Episode 99 - Sebutkan nama…



Kelima murid dari Perguruan Gunung Agung menyusun formasi di atas panggung. Bentuk formasi menyerupai anak panah. Panglima Segantang berdiri paling depan. Selangkah di belakang, Canting Emas di sisi kiri dan Bintang Tenggara di sisi kanan. Selangkah lagi di belakang adalah Kuau Kakimerah. Paling belakang, Aji Pamungkas. Ini adalah formasi yang melibas Perguruan Nusantara dalam pertarungan pembuka di hari pertama Kejuaraan Antar Perguruan.

Di hadapan mereka, Perguruan Ayam Jantan menyusun formasi melingkar. Remaja lelaki yang dikenal sebagai Saweri Gading berdiri di tengah. Ia dikelilingi oleh rekan-rekannya. Regu mereka terdiri tiga remaja perempuan dan dua remaja lelaki. Tiga dari mereka adalah peranakan siluman, dan Saweri Gading adalah salah satunya. Jika demikian, apakah seorang anak lelaki lagi peranakan siluman atau bukan?

Di tribun penonton, para hadirin menahan napas. Kedua perguruan yang sedang berada di atas panggung pertarungan, walau merupakan perguruan terbaik di wilayah masing-masing, bukanlah unggulan kejuaraan kali ini. Meski demikian, mereka terus meraih kemenangan, dan pertarungan yang disajikan oleh murid-murid dari kedua perguruan sungguh memukau.

“Salam hormat teman-teman dari Perguruan Gunung Agung… Namaku Saweri Gading,” ujar remaja lelaki tersebut dengan pembawaan yang demikian tenang.

Ungkapan hormat ditanggapi dengan anggukan dari murid-murid Perguruan Gunung Agung.

“Aku yakin dan percaya, bilamana pertarungan di antara kita berlangsung secara berkelompok, atau pun satu lawan satu, maka si pemenang justru akan menderita cedera yang tak ringan.”

Bintang Tenggara menatap dengan seksama. Pemikirannya senada dengan Saweri Gading. Berdasarkan pantauan pertarungan selama kejuaraan berlangsung, dapat disimpulkan bahwa perwakilan kedua perguruan hampir sama kuatnya. Hampir. Sesungguhnya, Perguruan Ayam Jantan sedikit lebih unggul karena Saweri Gading memiliki kemampuan meredam daya dobrak Canting Emas menggunakan jurus misterius, Tarian Massere Api. Akan tetapi, dikarenakan suatu alasan, sepertinya Saweri Gading memutuskan untuk menempuh pilihan lain.

“Apakah kita bertarung berkelompok dalam jangka waktu tertentu? Ataukah kita mengirimkan satu perwakilan saja?” Canting Emas menanggapi.

Dalam keadaan dimana kedua belah pihak memiliki kekuatan hampir setara, maka taktik bertarunglah yang akan menjadi penentu kemenangan. Bintang Tenggara menelusuri ingatannya akan 99 Taktik Tempur versi Komodo Nagaradja… Ia sudah menemukan beberapa kemungkinan taktik yang bisa diterapkan.

“Bagimana bila kita serahkan pada peruntungan…?” sela Bintang Tenggara.

Pertarungan berkelompok dalam waktu tertentu tidaklah ideal karena, sekali lagi, Saweri Gading dapat meredam daya dobrak Canting Emas yang merupakan penyerang utama. Menugaskan satu perwakilan justru akan memancing keributan antara Canting Emas dan Panglima Segantang. Keduanya sangat hendak bertarung menghadapi Saweri Gading!

“Apakah gerangan maksud Sappokkadua Bintang Tenggara?”* tanya Saweri Gading penasaran.

“Maksudku, kalian mengundi siapa dari kami yang akan bertarung, dan kami mengundi siapa dari kalian yang akan bertarung… Satu lawan satu,” jawab Bintang Tenggara.

“Aneh…,” gumam Komodo Nagaradja. “Apakah kau berkerabat dengan anak berdarah siluman itu?”

“Hei… Aku kurang setuju…,” bisik Canting Emas.

