatkan kesempatan ini untuk menarik seluruh pedangnya dari sarung.

Namun, perbuatan itu jelas tak mungkin dibiarkan Norden. Bersama lima ahli pedang lain, Norden segera menekan Shiang Li. Setidaknya, setelah serangan pertama Shiang Li tadi, norden menyadari bahwa pedang Shiang Li adalah Senjata Pusaka. Dan tingkatannya pun cukup tinggi. Maka dari itu, saat ini, Norden tak akan membiarkan potensi penuh dari pedang itu bangkit. 

Tlang! Adu pedang pertama terjadi.

“Sangkar Burung!” Seru Norden. Itu adalah sebuah isyarat pada lima ahli pedang lain untuk bertarung dalam formasi tertentu.

Ting! Tlang! Ting! Tlang! Hantaman kedua hingga kelima terjadi. Shiang Li dikepung dari segala penjuru. Setiap musuh benar-benar mengincar organ vital. Bukan hanya itu, bahkan mereka tak membiarkan Shiang Li mengeluarkan satu jurus pun dengan dampak besar. Bisa dikatakan, kali ini yang terjadi adalah adu pedang murni. Walau ada sedikit adu tenaga dalam yang diarahkan pada masing-masing pedang. Namun, setiap orang tak bisa menggunakan jurus andalan dalam keadaan ini. Setidaknya butuh kuda-kuda dan beberapa tarikan nafas dalam mengeluarkan jurus berdampak besar. 

Adu pedang terus terjadi, entah berapa ratus dentingan yang sudah terdengar. Shiang Li seolah terpojok, musuhnya mencoba menguras stamina dan mengunci pergerakan. Namun, walau begitu, cara Shiang Li memainkan pedang masih terlihat indah. Ia seperti menari bersama pedangnya. Walau dia dipaksa berjungkir balik, atau melompat ke sana-sini, tetap saja celah kelengahan tak terlukis dalam teknik pedang Shiang Li. Bahkan, jika ini adalah murni adu pedang tanpa tenaga dalam sedikit pun, bisa dipastikan tak ada yang mampu bersaing dengan Shiang Li dalam ketangkasan berpedang.

Dalam situasi ini, pemegang senjata tipe lain tak bisa banyak membantu. Jika ada yang ikut bertarung dalam formasi Sangkar Burung yang dikhususkan untuk ahli pedang, maka formasi ini malah akan rusak, dan Shiang Li justru bisa kabur. Satu-satunya bantuan yang bisa diberikan adalah dari penyihir. 

“Saudara Chainild, kau tak memberi mereka bantuan?” ujar Barlum, penyihir pembawa kendi. Ia duduk melayang dengan pentagram khusus terbentuk sebagai alasnya.

“Hahaha, bukankah menonton dari sini lebih menyenangkan? Kalau soal bantuan, kau juga belum melakukan apa-apa, kan?” Chainild menanggapi. Dia juga tengah melayang di udara. Hanya saja, dia mengambil posisi berdiri.

“Jangan begitu, aku harus melindungi Ketua Besar jika terjadi sesuatu yang di luar dugaan. Oh, ya, bagaimana dengan Shadow, dia juga masih menganggur.”

“Cih, siapa yang peduli dengan si bisu itu!” Chainild menatap sebuah sudut di bawah. Di sana berdirilah seorang pria dengan tudung yang menutup kepala. Ia menggunakan Senjata Pusaka berupa sarung tangan besi. Namannya adalah Shadow. Entah itu julukan atau nama asli, yang jelas, namanya sangat cocok dengan sifatnya yang pendiam dan misterius. Apalagi, dia salah satu dari 12 Eksekutor Bayangan, hal ini membuat nama Shadow semakin dan semakin pas.

Merasa ada tatapan tidak menyenangkan, Shadow menatap balik Chainild. Tatapannya begitu dalam dan tajam. Namun, kesan itu seolah meremehkan Chainild. Dulu, mereka pernah beberapa kali berselisih. Hingga sekarang, baik Chainild maupun Shadow tak ada yang mau berdamai. Jika Chainild diibaratkan sebagai ombak yang selalu bersuara, maka Shadow adalah karang kukuh yang tak akan tergerus. 

