Episode 7 - Pertama Kali di dalam Lubang



Langit malam terlihat di atas tanah keras oleh bebatuan. Tak ada bintang, dan bulan tak terlihat karena terhalang ketinggian dinding. Namun, tak begitu gelap. Cahaya remang-remang membantu penglihatan. Bunga kristal transparan yang menancap pada tanah dan dinding mengeluarkan cahaya hijau, akan tetapi tak cukup kuat untuk digunakan sebagai menjadi penerang jalan.

Perjalanan kami terlalu lambat. Padahal secara perlengkapan, dua explorer dalam cerita ini telah siap dengan perlengkapan yang lebih baik. Sang pendekar pedang telah melapisi dirinya dengan light armor perak kehitaman pada sekitar dada, betis, dan lengan kiri. Sedangkan sang penyihir mempunyai tongkat metalik hitam dengan ujung berupa bola kristal yang di dalamnya memiliki empat warna terpisah; merah, biru, kuning, dan hijau.

Monster di sini tidaklah semudah tempat kami sebelumnya. Nama NOEL (Melee), Tempest (Caster), dan Princess (Visitor) berada di atas kepala tiga orang yang sedang berada di sekitar area ‘lubang teratas’ zona explorasi pit seven. Demikian namanya, karena model tempat ini adalah tujuh lubang mangkuk besar. Masing-masing berdiameter kurang lebih 30 kilometer, terurut menuju ke bawah tanah dengan model peta mangkuk berbaris layaknya sebuah tangga. Cabang jalan penghubung antar lubang terdapat pada ujung selanjutnya, titik dimana kedua dua lubang yang berdekatan saling berhubungan oleh sebuah lorong berjalan diagonal menurun.

Tujuan mereka adalah lubang kedua. Di sana, terdapat tempat yang diminta oleh Adel kepada NOEL dan Tempest.

 “Kalian payah,” keluh Princess, nama Adelia dalam game yang menggunakan one-piece dress putih bermotif bunga.

Sehabis pertarungan, khusus buat NOEL, dia harus duduk beristirahat untuk mengaktifkan rest mode. Tiap kali bertarung, HPnya berkurang mendekati zona merah. Sebuah kondisi yang tidak menyenangkan bagi NOEL karena bukan merupakan seorang tank.

“Ha? Kenapa harus di tempat ini coba?” NOEL membalas dengan nada kesal.

“Santai santai. Setidaknya, kita semua sudah sampai sejauh ini.” Tempest mencoba untuk menengahi.

Salah Adel juga baru memberitahu tempat tujuan saat memasuki AW. 

“Sekali lagi, kuperjelas. Kami baru pertama kali memasuki Pit Seven.”

“Sekali lagi, kubalas. Bukannya hal seperti ini biasa buat pemain game?”

NOEL langsung terdiam setelah kata-katanya dibalas. Sebenarnya, ini bukan pertama kali mereka mengucapkan dua kalimat itu. Tempest hanya menunjukkan ekspresi senyum masam melihat keduanya.

“Serasa lagi nonton sinetron.”

“Hah?” NOEL dan Princess membalas bersamaan.

“Em … maaf, deh,” ujar Tempest sambil menggaruk-garuk dahinya. “Ngomong-ngomong, bajumu kok bisa seperti itu?”

Yang dimaksud Tempest adalah baju milik Princess. 

“Maksudmu? Kalau baju hitam putih seperti kalian, dulu aku juga make. Atau … jangan bilang kalian nggak tahu fashion shop.”

Seperti bukan Isal yang serba tahu. Noel merangkul Isal yang sejak duduk bersampingan dengannya.

“Pura-pura bodoh?” tanyanya dengan suara pelan, berbisik di telinga Isal.

“Gak. Aku beneran gak tahu.”

Mulut Noel menganga sedikit. “Masa? Padahal kamu kelihatan tahu dan terbiasa soal game.”

“Minus gaya-gayaan. Yang kupikirkan cuma memperkuat karakter.”

Adalah pertama kali bagi NOEL untuk menemukan pemain yang tidak mempedulikan seputar gaya berpakaian. Walau Tempest mengetahuinya sekalipun, hanya visitor yang memiliki hak ekslusif untuk mengakses fashion menu atau pakaian, tapi sistem akan menolak jika terbuat dari material monster. Visitor membeli pakaian dengan membeli model pakaian yang terjual dalam toko. Jika sudah terbeli, mereka dapat memakainya dengan mengaktifkan cocoon mode, menu khusus tipe visitor berupa tempurung menutupi tubuh. Tempurung itu akan menghilang setelah pakaian melekat pada badan.