“Ini yang terbaik,” jawab Bintang Tenggara, tak sempat menanggapi Komodo Nagaradja.

“Aku setuju dengan saran Sappokkadua,” seru Saweri Gading.

Hm? Apakah gerangan arti Sappokkadua? tanya Bintang Tenggara dalam hati. Namun, segera ia abaikan rasa penasaran itu karena saat ini memang ada yang lebih penting.

“Yang Terhormat Wasit dari Perguruan Maha Patih, bersediakah Tuan membantu kami?” ujar Bintang Tenggara.

Sang wasit segera melompat ke atas panggung. Ia sudah memahami rencana murid-murid perwakilan kedua perguruan. Tanpa basa-basi, segera ia keluarkan secarik kertas. Ia pun menulis nama murid-murid Perguruan Gunung Agung dan Perguruan Ayam Jantan. Kemudian, lima gulungan kecil berisikan nama murid-murid Perguruan Gunung Agung diserahkan kepada Perguruan Ayam Jantan, begitu pula sebaliknya.

Saweri Gading mengambil satu gulungan kertas secara acak, begitu pula dengan Canting Emas.

“Saweri Gading,” ucap Canting Emas lantang. Lalu ia menunjukkan tulisan tersebut ke arah seluruh murid yang ada di atas panggung. Artinya, Saweri Gading akan menjadi wakil dari Perguruan Ayam Jantan.

Saweri Gading pun membuka gulungan kertas perlahan. Raut wajahnya yang tenang sedikit berubah. Tanpa membacakan, ia segera menunjukkan lembaran kertas kepada murid-murid lain…

‘Bintang Tenggara’, adalah tulisan yang tertera di permukaan kertas.


“Poniman… apakah yang sampean pikirkan?” tegur seorang murid Perguruan Maha Patih.

Seperti biasa, Poniman sedang bertugas jaga di gerbang megah Perguruan Maha Patih. Hatinya resah. Ia masih tak hendak percaya bahwa teman baiknya menghilang.

“Aku hanya sedikit mengantuk…,” ujar Poniman berbohong.

Jauh di dalam lubuk hati, Poniman masih menyisakan sedikit harapan bahwa Gundha dan Bintang Tenggara salah lihat atau terjebak dalam perangkap halusinasi. Dengan kata lain, Wirabraja saat ini masih hidup di suatu tempat.

“Eh… siapakah itu?” tetiba Poniman berseru.

Di kejauhan, terlihat sosok seseorang yang berpakaian serba hitam. Kepalanya tertutup sebuah caping, sejenis topi berbentuk kerucut yang umumnya terbuat dari anyaman bambu. Sosok tersebut bergerak semakin mendekat ke arah gerbang Perguruan Maha Patih.

“Siapakah gerangan Tuan Ahli?” tegur Poniman saat sosok tersebut tiba tepat di depan gerbang.

Sosok lelaki tersebut tak menjawab. Tangannya bergerak menyodorkan sebuah lencana berwarna keemasan.

“Undangan khusus… tamu kehormatan Kejuaraan Antar Perguruan…,” gumam Poniman pelan.

Tanpa banyak tanya, penjaga gerbang lain segera menyingkir dan membuka jalan. Bukanlah sesuatu yang aneh bila seorang ahli tak hendak menampilkan jati dirinya. Meski demikian, Poniman mencuri-curi pandang. Ia hendak memastikan wajah di balik caping.

Sosok lelaki itu tak hendak berlama-lama dan segera melangkah masuk. Ia juga mengabaikan seorang murid yang menawarkan diri mengantarkan ke tribun tamu kehormatan di gelanggang kejuaraan.

“Hm…,” Poniman berpikir keras. “Mengapa aku merasa wajahnya tak asing…?” ujarnya sedikit bingung.

“Wajahnya menyerupai seorang Murid Utama, bahkan Putra Perguruan…,” tambah salah seorang penjaga lain, sama penasarannya terhadap tamu kehormatan yang baru saja tiba itu.

“Benar!” seru Poniman. “Wajahnya mirip dengan anak didik salah seorang sesepuh yang menghilang beberapa bulan lalu!”