Ya, walau 12 Eksekutor Bayangan adalah kelompok solid. Namun, di dalamnya masih terbagi-bagi menjadi kelompok kecil. Enam ahli pedang, duo kapak, duo penyihir, dan duo petarung jarak dekat. Untuk yang terakhir, bisa dibilang mereka terpisah. Claudio adalah orang yang bisa membaur, maka dari itu dia bisa bekerja sama dengan yang lain. Sementara, Shadow adalah orang yang tertutup, hanya sedikit dari seluruh kelompok yang benar-benar dapat sinkron dengannya. Namun, jika kedua belas orang ini bertarung satu lawan satu, maka Shadow bisa menempati peringkat tiga besar.

Kembali pada pertarungan. Shiang Li terus ditekan oleh enam ahli pedang. Norden dan Zartos sering kali hampir mengenai titik vital, tetapi karena pengalaman dan insting Shiang Li, dia selalu bisa menghindar pada saat-saat terakhir. Kedua belah pihak sama-sama buntu. Shiang Li juga tak bisa membuat luka fatal pada musuh-musuhnya selain beberapa goresan dangkal. Mereka saling melindungi depan-belakang, kanan-kiri, dan atas-bawah. Sehingga hampir mustahil untuk membuat salah satunya cedera serius. Jika ini terus berlanjut, Shiang Li hanya akan kelelahan dan membuka celah bagi musuh.

Sebenarnya, bisa saja Shiang Li melakukan hal yang sama seperti melawan Max Gordon, yaitu meledakkan tenaga dalamnya ke luar tubuh. Dapat dipastikan, keenam ahli pedang tersebut akan terpental jauh. Namun, setelah melawan Anaconda Pembising, melakukan beberapa jurus, dan juga digempur kelompok Eksekutor Bayangan, tenaga dalam Shiang Li tersisa enam puluh persen. Jika dia menyia-nyiankannya untuk meledakkan tenaga dalam, maka akan sulit baginya dalam melawan Roy beserta sisa Eksekutor Bayangan.

Untungnya, situasi seperti ini bukanlah hal baru bagi Shiang Li. Bahkan jika para musuh tak membiarkan dia mengeluarkan jurus andalan, Shiang Li masih punya cara melakukannya. Secara umum, jurus yang berdampak besar memerlukan kuda-kuda, waktu mengalirkan energi, dan beberapa tarikan nafas. Jika seorang ahli digempur sana-sini, jelas sulit untuk mengeluarkan teknik itu. Namun, Shiang Li bisa menyicilnya. Walau digempur, napas Shiang Li masih setenang air, setiap posisi geraknya seluwes angin, dan caranya mengalirkan tenaga dalam selancar sungai.

Satu pedang dari Perwujudan Chi terbentuk secara tiba-tiba. Keenam ahli pedang terkejut, mereka tak menyangka Shiang Li dapat melakukan Perwujudan Chi dalam situasi terpojok. Bukan hanya itu, pedang chi tersebut langsung menari mengikuti irama Shiang Li. Sekarang, keenam ahli pedang seolah berhadapan dengan dua orang musuh.

Pedang kedua terbentuk. Dari sini, keseimbangan pertarungan sudah mulai goyah. Keenam ahli pedang yang tadinya saling melindungi kanan-kiri, depan-belakang, dan atas-bawah, terkadang harus membiarkan temannya tanpa perlindungan untuk menyelematkan diri sendiri dari sabetan pedang chi. Namun, cedera parah belum dialami siapapun.

