Episode 100 - Kepribadian Ganda



“Hop!”

“Hop!”

Sambil menghindar tebasan bergemuruh air dari Dayung Penakluk Samudera, Bintang Tenggara melenting tinggi, tinggi ke atas. Lima Segel Penempatan terlihat tersusun rapi membumbung. Jarak antara setiap Segel Penempatan adalah sekitar delapan meter dari satu sama lain.

“Hop!”

“Hop!”

Bintang Tenggara terus melenting. Semakin lama, semakin tinggi. Tak satu pun yang menyadari niatnya. Perkiraan khalayak adalah anak remaja tersebut hendak menikam dari ketinggian. Sungguh polos.

“Grab!”

Kedua tangan Bintang Tenggara erat menggenggam gagang keris!

“Hah! Apa yang dia lakukan!?”

“Gila! Ia menjangkau Pedang Patah!”

“Apakah tindakan itu diperbolehkan!?”

Para hadirin terkesima. Tak pernah terbersit dalam benak mereka bahwa akan ada murid perwakilan perguruan yang begitu lancang hendak mengambil warisan dari Sang Maha Patih. Apalagi, Pedang Patah adalah piala kejuaraan!

“Komodo… Nagaradja….” Jebat menggeretakkkan gigi menahan amarah. “Bangsat!”

Mengenakan sebuah caping di kepala, sedari tadi si Raja Angkara Durhaka sudah menyaksikan pertarungan dari salah satu sudut di tribun penonton. Kecurigaan sempat merambat di benaknya ketika remaja yang ia ketahui sebagai murid Komodo Nagaradja melenting-lenting tinggi ke udara.

“Siapakah engkau yang lancang membangunkan kami?” Tetiba Bintang Tenggara mendengar pertanyaan menggunakan jalinan mata hati.

“Namaku Bintang Tenggara!”

“Sebutkan nama kami!” perintah suara tersebut.

Bintang Tenggara terdiam sejenak. Ia sedikit ragu. Sesungguhnya bukanlah ia meragukan anjuran sang Super Guru… Akan tetapi, apakah tindakan ini diperkenankan? Ya, sudahlah. Sudah terlanjur basah, biar mandi sekali.

“Sebutkan nama kami!”

“TAMENG SARI!"

Alkisah… Beratus-ratus tahun lalu, tatkala Laksamana Hang Tuah mengunjungi Sastra Wulan, ibukota Negeri Dua Samudera, seekor siluman sempurna tetiba mengamuk dan menyerang istana. Bahkan, Sang Maha Patih tak mampu menundukkan siluman sempurna tersebut. Laksamana Hang Tuah kemudian turun tangan dan dengan kepiawaiannya membungkam sang siluman sempurna. Siluman sempurna tersebut bernama Tameng Sari, dan saat dikalahkan ia berubah menjadi sebilah keris nan digdaya, dimana kesadarannya bersemayam di dalam keris tersebut.

Sejak saat itu, Laksamana Hang Tuah identik dengan keris saktinya… Tameng Sari!

“Apa guna kepuk* di ladang

Kalau tidak berisi padi

Apa guna keris di pinggang

Kalau tidak berani mati!”

Bintang tenggara mendengar bait-bait pantun…

“Kyahahaha….” gelak tawa lantang. “Kami, Tameng…. Menerimamu!”

Bintang Tenggara tertegun sejenak.

“Marilah bersama-sama kita… menebas, membabat, membacok, memotong, mencencang, mengerat, menetak, menusuk, menikam, mengiris, menoreh, menyayat, membeset, merajang, mencaruk, memenggal, memancung, mengayau!”

“Bum!”

Sebuah ledakan menggelegar di udara. Cahaya keemasan cemerlang bersinar, seolah sebuah matahari mungil berwarna emas yang tiba-tiba terbit. Cahaya tersebut serta-merta menyilaukan pandangan seluruh hadirin yang sedang menengadah.

“Bam!”

Bintang Tenggara mendarat keras di lantai panggung pertarungan. Debu dan bebatuan berhamburan ke semerata penjuru. Lantai ubin di permukaan panggung meretak dan merekah lebar. Kedua tangan murid Komodo Nagaradja menggenggam gagang panjang sebilah keris besar berwarna keemasan. Besarnya tak kalah dengan Parang Hitam atau Dayung Penakluk Samudera. Ujung keris yang bercabang dua seolah lidah ular, kini menempel di permukaan panggung pertarungan.

