Episode 97 - Kembali ke Kota Ahli...


“Super Guru!”

Bintang Tenggara mengerang dan tersontak bangun! Ia segera mengamati sekeliling. Ketika meniti jalan berliku nan terjal sebagai seorang ahli, adalah lumrah adanya untuk kehilangan kesadaran, lalu terbangun di tempat yang sama sekali tak dikenal. Ini adalah peraturan tak tertulis dalam dunia persilatan dan kesaktian.

Di Pulau Bunga saat pertama terdampar, di Perguruan Gunung Agung seusai berhadapan dengan Lintang Tenggara, di Pulau Dua Pongah setelah terkena hantaman tenaga dalam, dan hari ini… Kesemuanya adalah saat dimana dirinya terbangun di tempat asing.

Yang pertama kali dilakukan bilamana terbangun di tempat asing tentu mengamati keadaan sekeliling. Langkah kedua adalah memastikan kondisi tubuh sendiri. Kemudian, pada langkah ketiga, segeralah berupaya menelusuri ingatan akan apa yang telah terjadi sesaat sebelum kehilangan kesadaran.

Nah, setelah itu, langkah keempat sangat bergantung pada situasi. Pilihannya adalah bergerak cepat, atau menunggu seseorang yang datang menegur ramah. Karena kali ini terbangun di atas sebuah kasur, maka langkah keempat pilihan kedua merupakan keputusan yang paling tepat. Tambahan lagi, luka dalam yang ia derita sudah sepenuhnya sembuh.

Seorang lelaki dewasa muda melangkah masuk ke dalam kamar. Wajahnya tampan dan pembawaannya berwibawa. Terbersit kekaguman dari sorot mata Bintang Tenggara… meski ia tak mengenal siapa lelaki tersebut.

“Adik Bintang Tenggara…,” terdengar suara menegur ramah.

Bintang Tenggara hanya menatap dalam diam… entah di mana ia pernah mendengar suara ini? Sungguh tak asing….

“Bagaimanakah kondisi tubuhmu?”

“Rekan Pasukan Telik Sandi…?” gumam Bintang Tenggara mengingat akan suara yang menyampaikan informasi tentang ‘sebongkah batu yang tertancap’ di saat Gundha menghilang.

“Benar. Tapi sebaiknya kau tak memanggilku dengan sebutan itu di depan orang-orang….”

Bintang Tenggara mengangguk.

“Namaku Sangara Santang, Maha Guru Kesatu dari Sanggar Sarana Sakti.”

“Salam hormat dan terima kasih, Bintang Tenggara haturkan…,” ujarnya cepat sambil bangkit dari tempat tidur dan berdiri tegak. Di hadapan seorang Maha Guru perguruan ternama, sudah menjadi tata krama dunia keahlian untuk memberi hormat. Satu lagi peraturan yang tak tertulis.

“Panggil aku sebagaimana engkau menyapa Panggalih Rantau dan Lombok Cakranegara,” ujar sang Maha Guru santai. “Kita, kau dan aku, adalah sama-sama bagian dari Pasukan Telik Sandi.”

“Kakak Sangara Santang…,” tanggap Bintang Tenggara.

“Oh ya, aku telah menghubungi Sesepuh Ketujuh dari Perguruan Gunung Agung dan menyampaikan bahwa kau baik-baik saja.”

“Oh…?” Bintang Tenggara tak meragukan kecakapan lawan bicaranya dalam memastikan segala sesuatu berjalan mulus. Demikian yang dilakukan Panggalih Rantau dan juga Lombok Cakranegara…. Demikianlah kebiasaan anggota Pasukan Telik Sandi.

“Kedatanganku di Perguruan Maha Patih bukan sekedar sebagai pendamping perwakilan Sanggar Sarana Sakti,” ujar Sangara Santang membuka ceritera.

Singkat kata, Sangara Santang kemudian menjabarkan tentang apa itu Kekuatan Ketiga; bagaimana ia mengendus aktivitas dari kelompok tersebut di Perguruan Maha Patih; serta tentang kemungkinan kebangkitan salah seorang Raja Angkara.

Mendengarkan penjelasan Sangara Santang, Bintang Tenggara melongo. Ia tak siap memperoleh informasi yang sedemikian rupa. Baginya, mencari cara menyembuhkan tubuh seorang guru sudah cukup. Tak ada ambisi menguasai Negeri Dua Samudera, atau semacamnya.