Sosok bercaping melangkah cepat memasuki wilayah gelanggang kejuaraan. Agar tak menarik perhatian, ia tidak mencari tempat duduk di tribun kehormatan.


Canting Emas, Panglima Segantang, Kuau Kakimerah dan Aji Pamungkas menuruni panggung pertarungan. Di sisi lain, empat orang remaja dari Perguruan Ayam Jantan juga melompat turun dari atas panggung. Mereka hanya akan menonton dari bawah panggung. Sesuai kesepakatan, pertarungan hanya akan berlangsung antara perwakilan yang ditentukan oleh undian.

Bintang Tenggara dan Saweri Gading berdiri hadap-hadapan. Bintang Tenggara merasakan tekanan yang teramat besar dari lawan. Sedangkan lawannya hanya tersenyum menyaksikan Bintang Tenggara yang sedikit salah tingkah.

Asana Vajra, Bentuk Pertama: Utkatasana!

Asana Vajra, Bentuk Kedua: Virabhadrasana!

Sisik Raja Naga telah terpasang di kedua lengan dan kaki. Petir segera mengalir dari Cincin Gundala Si Anak Petir yang tersemat di ibu jari. Bintang Tenggara tak lagi perlu memasang pose kursi maupun prajurit ketika merapal Bentuk Pertama dan Bentuk Kedua jurus kesaktian unsur petir. Ia pun merangsek cepat menghunus cakar-cakar yang bermuatan listrik.

Tarian Massere Api!

Saweri Gading bergerak setengah berjingkat ke kiri dan ke kanan. Luwes dan ringan gerakannya. Pada saat yang bersamaan muncul kesan mistis dari sekujur tubuh remaja tersebut.

Belasan serangan telah dilepaskan. Segel Penempatan juga telah dilempar berkali-kali. Meski demikian, tak satu pun serangan Bintang Tenggara mendarat di tubuh lawan. Saweri Gading sangat piawai dalam menghindar.

Bintang Tenggara menyibak kembangan. Gerakan kembangan yang berupaya mengelilingi lawan setengah melingkar pun tak dapat berdampak banyak. Saweri Gading tidak diam di satu tempat. Ketika kembangan bergerak, ia pun turut bergerak.

Silek Linsang Halimun, Bentuk Ketiga: Kata Berjawab, Gayung Bersambut!

Bintang Tenggara sedikit tak sabar. Ia menggunakan teleportasi jarak dekat walau menyadari bahwa dirinya terpaksa mengeluarkan tenaga dalam lebih banyak. Hasilnya tentu tak mengecewakan. Bintang Tenggara muncul tepat di sisi Saweri Gading.

Pertukaran pukulan mulai terjadi. Saweri Gading tak lagi dapat menghindar dengan leluasa, tetapi ia menghadapi dengan jurus persilatannya sendiri. Gerakannya sungguh unik dan tak biasa. Sama dengan sebelumnya, Saweri Gading terlihat seperti menari-nari di atas panggung pertarungan.

“Hoo…? Manca Baruga… sudah lama sekali aku tak menyaksikan teknik persilatan ini,” ujar Komodo Nagaradja senang.

Bintang Tenggara dan Saweri Gading mundur secara bersamaan. Puluhan gerakan dilancarkan sudah, namun tak satu pun serangan yang menembus pertahanan masing-masing. Oleh karena itu, keduanya memilih mundur sejenak.

“Hya!”

Saweri Gading merangsek maju! Bintang Tenggara pun tak tinggal diam. Keduanya bergerak saling bertukar serangan ke kiri dan kanan, depan dan belakang. Puluhan pertukaran pukulan kembali terjadi, dan lagi-lagi tak satu pun yang berhasil menembus pertahanan satu sama lain. Bila terus berlanjut, maka pertarungan ini akan menjadi adu daya tahan.

Keduanya kembali memisahkan diri. Keduanya pun menyadari bahwa tak akan ada akhir dari pertukaran pukulan yang sedemikian. Akan tetapi, perlu diakui ketangguhan Bintang Tenggara. Meski berada pada Kasta Perunggu Tingkat 5, ia mampu bertukar serangan dengan Saweri Gading yang berada pada Kasta Perunggu Tingkat 8.