Di sisi lain, jika ingin terlihat keren, explorer harus membuat armor berdasarkan bahan yang didapatkan di pada NPC penempa armor. Yang unik sekaligus aneh, NPC akan menciptakan benda secara acak, tapi takkan memproduksi hal yang sama untuk orang yang sama lebih dari sekali.

Tiga sosok bayangan yang sudah sangat dikenali mendekat dari depan

“Mereka lagi?!” seru Princess, meninggikan suara akibat takut sambil menunjuk ke depan dengan telunjuknya.

Lesser Kobold. Monster tipe humanoid1 berwajah anjing hutan. Bulunya coklat pada seluruh tubuh dengan tinggi badan sedikit di bawah manusia rata-rata. Tak ada pakaian melekat. Mereka lincah dengan cakar dan taring kekuning-kuingan sebagai senjata. 

“Uhh. Padahal, HPku belum penuh,” keluh Noel dalam hati. HPnya masih 88/100.

Terdapat tiga ekor dari mereka. Yang terdepan deri mereka menerjang dengan sambil melebarkan lengan kanan ke samping. Dua tersisa berlari condong dengan kedua lengan diarahkan ke bawah.

Mereka bertiga berdiri. Dari yang terlihat, hanya NOEL yang terlihatmengambil kuda-kuda bertarung. Dia bergerak setelah tangan kanannya mengambil pedang segitiga siku-siku yang tersarungkan secara menyilang pada punggungnya.

Sambil berlari ke arah mereka dengan jarak tersisa sekitar dua meter…

<Sword Line>

Pedangnya diposisikan secara horizontal, sejajar dengan hidung. Pandanganku lurus ke kobold terdepan. Lutut menekuk, kemudian mengeper ke depan lesser kobold.

Dalam sekejap, NOEL telah berada di belakang tiga makhluk itu.

YES! One hit.

NOEL mengucapkannya dengan bangga. Namun, dua yang tersisa tidak mengindahkan NOEL.

“Lari lari LARI!”

Sayangnya, kecepatan lari para kobold lebih cepat dibandingkan mereka.

89/100, 78/100, 65/100. HP sang caster terus mengalami penurunan setiap kali cakar monster itu, menerjang punggungnya.

NOEL terlupa bahwa monster di tempat itu memiliki aggro system yang berbeda.

Segera, dia mengejar dengan meneriakkan <Instant Thrust>.

“Sial, belum sampai. Sekali lagi.”

Tapi, tubuhnya tak mau mematuhi. Kondisi skill out lagi-lagi dialami oleh NOEL. Sikap langsung menyerang sebagai pemain solo sudah sangat melekat, membuatnya seringkali menyerang tanpa berpikir.

Tanpa disadari, kobold lain telah berada di samping NOEL yang sedang mematung. Rahang si monster menggigit siku si pendekar pedang dan kelima kuku tajam di tangan kanannya menancap pada daerah jantung. Begitu terus. HP NOEL menurun tiga poin per detik dari angka 68/100.

Pada akhirnya, NOEL mati.

Telah tiba di sebuah ruangan serba hitam tak berdasar dan berjarak tanpa batas, NOEL berdiri di atas sebuah pijakan tak terlihat. DI depannya, terdapat sebuah lingkaran dengan angka 05:59:50 dan terus menurun. Angka itu adalah waktu penghidupan untuk karak

“Masih enam jam lagi,” gumam NOEL dengan suara rendah.

Noel memutuskan untuk log out. Setelah membuka mata, jam menunjukkan 03:12 pagi pada jam lampu di samping tempat tidurnya. Dalam pikirannya, dia mendapatkan sebuah ide, dan mungkin merupakan jalan keluar untuk berhasil menuju ke tempat permintaan Adel.

“Sebaiknya ku SMS saja mereka,” ujarku dalam hati.

Isi pesannya adalah untuk beraksi kembali besok malam. Ada tambahan khusus untuk Tempest.

Jam 8 malam, kutunggu di ruang latihan.




Catatan kaki

1. Menyerupai manusia, dengan ciri-ciri yang berbeda sesuai yang dideskripsikan dalam cerita.



Catatan Pengarang

Sebelumnya, saya meminta maaf untuk update kali ini baru keluar setelah dua minggu. Ada beberapa plot yang mesti saya ubah sehubungan dengan jalannya cerita demi menciptakan suasana yang lebih hidup. Dan update kali ini cukup pendek karena minggu depan akan disuguhkan sistem game secara lebih spesifik.