"Maha Guru Segoro Bayu!” sergah Bintang Tenggara tak hendak berbasa-basi. “Perilakunya mencurigakan!”

“Hm?”

“Kuyakin beliau yang sengaja menjebakku!” tambah Bintang Tenggara cepat.

“Apakah kau memiliki bukti?” balas Sangara Santang.

Bintang Tenggara hanya diam. Tentu ia tak memiliki bukti dalam bentuk apa pun. Ia juga tak melihat langsung wajah sosok yang menyerang dengan ledakan tenaga dalam. Kecurigaan yang ia lontarkan hanyalah berdasarkan pada pengamatan saja. Namun, bukankah itu sudah lebih dari cukup?

“Kita tak bisa langsung menuduh seseorang, apalagi dengan jabatan tinggi di sebuah perguruan ternama, hanya berdasarkan asumsi,” ujar Sangara Santang seolah dapat membaca jalan pikiran Bintang Tenggara.

Bintang Tenggara mengangguk, walau tak sepenuhnya setuju.

“Ada satu hal lagi yang ingin kusampaikan…,” lanjut Sangara Santang. “Esok aku terpaksa harus kembali ke Sanggar Sarana Sakti… Bukan karena kekalahan perwakilan kami, melainkan karena satu urusan mendesak yang masih terkait dengan Kekuatan Ketiga.”

“Hm…,” Bintang Tenggara mulai curiga.

“Karena kebetulan anggota Pasukan Telik Sandi yang menetap di wilayah ini sedang ditugaskan ke tempat lain, maka aku memohon bantuanmu untuk mengawasi perkembangan di Perguruan Maha Patih.”

Nah, ini dia…, batin Bintang Tenggara. Sampai juga ke satu kebiasaan buruk para anggota Pasukan Telik Sandi… mereka suka menitipkan pekerjaan yang merepotkan!

“Sudikah Kakak Sangara Santang membawa gulungan naskah ini? Sudah terlalu lama aku menyimpannya….” Bintang Tenggara membalas dengan menyodorkan gulungan naskah berwarna hitam.

Gulungan naskah yang dimaksud adalah milik Partai Iblis. Berawal dari Panggalih Rantau yang menitipkan, lalu Lombok Cakranegara meminta meneruskan ke Pulau Dewa. Sesampainya di Perguruan Gunung Agung, bahkan Kakek Tua anggota Pasukan Telik Sandi menolak gulungan tersebut dengan piawai.

“Sementara ini, kau simpanlah dulu naskah itu,” jawab Sangara Santang.

“…”

Usai berbincang-bincang dengan Sangara Santang, Bintang Tenggara berkenalan dengan satu per satu murid-murid Sanggar Sarana Sakti. Sungguh baik perlakuan mereka, dan tak terbersit akan setitik pun rasa dendam karena dikalahkan Perguruan Gunung Agung.

Rupanya hari masih pagi. Bintang Tenggara yang tak sadarkan diri bermalam di penginapan Sanggar Sarana Sakti. Ketika hendak meninggalkan penginapan tersebut, kedua mata Bintang Tenggara menangkap keberadaan sebuah gentong besar di salah satu sudut ruangan…

“Banaspati… apakah kau tertarik dengan binatang siluman itu,” tanya Sangara Santang.

Bintang Tenggara mengangguk cepat.

“Baik… Jikalau ada kesempatan, akan kucarikan seekor untukmu,” jawab Sangara Santang menyibak senyum.

“Kakak Sangara Santang…,” Bintang Tenggara terlihat ragu.

“Tak perlu sungkan, apakah yang hendak kau tanyakan….”

“Apakah kakak mengetahui tentang lokasi keberadaan Balaputera?”

“Hm…? Balaputera yang manakah gerangan? Ada puluhan Balaputera yang kukenal…,” timpal Sangara Santang sambil menyibak senyum.

“Eh…?” Bintang Tenggara kebingungan. Selama ini ia merasa bahwa ayahanda adalah satu-satunya orang bernama Balaputera.

“Aku mengenal Balaputera Genthara, seorang lelaki yang sungguh perkasa, tak gentar menghadapi manusia maupun binatang siluman. Aku pun suka berdiskusi dengan Balaputera Durmanda, seorang cendekia yang pemikirannya sungguh rumit….

“Lalu… ada Balaputera Dursila. Oh… bulu matanya menggelitik, hidungnya tak kalah lentik, senyumannya membuatku bergidik. Tatapan kedua matanya seolah dapat menyirap… dan membelenggu jiwa….”

