Episode 15 - Ganesha VS Goro



Masih sama bisunya, Sarasvati beringsut menggenggam lengan manusia gajah itu yang untungnya masih berupa tangan berjari lima. Selagi jemari mereka masih bertautan, lengan kanan Sarasvati tampak mengepal kuat. 

“Dia sepertinya bukan lucid dreamer sembarangan,” komentar Arya. 

“Sembarangan atau bukan tidaklah penting,” sahut Jackal. “Dalam pertarungan besar seperti ini, yang terpenting adalah strategi untuk saling mengungguli. Entah itu berupa teknik bertarung yang memukau, atau mungkin … gertakan yang jitu.”

“Gertakan? Ku-kurasa hal semacam itu takkan berguna.”

“Anda akan mengerti bilamana diri Andalah yang berdiri di sana, di tengah arena itu. Segala cara sudah tentu akan dikerahkan demi mencapai predikat pemenang.” Jawaban Jackal membuat pandangan Arya tak bisa lepas dari Sarasvati.

Benar saja! Kini telapak tangan gadis itu bercahaya. Sinarnya seanggun emas, tetapi terlalu redup untuk menghasilkan kegemparan seperti sebelumnya. Di sisi lain, belalai si manusia gajah terangkat, persis seperti ular yang tengah mengancam. Ringkik nyaring seketika terdengar, bersanding dengan simpang siur suara penonton.

“Apa lagi yang bakal kamu gunakan?” gumam Taki menatap sengit.

ZRASH!

Cahaya di lengan Sarasvati berderik layaknya halilintar. Terus menggila hingga bentuknya menyerupai tentakel-tentakel keemasan bertenaga ribuan volt. 

Taki masih bergeming guna menunggu akhir dari aksi pamer kekuatan lawannya. Dia tahu dirinya takkan berhasil apabila bergantung pada kemampuan, sudah pasti karena pesona serta kesan misterius yang terpancar dari Sarasvati. Namun, Taki masih punya harapan bilamana ia menengok pada Goro yang agaknya mulai bosan mengangkasa.

“Naga itu pasti bakalan turun bentar lagi.”

ZRASH! ZRASH!

“WOOOAHHH!!!”

“MANTAP!”

“AKU MENCINTAIMU, SARASVATI!!!”

“A-apa lagi itu?” Arya terbeliak.

“Kurang lebih seperti kendi besimu.” Jackal menimpali. “Selain Guardian, seorang lucid dreamer juga dibekali senjata yang akan membantunya menghadapi musuh. Kami mengambil rujukan bahasa Inggris untuk yang satu ini. Jadi sebut saja Weapon.”

“Sial! Ternyata aku benar-benar kekurangan informasi sebagai lucid dreamer.”

“Sebab Anda itu bodoh.”

“DIAMLAH!”

Semua mata, baik dengan pandangan terkesima, atau mulut-mulut yang terus menganga pada akhirnya berakhir pada satu objek. Benda yang digenggam oleh Sarasvati itu adalah jawabannya. Sebuah gada dari emas berkilauan jatuh menghantam tanah. Debuk keras sontak terdengar. 

Batu-batu permata yang menghias di sekeliling gada itu memanglah terkesan glamor. Apalagi rentetan baru ruby yang mendominasi di bagian gagangnya. Bertambahlah kekaguman penonton terhadap kemampuan gadis yang satu ini.

Tanpa sepatah kata yang terucap, Sarasvati mengangkat paksa gagang tersebut dengan satu tangannya. Sungguh aneh! gagang tersebut—walaupun terlihat berat dan berbahaya—justru mampu dilemparnya ke atas dengan mudah. 

Teriknya sinar mentari menjadi faktor mengalunnya puja dan puji dari mulut penonton. Tentu saja karena pantulan kilau keemasan yang berasal dari besi gada tersebut kala masih melayang di udara. Namun, kemilaunya segera menghilang ketika si manusia gajah membumbung tinggi dan menggapai senjatanya. 

