Episode 16 - Sarasvati Atau Taki?



Secepat kilat, Ganesha melemparkan gada emas yang digenggamnya erat-erat. Api Goro yang menyapu barikade penonton ternyata kurang awas dalam mengantisipasi gada tersebut. Terang saja sang gada emas sukses melewati gas panas itu dan kian dekat dengan si penyembur api. 

Ganesha yang tiada bekal lagi guna mempertahankan diri terpaksa mengambil langkah mundur. Sedikit demi sedikit, partikel sebesar debu mulai terangkat dari tubuhnya. Berwarna putih berkilauan, fokus penonton sontak terbagi menjadi dua. Sebagian sibuk menyanjung betapa indahnya momen kepergian Ganesha, sebagian lagi tak kuasa mengalihkan pandang dari gada emas yang terus terbang.

“Duel yang tak terbayangkan.” Jackal berucap. 

“Maksdumu?” Arya menyahut.

“Akan ada banyak kejutan.”

Berjarak lima jengkal dari targetnya, tiba-tiba gada emas yang mulanya seukuran sumpit langsung membesar, ukurannya kembali seperti semula.

BRAK!

“GROAAHH!!!”

Benda berat nan berbahaya itu terpental membentur batang leher Goro. Sang naga pun akhirnya terseret ke ujung gelanggang, napas apinya seketika padam. Momen tersebut bertepatan dengan lenyapnya Ganesha dari arena.

Penonton berteriak-teriak kegirangan. Bagaimana tidak? Mereka telah menyadari kalau kaki naga yang katanya paling ganas itu perlahan-lahan mulai gemetaran. Lagi dan lagi, Goro terus dipermalukan di kediamannya sendiri.

“Luar biasa! Sangat hebat!” teriak Arya. “Gadis itu bahkan tidak menyentuh Goro sampai saat ini.”

“Sekarang Anda bisa menebak siapa yang akan kalah di pertandingan ini?” Jackal bertanya.

“Entahlah. Pertarungan ini serasa membodohi pikiranku. Awalnya kukira akan selesai dalam waktu singkat hanya karena si laki-laki bernama Taki itu terlihat lemah,” tutur Arya. “Pada saat itu aku begitu yakin kalau si gadis bersari akan menjuarai pertandingannya. Akan tetapi, sekarang Taki justru tidak terlihat sama sekali. Dan, si gadis juga sering terancam bahaya. Bukankah keduanya terkesan saling bertukar nasib?” 

“Mereka hanya saling mempertaruhkan strategi. Dalam duel tiga pihak; pihak pertama, pihak kedua dan pihak netral yang tak lain adalah Goro, dibutuhkan kepiawaian dalam membaca situasi. Bilamana ada pihak yang hanya mengandalkan nafsu serta ambisi, maka bisa dipastikan kalau pihak musuh dan pihak netral akan menjadi ancaman baginya. Dengan kata lain, bertarung sekaligus berkelit merupakan pilihan mutlak.”

Di tengah meriahnya sorak semangat para penonton, Goro tampak beringsut untuk menyemburkan api pengejutnya lagi. Namun, belum penuh tarikan napas naga itu, tiba-tiba dia tersedak dan meludahkan sejumlah bara api hitam.

“Sungguh biadab!” Suara Goro seketika menjadi berat dan serak, hampir-hampir seperti derak kayu yang baru dipatahkan. “Bukan seperti ini caranya memperlakukan pemilik gelanggang.”

“Kau sendiri yang memaksaku.” Sarasvati langsung menimpali.

Goro tiba-tiba menyeringai. Taringnya yang tanggal begitu kentara tatkala senyum naga itu semakin lebar, sampai-sampai matanya tinggal segaris. Melihat yang demikian, sontak saja bingung melanda orang-orang. Mengapa sang pemilik gelanggang yang mulanya sangat beringas, justru jadi seceria ini, pikir mereka.

“Karena Anda pikir saya telah memaksa diri Anda untuk nekat, maka mari kita meriahkan saja pertarungan ini,” katanya. “Ayo berduel.”