“Ehem…,” Bintang Tenggara memecah lamunan Sangara Santang.

“Hahaha… Aku mengerti Balaputera mana yang kau maksudkan. Sayangnya, bahkan aku tak mengetahui lokasi ayahandamu saat ini.”

“Bila demikian… sekali lagi diriku mengucapkan terima kasih atas bantuan yang Kakak Sangara Santang berikan.” Bintang Tenggara menundukkan kepala, lalu melangkah meninggalkan penginapan Sanggar Sarana Sakti.

“Oh… Aku hampir terlupa… Bilamana ada kesempatan, berkunjunglah ke Tanah Pasundan. Ada seseorang yang berutang budi padamu, dan sangat hendak bertemu muka.”

“Hm?”

“Bocah tengik!”

“Super Guru!”

“Bocah tengik, Bintang Tenggara!”

“Super Guru, Komodo Nagaradja!”

Kedua mata Bintang Tenggara tetiba sembab. Seandainya saja ia dapat memeluk tubuh sang Super Guru…

“Aku hanya tertidur beberapa bulan… dan kau memutuskan untuk bermain api dengan salah seorang Raja Angkara!”

“Super Guru telah siuman!” Bintang Tenggara tak dapat menyembunyikan kegembiraannya.

“Bocah tengik!”

“Penampilan Super Guru…?”

Selama ini, melalui jalinan mata hati, Bintang Tenggara berkomunikasi dengan bayangan berwarna merah berbentuk komodo di dalam mustika retak. Namun kini, sesosok tubuh manusia besar dan tinggi, dengan rambut merah tergerai dan bola mata keemasan, terlihat jelas.

Sosok tubuh tersebut bertelanjang dada, namun sebuah medali besar menggantung di leher dan sebuah kain selempang mengalun dari pundak ke pinggang. Yang juga menarik perhatian, adalah sepasang kelat emas yang tersemat di kedua lengan bagian atas. Pada tubuh bagian bawah, sosok itu mengenakan celana batik dengan berbagai hiasan layaknya bangsawan-bangsawan di Keraton Ayodya Karta. Sungguh jumawa penampilannya.

“Ini adalah wujud manusiaku. Sebagai siluman sempurna dan berbekal jurus Alih Wujud Semesta, tentu saja aku dapat mengambil rupa layaknya manusia. Sebelum ini aku kurang beristirahat… setelah rehat cukup panjang, aku semakin digdaya!”

Bintang Tenggara hanya melongo. Perasaan haru yang sempat menghinggap, perlahan mulai menguap.

“Jangan kau mengalihkan pembicaraan, hai bocah tengik! Jawab pertanyaanku! Apa urusanmu dengan salah satu dari Lima Raja Angkara!?”

“Raja Angkara?” Bintang Tenggara sungguh kebingungan.

Dalam perbincangan sebelum ini, Kakak Sangara Santang juga sempat menyinggung tentang Raja Angkara. Namun, tak pernah terbersit dalam ingatan bahwa ia pernah berurusan langsung dengan seorang Raja Angkara. Aku hanyalah anak berusia 13 tahun, pikir Bintang Tenggara.

“Itu si Jebat!”

“Jebat?”

“Iya, Hang Jebat!”

“Hang Jebat? Murid tak pernah bertemu Hang Jebat, atau Hang Tuah, atau Hang Lekir, Hang Kesturi, atau Hang Lekiu!” Nada Bintang Tenggara meremehkan. Mungkinkah saat tertidur sang Super Guru bermimpi yang aneh-aneh sampai meracau tentang tokoh-tokoh fiksi?

“Jangan mengolok-olok sahabat-sahabatku!”

“Eh?” Bintang Tenggara terpana. Mungkinkah tokoh-tokoh tersebut nyata adanya?

“Anak remaja berkulit gelap yang hendak merasuk dan mengambil-alih tubuhmu sesungguhnya adalah Jebat!”

“Ha!?”

“Lagipula, mengapa tumpul sekali otakmu!? Di saat tubuhmu hendak dirasuk, seharusnya kau merapal jurus Delapan Penjuru Mata Angin. Dengan demikian, aliran tenaga alam yang meresap melalui pori-pori tubuh akan menghalangi asap-asap kemenyan!”

“Ha?!”

“Dungu!”

“Maafkan muridmu, Super Guru….”