Di saat yang sama, sinar berwarna keemasan sesekali terlihat berkelebat samar di sekujur tubuh Bintang Tenggara.

“Anugerah pertama yang kami persembahkan adalah kekebalan raga. Tubuhmu setara dengan ahli Kasta Emas!” sambung suara lelaki yang bergema dari keris Tameng Sari. Meski, hanya Bintang Tenggara dan Komodo Nagaradja yang dapat mendengar suara tersebut melalui jalinan mata hati.

“Waduh…,” Tetiba Komodo Nagaradja mengeluh.

“Waduh…?” Bintang Tenggara mengulang penasaran.

“Eh, Tameng… kemanakah Sari?”

“Ho…?” si keris setengah terkejut. “Si Komo-bodoh Nagaradja!”

“Hei, Tameng sedeng!** Aku menginginkan kehadiran Sari untuk muridku!”

“Kyahahaha…. Butakah biji matamu sampai tak kau lihat bilah kami patah!? Kesadaran Sari menghilang bersama patahan pucuk*** keris…,” jawab suara yang keluar dari keris Tameng Sari merendahkan.

“Guru, sudikah memberi sedikit penjelasan…?” tanya Bintang Tenggara gelisah.

“Tameng Sari adalah keris yang memiliki kesadaran dan… berkepribadian ganda, yaitu… Tameng dan Sari,” bisik Komodo Nagaradja.

“Hah!” Bintang Tenggara sungguh tak hendak percaya. Sebilah keris memiliki kesadaran saja sudah aneh, apalagi bila memiliki kepribadian ganda!

“Hei, anak muda!” tetiba terdengar teriakan menggelegar. “Kembalikan pedang itu!”

Bintang Tenggara menengadah dan menemukan Maha Guru Segoro Bayu menjulurkan tangan. Wajah lelaki tersebut terlihat geram.

“Aku hendak menggunakan keris ini,” jawab Bintang Tenggara lantang. Rasa sebal terhadap Maha Guru itulah yang menjadi penyebab atas jawaban ini.

Wajah sang Maha Guru tetiba berang. Ia menghentakkan tenaga dalam ke arah Bintang Tenggara!

“Bum!”

Lagi-lagi tubuh Bintang Tenggara menerima hantaman tenaga dalam! Akan tetapi, tubuhnya kini hanya terdorong selangkah ke belakang. Meski disadari bahwa Maha Guru Segoro Bayu menahan diri, namun bagi seorang ahli Kasta Perunggu, hantaman ringan dari ahli Kasta Emas tadi seharusnya cukup untuk membuat Bintang Tenggara terjungkal keluar panggung. Perlindungan kekebalan raga dari keris Tameng Sari telah aktif!

Belasan ribu hadirin terpana. Koreksi. Belasan ribu hadirin tercengang! Mereka tak tahu harus berkomentar apa ketika menyaksikan tubuh seorang anak remaja memancarkan kelebat berwarna keemasan. Apalagi, hantaman tenaga dalam seorang ahli pada Kasta Emas hampir tak berpengaruh apa-apa. Dengan kata lain, anak remaja tersebut kemungkinan benar-benar dapat menggunakan senjata yang mereka ketahui sebagai pedang warisan dari Sang Maha Patih.

Hang Jebat mendecakkan lidah. Melihat Tameng Sari, senjata digdaya milik kakaknya, di tangan orang lain sungguh membuat dirinya geram. Dalam hati, ia menyumpah seribu satu serapah yang setiap satunya dimulai dengan nama Komodo Nagaradja.

“Lancang sekali kau!” sergah Maha Guru Segoro Bayu.

“Kebodohanmu itu yang sesungguhnya lancang!” Tetiba terdengar sanggahan dari tribun kehormatan.

“Kau yang meletakkan keris itu melayang di atas panggung! Naif sekali kau berharap tak ada ahli yang akan berupaya mengambilnya….” Sesosok tubuh melayang perlahan.

“Adipati Jurus Pamungkas, jangan ikut campur!” balas Maha Guru Segoro Bayu.

Bintang Tenggara mengernyitkan dahi. Adipati Jurus Pamungkas mengetahui bahwa pedang dalam genggaman sesungguhnya adalah sebilah keris…

Akan tetapi, ada hal lain yang juga baru ia sadari. Kecurigaannya terhadap Maha Guru Segoro Bayu tak dapat diutarakan kepada Sesepuh Ketujuh. Sebagaimana Kakak Sangara Santang, Sesepuh Ketujuh pastilah mempertanyakan perihal bukti demi mendukung sebuah tuduhan. Akan tetapi, tentu lain ceriteranya bila menyampaikan kecurigaan kepada Adipati Jurus Pamungkas… Aku akan mengadu kepada Ayahanda Aji Pamungkas setelah pertarungan ini, gumam Bintang Tenggara dalam hati.