Sayap Goro yang awalnya kuncup, seketika melebar bagaikan layar kapal para perompak. Kendati tak kuasa lagi menyemburkan api kehijauan, nyatanya naga itu masih punya ekor martil dan duri di sekujur tubuhnya untuk diadu. 

Pun demikian, Sarasvati juga kehilangan Ganesha sebagai Guardian. Satu-satunya yang ia andalkan adalah gada emas yang kini tergeletak di tanah.

“MULAI!”  

Goro meluncur dengan bantuan dua sayapnya. Mata merah yang tak lepas dari target memanglah betul mengerikan. Pasir yang berserakan di arena pun ikut beterbangan tatkala mengiringi kecepatan terbang Goro. 

Di ujung sana, Sarasvati tampak berdiri seraya mengangkat lengan kanannya. Gada emas mulai beringsut dari posisi, perlahan-lahan tegak hingga akhirnya melayang di udara. Sebelum sang pemilik gelanggang sempat menjamahnya, gadis itu bergegas memanfaatkan gada emas sebagai pelindung.

“TAKKAN CUKUP!” Goro mengayunkan ekornya hingga menghantam gada Sarasvati. Benda berkilauan tersebut langsung terpental jauh, sementara pemiliknya bersikeras mengendalikannya kembali ke posisi.

Untungnya kontrol Sarasvati terhadap gada itu terbilang mumpuni. Meski terlempar beberapa meter, ia akhirnya berhasil membawanya menuju Goro yang kian dekat dengan musuh.

“SUDAH SAYA BILANG!” Lagi-lagi ekor Goro menabrak gada itu sampai terlempar lebih jauh lagi. “Anda tidak akan sempat.”

Tersisa tujuh sampai sepuluh langkah lagi bagi Goro untuk mencapai Sarasvati. Dia menyeringai, sebab sebentar lagi kekaguman para penonton akan beralih pada dirinya. Namun, tanpa diduga-duga, sayap Goro mengatup dengan paksa, membuat ia lekas-lekas terpelanting ke tanah. Naga itu meraung geram.

“Nyaris saja!” pekik Arya.

“Ada yang aneh,” ujar Jackal.

“Ba-bagaimana bisa?” Goro terkapar di arena dengan sayap yang sama sekali tak dapat digerakkan. “Sebesar apa lucidity Anda?” Matanya terbeliak.

“Apakah aku boleh memenangkan pertandingannya sekarang?” Sarasvati mengulas topik berbeda. “Sepertinya kau sudah kalah.”

Goro terkesiap, sama seperti budak yang menerima gertakan dari majikannya.

“Jujur saja, saya sangat ingin Anda menjuarai pertandingan ini. Namun, saya sudah telanjur menerima kontrak dari Owner untuk mengerahkan tenaga sampai titik darah penghabisan.”

“Baiklah kalau memang begitu peraturannya.” Sarasvati kembali mengangkat lengan kanannya. Agaknya gadis itu berniat menghantamkan gada emas ke wajah Goro.

“Dia akan tamat. Naga itu akan berakhir,” gumam Red.

“Aku beneran takjub sama gadis itu. Lucidity-nya pasti udah di luar batas,” timpal Frog.

“Sayang sekali duta Pandora dilarang mendeteksi tingkat lucidity di wilayah ini. Andai saja bisa, kita pasti akan tahu seberapa kuat gadis itu.” Red mengerling pada gurunya.

“Tanpa mendeteksi pun kita udah bisa ngukur sebesar apa kehebatannya. Goro itu makhluk mimpi yang kuat. Bila berhasil menundukkan dia semudah itu, artinya punya kemampuan di luar batas.”

Gada emas melayang-layang di angkasa, membiaskan sinar yang dikandungnya menjadi kemilau agung. Para penonton yang mulai bosan menonton, beramai-ramai menyemangati Sarasvati untuk segera menghabisi Goro. Dan, memang itulah yang dia rencanakan sekarang.

Goro terkapar, badannya tak kuasa bergerak. Bukan karena lemas atau kekurangan tenaga, melainkan akibat sesuatu tak kasat mata yang terus-terusan menekan tubuhnya, merapatkan kedua sayapnya hingga tidak bisa terbuka lagi.

SWUSH!

Gada emas menukik cepat, targetnya adalah kepala sang naga.