“Ayo! Semangat!”

“Perguruan Gunung Agung! Pe… Ge… A!”

“Sang Lamafa Muda! Es… El… Em!”

Sebagian besar penonton yang awalnya meremehkan Bintang Tenggara pada pertarungan-pertarungan sebelumnya, kini balik mendukung. Mereka terkagum-kagum pada anak remaja yang dapat mengimbangi lawan yang berada beberapa tingkat di atas. Tambahan lagi, bukan rahasia bahwa Bintang Tenggara adalah perwakilan dengan peringkat keahlian paling rendah dari seluruh peserta tahun ini.

Tempuling Raja Naga!

Bila pertarungan tangan kosong tak membuahkan hasil, Bintang Tenggara mengambil inisiatif menyerang dengan menikamkan tempuling digdaya miliknya. Sepengetahuannya, Saweri Gading sedari awal Kejuaraan Antar Perguruan tak pernah menghunuskan senjata. Dengan demikian, Bintang Tenggara seharusnya lebih unggul bilamana mengeluarkan Tempuling Raja Naga.

Bintang Tenggara melenting tinggi di udara. Bilah tempuling yang demikian panjang siap menikam tajam!

“Bum!”

Saweri Gading melompat ke samping. Tikaman tempuling hanya berhasil melubangi permukaan panggung. Di saat yang sama, sebuah tendangan sapuan mengincar rusuk Bintang Tenggara. Sigap, ia menahan dengan bilah tempuling. Meski demikan, tubuh Bintang Tenggara terdorong keras.

Di udara, Segel Penempatan telah siap siaga menanti. Bintang Tenggara terlihat melompat dua atau tiga kali. Ia bergerak memutar, mencari sudut mati pertahanan Saweri Gading, sebelum akhirnya kembali melenting dan menikam. Kini, berat Tempuling Raja Naga yang diimbuh tenaga dalam mencapai 300 kilogram.

“Trak!”

Bilah tempuling yang panjang terlontar ke samping. Tubuh Bintang Tenggara pun terbawa bersama senjata tersebut. Kedua belah lengannya terasa kesemutan. Bahkan, Sisik Raja Naga tak bisa banyak meredam kekuatan tebasan.

Di saat mendarat, kedua mata Bintang Tenggara menangkap sebilah pedang dari logam berwarna biru tua. Pedang tersebut demikian besar, setara dengan Parang Hitam milik Panglima Segantang. Anehnya, terdapat sebuah lingkaran di bagian hulu pedang besar itu…

“Lha….” Sungguh aneh reaksi Komodo Nagaradja.

“Hah!?” Panglima Segantang di bawah panggung ikut terkejut.

“Dari mana kau dapatkan Dayung Penakluk Samudera!?” sergah Bintang Tenggara.

“Oh…?” Giliran Saweri Gading yang terheran. “Apakah Sappokkadua Bintang Tenggara pernah bertemu dengan Sappokkadua Ammandar Wewang?”

Bintang Tenggara hanya terdiam. Benar, itu adalah salah satu dari Sembilan Senjata Pusaka Baginda milik Ammadar Wewang, Sang Pelayar Langit. Dayung Penakluk Samudera memang bisa dikerahkan oleh siapa saja. Bentuknya pun akan menyesuakan diri dengan orang yang menggunakan. Bentuk senjata tersebut saat dikerahkan oleh Saweri Gading, mirip dengan saat dikerahkan oleh Panglima Segantang. Sebuah pedang besar!

“Hyah!”

Bintang Tenggara kembali melompat. Tak ada gunanya berbincang-bincang saat sedang bertarung. Ia ingin segera menguji ketangguhan Saweri Gading saat mengerahkan Dayung Penakluk Samudera!

Sambil mengangkat Tempuling Raja Naga di atas bahu, Bintang Tenggara melenting tinggi. Beberapa Segel Penempatan telah dilemparkan dan kini ia melompat-melompat di udara mencari momentum yang paling tepat.