“Aku punya saran...,” ujar sang Adipati. “Segoro Bayu, mari kita suguhkan pertunjukan yang menarik… kau dan aku bertarung di atas panggung. Bilamana aku menang, maka anak itu diperbolehkan menggunakan senjata itu.”

“Jurus Pamungkas! Janganlah bertindak sesuka hati di dalam Perguruan Maha Patih!” sergah Maha Guru Segoro Bayu.

“Apakah kau kecut… bahkan di dalam lingkungan perguruanmu sendiri?” pancing Adipati Jurus Pamungkas

“Adipati Jurus Pamungkas, kumohon untuk tak berlebihan….” Kini seorang lagi mengudara. Ia adalah Sesepuh Ke-15, pendamping murid-murid perwakilan Perguruan Maha Patih.

“Abdi setuju dengan pandangan Adipati Jurus Pamungkas,” tetiba terdengar suara lain menyela, meski jauh lebih santun daripada Adipati Jurus Pamungkas.

“Apakah gerangan maksud kata-kata Maha Guru Kesatu dari Sanggar Sarana Sakti?” lanjut Sesepuh Ke-15.

“Adalah kecerobohan Perguruan Maha Patih yang memajang keris… ehem… Pedang Patah.” Terlihat Sangara Santang mengudara. “Lagipula, anak remaja ini sepertinya mampu mengerahkan kemampuan senjata itu… Sungguh abdi ingin menyaksikan kelanjutan pertarungan.”

“Hei, Sangara Santang!” sergah Adipati Jurus Pamungkas. “Kau hantam Kertawarma, aku akan membungkam Segoro Bayu. Dua lawan dua!”

Maha Guru Ke-10 Segoro Bayu dan Sesepuh Ke-15 Kertawarma dari Perguruan Maha Patih bertukar pandang. Wajah keduanya kalut. Sepertinya, sedang ada jalinan mata hati yang sedang berbicara kepada kedua tokoh tersebut.

“Baiklah…,” ujar Maha Guru Segoro Bayu tak lama. “Perguruan Maha Patih mengijinkan Bintang Tenggara menggunakan ‘Pedang Patah’ dalam pertarungan ini… Tetapi, hanya bilamana lawannya menyetujui.”

Pandangan belasan ribu ahli di seantero gelanggang kejuaraan segera berpindah ke arah Saweri Gading. Anak remaja tersebut sedari tadi hanya diam memantau perkembangan situasi.

“Aku tak keberatan,” tetiba Saweri Gading berujar sambil menyibak senyum.

“Senjata yang sedang kugunakan pun merupakan pinjaman,” sambungnya ke arah Bintang Tenggara.

“Super Guru… bagaimana ini?”

“Apanya bagaimana…?”

“Muridmu tak bisa mengangkat keris ini…,” rintih Bintang Tenggara. Inilah alasan mengapa ia hanya diam memegang gagang keris dan membiarkan bilahnya menempel ke permukaan panggung. Ini juga alasan mengapa ia tak menghindar dari hantaman tenaga dalam Maha Guru Segoro Bayu. Keris Tameng Sari teramat berat sehingga tak mungkin bisa diangkat!

“Nah… itulah mengapa aku berharap Sari yang mengemuka, bukannya si Tameng sedeng. Bila kepribadian Tameng yang muncul, maka tubuhmu menjadi kebal…. Akan tetapi, berat bilah keris menjadi sekitar 500 kg bagi ahli Kasta Perunggu.”

“Lalu, bagaimana…?” Bintang Tenggara semakin kebingungan.

“Tak ada jalan lain… kau harus mengerahkan jurus persilatan milik Kakak Tuah,” ujar Komodo Nagaradja ringan.

“Apakah Super Guru hendak mewariskan jurus baru…?” Bintang Tenggara penuh harap.

“Hm… aku tak menguasai jurus tersebut.”

“Lalu!?” Sebulir keringat mengalir di pelipis Bintang Tenggara. Apa gunanya memiliki senjata digdaya bila tak bisa dikerahkan? batinnya merintih.