Sarasvati berdiri menghadap Taki, bersama manusia gajah pemegang gada emas di sampingnya.

“GANESHA!” Untuk pertama kalinya suara gadis itu berkumandang. Terdengar lembut sekaligus lantang. “SERANG!”

Si manusia gajah yang dipanggilnya Ganesha sontak meringkik bersemangat. Dipikulnya gada emas tersebut di pundak lalu perlahan-lahan ia bergerak mendekati Taki. 

“Selambat itu, ya?” Taki justru mengernyit. “Kukira bakalan ada kilat yang ngamuk di arena ini.”

Dari tribun penonton, tepatnya di deret para duta Pandora dan murid-murid mereka, si hoodie merah menyaksikan dengan saksama. Iris hijau zamrud-nya seakan ikut beraksi di tengah pertarungan kedua insan tersebut.

“Siapa yang akan kau pilih, Guru? Yang wanita atau pria?” Dia bertanya. 

Frog yang sedari tadi asyik mengorek kotoran dari kukunya jadi kebingungan sendiri saat menerima tanda tanya besar dari sang murid.

“Oh, a-anu … kayaknya yang cowok.”

“Benarkah? Aku justru memilih yang wanita. Dia terlihat meyakinkan.” 

“Haduh, Red! Kamu itu harusnya sadar kalau orang nggak bakalan bisa menang cuman dari satu sudut pandang. Kamu boleh nganggap dia hebat, tapi gimana sama orang lain? Atau gimana pendapat dewi keberuntungan tentang semuai ini? Kita cuman bisa menang kalo mampu memperhitungkan semuanya dengan baik.”  

“Begitu, ya.”

Tidak lebih cepat dari seekor siput di atas batang kayu, Ganesha masih saja membuat Taki kegelian sendiri. Mulanya makhluk setengah gajah itu memaukau semua penonton dengan karisma dan kehebatannya. Namun, sekarang justru beberapa orang mulai bertanya-tanya mengenai puncak konflik dari pertarungan ini. 

Kubus hitam di genggaman kiri Taki masih sama tenangnya dengan raut Sarasvati. Kendati demikian, satu atau dua detik lagi lelaki itu akan mempersembahkan perlawanan yang super duper sengit untuk mengganjal kesombongan Sarasvati di tengah arena.

“Aku yang bakal nentuin asrama kamu, Sarasvati!” ujar Taki bersamaan dengan menciutnya kubus hitam. “Dia datang!”

Detik itu juga, Goro yang kelewat bosan berputar-putar di atas segera menukik ke bawah. Sayap hitamnya terbuka penuh, begitu seram, hampir menyerupai layar kapal tak berawak. Mata merahnya terkesan menusuk, membuat para penonton jadi bergidik ngeri. Dan, kala sang naga telah menghempas diri di tengah gelanggang miliknya, maka lenyaplah sudah Taki.

“HAH!” Arya menimpali. “K-ke mana lelaki itu pergi? Ta-tadinya ia di situ! Tepat berdiri di situ!” Telunjuknya terus-terusan menunjuk posisi Goro sekarang. 

“Dia menggunakan kemampuannya. Sesuatu yang kami sebut Skill,” ujar Jackal.

Ekor martil Goro berayun ganas. Mulut lebarnya tiada henti mengumandangkan raungan serak yang memancing ketakutan di hati setiap orang. Tak lupa, sesekali, kedua lubang hidup makhluk itu menderukan asap hijau yang kerap kali membayang di depan wajahnya.

Di lain sisi, Ganesha yang bertugas sebagai Guardian Sarasvati segera mengambil ancang-ancang. Ia menurunkan gada emas lalu menatap Goro dengan beraninya. Mendapat perlakuan yang tak pantas, sang naga sontak berbalik dan mengayunkan ekor mematikannya. 

Ganesha menyanggupi. Diangkatnya gada emas kembali lalu mengadu benda tersebut dengan ekor Goro yang akan datang sebentar lagi.