Saweri Gading menebaskan Dayung Penakluk Samudera dengan kedua belah tangannya. Di saat yang sama, terlihat samar gemuruh ombak yang mengikuti laju tebasan.

“Hah! Senjata apakah pedang besar itu?”

“Pedang besar itu memiliki kesaktian unsur air!”

“Aku pernah melihat senjata digdaya berbentuk dayung yang berwarna serupa!”

Para penonton kembali bersahut-sahutan setiap memperoleh kesempatan untuk berkomentar. Wajar saja mereka tak mengenal Dayung Penakluk Samudera. Bilamana berada di tangan Lima Sekawan Penakluk Samudera, bentuk senjata tersebut tak pernah menyerupai pedang besar!

“Brak!”

Bintang Tenggara yang telah mempersiapkan serangan matang, malah terlontar tinggi ke udara. Tebasan pedang yang berbekal kesaktian unsur air demikian deras, bak ombak pasang tsunami menyapu apa pun dalam lintasannya. Tubuh pun terlempar sampai ke luar dari wilayah panggung pertarungan.

Setelah melompat-lompat di sejumlah Segel Penempatan, Bintang Tenggara kembali mendarat di atas panggung pertarungan. Andai saja tadi Saweri Gading melancarkan serangan susulan, maka dirinya pastilah sudah terjatuh di luar panggung.

Keduanya kembali berhadap-hadapan.

Apakah sebaiknya aku mengunyah Sirih Reka tubuh? Bintang Tenggara membatin. Meski, dari lima paket sirih yang dimiliki, ia telah mengunyah satu saat menyelamatkan Gundha. Sirih Reka Tubuh sangatlah berharga, sebaiknya dimanfaatkan bilamana menghadapi ancaman jiwa. Lagipula, belum tentu juga mengunyah sirih akan berdampak banyak saat menghadapi Saweri Gading yang demikian digdaya.

“Brak!”

Bintang Tenggara hanya bisa bertahan menggunakan bilah tempuling. Saweri Gading mengayunkan pedang besarnya dengan luwes. Sungguh beruntung Bintang Tenggara terbiasa berlatih tarung dengan Panglima Segantang yang bersenjatakan parang besar, sehingga masih bisa bertahan.

Di tengah pertarungan, Bintang Tenggara menyadari bahwa gaya bertarung Saweri Gading sangatlah unik. Remaja tersebut tidak mengandalkan kekuatan dan naluri layaknya Panglima Segantang, atau mengutamakan kelincahan dan daya dobrak seperti Canting Emas. Saweri Gading mengandalkan keluwesan dan perhitungan, atau dengan kata lain sangat mirip dengan dirinya sendiri yang mengombinasikan kecepatan dan perhitungan.

Sepertinya melempar Segel Petir pun hanya akan ditebas atau dihindari dengan mudah, batin Bintang Tenggara. Ia pun menelusuri ingatan akan 99 Taktik Tempur versi Komodo Nagaradja. Namun, masih saja kesulitan menemukan taktik yang sesuai.

“Super Guru, di dalam dimensi penyimpanan terdapat sebuah cangkang siput yang berukuran besar… Apakah Super Guru mengetahui kegunaannya?” ujar Bintang Tenggara menggunakan jalinan mata hati.

“Percuma saja. Kombinasi Tarian Massere Api, Manca Baruga, serta Dayung Penakluk Samudera… Dengan kemampuanmu saat ini, kau tak memiliki kesempatan meraih kemenangan.”

“Brak!”

Saweri Gading terus mendorong dengan tebasan-tebasan Dayung Penakluk Samudera. Sebagaimana diketahui, Bintang Tenggara tak memiliki teknik persilatan khusus dalam mengerahkan tempuling. Kemampuannya saat ini hanyalah menikam layaknya sedang berburu paus.

“Sebaiknya kita mengganti nama Tempuling Raja Naga menjadi Tempuling Raja Tumpul…,” gerutu Komodo Nagaradja. Meski, dalam hatinya ia tahu bahwa kelemahan senjata jenis tombak, seringkali adalah ketika berhadapan dengan pedang besar.

“Brak!”