Empat pedang terbentuk. Shiang Li menjadi semakin susah ditangani. Ia mulai bisa menggores orang-orang seperti Zartos dan Norden yang mana tadinya mereka sulit disentuh. Delapan pedang terbentuk, tidak, jumlahnya berkurang menjadi enam. Ternyata, dua pedang yang awa-awal terbentuk tak kuasa menahan gempuran Senjata Pusaka. Namun, alur pertarungan mulai goyah. Kali ini, yang tampak terpojok adalah enam ahli pedang.

Di sisi lain, para penonton mulai panik. Mereka mengerti bahwa cepat atau lambat Shiang Li akan berhasil lolos dari formasi Sangkar Burung. “Chainild, ambil ini!” Roy melempar botol kecil ke atas.

Melihat itu, Chainild menangkapnya dengan mantap. Ia menyelidik pada botol hingga akhirnya sesuatu disadarinya, “Ketua Besar, ini... racun?” 

“Gunakan itu,” jawab Roy cepat.

Bibir Chainild merekah, ia paham apa yang harus dilakukan. Ia pun melempar botol itu lalu dengan cepat menghancurkannya di udara dengan rantai-rantai tajam.

Pyaaar!

Tetesan racun cair membasahi rantai Chainild. Aura hijau yang memendar dari rantai seolah mengonsumsi sejumlah energi baru. Namun, tak semua racun terserap sempurna. Beberapa tetes ada yang jatuh ke lantai. Saat terkena lantai, efek korosif hebat membuat lantai berlubang dan berasap.

Shiang Li telah membuat dua puluh pedang. Kali ini, bahkan jika enam ahli pedang ingin melindungi temannya, mereka tak punya kesempatan untuk itu. Ya, mereka harus memikirkan keselamatan nyawa sendiri terlebih dahulu.

“Gawat!” Norden berkeluh dalam batin. Ia tahu jika ini berlanjut, sisinya lah yang akan terbantai. “Ubah formasi, Jaring Energi!” seru Norden. Sontak, perintah itu membuat keenam ahli pedang menjauh beberapa langkah dari Shiang Li. Mereka mencoba mengeluarkan teknik gabungan yang mana nantinya akan menuntut Shiang Li menghabiskan tenaga dalam untuk bertahan. Setiap Senjata Pusaka sudah mengakumulasi energi dalam jumlah besar, yang tersisa tinggal pengambilan kuda-kuda dan pelepasan jurus.

Sayangnya, mereka tidak tahu bahwa inilah kesempatan yang ditunggu Shiang Li. Sebelum formasi Jaring Energi dilepaskan, dalam waktu satu tarikan nafas, Shiang Li akan mengeluarkan jurus lain. Lengan kanannya memutar di ketiak kiri, dia akan segera menyabet pedang ke segala penjuru. “Sayatan Kedua: Bulan Sabit!”

Zingggg! Sebuah angin biru melesat ke segala penjuru seperti bulan sabit. Angin ini bahkan lebih tajam dari silet. Para ahli pedang tak percaya, bagaimana bisa Shiang Li menggunakan dua teknik dalam waktu bersamaan? Namun, begitu melihat bahaya yang datang, secara refleks, energi yang tadinya akan digunakan untuk menyerang, kini terpaksa digunakan untuk bertahan. Masing-masing dari enam ahli pedang menempatkan senjatanya lurus menyamping untuk melindungi tubuh mereka dari sayatan. Kedua tangan juga digunakan untuk menahan pedang agar daya hantam tak membuatnya lepas.

Duuummm! Enam orang yang menahan energi besar terpental menjauh. Bahkan, dibandingkan Max Gordon yang terpental karena entakkan tenaga dalam, keenam orang ini mengalami situasi lebih parah. Walau bagian vital berhasil terlindungi, namun sayatan dalam bisa terlihat di sisi samping tubuh mereka. Juga, dapat dipastikan setiap orang mengalami luka dalam cukup serius.

Chainild yang melihat posisi kemenangan berbalik, mengambil inisiatif untuk ikut bertarung. Sebelum Shiang Li membenarkan keadaan tubuh, belasan rantai hijau tajam melesat ke arahnya. Shiang Li pun mempersiapkan teknik Percepatan Diri.

