Episode 98 - Tinju Super Sakti…?

 

“Sesepuh Ketujuh, apakah Pedang Patah itu?” tanya Panglima Segantang di ruang tengah Perguruan Maha Patih.

“Lagi-lagi kau menghilang!” sergah Canting Emas ke arah Bintang Tenggara yang baru saja melangkah masuk.

“Aku diundang menginap di penginapan Sanggar Sarana Sakti…”

“Di kamar siapa kau menetap!? Mojang Kuning atau Mojang Hijau!? Mengakulah! Mengakulah sekarang juga!” teriak Aji Pamungkas kesetanan.

“…”

“Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Ketua Panitia pada upacara pembukaan kejuaraan, Pedang Patah adalah senjata yang kabarnya dihunuskan sendiri oleh Sang Maha Patih saat Perang Jagat,” ungkap Sesepuh Ketujuh.

Mendengar kata-kata ‘Ketua Panitia’ diucapkan, dahi Bintang Tenggara mengernyit. Sungguh ia muak membayangkan wajah Maha Guru Segoro Bayu yang berupaya menjebak dirinya itu.

“Apa yang sedang mereka bicarakan?” Komodo Nagaradja penasaran.

“Pedang tersebut patah di saat Sang Maha Patih berhadapan dengan Kaisar Iblis Darah. Bagi sebagian, Pedang Patah memiliki nilai sejarah panjang… Sebagian lagi memandangnya sebagai barang antik yang bernilai jual tinggi. Akan tetapi, bagi Persaudaraan Batara Wijaya, pedang tersebut memiliki arti yang lebih mendalam. Perang dingin antara Perguruan Maha Patih dan Persaudaraan Batara Wijaya pun utamanya disebabkan oleh pedang tersebut.”

“Apa pula itu Pedang Patah!? Baru kali ini aku mendengar istilah yang demikian menyampah!” umpat Komodo Nagaradja.

Bintang Tenggara mengabaikan komentar gurunya. Dirinya sendiri sudah curiga akan pedang itu sejak awal.

“Lalu, mengapa tak ada ahli yang menggunakan pedang Kasta Perak tersebut?” lanjut Panglima Segantang penasaran.

“Kemampuan yang terkandung di dalam pedang itu tak dapat dikerahkan. Sudah sejak lama Perguruan Maha Patih meneliti, namun tak kunjung membuahkan hasil,” urai Sesepuh Ketujuh.

“Apakah Sesepuh Ketujuh mengetahui cara mengerahkan kemampuan pedang itu?” sela Bentang Tenggara.

“Ada beberapa teori yang dapat dicoba…,”

“Mungkinkah sebagai piala bergilir, Perguruan Maha Patih hendak membuka kesempatan kepada perguruan-perguruan lain meneliti?” ujar Canting Emas penasaran.

“Mungkin saja demikian.”


===


“Eh…? Keris itu?” ujar mata hati Komodo Nagaradja. Ia sedang mengamati sebuah senjata besar yang melayang tinggi di atas panggung pertarungan.

“Nah… itu adalah keris, benar ‘kan Super Guru?”

“Keris itu yang semalam disebut sebagai Pedang Patah?” tanya Komodo Nagaradja.

“Benar,” jawab Bintang Tenggara cepat. Kecurigaannya terbukti.

“Di antara sekian banyak ahli,” Komodo Nagaradja mengamati ribuan ahli yang sesak berdesakan di tribun penonton, “apakah tak ada satu pun yang memahami sejarah…?”

Pertanyaan tentang sejarah yang tak lengkap mengenai masa lalu Negeri Dua Samudera, selalu menghantui Komodo Nagaradja selama perjalananannya bersama sang murid. Bahkan, sang siluman sempurna itu seringkali menemukan kesalahan-kesalahan besar terkait sejarah. Salah satu contoh nyata adalah perihal keris itu.

“Benarkah keris tersebut milik Sang Maha Patih?”

“Bukan, keris itu bukanlah milik Sang Maha Patih.”

“Hm…? Apakah keris itu benar-benar digdaya pada jamannya?” 

Komodo Nagaradja menanggapi dengan diam.

“Mungkinkah saat ini tak ada yang mengenal…?” Komodo Nagaradja bertanya pada diri sendiri.

“Apakah keris itu merupakan salah satu dari Sembilan Senjata Pusaka Baginda?”

“Banyak sekali pertanyaanmu!” sergah Komodo Nagaradja.

Meski demikian, siluman sempurna itu masih terus mengamati keris yang besar dan sedang melayang itu. Raut wajahnya seolah mengenang masa lalu.

“Mungkinkah ini alasan sebenarnya…?” gumam Komodo Nagaradja.

Kejuaaran Antar Perguruan memasuki hari kelima. Rombongan Perguruan Gunung Agung sudah berada di dalam tenda peserta yang terletak mengelilingi panggung pertarungan. Tenda perwakilan perguruan hanya tersisa delapan saja. Dengan demikian, hari ini hanya akan berlangsung empat pertarungan untuk mencari empat pemenang yang akan maju ke babak berikutnya.

“Perguruan Budi Daya berhadapan dengan Persaudaraan Batara Wijaya!”

Seluruh penonton menyambut dengan sorak-sorai riuh-rendah. Dengan gugurnya Perguruan Nusantara dan Sanggar Sarana Sakti, kedua perguruan yang namanya dipanggil ke atas panggung menjadi perguruan unggulan yang sangat dinanti. Terlebih, Persaudaraan Batara Wijaya diketahui sebagai perguruan yang getol hendak berhadapan dengan Perguruan Maha Patih di partai akhir.