Bintang Tenggara menangkis, dan terus terdorong. Sebentar lagi anak remaja tersebut akan terdesak...

“Super Guru nan perkasa… kumohon kembali melonggarkan segel jurus Delapan Penjuru Mata Angin.”

“Berapa persen…?”

“Menjadi lima persen….”

“Sudah,” ujar Komodo Nagaradja malas.

Bintang Tenggara kemudian memanfaatkan kesaktian unsur petir untuk bergerak cepat tak beraturan. Pada dasarnya ia terlihat bergerak menjauh. Tak hendak melonggarkan serangan, Saweri Gading segera mengejar.

Bintang Tenggara tetiba terlihat seperti sedang berpose. Ia berdiri dan bertumpu pada kaki kiri, lalu mengangkat dan menekuk lutut kaki kanan. Telapak kaki kanan kemudian ditempelkan pada paha bagian dalam di kaki kiri. Kedua lengannya diangkat tinggi ke atas, dengan menempelkan telapak tangan.

Asana Vajra, Bentuk Ketiga: Vriksasana!

Untuk bentuk ketiga ini, Bintang Tenggara masih terpaksa memasang gerakan jurus. Aliran listrik menari-nari tidak hanya di kaki dan lengan, melainkan di sekujur tubuh. Kilatan petir lalu mencuat keluar dari ujung kepala. Aliran listrik tersebut merangkai diri dan terus tumbuh ke atas setinggi hampir tiga meter. Lalu, terlihat dahan-dahan listrik yang kemudian berpencar menjadi ranting-ranting listrik, dan terangkai menjadi… sebuah pohon petir!

“Salah satu Sapta Nirwana dari Perguruan Gunung Agung!”

“Harkat yang menghasilkan wujud… pohon petir!”

“Aku akan membawa keluarga dan tetanggaku hijrah ke Pulau Dewa!”

Menyadari apa yang terjadi, bahwa lawan sedang mempersiapkan jurus digdaya, Saweri Gading berhenti di tempat. Ia tak hendak gegabah. Jarak mereka terpisah kurang dari sepuluh langkah.

Petir bergemeretak… terdengar seperti dahan-dahan dan ranting pohon yang berpatahan. Bintang Tenggara telah selesai merapal. Menyaksikan Saweri Gading berhenti mendadak, Bintang Tenggara pun segera melepaskan jurus!

“Beledar!”

Gemuruh halilintar saling bersahutan ketika jurus dilepaskan. Dahan dan ranting petir segera melingkupi wilayah kekuasaannya, dengan Bintang Tenggara sebagai titik pusat. Ratusan kilatan petir segera menyambar wilayah panggung secara tak terkendali. Ubin-ubin di permukaan terlontar dan tak sempat mendarat karena petir menyambar beruntun dan sambung-menyambung.

Kelebihan Asana Vajra, Bentuk Ketiga: Vriksasana adalah sifatnya sebagai jurus areal. Artinya, jurus ini akan melingkupi wilayah tertentu selama jangka waktu tertentu pula. Dengan Kasta Perunggu Tingkat 5, Bintang Tenggara saat ini hanya mampu merapal jurus dalam radius 9 m, dalam jangka waktu 9 detik. Adapula kelemahannya, jurus ini tak bisa dibawa bergerak dan sambaran petir tak bisa dikendalikan.

Badai petir mereda. Ubin-ubin yang berada dalam jangkauan jurus kesaktian unsur petir hancur tak menyisakan bentuk lagi. Di hadapan Bintang Tenggara, Dayung Penakluk Samudera yang sedang berbentuk pedang besar, tertancap. Warna Senjata Pusaka Baginda itu berubah menjadi kemerahan karena panas, sebelum perlahan kembali berwarna biru tua.

Di balik Dayung Penakluk Samudera… Saweri Gading berdiri dengan sedikit menekuk lutut, berupaya menjaga keseimbangan. Napasnya terengah. Luka bakar dan memar terlihat pada beberapa bagian di lengannya.