Jedar! Jedar! Jedar! Rantai-rantai yang melesat hanya menabrak lantai, tetapi sisanya masih mengincar Shiang Li yang berlari melingkar. Dalam sudut mata Shiang Li, ia melihat Claudio dan Shadow memantau situasi. Ia pun bersiap untuk beradu senjata, tetapi lawannya itu malah menjauh. Mereka seperti tak ingin terlibat pertempuran.

Yang Shiang Li tak tahu adalah, Shadow hanya tak ingin membantu Chainild, sedangkan Claudio khawatir tergores rantai kawannya sendiri. Ia yang mengetahui kengerian rantai itu hanya kembali memantau pada jarak aman. Namun, situasi ini malah menguntungkan Shiang Li. Dengan pedang chi-nya yang terus bertambah menjadi seratus, kini ia mengarahkan serangan pada tiga orang, Shadow, Claudio, dan pemegang kapak kembar yang sebelumnya sempat menggores pipinya.

Pedang chi meluncur, di saat bersamaan, Shiang Li mengambil inisiatif untuk memijak rantai yang terus menggempurnya. Tap! Tap! Dengan sentuhan ringan dan cepat, ia menuju posisi Chainild. Namun, sebagai seorang penyihir, Chainild telah mempersiapkan mantra yang akan aktif jika seseorang menapak atau sekedar menyentuh rantainya. Itu adalah mantra yang akan menyalakan api hijau beracun di sekujur rantai.

Wuusshh! Rantai terbakar. Shiang Li pun terkejut dan langsung melompat dari rantai. Saat di udara, dari sisi kanan, Shadow juga melompat. Kedua sarung tinjunya sudah diselimuti aura ungu yang berwujud kepala serigala. Jurus ini tentu diarahkan pada Shiang Li. Walau Shadow tak ingin membantu Chainild, tapi fakta bahwa Shiang Li mencoba menyerangnya sudah cukup untuk membuatnya turun tangan. Sebagian pedang Shiang Li yang mengincarnya sudah musnah, sedangkan sebagian lagi masih membuntut.

Sekilas, Shiang Li seolah mati langkah di udara. Pukulan Shadow menanti di kanan, rantai hijau menanti di serong kiri. Namun, pada saat terakhir sebelum Shadow menghempaskan pukulan dan sebelum rantai Chainild menusuk, ternyata kaki Shiang Li menapak ringan di udara, membuatnya bisa melompat lebih tinggi.

Tentu, para penyerang terkejut. Bagaimana mungkin Shiang Li bisa seolah terbang padahal dirinya hanya berada pada kasta Pahlawan? Jika yang mereka lawan adalah kasta Maharaja, wajar saja menghindari serangan di udara begitu mudah karena mereka dapat terbang. Sebenarnya, Shiang Li hanya mengumpulkan udara di sekitar dalam satu titik dan sejenak membuatnya memadat. Udara yang memadat itu kemudian dijadikan pijakan untuk dia menghindar. Ini adalah salah satu keahlian khusus Shiang Li.

Saat Shiang Li sudah aman, saat itu pula rantai Chainild akan menusuk Shadow. Namun, Shadow yang tadinya mempersiapkan pukulan untuk Shiang Li, akhirnya malah digunakan untuk mementalkan serangan Chainild. Pukulannya memunculkan wujud kepala serigala yang menerjang untaian rantai. Gelombang kejut dari pukulan itu cukup untuk menghampiri tempat Chainild melayang, tetapi ia berhasil berlindung. Sontak, ini membuat kesan bahwa Shadow sengaja mencelakainya.

“Kurang ajar!” Geram Chainild menatap Shadow yang mulai turun diikuti belasan pedang chi.

Kendati Chainild marah, tetapi kehadiran Shiang Li masih menjadi momok. Terlebih, saat ini dia sudah mengambil ancang-ancang untuk mengeluarkan suatu jurus, “Sayatan Ketiga: Tornado!”