TANG!

Suara dentam terdengar seantero arena. Sebagian penonton menutupi telinga mereka. Ekor Goro berhasil dihalau, sementara Ganesha sanggup berdiri kokoh tanpa lecet sedikit pun. 

“Mengecil!” Sarasvati menyeru.

Sejurus dengan akhir ucapannya, gada emas seketika menciut jadi seukuran sumpit. Setelah itu, Ganesha yang berkurang bebannya bergegas memelesat ke angkasa—tepatnya ke atas punggung Goro. 

Melihat yang demikian, sang naga sontak melawan. Ia menyentak kasar, tinggi-tinggi, sehingga Ganesha terkena sundulan punggungnya yang dilapis baja. 

Meski jatuh menghantam tanah, si manusia setengah gajah kembali bangkit. Ia melayang ke sela-sela kaki Goro dengan lincah. Goro yahg kesulitan memantau pergerakan lawan sempat dibuat kewalahan. Untungnya naga itu punya senjata cadangan.

DRAK! DRAK!

Duri-duri tajam menyerupai stalagtit menyeruak dari perutnya, terus merayap sampai ke ujung ekor. 

Tidak menyangka benda tajam sepanjang satu meter akan mengincarnya, keseimbangan terbang Ganesha tentu terganggu. Sebisa mungkin ia menghindari duri yang muncul, walau sesekali wajah berbelalainya membentur ujung duri sampai-sampai patah jadi dua.

“Saya rasa untuk mengalahkan Goro takkan cukup hanya dengan Guardian. Seharusnya kontestan mampu memadukan Skill dan Weapon dengan baik, kemudian membiarkan Guardian untuk mengeksekusinya.” Jackal berkomentar.

“Ta-tapi, gadis itu … dia sepertinya tahu apa yang akan terjadi,” sanggah Arya.

“Dia tahu, tetapi dia tidak mengerti.”

Stalagtit yang menjalari tubuh Goro kian banyak. Bahkan, kini Ganesha terperangkap di antara duri-duri yang panjangnya nyaris menghujam tanah. 

BRAK!

Satu per satu duri Goro pecah akibat hantaman gada emas yang ukurannya menandingi tongkat baseball. Lebih berat daripada sebelumnya, tetapi cukup berguna untuk meloloskan diri.

 Sesaat dirinya bebas, Ganesha melayang ke wajah sang naga. Ya! Dia tepat berada di hadapan wajah reptil raksasa yang giginya saja sudah menyerupai gerigi iblis.

“Anda bukan—GROAAH!!!”

Goro meraung kala pukulan gada emas mendarat tepat di moncongnya. Naga itu terhuyung, menciptakan debuk nyaring di atas tanah. Gigi taringnya tanggal sebelah, jatuh ke bawah dan menancap layaknya pedang keramat. Penonton sontak bersorak-sorak ria.

“ASTAGA!” Mata Arya terbelalak. “Sudah kuduga dia memang hebat.”

“Cukup jauh dari perkiraan saya, sejujurnya.” Jackal menambahkan.

Tak jauh dari Arya dan Jackal, Red bersama gurunya, Frog juga tampak membahas kegemparan yang melanda arena.

“Lihat, Guru! Guardian wanita itu mampu menyudutkan Goro.”

“Lumayan,” gumam Frog.

“Dia mampu mematahkan taring seekor naga hanya menggunakan Guardian. Bukankah itu artinya ia punya Lucidity yang besar?” Red coba menerka.

“Aku juga nggak tahu. Di gelanggang ini, semua sensor energi dinonaktifkan. Jadi, kita nggak akan bisa mendeteksi Lucidity seseorang.”

“Jadi begitu.”

Goro yang dipermalukan di gelanggangnya sendiri menjadi ganas. Amarahnya meluap-luap, dan menjelma menjadi kobaran api hijau tua yang menyeruak dari kerungkongan naga itu. 