“Aku …” Goro berucap lirih. “ … kalah.”

Bagaikan meteor yang jatuh dari ketinggian berpuluh-puluh kilometer, gada itu tampak terbungkus api yang berkobar-kobar ganas. Jarak yang ideal untuk meremukkan tengkorak musuh hampir dicapai, Sarasvati sedikit menyeringai.

“Ma—“

Tiba-tiba buih kehitaman muncul di udara, tepatnya di atas posisi Sarasvati. Cukup mengejutkan, sebab yang keluar menembus buih-buih itu adalah Taki. Tangan kirinya menggenggam kunai hitam.

Cuman ada satu kesempatan, pikirnya.

Cepat-cepat, selagi musuhnya lengah, pemuda itu melemparkan kunai ke kepala Sarasvati. Benda tajam berkilauan tersebut sontak memelesat dengan kecepatan tinggi, tanpa suara, tanpa meninggalkan kecurigaan. Pun demikian, para penonton yang tak menyangka kehadiran Taki juga bungkam saking syoknya.

Sedikit lagi. Pasti akan berhasil.

TRIING!

“HAH!” Taki terkesiap, kemudian jatuh membentur tanah.

“GAGAL!” Arya berteriak, tidak sanggup menahan kaget.

Benar saja! Kunai Taki yang jelas-jelas mengarah tepat sasaran, entah mengapa bisa melenting tatakala menghantam sesuatu yang melindungi Sarasvati. Percikan api yang terlontar menandai kalau pelindung tersebut bukan benda sembarangan.

Taki tersungkur gemetaran, sementara gada emas yang mulanya nyaris menubruk kepala Goro, kini tergeletak layaknya benda mati. Dan sisi baiknya, Goro terbebas dari kematian. 

“Aku bebas,” gumamnya saat mendapati sayap-sayap itu kembali dapat mengepak. “Sayang sekali, sekarang kau harus selesaikan duelmu, Sarasvati!” Naga itu langsung mengudara ke angkasa.

Sarasvati diam, matanya terfokus pada Taki. Di sisi lain, dalam paniknya, Taki bersikeras menemukan alasan demi alasan yang mampu menyumpal rasa penasarannya. Benda apa yang melindungi gadis itu? Sebuah pertanyaan yang harus dijawab sesegera mungkin.

“Kayaknya aku bakalan gagal lagi,” ujarnya lesu. “Kau memang hebat, Sarasvati.”

“Kalau begitu, menyerahlah sekarang.” Sarasvati menyahut.

“Sebenernya aku juga mau nyerah. Tapi … ta-tapi, aku nggak bisa!” Taki bersuara seiring dirinya bangkit. “AKU PUNYA IMPIAN YANG HARUS DICAPAI!!!” Taki berdiri tegak

Seisi gelanggang sontak bergemuruh. Bukan karena sikap Taki, melainkan ….

“A-apa ini?” Pemuda berambut pirang itu terhuyung, matanya nanar menyaksikan tetes demi tetes darah yang membasahi lengan dan tubuhnya. “Da-dari mana datangnya?”

“Apa itu, Jackal? Sebelumnya ia tak kena serangan sama sekali.” Arya bersuara.

“Ternyata begitu.”

“Apanya yang begitu?” Arya makin penasaran.

“Anda akan lihat sebentar lagi.”

Suara pelan menyerupai ringisan mau tak mau terlontar dari mulut Taki. Mata yang berkaca-kaca itu terpaku pada darah dan luka yang menyelimuti lengannya. Juga, pada telapak tangan Taki terdapat buritan pasir kuning.

“Telekinesis, kemampuan dalam mengendalikan benda menggunakan pikiran. Itulah Skill yang dimiliki Sarasvati. Sebenarnya itu termasuk kemampuan yang biasa-biasa saja dalam turnamen. Akan tetapi, telekinesis yang satu ini sangatlah detail. Gadis itu terbukti mampu memanipulasi udara untuk menahan kepakan sayap Goro, dan dia juga mampu mengendalikan butiran pasir di sepanjang arena sebagai pelindung kokoh sekaligus peluru super kecil.” Jackal menjelaskan.