Di atas panggung, telah hadir sepuluh murid lelaki dan perempuan dari kedua perguruan yang berdiri saling berhadap-hadapan. Beberapa di antara mereka merupakan peranakan siluman. Bintang Tenggara mengamati dengan seksama.

Di antara kesepuluh murid tersebut, adalah seorang dari Persaudaraan Batara Wijaya berdiri angkuh. Wajahnya terlihat meremehkan wakil-wakil dari Perguruan Budi Daya. Dagunya terlihat demikian panjang.

“Heh! Kalian majulah terlebih dahulu!” sergah remaja berdagu panjang ke arah lawan di hadapan, tanpa terlebih dahulu memperkenalkan diri.

“Selama sepuluh detik kami hanya akan bertahan!” Ia berujar sambil menepuk dada.

“Hyah!”

Murid-murid Perguruan Budi Daya segera merangsek maju! Sungguh piawai jurus-jurus kesaktian unsur tanah yang mereka kerahkan. Meski demikian, kata-kata si dagu panjang bukan omong kosong belaka. Murid-murid Persaudaraan Batara Wijaya gesit menangkis dan menghindar. Tak satu pun dari mereka merapal jurus atau melancarkan serangan balik.

Sepuluh detik hampir berlalu….

“Duar!”

Seorang murid perempuan dari Persaudaraan Batara Wijaya terkena hantaman kesaktian unsur tanah. Lalu, ia terjungkal beberapa langkah ke belakang.

Sepuluh detik berlalu….

Murid-murid Perguruan Budi Daya menarik diri untuk bertahan dari gempuran serangan balik. Betapa pun tangguhnya serangan lawan, bila dihadapkan pada sekelompok ahli yang menekankan pada kesaktian unsur tanah, maka akan sulit menerobos pertahanan nan kokoh!

Remaja berdagu panjang segera merangsek maju. Ia mengepalkan tinju lengan kanan. Kemudian, ia lontarkan pukulan ke arah kelompok lawan yang sedang bertahan…

“Tinju Super Sakti, Gerakan Pertama: Badak Menghantam Gunung!” teriak remaja berdagu panjang itu sekuat kerongkongannya.

“Beledar!” terdengar suara bergema memekak telinga.

Hantaman tinju tersebut menggoyah pertahan bersama yang dibangun oleh kelima murid dari Perguruan Budi Daya. Di saat yang sama, keempat murid Persaudaraan Batara Wijaya lain menyusul menyerang. Remaja berdagu panjang hanya berdiri diam di tempat. Lagaknya seolah kemenangan sudah berada di dalam genggaman.

Belasan ribu penonton sontak bangkit dari bangku mereka. Bahkan hadirin di tribun kehormatan yang biasanya tenang-tenang saja juga ikut terpana. Teriakan kekaguman membahanan dimana-mana.

“Tinju Super Sakti! Tak diragukan lagi!”

“Itu adalah jurus legendaris milik Sang Maha Patih!”

“Murid-murid Persaudaraan Batara Wijaya benar-benar memiliki darah Sang Maha Patih!”

Akibat keterkejutan dari suara yang menggelegar, sekaligus merasa mendapat serangan dari jurus mandraguna, murid-murid Perguruan Budi Daya kehilangan arah. Mereka tak lagi dapat bertahan dengan kokoh. Mereka kemudian menjadi bulan-bulanan murid-murid dari Persaudaraan Batara Wijaya!

Pemuda berdagu panjang melipat tangan di depan dada. Sungguh jumawa pembawaannya.

Bintang Tenggara, dan kesadaran Komodo Nagaradja, melongo. Super melongo!

“Super Guru… apakah dirimu memiliki murid lain?”

“Kau jangan menghinaku, bocak tengik! Apakah sesungguhnya matamu sudah tuli!? Telingamu buta!?”

“Hehe….” Bintang Tenggara terkekeh.

Sebagai pewaris tunggal Tinju Super Sakti, tentunya Bintang Tenggara menyadari betul bahwa jurus di atas panggung tadi bukanlah Tinju Super Sakti sebenarnya. Pukulan tinju si dagu panjang tak mencapai kecepatan supersonik. Ledakan yang tercipta bukan disebabkan oleh gelombang kejut. Paling-paling, suara membahana dan ledakan yang mengemuka disebabkan oleh sesuatu dalam genggaman, yang sengaja diledakkan saat melontarkan tinju…

“Sahabat Bintang,” tegur Panglima Segantang. “Mengapa jurus tadi sangat berbeda?”

Bahkan Panglima Segantang, yang hanya sekali pandang menyaksikan Tinju Super Sakti saat badai di atas perahu, menyadari keanehan yang terjadi.

“Pemalsuan. Pembajakan. Pelanggaran hak cipta…,” gerutu Komodo Nagaradja.




Cuap-cuap:

Meme sumbangan dari sis pandamania80 di thread Kaskus.

Episode kali ini adalah yang terpendek sepanjang kiprah Legenda Lamafa. Apa mau dikata, pengarang sedang melakukan perjalanan dinas.

Seharusnya perjalanan ini tak mengganggu jadwal hari Senin pekan depan… Akan tetapi, seandainya episode berikutnya terlambat, pengarang memohon maaf sebelumnya. :)

Untuk mengisi waktu, pengarang ingin bertanya kepada para ahli baca sekalian. Sesungguhnya, mana yang lebih disukai:

A: Karakter utama menggunakan jurus yang serta-merta baru

B: Karakter utama menggunakan jurus biasa atau lama, tapi cara penerapannya yang baru (kreatif)

Cukup jawab A atau B di kolom komentar di bawah ini.

Tabik.