“Kyahahaha…. Bukankah kau memiliki benih pemahaman jurus silat milik Hang Tuah? Itulah alasan mengapa kau dapat membangunkan kami. Cepatlah!” sela Tameng bersemangat.

“Benar. Dikarenakan jurus tersebut sudah sering kau hadapi,” tambah Komodo Nagaradja.

“Ayolah! Kami sudah tak sabar hendak menebas, membabat, membacok, memotong, mencencang, mengerat, menetak, menusuk, menikam, mengiris, menoreh, menyayat, membeset, merajang, mencaruk, memenggal, memancung, mengayau!”

“Pertarungan dilanjutkan!” perintah Maha Guru Segoro Bayu.

Saweri Gading memasang kuda-kuda. Ia mengamati Bintang Tenggara dengan seksama. Batinnya bertanya-tanya mengapa sejak beberapa saat lalu Bintang Tenggara hanya memejamkan mata…?

“Hya!”

Bersama bayangan gemuruh ombak, Saweri Gading menebaskan Dayung Penakluk Samudera dari arah kanan menghantam bahu lawannya. Bintang Tenggara terdorong. Ia masih memejamkan mata. Bahu kirinya terasa sedikit pegal. Saweri Gading terkesima.

“Hya!”

Anak remaja lelaki itu menebaskan Dayung Penakluk Samudera berkali-kali ke tubuh Bintang Tenggara. Perlahan namun pasti, Bintang Tenggara mulai merasakan rasa sakit di tubuhnya.

“Hoi, sampai berapa lama kau hanya berdiam diri…?” keluh Tameng.

“…”

“Agar kau ketahui, pertahanan kami ada batasnya… dan kami sudah tak sabar. Mari kita tebas, babat, bacok, potong, cencang, kerat, tetak, tusuk, tikam, iris, toreh, sayat, beset, rajang, caruk, penggal, pancung, kayau!”

“Diamlah! Kau membuatku pening!” hardik Komodo Nagaradja kepada Tameng. “Lagipula, ini semua salahmu!”

“Kyahahaha…. Guru semacam apakah engkau? Lalai mempersiapkan murid sendiri!”

“Mana kutahu Sari menghilang bersama patahan pucuk keris. Seharusnya engkau menuliskan pengumuman di bilahmu!”

“Kebodohanmu tiada berkurang!” hardik Tameng.

“Kesintinganmu akan menulari muridku!” balas Komodo Nagaradja.

Bintang Tenggara yang sedang khusyuk berkonsentrasi merasa sangatlah terganggu. Kini, tak hanya satu, melainkan dua kesadaran siluman sempurna yang saling terhubung dengan jalinan mata hatinya. Tak hanya itu, mereka sedang sibuk berjibaku dalam perang umpat-mengumpat!

Di saat yang sama, Saweri Gading menebaskan Dayung Penakluk Samudera ke pundak Bintang Tenggara!

“Brak!”

Bintang Tenggara dipaksa bertekuk lutut. Ia merasakan rasa sakit yang tak terperi. Satu pukulan lagi, dipastikan dirinya akan roboh!

“Pemahaman, penafsiran, pencerahan…,” rintih Bintang Tenggara pelan.

Saweri Gading tak hendak membuang-buang waktu. Ia kembali menebaskan Dayung Penakluk Samudera ke pundak Bintang Tenggara….

“Hrargh!” anak remaja yang menjadi sasaran tebasan menggeram, sedikit lagi mengaum.

Pencak Laksamana Laut, Gerakan Pertama: Tuah Sakti Hamba Negeri! ****

Tetiba kedua lengan Bintang Tenggara menggengam erat gagang keris! Lalu, berkat otot-otot tubuh yang ditunjang tenaga dalam dan menghasilkan kekuatan yang berlipat ganda, ia angkat keris Tameng Sari yang diketahui memiliki bobot sekitar 500 kg….

Bintang Tenggara terlihat menebaskan keris besar tersebut untuk menangkis sabetan Dayung Penakluk Samudera!

“Duar!”

Saweri Gading terpental sampai ke ujung panggung. Di saat yang sama, seluruh hadirin di gelanggang kejuaraan merasa seolah bumi berguncang dan langit bergelegar. Perasaan seperti ini hanya terjadi bilamana menyaksikan dua ahli Kasta Emas sedang bertempur!

Hang Jebat melompat dari tempat duduknya. “Tak mungkin! Hanya kakak dan aku yang menguasai Pencak Laksamana Laut!” gumamnya sambil menggeretakkan gigi.