Kecepatan pohon petir dalam melingkupi wilayah terjadi dalam sepersekian detik. Akan tetapi, ketika berhenti mendadak tadi, Saweri Gading telah dapat memperkirakan dengan akurat sifat dasar dari jurus digdaya di depan mata. Seketika sebelum Bintang Tenggara melepaskan jurus, ia telah melempar dan menancapkan Dayung Penakluk Samudera beberapa langkah di depan. Kemudian, ia segera meluncurkan Tarian Massere Api.

Walhasil, sebagian besar petir menyambar bilah Dayung Penakluk Samudera yang berbahan dasar logam dan berfungsi sebagai konduktor listrik. Sambaran petir sisanya dihindari dengan jurus andalan. Meski, masih ada sejumlah kilatan petir yang mendarat atau menyerempet tubuh Saweri Gading.

Bintang Tenggara jatuh bertumpu pada satu lutut. Napasnya terengah, keringat bercucuran. Ia hampir kehabisan tenaga dalam, sedangkan lawan hanya menderita sedikit luka luar!

“Hampa…,” gumam Bintang Tenggara. Kata tersebut bukan hanya untuk membuka jurus Delapan Penjuru Mata Angin, melainkan juga untuk mengungkapkan perasaan betapa jurus terakhirnya tak membuahkan apa-apa. Lawannya kali ini terlalu cerdas!

Saweri Gading melangkah maju. Sepertinya ia sudah ingin mengakhiri pertarungan ini.

“Crak!” tetiba Saweri Gading merasakan tubuhnya kejang! Ia sama sekali tak dapat bergerak karena sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuh. Lima detik kemudian, baru tubuhnya terasa normal kembali.

Senyum tipis menghias sudut bibir Bintang Tenggara. Dalam hal menutupi kemungkinan jurus yang demikian menguras tenaga dalam mampu diatasi lawan, ia melempar beberapa Segel Petir sebelum badai petir mereda. Rupanya langkah jaga-jaga tersebut membuahkan hasil.

Saweri Gading menatap tajam ke arah Bintang Tenggara. Mungkin pertarungan ini adalah kali pertama dimana ia berhadapan dengan lawan yang tak kalah cerdas.

Bintang Tenggara bangkit berdiri. Berkat jurus yang tak diketahui asal-muasalnya, mustika tenaga dalam Kasta Perunggu Tingkat 5 telah terisi hampir setengah.

“Super Guru…,” Bintang Tenggara berharap akan sebuah petuah. Bila tidak ada, maka kemungkinan besar dirinya akan kalah menghadapi Saweri Gading.

“Beruntungnya engkau… Berkat pengalaman dan ketangguhan Super Guru ini, maka kau memiliki dua pilihan!” ujar Komodo Nagaradja membaca maksud muridnya.

“Apakah itu, wahai Super Guru yang memiliki pengalaman ketangguhan…?”

“Pertama, pengalamanku menganjurkan agar engkau melompat turun dari panggung pertarungan. Menyerah kalah sajalah….”

“Haa?”

“Kedua, ketangguhanku mengimbau agar engkau lemparkan beberapa Segel Penempatan bertingkat tinggi ke udara. Lalu… untuk mengimbangi Dayung Penakluk Samudera, kau ambil saja keris yang melayang di atas sana.”

“Haa!?” Nada suara Bintang Tenggara meninggi.

“HA!” sergah Komodo Nagaradja.

“Hya!” Saweri Gading merangsek menerkam lawan yang terlihat sedang bengong.

“Zzztt….” Bintang Tenggara bergerak cepat menghindar.

“Tapi… tak seorang pun yang dapat mengerahkan keris itu….”

“Aku mengenal keris itu….”

“Zzztt….” Bintang Tenggara kembali bergerak menghindar dari tebasan Dayung Penakluk Samudera. Pertarungan di atas panggung kini mirip permainan kucing-kucingan.

“Apa yang perlu dilakukan untuk menggunakan keris itu?”

“Gampang... Tinggal kau sebutkan saja nama aslinya.”



Catatan:

Bahasa Bugis: Sappokkadua, berarti ‘sepupu dua kali’. Dengan kata lain, memiliki buyut (kakek/nenek dari ayah/ibu) yang sama.

(Ehem… episode terpanjang.)