Wuuuusshhh! Angin biru yang berputar-putar keluar dari pedang Shiang Li. Segala hal yang ditemuinya pasti akan terbawa masuk ke dalam putaran tanpa henti. Namun, Angin ini tidak mengincar Eksekutor Bayangan, melainkan Roy. Arahnya sudah sangat jelas menuju singgasana Roy.

“Gawat!” Barlum yang sejak tadi hanya mengawasi pertarungan akhirnya bereaksi. Ia membuka tutup kendi miliknya dan berseru, “seraplah, Kendi Tanpa Batas!”

Wuuuusshhh! Tak bisa dipercaya. Angin tornado yang tadinya mengincar Roy langsung terserap menuju kendi yang besarnya tak seberapa. Kendi milik Barlum memang terkenal bisa menyerap segala macam kekuatan. Namun, walau namanya adalah Kendi Tanpa Batas, tetap saja ada batasan seberapa banyak energi yang bisa diserap. Hanya saja, yang membuat batasan tersebut adalah Barlum sendiri bukan kendinya. Saat benda ini menyerap kekuatan luar, benda ini juga akan menyerap kekuatan Barlum sebanyak sepersepuluh dari besarnya kekuatan luar yang diserap. Bisa dibilang, ini adalah pedang bermata dua, walau kerugian pengguna tidak terlalu besar.

Serangan Shiang Li dinetralkan. Ini adalah kerugian cukup besar baginya. Saat ini, tenaga dalamnya sudah di bawah lima puluh persen. Saat ia hendak turun, lagi-lagi rantai-rantai hijau mengincar. Shiang Li pun berkelit dan berputar di udara karena tak ada cukup waktu untuk memadatkan udara.

Tap! Shiang Li mendarat aman, atau itulah yang dikira, karena ia belum sadar bahwa sedikit goresan dari ujung rantai mengenai punggung tangan kirinya. Pandangan Shiang Li menyapu sekitar. Dari 12 orang Eksekutor Banyangan, yang bisa melanjutkan pertarungan hanya tiga orang. Duo penyihir beserta Shadow. Untuk Claudio dan pemegang kapak kembar, mereka berhasil terserang pedang chi Shiang Li dan mengalami luka cukup parah. Namun, Norden juga bisa dikatakan masih dapat bertarung jika ia memaksakan diri.

“Hahahahah...!” Tiba-tiba suara tawa terdengar. Itu... itu adalah tawa Roy. Entah apa yang membuatnya tiba-tiba terlihat sangat senang. Sontak, beberapa orang yang masih sadar pun terkejut dan merasa aneh, begitu pula Shiang Li.

“Apa yang lucu?!” hardik Shiang Li.

“Tidak... tidak ada yang lucu. Aku hanya baru menyadari siapa dirimu sebenarnya. Teknik pedang yang seolah menari dengan angin, Perwujudan Chi yang bisa membuat banyak pedang, dan juga Senjata Pusaka hebat yang kau genggam. Kalau tidak salah kau adalah Kaisar Angin Biru, Li Shiang. Benar, kan?” 

Seluruh orang yang mendengar tak habis pikir. Mereka semua tahu siapa itu Kaisar Angin Biru. Namun, yang membuatnya aneh adalah rumor menyebutkan bahwa Kaisar Angin Biru telah mati belasan tahun lalu. Bagaimana mungkin tiba-tiba sosok itu berdiri di depan mereka sekarang....?



Kolom Penulis:

Jadi, setelah saya meminta pendapat teman tentang urutan Kasta Penyihir, saya memutuskan untuk menghilangkan Kasta Witch dan menggesernya dengan Wizard. Sementara, posisi Kasta Wizard digeser dengan Kasta Arch Wizard. Perlu dicatat bahwa perubahan ini tidak mengubah jalan cerita. Hanya sistem kastanya saja yang diganti.

Jadi, ada sedikit revisi di episode 8, 9, dan 15.

Pengumuman ini juga akan ditempel pada episode yang bersangkutan. 

Terimakasih!