“Sejak kapan kau mengajarkan jurusmu?” tanya Canting Emas.

Panglima Segantang menyilangkan lengan di depan dada. Ia pun tak menyadari sejak kapan sahabatnya itu menguasai jurus andalan yang biasa dirinya kerahkan. Meski demikian, Panglima Segantang tak merasa aneh. Tak terhitung berapa banyak sudah mereka berlatih tarung bersama. Sehingga, bukan tak mungkin dan bisa jadi tanpa sadar, Bintang Tenggara menyerap pemahaman jurus Pencak Laksamana Laut.

Memang demikianlah yang sesungguhnya terjadi. Ketika mengetahui dari Tameng bahwa dirinya memiliki pemahaman akan jurus milik Hang Tuah, Bintang Tenggara sungguh tak percaya. Pada akhirnya, sang Super Guru yang menjelaskan kenyataan tersebut.

Andai saja Tameng dan Komodo Nagaradja tak terlibat dalam keributan, maka kemungkinan besar Bintang Tenggara akan lebih cepat dalam merumuskan penafsiran, lalu meraih pencerahan. Pada dasarnya, ia sudah memiliki pemahaman. Kendati demikian, diperlukan konsentrasi mendalam untuk mengingat sekaligus melakukan penafsiran. Setelah memahami dan menafsirkan bagaimana langkah Panglima Segantang dalam mengerahkan bentuk pertama Pencak Laksamana Laut, barulah ia mencapai pencerahan.

“Hrargh!”

Bintang Tenggara merangsek cepat ke arah Saweri Gading. Ia sepenuhnya menyadari bahwa jurus silat yang saat ini dikerahkan merupakan jurus yang menekankan pada peningkatan kekuatan dalam jangka waktu tertentu.

Peningkatan kekuatan mendadak dan berlipat ganda seperti ini tentu memakan tenaga dalam yang cukup besar dan berisiko terhadap tubuh. Bagi Panglima Segantang yang memiliki fisik tangguh, jurus silat ini tak banyak membebani tubuhnya. Akan tetapi, lain perkara dengan Bintang Tenggara. Dapat dipastikan bahwa otot di sekujur tubuhnya akan linu dan ngilu seusai pertarungan ini.

Bintang Tenggara membabatkan Tameng Sari, sedangkan Saweri Gading menebaskan Dayung Penakluk Samudera. Keduanya menyerang di saat yang bersamaan. Di atas kertas, Saweri Gading unggul empat tingkat keahlian…

Ayunan Tameng Sari di tangan Bintang Tenggara bergerak diagonal dari kanan bawah menuju kiri atas. Benar, ini adalah gerakan favorit Panglima Segantang saat menebaskan Parang Hitam!

Alasan Saweri Gading meminjam Dayung Penakluk Samudera sangatlah sederhana. Dirinya adalah petarung tangan kosong jarak dekat, sehingga akan kewalahan bilamana berhadapan dengan lawan yang memiliki jangkauan jarak menengah seperti pedang panjang atau tombak. Atas alasan inilah ia mendatangi dan meminjam senjata Ammandar Wewang. Walau, Saweri Gading sepenuhnya menyadari bahwa ia tak menguasai kemampuan senjata pusaka tersebut.

“Duar!”

Tubuh Saweri Gading menerima guncangan yang demikian besar dan berat. Ia dapat merasakan bahwa kekuatan serangan Bintang Tenggara hampir setara dengan bilamana Ammandar Wewang menebaskan Dayung Penakluk Samudera dengan sepenuh hati. Sungguh digdaya!

Dengan demikian, Saweri Gading pasrah ketika tubuhnya terangkat dari permukaan panggung dan dipaksa terpental keluar dari panggung pertarungan!


Catatan:

*) kepuk/ke·puk/ n 1 bakul tempat nasi (beras dan sebagainya dari kulit kayu); 2 Mk lumbung padi; 3 kepis (bakul ikan)

**) sedeng/se•deng/sédéng/ a gila; kurang waras

***) ‘Pucuk’ adalah sebutan untuk ujung keris.

****) Pencak Laksamana Laut merupakan jurus milik Panglima Segantang dan pertama kali muncul dalam Episode 39.


Tak terasa sudah 100 episode, alias delapan bulan sudah, Legenda Lamafa berjalan. Merdeka!

Terima kasih juga kepada para ahli yang sudah menjawab survei mini dalam Episode 98. Jawabannya menegaskan keraguan dalam episode ini. :D