Bintang Tenggara terpaksa menerima saja umpatan sang Super Guru dengan lapang dada. Siapa pun yang baru terbangun dari tidur memang biasanya mudah meradang. Andai saja aku bisa menawarkan segelas air putih, batin Bintang Tenggara.


===


“Sebutkan siapa sebenarnya majikan kalian?” sergah Melati Dara ke arah seorang remaja lelaki yang sedang terikat jalinan rambut hitam.

Tak perlu waktu lama bagi pasangan berjubah hitam untuk memutarbalikkan keadaan. Kedua remaja yang ditugaskan memburu Kum Kecho, sudah diringkus dengan mudah.

Beberapa jam sebelumnya…

“Kakak seperguruan, kita tak berhasil menjalankan tugas yang dipercayakan oleh Yang Kelam,” ujar seorang gadis kepada teman seperjalanannya.

“Janganlah khawatir… Kegagalan disebabkan buruan kita yang memiliki binatang siluman yang dapat terbang tinggi dan cepat. Sebaiknya kita segera kembali. Yang Kelam Raja Angkara pastinya akan memaklumi….” Meski wajahnya cemas, remaja lelaki itu berupaya tetap tenang.

“Ngiiinggg…”

Ratusan nyamuk tetiba mengelilingi kedua remaja tersebut. Baru mereka hendak bergerak mengatasi serangan nyamuk, hantaman-hantaman berkelebat dan datang bertubi-tubi. Keduanya memutuskan untuk berlari menghindar secepat mungkin.

Kombinasi Seribu Nyamuk Buru Tempur sebagai pengalih perhatian, bersamaan dengan jurus kesaktian unsur rambut Dayang Kuntum, Bentuk Pertama: Cupak Tertegak, Suri Terkembang yang menghantam sungguh tak terelakkan. Kum Kecho dan Melati Dara lalu mengejar buruan mereka.

Meski berada pada Kasta Perunggu Tingkat 9, atau berada di atas Kum Kecho dan Melati Dara, kedua buruan yang panik tak sempat berbuat banyak. Langkah lari mereka lalu membawa ke sebuah desa. Terlihat ramai manusia dengan keahlian di bawah rata-rata sedang beraktifitas. Sepertinya sedang berlangsung perayaan hasil panen sebagaimana biasa dilakukan di desa-desa tani.

Menyaksikan sebuah desa, sepasang remaja tersebut lalu melompat masuk. Jelas niat mereka untuk berbaur dan menyembunyikan diri.

Kum Kecho mengamati dengan seksama. Dahinya mengernyit sempit. Kemudian, ia memerintahkan Seribu Nyamuk Buru Tempur menyerbu desa tersebut. Tak kurang dari seratus penduduk yang sedang berkumpul dan bersuka cita atas hasil panen, terkejut bukan kepalang. Jeritan-jeritan pilu pun terdengar nyaring ketika ratusan nyamuk membantai tanpa pandang bulu. Orang-orang tua sampai anak-anak tak memperoleh kesempatan membela diri.

Dari balik nyamuk yang menghisap darah, terlihat dua orang remaja membela diri dengan piawai. Kum Kecho dan Melati Dara pun merangsek ke dalam desa.

Dua lawan dua. Seluruh penduduk desa sudah dimangsa habis oleh nyamuk-nyamuk yang haus darah, hanya menyisakan kulit keriput membungkus tulang. Sepasang remaja kaki tangan Jebat hanya dapat menggeretakkan gigi. Siapakah sebenarnya dua orang kejam yang saat ini berada di hadapan mereka…?

Walhasil, pertarungan berlangsung cepat. Kedua remaja, walaupun bagian dari kelompok Kekuatan Ketiga, tak kuat mental bertarung di tengah-tengah mayat yang bergelimang. Siapa kiranya yang dapat bertarung dengan konsentrasi penuh di dalam rumah jagal? Meski berada pada kasta keahlian yang lebih tinggi, mental mereka tak cukup kuat untuk bertahan.

“Sebutkan siapa sebenarnya majikan kalian?” ulang Melati Dara tak sabar.

Remaja lelaki yang terikat dan sudah tak berdaya hanya diam seribu bahasa. Lebih baik pecah di perut, daripada pecah di mulut, pikirnya dalam hati.