Ganesha dengan sigap merendahkan posisi. Dibawanya tubuh melintasi sepanjang arena guna menghindari semburan api Goro. 

Dengan lincahnya, makhluk setengah gajah itu melayang-layang bagaikan kapas yang bilamana angin berembus akan membumbung anggun. Gada emas yang jadi seukuran sumpit masih tergenggam di tangan kanannya. Ganesha mengerling pada Goro seraya berkelit dari semburan api kehijauan.

“Itu namanya api pengejut,” ujar Frog.

“Heh?” Kepala Red condong ke sisi sang guru.

“Kalau kamu terkena api itu, maka udah dipastiin kamu bakalan bangun dari tidur.”

“Bangun dari tidur?” Red mengulang dengan nada heran.

“Itu artinya kamu bakal tereleminasi langsung tanpa bisa ngikutin babak selanjutnya.”

“Be-benarkah? Jadi terkena api hijau itu lebih buruk dampaknya dibandingkan kalah di pertandingan ini?”

“Betul. Jarang-jarang Goro mau repot nyemburin api keramatnya.”

BRUASH!

Api Goro menghantam barikade penonton yang untungnya sudah terlindungi oleh mantra gelanggang. Namun, Ganesha tidak bernasib demikian. Dia rapuh dan lemah. Kapan pun Goro bisa saja melenyapkannya, berikut juga dengan Sarasvati, si gadis yang terlampau tenang untuk situasi semacam ini.

“Groaarrhh!!!” Raung amarah Goro menyebar ke segala penjuru gelanggang. “LENYAPLAH!”

Lagi-lagi api hijau merebak dari mulutnya, begitu membara-bara dan berderik layaknya ular berbisa. Bagaikan sapu raksasa yang Maha teliti, api itu terus bergeser ke sepanjang arena, mengikuti ke mana Ganesha memelesat.

Setiap kali lidah api itu nyaris mencapai punggung Ganesha, makhluk setengah gajah tersebut selalu saja sukses berkelit dengan meninggikan posisi atau justru mendarat di tanah dan berlari cepat ke sisi yang mustahil dijangkau leher panjang Goro. 

Akan tetapi, melarikan diri bukanlah sesuatu yang dapat dibanggakan terus-menerus. Ada kalanya suatu energi akan melemah dan butuh waktu untuk kembali penuh.

Ganesha terpelanting ke tanah, tepat sesaat bobot tubuhnya bertambah drastis. Dia takkan bisa menerapkan strategi seperti sebelumnya, melainkan harus menyiapkan diri untuk menghadapi amukan Goro. Makhluk itu telah mencapai batas maksimal, dan ia dengan sigap menyiagakan gada emas yang masih sebesar sumpit untuk menghalau lawan.

“ANDA TAKKAN LOLOS!” Goro merayap cepat menuju Ganesha. Mata merahnya berkilat-kilat diikuti deru asap hijau yang kerap kali membayangi lubang hidungnya.

Ketika jarak mereka hanya terpaut beberapa langkah, mulut Goro sontak terbuka lebar disusul gemuruh asap pekat yang bergerumul di kerongkongannya. Selama sepersekian detik keadaan jadi hening. Semua mata tiada yang lengah dari ancang-ancang sang naga mematikan. 

Di balik malu yang terpusat pada patahan taring di arena, nyatanya sekarang Goro akan membalaskan dendam, juga kembali mengangkat martabatnya sebagai pemilik gelanggang paling disegani.

Seperti bunyi dentum, gelombang asap berapi-api langsung meluncur dari mulut Goro. Lajunya luar biasa, sudah bagaikan bola meriam yang baru ditembakkan. 

Debu di sepanjang arena mengiringi lesat api tersebut sehingga ukurannya tampak membesar, lebih besar dua kali lipat dari sebelumnya. 

Arya tersentak. Dia yakin Sarasvati akan kalah dalam pertandingan ini.

“BEBASKAN DIRIMU, GANESHA!” Gadis bersari kuning itu berteriak.