“Srek!” Kum Kecho menjambak rambut remaja perempuan yang tergeletak di bawah telapak kakinya. Ia lalu membuka paksa rahang gadis tersebut, dan memasukkan seekor belatung. Hal yang sama pernah ia lakukan kepada Melati Dara

Kum Kecho lalu meninggalkan tawanannya yang tergeletak tak berdaya. Ia melangkah ke arah remaja lelaki yang terikat jalinan rambut Melati Dara. Mayat-mayat penduduk desa yang tak berdosa bergelimang di segala penjuru.

“Apa yang hendak kau lakukan?” ujar Kum Kecho datar ke arah Melati Dara.

Melati Dara sedang membuka jubah hitam. Pakaian kulit mengkilap yang super ketat segera mengemuka. Lekuk tubuh Melati Dara sungguh proposional. Setelah itu, gadis yang memakai maskara dan gincu hitam itu pun mengeluarkan sebuah parang berukuran sedang dari dalam sebuah cincin Batu Biduri Dimensi.

Melati Dara mendekatkan diri ke remaja lelaki yang masih terikat… dan membuka celananya!

“Hei!” sergah Kum Kecho.

“Tuan Guru, ijinkan budakmu ini mengiris kemaluannya sampai ia menjawab pertanyaan kita…,” ujar Melati Dara santai.

Remaja lelaki yang terikat melotot. Kum Kecho hanya menghela napas, lalu bergerak menghampiri.

Di saat Melati Dara menjulurkan tangan, wajah remaja lelaki tetiba berubah kecut, dan kedua matanya semakin melotot….

“Awas!” teriak Kum Kecho.

“Duar!”

Terlambat! Remaja lelaki tersebut meledakkan diri! Melati Dara sigap merapal jurus Dayang Kuntum, Bentuk Kedua: Bunga Kembang Berbalik Kuncup, dimana ia membungkus seluruh tubuh dengan jalinan rambut. Di sebelah, Kepik Cegah Tahan melindungi tubuh Kum Kecho.

“Kau terburu-buru!” sergah Kum Kecho sebal. “Aku belum sempat memasukkan belatung ke tubuhnya!”

Dengan perasaan kesal, Melati Dara melangkah garang ke arah gadis remaja yang tergeletak cukup jauh dari temannya yang sudah meledak.

“Siapa namamu!?” sergah Melati Dara.

“Dah… Dahlia Tembang….”

Gadis yang sedang berlinang air mata itu terkejap. Temannya baru saja meledakkan diri. Ia tak hendak melakukan tindakan yang sama… Akan tetapi, bila pun terpaksa, entah mengapa mustika tenaga dalamnya tak bisa bekerja. Ia pun menyadari kemungkinan besar disebabkan oleh belatung yang tadi dipaksakan ke dalam mulutnya.

“Ku… mohon… lepaskan aku….” Mendapati seorang gadis remaja di balik jubah hitam yang telah dilepas, Dahlia Tembang penuh harap. Biasanya, sesama gadis remaja memiliki rasa empati yang cukup mendalam.

“Lancang sekali kalian memburu Tuan Guru…,” bisik Melati Dara ke telinga Dahlia Tembang. “Tuan Guru adalah milikku!”

Melati Dara pun membalikkan tubuh sasaran amarahnya. Tubuh Dahlia Tembang kini berada dalam posisi terlungkup tak berdaya. Melati Dara mendengus, lalu menyimpan parang ke dalam Batu Biduri Dimensi. Kemudian, ia mengeluarkan sebatang… tongkat tumpul!

“Sret!”

Belum sempat Melati Dara menghunuskan tongkat tumpul untuk menyiksa tawanan mereka, jemari tangan Kum Kecho menjambak rambut Dahlia Tembang. Ia pun berjalan santai sambil menyeret gadis yang tergeletak tak berdaya itu.

“Kita akan kembali ke Kota Ahli,” gumam Kum Kecho.

“Kumohon… a… a… ampuni aku….” Dahlia Tembang terisak sekaligus merintih kesakitan.

“Am… ampunilah aku… aaa…. ampuni…. ” Hanya selang beberapa langkah, Dahlia Tembang mulai meratap tak terkendali. Tak pernah terbayang selama hidupnya akan jatuh ke tangan dengan dua orang musuh yang demikian bengis.

Kum Kecho masih melangkah santai dengan rambut Dahlia Tembang dalam genggaman. Melati Dara masih memegang tongkat tumpul, menantikan kesempatan terbaik untuk menghunuskan ‘senjata’ tersebut.

“Aaaa… Am… ampun… ampuunn… aaa… aku… ampuni aaa… aku….”